Klepon dan Jatuh Cinta

Memang jika sudah fanatik dengan satu kelompok, pendapat yang berbeda akan sulit untuk dilihat. Padahal, baik klepon maupun kurma adalah makanan lezat yang dapat memberikan asupan tenaga bagi tubuh kita. Terutama bagi para jomlo yang butuh tenaga untuk “pura-pura” bahagia.

—-Rahmatullah Al-Barawi (Jomlo Bahagia)

Akhir-akhir ini media sosial kita diramaikan dengan pembahasan seputar klepon. Makanan khas nusantara ini dihadapkan dengan kurma, kuliner ala Timur Tengah. Alhasil, kurma dinilai lebih “islami” dibanding klepon yang lahir dari cita rasa Indonesia. Tulisan singkat ini tidak akan membahas dukungan pada salah satu makanan tersebut. Sebab, pada prinsipnya makanan itu sama seperti fenomena jatuh cinta, kita hanya mencari pembenaran terhadap apa yang disukai.

Perdebatan seputar klepon pun semakin ramai dengan mencari siapa biang kerok yang menyebarkan isu ini pertama kali. Saling tuduh antar kubu pun tak dapat dihindarkan. Bahkan, salah satu petinggi partai dakwah di Indonesia, Tifatul Sembiring dalam tweet-nya mengatakan,“Dilihat modusnya, isu ‘Kelepon Islami’ itu persis cara propaganda PKI memojokkan Islam dan ulama dari zaman bahela. Seolah konten dibuat oleh kalangan Islam, padahal pihak komunis yang memproduksinya. Agar bisa mengolok, membuly Islam dan ulama. Gampang dibaca. Setuju, Lur?”.

Memang jika sudah fanatik dengan satu kelompok, pendapat yang berbeda akan sulit untuk dilihat. Padahal, baik klepon maupun kurma adalah makanan lezat yang dapat memberikan asupan tenaga bagi tubuh kita. Terutama bagi para jomlo yang butuh tenaga untuk “pura-pura” bahagia.

Oleh karena itu, terlepas dari kubu klepon maupun kurma, ada hal yang lebih penting untuk dilihat, yaitu ketegangan kita dalam beragama. Ketegangan tersebut membuat kita kaku dalam menghadapi perbedaan. Apa salah klepon dan kurma hingga kita mempertentangkan keduanya? Bukankah lebih baik jika klepon dan kurma disandingkan dalam satu hidangan makanan?

Alih-alih membenturkan, mari kita belajar dari kekayaan makanan dunia. Pertama, kita bebas memilih makanan mana yang mau dikonsumsi. Makanan yang disukai sebagian orang belum tentu cocok untuk orang lain. Kita memang bisa merekomendasikan satu kuliner kepada orang lain. Tetapi, kita tidak punya hak untuk memaksa orang lain makan apa yang disarankan kepadanya. Persis seperti itu juga seharusnya kita beragama, bukan?

Kedua, salah satu kunci kelezatan suatu masakan adalah keragaman komposisi bumbu yang tepat dan seimbang. Misalnya klepon, ia merupakan hasil dari olahan tepung, pandan, gula merah, kelapa dan bumbu-bumbu lainnya. Semuanya diolah menjadi satu dan terciptalah kelezatannya. Jika makanan saja bisa lezat ketika berasal dari beragam unsur, maka manusia dengan segala keragamannya tentu akan indah manakala dirayakan.

Ketiga, makanan itu tidak beragama, ia melampaui sekat keyakinan yang ada. Jika tolok ukur keislaman seseorang dinilai dari makan kurma, tentu umat Kristen Ortodoks di Mesir jauh lebih “islami” daripada umat Islam di Indonesia. Lebih jauh lagi, sejatinya makanan itu dapat mempersatukan kita semua. Meski berbeda suku, agama dan bahasa, kita bisa duduk dalam satu meja bersama menikmati hidangan kuliner nusantara.

Oleh karena itu, dari fenomena makanan kita bisa belajar untuk dewasa dalam berkeyakinan. Ketegangan yang terjadi saat ini boleh jadi karena kita kurang piknik menyantap beragam kuliner nusantara dan dunia. Mari kita sudahi perdebatan simbolisasi agama dan beranjak pada hal yang lebih substansial, yaitu makan bersama dalam satu perjumpaan. Dengan berjumpa, yang tegang bisa jadi tenang, yang marah bisa jadi ramah. Tapi, tetap jaga jarak, ya.[MFR]

Pesan Damai dari Drakor


Sikap terbaik yang dapat kita lakukan adalah meyakini bahwa kita semua adalah makhluk ciptaan Tuhan. Kita setara dalam penciptaan, meski berbeda dalam rupa penampilan

Drama korea –biasa disingkat menjadi drakor—menjadi perbincangan menarik akhir-akhir ini. Di tengah situasi pandemi, drakor menjadi salah satu teman melepas penat. Terlebih bagi para jomlo yang hidup di perantauan, tak dapat pulang ke kampung halaman.

Terlepas dari situasi tersebut, mengapa drakor begitu digandrungi? Meleburkan batas usia, sekat gender bahkan tradisi keagamaan. Seolah-olah ada semboyan baru, kita memang berbeda tapi drakor menyatukan semuanya.

Tentu fenomena drakor ini tidak dapat dilihat sebagai sebuah gerakan yang baru muncul. Sebab, jika kita melihat lebih jauh ke belakang, sejak awal 2000-an telah lahir gelombang hallyu melalui drakor “Winter Sonata,” “Full House” dan “Boys Over Flower”. Lantas, apa saja hal menarik yang membuat banyak orang “tersihir” dengan tayangannya?

Pertama, drakor menghadirkan realita sosial. Alih-alih membuat drakor bak kehidupan surgawi yang penuh kebaikan, justru drakor lahir sebagai potret masyarakat Korea yang suram. Bahkan para penggiat film di Korea tidak segan-segan menampilkan “bobrok”-nya pemerintahan Korea.

Ini bisa dilihat dari drakor yang bertema pemerintahan dan kejaksaan. Salah satu drakor yang recommended untuk ini adalah “City Hunter” yang diperankan oleh Lee Min Ho –yang di Indonesia terkenal dengan bintang iklan “Luwak White Coffe”.Dalam drakor tersebut, Lee Min Ho berperan sebagai tokoh utama menjadi “Pemberantas Korupsi” yang bekerja dengan penuh strategi dalam sepi.

Selain isu pemerintahan, isu pendidikan yang penuh dengan bullying juga banyak disoroti. Misalnya drakor “The Heirs” –yang juga diperankan oleh Lee Min Ho—mengangkat tema kenakalan remaja, percintaan anak SMA dan sejumlah problem yang dihadapi oleh kawula muda. Karena isu yang dihadirkan ini, membuat para penikmat drakor dapat memahami alurnya dengan mudah atau bahkan dapat menghubungkannya dengan pengalaman pribadi yang pernah dilalui.

Drakor lain yang saat ini sedang diminati misalnya adalah “The World of the Married Couple”. Bahkan di Indonesia –meski belum ada penelitian resmi tentang ini—drama ini banyak dibincangkan di media sosial. Memang tak heran, sebab drakor ini mengangkat isu keluarga, KDRT, perceraian dan perselingkuhan. Satu pembahasan yang juga relevan untuk konteks Indonesia.

Kedua, drakor juga menjadi ajang bagi penonton untuk belajar terkait isu yang diangkat. Sebab, rata-rata naskah drama yang ditulis itu berdasarkan riset secara serius. Ketika tema drakor seputar kedokteran, maka sang penulis adegan dituntut dapat menjadi seorang dokter yang mengetahui seluk-beluk kehidupan tenaga kesehatan.

Banyak drakor yang mengangkat isu ini, misalnya “Romantic Doctor,” “Hospital Playlist,” “Doctor Stranger,” dll. Menonton drakor seputar kedokteran akan memanjakan mata kita dengan adegan operasi, penanganan pasien di rumah sakit dan tindakan medis lainnya. Karenanya sambil menonton, kita diajak untuk menjadi dokter –yang mengobati perasaan rindu menahan pilu, hehe.

Selain kedokteran, ada banyak tema yang diangkat oleh drakor seperti pemerintahan, psikologi, pendidikan, bisnis, kerajaan, bahkan sci-fiction seperti fenomena robot dalam kehidupan manusia atau perjalanan waktu. Menarik, bukan?

Ketiga, jumlah episode drakor yang tidak terlalu banyak dan juga tidak terlampau sedikit. Rata-rata jumlah episode drakor adalah 16-20 dengan durasi per episode sekitar satu jam. Hal ini penting untuk diperhatikan.

Sebab, jika jumlahnya terlalu banyak, maka akan ada banyak konflik yang muncul, atau justru konfliknya datar sehingga membosankan. Sedangkan jika terlampau sedikit, akan membuat penonton tidak begitu hanyut dalam drakor yang ditonton.

Selain itu, dengan kapasitas 16-20 episode, membuat drakor benar-benar fokus pada satu permasalahan. Biasanya lima episode awal itu menjelaskan konteks, latar kejadian, penguatan tokoh, dan pengenalan intrik-intrik kepentingan. Kemudian lima episode berikutnya masuk pada konflik, hingga klimaks dan penyelesaiannya di beberapa episode akhir. Dengan alur yang jelas seperti ini, penonton tidak di-PHP-kan—dengan bertanya-tanya ending yang seperti apa—dan dapat mengikuti episode demi episode dengan hati yang tenang.

Itu beberapa poin yang membuat drakor begitu dinikmati. Bagi kalian penikmat atau pengamat drakor, adakah poin lainnya yang belum disebutkan? Jika ada, mari berdinamika bersama melalui tulisan.

Meski demikian, tentu drakor juga tidak lepas dari banyak kritikan, terutama dari kelompok haters drakor. Salah satunya adalah “anggapan” bahwa drakor dapat membuat kita lupa waktu karena kecanduan. Yap, tidak dapat dipungkiri memang drakor mempunyai efek kecanduan, candu dalam syahdu menanti rindu yang kian pilu, karena tokoh utama yang selalu ditunggu.

Hanya saja, efek kecanduan ini bukan salah pihak drakor yang sudah berusaha mengemas filmnya seapik mungkin. Kecanduan ini datang karena sang penikmat yang tidak dapat mengatur waktu dengan tepat. Sama seperti kecanduan gadget, game online, focus ghibah discussion, dll. Maka yang harus diubah adalah pola pikir dan pola hidup kita dalam menikmati ragam kenikmatan duniawi tersebut.

Tentu tidak salah menikmati fasilitas keduniaan yang Tuhan berikan, selama hal ini tidak melenakan kita dari kehidupan akhirat yang sudah dijanjikan –duh gusti, maafkan penulis yang tiba-tiba berubah profesi dari penikmat drama menjadi tokoh agama.

Selain itu, para kritikus drakor juga menganggap bahwa drakor dapat membuat ke-halu-an yang berkepanjangan. Ini akan berpengaruh pada skala kriteria calon pasangan ideal para penikmat oppa dan nuna. Misalnya mencari pasangan yang putih, tinggi dan langsing seperti Mas Hyun Bin atau Mbak Suzy.

Pengaruh lainnya adalah pada tolok ukur badan ideal yaitu seperti para aktor terkenal. Sehingga lahirlah obsesi untuk diet, pemutihan kulit –bukan putih yang lainnya—hingga puncaknya melakukan operasi plastik –bagi penikmat drakor dari kalangan borjuis.

Memang dalam hal ini, kita –para penikmat drakor—perlu “mengkritik” industri perfilman Korea yang banyak menjual “tubuh” para aktor drakor. Hal ini sepertinya juga mulai disadari oleh pegiat film di Korea. Bahkan salah satu drakor terbaru ada yang mengkritik dan mencoba keluar dari perangkap tubuh tersebut yaitu Itaewon Class. Dalam salah satu adegan diceritakan bagaimana sosok Kim Tony; seorang berkulit hitam yang berjuang untuk bisa hidup di Korea.

Hanya saja, kriteria tubuh dan pasangan ideal tersebut muncul karena kita belum bisa mengenal diri kita sepenuhnya. Hal ini dapat dimaklumi, karena kebanyakan dari penggemar drakor adalah generasi muda yang masih labil dalam proses mencari jati diri. Di sinilah pentingnya nilai pertama yang dihidupi dalam Young Interfaith Peacemaker Community (YIPC) yaitu berdamai dengan diri sendiri.

Kita sebagai manusia harus melihat diri dengan tepat dan seimbang. Maksudnya adalah melihat diri ini tidak lebih tinggi dari orang lain, karena akan menjadi sombong. Atau sebaliknya, melihat orang lain lebih tinggi dari pribadi, sehingga yang ada kita menjadi minder dan tidak percaya diri.

Sikap terbaik yang dapat kita lakukan adalah meyakini bahwa kita semua adalah makhluk ciptaan Tuhan. Kita setara dalam penciptaan, meski berbeda dalam rupa penampilan. Sehingga etnis Korea tidak lebih baik dari ras Indonesia. Kulit orang Korea sama saja dengan kulit masyarakat Indonesia, hanya beda warna. Maka tidak perlu lagi memaksakan diri untuk serupa dengan orang Korea setelah menonton drakor—itu memalukan.

Cukup jadikan drakor sebagai pelajaran bagaimana menjalani percintaan dan persahabatan dalam kehidupan. Tetapi pada praktiknya, silakan ciptakan sendiri drama kehidupan Anda. Tentukan siapa sosok yang layak Anda cinta, mengarungi hidup bersama, hingga maut memisahkan semua dan berjumpa dalam surga-Nya. Wallahu a’lam bish showwab.[MFR]

Tadabur Bencana lewat Lirik Ebiet G. Ade

Sumber Foto: http://lokadata.id

“Ada satu hal menarik dari lagu-lagu ciptaan musisi yang lahir dari romantisme Malioboro ini, yaitu liriknya yang memiliki makna spiritual dan relasional. Maksud dari relasional adalah bahwa lagunya berisi ajakan bagi para pendengarnya untuk merenung dan berpikir lebih dalam.”

Sosok Ebiet G. Ade mungkin tidak begitu dikenal oleh generasi milenial. Tetapi, bagi generasi yang lahir sebelum era reformasi, Ebiet adalah musisi yang legendaris. Kedahsyatan lirik dan kekhasan suara yang dilantunkan oleh Ebiet tak dapat diragukan lagi.

Sebagai generasi yang lahir di tahun 90-an, saya pertama kali mengenal sosok Ebiet dari lagu Berita Kepada Kawan. Tepatnya pada 2006 silam, ketika sedang marak pemilihan dai cilik (pildacil) untuk sebuah kontes. Singkat cerita, saya tampil dengan naskah ceramah yang dibuat oleh ibu saya. Naskah itu berisi kutipan dari lagu Ebiet, “mungkin Tuhan mulai bosan…,”. Bisa jadi karena barokah lagu Ebiet, saya memperoleh juara satu.

Itulah kisah pertama saya berkenalan dengan sosok yang bernama lengkap Abid Ghoffar bin Aboe Dja’far ini. Setelah itu, saya mulai akrab dengan lagu-lagunya, selain karena keunikan pembawaannya, lirik lagu musisi asal Banjarnegara itu sungguh menggugah hati nurani.

Ada satu hal menarik dari lagu-lagu ciptaan musisi yang lahir dari romantisme Malioboro, yaitu liriknya yang memiliki makna spiritual dan relasional. Maksud dari relasional adalah bahwa lagunya berisi ajakan bagi para pendengarnya untuk merenung dan berpikir lebih dalam.

Nah, dalam situasi ini, lagu-lagu Ebiet G. Ade dapat menjadi salah satu playlist musik kita untuk menemani bekerja dan belajar di rumah. Berikut beberapa lagu yang maknanya sangat berkaitan dengan kondisi sekarang.

Berita Kepada Kawan

Lagu ini diciptakan 40 tahun yang lalu sebagai respons kesedihan atas meletusnya kawah Sinila di Dieng, Jawa Tengah yang memakan banyak korban. Meski demikian, lagu ini terus hidup dan dinyanyikan dari masa ke masa,. Boleh dikatakan, lagu ini adalah salah satu masterpiece dari Ebiet G. Ade.

Lagu yang masuk dalam album “Aku Ingin Pulang” ini kembali diputar di tahun 2004 ketika Tsunami menerjang Aceh. Lagu ini juga kerap dimunculkan untuk menguatkan dan membuka ruang refleksi kita dalam menghadapi bencana, termasuk wabah covid-19 yang melanda dunia hari-hari ini.

Sesampainya di laut kukabarkan semuanya
Kepada karang kepada ombak kepada matahari
Tetapi semua diam tetapi semua bisu
Tinggal aku sendiri terpaku menatap langit

Awal Maret lalu, ketika covid-19 masuk ke Indonesia, kita semua panik, takut dan juga bingung. Apa yang harus dilakukan? Kemudian kita bertanya, mengapa semua ini terjadi? “Mengapa di tanahku terjadi bencana”.

Puncak dari lagu ini adalah mengajak kita berefleksi pada dua hal. Pertama, mengoreksi hubungan kita dengan Tuhan. Kedua, melihat kembali relasi kita dengan alam. Sungguh menakjubkan, bukan? Lirik ini seakan mengkritik kehidupan kita di tengah perkembangan teknologi yang kian menjadi.

Manusia modern semakin jauh dari nilai-nilai spiritualitas, tergerus oleh kesombongan materialistik yang mengakibatkan rusaknya alam raya. Pilihan kata yang dikemas oleh sahabat karib Emha Ainun Najib ini luar biasa. Coba tanyakan pada rumput yang bergoyang. Saat ini, imaji kita tentang rumput yang bergoyang mungkin tergantikan dengan kokohnya bangunan pencakar langit.

Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita
Yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa
Atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita
Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang

Masih Ada Waktu

Selain lagu Berita Kepada Kawan, lagu Masih Ada Waktu juga mengajak kita untuk melihat dimensi spiritual dan mengasah kepekaan diri. Lagu yang diciptakan tahun 1988 ini mempunyai makna yang universal.

Kita mesti bersyukur bahwa kita masih diberi waktu
Entah sampai kapan tak ada yang bakal dapat menghitung
Hanya atas kasih-Nya, hanya atas kehendak-Nya
Kita masih bertemu matahari
Kepada rumput ilalang, kepada bintang gemintang
Kita dapat mencoba meminjam catatan-Nya

Membaca bait tersebut, mengingatkan kita untuk selalu bersyukur. Bahkan karena setiap pagi kita masih dapat melihat mentari, ini adalah wujud kenikmatan yang layak disyukuri. Lagu ini bisa menjadi teman ‘ber-jemuran’ di pagi hari. Seraya menikmati mentari, kita juga bersyukur atas limpahan kesehatan yang diberikan hingga detik ini. Entah sampai kapan, tak ada yang tahu.

Untuk Kita Renungkan

Lagu ketiga ini juga dapat menjadi bahan refleksi kita di tengah pandemi. Sebagaimana judulnya, mari kita renungkan lirik berikut.

Tengoklah ke dalam sebelum bicara
Singkirkan debu yang masih melekat
Anugerah dan bencana adalah kehendakNya
Kita mesti tabah menjalani
Hanya cambuk kecil agar kita sadar
Ini bukan hukuman, hanya satu isyarat
Bahwa kita mesti banyak berbenah
Memang, bila kita kaji lebih jauh
Dalam kekalutan, masih banyak tangan
Yang tega berbuat nista… oh

Lagu ini meneguhkan kepada kita bahwa bencana yang terjadi adalah semata kehendak Tuhan. Ebiet menegaskan bahwa bencana itu bukan hukuman, melainkan tanda agar kita mau berbenah diri. Seringkali pola pikir kita melihat bencana adalah azab dari Tuhan. Alhasil, kita akan sibuk mencari siapa oknum yang patut disalahkan dari bencana yang ada.

Oleh karena itu, sudah selayaknya kita berbenah selama masa karantina ini. Apa saja yang kita refleksikan selama pandemi dan apa komitmen kita pascawabah ini. Setidaknya lagu-lagu Ebiet di atas dapat membuka mata hati kita untuk memaknai kehidupan. Selain rajin membaca kitab suci di bulan Ramadan, dapat dibarengi dengan mendengarkan untaian hikmah lagu Ebiet G. Ade agar imun kita semakin kuat dan iman tetap diruwat.