Makelar Surga

Bagi orang-orang yang bahagia, mereka tak perlu lagi kehadiran pembual yang menjajakan nama Tuhan secara sembarangan. Yakni orang-orang yang menggunakan nama Tuhan untuk menebar kebencian, permusuhan, hingga ajakan untuk melakukan perusakan.

— Ray Ariono

Anda tentu akrab dengan ungkapan berikut, “Selamat Idulfitri, mohon maaf lahir dan batin”. Ungkapan tersebut kerap pula ditambahi dengan request “nol-nol, ya”. Tak ada yang aneh sesungguhnya dari ungkapan tahunan tersebut, hanya saja saya percaya, meminta maaf seharusnya tak dilakukan setahun sekali; kita kerap salah, akui saja, maka sering-sering meminta maaf justru bagus. Pastikan pula, permohonan maaf disampaikan kepada orang yang tepat. Jangan sampai seperti sindiran Benyamin, S. “Bikin dosanya di Jakarta, minta maafnya di kampung halaman”.

Momen lebaran memang hanya terjadi setahun sekali, namun pelajaran penting dari peristiwa besar ini tetap relevan di sepanjang tahun. Termasuk sekarang, di saat semakin banyak dari kita yang merasa sudah sanggup menjadi wakil Tuhan.

Kita mulai dari momen puasa, ya.

Hal pertama yang dilakukan orang-orang sebelum merayakan idulfitri adalah puasa, yang bisa dengan mudah dilihat dari perubahan waktu makan. Tak lagi jajan es di siang hari sebab sudah bersantap sahur saat sebagian orang masih asyik mendengkur.

Dalam bahasa Arab, puasa disebut dengan istilah “saum”, yang berarti “menahan diri”. Ingat, ya. Menahan diri, bukan menahan lapar. Artinya, poin utama dari ibadah ini adalah menahan diri dari melakukan hal-hal yang tak baik untuk diri sendiri –termasuk juga untuk orang lain dan lingkungan.

Maka puasa memang bukan hanya soal tak makan dan minum di siang hari, tetapi juga tidak mencuri, tidak menggunjing, dan tidak-tidak yang lain. Termasuk tidak berbohong pada diri sendiri. Itu sebabnya, jika masih ngeyel berpuasa namun nekat mengumbar keburukan orang lain, maka lapar dan dahaganya tak akan dianggap sebagai ibadah oleh Tuhan.

Tidak makan dan tidak minum di siang hari hanyalah simbol dari segala bentuk “menahan” tadi. Jika makan dan minum saja bisa ditahan, masa iya tak bisa menahan mulut untuk mengumpat, atau mengatakan hal-hal yang jahat? seharusnya bisa ditahan.

Meski berukuran kecil, mulut kerap menjadi penyulut untuk segala hal yang kalut. Kata-kata yang keluar dari lubang di muka ini –jika tak dijaga dengan baik—kerap terasa lebih tajam ketimbang belati maupun pedang. Barangkali, itu sebabnya Tuhan ingin ‘menghajar’ mulut kita terlebih dulu melalui perintah puasa. Agar kita semua belajar, kesalahan besar kerap kali dimulai dari hal kecil, yakni mulut.

Kini, lihatlah segala pertengkaran yang terjadi saat ini. Entah itu pertengkaran rumah tangga atau kisruh antarnegara, tak jarang ia hanya bermula dari luncuran kata-kata yang tak tertata. Kata-kata yang terasa lebih menyakitkan ketimbang sayatan senjata perang.

Dalam konteks digital saat ini, “mulut” tentu bisa diartikan pula sebagai jari, sebab jarilah mulut kita di sosial media. Itu sebabnya, jika dulu kita hanya mendengar “mulutmu harimaumu”, maka kini kita pun mendengar “jarimu harimaumu”.

Lantas, apa yang sebaiknya dilakukan?

Mari hiasi mulut kita dengan syukur. Persis seperti perintah Tuhan ketika kita akan mengakhiri puasa. Yakni dengan bersyukur bahwa Tuhan masih memberi rezeki sehingga kita bisa berbuka puasa.  Dari pada menggunakan mulut untuk mengumpat sesama, mengapa tidak menggunakannya untuk bersyukur bahwa Tuhan masih menyayangi kita –apapun bentuknya?

Bersyukur, itulah yang kini mulai jarang kita saksikan. Padahal bersyukur, kata orang-orang tua, membuat nasib kita selalu mujur; beruntung terus-terusan.

Dengan bersyukur pula, kita akan semakin dekat dengan Tuhan sebab kita menyadari bahwa tak ada sedikit pun dari kenikmatan yang kita miliki saat ini yang tak berasal dari campur tangan-Nya. Dengan begitu, kita akan sadar betapa surga sebenarnya sudah ada sekarang, di kehidupan ini; bukan lagi nanti, setelah mati.

Sebab, jika surga adalah kebahagiaan, maka syukur adalah puncak dari segala kebahagiaan.

Bahagia bukan soal kepemilikan, melainkan kondisi mental. Tak ada jaminan bahwa orang-orang berdasi yang ke mana-mana diantar oleh sopir pribadi itu lebih bahagia dari tukang becak yang tetap ngontrak meski dengkul sudah mulai retak. Bisa jadi, orang berdasi itu sebenarnya lebih merana. Hingga tak sadar sering ikat dasi di lehernya terlalu kencang agar bisa cepat mati saja. Sekali lagi, bisa jadi.

Bagi orang-orang yang bahagia, mereka tak perlu lagi kehadiran pembual yang menjajakan nama Tuhan secara sembarangan. Yakni orang-orang yang menggunakan nama Tuhan untuk menebar kebencian, permusuhan, hingga ajakan untuk melakukan perusakan.

Orang-orang yang bahagia ini mengerti, Tuhan –dengan nama apapun ia disebut—tak mungkin tega melihat umat-Nya saling menyakiti. Karenanya tak mungkin perusak kemanusiaan mendapatkan surga sebagai ganjaran.

Surga adalah buah dari segala kebaikan, ia adalah senja yang datang setelah siang menghilang. Dan untuk mencapai itu, masing-masing dari kita dituntut untuk berusaha semaksimal mungkin. Tak akan ada yang bisa membantu selain diri sendiri; surga bukan barang loak di pasar, ia tak akan bisa didapat dengan jasa dari makelar.

Karenanya, mari teruskan berpuasa, yakni menahan diri dari melakukan segala hal tercela. Akhiri dengan bersyukur dan terbukalah untuk meminta maaf, baik untuk kesalahan yang disengaja maupun tidak. Kita semua manusia, tak ada yang sempurna.[MFR]

Jarak Pencipta Rindu

Meskipun di rumah saja tetaplah berlatih yoga dengan memerhatikan jaga-jarak. Karena jaraklah yang menciptakan rindu. Rindu yang memenuhi ruang batin kita akan menggetarkan sisi-sisi spiritualitas yang akan mengantar pada kepekaan sosial.

—–Yudhi Widdyantoro

Kebahagiaan sering kali bertolak dari krisis dan keterpurukan. Untuk sampai ke puncak gunung, orang sering kali harus melewati bukit terjal dan jalan berliku. Aufklarung, renaisans, dan zaman pencerahan Eropa datang setelah melewati zaman kegelapan abad ke-17; saat itu filsafat masih menjadi “budak” agama-penguasa, jauh dari kredo “Sapere Aude” “Beranilah Berpikir”.  Lebaran Idulfitri, kembali kepada kesucian; kebersihan diri didapat setelah tempaan puasa yang sering kali tidak selalu mudah ketika dijalani.

Pandemi menghadirkan PSBB, lockdown, portal jalan, ibadah di rumah; silaturahmi ke keluarga dan  teman ditunda, tidak mudik; pakai masker, rajin mencuci tangan, dan jaga-jarak. Semuanya adalah cara untuk meredam ego kita, seperti yang terkandung di dalam makna puasa, atau juga yoga.

Latihan yoga adalah soal pengendalian diri. Nilai-nilai yang terkandung di dalam Yama Niyama: tidak melakukan kekerasan, baik tindakan, ucapan, maupun pikiran; tidak mencuri, tidak berbohong. Yoga juga melatih kedisiplinan diri, seperti menjaga kebersihan dan kesucian diri, selain mendekatkan diri pada Yang Mahakuasa. 

Meskipun di rumah saja tetaplah berlatih yoga dengan memerhatikan jaga-jarak. Karena jaraklah yang menciptakan rindu. Rindu yang memenuhi ruang batin kita akan menggetarkan sisi-sisi spiritualitas yang akan mengantar pada kepekaan sosial.

Seluruh dunia saat ini sangat mengharap keberhasilan kerja-kerja saintis di laboratorium untuk menciptakan vaksin penyembuh Covid-19. Sebelum vaksin ditemukan, dunia tertolong oleh solidaritas global yang membuat krisis dan penderitaan tidak semakin nelangsa. Selain bantuan formal dan terorganisir, baik dari pemerintah atau lembaga, tidak sedikit pribadi dan komunitas saling membantu mereka yang terdampak pandemi Covid-19: menyumbang APD untuk tenaga medis yang kekurangan, memberi sembako, makanan, dan sebagainya. Solidaritas hanya mungkin terjadi pada mereka yang ‘berjiwa penuh’ ‘content’. Zakat, berderma, beramal, memberi adalah setelah kebutuhan utama diri terpenuhi. Pada akhirnya, Covid-19 menyentuh sisi kemanusiaan. Karena memang, beragama atau beryoga adalah juga soal manusia dan kemanusiaan.

Manusia unggul dalam yoga adalah dia yang menyadari kesalingterhubungan dirinya dengan masyarakat di mana dia berada, dan dengan alam raya yang melingkupinya. Cinta segitiga: diri-lingungan sosial-alam semesta perlu terus dihidupkan agar kehidupan berjalan secara lestari. Getaran cinta yang terbangun dari rindu harus terus ada. Cinta untuk memahami eksistensi diri ‘svadaya’; cinta pada kekasih-yang Mahakuasa, pada sesuatu yang transenden ‘Isvara Pranidhana’ tanpa ada intensi mengetahui dan menguasai segala. Spiritualitas adalah lautan. Sekecil apa pun perahu kita tetap terhubung dengan lautan. Tetap arungi agar sampai. Hanya sekadar menyadari.  Karena sesungguhnya matriks di semesta -jagat raya—terhubung juga dengan organ dan sistem fisiologis di dalam tubuh kita. “Everything in the universe is within you. Ask all from yourself,” kata Rumi.

Manusia yang tercerahkan dalam kacamata yoga adalah mereka yang telah terpenuhi tujuan hidupnya sehingga kesadaran diri terbangun dalam kesucian yang natural, seperti sabda Patanjali dalam sutra penutup, “purusatha sunyanam gunanam pratiprasavah kaivalyam svarupapratistha va citisakhtih iti” (YS: IV.34).

Setelah mendaki gunung, tentu saja kita harus turun. Segala pencapaian sampai di puncak gunung barulah separuh jalan. Pemandangan indah di puncak beserta segala ekstase kenikmatan tidaklah kekal sifatnya. Jalan menurun menuju pulang ke rumah bukan berarti selalu mudah. Begitu juga penuturan di atas, hanyalah interpretasi penulis, bukan fakta sebenarnya. Jalan pencapaian tertinggi dalam latihan yoga: samadhi, penerangan batin, pembebasan dari derita dunia –yang terbangun dari laku spiritual esoterik akan lebih lengkap hanya jika mewujud dalam laku sosial.

Seperti dalam melaksanakan ritual agama, hasil dari rutinitas ibadah berupa kesalehan spiritual, memunyai daya dorong untuk mewujud dalam relasi sosial di masyarakat: menjadi toleran, plural, dan menghargai kebinekaan. Menjadi tantangan besar pagi praktisi yoga agar selesai dari latihan yoga; bergeser dari matras yoga ukuran 80×180 cm; di luar studio, gym apakah nilai-nilai ideal yang terkandung dalam filosofi yoga dapat mengemanasi, meluber kasih dan sayangnya kepada orang di sekitarnya tanpa kecuali. Selain bahwa dia tidak menjadi buronan KPK, terlibat jaringan teroris, atau masuk bui karena mencuri.

Namun perlu diingat bahwa yang dikatakan di atas, hanyalah interpretasi penulis, bukan fakta. Anda, pembaca perlu menemukan sendiri kebenarannya. Kebenaran yang membebaskan tidak ditemukan lewat interpretasi, melainkan hubungan langsung dengan fakta. Pemandangan indah di puncak gunung, deritaan perjalanan menuju puncak, nafsu, keserakahan, kebencian, kekerasan, kecemasan, iri hati, rasa rakut, sakit hati atau semua rasa perasaan emosi adalah fakta. Apa yang kita pikirkan tentang fakta adalah interpretasi.

Setiap konflik batin bisa diselesaikan justru apabila batin dibersihkan dari interpretasi. Lupakan sementara Yogasutra Patanjali; singkirkan ayat-ayat kitab suci. Singkirkan pesan-pesan para pemuka agama; jangan terpaku ajaran master-guru yoga. Kesampingkan tradisi dan budaya. Lenyapkan semua otoritas di benak Anda. Amati secara pasif. Sinari setiap fakta dan lihatlah apa yang terjadi! Alami sendiri.[MFR]

Merayakan Idulfitri Tanpa Spasi

Aturan sederhana tentang penulisan “Idulfitri” ini nyatanya kerap diabaikan, salah satu sebabnya adalah faktor kebiasaan. Kebanyakan orang Indonesia menulis kata “Idulfitri” menggunakan spasi.

Khoirul Anam

Pucuk Ramadan tahun ini sudah mulai terlihat batang hidungnya. Hanya dalam hitungan hari saja, umat Islam di seluruh dunia akan segera merayakan hari yang dinanti-nanti; yang meski untuk kali ini, hari tersebut harus dirayakan secara berbeda; semua karena korona. Hari yang dimaksud adalah hari raya atau Idulfitri.

Secara bahasa, “Idulfitri” adalah satu kata. Ia tidak ditulis terpisah dengan spasi; menjadi “Idul fitri”, tidak pula ditulis dengan tambahan huruf “h”; menjadi “Idhulfitri” atau “Idhul fitri”. Dilihat dari asal katanya, “Idulfitri” adalah lema yang merupakan serapan dari bahasa Arab “id” dan “alfitri” yang berarti “kembali” dan “suci”. Abdul Gaffar Ruskhan dalam Bahasa Arab dalam Bahasa Indonesia (2007) menyebut “id” sebagai subjek dengan tanda harakat u (damah), itu sebabnya “id” harus ditulis menyambung dengan “fitri” sebagai penanda makrifah: al-fitri.

Karenanya, ketika kata “Idulfitri” diserap ke dalam bahasa Indonesia, “Idul” menjadi unsur terikat yang harus melekat dengan kata sesudahnya, fitri. Maka jadilah “Idulfitri”. Ketentuan yang sama berlaku pula untuk kata “Iduladha” yang harus ditulis tanpa spasi, bukan “Idul adha”.

Aturan sederhana tentang penulisan “Idulfitri” ini nyatanya kerap diabaikan, salah satu sebabnya adalah faktor kebiasaan. Kebanyakan orang Indonesia menulis kata “Idulfitri” menggunakan spasi. Hal ini kemungkinan besar disandarkan pada model pengucapan; yang membutuhkan jeda di antara “Idul” dan “fitri”, sehingga muncul kecenderungan untuk menunjukkan jeda tersebut melalui penggunaan spasi.

Aturan soal penulisan kata yang terdiri dari dua unsur kata sebenarnya memang cenderung menyetujui untuk menggunakan spasi, terlebih jika kedua unsur kata tersebut masing-masing memiliki arti tersendiri, contoh: “terima kasih”, “kerja sama”, “ibu kota”, dll. Kata-kata tersebut ditulis secara terpisah lantaran masing-masing unsur katanya memiliki arti tersendiri; membuat keduanya mampu berdiri sendiri dalam kalimat.

Kata “terima kasih” misalnya, “terima” dan “kasih” memiliki arti masing-masing yang membuat keduanya sanggup berdiri di kalimat utuh, contoh: “Aku terima kasihmu meski tidak tubuhmu” atau “Dia kasih aku harapan”.

Lalu, apa yang membedakan kata gabungan ini dengan “Idulfitri”? kenapa ia harus ditulis terpisah? Sebabnya jelas, “id” termasuk ke dalam unsur terikat yang harus melekat pada kata sesudahnya. Karenanya, meskipun “id” dan “fitri” memiliki maknanya masing-masing, keduanya tak ditulis secara terpisah.

Kebiasaan lain yang tak tepat secara tata bahasa terkait penggunaan kata “Idulfitri” adalah kecenderungan untuk menggunakannya secara menumpuk dengan kata “hari raya”, misalnya mengucapkan, “selamat hari raya Idulfitri, ya!”

“Idulfitri” sudah mengandung makna hari raya atau hari besar keagamaan, karenanya tak perlu lagi menggunakan kata “hari raya”, cukup ucapkan, “Selamat Idulfitri, jangan lupa lunasi utangmu, ya.”

Mengucapkan “selamat hari raya Idulfitri” sama halnya dengan bilang “hari Senin” atau “bulan Januari”. Tanpa menggunakan kata “hari” sekalipun, kita sudah paham bahwa “Senin” adalah nama hari, begitu pula dengan kata “bulan” sebelum kata “Januari”.

Baiklah, selamat merayakan Idulfitri, teman-teman. Semoga Tuhan yang Mahabaik memberkati kita semua.

Salam #PatroliTataBahasa.

Puasa, Antara Supremasi Ruhani dan ‘Physical Distancing’

Tubuh manusia itu tak ubahnya kendaraan bagi jiwa. Tubuh merupakan transportasi jiwa untuk mencapai tujuan sejati, yaitu hadirat-Nya.

Hujjat al-Islâm Al-Ghazâlî

Berpuasa itu usaha sadar kita menghayati kelemahan badaniah kita. Dengan menahan diri tidak makan dan tidak minum sehari penuh, berarti kita sengaja memilih untuk tidak menjadi kuat. Kita sengaja memilih untuk melemahkan diri kita.

Ramadan sesungguhnya adalah momentum penegasan kembali supremasi ruhani atas jasmani. Ritual puasa sejatinya hendak mengingatkan manusia bahwa jasmani hanya sarana bukan tujuan.

Mengapa ini penting diingatkan? Karena seiring waktu, manusia senantiasa lupa bahwa jasmani hanya sekedar sarana, bukan tujuan. Pembangunan jasmani semakin hari semakin digalakkan sementara jiwa semakin terlantarkan. Banyak manusia yang jasmaninya sehat tetapi ternyata jiwanya sakit.

Padahal dalam Misykât alAnwâr, Hujjat al-Islâm Al-Ghazâlî telah mewanti-wanti bahwa tubuh manusia itu tak ubahnya kendaraan bagi jiwa. Tubuh merupakan transportasi jiwa untuk mencapai tujuan sejati, yaitu hadirat-Nya.

Maka layaknya sebuah kendaraan, tubuh perlu dirawat. Tubuh juga harus dijaga kesehatannya, dijauhkan dari berbagai penyakit. Makan, minum, asupan gizi yang cukup, dan olahraga adalah bagian dari usaha merawat tubuh agar senantiasa sehat dan segar bugar.

Karena puasa tak hendak menafikan jasmani apalagi mematikannya, maka bagi yang hendak berpuasa disunahkan untuk sahur, begitu juga sunah segera berbuka ketika azan magrib dikumandangkan. Prinsipnya, keberlangsungan hidup itu penting dan harus dipertahankan.

Ramadan kali ini suasananya berbeda karena umat Islam berpuasa di tengah situasi pandemi covid-19. Berpuasa di tengah situasi merebaknya wabah tentu dua kali lebih berat dari biasanya, karena selain harus menjaga kebersihan jiwa, orang yang berpuasa juga dituntut untuk selalu waspada terhadap penularan virus ke tubuh kita.

Anjuran pemerintah agar masyarakat lebih memilih stay at home dan jaga jarak fisik ‘physical distancing’ mestinya menjadikan puasa kali ini lebih sepi dan lebih pribadi. Pernak pernik puasa yang biasanya hingar bingar otomatis harus dihentikan, atau minimal dikurangi.

Sayangnya, sangat sulit mengubah kebiasaan yang kadung mentradisi. Menjelang sore tempat belanja dan pasar-pasar masih riuh ramai tak terkendali. Antara penjual dan pembeli berbaur tanpa jarak sama sekali, bahkan tanpa masker pelindung. Hasrat belanja dan memenuhi kebutuhan untuk berbuka mengalahkan kekhawatiran tertular koronavirus.

Ironis, karena jika tidak segera disadari bukan tidak mungkin kita tidak hanya gagal menjadikan puasa sebagai medium penyucian jiwa, namun justru berbalik arah menjadi bencana massal yang mengancam keselamatan jiwa.

Puasa sebagai ibadah yang menekankan makna ketabahan dan kesabaran pada dasarnya dapat menjadi momentum yang tepat untuk memutus mata rantai penyebaran covid-19, bukan justru sebaliknya menjadi sumber pemicu penyebarannya. Pembatasan yang diberlakukan pemerintah pada Ramadan kali ini mestinya dijadikan sebagai kesempatan melakukan karantina diri sekaligus meningkatkan kualitas ibadah puasa. [MFR]

Merawat Asa dan Puasa ala Heidegger

Manusia harus terus menerus mencari makna hidup, mengukir dan menciptakan sejarah sekaligus melakoninya

—-Martin Heidegger

Bulan puasa bagi sebagian umat Islam merupakan bulan yang ditunggu. Selain karena memiliki banyak keutamaan, di dalam bulan puasa terdapat momentum yang mengarahkan orang untuk berkumpul.  Sebagai homo socius, manusia adalah makhluk yang senang untuk berkerumun. Momentum berkumpul saat bulan puasa di antaranya adalah makan sahur dan buka puasa bersama keluarga. Momentum yang hampir tidak jarang –jika tidak ingin disebut tidak pernah- dilakukan di bulan yang lain.

Masjid-masjid juga mengadakan buka puasa bersama sebagai bentuk panggilan, memberi makan bagi orang berpuasa, yang pahalanya sebanding dengan orang yang puasa tersebut (hadis). Salat tarawih dan tradisi menyalakan petasan bersama teman-teman menjadi momen keriuhan bersama yang hampir dilakukan di setiap bulan Ramadan.

Namun, kini hiruk-pikuk tahunan yang selalu ditunggu-tunggu itu sulit didapatkan; pemerintah mengimbau ada pembatasan sosial dan anjuran menjaga jarak sosial, akibat wabah Covid-19 yang tengah melanda. Semua momentum hanya bisa dikenang.Bahkan, harapan untuk beriuh ramai saat merayakan hari kemenangan, Idulfitri, masih patut dipertanyakan, lantaran pandemi belum dapat diketahui sampai kapan akhirnya.

Semua manusia mengarantinakan diri; menjaga diri dari persebaran virus atau mengisolasi dan mengobati sendiri bagi yang merasa terjangkiti. Kekarutan ini tidak hanya dialami oleh umat Islam. Umat agama lain pun merasakan dampak yang sama. Mereka melalui hari besar tanpa perayaan. Imlek dan Paskah dirayakan di rumah masing-masing, ritual utama di rumah ibadah hanya bisa disaksikan melalui media online.  Kini, Ramadan dan Idulfitri berada dalam bayangan yang sama.

Pupuskah Harapan Umat Beragama?

Mungkin sebagian kita merasa kecewa. Bagaimanapun, kaum beragama memiliki tingkat keyakinan yang berbeda terhadap tuhan sebagai pencipta realitas, termasuk wabah ini. Namun, agama lahir sebagai harapan dari ketidak mampuan manusia menghadapi realitas. Terutama kematian.

Menurut Martin Heidegger, kematian adalah realitas yang paling absolut. Meski begitu, manusia banyak yang mengabaikannya. Semua manusia meyakini akan datangnya kematian, meski tidak dapat diprediksi waktunya. Inilah paradoks kehidupan, saat menghadapi realitas kematian.

Sebagaimana mati, manusia dihadapkan pada berbagai absurditas kehidupan. Masa depan bagi mereka adalah bayangan semu yang tak pasti bentuknya.

Saya punya seorang teman satu kelas saat SMA; orangnya culun dan sederhana dan kini ia menjadi seorang dokter dengan berbagai kemewahan yang dimiliki, seperti istri yang cantik, rumah yang besar, dan mobil yang berjejer di garasi.Ada pula teman yang selama sekolah hingga kuliah selalu mendapatkan predikat terbaik, setelah lulus kesulitan mencari kerja. Keluar masuk, sebagai karyawan buruh di perusahaan, hingga kini menjadi sales, dan mengeluh tiap bulan kerena dikejar setoran.

Itulah paradoks kehidupan.

Dalam realitas yang paradoks tersebut, mestinya manusia terbiasa. Kaum beragama harus terbiasa menggantungkan masa depannya pada Sang Pemilik realitas.  

Sebagaimana mati, segala bencana seperti banjir, gempa, bahkan wabah sekalipun tak menyurutkan semangat hidupnya karena selalu menggantungkan asa pada Dia, Yang Menciptakan.

Heidegger membagi kematian ke dalam dua jenis, yang dalam bahasa Jerman disebut  up leben dan sterben.  Pertama(up leben) berarti manusia mati karena sudah ajalnya, seperti matinya binatang, rusaknya televisi, handphone, dll.  Kedua (sterben) juga dimaknai sebagai mati. Namun, berbeda dengan yang kematian tipe pertama, mati di sini adalah kematian yang dipersiapkan. Kematian yang dijemput oleh seseorang dengan melakukan aktivitas yang bermanfaat selama hidupnya.

Mati bagi manusia tipe kedua ini adalah sesuatu yang selalu diingat, sehingga ia menjadi manusia yang penuh dengan optimisme, mempersiapkan diri dengan melakukan kebaikan-kebaikan. 

Pada titik ini, eksistensi orang beragama menjadi nyata. Ia tidak merasa takut dengan berbagai kemungkinan-kemungkinan yang tak terpredisksi dalam hidupnya.

Sebagai konsekuensinya, manusia sterben mampu “mengalami Tuhan”. Baginya, bertuhan tidak hanya dibutuhkan saat-saat tertentu seperti dalam ritual formal; segala kekhawatiran dan kebahagiaan hanyalah “keadaan” dari-Nya.

Maka, menjadi manusia beragama di tengah wabah dan pandemi, bukanlah perkara yang mengganggu eksistensinya, tetapi semakin mengukuhkan keyakinannya bahwa hakikat hidup hanyalah mengabdi pada yang Ada, dan ia bertanggungjawab atas itu.

Sehingga, bagaimanapun kondisinya saat bulan puasa, dalam riuh maupun saat sepi, dalam keadaan normal maupun saat pandemi, semuanya sama. Orang beragama tidak akan kehabisan asa meski wabah menyerang di bulan puasa karena janji Tuhan bagi yang berpuasa: kebahagiaan saat berbuka dan saat bertemu dengan-Nya. [MFR]