Puasa, Antara Supremasi Ruhani dan ‘Physical Distancing’

Tubuh manusia itu tak ubahnya kendaraan bagi jiwa. Tubuh merupakan transportasi jiwa untuk mencapai tujuan sejati, yaitu hadirat-Nya.

Hujjat al-Islâm Al-Ghazâlî

Berpuasa itu usaha sadar kita menghayati kelemahan badaniah kita. Dengan menahan diri tidak makan dan tidak minum sehari penuh, berarti kita sengaja memilih untuk tidak menjadi kuat. Kita sengaja memilih untuk melemahkan diri kita.

Ramadan sesungguhnya adalah momentum penegasan kembali supremasi ruhani atas jasmani. Ritual puasa sejatinya hendak mengingatkan manusia bahwa jasmani hanya sarana bukan tujuan.

Mengapa ini penting diingatkan? Karena seiring waktu, manusia senantiasa lupa bahwa jasmani hanya sekedar sarana, bukan tujuan. Pembangunan jasmani semakin hari semakin digalakkan sementara jiwa semakin terlantarkan. Banyak manusia yang jasmaninya sehat tetapi ternyata jiwanya sakit.

Padahal dalam Misykât alAnwâr, Hujjat al-Islâm Al-Ghazâlî telah mewanti-wanti bahwa tubuh manusia itu tak ubahnya kendaraan bagi jiwa. Tubuh merupakan transportasi jiwa untuk mencapai tujuan sejati, yaitu hadirat-Nya.

Maka layaknya sebuah kendaraan, tubuh perlu dirawat. Tubuh juga harus dijaga kesehatannya, dijauhkan dari berbagai penyakit. Makan, minum, asupan gizi yang cukup, dan olahraga adalah bagian dari usaha merawat tubuh agar senantiasa sehat dan segar bugar.

Karena puasa tak hendak menafikan jasmani apalagi mematikannya, maka bagi yang hendak berpuasa disunahkan untuk sahur, begitu juga sunah segera berbuka ketika azan magrib dikumandangkan. Prinsipnya, keberlangsungan hidup itu penting dan harus dipertahankan.

Ramadan kali ini suasananya berbeda karena umat Islam berpuasa di tengah situasi pandemi covid-19. Berpuasa di tengah situasi merebaknya wabah tentu dua kali lebih berat dari biasanya, karena selain harus menjaga kebersihan jiwa, orang yang berpuasa juga dituntut untuk selalu waspada terhadap penularan virus ke tubuh kita.

Anjuran pemerintah agar masyarakat lebih memilih stay at home dan jaga jarak fisik ‘physical distancing’ mestinya menjadikan puasa kali ini lebih sepi dan lebih pribadi. Pernak pernik puasa yang biasanya hingar bingar otomatis harus dihentikan, atau minimal dikurangi.

Sayangnya, sangat sulit mengubah kebiasaan yang kadung mentradisi. Menjelang sore tempat belanja dan pasar-pasar masih riuh ramai tak terkendali. Antara penjual dan pembeli berbaur tanpa jarak sama sekali, bahkan tanpa masker pelindung. Hasrat belanja dan memenuhi kebutuhan untuk berbuka mengalahkan kekhawatiran tertular koronavirus.

Ironis, karena jika tidak segera disadari bukan tidak mungkin kita tidak hanya gagal menjadikan puasa sebagai medium penyucian jiwa, namun justru berbalik arah menjadi bencana massal yang mengancam keselamatan jiwa.

Puasa sebagai ibadah yang menekankan makna ketabahan dan kesabaran pada dasarnya dapat menjadi momentum yang tepat untuk memutus mata rantai penyebaran covid-19, bukan justru sebaliknya menjadi sumber pemicu penyebarannya. Pembatasan yang diberlakukan pemerintah pada Ramadan kali ini mestinya dijadikan sebagai kesempatan melakukan karantina diri sekaligus meningkatkan kualitas ibadah puasa. [MFR]