Satu Musala, Dua Imam: Beda itu Indah

Kebhinekaan menjadikan semangat persatuan. Keberagaman dan perbedaan bukanlah perpecahan jika dirajut menjadi untaian mutiara keindahan.

——Hajime Yudistira

Saya tinggal di sebuah perumahan yang cukup nyaman dan asri di wilayah Depok; di sana saya bertetangga dengan sekitar 100 KK lainnya. Ada satu musala di perumahan itu, dibangun oleh sebuah pengembang untuk tempat peribadatan bagi warga di sana yang mayoritas beragama Islam.

Musala tersebut cukup nyaman karena ada seorang warga pensiunan dari sebuah perusahaan yang sukarela merawatnya. Sebut saja Imam A, berusia 58 tahun. Beliau selalu menjaga kebersihan musala dan menjadi imam salat 5 waktu; beliau juga suka berkebun dan menanami lingkungan musala kami dengan berbagai tanaman dalam pot; maka tidak heran tempat ibadat warga itu menjadi sangat hijau sehingga memanjakan setiap mata yang memandangnya.

Selain Imam A, ada seorang warga lain yang juga yang sering menjadi imam di musala tersebut; sebut saja Imam B, berusia 62 tahun. Beliau juga sering mengajarkan anak-anak perumahan kami mengaji Alquran, karena memang beliau cukup menguasai dalam ilmu membaca Alquran.

Awalnya tidak ada masalah tentang siapapun yang menjadi imam; kadang-kadang Imam A dan di lain waktu Imam B. Sampai suatu ketika saya menyadari bahwa setiap ada Imam A, maka tidak ada Imam B; begitu pula sebaliknya. Saya mencoba mencari tahu tentang hal itu, dan akhirnya saya menemukan jawabannya.

Ternyata Imam A pernah mengeluarkan statement bahwa beliau tidak mau menjadi makmum Imam B karena, menurutnya, makhraj bacaan salat-nya kurang tepat, dan itu menjadikan salatnya tidak diterima. Mungkin pernyataan ini sampai ke telinga Imam B dan ini membuat beliau tersinggung.

Sampai artikel ini ditulis, saya dengan beberapa warga lainnya sedang berusaha mendamaikan kedua belah pihak, karena seharusnya menurut kami keributan tersebut tidak seharusnya terjadi. Perbedaan pendapat itu biasa, dan sebaiknya perbedaan tidak membuat perpecahan; perbedaan itu justru seharusnya mengisi kekurangan yang ada. Kata kuncinya adalah bertoleransi.

Dalam Islam, perbedaan pendapat adalah keniscayaan. Dari dahulu sampai sekarang ada ragam pendapat dalam Islam. Sehingga perlu kedewasaan berpikir dan bijak dalam melihat varian pendapat. Sebagian orang tidak siap menerima perbedaan pendapat tersebut. Mereka menganggap apa yang dipikirkan dan dipelajarinya adalah kebenaran final. Sehingga tidak ada lagi ruang dialog dan diskusi. Akibatnya, dia menganggap orang yang berbeda pendapatnya sebagai lawan dan musuh.

Ada beberapa sikap yang perlu dikedepankan dalam menyikapi perbedaan. Islam mengajarkan cara menyikapi perbedaan agar menjadi rahmat bukan laknat.

Pertama, sikap selalu berusaha mencari titik temu dalam setiap perbedaan yang ada. Dalam bahasa Alquran, titik temu ini diistilahkan dengan kalimatun sawâ.  Kita dapat menemukan titik temu ini dalam Q.S Ali Imran [5]: 64. Ayat ini mengajarkan kepada kita ketika menghadapi perbedaan. Kita didorong untuk mencapai kesepakatan bersama dalam hal yang bisa dijadikan titik persamaan (kalimatun sawâ), sehingga yang dikedepankan adalah sisi persamaannya, bukan fokus pada perbedaannya.

Kedua, sikap yang bisa dikedepankan untuk menyikapi perbedaan adalah mengedepankan toleransi dan tenggang rasa, saling memahami satu sama lain tanpa terlebih dahulu menghakimi orang lain. Nabi Muhammad SAW sendiri adalah teladan bagi kita sebagaimana yang tercatat dalam sejarah.

Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa datang seorang Badui (pedalaman) ke Masjid Nabi; dia serta merta kencing di Masjid. Melihat ini, terang saja para sahabat marah dan akan memukuli orang ini, Rasulullah SAW mencegahnya. Bahkan beliau menyuruh sahabat untuk menyiram dan membersihkan air seni laki-laki itu (HR. Bukhârî).

Ibn Hajar al-Asqalânî dalam kitabnya Fath al-Bârî Syarh Sahîh Bukhârî menjelaskan beberapa poin penting terkait dengan riwayat di atas. Pertama, berlaku lemah lembut (al-rifq) kepada orang yang melakukan kesalahan karena tidak tahu dan tidak sengaja (jahl). Kedua, wajib mendidik dan memberi pengertian bagi orang yang melihat orang yang melakukan kesalahan itu sesuai dengan akhlak Islam. Ketiga, tidak perlu melakukan kekerasan baik dalam bentuk fisik maupun verbal dalam mencegah munkar.

Ketiga, berdialog dengan orang-orang yang berbeda pendapat dengan kita. Dalam Q.S Al-Nahl: 125, Allah SWT memerintahkan kita agar berdakwah dengan cara-cara yang bijak, santun, dan dengan teladan baik. Sekiranya mereka terus membantah, maka bantah dengan cara yang lebih baik, bukan dengan cara-cara kasar, emosional, dan kebencian. Karena tugas kita hanyalah mengajak dan menyampaikan sesuatu yang baik. Di luar itu semua adalah kewenangan Allah SWT.

Dengan tiga cara yang telah dijelaskan: mencari titik persamaan, toleransi, dan dialog, niscaya perbedaan yang ada di tengah-tengah kita dapat disikapi dengan lebih bijak dan lebih baik. Tidak perlu timbul konflik hanya karena berbeda, karena berbeda itu merupakan sunnatullah. Kita tidak perlu risau dengan banyaknya perbedaan baik dalam kehidupan beragama, bermasyarakat, maupun bernegara. Perbedaan adalah tanda kekuasaan Allah SWT. Oleh karenanya, tidak perlu kita saling membenci dan bertikai karena perbedaan.

Ada seorang sahabat bernama Khairul Anam dari sebuah organisasi bernama ICRP, yaitu yayasan yang bersifat non-sektarian, non-profit, non-pemerintah, dan independen. Lembaga ini mempromosikan dan memperluas dialog serta kerjasama lintas iman. Saya belajar banyak soal toleransi dari sahabat ini dan seharusnya lebih banyak orang yang bisa menerima bahwa perbedaan itu adalah rahmat, bukan justru menjadi alat pemecah-belah.

Beliau mengajarkan toleransi dengan organisasi ICRP-nya dalam lingkup yang lebih luas, yaitu toleransi antar umat beragama. Kita perlu melatih toleransi ini dari lingkup yang lebih kecil saja dulu, yaitu mungkin dalam keluarga, mungkin meningkat lagi antar tetangga, antar lingkungan dan seterusnya.

Semoga dengan membiasakan hidup bertoleransi dari lingkup terkecil dalam keluarga, kita bisa menjadi manusia unggul. Di era milenial ini kita membutuhkan generasi yang mampu memfilter faham-faham radikal, generasi yang cantik moralitas dan cerdas intelektualitas. Kebhinekaan menjadikan semangat persatuan. Keberagaman dan perbedaan bukanlah perpecahan jika dirajut menjadi untaian mutiara keindahan.[MFR]

Pesan Damai dari Drakor


Sikap terbaik yang dapat kita lakukan adalah meyakini bahwa kita semua adalah makhluk ciptaan Tuhan. Kita setara dalam penciptaan, meski berbeda dalam rupa penampilan

Drama korea –biasa disingkat menjadi drakor—menjadi perbincangan menarik akhir-akhir ini. Di tengah situasi pandemi, drakor menjadi salah satu teman melepas penat. Terlebih bagi para jomlo yang hidup di perantauan, tak dapat pulang ke kampung halaman.

Terlepas dari situasi tersebut, mengapa drakor begitu digandrungi? Meleburkan batas usia, sekat gender bahkan tradisi keagamaan. Seolah-olah ada semboyan baru, kita memang berbeda tapi drakor menyatukan semuanya.

Tentu fenomena drakor ini tidak dapat dilihat sebagai sebuah gerakan yang baru muncul. Sebab, jika kita melihat lebih jauh ke belakang, sejak awal 2000-an telah lahir gelombang hallyu melalui drakor “Winter Sonata,” “Full House” dan “Boys Over Flower”. Lantas, apa saja hal menarik yang membuat banyak orang “tersihir” dengan tayangannya?

Pertama, drakor menghadirkan realita sosial. Alih-alih membuat drakor bak kehidupan surgawi yang penuh kebaikan, justru drakor lahir sebagai potret masyarakat Korea yang suram. Bahkan para penggiat film di Korea tidak segan-segan menampilkan “bobrok”-nya pemerintahan Korea.

Ini bisa dilihat dari drakor yang bertema pemerintahan dan kejaksaan. Salah satu drakor yang recommended untuk ini adalah “City Hunter” yang diperankan oleh Lee Min Ho –yang di Indonesia terkenal dengan bintang iklan “Luwak White Coffe”.Dalam drakor tersebut, Lee Min Ho berperan sebagai tokoh utama menjadi “Pemberantas Korupsi” yang bekerja dengan penuh strategi dalam sepi.

Selain isu pemerintahan, isu pendidikan yang penuh dengan bullying juga banyak disoroti. Misalnya drakor “The Heirs” –yang juga diperankan oleh Lee Min Ho—mengangkat tema kenakalan remaja, percintaan anak SMA dan sejumlah problem yang dihadapi oleh kawula muda. Karena isu yang dihadirkan ini, membuat para penikmat drakor dapat memahami alurnya dengan mudah atau bahkan dapat menghubungkannya dengan pengalaman pribadi yang pernah dilalui.

Drakor lain yang saat ini sedang diminati misalnya adalah “The World of the Married Couple”. Bahkan di Indonesia –meski belum ada penelitian resmi tentang ini—drama ini banyak dibincangkan di media sosial. Memang tak heran, sebab drakor ini mengangkat isu keluarga, KDRT, perceraian dan perselingkuhan. Satu pembahasan yang juga relevan untuk konteks Indonesia.

Kedua, drakor juga menjadi ajang bagi penonton untuk belajar terkait isu yang diangkat. Sebab, rata-rata naskah drama yang ditulis itu berdasarkan riset secara serius. Ketika tema drakor seputar kedokteran, maka sang penulis adegan dituntut dapat menjadi seorang dokter yang mengetahui seluk-beluk kehidupan tenaga kesehatan.

Banyak drakor yang mengangkat isu ini, misalnya “Romantic Doctor,” “Hospital Playlist,” “Doctor Stranger,” dll. Menonton drakor seputar kedokteran akan memanjakan mata kita dengan adegan operasi, penanganan pasien di rumah sakit dan tindakan medis lainnya. Karenanya sambil menonton, kita diajak untuk menjadi dokter –yang mengobati perasaan rindu menahan pilu, hehe.

Selain kedokteran, ada banyak tema yang diangkat oleh drakor seperti pemerintahan, psikologi, pendidikan, bisnis, kerajaan, bahkan sci-fiction seperti fenomena robot dalam kehidupan manusia atau perjalanan waktu. Menarik, bukan?

Ketiga, jumlah episode drakor yang tidak terlalu banyak dan juga tidak terlampau sedikit. Rata-rata jumlah episode drakor adalah 16-20 dengan durasi per episode sekitar satu jam. Hal ini penting untuk diperhatikan.

Sebab, jika jumlahnya terlalu banyak, maka akan ada banyak konflik yang muncul, atau justru konfliknya datar sehingga membosankan. Sedangkan jika terlampau sedikit, akan membuat penonton tidak begitu hanyut dalam drakor yang ditonton.

Selain itu, dengan kapasitas 16-20 episode, membuat drakor benar-benar fokus pada satu permasalahan. Biasanya lima episode awal itu menjelaskan konteks, latar kejadian, penguatan tokoh, dan pengenalan intrik-intrik kepentingan. Kemudian lima episode berikutnya masuk pada konflik, hingga klimaks dan penyelesaiannya di beberapa episode akhir. Dengan alur yang jelas seperti ini, penonton tidak di-PHP-kan—dengan bertanya-tanya ending yang seperti apa—dan dapat mengikuti episode demi episode dengan hati yang tenang.

Itu beberapa poin yang membuat drakor begitu dinikmati. Bagi kalian penikmat atau pengamat drakor, adakah poin lainnya yang belum disebutkan? Jika ada, mari berdinamika bersama melalui tulisan.

Meski demikian, tentu drakor juga tidak lepas dari banyak kritikan, terutama dari kelompok haters drakor. Salah satunya adalah “anggapan” bahwa drakor dapat membuat kita lupa waktu karena kecanduan. Yap, tidak dapat dipungkiri memang drakor mempunyai efek kecanduan, candu dalam syahdu menanti rindu yang kian pilu, karena tokoh utama yang selalu ditunggu.

Hanya saja, efek kecanduan ini bukan salah pihak drakor yang sudah berusaha mengemas filmnya seapik mungkin. Kecanduan ini datang karena sang penikmat yang tidak dapat mengatur waktu dengan tepat. Sama seperti kecanduan gadget, game online, focus ghibah discussion, dll. Maka yang harus diubah adalah pola pikir dan pola hidup kita dalam menikmati ragam kenikmatan duniawi tersebut.

Tentu tidak salah menikmati fasilitas keduniaan yang Tuhan berikan, selama hal ini tidak melenakan kita dari kehidupan akhirat yang sudah dijanjikan –duh gusti, maafkan penulis yang tiba-tiba berubah profesi dari penikmat drama menjadi tokoh agama.

Selain itu, para kritikus drakor juga menganggap bahwa drakor dapat membuat ke-halu-an yang berkepanjangan. Ini akan berpengaruh pada skala kriteria calon pasangan ideal para penikmat oppa dan nuna. Misalnya mencari pasangan yang putih, tinggi dan langsing seperti Mas Hyun Bin atau Mbak Suzy.

Pengaruh lainnya adalah pada tolok ukur badan ideal yaitu seperti para aktor terkenal. Sehingga lahirlah obsesi untuk diet, pemutihan kulit –bukan putih yang lainnya—hingga puncaknya melakukan operasi plastik –bagi penikmat drakor dari kalangan borjuis.

Memang dalam hal ini, kita –para penikmat drakor—perlu “mengkritik” industri perfilman Korea yang banyak menjual “tubuh” para aktor drakor. Hal ini sepertinya juga mulai disadari oleh pegiat film di Korea. Bahkan salah satu drakor terbaru ada yang mengkritik dan mencoba keluar dari perangkap tubuh tersebut yaitu Itaewon Class. Dalam salah satu adegan diceritakan bagaimana sosok Kim Tony; seorang berkulit hitam yang berjuang untuk bisa hidup di Korea.

Hanya saja, kriteria tubuh dan pasangan ideal tersebut muncul karena kita belum bisa mengenal diri kita sepenuhnya. Hal ini dapat dimaklumi, karena kebanyakan dari penggemar drakor adalah generasi muda yang masih labil dalam proses mencari jati diri. Di sinilah pentingnya nilai pertama yang dihidupi dalam Young Interfaith Peacemaker Community (YIPC) yaitu berdamai dengan diri sendiri.

Kita sebagai manusia harus melihat diri dengan tepat dan seimbang. Maksudnya adalah melihat diri ini tidak lebih tinggi dari orang lain, karena akan menjadi sombong. Atau sebaliknya, melihat orang lain lebih tinggi dari pribadi, sehingga yang ada kita menjadi minder dan tidak percaya diri.

Sikap terbaik yang dapat kita lakukan adalah meyakini bahwa kita semua adalah makhluk ciptaan Tuhan. Kita setara dalam penciptaan, meski berbeda dalam rupa penampilan. Sehingga etnis Korea tidak lebih baik dari ras Indonesia. Kulit orang Korea sama saja dengan kulit masyarakat Indonesia, hanya beda warna. Maka tidak perlu lagi memaksakan diri untuk serupa dengan orang Korea setelah menonton drakor—itu memalukan.

Cukup jadikan drakor sebagai pelajaran bagaimana menjalani percintaan dan persahabatan dalam kehidupan. Tetapi pada praktiknya, silakan ciptakan sendiri drama kehidupan Anda. Tentukan siapa sosok yang layak Anda cinta, mengarungi hidup bersama, hingga maut memisahkan semua dan berjumpa dalam surga-Nya. Wallahu a’lam bish showwab.[MFR]