Perjumpaan Lora Madura dengan Romo Yesuit

Aku bukan nasionalis, bukan katolik, bukan sosialis. Aku bukan buddha, bukan protestan, bukan westernis. Aku bukan komunis. Aku bukan humanis. Aku adalah semuanya. Mudah-mudahan inilah yang disebut muslim.

Ahmad Wahib (Catatan Harian, 9 Oktober 1969)

Bulan Juli tahun 1982, untuk pertama kalinya saya meninggalkan pulau Flores menuju ke Yogyakarta. Saya masih ingat sangat baik bahwa setelah satu minggu berada di Yogyakarta, saya dan kawan-kawan berkunjung ke toko buku Gramedia di Jalan Solo. Saya ingat sangat baik, saat itu saya membeli tiga buku. Pertama, Burung-Burung Manyar karya Romo Mangun. Kedua, Tanah Gersang karya Mochtar Lubis. Ketiga, Pergolakan Pemikiran Islam karya Ahmad Wahib.

Dari ketiga buku ini, saya sangat tertarik dengan buku ketiga. Mungkin karena dalam judulnya ada kata “Pergolakan”, yang rasanya cocok dengan gelora usia muda saya saat itu. Maka saya memutuskan untuk membaca buku itu terlebih dahulu sampai habis.

Buku itu adalah kumpulan catatan harian Ahmad Wahib. Siapa orang ini? Setelah membaca buku itu akhirnya saya tahu bahwa dia (saat itu) adalah mahasiswa yang berasal dari Sampang, Madura. Dia adalah seorang lora –panggilan bagi seorang anak kiai di Madura. Pasti dia juga seorang Muslim yang taat, karena dia berasal dari keluarga muslim dan berasal dari masyarakat muslim. Pada awal tahun 70an, dia pindah ke Yogyakarta dan kuliah di Fisipol UGM. Tetapi dia tinggal di Asrama Realino. Itu adalah asrama mahasiswa yang dibina oleh romo-romo Yesuit. Asrama itu ada di kawasan Mrican, dekat kompleks kampus Sanata Dharma.

Kumpulan catatan harian ini diterbitkan menjadi buku dan diberi judul Pergolakan Pemikiran Islam. Tetapi dalam aspek manakah pemikiran itu mengandung pergolakan? Mungkin ada banyak aspek dalam buku itu yang dapat dikategorikan sebagai “pergolakan”. Tetapi pada kesempatan ini saya hanya mau menunjuk satu hal yang saya anggap sangat penting.

Pada saat itu, sebagai orang yang baru pertama kali keluar dari pulau Flores, praktis saya belum pernah bertemu secara langsung dengan orang yang beragama Islam. Saya juga hampir tidak tahu banyak tentang agama Islam dan juga ajaran dan praksis moralnya. Tetapi dengan membaca buku ini saya merasa mulai mengenal sedikit demi sedikit tentang beberapa segi dari ajaran teologis dan etis agama Islam itu.

Penulis catatan harian itu mencatat hal-hal yang bagi saya sangat menarik berikut ini. Dia juga mengatakan bahwa dirinya adalah anak seorang Kiai besar di Madura. Di tengah keluarganya yang muslim saleh dan taat, dia akhirnya menginternalisasi sebuah ajaran keselamatan, bahwa yang kelak bisa masuk surga hanyalah orang Islam. Orang-orang lain di luar Islam tidak akan bisa masuk surga. Selama dia berada di Madura, dia menerima begitu saja ajaran itu sebagai benar. Dia tidak menggugatnya. Itu adalah sebuah kebenaran teologis yang memang sudah sepantasnya demikian.

Tetapi saat dia berada di Yogyakarta dan tinggal di asrama Katolik (asrama Realino yang dipimpin romo-romo Yesuit tadi), dia mulai mengalami sebuah perubahan besar. Untuk pertama kalinya dia mulai “mempertanyakan” ajaran keselamatan di atas tadi. Bagaimana hal itu bisa sampai terjadi dalam diri anak muda itu?

Hal itu terjadi lewat sebuah perjumpaan, yang selalu mempunyai dampak transformatif dan metamorphosis dalam diri mereka yang terlibat di dalam peristiwa perjumpaan itu. Saat tinggal di asrama Realino, dia berkenalan, dan secara sangat nyata melihat dan mengalami bahwa romo yang menjadi pemimpin asrama itu adalah orang yang sangat baik, sangat saleh dan pintar. Dia orang yang berasal dari Eropa.

Pemuda Madura ini merasa sangat kagum pada romo tersebut. Sedemikian kagumnya, sampai dia tiba pada suatu refleksi teologis bahwa dia tidak akan bisa menerima kalau romo ini kelak harus masuk neraka hanya karena dia tidak beragama Islam. Sebab menurut ajaran tradisional yang dia terima dan amini selama ini, hanya orang Islam saja yang bisa masuk surga. Orang lain di luar itu, tidak bisa masuk surga.

Tetapi setelah melihat kebaikan dan kesalehan hidup bapa asrama ini, pemuda Madura tadi mulai protes. Kemapanan ajaran teologis yang selama ini dia terima di Madura dan sebagai orang Madura, sekarang mulai goncang, mulai mengalami pergolakan dari dalam. Pengalaman perjumpaannya yang sangat nyata dengan lian yang beragama lain, mulai menggoncang struktur dasar ajaran agamanya tentang keselamatan.

Dia sampai mengatakan kalau di Madura dia menerima ajaran bahwa hanya orang Islam saja yang masuk surga; tapi sekarang -setelah melihat dan menyaksikan dan mengalami sendiri secara langsung kebaikan dan kesalehan romo ini—dia merasa tidak bisa menerima jika ternyata romo yang baik dan saleh itu harus masuk neraka.

Bagi saya catatan ini adalah perkara mencintai sesama. Selama sosok sesama itu abstrak, tidak kongkret, mungkin mudah bagi kita untuk mengadilinya dengan kriteria etis ajaran agama kita. Tetapi ketika kita berhadapan langsung dengan sosok sesama yang sangat nyata, maka menurut Levinas, wajah sesama itu pasti menantang kita secara etis untuk berbuat baik, bahkan untuk bertanggung jawab atas keselamatan orang itu.

Kita tidak bisa bersikap apatis dan berpura-pura tidak tahu akan ada dan kehadiran sesama. Memang dalam agama Yudeo-Kristiani, hal mencintai sesama itu adalah sebuah perintah imperatif kategoris, kalau meminjam bahasa filsafat moral filsuf Jerman, Immanuel Kant. Kita tidak bisa dan tidak boleh menghindar daripadanya. Kita harus menerima dan menjalankannya. Perintah mencintai sesama itu harus diperintahkan. Sedangkan hal mengasihi diri sendiri itu diandaikan saja sebab hal itu dengan sendirinya sudah ada dan terjadi. Itu sebabnya, perintah cinta sesama dibandingkan dengan kewajiban etis untuk mengasihi diri sendiri. Sebagaimana halnya orang mengasihi dirinya sendiri, begitulah juga dia harus mengasihi sesamanya. Kasih kepada diri sendiri menjadi model bagi kasih akan sesama.

Kembali kepada buku Ahmad Wahib tadi. Dalam peristiwa perjumpaan dia yang sangat nyata dengan romo Yesuit yang sangat baik itu, dia akhirnya dipanggil untuk juga mencintai romo itu walau berbeda agama. Dia dipanggil atau lebih tepat disadarkan untuk memperluas cakrawala cakupan cintanya, untuk mulai melampaui batas-batas agamanya juga dalam hal “kaveling” keselamatan surga. “Kaveling” keselamatan surga hampir tidak dapat diterima sebagai sesuatu yang eksklusif, tanpa praksis yang nyata akan cinta kepada sesama biarpun sesama itu berbeda. Menurut saya, itulah “pergolakan pemikiran” yang dialami oleh seorang pemikir muda Islam pada waktu itu, Ahmad Wahib.

Setelah membaca buku itu saya merasa seperti sudah berkenalan dengan sebuah cakrawala pemikiran etis dan teologis yang mempunyai konsekuensi tertentu dalam konteks relasi dan pergaulan dengan sesama. Kemapanan penghayatan ajaran lama (tradisional) mengalami pergolakan setelah berjumpa dengan sosok manusia yang sangat nyata, yang dengannya kita terlibat bergaul dan berinteraksi dalam hidup sehari-hari. [MFR]

Pesan Kemanusiaan Dalam Jerat Kamuflase Berbalut Agama

Sumber Gambar: https://nalarpolitik.com/

Bukan pesan kemanusiaan kamuflase berbalut agama yang dikehendaki dari inti ajaran agama. Agama yang dilabuhkan seharusnya memunculkan kebaikan yang pada gilirannya melakukan dialektika dengan zaman yang terus berkembang.

Muhammad Solikhudin

Sejatinya, agama hadir sebagai dasar teologis bagi terwujudnya pencerahan kemanusiaan melalui muatan misi-misi kemanusiaan. Praktiknya, agama justru hadir dalam bentuk simbolik, khususnya melalui ritual-ritual suci yang dilakukan berkali-kali. Berdasar derajat ketaatan pada ritual serta kesalehan simbolik, seseorang kerap didapuk sebagai agamawan karena dianggap telah mengamalkan ajaran agamanya secara baik dan paripurna. Sejauh ini, begitulah manusia pada umumnya menilai kualitas keberagamaan seseorang.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan fenomena keberagamaan itu, namun eksoterisme itu harusnya diimbangi dengan dimensi esoterisme. Dua hal ini tidak dapat dipisahkan. Esoterisme diumpamakan seperti hati manusia, sedangkan eksoterisme merupakan badan manusia. Eksoterisme terwujud dalam ritual-ritual suci (berbentuk) yang dimiliki setiap agama. Esoterisme merupakan pancaran dari yang tidak berbentuk yang posisinya di atas eksoterik yang berfungsi mendamaikan keragaman dalam keberagamaan, memuncukan toleransi yang dikembangkan melalui jalur dialog, seperti konsepsi agama cinta Muhammad Fethullah Gulen. Atau, dapat juga dengan menggunakan konsepsi agama kasih sayang yang berupaya mengkorelasikan hati, nalar dan pengalaman dan mengharmoniskan beberapa entitas yang berbeda serta mengutamakan jalur ajakan serta persuasif.

Sayangnya, ada yang abai dengan aspek esoterik agama. Seringkali, manusia terbuai dengan ritual, dan pada saat yang sama berkubang dalam kejahatan moral. Problem ini biasanya dikaitkan dengan kehendak bebas. J.L Mackie, seperti dikutip oleh Fauzan Saleh dalam Problem Kejahatan dan Kemahakuasaan Tuhan, mengatakan bahwa munculnya kejahatan tidak dapat dirujukkan kepada Tuhan, namun karena adanya kebebasan dalam diri manusia, karena Tuhan telah memberinya kebebasan kehendak.

Oleh karena itu, bukan pesan kemanusiaan kamuflase berbalut agama yang dikehendaki dari inti ajaran agama. Agama yang dilabuhkan seharusnya memunculkan kebaikan yang pada gilirannya melakukan dialektika dengan zaman yang terus berkembang. Kejahatan (pesan kemanusiaan kamuflase berbalut agama) yang dimaksud di sini adalah kejahatan, seperti kekejaman, kesewenang-wenangan, keserakahan, kebiadaban dan lain sebagainya. Kejahatan ini menimbulkan penderitaan kepada orang lain.

Berbeda halnya dengan pengorbanan, meskipun sekilas yang tampak adalah rasa sakit, kemalangan, kesedihan dan lain-lain. Di balik pengorbanan ini justru terdapat kebaikan-kebaikan yang melahirkan kebahagiaan. Pengorbanan ini berkorelasi dengan rasa simpati, belas kasihan, kepahlawanan dan kesediaan untuk berjuang. Sementara itu, kejahatan hanya dapat dirujukkan pada diri manusia yang berperilaku destruktif dan banal tentang ajaran agama. Manusia yang harus mempertanggungjawabkannya di hadapan Tuhan.

Untuk mengupayakan kebajikan, seyogyanya manusia dapat meniru gerakan kultural-revolusioner di Iran; melalui aliansi komponen kaum muda tertindas, intelektual kritis dan borjuis salihin menjadi penting untuk diriilkan. Ketiga komponen tersebut harus selalu bergotong-royong menaklukkan ketidakadilan sosial dan jangan sampai terkotori oleh kepentingan-kepentingan politik jangka pendek-pragmatis yang justru berpotensi bagi masuknya repolitisasi agama (Setowara dan Soimin, 2013: 29).

Oleh karena itu, tiga komponen itu tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Ketiga komponen itu seharusnya membangun lingkaran mata rantai gerakan pembebasan yang sinergis. Kaum muda tertindas yang memiliki semangat yang dahsyat untuk melawan kemapanan, harus didayagunakan dengan diajak berdiskusi mengatasi problem ketertindasan.

Unsur kedua, yaitu kaum intelektual kritis sebagai garda depan perubahan sosial, juga harus mampu menghadirkan wacana populis yang memiliki keperpihakan terhadap kaum pinggiran. Banyaknya elite intelektual yang dimiliki bangsa ini harus digunakan untuk melakukan resistensi terhadap ideologi kaum penindas. Yang paling urgen adalah elite intelektual harus lepas dari kepentingan-kepentingan politis dan cengkraman hegemoni kekuasaan yang acapkali merusak kerja-kerja intelektual kritis yang bebas kepentingan (Setowara dan Soimin, 2013: 29-30).

Pada saat yang sama, dukungan moral maupun materi dari kaum borjuis saleh, juga sangat dibutuhkan. Para politisi, kaum pedagang dan kalangan pebisnis yang memiliki kemapanan ekonomi, harus rela menyisihkan sebagian hartanya untuk disalurkan kepada kaum mustadh’afin.

Ketiga komponen itu harus terus berjalin kelindan untuk mengatasi ekplositasi kemanusiaan dalam ruang kultural maupun kultural. Apabila tidak dilakukan, maka agama akan dianggap kehilangan vitalitas dalam menjawab problem keumatan (Setowara dan Soimin, 2013: 30). Tentunya hal ini tidak boleh terjadi, karena sejatinya agama mempunyai kandungan kesadaran spiritual yang begitu kaya. Tugas utama manusia menangkap kesadaran spiritual, yakni pesan mulia agama yang dibumikan yang menyadarkan manusia untuk melampaui lingkaran lingkaran refleksi dan pencerahan, artinya di samping manusia terus belajar dan melakukan kritik diri dan pada saat yang sama kritik itu dijadikan sebagai alat mendasar untuk membangun optimisme dan melakukan kebajikan yang berorientasi pada pencerahan peradaban. Inilah pola moral-spiritual agama yang diharapkan menjadi cermin dalam kegiatan hidup.

Sekali lagi, bukan pesan kemanusiaan kamuflase berbalut agama yang diharapkan, karena hal ini memunculkan carut-marut yang berkepanjangan. Yang dibutuhkan adalah pencerahan agama. Pencerahan agama merupakan pencerahan dalam segala aspek, yakni aspek kepribadian intelektual, ekonomi, politik, sosial dan yang paling urgen adalah pencerahan peradaban yang dilabuhkan dalam setiap sendi kehidupan publik. Motivasi utama dari pencerahan ini adalah membangun kembali keadabaan, sehingga agama dikembalikan pada jalur yang semestinya.