Gereja dan Semangkok Es Campur

Teladan dari Hirarki Gereja dan perangkat pastoral menjadi faktor mutlak dalam memperkuat iman Katolik tanpa harus menjelekkan agama lain.

—Rosita Sukadana

Memasuki musim kemarau, panas siang hari menambah nikmat Es Campur di belakang sekolah di tengah kota Surabaya. Semangkok Es Campur tersaji lengkap dengan agar-agar yang berwarna-warni, nangka, kelapa muda, kolang-kaling dan durian, ditambah gunungan es serut yang bermandikan sirup merah dan susu kental manis. Semua mempunyai rasa berbeda, tapi menyatu dan menciptakan sensasi luar biasa sekaligus menggiring ingatan pada semboyan negara Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika. Ingatan ini rutin muncul setiap tahun menjelang Agustus, bersamaan dengan persiapan perayaan Kemerdekaan Republik Indonesia.

Bhinneka Tunggal Ika adalah bahasa Sanskerta, yang jika diterjemahkan menjadi ‘Berbeda-beda tetapi Tetap Satu Jua’. Bhinneka Tunggal Ika merupakan hasil pemikiran Mpu Tantular, seorang pujangga pada abad ke-14. Konsep ini membuat Kerajaan Majapahit dapat menyatukan Nusantara. Menurut sejarahnya, Muh. Yamin mengusulkan kepada Presiden Ir. Soekarno untuk menjadikannya sebagai semboyan negara. Sejarah lengkap slogan ini dapat dilihat di https://www.cekaja.com/info/menelisik-sejarah-bhinneka-tunggal-ika-fungsi-hingga-implementasinya.

Entah berapa banyak warga negara Indonesia yang memahami Bhinneka Tunggal Ika atau hanya sekedar tahu sebagai bagian dari pelajaran sejarah, tanpa menerapkan dalam kehidupan sehari-hari. Padahal Bhinneka Tunggal Ika terukir jelas pada Burung Garuda Pancasila, lambang negara Republik Indonesia, negara tempat kita hidup dan mencari nafkah. Sebagai warga negara Indonesia, umat Katolik pun masih banyak yang tidak memahaminya.

Dalam beberapa tahun terakhir, di wilayah Keuskupan Surabaya, sudah banyak paroki yang membuka diri terhadap agama lain. Banyak program kerja yang melibatkan komunitas dan organisasi lintas agama, di samping  juga terlibat dalam kegiatan lintas agama. Orang Muda Katolik (OMK) Kristus Raja Surabaya juga mencoba merangkul teman-teman dari berbagai agama melalui acara “Cangkrukan Lintas Iman” yang bertema “Menjadi Sahabat bagi Semua Orang” pada pertengahan Januari dan berakhir dengan terbentuknya Pelita (Pemuda Lintas Agama) pada 2020. Acara ini didokumentasikan di Youtube oleh Yakobis TV melalui tautan https://youtu.be/70ZQPMr3sZA . Tapi situasi tersebut tidak menjamin bahwa semua umatnya mau ikut membuka diri.

Tulisan saya tahun lalu, “Menanti Ledakan Berikutnya?” dalam buku Narasi Ingatan Peristiwa Bom Surabaya 13-05-18” (hlm. 170), masih berlaku. Eksklusivitas dan arogansi ‘Gereja’ yang membudaya menjadi pembatas dengan dunia luar karena dianggap ‘aneh’ dan ‘asing’, bahkan ‘kesesatan’ yang harus dimusnahkan. Citra eksklusif dan arogan sudah menjadi trademark institusi gereja.

Pada Mei lalu, di salah satu paroki yang aktif mengadakan kegiatan lintas agama, masih ada umatnya yang mengeluarkan pernyataan bahwa donasinya untuk Covid-19 jangan diberikan ke masjid, tanpa mau memberi alasan yang jelas.  Memang hanya beberapa orang dari ratusan donatur yang bersikap demikian tetapi mirisnya hal ini terjadi dalam situasi pandemi. Mau aku traktir semangkok Es Campur atau semangkok sirup? Lebih nikmat yang mana?

RP. Emanuel Tetra Vici Anantha, CM. dalam homili Misa Online, Minggu 19 Juli 2020, melalui Youtube Komsos Kristus Raja, mengajak umat untuk sungguh-sungguh menjadi orang beragama, yaitu menaburkan benih yang baik bagi semua orang dengan jalan menghadirkan Kebaikan, Keadilan, Kejujuran dan Cinta Kasih bagi orang lain sehingga ada semangat untuk mengampuni. Orang lain yang dimaksud tentu tidak hanya terbatas pada umat Katolik saja, seperti terlihat dalam prinsip Ajaran Sosial Gereja (ASG) yang mengutamakan Martabat Manusia. Prinsip Utama ini memandang setiap orang adalah pribadi yang berharga karena diciptakan sesuai ‘rupa Allah’, tanpa melihat agamanya.

Webinar “Perempuan Merawat Persahabatan (Tinjauan Agama-agama)” yang diselenggarakan oleh STFT Widya Sasana Malang pada Sabtu 18 Juli 2020 menghasilkan tigal hal penting: kewajiban merawat persahabatan bagi siapa saja tanpa memandang agama, perlunya mengupayakan relasi yang simetris dan yang terakhir, peran sangat penting keluarga. Webinar ini menghadirkan enam narasumber perempuan yang menjadi tokoh setiap agama di Indonesia. Mereka semua memberi gambaran jelas bahwa pada dasarnya, makhluk Tuhan yang berakal budi menghendaki hidup dalam jalinan persahabatan yang harmonis.

Keluarga sebagai pemegang peranan penting dalam menciptakan keharmonisan persahabatan sejalan dengan Arah Dasar 2020-2029 Keuskupan Surabaya dalam menghadirkan gereja di tengah masyarakat. Pola didik di dalam keluarga menjadi penentu besarnya cinta pada negara; Negara Berketuhanan Yang Maha Esa. Mencintai Indonesia berarti mencintai Tuhan, sesuai imannya.

Sebelum pandemi, mengunjungi warkop (warung kopi) adalah kegiatan rutin bulanan untuk sekadar menyapa teman-teman. Suatu ketika aku datang lebih awal, warkop masih sepi; seorang anak perempuan berusia 4 tahun datang dan bertanya, “Kamu agamanya apa?” Mencoba tetap tersenyum, aku meraih anak itu untuk duduk di sampingku. “Kita berteman, ya”, kataku menunggu reaksinya. Tak berapa lama tawanya lepas. Dengan lugu dia  memelukku sekaligus menghapus kekuatiran. Siapa yang mengukir pertanyaan itu pada ingatannya?

Peranan penting keluarga sebaiknya dilakukan melalui pembinaan mulai dari anak-anak—seperti BIAK (Bina Iman Anak), Rekat (Remaja Katolik), OMK (Orang Muda Katolik)—hingga jenjang dewasa. Teladan dari Hirarki Gereja dan perangkat pastoral menjadi faktor mutlak dalam memperkuat iman Katolik tanpa harus menjelekkan agama lain. Inilah yang menjadi dasar pada penerapan di setiap keluarga menuju tatanan hidup dalam kebhinekaan yang harmonis; mewujudkan Indonesia Maju! [MFR[

Satu Musala, Dua Imam: Beda itu Indah

Kebhinekaan menjadikan semangat persatuan. Keberagaman dan perbedaan bukanlah perpecahan jika dirajut menjadi untaian mutiara keindahan.

——Hajime Yudistira

Saya tinggal di sebuah perumahan yang cukup nyaman dan asri di wilayah Depok; di sana saya bertetangga dengan sekitar 100 KK lainnya. Ada satu musala di perumahan itu, dibangun oleh sebuah pengembang untuk tempat peribadatan bagi warga di sana yang mayoritas beragama Islam.

Musala tersebut cukup nyaman karena ada seorang warga pensiunan dari sebuah perusahaan yang sukarela merawatnya. Sebut saja Imam A, berusia 58 tahun. Beliau selalu menjaga kebersihan musala dan menjadi imam salat 5 waktu; beliau juga suka berkebun dan menanami lingkungan musala kami dengan berbagai tanaman dalam pot; maka tidak heran tempat ibadat warga itu menjadi sangat hijau sehingga memanjakan setiap mata yang memandangnya.

Selain Imam A, ada seorang warga lain yang juga yang sering menjadi imam di musala tersebut; sebut saja Imam B, berusia 62 tahun. Beliau juga sering mengajarkan anak-anak perumahan kami mengaji Alquran, karena memang beliau cukup menguasai dalam ilmu membaca Alquran.

Awalnya tidak ada masalah tentang siapapun yang menjadi imam; kadang-kadang Imam A dan di lain waktu Imam B. Sampai suatu ketika saya menyadari bahwa setiap ada Imam A, maka tidak ada Imam B; begitu pula sebaliknya. Saya mencoba mencari tahu tentang hal itu, dan akhirnya saya menemukan jawabannya.

Ternyata Imam A pernah mengeluarkan statement bahwa beliau tidak mau menjadi makmum Imam B karena, menurutnya, makhraj bacaan salat-nya kurang tepat, dan itu menjadikan salatnya tidak diterima. Mungkin pernyataan ini sampai ke telinga Imam B dan ini membuat beliau tersinggung.

Sampai artikel ini ditulis, saya dengan beberapa warga lainnya sedang berusaha mendamaikan kedua belah pihak, karena seharusnya menurut kami keributan tersebut tidak seharusnya terjadi. Perbedaan pendapat itu biasa, dan sebaiknya perbedaan tidak membuat perpecahan; perbedaan itu justru seharusnya mengisi kekurangan yang ada. Kata kuncinya adalah bertoleransi.

Dalam Islam, perbedaan pendapat adalah keniscayaan. Dari dahulu sampai sekarang ada ragam pendapat dalam Islam. Sehingga perlu kedewasaan berpikir dan bijak dalam melihat varian pendapat. Sebagian orang tidak siap menerima perbedaan pendapat tersebut. Mereka menganggap apa yang dipikirkan dan dipelajarinya adalah kebenaran final. Sehingga tidak ada lagi ruang dialog dan diskusi. Akibatnya, dia menganggap orang yang berbeda pendapatnya sebagai lawan dan musuh.

Ada beberapa sikap yang perlu dikedepankan dalam menyikapi perbedaan. Islam mengajarkan cara menyikapi perbedaan agar menjadi rahmat bukan laknat.

Pertama, sikap selalu berusaha mencari titik temu dalam setiap perbedaan yang ada. Dalam bahasa Alquran, titik temu ini diistilahkan dengan kalimatun sawâ.  Kita dapat menemukan titik temu ini dalam Q.S Ali Imran [5]: 64. Ayat ini mengajarkan kepada kita ketika menghadapi perbedaan. Kita didorong untuk mencapai kesepakatan bersama dalam hal yang bisa dijadikan titik persamaan (kalimatun sawâ), sehingga yang dikedepankan adalah sisi persamaannya, bukan fokus pada perbedaannya.

Kedua, sikap yang bisa dikedepankan untuk menyikapi perbedaan adalah mengedepankan toleransi dan tenggang rasa, saling memahami satu sama lain tanpa terlebih dahulu menghakimi orang lain. Nabi Muhammad SAW sendiri adalah teladan bagi kita sebagaimana yang tercatat dalam sejarah.

Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa datang seorang Badui (pedalaman) ke Masjid Nabi; dia serta merta kencing di Masjid. Melihat ini, terang saja para sahabat marah dan akan memukuli orang ini, Rasulullah SAW mencegahnya. Bahkan beliau menyuruh sahabat untuk menyiram dan membersihkan air seni laki-laki itu (HR. Bukhârî).

Ibn Hajar al-Asqalânî dalam kitabnya Fath al-Bârî Syarh Sahîh Bukhârî menjelaskan beberapa poin penting terkait dengan riwayat di atas. Pertama, berlaku lemah lembut (al-rifq) kepada orang yang melakukan kesalahan karena tidak tahu dan tidak sengaja (jahl). Kedua, wajib mendidik dan memberi pengertian bagi orang yang melihat orang yang melakukan kesalahan itu sesuai dengan akhlak Islam. Ketiga, tidak perlu melakukan kekerasan baik dalam bentuk fisik maupun verbal dalam mencegah munkar.

Ketiga, berdialog dengan orang-orang yang berbeda pendapat dengan kita. Dalam Q.S Al-Nahl: 125, Allah SWT memerintahkan kita agar berdakwah dengan cara-cara yang bijak, santun, dan dengan teladan baik. Sekiranya mereka terus membantah, maka bantah dengan cara yang lebih baik, bukan dengan cara-cara kasar, emosional, dan kebencian. Karena tugas kita hanyalah mengajak dan menyampaikan sesuatu yang baik. Di luar itu semua adalah kewenangan Allah SWT.

Dengan tiga cara yang telah dijelaskan: mencari titik persamaan, toleransi, dan dialog, niscaya perbedaan yang ada di tengah-tengah kita dapat disikapi dengan lebih bijak dan lebih baik. Tidak perlu timbul konflik hanya karena berbeda, karena berbeda itu merupakan sunnatullah. Kita tidak perlu risau dengan banyaknya perbedaan baik dalam kehidupan beragama, bermasyarakat, maupun bernegara. Perbedaan adalah tanda kekuasaan Allah SWT. Oleh karenanya, tidak perlu kita saling membenci dan bertikai karena perbedaan.

Ada seorang sahabat bernama Khairul Anam dari sebuah organisasi bernama ICRP, yaitu yayasan yang bersifat non-sektarian, non-profit, non-pemerintah, dan independen. Lembaga ini mempromosikan dan memperluas dialog serta kerjasama lintas iman. Saya belajar banyak soal toleransi dari sahabat ini dan seharusnya lebih banyak orang yang bisa menerima bahwa perbedaan itu adalah rahmat, bukan justru menjadi alat pemecah-belah.

Beliau mengajarkan toleransi dengan organisasi ICRP-nya dalam lingkup yang lebih luas, yaitu toleransi antar umat beragama. Kita perlu melatih toleransi ini dari lingkup yang lebih kecil saja dulu, yaitu mungkin dalam keluarga, mungkin meningkat lagi antar tetangga, antar lingkungan dan seterusnya.

Semoga dengan membiasakan hidup bertoleransi dari lingkup terkecil dalam keluarga, kita bisa menjadi manusia unggul. Di era milenial ini kita membutuhkan generasi yang mampu memfilter faham-faham radikal, generasi yang cantik moralitas dan cerdas intelektualitas. Kebhinekaan menjadikan semangat persatuan. Keberagaman dan perbedaan bukanlah perpecahan jika dirajut menjadi untaian mutiara keindahan.[MFR]

Mengintip Jalan Sunyi di Balik Vihara

Pernahkah terlintas dalam pikiran umat non-Buddha di Indonesia mengenai kehidupan para bhante, bikhu, atthasilani, samanera, biksu, atau biksuni? Mereka mendarmabaktikan dirinya di jalan sunyi, di balik dinding vihara, untuk melestarikan ajaran sang Buddha.

——– Latifah

Kehidupan di pesantren pada awalnya adalah misteri bagi orang-orang di luarnya. Misteri itu justru menjadi magnet bagi keingintahuan orang ‘human interests’. Kehidupan pesantren kemudian menyeruak menembus dinding-dinding pesantren yang kukuh dengan segenap batasan-batasannya melalui karya sastra. Saya pun –yang tidak pernah menjadi warga pesantren, jadi tahu kehidupan di sana.

Tetapi bagaimana pengalaman hidup kaum agamawan lain? Pernahkah terlintas dalam pikiran umat non-Buddha di Indonesia mengenai kehidupan para bhante, bikhu, atthasilani, samanera, biksu, atau biksuni? Mereka mendarmabaktikan dirinya di jalan sunyi, di balik dinding vihara, untuk melestarikan ajaran sang Buddha. Jika di Thailand, yang mayoritas penduduknya adalah pengikut Buddha, kehidupan mereka menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Namun, di Indonesia tidak banyak yang mengenal kehidupan para ruhaniawan Buddhis ini. Bisa dimaklumi karena dalam bermasyarakat mereka memang tidak ingin menonjolkan diri. Meskipun demikian, dalam hidup bersama seyogianya kita saling mengenal, karena “tidak kenal maka tak sayang”. Prasangka, kecurigaan, bahkan kekerasaan umumnya muncul dari kesalahpahaman dan kurangnya pengetahuan.

Wajar saja bila kita belum begitu mengenal Buddhis karena populasi memang tidak banyak dan tidak begitu menyebar. Saya sendiri baru mengenal orang Buddha saat berkuliah di Program Studi Agama dan Budaya. Hanya ada dua orang Buddhis di kelas saya saat itu. Satu orang berasal dari Banyuwangi dan seorang lagi dari Tibet. Sebelumnya, saya juga hanya mengenal satu orang Hindu, teman di bangku SD. Memang tidak baik mengidentifikasi teman berdasarkan agama. Namun, ingin saya sampaikan di sini, mempunyai teman dari latar beragam itu penting untuk mengembangkan empati dan simpati kita terhadap keberagaman, bukan cuma toleransi yang berbatas itu. Begitulah seharusnya kehidupan antar-beragama terbangun, “Berteman dan bekerja sama, bukan merasa lebih superior,” kata Paul Knitter. 

Berteman artinya membuka diri pada orang lain. Kita mendengar cerita teman untuk mengenal dan memahami mereka. Tidak hanya mengenal siapa mereka, tapi juga dapat mendalami perasaan mereka dengan memahami cara pandang dunianya. Seperti halnya sastra pesantren, sastra Buddhis menjadi jalan masuk untuk memahami kehidupan seorang Buddhis berdasarkan penghayatan mereka atas ajaran sang Buddha. 

Dalam antologi cerpennya, Sihir, Bhante Don Atthapiyo secara lugas menceritakan kehidupannya sejak menjadi samanera di sebuah vihara di Mendut. Bahkan, Bhante Atthapiyo menceritakan pergulatan spiritualnya jauh sebelum memasuki gerbang vihara. Tentu saja, keterbukaan jiwa dan pikiran menjadi prasyarat untuk “mendengarkan cerita” pergulatan batin orang lain yang mungkin saja menantang keyakinan yang selama ini kita pegang teguh. Dalam Kegelisahan Sang Domba, bhante pertama dari tanah Flores ini menuangkan berbagai pertanyaan eksistensialis terhadap tradisi dan keyakinan yang dipraktikkan dengan teguh di tanah kelahirannya itu. Di sinilah kita bisa melihat dialog antar-keyakinan terjalin melalui refleksi “seorang domba” yang berani melintas batas kenyamanannya.

Karya sastra sebagai refleksi dunia pengarangnya juga dapat kita telisik dalam buku puisi “Satu Buddha” karya Jo Priastana. Aktivis sosial yang juga Dosen Sekolah Tinggi Agama Buddha Nalanda, Jakarta, ini menuangkan penghayatannya atas ajaran sang Buddha dalam laku spiritual, baik ke dalam maupun ke luar. Baginya, perwujudan “Menyalakan api dharma dalam kesucian diri” bertujuan “pencerahan dan pembebasan umat manusia”. Jalan pembebasan yang diinginkannya bukan hanya untuk dirinya sendiri, melainkan kebahagiaan semua makhluk, seperti tertuang dalam kutipan puisinya ini:

INGIN KUBAGIKAN
 
Ingin ku berparitta
Kepada pasien-pasien di rumah sakit
Agar nada getararannya
Meringankan penderitaan penyakitnya
 
Ingin ku berparitta
Untuk mereka yang gugur di medan perang
Agar nada getarannya
Membawanya ke alam bahagia
 
Ingin kubagikan bingkisan
Kepada tunawisma di malam waisak
Agar berkah suci bulan purnama
Memberinya sedikit kebahagiaan
 
Ingin kubagikan bingkisan
Kepada narapidana di malam asadha
Agar berkah roda suci kesunyataan
Membukanya akan makna jalan luhur sempurna
 
Ingin kubagikan bingkisan
Kepada anggota sangha du hari kathina
Agar berkah suci persembahan jubah
Melapangkan jalannya menuju pembebasa

“Satu Buddha” —- Jo Priastana

Sebagaimana Buddhadhamma yang terwujud dalam kasih sayang kepada semua makhluk dalam puisi Jo Priastana, “Bahagia Bersama” juga menjadi cita-cita Atthasilani Gunanandini yang terangkum dalam buku puisinya Kesatria Mulia dan Putri Sakya. Di sini bisa kita lihat bahwa agar “Bahagia Bersama” terwujud, secara pribadi kita perlu mengondisikan pikiran dan batin dengan baik secara terus-menerus dalam latihan kemoralan.

Karena tujuan kita bukan beda
Juga tidak perlu khawatir
Karena kita berjuang untuk kebahagiaan tanpa akhir
Bahagia bersama
Tanpa melekati, tanpa menyakiti, tanpa membenci, dan tanpa mendengki
Bahagia bersama
Dengan hati lapang, dengan batin tenang, dan dengan pikiran penuh
Kasih sayang, dan dengan pandangan terang
Inilah rasa bahagia bersama pada jalan Dhamma

“Bahagia Bersama” —– Sila Gunandi

Kesatria Mulia dan Putri Sakya ini menarik dikaji lebih mendalam dalam kaitannya dengan teks lain yang juga lahir dari inspirasi dialog antara Yasodhara dengan sang Buddha, yaitu buku puisi Meditasi Cinta: Yasodhara dan Siddharta Muda karya Jo Priastana. Namun, keduanya mempunyai karakteristik masing-masing. Sila Guna, begitu nama panggilannya, lebih menekankan perjuangan Dhamma dengan mengelaborasi berbagai landasan Buddhadhamma seperti melepas kelekatan dan penderitaan, kebijaksanaan, kebajikan, kesadaran, perhatian, dan kesetiaan.

Berbagai kosakata bahasa Pali pun bertebaran sebagai sarana ucapnya: dukkha, dosa, lobha, dan moha. Ajaran-ajaran tersebut tidak terasa asing karena universal dan nyata di kehidupan kita, sehingga justru dapat menjadi jembatan belajar dhamma, baik bagi umat Buddha maupun non-Buddhis.[MFR]

Egosentrisme dalam Nalar Beragama

Di hadapan pandemi seperti saat ini, kita tampak sebagai makhluk paling naif di antara sekian makhluk Allah yang lain. Manusia sejak baheula telah diberi akal pikiran dan intuisi sebagai senjata untuk bertahan hidup. Pandemi ini seolah mencabik-cabik kepongahan manusia selama ini yang menganggap makhluk lain sebagai figuran dalam kehidupan ini; manusia selalu merasa diri sebagai pusat alam semesta dan penentu bagi putaran roda kehidupan di muka bumi. Virus tak kasat bernama COVID-19 ini membuktikan bahwa anggapan itu adalah semu belaka.      

Kepongahan semacam ini menjadi kekhasan manusia modern; mereka menganggap eksistensi manusia berada di atas segala bentuk keberadaan makhluk yang lain. Pandangan antroposentris semacam ini kerap juga dijustifikasi dengan dalil-dalil keagamaan; misalnya bertebaran teks-teks al-Qur’an dan Hadis yang menyatakan bahwa manusia adalah makhluk paling spesial bagi Allah SWT; makhluk dengan mandat sebagai khalîfah di muka bumi. Ini pula yang membuat malaikat ‘menggugat’ Allah SWT dalam QS. Al-Baqarah: 30, “Dan ingatlah ketika Tuhan-mu berfirman kepada para malaikat:

“Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.

Gegara ayat di atas, manusia dengan pedenya mengklaim posisi spesial mereka di hadapan Allah SWT. Tetapi banyak manusia lupa bahwa ayat ini sebenarnya mengingatkan mereka akan beban berat yang mereka pikul di muka bumi; alih-alih sadar akan posisi kekhalifahan mereka, manusia dikuasi oleh egoisme bahkan terhadap Tuhan mereka sekalipun. Mandat kepemimpinan dari Allah SWT dikorupsi demi kepentingan hawa nafsu dan ketamakan duniawi. Inilah mengapa Nabi SAW pernah mewanti-wanti bahwa jihad terbesar manusia sejatinya adalah perang melawan ego mereka sendiri.

Sepanjang sejarah manusia, egosentrisme terbukti memang menjadi musuh terbesar manusia; Qabil membunuh Habil karena terbakar bara cemburu; Fir’aun mentahbiskan diri sebagai Tuhan, sebuah sikap jemawa yang bahkan iblis sekalipun -yang konon makhluk paling hina dan dikutuk kekal di neraka—tak pernah perbuat. Atas nama kemajuan dan pembangunan, manusia secara membabi-buta ‘memerkosa’ lingkungan mereka tanpa belas kasih.  

Parahnya lagi, sekalipun bukti-bukti telah terang benderang di hadapan mereka, manusia dengan congkak merasa tak bersalah dan tetap menganggap diri paling saleh. Egoisme keagamaan ini bahkan menyeret mereka pada sikap pengingkaran ‘denial’ terhadap hukum alam ‘sunnatullah’. Atas nama Tuhan dan agama, mereka mendaku sebagai penafsir paling autoritatif terhadap kehendak Allah SWT. Sikap seperti ini tampak di masa pandemi ini di mana manusia mengabaikan hukum sebab akibat dengan berlindung pada kepasrahan fatalitistik terhadap-Nya. Deret klaster penularan COVID-19 yang melibatkan aktivitas keagamaan adalah contoh nyatanya; klaster-klaster “ ijtima ulama”, “pelatihan haji”, “tahlilan”, “jamaah masjid” menunjukkan egoisme keagamaan yang lahir dari kecongkakan manusia.

Pun demikian, ini lagi-lagi tidak membuat manusia sadar, malah melahirkan pengingkaran demi pengingkaran terhadap fakta bahwa takdir Allah SWT bekerja melalui hukum sebab akibat. Kesalehan ritualistik yang dibangga-banggakan membuat manusia dihinggapi waham bahwa ibadah mereka adalah satu-satunya jaminan keselamatan di hadapan Allah SWT. Sungguh naif bila kita menganggap bahwa pandemi, misalnya, bisa dihindari hanya dengan ibadah tanpa dibarengi ikhtiar ilmiah-medis. Lebih-lebih bila ada anggapan bahwa mereka yang tertular adalah mereka yang ‘dihukum’ karena kurang pasrah atau bertakwa kepada Allah SWT.

Padahal wabah apapun yang dikirim oleh Allah SWT tetap mengikuti koridor sunnatullah, yakni hukum sebab akibat. Tidak peduli apakah orang itu saleh atau zalim, kaya atau miskin, tokoh atau awam, pasti akan terpapar virus jika hukum alam ini diabaikan. Ritual normatif memang wajib, tetapi ia tidak boleh menomorduakan atau mengabaikan ikhtiar saintifik. 

Seharusnya manusia sadar bahwa tujuan agama diturunkan ke dunia ini bukan untuk kepentingan Allah SWT; hukum-hukum syariah adalah demi kebaikan manusia sendiri. Mengabaikan kemanusiaan demi apa yang diyakini sebagai ‘kepentingan ilahi’ merupakan bentuk sesat pikir. Tidak seperti dewa-dewi mitos Yunani, keagungan dan kemuliaan Allah SWT tidak akan pernah berkurang ataupun bertambah karena ibadah manusia. Agama itu untuk manusia, bukan untuk Allah, sebagaimana ditegaskan dalam sebuah hadis qudsi:

“Wahai hamba-Ku andai seluruh manusia dan jin dari yang paling awal sampai yang paling akhir, seluruhnya menjadi orang yang paling takwa, hal itu tak sedikitpun menambah kekuasaan-Ku. Wahai hamba-Ku, andai seluruh manusia dan jin dari yang paling awal sampai yang paling akhir, seluruhnya menjadi orang yang paling bermaksiat, hal itu tak sedikitpun mengurangi kekuasaan-Ku (HR. Muslim, No. 2577).

Dengan demikian, paradigma teosentris dan antroposentris harus berimbang agar tercipta keselarasan di muka bumi; pengabaian terhadap salah satu aspek bisa mencederai nilai-nilai adiluhung agama. Perlu ada keselarasan antara hubungan dengan Tuhan ‘hablum minallâh’ dan hubungan antara sesama manusia ‘hablum minallâh’ . Inilah jalan terbaik bagi kita untuk menyongsong kehidupan ‘the new normal’ yang sudah di depan mata. [MFR]