Antara Cinta dan Kasta

Rikala hati tumben ngerasayang cinta//lege liang di hatine//sebet manis pait kerasayang rasa tulus tersnane pertama//Ngancan leket sayange ane rasayang//cara anak mekurenan ulian rage mebeda kasta//ajin adi takut nyingakin adi mecebur//beli sing menyet//kal pegatin tresnane//ngetelang yeh mata//ulian iraga nu pada tresna

——- Penggalan lagu “Mecebur” (Ari Kencana)

Penggalan kutipan di atas adalah sebuah lirik lagu berbahasa Bali dengan judul Mecebur yang dinyanyikan oleh Ari Kencana. Lagu ini mengisahkan sepasang kekasih, pastinya pemuda dan pemudi Bali, yang harus terpisah karena perbedaan kasta. Namun, hari ini saya tidak sedang membahas lagu berbahasa Bali, tetapi saya ingin menceritakan bagaimana sistem kasta di Bali. Mungkin bagi sebagian orang Indonesia, bahkan bagi orang Bali sendiri, begitu mendengar kasta akan terbayang adanya perbedaan kelas sosial.

Banyak teman-teman dari luar Bali membuat anekdot bahwa cinta beda kasta lebih susah daripada cinta beda agama. Hal ini mungkin terjadi karena minimnya pengetahuan tentang sistem kasta di Bali.

Pada awalnya, masyarakat Hindu Bali hanya mengenal warna sesuai dengan ajaran Weda. Warna adalah sistem pengelompokan masyarakat berdasarkan profesi yang ditekuni, bakat dan keahlian yang dikuasai. Kelompok brahmana merupakan kelompok masyarakat yang memiliki profesi yang bergerak di bidang religi. Kelompok ksatrya adalah kelompok masyarakat yang mempunyai posisi penting dalam pemerintahan dan politik tradisional di Bali. Mereka berprofesi sebagai abdi negara/kerajaan pada zaman dahulu. Kelompok ketiga adalah weysa. Kelompok ini biasanya adalah kelompok penggerak perekonomian, seperti pedagang maupun pengusaha. Kelompok yang keempat adalah sudra, kelompok ini menjadi kelompok mayoritas karena mereka adalah kelompok yang mengandalkan kekuatan fisik, seperti petani, dan lainnya.

Catur warna yang bagus ini, lambat laun mulai digeser penerapannya menjadi kasta yang substansinya sangat jauh berbeda dengan ajaran Weda. Jika warna dalam ajaran Weda adalah pengelompokan masyarakat berdasarkan profesi dan keahlian, kasta adalah pengelompokkan masyarakat berdasarkan garis keturunan. Artinya, mau berprofesi sebagai apa pun tak akan memengaruhi kastanya. Pergeseran ini menurut berbagai sumber dimulai saat datangnya penjajah ke Bali. Tentu tujuan pergeseran makna dari catur warna untuk memecah belah masyarakat Bali. Sayangnya, setelah kemerdekaan pun, pergeseran sistem warna menjadi kasta seolah dilanggengkan.

Menikah pada esensinya adalah pemertahanan eksistensi. Dengan menikah, masyarakat dapat melanggengkan keturunan atau trah dalam sebuah keluarga. Begitu juga dengan pernikahan umumnya masyarakat Bali. Keinginan untuk menjaga eksistensi kasta masih cukup besar. Orang tua biasanya berharap kelak anaknya mendapat jodoh dari kasta yang sama. Namun, seiring berkembangnya Bali, semakin luasnya pergaulan antarmasyarakat, lambat laun kepatuhan untuk menikah dengan pasangan dari kasta yang sama semakin terkikis. Banyak pemuda maupun pemudi Bali tidak terlalu gusar dengan perbedaan kasta. Namun, tak sedikit juga yang masih memertahankan kepatutan itu. Apa lagi di tengah arus sosial media yang semakin pesat, kasta bukanlah sesuatu yang diperdebatkan, tetapi bagi pemuda-pemudi bali dijadikan sebagai ajang pemerkuat adat yang kental dan budaya Bali.

Kembali ke topik percintaan, benarkah terlarang hukumnya jika menikah beda kasta? Apakah lebih sulit pacaran beda kasta daripada beda agama? Jawabannya Tidak. Tidak dalam artian bahwa tidak semua masyarakat sangat fanatik dengan perbedaan kasta. Masih banyak masayarakat Bali yang tidak mempermasalahkan perbedaan kasta itu. Bagi beberapa orang yang fanatik terhadap kasta, cinta antara dua insan akan terasa seperti berada di antara dua jurang. Sangat dalam dan sulit untuk diseberangi.

Masyarakat Bali sejak lama dikenal sebagai masyarakat yang menganut sistem patriarki. Patriarki adalah sebuah sistem sosial yang menempatkan laki-laki sebagai pemegang kekuasaan utama dan mendominasi dalam peran kepemimpinan politik, otoritas moral, hak sosial dan penguasaan properti. Dalam domain keluarga, sosok yang disebut ayah memiliki otoritas terhadap perempuan, anak-anak dan harta benda. Jadi untuk lelaki yang memiliki kasta tinggi tidak akan terlalu bingung mencari  pacar atau istri.

Namun, akan terjadi sedikit perbedaan jika seorang perempuan dari kasta brahmana atau kasta tinggi lainnya. Keluarga biasanya akan berharap jika sang anak mendapatkan jodoh yang sama kastanya. Ini sangat penting agar sang anak tidak melakukan proses pernikahan nyerod ‘meluncur’. Nyerod dalam istilah masyarakat Bali artinya kondisi perempuan turun kasta dan menjadi sederajat dengan suaminya. Jadi jika awalnya memiliki kasta tinggi, maka sang istri harus mengikuti kasta suaminya.

Jadi tak ada yang seram. Semuanya wajar. Walau masih ada beberapa kelompok yang sangat memegang teguh sistem itu, tetapi tidak banyak yang sapai mengorbankan cinta anak-anak mereka. Apa lagi di tengah modernisasi dan perkembangan zaman. Masyarakat Bali sangat memegang teguh ajaran karma. Bahwa setiap anak memiliki karma masing-masing yang harus dijalani di dunia. Kalau cinta dan sudah jodoh, segala perbedaan pasti akan bisa dilewati. Jangankan hanya perbedaan kasta, perbedaan agama, suku, atau pun ras pasti akan terlewati. Saya melihat sendiri banyak teman yang menikah beda kasta dan mereka bahagia saja. Walau mungkin pada awalnya sedikit ada pertentangan, tetapi berkat kekuatan cinta, halangan itu bisa dihadapi.[MFR]

Ummi, Imanku Dipatok Ular!

Bagi orang tua yang selama ini merasa sulit untuk mengajari anak-anaknya hapalan-hapalan surat pendek dan sebagainya itu, pasti merasa sangat terbantu. Dengan permainan Ular Tangga Anak Saleh ini si anak merasa bermain dan bukan sedang belajar, dan sang ibu juga senang, karena apa yang harapkan agar anak-anaknya bisa menghapal menjadi kenyataan.

—–Hajime Yudistira

Akhir-akhir ini ramai warganet membahas permainan ular tangga yang dimodifikasi menjadi Ular Tangga Anak Saleh sebagai metode untuk anak menghapal surat-surat pendek, doa-doa pendek dan hadis. Ada sebagian warganet yang mengatakan bahwa hal tersebut adalah hal yang baik dan kreatif, karena metode permainan ini membuat anak-anak senang bisa belajar sambil bermain. Akan tetapi, tidak sedikit pula warganet yang kontra dan mengatakan hal tersebut sangat tidak kreatif, karena bukan membuat metode baru, tapi meniru atau menjiplak permainan yang sudah ada.

Sebenarnya tidak ada masalah dengan permainan ular tangga, karena permainan itu bersifat umum. Permainan ini menjadi masalah dan banyak dibahas karena oleh sebagian warganet dikatakan menjiplak. Permainan ini memang hasil modifikasi sebagai metode yang dipakai agar anak lebih mudah menghapal dalam konteks pengajaran dalam agama Islam. Menjadi masalah, karena yang menanggapi hal tersebut bukan dari kalangan muslim dengan mengatakan permainan itu menjiplak, meniru, plagiat atau apalah sebutannya. Inti masalah sebenarnya adalah pendapat tersebut ke-bablas-an, atau off side dalam istilah sepak bola.

Saya jadi berpikir, kalau dikatakan menjiplak, berarti tentu ada pemilik karyanya. Karena kalau tidak ada pemiliknya tentu tidak bisa dikatakan menjiplak. Lagipula sesuatu itu bisa dikatakan menjiplak kalau diakui sebagai karyanya. Ini kan hanya memodifikasi permainan menjadi metode pembelajaran yang membantu banyak pihak.

Saya jadi penasaran, permainan ular tangga yang waktu kecil juga sering saya mainkan ini sebenarnya siapa yang menciptakan? Saya berusaha mencari sumber-sumber informasi dan hasilnya saya tidak bisa menemukan sebuah nama sebagai orang yang menciptakan permainan ini. Hasil yang saya temukan hanya mengatakan bahwa permainan ular tangga ini sudah dimainkan di India sejak abad ke-2 SM (dilansir dari brilio.net).

Permainan ini dikenal dengan sebutan Mokshapat, Moksha Patamu, Vaikuntapaali, atau Paramapada Sopanam yang memiliki makna “mendalam”. Sebenarnya, permainan ini mengajarkan tentang karma dan pentingnya melakukan perbuatan baik di atas perbuatan jahat. Tangga mewakili kebaikan dalam ajaran Hindu, seperti kemurahan hati, iman dan kerendahan hati. Sedangkan ular mewakili sifat-sifat buruk manusia, seperti nafsu, amarah, dan perbuatan-perbuatan tidak baik lainnya.

Permainan ular tangga yang dulu ada di India berupa papan yang menyimpan simbol-simbol keTuhanan seperti dewa dan malaikat. Selain itu, juga muncul simbol tanaman, hewan dan juga manusia. Pesan dari permainan ini adalah untuk mencapai nirwana atau surga, perlu melakukan perbuatan baik setahap demi setahap. Selama melakukan perbuatan baik, maka akan bertemu dengan ular-ular yang menggambarkan godaan untuk berbuat tidak baik yang akan mengantarkan kepada tingkatan kehidupan yang lebih rendah, bahkan kematian. Setiap kotak dalam papan permainan tersebut yang mewakili kehidupan dapat hancur karena hal-hal kecil sekalipun.

Permainan dari India ini dibawa ke Inggris sekitar akhir abad ke-18 dan diubah sesuai nilai-nilai Victoria saat itu. Dari Inggrislah permainan ini menyebar ke seluruh dunia dengan segala modifikasi sesuai kebutuhan yang membuatnya. Demikian pula yang terjadi di Indonesia, permainan ini dibuat sesuai dengan apa yang diinginkan oleh yang memodifikasinya. Demikian kiranya sejarah singkat dari permainan ular tangga tersebut.

Bagi orang tua yang selama ini merasa sulit untuk mengajari anak-anaknya hapalan-hapalan surat pendek dan sebagainya itu, pasti merasa sangat terbantu. Dengan permainan Ular Tangga Anak Saleh ini si anak merasa bermain dan bukan sedang belajar, dan sang ibu juga senang, karena apa yang harapkan agar anak-anaknya bisa menghapal menjadi kenyataan. Dalam Islam memang surat-surat pendek dan doa sehari-hari wajib dihapalkan untuk dipergunakan dalam salat dan beraktifitas sehari-hari.

Bagi si anak juga merupakan hal yang menyenangkan bisa menghapal sambil bermain. Saya pun berpendapat bahwa hal ini sangat baik, dalam arti ada sebuah metode untuk membantu anak dalam urusan menghapal ini. Apakah ini menjiplak? Saya tidak melihat ada yang salah dari hal ini. Memodifikasi sebuah permainan yang notabene juga tidak ada patennya untuk membuat hal baik dan berguna bagi orang lain. Kalau kita menjadi penjiplak karya orang lain yang memiliki paten, dan diakui sebagai karyanya, mungkin itu bisa dikatakan sebagai plagiator.

Bagaimana kalau saya membuat atau memodifikasi permainan, sebutlah misalnya permainan gasing –mainan terbuat dari kayu yang diberi pasak bagian bawahnya dan diputar dengan media tali—yang saya modifikasi dengan tujuan baik tertentu. Lalu hasil modifikasinya diikuti banyak orang karena dianggap berguna, apakah itu hal yang buruk atau saya dianggap penjiplak atau plagiat? Memangnya permainan gasing ada yang punya? Sudah tidak mungkin juga untuk melacaknya untuk mengetahui siapa penciptanya.

Lagi pula tidak ada relevansinya juga mengritik seperti itu, lihat sisi baiknya bahwa metode permainan Ular Tangga Anak Saleh yang “menjiplak” tersebut memberikan manfaat bagi banyak orang. Banyak orang tua terbantu, karena sekarang pelajaran menghapal bagi anaknya menjadi mudah dan menyenangkan.

Berpendapat itu boleh, tapi kalau dalam konteks keagamaan di ranah publik, berhati-hatilah dan jangan salah “masuk kamar” orang. Mari kita jaga keutuhan toleransi keberagamaan kita, salah satunya dengan apa yang disampaikan tadi, yaitu jangan ke-bablas-an dalam berpendapat yang bukan di ranahnya. Salam damai selalu…[MFR]

Sekolah dan Telur Ceplok

Buat saya, ibarat telur, jika sebuah telur dipecahkan oleh kekuatan dari dalam, maka lahirlah kehidupan baru. Begitulah fitrah kehidupan tercipta. Pendidikan pun harus membangkitkan fitrah anak; berproses sendiri, muncul kesadaran sendiri, mengenal diri mereka sendiri dan berjuang untuk menyelesaikan masalah dan meraih masa depan dengan usaha sendiri.

—- Emmy Kuswandari

Musim sekolah sudah dimulai. Orang tua mulai jungkir balik menyiapkan berbagai platform pembelajaran daring yang dilakukan oleh sekolah. Bagi kita yang akrab dengan pertemuan-pertemuan di dunia maya, tentu tak masalah. Klik sana sini lalu anak pun akan terhubung dengan ruang belajarnya. Bagaimana dengan orang tua yang gagap teknologi? Ya, sudah pasti nunak-nunuk dan pening. Belum lagi jaringan internet yang kembang kempis seperti dompet di tanggal tua.

Belajar daring ini sebetulnya menjawab kegalauan saya. Saya akan ada di baris pertama kelompok orang tua yang menolak kalau sekolah memutuskan belajar dilakukan secara fisik; anak dan guru harus datang ke sekolah. Pandemi belum usai. Orang yang terpapar Covid-19 makin menggila jumlahnya. Pernah mencapai 2.687 lonjakan positif dalam satu hari. Mengunci pintu rumah dan tak memberikan izin untuk aktivitas di luar kepada anak mungkin terdengar kejam, tetapi tak ada pilihan lain. Sudah lima bulan anak saya tinggal di rumah saja; belajar, olah raga dan terhubung daring dengan teman-temannya.

Saya tak rela melepas anak memasuki gerbang sekolah barunya untuk saat ini. Meski buat anak-anak remaja, ini kebahagiaan untuk jumpa dengan teman-teman barunya. Mereka sudah menunggu lama untuk bisa kenalan dan siapa tahu, musim cinta bisa mulai disemi saat ajaran baru ini. Saya tahu, itu mimpi mereka, anak-anak yang sebentar lagi memasuki angka keramat; 17 tahun.

Beruntung, sekolah memutuskan menggunakan pembelajaran jarak jauh. Bahkan bonusnya, pembelajaran daring ini dilakukan penuh satu semester ini. Jadi baru tahun depan, anak-anak ini akan jumpa teman sekolahnya secara nyata.

Saya mungkin tak direpotkan dengan urusan teknis mengenalkan platform belajar, jaringan internet atau sosial media. Anak saya sudah remaja, dia melakukan lebih baik dari saya. Jadi tugas saya cukup menyiapkan kuota internet yang memadai.

Saya termasuk orang tua yang woles untuk urusan belajar. Cukup pusing sekali saja; untuk mendapatkan sekolah yang menyenangkan untuk anak dan biarkan dia menikmati dunia barunya. Lingkungan yang menyenangkan ini penting. Dan kami melakukan survei bersama sebelum menjatuhkan pilihan. Tak perlu sekolah yang terkenal atau dengan fasilitas mewah. Anak saya bahkan gembira waktu datang ke sekolah sederhana di tengah sawah, lengkap dengan pematang dan saluran irigasinya. Jauh dari kesan mewah. Atau sekolah yang jauh dari riuh orang lalu lalang sekalipun di Parung sana. Selebihnya, saya membiarkan ia berproses sendiri.

Namun ada yang menarik di grup orang tua sebelum sekolah mulai. Sekali buka chat, sudah ada ribuan atau bahkan ratusan chat yang belum terbaca. Orang tua mengkhawatirkan ini dan itu. Apakah anaknya sudah bertemu dengan kelompoknya, apakah sudah membuat video perkenalan, anaknya masuk kelompok apa. Atau pertanyaan-pertanyaan yang sebetulnya sudah ada penjelasannya di pengumuman. Seheboh itu mereka. Bahkan orang tua ini masih membuat grup baru perwilayah anak-anak tinggal. Nah, yang ketika anak-anak dibagi dalam kelompok-kelompok kecil, orang tua pun ingin membuat grup baru lagi untuk dapat info terkini, di kelompok kecil tersebut.  Khawatir anak-anak tidak bisa mengikuti masa orientasi dengan baik, ragu anaknya bisa menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan, ingin membantu agar anaknya tak kesulitan merampungkan pekerjaannya.

Untung kami hanya berkumpul di WAG besar saja, tak memecah menjadi lebih kecil lagi. Bisa-bisa tak kerja hanya memenuhi keinginan menyediakan apa saja yang anak-anak butuhkan. Usia 15-16 tahun buat saya sudah remaja. Mereka punya dunia dan cara sendiri untuk menyelesaikan masalah yang ditemuinya.

“Buka pintu kamar anak pun tak boleh. Mereka tidak ingin kita tahu apa yang mereka lakukan. Malah disuruh masak saja,” ujar seorang ibu di grup.

Ternyata tak mudah menjadi orang tua dengan anak yang bergerak remaja. Mereka bukan lagi kanak-kanak yang perlu disiapkan segala sesuatunya. Rasa memiliki yang sangat besar membuat kita sebagai orang tua tak ingin anak-anak gagal atau kecewa. Anak-anak berubah, dan kadang kita tidak. Masih menganggap anak-anak ini kecil dan harus terus kita arahkan.

Buat saya, ibarat telur, jika sebuah telur dipecahkan oleh kekuatan dari dalam, maka lahirlah kehidupan baru. Begitulah fitrah kehidupan tercipta. Pendidikan pun harus membangkitkan fitrah anak; berproses sendiri, muncul kesadaran sendiri, mengenal diri mereka sendiri dan berjuang untuk menyelesaikan masalah dan meraih masa depan dengan usaha sendiri.

Saya belajar menahan diri untuk tidak bergegas menolong anak, membantu menyelesaikan tugas atau apapun yang anak perlukan hanya untuk memenuhi khawatir saya. Menahan diri dan diam itu tak mudah, tapi saya mencoba belajar. Menunggu proses itu lelah, tapi saya harus sabar. Sabar menanti dari telur lalu akan muncul kehidupan baru dalam diri anak saya. kalau mau instan, cukup pecahkan saja telurnya. Ceplok dan bumbuin, pasti enak. Tapi bukan itu tujuannya. Biarkan gairah belajarnya bangkit dan mudah-mudahan anak akan menjadi pembelajar seumur hidup. [MFR]

Pernikahan Beracun “Toxic Marriage”

Berdasarkan catatan tahunan Komisi Nasional (Komnas) Anti Kekerasan Terhadap Perempuan 2019, dari 13.568 kasus kekerasan yang tercatat, 9.637 kasus berada di ranah privat (71%). Jumlah ini meningkat dari tahun 2018. Dari jumlah tersebut, jumlah kekerasan dalam pacaran mencapai 2.073 kasus, dan jumah kekerasan terhadap istri mencapai 5.114 kasus.

——-Unair News, 26/12/2019

Belum lama ini saya bergabung dengan sebuah komunitas yang sangat eksklusif di Facebook, LIKE Indonesia –Lingkar Inspirasi Keluarga Edukatif. Komunitas ini digawangi oleh Michael Yamin, Ric Erica, dan Nana Padmosaputro serta beberapa orang yang peduli terhadap isu pendidikan, terutama pendidikan bagi anak-anak, yang merupakan generasi penerus berdirinya bangsa ini di masa yang akan datang. Cukup ketat screening yang dilakukan para admin di komunitas ini untuk bisa “mendarat” dan diterima dalam komunitas tersebut. Intinya, orang yang open minded dan mau belajarlah yang akan diterima di komunitas tersebut.

Saya masuk dalam komunitas ini melalui salah satu program yang mereka buat, yaitu CCC (Chit Chat & Chew), yaitu program edukasi berbasis daring melalui aplikasi Zoom. Topik yang diangkat pada acara CCC saat itu adalah toxic marriage (pernikahan beracun). Di sana saya mendengar beberapa narasumber yang menceritakan pengalaman hidupnya yang mengalami toxic marriage dengan pasangannya atau anak yang besar dari pasangan toxic marriage tersebut. Masalah-masalah yang diangkat tersebutlalu dibahas oleh pakar, yang pada acara tersebut adalah Ratih Ibrahim, seorang psikolog profesional.

Sebenarnya masalah toxic marriage ini adalah masalah yang banyak terjadi di sekitar kita. Hanya saja, soal ini biasanya tidak muncul ke permukaan, seperti fenomena gunung es. Hal ini terjadi karena orang yang mengalaminya malu, belum lagi jika dibenturkan dengan aspek agama atau budaya, sehingga kebanyakan orang memilih untuk berdamai dengan racun di biduk rumah tangga ini.

Hal ini sebenarnya akan meracuni atau memberikan dampak negatif terhadap siapapun yang mengalami toxic relationship. Racun tersebut bisa berupa perkataan, sikap, perlakuan kasar atau apapun juga. Dampak racun ini bisa membuat orang tidak produktif dan tidak bahagia dengan hidupnya, padahal setiap orang berhak untuk bahagia. Indikatornya untuk mengetahui apakah seseorang sedang berada dalam hubungan yang beracun atau tidak sebenarnya mudah saja; apakah Anda tidak merasa aman dan nyaman di dekat pasangan? apakah Anda merasa tertekan saat berinteraksi? apakah Anda merasa pasangan sangat keterlaluan dan terakhir, apakah Anda merasa pasangan itu menambah masalah dalam hidup?

Jika jawaban dari keempat pertanyaan tersebut semuanya iya, maka mungkin memang Anda sedang berada dalam hubungan yang beracun dengan pasangan Anda. Tapi pertanyaan tersebut harus Anda jawab dalam kondisi yang stabil dan tidak sedang emosional. Jadi harus dilihat secara komprehensif dalam jangka waktu yang cukup lama. Demikian dijelaskan oleh Ratih Ibrahim, seorang psikolog klinis yang merupakan CEO dari Personal Growth Indonesia –Organisasi yang menyediakan layanan psikologis profesional dengan spesialisasi dalam bidang konseling dan pengembangan sumber daya manusia, didirikan tahun 2003.

Kalau mau jujur, di Indonesia sebenarnya banyak sekali kasus toxic marriage yang berlanjut dengan toxic relationship, hasilnya membuat pasangan tidak bahagia dan tidak produktif. Berdasarkan catatan tahunan Komisi Nasional (Komnas) Anti Kekerasan Terhadap Perempuan 2019, dari 13.568 kasus kekerasan yang tercatat, 9.637 kasus berada di ranah privat (71%). Jumlah ini meningkat dari tahun 2018. Dari jumlah tersebut, jumlah kekerasan dalam pacaran mencapai 2.073 kasus, dan jumah kekerasan terhadap istri mencapai 5.114 kasus, dikutip dari “Waspada Toxic Relationship Semakin Meningkat Setiap Tahunnya” (Unair News, 26/12/2019.

Korban dari toxic relationship ini biasanya adalah wanita dan anak-anak. Dr. Primatia Yogi Wulandari, M.Si., psikolog Universitas Airlangga (UNAIR) menyebut hubungan ini paling berbahaya bila terjadi pada kalangan remaja atau pasangan yang menjadi orang tua dari anak-anaknya. Hal ini karena toxic relationship memiliki dampak yang bermacam-macam. Sebagian besar mungkin diawali dari dampak yang bersifat psikologis. Orang yang menjadi pihak yang dirugikan dalam toxic relationship dapat menjadi rendah diri dan pesimis.“Bahkan bisa saja ia membenci dirinya sendiri akibat perlakuan ataupun perkataan negatif yang diberikan teman atau pasangannya tentang dirinya,” ungkapnya.

Tidak banyak orang yang berani mengambil keputusan untuk mengakhiri toxic relationship. Kebanyakan malah menjadikan agama sebagai dasar untuk tidak mengakhiri hubungan yang beracun ini. Seperti dogma bahwa seorang istri harus mengabdi kepada suami atau bahwa segala yang sudah dipersatukan Tuhan tidak boleh dipisahkan oleh manusia, terkadang justru membuat kondisi korban semakin bertambah depresi. Tuhan menganugerahkan akal sehat kepada setiap manusia untuk dipergunakan dengan bijaksana.

Aspek budaya juga terkadang memberikan andil yang cukup besar untuk membuat seseorang tidak mengakhiri toxic relationship. Status janda masih dianggap sangat negatif dalam budaya umum kita di Indonesia. Padahal apa bedanya dengan duda? Itu hanya status saja. Tidak ada yang salah dengan janda ataupun duda. Kalau hubungan yang beracun itu memang sudah tidak bisa diperbaiki lagi, maka menyandang status janda jauh lebih baik ketimbang terus bertahan di toxic relationship. Yang harus dipikirkan untuk mengakhiri hubungan yang beracun ini bukan aspek agama atau budaya, tapi lebih pada kemandirian finansial. Itu yang harus dipikirkan dan dipertimbangkan masak-masak.

Jadi apa sebenarnya yang harus dilakukan kalau kita berada dalam hubungan yang beracun? Tentu sebagai langkah awal adalah mencoba untuk memperbaikinya dengan konseling pada pakar, tentunya. Kalau berhasil, bersyukurlah bahwa masih diberikan kesempatan untuk hidup bahagia. Lalu apa yang harus dilakukan kalau ternyata setelah melakukan serangkaian konseling ternyata hubungannya tidak bisa dilanjutkan lagi? Tentu di sini akal sehat yang dianugerahkan Tuhanlah yang harus dipergunakan. Jangan terjebak dalam doktrin agama ataupun doktrin budaya. Setiap orang berhak untuk hidup bahagia… maka berbahagialah…[MFR].

 

.

Mengakui Kesalahan Anak

sumber:https://www.dancow.co.id

Orang tua yang kerap menunjukkan perbedaan sikap di depan anak akan membuat anak kebingungan dan condong pada pihak yang membelanya, anak-anak menjadi tidak belajar dan mencari pembenaran dengan keberpihakan. Maka jangan salahkan jika kelak saat anak-anak sudah dewasa, mereka menjadi pribadi yang pengecut, memilih lari daripada menyelesaikan masalah yang mereka alami.

—-Nurul Intani

Masa kanak-kanak adalah periode emas untuk
anak melakukan eksplorasi. Di periode ini anak-anak mulai mengembangkan
kemampuan berbahasa, bersosialisasi, bertanggung jawab, dll. Maka wajar saja
jika di masa ini anak-anak melakukan trial and error. Meski begitu, hal
ini tidak menjadi pembenaran bahwa anak-anak harus dimaklumi dan dibiarkan saja
ketika melakukan kesalahan.  Berbuat
salah memang wajar dilakukan siapapun, termasuk anak-anak, tetapi sebagai orang
tua, kita tentu bisa memberikan penjelasan bahwa saat membuat kesalahan
hendaknya bertanggung jawab; bisa dengan meminta maaf atau melakukan
introspeksi agar tidak mengulangi kesalahan tersebut; bukan malah memaklumi dan
membela anak.

Anak-Anak Juga Boleh Salah

Tidak perlu membela mati-matian ketika anak melakukan
kesalahan, tidak perlu merasa ragu untuk mengatakan salah jika memang yang
dilakukan anak keliru, sebab reaksi yang ditunjukkan orang tua saat anak
melakukan kesalahan menjadi patokan anak dalam menentukan sikap. Misal saat
anak tidak sengaja merusak mainan temannya, tidak perlu malu untuk mengajari
anak agar meminta maaf, jangan justru menyalahkan orang lain karena
memperbolehkan meminjamkan mainannya. Fokus saja untuk menanamkan sikap
tanggung jawab bahwa ada konsekuensi yang harus ditanggung ketika kita
melakukan kesalahan, misal merusakkan mainan teman maka harus mengganti jangan
justru mencari kambing hitam dan acuh.

Anak-anak belajar bersikap dari apa yang
diajarkan orang tuanya. Anak-anak bukan makhluk sempurna yang tidak pernah
melakukan kesalahan, justru dari kesalahanlah mereka akan belajar. Terus
membela anak sama dengan membenarkan perilaku yang seharusnya dikoreksi,
padahal sikap membela yang berlebihan dapat merusak mental anak; anak menjadi
bebal dan acuh.

Kekeh membela anak dan membuat deretan pemakluman
saat mereka melakukan kesalahan justru akan membuat mereka merasa bebas
melakukan apapun tanpa tanggung jawab. Tidak ada orang tua yang tidak ingin
membela anaknya, tetapi membela saat anak melakukan kesalahan bukan hal yang
bisa dibenarkan. Meskipun sebagai orang tua kita ingin menjadi partner yang
baik bagi anak-anak dalam keadaan apapun, termasuk jika ada masalah, namun
Partner yang baik itu mengingatkan, bukan membenarkan apapun yang tidak
sepatutnya dilakukan.

Latih Mental Anak

Jiwa sportif tumbuh dari kesalahan yang disadari dan dipertanggungjawabkan, sedangkan mental pengecut muncul akibat kesalahan yang terus-terusan dimaklumi tanpa dibenahi. Tentu saja sebagai orang tua kita ingin memiliki anak yang memiliki pribadi terpuji, oleh sebab itu pembiasaan untuk meminta maaf, memaafkan bahkan berterima kasih untuk hal-hal yang terlihat remeh-temeh sangatlah penting.

Beberapa orang tua kadang abai dan menganggap bahwa hal-hal kecil; meminta maaf, berterima kasih adalah hal yang tidak terlalu penting dibiasakan. Padahal dari hal-hal kecil inilah anak-anak belajar membiasakan diri untuk bertanggung jawab dan menghargai orang lain. Tentu saja orang tua juga harus mencontohkan dengan melakukan hal yang sama, misal saat bermain bersama anak, tiba-tiba orang tua mendapat panggilan telpon untuk bekerja, maka jangan menyepelekan untuk meminta maaf pada anak dan memberikan pengertian agar mereka paham dan belajar memahami situasi.

Orang tua di sekitar anak tentu juga harus kompak, terutama ibu dan ayah, biasanya ayah cenderung longgar menetapkan peraturan, sedangkan ibu cenderung disiplin dalam mengingatkan anak ketika tidak bertanggung jawab. Hal ini menciptakan persepsi di benak anak yang berujung pada kecenderungan untuk menghindari kedisiplinan dan tanggung jawab yang diajarkan orang tua. Akibatnya, anak mencari tempat pembelaan dari orang yang seharusnya menegur kesalahannya. Orang tua yang kerap menunjukkan perbedaan sikap di depan anak akan membuat anak kebingungan dan condong pada pihak yang membelanya, anak-anak menjadi tidak belajar dan mencari pembenaran dengan keberpihakan. Maka jangan salahkan jika kelak saat anak-anak sudah dewasa, mereka menjadi pribadi yang pengecut, memilih lari daripada menyelesaikan masalah yang mereka alami.[MFR]

Ketika Anak Banyak Bertanya

Mari fasilitasi masa tumbuh kembang anak dengan cara yang menyenangkan. Luangkan sejenak waktu untuk mendengar pertanyaan dan cerita-cerita berharga mereka agar anak-anak menjadi pribadi yang gembira dan merasa kehadirannya diterima

—– Nurul Intani

Sebagai pribadi yang unik, anak-anak kadang melakukan hal-hal yang menggelitik. Tak jarang pula mereka melakukan sesuatu yang mengusik, seperti bertanya tanpa henti, termasuk melontarkan pertanyaan kejutan yang tidak kita ketahui atau tabukan jawabannya; dari mana adek bayi berasal, misalnya. Alih-alih memberikan jawaban yang tepat atau mengakui jika tidak tahu jawabannya, beberapa orang tua justru memarahi, membentak bahkan berkata kasar kepada anak-anaknya karena dianggap cerewet, lalu meminta mereka diam. Padahal banyak bertanya adalah cara anak-anak untuk mengungkapkan rasa ingin tahunya yang besar; dan ini juga mengasah cara mereka berkomunikasi dengan orang tuanya. 

Memahami Perkembangan Anak

Anak-anak usia 2-4 tahun umumnya mengalami masa pembentukan kognitif. Mereka cenderung bertanya tentang apa dan kenapa. Apapun yang mereka lihat akan menjadi bahan pertanyaan yang kadang sudah dijawab tapi tetap ditanyakan lagi. Seringkali,  pertanyaan anak tidak membutuhkan jawaban atau penjelasan, sebab melalui pertanyaan, anak berusaha untuk melakukan kompromi sambil berharap ada perubahan jawaban yang diberikan orang tua; makan es krim memang bikin batuk, kalau makan es krimnya sedikit bagaimana?   

Sebuah penelitian tentang tumbuh kembang anak di Inggris pada 2013 menunjukkan bahwa seorang anak bisa mengajukan hingga 300 pertanyaan ke orang tuanya per hari. Dan ini adalah pertanda baik. Maka jangan emosional jika anak Anda banyak bertanya, itu tanda perkembangan anak Anda sangat baik. Mendengar pertanyaan anak memang terasa menggemaskan namun jika terlontar saat situasi tidak mengenakkan, maka bisa jadi menjengkelkan.   

Tugas orang tua adalah mengatur cara berkomunikasi dengan anak tanpa perlu jaim untuk mengakui ketika tidak tahu jawaban atas pertanyaan anak. Tidak perlu segan untuk meminta maaf pada anak atas keterbatasan yang kita miliki, sebab meminta maaf pada anak tidak akan mengurangi rasa hormat mereka pada orang tua.

Kecenderungan untuk khilaf dengan tindakan dan perkataan kasar karena merasa lelah dan bosan dengan sikap anak terkadang memang tak terelakkan, padahal tak jarang hal itu justru berakhir dengan penyesalan. Sebab kekerasan yang kita lakukan pada anak menyisakan trauma psikologis yang merusak karakter anak. Karenanya, temani anak-anak ketika mereka tumbuh, tentu dengan memahami bahwa dunia anak tak sama dengan dunia kita, para orang tua.

Kecenderungan Menjadi Toxic Parents

Toxic parents, sebagaimana dijelaskan dalam Tempo, “Tanpa Disadari Anda Bisa Jadi Toxic Parents” adalah orang tua yang tidak menghormati dan memperlakukan anaknya dengan baik sebagai individu. Mereka cenderung melakukan berbagai kekerasan pada anak, baik verbal maupun nonverbal, yang dapat membuat kondisi fisik maupun psikologis anak terganggu.

Toxic parents juga enggan berkompromi dan meminta maaf pada anaknya. Mereka cenderung otoriter dan mementingkan asas kepatuhan dengan mengesampingan sikap kritis anak. Hal ini seringkali dilakukan oleh orang tua yang memiliki gangguan mental atau memiliki trauma di masa kecil akibat pengasuhan yang buruk. Mereka melukai anaknya dengan cara yang sama seperti yang dialaminya dulu, bisa karena keterbatasan figur pengasuhan atau kurangnya pengetahuan.

Orang tua toxic kerap berdalih apa yang dilakukannya semata-mata karena kasih sayang, tetapi pola asuh yang toxic tetap saja tak baik untuk dilakukan. Pola ini terus saja diulang sehingga membuat anak yang awalnya kritis menjadi takut untuk bertanya dan akhirnya tumbuh menjadi anak yang minder. Anak yang harusnya terfasilitasi saat ada di fase ingin tahu malah jadi menutup diri karena merasa keingintahuannya dibatasi dan dianggap sebagai perbuatan yang mengganggu. Anak yang harusnya pemberani dan periang justru menjadi pemalu dan introver.

Mari fasilitasi masa tumbuh kembang anak dengan cara yang menyenangkan. Luangkan sejenak waktu untuk mendengar pertanyaan dan cerita-cerita berharga mereka agar anak-anak menjadi pribadi yang gembira dan merasa kehadirannya diterima.[MFR]