Malleability of Fate and Pandemic

Fate is both malleable and not. We cannot change the past and we do not know what will come in the future but, we should not leave our life to fate before putting our best effort and there are stuffs that we would not know.

—- Vindo. P

We have heard many people lament over their inability to perform a certain act or skill and claim that they are not fated to be successful in that aspect. Some may claim that they are not lucky enough to achieve those feats. Others may groan it off as not having the opportunities to achieve it. There are many debates whether pure talents beat hard work and vice versa. Have people ever consider how much effort poured by those who have talents and those who have not? Do some people think about predetermined destinies? Do people believe in the concept of ‘making your own destiny’? Is everything that has happened and will happen have been set in stone? Or, is everything that has happened and will happen is the result of our actions? Regardless, many people believe in the concept of Fate. However, can you really call these phenomena “fate”?

There are two answers for this, “yes” and “no”. In consideration of my current affiliation, I will integrate it with qada and qadar, which mean ‘decree’ and ‘fate or predestination’. Both qada and qadar are tied with each other because qadar (predestination) happens due to qada (decree) of God. Despite the meaning, it does not mean human has no force to decide their fate. In fact, you should and ought to make effort to drive your life into the direction you want it. There is always a room for improvement even if the result is different from your initial expectation.

 In accordance with the previous statements, we can conclude that we can change, we can raise up against any anxiety of inability to perform well on certain skill, and we can turn the table of our current condition, as god will change our course of life if we make effort to do that. If you think you do not have the talent, you can put more effort in it. Of course, it is harder but it is not impossible. If you are not lucky, you can make your own luck by planning with your wits and courage. If you have no opportunities you can always try another way using your perception and analysis. It is all about making and taking action. Even if you fail, you have to continue. In the end, you will not reach your destination of you stopped walking and making effort to reach it. Things that we, as a human, would not know are something like the end of the world, our exact date of death, or which talents we were born with, etc.

In short, fate is both malleable and not. We cannot change the past and we do not know what will come in the future but, we should not leave our life to fate before putting our best effort and there are stuffs that we would not know. God encourages his believers to not lose hope and keep on trying, learning, and adapt to changes that happened and will happen.

So, how is it related to our current problem (Covid-19 Pandemic)? Everything that is happened might be a trial, a punishment, a reflection of our action or anything but, regardless of the cause, we should deal with it. Humanity has faced such problem since the ancient times. It is not the first time humanity faced a worldwide pandemic.

Let us look on some other pandemic in the past such as the flu pandemic in 1889 – 1890, the bubonic plague in 1855 – 1960, and the swine flu in 2009 – 2010. It is true that these pandemic has taken many victims but despite the differences in medical knowledge and technology humanity managed to find the cause of it whether by virus, bite of an infected rat, etc.  The symptoms of the disease include cough, nasal congestion and runny nose (for influenza), vomiting, swollen lymph nodes, and headaches (for bubonic disease), etc.  The ways to cure it could be through vaccine, antibody, and immune system and implanting protocol or specialized procedure to control the infection. Collective efforts of prevention are highly important to fight against the virus.

When this article is being written, humanity has found the cause of Covid-19, the transmission, the prevention and common health protocol. The vaccine is being researched and tested. The very least we can do about this is by following the protocol. I understand how stuffy a masker can be. I know how boring it is to be limited on where you can go. I share your frustration for not being able to meet your friends.

Nevertheless, please understand that these changes are for our own good. We should follow the health protocol and abide the law; at least it will minimize the damage and the spread of virus. After all, we have to make a collective effort on its prevention. We have talked about the relation of fate and making action, and we look back a bit about some worldwide pandemic. Even the slightest of action may affect the spread. Let us just hope this perilous time cease. [MFR]

Pandemi dan Fajar Iman-Nalar

Allah SWT membekali manusia dengan akal supaya bisa berpikir. Maka menyikapi pandemi ini, iman harus disertai dengan nalar akal sebagai bentuk ikhtiarnya.

Indra Latief Syaepu

Benturan agama dan sains, yang kembali menyeruak di masa pandemi, sebetulnya pernah terjadi pada masa Abbasiyah, ketika paham okasionalisme berbenturan dengan kausalitas.  Al-Ghazâlî berhasil menyatukan dua faham ini dengan cara menarik jalan tengah, sebagaimana terungkap dalam sejarah filsafat Islam. Jika kita menerapkan pandangan Al-Ghazâlî tersebut ke dalam situasi pandemi sekarang, masyarakat bisa mengambil sisi positifnya. Menjaga kesehatan dan kebersihan bukan hanya sebagian dari iman, tetapi wujud awal peradaban.

Memang saat ini, Covid-19 memaksa semua orang untuk memperbaharui cara hidup, bahkan dalam cara yang ekstrim. Secara tidak langsung, problem ini memberi kita pelajaran. Kehidupan zaman yang serba modern dengan teknologi maju mengharuskan kita meninjau ulang pemahaman kita terhadap ajaran agama di tengah pandemi: kejumudankah yang terjadi atau sebaliknya?

Sains ialah satu tanda bahwa pemikiran manusia telah mengalami perubahan. Pada dasarnya perkembangan sains bertujuan untuk memperbaiki kualitas hidup manusia. Akan tetapi sains—dan  juga agama—ternyata sama-sama punya kelemahan. Dalam beberapa teori filsafat muncul ragam pernyataan mengenai hubungan sains dan agama: A) tidak bertentangan; B) saling bertentangan; C) bertentangan tapi bisa hidup berdampingan; D) saling mendukung. Jika kita mengamati fenomena sosial yang terjadi di masyarakat selama pandemi, teorema ini terwakili dalam cara pandang masyarakat, sesuai dengan ideologi mereka.

Kelompok fatalistik secara tidak langsung beranggapan bahwa kebenaran sains tak bisa dipercaya, bahwa keputusan pemerintah, melalui intruksi Badan Kesehatan Dunia—dinilai bertentangan dengan ajaran agama. Bagi mereka, Covid-19 merupakan ujian untuk meningkatkan keimanan dengan cara meramaikan masjid dengan salah berjamaah, pengajian, dan majlis taklim lainnya, bukan malah dibatasi atau ditutup. Bisa dibilang, kelompok seperti ini mewakili idiologi filsafat atau pola pikir okasionalisme, yaitu faham yang meyakini bahwa Tuhan, bukan makhluk, adalah sebab di balik sebuah kejadian (Yuana, 2010: 158).

Kubu lain menganggap ‘sains bertentangan, tapi bisa berdampingan’. Contoh kasusnya adalah saat kebenaran sains tidak terbantahkan dan kita masih memegang teguh keimanan, maka kita menerima kedua kebenaran keduanya (sains dan agama). Kelompok ini bisa dikatakan golongan Ghazâlian: tidak terlalu rasional tapi juga tidak terlalu fatalistik. Kelompok terakhir adalah mereka yang terlalu percaya pada sains tanpa memerhatikan agama; mereka bisa dikategorikan sebagai masyarakat sekular atau postivistik.

Hampir seluruh agama, terutama Islam, memerintahkan umatnya untuk selalu menjaga kebersihan dan kesehatan. Selama pandemi Covid-19, umat Islam setidaknya bisa mengambil dua hikmah terkait seruan ibadah di rumah. Pertama, penutupan tempat ibadah seharusnya bukan menjadi penghalang umat Islam untuk beribadah dan meningkatkan keimanan. Justru dengan beribadah di rumah, secara tidak langsung kita telah menjadikan rumah kita seperti rumah Allah. Tentunya umat Islam sudah akrab sekali dengan istilah bayjannatî ‘rumahku, surgaku’. Maka kita yakin bahwa situasi pandemi bisa jadi ajang untuk membentengi rumah dari gangguan jin dan syetan. Bacaan al-Qur’an di rumah akan menjadikan rumah sejuk, harum dan dapat mengusir mahluk ghaib yang membawa anasir-anasir negatif terhadap keluarga. Inilah mengapa muslim diperintahkan untuk selalu menghiasi rumah dengan salat. ‘Jadikanlah bagian dari salat kalian di rumah kalian, jangan jadikan rumah kalian seperti kuburan’ (HR Bukhari, No. 432; HR Muslim, No 1817). Maka dalam konteks pandemi, makhluk gaib ini bisa juga dipahami virus tak kasat yang membawa petaka bagi manusia (Covid-19).   

Kedua, beribadah di rumah paling tidak akan mengurangi risiko penularan Covid-19. Secara tidak langsung kita sedang melaksanakan perintah agama untuk memelihara kesehatan badan. Islam sangat menganjurkan umatnya untuk selalu menjaga kesehatan badan guna meningkatkan imunitas. Dalam keadaan tertentu, Islam juga memberi kelonggaran, keringanan (toleransi), termasuk beribadah di rumah dan tidak rapatnya barisan salat selama pandemi dan Kenormalan Baru. Seperti sudah maklum, kita sedang memasuki masa Kenormalan Baru New normal; pemerintah telah membuka beberapa tempat, tak terkecuali masjid, yang semula ditutup tapi dengan syarat menerapkan aturan dan protokol kesehatan yang baru. Tidak dirapatkannya shaf salat bukan berarti fadilah berjamaah akan hilang (baca fikih), terlebih dalam situasi pandemi seperti ini, tentunya ada toleransi.

Seperti dikatakan di awal, ada beberapa ulama atau filsuf pada masa Abbasiyah yang mengadopsi sudut pandang peripatetik yang mengedepankan kemampuan akal dalam penalaran. Hasil nyata dari filsafat ini adalah ilmu pengetahuan yang bersifat empiris (sains). Para filsuf dulu beranggapan bahwa dengan ilmu pengetahuan, kehidupan manusia akan lebih baik. Maka dari itu penulis tegaskan, iman saja tidak cukup untuk menghadapi pandemi ini, tetapi penalaran akal juga diperlukan karena pada dasarnya, Islam juga memuliakan akal.

Tidak dimungkiri bahwa ketika akal mampu memproduksi sains, maka ia bak menjadi duri dalam daging bagi agama dan kepercayaan yang sudah lama mapan. Oleh karena itu, manusia perlu untuk selalu mengambil hikmah positif dalam menyikapi pandemi. Akal dan keimanan harus diimbangi untuk memperbaiki kualitas hidup yang lebih baik. Di era digitalisasi ini, ilmu pengetahuan dan teknologi ialah sarana untuk memenuhi kebutuhan dan mengatasi permasalahan yang ada. Seperti ditegaskan dalam al-Qur’an, Allah SWT membekali manusia dengan akal supaya bisa berpikir. Maka menyikapi pandemi ini, iman harus disertai dengan nalar akal sebagai bentuk ikhtiarnya. [MFR]

Memaknai Halalbihalal kala Pandemi

Besok pagi, kaum muslim di Indonesia dan di mana saja akan merayakan Idulfitri (lebaran) setelah menjalankan puasa selama satu bulan. Hari ini dijuluki juga sebagai ‘hari kemenangan’, melambangkan bentuk syukur atas kesempatan melaksanakan rukun Islam keempat, yaitu puasa di bulan Ramadan.

Idulfitri di Indonesia biasanya disambut dengan gegap gempita dan dirayakan dengan beragam tradisi. Sebagai negara yang majemuk, terutama budaya dan suku-nya, Indonesia menpertontonkan banyak ragam kebiasaan orang muslim memeringati hari suci ini. Tradisi yang tak pernah absen dalam perayaan Idulfitri adalah pawai obor keliling kampung sembari mengumandangkan takbir, lomba kirab mengalunkan kalimah-kalimah Allah, dan masih banyak lagi tradisi yang lain. Tradisi inilah yang membuat Idulfitri di Indonesia terasa lebih meriah dibanding di negara lain.

Puncak pergelaran tradisi menyambut Idulfitri di Indonesia terjadi pada 1 Syawal. Setelah salat Idulfitri, umat muslim biasanya melaksanakan halalbihalal, yaitu tradisi berkunjung (atau saling mengunjungi) antar kerabat, mulai orang tua, saudara, tetangga, dan handai taulan. Halalbihalal (atau istilahnya yang lebih keren, open house) adalah tradisi turun temurun dan hanya bisa dijumpai di Indonesia. Di negara lain, biasanya tidak ada kegiatan lain setelah salat selesai digelar. Beberapa kolega yang berada di negara lain mengatakan setelah salat Idulfitri di masjid atau di lapangan, mereka kembali ke rutinitas seperti biasa, tidak ada tradisi datang ke tetangga.

Bagi sebagian masyarakat di Indonesia, halalbihalal berarti sungkem kepada para leluhur; mereka akan mengunjungi makam leluhur yang sudah meninggal dan memanjatkan doa di sana. Jika leluhur mereka masih hidup, mereka akan berkumpul untuk saling bermaaf-maafan. Mereka keluar rumah dan berkeliling untuk meminta sekaligus memberi maaf kepada para tetangga, baik yang beda agama, suku, maupun budaya. Semua melebur menjadi satu.

Sekilas halalbihalal terlihat simple karena soal berkunjung-kunjungan. Tetapi ia sebenarnya mengandung makna yang penuh arti dan beragam. Salah satu maknanya adalah interaksi sosial. Setiap interaksi pasti melibatkan simbol, yakni segala nilai atau makna yang diberikan oleh si pemiliki ataupun si penikmat simbol. Jadi halal bihalal bukan sekadar Anda berkunjung dan dikunjungi, tapi ia adalah interaksi penuh makna antara Anda dengan orang lain.

Menurut Herbert Blumer, proses interaksi sosial adalah ketika masyarakat bertindak terhadap sesuatu atas dasar makna yang dimiliki. Dari mana makna ini berasal? Ya, dari interaksi antara Anda dengan orang lain dalam keseharian; ketika bertemu, bertetangga, cangkruan, pengajian, dan lain sebagainya. Makna halalbihalal bagi umat muslim telah terbentuk lama hasil dari proses internalisasi di dalam masyarakat. Maka tidak heran halalbihalal bisa menjadi ajang rekonsiliasi bagi pihak-pihak yang sedang bertikai dengan cara saling memaafkan.

Pendapat lain dikemukakan oleh Bernard Adeney-Risakotta dalam “Modernitas, Agama, dan Budaya Nenek Moyang” (2004). Halalbihalal merupakan tradisi yang ada di agama Islam dan memang sudah ada sejak zaman Kerajaan Mataram; nenek moyang kita sudah melakukan tradisi tersebut meski dengan istilah lain. Simbol-simbol modernitas juga terdapat dalam tradisi halalbihalal, yaitu dalam bentuk aksi kongkrit, bukan ide atau gagasan. Simbol modernitas tersebut dalam bentuk pasar (market) yang mengakomodasi kebutuhan bahkan memengaruhi bentuk halal bihalal.

Tetapi halalbihalal tahun 2020 M/1441 H nampaknya bakal berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Pandemi Covid-19 yang terjadi sekarang ini tidak bisa dipungkiri berpengaruh terhadap semua lini kehidupan, termasuk keberagamaan. Virus ini sudah “mengubah” wajah keberagamaan kaum muslim, apalagi pada bulan Ramadan dan Syawal tahun ini. Rutinitas tahunan selama bulan Ramadan untuk sementara waktu ditiadakan atau disesuaikan dengan protokol kesehatan selama pandemi; tarawih dianjurkan tidak lagi di musala atau masjid, tapi di rumah; jika terpaksa diadakan, pelaksanaannya harus dalam jaga jarak dan bermasker; tadarus juga dibatasi waktu, dan komprekan dihimbau ditiadakan. Agenda mudik tahunan untuk sementara dilarang; halalbihalal tidak dianjurkan.

Pun demikian, “anomali” yang terjadi di atas tidak menghilangkan esensi ibadah. Ritual keagamaan tetap semarak meski dalam balutan baru: kebanyakan berasa online!. Ini menegaskan bahwa keberagaman pasti akan menemukan caranya sendiri untuk bertahan di tengah situasi apapun karena, bagi banyak orang, ia adalah kebutuhan paling dasar manusia. Maka tidak heran ulama dan umara berpikir keras menemukan solusi terbaik dalam keberagamaan di masa pandemi ini. Cara terbaik adalah mengikuti anjuran pemerintah demi menghindari penularan virus. Ulama sekaliber Quraish Shihab sampai mengatakan bahwa pelanggaran terhadap ketentuan pemerintah yang tidak bertentangan dengan agama adalah suatu dosa.

Akhirnya, selamat menyambut dan menyongsong Idulfitri 1 Syawal 1441 H, Minal ‘Aidin wal Faizin; mari kita meraih kemenangan dalam ibadah perang lawan Covid-19. [MFR]

Fatalisme Agama dan Takdir Tuhan


Fatalisme di tengah pandemi bisa berakibat fatal terhadap kelangsungan hidup manusia dan ini sangat bertentangan dengan ajaran Islam.

Pro dan kontra terjadi di kalangan masyarakat, baik awam maupun tokoh agama, dalam menyikapi pandemi Covid-19. Dalam artikel terdahulu di laman ini, mahasiswa SAA menyoroti masih banyak dikalangan masyarakat bawah yang menganut prinsip fatalisme (jabariyyah). Sedangkan di sisi lain banyak ulama cenderung mentaati anjuran pemerintah dan ilmuwan untuk mencegah penularan virus dengan cara sosial distancing. Beredarnya lirik lagu “Corona ditakuti Allah dijauhi” adalah salah satu bukti perbedaan ekspresi dalam menyikapi kada ‘qadha’ dan kadar ‘qadar’ selama pandemi Covid-19.

Berbeda dari tulisan sebelumnya, penulis di sini akan mengulas kada dan kadar lebih dari sisi teologis dalam kaitannya dengan takdir dan kebebasan manusia. Sebelum melanjutkan, penulis akan flashback sedikit terkait turunya Islam dan Alquran. Secara sosial historis, Islam dan Alquran diturankan oleh Allah Swt. secara berangsur-angsur ‘tajrîd sesuai dengan kondisi kehidupan yang dihadapi Nabi dan umatnya pada waktu itu. Ini berarti bahwa Alquran yang diturunkan oleh Allah Swt. merupakan cermin “kreatif-progesif” antara kehendak ilahi dan realitas duniawi. Kondisi ini menegaskan bahwa Islam haruslah berkembang, beradaptasi, dan menyesuaikan diri dengan zaman, peradaban, dan kondisi sosial masyarakat setempat tanpa harus menghilangakan nilai-nilai subtantifnya.

Di Era Milenial 2020, umat beragama khususnya Islam sedang diuji dengan kemunculan thaûn ‘wabah’ Covid-19. Perdebatan kemudian muncul di kalangan ulama, umara, dan Muslim awam tentang bagaimana menyikapi wabah ini dalam kaitan dengan ketetapan kada dan kadar dari Allah Swt.

Pada masa klasik, keyakinan terhadap kada dan kadar menjadi pendorong keberanian dan kesabaran dalam menghadapi segala bentuk ujian dan musibah. Maka dari itu, perdebatan mengenai Tuhan, sifat Tuhan, surga, neraka menjadi mengemuka dengan sangat sengit. Kada dan kadar juga menjadi salah satu bahan diskusi yang panjang, yang mengerucut pada dua kelompok utama: qadariyyah versus jabariyyah.

Pengaruh jabariyah ‘fatalisme’ meyebar sangat cepat sekali terutama pada masa Dinasti Abbasiyah yang kebetulan didominasi oleh kaum sufi (tasawuf) yang lebih condong pada faham ini. Mereka bersikukuh bahawa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini adalah kehendak Allah Swt. Konsekuensi dari faham ini juga menular pada aspek agama yang lain, yaitu sejauh mana manusia bisa melakukan ijtihad. Walhasil, kondisi Islam pada waktu itu bisa dibilang ‘jumud’ karena fatwa yang mengatakan bahwa ijtihad telah ditutup. Akibatnya, banyak orang beralih pada dunia tasawuf. Ciri khas dari seorang sufi adalah kepasrahan karena semuanya sudah kehendak Allah Swt.

Kita semua setuju bahwa Covid-19 ini adalah takdir dari Allah Swt. Tetapi takdir ini adalah jenis takdir yang bisa diubah oleh manusia melalui ikhtiar. Allah Swt. tidak akan merubah nasib manusia kecuali manusia tersebut mau merubahnya. Fatalisme di tengah pandemi bisa berakibat fatal terhadap kelangsungan hidup manusia dan ini sangat bertentangan dengan ajaran Islam.

Ironisnya, paham fatalisme ini sampai sekarang masih berkembang pesata, tak terkecuali di kalangan kaum milenial. Padahal manusia adalah mahluk Allah Swt. yang diberi akal untuk berpikir dan kebebasan untuk memilih dalam bertindak. Manusia diberi tiga keistimewaan oleh Allah Swt.:  akal, kemauan dan daya; tiga unsur inilah yang membedakan manusia dari mahluk lainnya. Namun perlu ditegaskan bahwa, kata Muhammad Abduh, kebebasan berpikir dan berbuat tidaklah absolut tapi terbatas. Artinya, manusia boleh melakukan perbuatan dengan daya dan kemampuan (ikhtiar) yang ada tetapi keputusan tetap berada pada takdir kadar Allah Swt. Dengan demikian, sosial distancing, ibadah atau bekerja di rumah merupakan ikhtiar untuk lepas dari takdir buruk (memutus rantai Covid-19) dan mencari takdir yang lebih baik.

Umat Islam harus mau berpikir secara filsofis dan ilmiah bahwa Islam, sains, dan ilmu kesehatan tidaklah bertentangan. Egoisme dalam beragama harus dihindari karena Islam sama sekali tidak menentang aktivitas rasional atau saintifik. Perkataan ibn Sina, misalnya, bahwa ‘Allah Swt. tidak menurunkan penyakit melainkan dengan obatnya,’ harus dipahami dalam konteks ini; obat sebuah penyakit harus ditemukan melalui pendekatan ilmiah.

Langkah-langkah ilmiah dalam menghadapi pandemi ini juga sudah sesuai dengan kaidah fikih ‘al-muhâfadat ’alâ qadîmi al-shâlih wa al-akhd  bi al-jadîd al-ashlah ‘memelihara tradisi lama sembari menyesuaikan dengan tradisi baru yang lebih baik’. Sosial distancing merupakan tradisi baru di era milenial yang perlu diambil di masa pandemi. Keputusan pemerintah untuk melakukan sosial distancing merupakan sebuah ijtihad kolektif antara umara, ulama, dan ilmuwan untuk mewujudkan kemaslahatan umat, bukan menjauhkan umat dari Tuhan.

Ibadah komunal (jamaah di masjid) memang merupakan kemaslahatan untuk umat Islam. Tetapi di tengah pandemi kemaslahatan ini ternyata dapat menimbulkan kemudaratan karena bisa memicu penularan yang lebih masif. Sesuai dengan kaidah fikih “jika ada beberapa kemaslahatan bertabrakan, maka maslahat yang lebih besar harus di dahulukan,” maka larangan salat jamaah di masjid bisa dibenarkan secara doktrin keagamaan. Ibadah dan bekerja di rumah, jaga jarak fisik, dan larangan mudik juga adalah keputusan yang paling tepat. Setiap kebijakan biasanya akan menimbulkan permasalahan baru, seperti problem ekonomi. Maka di sinilah agama mewajibkan kita mau mengulurkan tangan untuk saling berbagi dan bertolong-tolongan. [MFR]

Merengkuh-Mu walau Dunia Terbalik

Dulu, syaitan dibelenggu saat bulan Ramadan, tapi kini manusia yang terkurung di dunia yang semakin menua ini.

Dunia sedang tidak baik-baik saja; Bulan Suci tak lagi putih bersih berseri. Dulu, syaitan dibelenggu saat bulan Ramadan, tapi kini manusia yang terkurung di dunia yang semakin menua ini. Dulu, banyak alasan keluar dari mulut ketika disuruh salat, kini dilarang malah berontak ingin ke masjid. Tak salat Jumat dibilang murtad, kini salat Jumat dibubarkan; dunia ini mulai terbalik dari kenyataan.

Bukan lagi iman yang harus diperkuat, tapi imun yang diperketat. silaturahmi penting untuk sambung rasa persaudaraan, karena tamu membawa berkat, tapi kini dianggap membawa mudarat; akses masuk ke kampung halaman diblokade; kini bukan lagi kebahagiaan tapi penderitaan yang tersampaikan. Jabat tangan sudah menjadi tradisi, kini harus angkat tangan sebagai tanda penolakan. Bukan lagi sedekah senyum, kini sedang sedekah masker.

Meski surat keputusan telah ditetapkan, ia bukan penghalang bagi kaum beriman untuk terus menjalankan amalan, seperti iktikaf dan membaca Alquran. Saya masih ingat diskusi saya bersama Kakak Tafsili, Founder of Millennial Motivator; membaca Alquran itu bisa dengan empat tahap: pertama, sebagai awal kita belajar ‘merangkak’ ‘how to read; membaca Alquran tanpa memahami, tapi insya Allah kita bakal dapat pahala. Kedua, kita belajar ‘berjalan’ ‘how to learn’; naik pada level mendalami makna, arti, tafsir, dan takwilnya. Ketiga, saatnya kita ‘berlari’ menuju ‘how to understand; menghayati Alquran dan memetik pelajaran dalam kehidupan. Terakhir, kita tiba di puncak memu-kasyafah-kan; memahami tabir-tabir rahasia dalam Alquran.

Sejauh perjalanan singgah di dunia, kita patu bertanya, ‘sudah sampai level manakah kita?’ Sungguh hati tersayat tatkala suara bising menggantikan suara merdu muratal. Syair pujangga bersemarak menyuarakan patah hati akibat beban pengkhianatan diri, bukan meratapi dosa-dosa dan merindu kepada Baginda Nabi. Jadi, jangan salahkan Allah Swt. jika Murka-Nya telah datang menghampiri. Kita seharusnya sadar diri kesalahan apa hingga kita menanggung beban seperti ini.

Jangan surutkan nyala api yang membara semangat dalam mempelajari Firman-Nya; inilah bukti bahwa Allah Swt. masih memerhatikan kita dengan wabah yang diberi. Kita patut bersyukur masih bisa menemui malam Nuzûlul al-Qur’ân, sebagaimana dalam QS. al- Baqarah: 2 (185): “Bulan Ramadan, bulan yang didalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan bathil.”  

Jika Dia memang kejam, tak mungkin kita diberi kesempatan dan kenikmatan dalam situasi pandemi Covid-19 yang masih berlangsung dan membuat kita bergejolak ini. Hak beraktivitas dibatasi melalui edaran-edaran pemerintah; rasa terkekang dan was-was sedang mengancam; mau bagaimana lagi, apakah kita mau berontak sementara korban terus berjatuhan.

Kanal pemberitaan banyak berisi sambatan ‘keluhan’, terutama krisis keuangan yang siap mendera. Negara yang dari dulu banyak tersiar kabar kelaparan, kini tambah meronta di tengah situasi yang mencekik. ‘Semua berantakan!,’; lambat laun, sadar tak sadar, kita akan menjadi korban ataupun pelaku yang hendak memanfaatkan situasi untuk kepentingan diri, naudzubillah. Sadarlah wahai insan, janji Allah Swt. tak pernah didustai karena bukan mereka yang kau puja setiap hari tanpa pasti tuk menghampiri.

Rezeki ibarat air laut yang pasang setiap hari; ia menyapu seluruh daratan yang ada di sekitarnya. Kita sering merasa kurang terima dan menuduh Allah Swt. tak adil dalam membagi, ‘hamba macam apa kita ini?. Memang benar, kita sedang berada pada fase terendah yang menipiskan dan melunturkan harapan dan cita-cita. Memang benar, gaji kita sedang di-lockdown, tapi yakinlah wahai orang yang bertakwa bahwa rezeki tak akan ada hentinya datang dari Sang Maha Pemberi. Q.S. Ar-Ra’d: 13 (26) berbunyi: “Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan membatasi (bagi siapa yang Dia kehendaki). Mereka bergembira dengan kehidupan dunia, padahal kehidupan dunia hanyalah kesenangan (yang sedikit) dibanding kehidupan akhirat.”

Apakah kita terlalu lelah dan sibuk mengejar rezeki dunia, seperti harta, jodoh, tahta, jabatan, hingga kita lupa siapa pemilik dan pemberi rezeki itu semua? Jika memang sudah tersadar, kini saatnya kau bersujud sebagai ganti kursi kebesaran yang setiap hari kau sandari; kini saatnya kau merendah untuk bersimpuh dan memohon ampun atas semua dosa maksiat yang kau agungkan. Jangan segan, adukan, dan luapkan semua keluh kesahmu pada-Nya.

Perihal rezeki yang tidak adil, kita bisa melihat kembali dosa mana yang belum kita tebus, dosa mana yang masih kita jalankan hingga pintu rezeki kita menjadi sempit dan tertunda. Sadarlah wahai insan, jangan ada tuduh-menuduh kesalahan. Kita belajar intropeksi diri dengan dosa yang acap kali kita perbuat setiap hari, jam, menit, bahkan detik. Yakinlah bahwa Allah Swt. Maha Mengetahui dan Maha Penerima Taubat. [MFR]

Pandemi dan Ujian Sentralitas Kyai

Fakta di lapangan hingga kini menunjukkan masih banyak pelanggaran protokol kesehatan oleh masyarakat, terlebih di daerah basis islam tradisional. Maka, muncul pertanyaan lagi, apakah peran kyai sekarang sudah semakin berkurang, atau sudah ada pergeseran nilai di tengah masyarakat mengenai kepatuhan kepada kyai?

Sudah sekitar dua bulan media disesaki berita mengenai pandemi covid-19. Pemberitaan yang seolah enggan hengkang menunjukkan bahwa pandemi yang mendera hampir seluruh dunia ini merupakan momok menakutkan yang harus dilawan bersama secara kolektif oleh seluruh masyarakat tanpa terkecuali.

Yuval Noah Harari dalam sebuah artikel berjudul “The World After Coronavirus” menjelaskan jika satu-satunya cara yang  efektif dalam menangani malapetaka covid-19 adalah dengan membentuk sebuah solidaritas global yang berlandaskan kepercayaan kepada hasil penelitian-penilitian sains.

Hasil-hasil dari temuan para saintis kemudian disosialisasikan kepada seluruh masyarakat sebagai aktivitas mitigasi pencegahan yang bersifat preventif. Virus yang disebarkan lewat droplet yang keluar dari mulut dan hidung manusia ditangkal dengan himbauan memakai masker, rajin mencuci tangan, mengindari keramaian ‘social distancing’ dan melakukan pembatasan fisik ‘physical distancing’.

Himbauan di atas terus diulang-ulang dengan harapan bahwa masyarakat bisa tertib dan membuat persebaran virus menjadi melambat sehingga kurva temuan kasus positif lekas landai dan berangsur-angsur berkurang. Sayangnya, himbauan yang terus didengungkan tidak serta merta membuat masyarakat menjadi patuh menjalankan protokol kesehatan yang diterapkan. Alasan-alasan seperti masker hilang, lupa dibawa, dan sebagainya terus saja dilayangkan oleh sebagian masyarakat sebagai legitimasi pembenaran akan keteledoran yang dilakukan.

Presiden Jokowi dalam video yang dirilis oleh Sekretariat Presiden, 7 Mei 2020 mengumumkan bahwa masih banyak laporan aktivitas berkerumun atau berkumpul oleh warga di perkampungan-perkampungan. Sebuah berita yang sungguh ironi mengingat himbauan mengenai bahaya Covid-19 juga telah disosialisasikanoleh para lurah dan kepala desa.

Masyarakat perkampungan (muslim) masih didominasi oleh kaum tradisional yang cenderung bercorak jabariyah, ekslusif, dan kurang tertarik kepada ilmu pengetahuan (Robby, 2017). Kondisi demikian menuntut tidak hanya komunikasi dari pemimpin formal saja, yakni pemerintah, tapi juga andil dari pemimpin non-formal seperti kyai yang dianggap sebagai sesepuh dan pemegang otoritas pengetahuan di tengah masyarakat.

Hirokoshi (1987) dalam bukunya Kyai dan Perubahan Sosial menunjukkan bahwa kyai memiliki kekuatan sebagai sumber perubahan sosial di tengah masyarakat. Terma “kyai” sendiri dimaknai oleh Nurcholis Madjid (1997) sebagai “yang di-tua-kan”. Kyai  dipandang memiliki keilmuan mendalam di bidang agama, kesaktian (karamah), kesakralan dan kharisma. Wajar apabila kyai mendapat tempat terhormat di tengah masyarakat serta sering jadi rujukan atas segala permasalahan yang ada.

Kelebihan yang dimiliki kyai membuat masyarakat memandang kyai sebagai pemimpin non-formal yang layak untuk diikuti dalam peran pengambilan keputusan selain pemimpin formal seperti pemerintah. Corak kepemimpinan non-formal yang bersifat sentralistik pada masyarakat sudah terjadi turun-temurun dan telah menjadi budaya yang lumrah sehingga banyak dijumpai di perkampungan-perkampungan. Bahkan, saking sentralnya kepemimpinan kyai ditengah masyarakat, muncul ungkapan “santri nderek kyai sampek mati “santri ikut kyai hingga meninggal” yang dianut juga oleh masyarakat umum (non-santri).

Kehadiran masyarakat islam tradisonal yang sentralistik memberi peran ganda pada kyai; pertama, peran sebagai tokoh agama dan, kedua, peran sebagai kontrolir atas masyarakat yang dipimpinnya. Fungsi kontrolir inilah yang membawa masyarakat kepada perubahan-perubahan sosial. Kyai dapat diibaratkan sebagai nakhoda dari bahtera yang berpenumpangkan masyarakat di dalamnya.

Perilaku dan ucapan kyai telah menjelma sebagai fatwa yang mengikat sebagian besar masyarakat islam tradisonal di perkampungan. Sosoknya setara dengan pemimpin formal seperti kepala desa, camat, bupati, bahkan presiden. Peran sentral yang diemban kyai tentu adalah beban berat yang disandangkan sebagai warisan kearifan lokal.

Geertz (1960) menyebut kyai juga sebagai makelar budaya (cultural brokers) yang menjalankan fungsinya sebagai penyaring informasi. Informasi dari manapun di filter oleh kyai agar masyarakat yang dipimpinnya mendapatkan informasi yang sesuai dan informasi yang diberikan dapat diterima dengan baik oleh masyarakat.

Nahdlatul Ulama (NU) sebagai ormas keagamaan terbesar berbasis “Islam Tradisional” telah menempatkan pondasi pengetahuan akan bahaya covid-19 dan menghimbau untuk menaati protokol kesehatan yang berlaku. Surat yang berisi himbauan untuk menjalankan ibadah Ramadan dan salat idulfitri di rumah tersebut disampaikan langsung oleh ketua tanfidziyah PBNU, Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj, MA pada tanggal 4 April 2020 kepada seluruh jajaran mulai dari PWNU hingga Ranting NU.

Namun, fakta di lapangan hingga kini menunjukkan masih banyak pelanggaran protokol kesehatan oleh masyarakat, terlebih di daerah basis islam tradisional. Maka, muncul pertanyaan lagi, apakah peran kyai sekarang sudah semakin berkurang, atau sudah ada pergeseran nilai di tengah masyarakat mengenai kepatuhan kepada kyai? Wallahua’lam Bisshowab![MFR]

Orientasi Beragama di Tengah Pandemi dan Tantangan Bagi Studi Agama

Sumber Gambar: https://www.i24news.tv

“Terlepas dari berbagai kritik terhadap teori Allport tentang kematangan beragama dan dua macam orientasi beragama ekstrinsik dan intrinsik, tampaknya menarik jika para pegiat Studi Agama-Agama melakukan riset untuk mencari jawaban tentang kematangan dan orientasi beragama selama pandemi. “

Dr. Ahmad Muttaqin

Konsep orientasi beragama secara ekstrinsik dan instrinsik pertama kali dikemukakan oleh Gordon William Allport (1897–1967). Allport dilahirkan di Indiana, alumni Harvard University, pernah menjadi ketua jurusan Psikologi di Harvard dan presiden American Psychological Association pada 1939. Sepanjang kariernya, Allport mengkaji persoalan-persoalan kepribadian dan sosial, telah menelurkan berbagai teori tentang prasangka, kecurigaan, komunal, serta mengembangkan beragam tes kepribadian.

Dalam psikologi agama, Allport terkenal dengan teori Mature and Immature Religion. Pandangan Allport terhadap agama lebih positif dibandingkan para psikolog agama semacam Sigmund Freud dan William James. Seolah ingin mengkritik pandangan para psikoanalis tentang agama yang cenderung melihat agama secara negatif, dalam kata pengantar bukunya, The Individual and His Religion (1950), Allport menyatakan: “…I am seeking to trace the full course of religious development in the normally mature and productive personality. I am dealing with the psychology, not with the psychopathology of religion.” (hlm. viii). Dalam catatan Malony (1971), ada tiga kontribusi besar Allport dalam kajian psikologi agama: (1) perkembangan psikologi keagamaan pada individu; (2) pendefinisian kedewasaan beragama; dan (3) pengukuran dimensi keagamaan.

Di dalam The Individual and His Religion, Allport menguraikan perbedaan antara mature religion dan immature religion. Secara sederhana, keberagamaan yang matang/dewasa (mature religiosity) diantaranya dicirikan oleh sikap terbuka dan dinamis. Sedangkan keberagamaan yang “mentah”/tidak dewasa (immature religiosity) adalah keberagamaan yang kekanak-kanakan, salah satunya dicirikan oleh sikap mementingkan diri sendiri.

Dari kajian kematangan beragama ini Allport bersama koleganya, J. Michael Ross, pada tahun 1967 mengembangkan teori orientasi beragama yang diklasifikasikan menjadi intrinsik (I) dan ekstrinsik (E), melalui alat ukur tes skala orientasi keberagamaan. Penelitian Allport dan Ross ini dilakukan dalam rangka merespon temuan berbagai riset pada masa itu yang umumnya, secara simplistis, menyimpulkan ada korelasi positif antara agama dan prasangka rasial.

Allport dan koleganya mencoba mengklarifikasi bahwa yang berkorelasi positif dengan prasangka adalah mereka yang memiliki orientasi ekstrinsik dalam beragama, atau orang yang beragama secara instrumental dan utilitarian. Cara beragama semacam ini menjadikan agama hanya sebagai sarana untuk memenuhi tujuan tertentu, baik personal maupun sosial. Dalam kalimat Allport (1959), keberagamaan ekstrinsik:


“Religion is not the master-motive in the life. It plays an instrumental role only. It serves and rationalizes assorted forms of self-interest. In such a life, the full creed and teaching of religion are not adopted. The person does not serve his religion; it is sub-ordinated to serve him. The master-motive is always self-interest.”

Orientasi beragama ekstrinsik ditemukan pada orang yang menggunakan agama untuk memenuhi kebutuhan personal seperti memeroleh rasa aman, kenyamanan, dan perasaan “marem”, juga kebutuhan sosial seperti mendapatkan teman, dukungan masyarakat, status sosial, dll. Orientasi beragama semacam ini, menurut Allport, adalah bentuk dari beragama yang belum matang (immature religiosity).

Penelitian Allport dan Ross mengkonfirmasi bahwa orang dengan orientasi beragama intrinsik cenderung tidak memiliki sikap prasangka rasial. Orang yang memiliki orientasi beragama intrinsik (orientasi nilai, substantif) menjadikan agama sebagai jalan dan orientasi hidup. Orientasi beragama intrinsik merupakan bentuk beragama yang tulus, dihayati, tanpa pamrih dan matang (mature religiosity). Allport menjelaskan keberagamaan intrinsik: “…floods the whole life with motivation and meaning. It is no longer limited to single segments of self-interest. And only in such a widened religious sentiment does the teaching of brotherhood take root.”

Dalam risetnya, Alport menemukan empat macam kombinasi orientasi beragama: (1) Pure Intrinsic [intrinsik murni]; (2) Indiscriminately proreligious [pro-agama tanpa pandang bulu], (3) Nonreligious atau Indiscriminately antireligious [non-religius atau anti agama tanpa pandang bulu]; dan (4) Pure extrinsic [ekstrinsik murni]. Temuan Alport dan Ross menunjukkan bahwa kelompok (2) dan (4) memiliki prasangka rasial. Menariknya, yang paling tingggi prasangka rasialnya adalah kelompok 2. Kelompok 2 ini mengaku dalam beragama mereka menemukan dua hal sekaligus, seperti makna hidup (I) dan pengakuan sosial (E). Bila ukuran religiousitas itu dilihat dari frekuensi kehadiran di rumah ibadah (dalam penelitian Allport frekuensi kedatangan ke gereja), maka diperoleh data dalam bentuk kurva gunung yang menunjukkan bahwa prasangka rasial dimiliki oleh jamaah tipe “hit-and-miss” attenders (kadang datang kadang tidak, dalam istilah Jawa dhat-nyeng). Sedangkan jamaah yang konsisten selalu rajin datang ke rumah ibadah dan yang tidak pernah hadir sama sekali prasangka rasianya rendah. 

Lebih lanjut, Allport menjelaskan secara ringkas perbedaan orientasi beragama ekstrinsik dan intrinsik dalam uraian berikut:


Immature religion, whether in adult or child, is largely concerned with magical thinking, self-justification, and creature comfort. Thus it betrays its sustaining motives still to be the drives and desires of the body. By contrast, mature religion is less of a servant, and more of a master, in the economy of life. No longer goaded and steered exclusively by impulse, fears, and wishes, it tends rather to control and direct these motives toward a goal that is no longer determined by mere self-interest (1950, p. 63).

Dalam tradisi Sufi, keberagaamaan intrinsik, tulus, autentik dan tanpa pamrih tercermin dalam ungkapan Robiah Al-Adawiyah: “Wahai Tuhanku, jika aku menyembah-Mu karena takut kepada neraka-Mu, maka bakarlah aku dengannya. Jika aku menyembah-Mu karena mengharapkan surga-Mu, maka keluarkanlah aku darinya. Tetapi sekiranya aku menyembah-Mu semata-mata karena cintaku kepada-Mu, maka janganlah Engkau menutup keindahan wajah-Mu yang abadi dari pandanganku.”

***

Pada Ramadan hari ke-5 yang lalu, saya memeroleh pesan dari salah satu pengurus takmir musala perumahan yang meneruskan usulan dari salah satu jamaah yang bunyinya: “Bapak…, kalau (di Musala Perumahan) diadakan tarawih (berjamaah) dengan mengikuti prosedural kesehatan boleh enggak ya…?” Di atas pesan tersebut ada gambar hasil tracking yang menunjukkan bahwa perumahan kami berada di wilayah zona hijau.

Terhadap pertanyaan tersebut, saya jawab: “Maaf Bapak, saya kira masih beresiko, apalagi tren pasien Covid-19 masih naik dan sudah ada transmisi lokal di provinsi kita. Jadi, kita ikuti himbauan pemerintah, MUI dan alim ulama dari ormas-ormas Islam saja. Untuk sementara beribadah di rumah dulu. Desa/kelurahan kita mungkin berada di zona hijau, namun kita tidak bisa memastikan mobilitas warga selalu berada di zona hijau.”

Di beberapa grup WA yang saya ikuti, ada yang mengeluhkan bahwa ibadah Ramadan tahun ini terasa kurang marem sebab masjid tempat biasanya berjamaah ditutup. Pada grup WA yang lain ada yang dengan bangganya memamerkan kegiatan Ramadan 1441 H di masjid tempat ia tinggal masih normal seperti biasa mulai dari salatlima waktu, buka puasa, kajian, hingga tarawih, sambil menyebut bahwa mati dan sakit itu takdir Tuhan. Menariknya, mereka yang sering memamerkan tempat ibadahnya masih berjalan normal di masa pandemik ini juga gemar mengirimkan berita-berita tentang Covid-19 dari perspektif teori konspirasi.

***

Tulisan ini tidak akan mengulas masih aktifnya peribadatan di rumah ibadah sebagai bentuk perlawanan narasi mainstream tentang bahaya wabah Covid-19, namun mencoba mencermati masih tingginya hasrat beribadah bersama-sama (berjamaah) di tempat ibadah dari kacamata kematangan dan orientasi beragama versi Allport di atas.

Terlepas dari berbagai kritik terhadap teori Allport tentang kematangan beragama dan dua macam orientasi beragama ekstrinsik dan intrinsik, tampaknya menarik jika para pegiat Studi Agama-Agama saat ini melakukan riset untuk mencari jawaban tentang, misalnya, apakah yang saat ini masih kuat hasrat beribadahnya secara komunal cenderung memiliki orientasi beragama yang ekstrinsik (merasa lebih marem ibadahnya, menginginkan suasana gayeng, bangga bila jamaahnya banyak dan semarak dengan showoff di rumah ibadah)? Apakah umat beragama yang bisa menerima seruan untuk beribadah di rumah di tengah Pandemi Covid-19 ini adalah meraka yang orientasi beragamanya instrinsik? Apakah bisa dikatakan mereka yang menerima dengan ikhlas seruan tinggal dan beribadah di rumah di masa pandemik ini lebih matang keberagamaannya dibandingkan dengan mereka yang masih kuat hasrat beribadah jamaah di rumah ibadah?

Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas tidak bisa diperoleh hanya dengan asumsi dan dugaan. Diperlukan riset yang serius. Semoga ada pegiat Studi Agama-Agama yang tertarik melakukannya di waktu yang tepat saat ini.

Kartini dan Cahaya Toleransi Agama di Masa Pandemi

Fathimatuz Zahra*

Sumber Gambar: https://www.cnbcindonesia.

Pada peringatan hari istimewanya, Kartini menjadi sosok yang menginspirasi banyak peran yang sangat penting dalam penanganan wabah covid 19 ini. Kartini-Kartini medis, Kartini-Kartini pendidikan, serta Kartini-Kartini lain dalam berbagai peran baik domestik maupun karier, semuanya adalah cerminan perjuangan Kartini bagi emansipasi perempuan.

Dalam pandemi ini, menurut data Serikat Pekerja Farmasi dan Kesehatan Reformasi tercatat 32 dokter dan 12 perawat wafat positif covid 19 per 12 April 2020. Perawat, kedua belas korban perawat serta sejumlah dokter adalah perempuan, kartini-kartini medis masa kini. Di sisi lain, kartini-kartini pendidikan baik para guru, orang tua pun melaksanakan tugas utamanya dengan Belajar Dari Rumah. Kedua peran ini, sama-sama pentingnya dalam keadaan masa kini.

Dalam surat-suratnya dengan Nyonya Abendanon dan enam sahabat pena lainnya dari Belanda, Kartini menunjukkan cara toleransi keagamaan yang sangat luar biasa. Beliau berteman dengan para putri-putri Belanda, tanpa mempermasalahkan latar belakang keyakinan dan agamanya.  Kartini menggunakan kesempatan dengan sahabat-sahabatnya ini agar membantu menghilangkan feodalisme pendidikan pada masa penjajahan.

Beliau salah seorang perempuan Indonesia yang berfikiran maju dan memperjuangkan seluruh perempuan pribumi. Beliau bukan hanya seorang nasionalis namun juga seseorang yang mendasarkan langkah hidupnya pada semangat keagaamaan. Beliau belajar keagamaan dengan Kyai Sholeh Darat. Kartini bertemu dengan Kyai Sholeh Darat hingga dihadiahi sebuah kitab pegon, atas permintaan dan kegelisahan Kartini terhadap pelarangan menerjemahkan Al-Qur’an dalam bahasa Jawa (Amirul Ulum, 2016). Jadi Kartini seorang nasionalis-religius.

Berdasarkan dua hal tersebut, Kartini tetap memegang teguh keyakinan agamanya bahkan memperjuangkan dengan cara yang sangat santun. Kartini menjaga toleransi keagamaan dengan sahabat-sahabat penanya. Beliau menceritakan peristiwa spiritual yang dialaminya setelah belajar QS. Al-Fatihah pada Kyai Sholeh Darat melalui bahasa sastra yang sangat istimewa.

Dalam memperingati hari lahir Kartini tahun ini, seluruh dunia sedang mengalami pandemi: wabah Covid-19. Semangat Kartini jelas juga terpancar dalam penanganan wabah ini. Apabila di masa itu, Kartini tidak memperjuangkan hak-hak pendidikan perempuan, bisakah terlahir ribuan paramedis perempuan? Kehadiran mereka sangat dibutuhkan dalam penanganan wabah ini. Bahkan sepersekian diantaranya telah menjadi martir ketika berada di garda depan perang lawan Covid-19.

Pandemi ini berada dalam situasi sama ketika Kartini memperjuangkan emansipasi Perempuan. Menurut Steven Taylor (2019), pandemi memunculkan situasi ketidakpastian. Begitu pula dengan Kartini masa itu, beliau mengalami situasi ketidakpastian dikarenakan feodalisme pendidikan pada masa penjajahan. Namun, Kartini mencontohkan beliau bisa mengubah kondisi ini bermanfaat bagi agama, sesama perempuan, bangsa dan negaranya.

Salah satu buah perjuangan Kartini di masa kini bisa dilihat dari tampilnya para pendidik perempuan dalam berbagai rupa profesi baik dalam ranah domestik maupun publik, seperti guru, mubaligah, ataupun pendeta perempuan. Di masa pandemi ini, semua  pihak merasakan peran yang dilakukan oleh seluruh pendidik. Salah satu di antaranya dengan proses Belajar di Rumah, yang saat ini ditayangkan oleh TVRI.

Selama Belajar Dari Rumah, kita juga dihadapkan pada problem toleransi keagamaan. Masih segar dalam ingatan salah satu tayangan keagamaan di TVRI sempat memicu kontroversi. Pada tayangan Belajar dari Rumah terdapat jeda mimbar agama Katolik yang dianggap mengusik isu toleransi beragama. Berbagai pihak mengkhawatirkan penjagaan keimanan putra putrinya apabila melihat tayangan yang berbeda dengan keyakinannya. TVRI mengambil keputusan mengubah jam tayang acara mimbar agama.

Berbagai interpretasi dan pendapat pun muncul, layak atau tidakkah? Bagaimana dengan keimanan masing-masing anak didik, demikian kekhawatiran sebagian orang tua. Dalam keadaan seperti ini, kita perlu mengingat Kartini, karena dalam emansipasi beliau bersemayam juga semangat toleransi di tengah situasi yang sama-sama tak menentu.

Lalu, selesaikah problema toleransi keagamaan ini apabila setiap muncul perbedaan dengan keyakinan yang kita pegang, meminta untuk menghormati satu ajaran saja? Bagaimanakah mengajarkan materi toleransi keberagamaan pada putra putri dan lingkungan kita? Merujuk pada Paul Knitter (2002) toleransi yakni proses saling memahami antar agama satu dengan yang lain. Proses ini perlu diajarkan sejak dini, bahwa kehidupan beragama di Indonesia ini beragam.

Mengkhidmati perjuangan Kartini dalam masa pandemi sangat diperlukan. Apabila Kartini tak memegang teguh nilai-nilai toleransi, tak dapat terbayangkan bagaimana perempuan yang berprofesi sebagai tenaga medis, guru, dan berbagai profesi lain. Haruskah kita mempertanyakan keyakinan? Kartini memberikan tauladan pada kita beliau mengajarkan toleransi, bahkan dalam situasi yang lebih sulit dari pandemi yang terjadi kini. Beliau mewarnai, namun juga tidak terwarnai. Kartini tidak hanya mengajarkan emansipasi, beliau mencontohkan resiliensi dalam segala situasi. [MFR]

Fathimatuz Zahra adalah Penulis Buku dan Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Pati