Ngidung Keslametan dan Kabegjan

Ana kidung rumeksa ing wengi. Teguh hayu luputa ing lara. Luputa bilahi kabeh. Jim setan datan purun. Paneluhan tan ana wani. Miwah panggawe ala. Gunaning wong luput. Geni atemahan tirta. Maling adoh tan wani perak mring mawi. Guna duduk pan sirna”

“Allahumma sholli ‘ala sayyidina muhammadin. Thibbil qulubi wa dawaiha. Wa ‘afiyati-l-abdaani wa syifaaiha. Wa nuuril abshoori wadliyaaiha. Wa ‘alaa alihi wa shohbihi wa salim”

Awal 2020, dunia digegerkan dengan virus Corona (Covid-19). Virus dengan cepat mewabah ke sejumlah negara di dunia. Menurut data John Hopkins Corona Virus Resource Center, (per 7 November 2020) virus tersebut sudah menjangkau 190 Negara — tidak terkecuali Indonesia. Sejak awal Maret 2020, pemerintah Indonesia mengumumkan bahwa Indonesia darurat wabah virus Corona. Mulai saat itu, jagad maya dan medsos gonjang-ganjing banjir informasi Covid-19, baik informasi yang sahih, semi-sahih, maupun hoaks. Pemerintah pun memutuskan beberapa kebijakan: social distancing, physical distanching, kantor-kantor dihimbau work from home, hinggasiswa dan mahasiswa belajar dari rumah saja melalui media daring.

Informasi banyu-mili melalui medsos, seperti apa sifat virus Corona, bagaimana penularannya, juga bagaimana ketika terpapar virus tersebut. Bahkan informasi jumlah positif Covid-19, jumlah yang mati, pun jumlah yang sembuh, selalu di-update setiap hari oleh pemerintah. Kewaspadaan, kecemasan, bahkan ketakutan pun turut menyebar. Percepatan penyebaran kondisi psikologis tersebut sepertinya tidak mau kalah, bahkan melebihi percepatan virus Corona itu sendiri. Wabah virus Corona-19 ini oleh orang Jawa disebut dengan istilah pagebluk mayangkara, pandemi penyakit.

Dalam situasi pagebluk seperti ini, penulis teringat dengan wejangan para sepuh, termasuk pesan yang penulis dapatkan dari Simbah Kakung (Mantingan), “No (Narno). Ben ora ketaman lara, maca o japa mantra. Insyaallah, Gusti Allah bakal mayungi”. Makasejak manusia dan dunia geger wabah Covid-19, penulis hampir setiap hari melantunkan kidung sarirahayu, atau yang oleh masyarakat dikenal dengan nama Kidung Rumeksa Ing Wengi.

Di Jawa, kidung, atau tembang, atau nyanyian yang berisi sastra adalah seni. Setiap kidung memiliki fungsinya masing-masing. Kidung Sarira Hayu, sesuai dengan isinya memiliki fungsi penangkal segala macam penyakit, musibah, dan mara bahaya. Para leluhur Jawa, memanfaatkan mantra—baik yang ditembangkan maupun yang diucapkan biasa—sebagai proteksi diri. Terlihat bahwa dalam pelangitan doa pun, para leluhur Jawa menggunakan seni.

Doa atau mantra adalah seni, wujudnya adalah sastra (bahasa). Seni, itu rasa. Sedangkan manusia itu ber-rasa. Rasa itu adalah Diri yang menangkap apa-apa yang masuk kepadanya, baik itu raga (rasa raga: panas, dingin, sakit), pikir (rasa pikir: keinginan, berpikir mengenai sesuatu), maupun hati (rasa manah: susah, senang, sumpek). Maka,  Diri adalah rasa Aku, yang merasakan rasa raga, rasa pikir, dan rasa manah. Jadi karena manusia itu rasa dan seni adalah rasa, sejak jaman dulu, manusia itu sudah nyeni (mencipta seni). Hal ini sesuai dengan apa yang ditulis oleh Michel Lorblanchet (2007) dalam jurnal The Origin of Art, bahwa manusia pada dasarnya adalah seniman dan sejarah seni dimulai dengan manusia—manusia adalah homo aestheticus.

Seni, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1995) diartikan sebagai yang halus, lembut, enak didengar, juga create (mencipta) karya yang lembut. Dalam Oxford English Dictionary, Art (seni) diartikan sebagai penggunaan imajinasi untuk mengekspresikan ide-ide atau perasaan-perasaan. Dari pengertian-pengertian tersebut, bisa dipahami istilah artistik, estetik, pun etika. Sesuatu yang menifestasi jiwa (ide atau perasaan), maka disebut sebagai artistik, memiliki sifat estetik (indah, lembut, halus), dan muaranya adalah mewujud perilaku yang estetik (etika).

Mencipta (create) dengan demikian adalah akar seni. Bagaimana manusia dengan bahan-bahan yang dimiliki, yaitu ide dan perasaan (jiwa)—di Jawa disebut dengan cipta, rasa, karsadiolah untuk mencipta seni apapun wujudnya (bahasa, visual, gerak, musik). Dengan demikian, seni adalah salah satu sarana penting untuk mencipta dan mengembangkan kreativitas. Seni adalah sarana membangun kekuatan batiniah atau kejiwaan manusia.

Lalu, apa hubungan seni dengan psikologi? Seni sebagai karya olah jiwa yang mengalir ke muara perilaku (etika), sedangkan psikologi adalah ilmu perilaku sebagai manifestasi jiwa. Seni memberikan pengertian atas pikiran (ide-ide) dan apa-apa yang dirasakan oleh manusia. Maka, bagi psikologi, seni adalah sarana yang efisien untuk merawat psikologis baik pada anak-anak, remaja, maupun orang dewasa. Seni dapat menjelaskan sisi pikiran (ide) atau perasaan pada tataran individu dan kelompok masyarakat tertentu — lebih jauh, seni secara tidak sadar menunjukkan kepribadian individu, pun kepribadian suatu masyarakat. Dengan demikian, antara seni dan psikologi memiliki misi yang sama yaitu untuk menjelaskan secara obyektif pertumbuhan, perkembangan dan kesempurnaan jiwa seseorang atau masyarakat (Nader dan Moosa, 2012).

Apa yang perlu dilakukan?

Membuka kran kreativitas adalah kebutuhan pengembangan kekuatan jiwa, optimalisasi cipta, rasa, karsa dan karya. Psikologi, sejak tahun 1950, masih kesulitan mendefinisikan kreativitas. Salah satu sebab adalah karena pada tahun itu psikologi di Amerika masih didominasi aliran behavioristik, yakni oleh eksperimen psikolog Harvard B.F. Skinner yang notabene dilakukan kepada merpati dan tikus. Pada waktu itu semua orang menyadari bahwa kreativitas sulit dijelaskan oleh behavioris. Namun sebuah gerakan baru muncul, yaitu psikologi humanistik yang dimotori oleh Abraham Maslow dan Carl Rogers, yang mulai memiliki konsentrasi kajian terhadap pentingnya pengalaman puncak, motivasi batin, aktualisasi diri, dan kreativitas. Bagi kedua tokoh psikologi humanis tersebut, kreativitas adalah salah satu sifat kemanusiaan yang paling positif dan mampu meneguhkan kehidupan (Sawyer, 2006).

Kreativitas menurut Carl Rogers (2012) adalah kebutuhan sosial yang mendesak untuk melahirkan perilaku-perilaku kreatif pada individu. Maka, Rogers dalam bukunya On Becoming a Person mengritik serius tentang budaya yang memiliki kecenderungan tidak dengan baik mengembangkan kreativitas. Dua kritikan di antaranya adalah soal pendidikan yang cenderung menghasilkan pengikut, stereotip, bukan pemikir inovatif, kreatif, dan penuh kebebasan. Dan dalam kehidupan keluarga, terjadi situasi yang sama. Mulai dari pakaian, makanan yang dimakan, buku yang dibaca, dan gagasan yang dimiliki, terdapat kecenderungan mengikuti, mematuhi dan stereotip. Sedangkan untuk menjadi pribadi yang kreatif akan  dianggap berbeda dan “berbahaya”.

Kemana kreativitas seni menuju?

Seni sebagai pendaya-optimalan cipta, rasa, karsa, dan karya (kreatif) yang bersifat indah, lembut dan halus adalah intisari kebudayaan. Sebagaimana yang diartikan oleh Ki Hadjar Dewantara (1994), kebudayaan adalah segala apa yang berhubungan dengan “budaya”, sedangkan budaya berasal dari perkataan “budi” yang dimaksudkan sebagai budi yang telah masak atau matang. Kebudayaan adalah buah budi manusia. Masak atau matangnya budi (cipta, rasa, karsa dan karya) akan menunjukkan kebudayaan seseorang atau suatu masyarakat. Maka, seni bahkan kesenian yang ada menjelaskan kebudayaannya. Kebudayaan dengan demikian adalah erat dengan konteks seperti apa cipta, rasa, karsa, dan karya yang dimiliki oleh individu maupun suatu masyarakat.

Lahirnya seni, bahasa Jawa-nya ora isa ucul dari kebudayaan masyarakat setempat yang dicipta oleh individu-individu yang ada di dalamnya. Maka karya seni, selain ekspresi yang menjelaskan kebudayaan, juga untuk menjawab permasalahan-permasalahan masyarakat tertentu. Penulis mengambil contoh berbagai serat di Jawa, juga mantra dan doa dalam agama-agama, adalah karya seni yang menjelaskan kondisi-situasi dan menyelesaikan permasalahan masyarakat. Contoh terkini, karya Iwan Fals dengan lagu “Bongkar” yang memiliki kekuatan perlawanan terhadap praktik korupsi, serta lagu “Pancasila Rumah Kita”-nya Franky Sahilatua yang dirilis untuk menguatkan kembali kepada seluruh warga Negara Indonesia bahwa Pancasila adalah rumah untuk kita semua dan selamanya. Karya seni sebagai kebudayaan seharusnya dapat memberikan dampak kebudayaan. Sehingga misi besar kebudayaan dapat dicapai bersama, yaitu keselamatan dan kebahagiaan.

Dalam situasi masyarakat dunia, pun Indonesia yang saat ini dalam kecemasan dan ketakutan, karya seni dari masing-masing kebudayaan seharusnya dapat dijadikan sebagai jampi (obat) kejiwaan. Sehingga masyarakat dapat menghadapi pagebluk virus Corona dengan situasi yang tenang dan tatag (tabah). Pada akhirnya, karya seni seperti “Kidung Rumeksa Ing Wengi” dan “Sholawat Thibbi-l-Qulub” perlu dibaca dan dilantunkan kembali sebagai penguat jiwa, hingga individu-individu di dalam masyarakat merasakan selamat (keslametan) dan kebahagiaan (kabegjan). [MFR]