Mengakui Kesalahan Anak

sumber:https://www.dancow.co.id

Orang tua yang kerap menunjukkan perbedaan sikap di depan anak akan membuat anak kebingungan dan condong pada pihak yang membelanya, anak-anak menjadi tidak belajar dan mencari pembenaran dengan keberpihakan. Maka jangan salahkan jika kelak saat anak-anak sudah dewasa, mereka menjadi pribadi yang pengecut, memilih lari daripada menyelesaikan masalah yang mereka alami.

—-Nurul Intani

Masa kanak-kanak adalah periode emas untuk
anak melakukan eksplorasi. Di periode ini anak-anak mulai mengembangkan
kemampuan berbahasa, bersosialisasi, bertanggung jawab, dll. Maka wajar saja
jika di masa ini anak-anak melakukan trial and error. Meski begitu, hal
ini tidak menjadi pembenaran bahwa anak-anak harus dimaklumi dan dibiarkan saja
ketika melakukan kesalahan.  Berbuat
salah memang wajar dilakukan siapapun, termasuk anak-anak, tetapi sebagai orang
tua, kita tentu bisa memberikan penjelasan bahwa saat membuat kesalahan
hendaknya bertanggung jawab; bisa dengan meminta maaf atau melakukan
introspeksi agar tidak mengulangi kesalahan tersebut; bukan malah memaklumi dan
membela anak.

Anak-Anak Juga Boleh Salah

Tidak perlu membela mati-matian ketika anak melakukan
kesalahan, tidak perlu merasa ragu untuk mengatakan salah jika memang yang
dilakukan anak keliru, sebab reaksi yang ditunjukkan orang tua saat anak
melakukan kesalahan menjadi patokan anak dalam menentukan sikap. Misal saat
anak tidak sengaja merusak mainan temannya, tidak perlu malu untuk mengajari
anak agar meminta maaf, jangan justru menyalahkan orang lain karena
memperbolehkan meminjamkan mainannya. Fokus saja untuk menanamkan sikap
tanggung jawab bahwa ada konsekuensi yang harus ditanggung ketika kita
melakukan kesalahan, misal merusakkan mainan teman maka harus mengganti jangan
justru mencari kambing hitam dan acuh.

Anak-anak belajar bersikap dari apa yang
diajarkan orang tuanya. Anak-anak bukan makhluk sempurna yang tidak pernah
melakukan kesalahan, justru dari kesalahanlah mereka akan belajar. Terus
membela anak sama dengan membenarkan perilaku yang seharusnya dikoreksi,
padahal sikap membela yang berlebihan dapat merusak mental anak; anak menjadi
bebal dan acuh.

Kekeh membela anak dan membuat deretan pemakluman
saat mereka melakukan kesalahan justru akan membuat mereka merasa bebas
melakukan apapun tanpa tanggung jawab. Tidak ada orang tua yang tidak ingin
membela anaknya, tetapi membela saat anak melakukan kesalahan bukan hal yang
bisa dibenarkan. Meskipun sebagai orang tua kita ingin menjadi partner yang
baik bagi anak-anak dalam keadaan apapun, termasuk jika ada masalah, namun
Partner yang baik itu mengingatkan, bukan membenarkan apapun yang tidak
sepatutnya dilakukan.

Latih Mental Anak

Jiwa sportif tumbuh dari kesalahan yang disadari dan dipertanggungjawabkan, sedangkan mental pengecut muncul akibat kesalahan yang terus-terusan dimaklumi tanpa dibenahi. Tentu saja sebagai orang tua kita ingin memiliki anak yang memiliki pribadi terpuji, oleh sebab itu pembiasaan untuk meminta maaf, memaafkan bahkan berterima kasih untuk hal-hal yang terlihat remeh-temeh sangatlah penting.

Beberapa orang tua kadang abai dan menganggap bahwa hal-hal kecil; meminta maaf, berterima kasih adalah hal yang tidak terlalu penting dibiasakan. Padahal dari hal-hal kecil inilah anak-anak belajar membiasakan diri untuk bertanggung jawab dan menghargai orang lain. Tentu saja orang tua juga harus mencontohkan dengan melakukan hal yang sama, misal saat bermain bersama anak, tiba-tiba orang tua mendapat panggilan telpon untuk bekerja, maka jangan menyepelekan untuk meminta maaf pada anak dan memberikan pengertian agar mereka paham dan belajar memahami situasi.

Orang tua di sekitar anak tentu juga harus kompak, terutama ibu dan ayah, biasanya ayah cenderung longgar menetapkan peraturan, sedangkan ibu cenderung disiplin dalam mengingatkan anak ketika tidak bertanggung jawab. Hal ini menciptakan persepsi di benak anak yang berujung pada kecenderungan untuk menghindari kedisiplinan dan tanggung jawab yang diajarkan orang tua. Akibatnya, anak mencari tempat pembelaan dari orang yang seharusnya menegur kesalahannya. Orang tua yang kerap menunjukkan perbedaan sikap di depan anak akan membuat anak kebingungan dan condong pada pihak yang membelanya, anak-anak menjadi tidak belajar dan mencari pembenaran dengan keberpihakan. Maka jangan salahkan jika kelak saat anak-anak sudah dewasa, mereka menjadi pribadi yang pengecut, memilih lari daripada menyelesaikan masalah yang mereka alami.[MFR]

Ketika Anak Banyak Bertanya

Mari fasilitasi masa tumbuh kembang anak dengan cara yang menyenangkan. Luangkan sejenak waktu untuk mendengar pertanyaan dan cerita-cerita berharga mereka agar anak-anak menjadi pribadi yang gembira dan merasa kehadirannya diterima

—– Nurul Intani

Sebagai pribadi yang unik, anak-anak kadang melakukan hal-hal yang menggelitik. Tak jarang pula mereka melakukan sesuatu yang mengusik, seperti bertanya tanpa henti, termasuk melontarkan pertanyaan kejutan yang tidak kita ketahui atau tabukan jawabannya; dari mana adek bayi berasal, misalnya. Alih-alih memberikan jawaban yang tepat atau mengakui jika tidak tahu jawabannya, beberapa orang tua justru memarahi, membentak bahkan berkata kasar kepada anak-anaknya karena dianggap cerewet, lalu meminta mereka diam. Padahal banyak bertanya adalah cara anak-anak untuk mengungkapkan rasa ingin tahunya yang besar; dan ini juga mengasah cara mereka berkomunikasi dengan orang tuanya. 

Memahami Perkembangan Anak

Anak-anak usia 2-4 tahun umumnya mengalami masa pembentukan kognitif. Mereka cenderung bertanya tentang apa dan kenapa. Apapun yang mereka lihat akan menjadi bahan pertanyaan yang kadang sudah dijawab tapi tetap ditanyakan lagi. Seringkali,  pertanyaan anak tidak membutuhkan jawaban atau penjelasan, sebab melalui pertanyaan, anak berusaha untuk melakukan kompromi sambil berharap ada perubahan jawaban yang diberikan orang tua; makan es krim memang bikin batuk, kalau makan es krimnya sedikit bagaimana?   

Sebuah penelitian tentang tumbuh kembang anak di Inggris pada 2013 menunjukkan bahwa seorang anak bisa mengajukan hingga 300 pertanyaan ke orang tuanya per hari. Dan ini adalah pertanda baik. Maka jangan emosional jika anak Anda banyak bertanya, itu tanda perkembangan anak Anda sangat baik. Mendengar pertanyaan anak memang terasa menggemaskan namun jika terlontar saat situasi tidak mengenakkan, maka bisa jadi menjengkelkan.   

Tugas orang tua adalah mengatur cara berkomunikasi dengan anak tanpa perlu jaim untuk mengakui ketika tidak tahu jawaban atas pertanyaan anak. Tidak perlu segan untuk meminta maaf pada anak atas keterbatasan yang kita miliki, sebab meminta maaf pada anak tidak akan mengurangi rasa hormat mereka pada orang tua.

Kecenderungan untuk khilaf dengan tindakan dan perkataan kasar karena merasa lelah dan bosan dengan sikap anak terkadang memang tak terelakkan, padahal tak jarang hal itu justru berakhir dengan penyesalan. Sebab kekerasan yang kita lakukan pada anak menyisakan trauma psikologis yang merusak karakter anak. Karenanya, temani anak-anak ketika mereka tumbuh, tentu dengan memahami bahwa dunia anak tak sama dengan dunia kita, para orang tua.

Kecenderungan Menjadi Toxic Parents

Toxic parents, sebagaimana dijelaskan dalam Tempo, “Tanpa Disadari Anda Bisa Jadi Toxic Parents” adalah orang tua yang tidak menghormati dan memperlakukan anaknya dengan baik sebagai individu. Mereka cenderung melakukan berbagai kekerasan pada anak, baik verbal maupun nonverbal, yang dapat membuat kondisi fisik maupun psikologis anak terganggu.

Toxic parents juga enggan berkompromi dan meminta maaf pada anaknya. Mereka cenderung otoriter dan mementingkan asas kepatuhan dengan mengesampingan sikap kritis anak. Hal ini seringkali dilakukan oleh orang tua yang memiliki gangguan mental atau memiliki trauma di masa kecil akibat pengasuhan yang buruk. Mereka melukai anaknya dengan cara yang sama seperti yang dialaminya dulu, bisa karena keterbatasan figur pengasuhan atau kurangnya pengetahuan.

Orang tua toxic kerap berdalih apa yang dilakukannya semata-mata karena kasih sayang, tetapi pola asuh yang toxic tetap saja tak baik untuk dilakukan. Pola ini terus saja diulang sehingga membuat anak yang awalnya kritis menjadi takut untuk bertanya dan akhirnya tumbuh menjadi anak yang minder. Anak yang harusnya terfasilitasi saat ada di fase ingin tahu malah jadi menutup diri karena merasa keingintahuannya dibatasi dan dianggap sebagai perbuatan yang mengganggu. Anak yang harusnya pemberani dan periang justru menjadi pemalu dan introver.

Mari fasilitasi masa tumbuh kembang anak dengan cara yang menyenangkan. Luangkan sejenak waktu untuk mendengar pertanyaan dan cerita-cerita berharga mereka agar anak-anak menjadi pribadi yang gembira dan merasa kehadirannya diterima.[MFR]

Mengasuh Bersama Ayah

Tugas yang hanya bisa diemban oleh ibu seorang diri hanyalah melahirkan, sementara pengasuhan harus dilakukan bersama pasangan. Lebih berimbang dan memiliki dampak yang lebih signifikan.

——Nurul Intani

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, mengasuh adalah menjaga, merawat dan mendidik anak. Karenanya, mengasuh tak sama dengan membesarkan anak. Mengasuh dapat diartikan menemani anak bertumbuh dan berkembang; tak hanya anak yang dituntut untuk bertumbuh dan berkembang, tetapi juga orangtua.

Norma yang berlaku di sebagian besar masyarakat kita masih memandang tugas pengasuhan secara timpang, di mana hanya ibu yang dibebani dengan tugas ini, sementara ayah tak memiliki banyak ‘kepentingan’ untuk urusan pengasuhan. Ayah dipandang lebih wajib untuk mencari nafkah dan memimpin keluarga. Hal ini tentu berpengaruh pada sedikitnya peran ayah dalam proses pengasuhan.

Padahal mengasuh adalah tugas orangtua; ayah dan ibu. Anak yang dibesarkan dalam pola pengasuhan timpang cenderung tidak dapat berkembang secara maksimal. Ada banyak penelitian soal ini, terutama yang memberikan titik tekan khusus pada ketidakhadiran ayah dalam pengasuhan. Pada 2014, Sara McLanahan bersama tim melakukan penelitian dengan tema “The Causal Effects of Father Absence”. Hasilnya cukup mencengangkan, ketidakhadiran ayah dalam proses pengasuhan berimbas negatif terhadap perkembangan anak.

Anak-anak yang tumbuh tanpa sosok ayah disebut tak memiliki kemampuan sosial-emosional yang baik. Hal ini berimbas langsung pada kesehatan mental, kepercayaan diri, pencapaian di bidang pendidikan, pembentukan karakter, kesulitan dalam membangun hubungan keluarga dan akhirnya, kendala dalam menentukan karir atau mendapat pekerjaan saat dewasa kelak.

Tujuh tahun sebelumnya, tepatnya pada 2007, University of Guelph di Kanada sudah melakukan penelitian dengan tema besar “The Effects of Father Involvement: An Updated Research Summary of the Evidence”. Hasil dari penelitian ini menegaskan bahwa keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak memainkan peran yang sangat signifikan terhadap perkembangan anak, baik secara sosial, emosi, fisik maupun kognitif.

Penelitian itu juga memaparkan bahwa anak yang turut diasuh oleh ayahnya sejak dini memiliki kemampuan kognitif lebih baik ketika memasuki usia enam bulan hingga satu tahun. Selain itu, mereka juga memiliki nilai IQ yang lebih tinggi ketika menginjak usia tiga tahun serta berkembang menjadi anak dan individu yang mampu memecahkan permasalahan dengan lebih baik.

Karenanya, keterlibatan ayah dalam proses pengasuhan anak seharusnya bukan lagi menjadi pilihan, melainkan kewajiban. Ayah tentu tak harus hadir 24 jam sehari dalam kehidupan sang anak –terutama karena ayah harus pula bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga— tetapi peran aktif ayah dalam menemani tumbuh kembang anak tak boleh lagi dipandang sebelah mata. 

Berikan Kepercayaan pada Ayah

Umumnya, banyak ibu yang berharap agar pasangannya terlibat dalam pengasuhan anak, meski tak sedikit dari mereka yang enggan memberikan kekuasaan penuh pada pola pengasuhan yang diterapkan ayah. Muncul banyak kekhawatiran atau bahkan ketakutan terhadap pola asuh yang diterapkan ayah. Hal ini lantaran ayah lebih memberi kebebasan terhadap anak.

Saat anak bermain lompat-lompatan misalnya, ayah akan cenderung membiarkan anak untuk bereksplorasi, termasuk untuk menerima resiko; jatuh atau pakaian menjadi kotor. Maka tak jarang, anak yang bermain bersama ayah cenderung lebih mudah mengalami luka fisik atau pulang dengan pakaian yang tak lagi bersih.

Hal inilah yang mendorong banyak ibu untuk tak memberikan kepercayaan terhadap ayah untuk ikut mengasuh anak, padahal justru dengan pola asuh yang berbeda ini, anak menjadi lebih mandiri dan berani mencoba hal-hal baru.

Menurut psikolog Rini Hildayani MSi, ada beragam manfaat positif yang dapat dipetik ketika anak dekat dengan ayahnya. Berikut manfaat kedekatan ayah dengan anak beserta penjelasan singkatnya masing-masing:

1. Menjadi Pribadi yang Baik

Kedekatan ayah dan anak dapat membangun kelekatan emosi di antara keduanya. Anak lelaki akan meniru peran ayah dalam menjalin hubungan dengan lawan jenis dan cara mengasuh anak-anak mereka kelak. Pada anak perempuan, kedekatan dengan ayah menjadi referensi dalam mencari sosok pendamping di masa depan. Kedekatan ayah dan anak juga membuat anak tumbuh lebih mandiri, berani, tangkas, dan luwes.

2. Mengembangkan Soft-skill Anak

Kedekatan ayah juga berperan besar dalam aspek kognisi, motorik, dan keterampilan bersosialisasi. Dari aspek kognisi, ayah dapat melatih daya nalar, daya ingat, wawasan, daya tangkap, dan kemampuan memecahkan persoalan. Ayah berperan dalam melatih cara berteman yang baik dan beradaptasi. Ayah juga dapat melatih anak untuk mematangkan emosinya.

3. Meningkatkan Hubungan Emosional

Anak yang dekat dengan ayahnya akan belajar untuk menghargai dirinya dan orang lain dari bentuk perhatian ayah kepada anaknya. Usahakan ayah selalu menciptakan waktu khusus untuk anak-anaknya.

4. Peran Ayah Penting untuk Masa Depan Anak

Dengan memberikan yang terbaik bagi anak-anak, waktu yang cukup dan berkualitas, kelak anak pun akan memberikan hal yang sama bagi ayah di kemudian hari.

Karenanya, para ibu seharusnya tak perlu terlalu khawatir terhadap pola asuh anak. Sama seperti ibu, ayah juga pasti menyayangi anak-anak mereka, meski kerapkali ditunjukkan dengan cara yang berbeda. Luangkan lebih banyak waktu untuk berdiskusi tentang pola asuh terbaik untuk anak bersama ayah lalu beri ayah kepercayaan dan dorongan untuk turut menemani anak bertumbuh dan berkembang.

Berbagi Peran

Berbagi waktu untuk terlibat dalam mengasuh anak tidak selalu berarti meluangkan separuh waktu bersama anak, untuk ayah yang sangat sibuk hal tersebut tentu bukan perkara mudah. Ayah bisa saja melakukan hal-hal sepele yang sebenarnya bisa membantu meningkatkan kedekatan dengan anak. Misalnya dengan meminta ayah untuk mengganti popok, membacakan buku sebelum tidur, sesekali memandikan, makan bersama dan melakukan aktivitas-aktivitas kecil yang tidak terlalu menyita banyak waktu.

Hal-hal kecil yang dilakukan berulang-ulang akan memiliki dampak yang lebih signifikan dibandingkan dengan hal-hal besar yang dilakukan jarang-jarang. Anak pun akan tahu bahwa ayah mereka selalu hadir. Dengan begitu, ikatan antara ayah dan anak akan semakin kuat dengan sendirinya. Selain itu, berbagi peran juga menjadi sarana komunikasi yang baik antara orangtua.

Pembagian peran antara ayah dan ibu di tiap keluarga tentu berbeda-beda, tak semua keluarga memiliki ayah yang bisa pulang setiap hari, tuntutan pekerjaan setiap ayah tentu tak ada yang sama.

Karenanya bisa jadi, anak akan tetap menghabiskan lebih banyak waktu dengan ibu. Dalam kondisi seperti ini, maka ayah harus diberi waktu-waktu tertentu untuk lebih dekat dengan anak.

Saat ayah tak lagi sibuk kerja, pastikan ia menghabiskan lebih banyak waktu dengan anak. Pastikan pula anak mengerti soal kondisi ini, sehingga anak tak merasa dinomorduakan. Hal ini berlaku pula untuk ayah dan ibu yang sudah tak lagi hidup bersama (bercerai); sisihkan waktu-waktu tertentu yang disepakati untuk tetap mengambil peran dalam pengasuhan anak. anak-anak harus tahu dan merasakan bahwa dalam kondisi apapun, mereka tetap disayangi dan diutamakan.

Tugas yang hanya bisa diemban oleh ibu seorang diri hanyalah melahirkan, sementara pengasuhan harus dilakukan bersama pasangan. Lebih berimbang dan memiliki dampak yang lebih signifikan.[MFR]

Bahagia Tanpa Rasa Bersalah

Mari menjaga kewarasan untuk menciptakan suasana yang bahagia agar suami dan anak-anak juga merasa bahagia karena diasuh dengan bahagia

—— Nurul Intani

Sebagai ibu, istri, menantu, manajer keuangan, pekerja rumahan maupun kantoran, perempuan pun tentu ingin bahagia; menjalani hari dengan senang, enjoy dan tanpa beban. Mengutip Aristoteles (dalam Adler, 2003), happiness atau kebahagiaan berasal dari kata “happy” atau bahagia yang berarti feeling good, having fun, having a good time, atau sesuatu yang membuat pengalaman yang menyenangkan. Secara umum, bahagia adalah suatu keadaan pikiran atau perasaan yang ditandai dengan kecukupan hingga kesenangan, cinta, kepuasan, kenikmatan, atau kegembiraan yang intens.

Bukankah ibu yang bahagia akan membesarkan anak-anak dengan bahagia? Ibu yang bahagia akan menyebarkan energi positif dalam mendidik anak-anaknya. Sebaliknya, ibu yang tertekan, lelah, kurang piknik, akan menciptakan suasana yang negatif, bahkan tak jarang pengasuhan akan diliputi dengan kemarahan; semua yang dilihat seolah salah dan rasanya hanya ingin uring-uringan saja.

Jelas hal tersebut menjadi tak baik untuk proses mendidik anak-anak. Untuk itu, ibu butuh cara untuk mencapai bahagia. Beberapa di antaranya adalah dengan tak terlalu menyibukkan diri dengan hal-hal yang membuat beban makin menggunung. Abaikan saja perasaan-perasaan yang membuat hati dan pikiran gelisah, sebab dimungkiri atau tidak, terkadang kita sendiri yang menjadikan hal ringan seolah berat, yang mudah seolah rumit. Tidak perlu memikirkan sesuatu yang tidak perlu dipikirkan, menuruti kata orang tidak akan ada habisnya.

Terima Kenyataan

Perubahan status dari lajang lalu menikah dan menjadi ibu terkadang membuat banyak perempuan jetlag, pada kondisi tertentu (sedang sensitif) kita tak sadar menyalahkan kondisi yang berbeda 180 derajat. Dari yang dulu bebas pergi ke mana-mana sendiri, sekarang ke mana-kemana diglendoti anak. Dulu mandi bisa berjam-jam, sekarang boro-boro, bisa mandi aja syukur, he.he. Mencari sela waktu untuk menikmati makan saja sudah sulit.

Merutuki keadaan bukanlah solusi untuk menjadikan hidup kita makin ringan, hidup harus tetap jalan. Caranya? ya terima kenyataan dan mulai membuat strategi dan rancangan baru yang bisa dilakukan dengan kondisi yang sekarang. Jika tetap ingin menjadi ibu pekerja, konsultasikan dengan suami dan sampaikan segala konsekuensinya lalu cari solusi bersama. Begitupun ketika kita memilih menjadi full day mom. Keduanya sama-sama pilihan yang tidak mudah, tapi ketika dikomunikasikan dengan baik, maka kita bisa menemukan win-win solution atas pilihan sulit tersebut.

Terkadang yang rumit adalah pikiran kita sendiri; kita terlalu sibuk memikirkan kata orang. Saat memutuskan tetap bekerja, kita sibuk memikirkan orang-orang yang akan menganggap kita perempuan egois karena hanya mengejar karier, mengesampingkan anak-anak dan suami. Begitupun ketika memutuskan menjadi full day mom, kita dihadapkan dengan identitas diri yang dipandang ‘hanya’, padahal jam kerjanya 24 jam, tanggungannya nggak kira-kira.

Kompak Bersama Pasangan

Ibu yang bahagia biasanya didukung oleh pasangan yang bisa memahami dan mau berbagi. Ketika ayah dan ibu bisa berbagi peran dan menjalankan roda pengasuhan bersama-bersama, pekerjaan ibu akan terasa jauh lebih ringan. Namun masih banyak orang yang tak beranggapan demikian. Secara normatif, masyarakat Indonesia masih menganut pemikiran bahwa tugas ayah adalah mencari nafkah dan ibu mengasuh serta mengurus rumah.

Padahal tugas pengasuhan bisa dilakukan bersama, begitupun urusan rumah, kalaupun kita merasa terbebani, kita bisa mencari asisten rumah tangga untuk meringankan tugas domestik. Tak jarang juga yang memilih membiarkan saja pekerjaan rumah menumpuk dan membereskannya lagi nanti saat mood sudah kembali, dan suami pun mengerti serta tak memaksakan rumah selalu rapi.

Tidak ada yang salah ketika anak-anak bermain dan terjatuh saat berlarian, makan tak beraturan, berhamburan dan mengotori lantai; di usia tertentu anak-anak memang belum cukup memiliki kematangan kemandirian, jadi kita sebagai orang tua harus mengerti, butuh waktu dan proses untuk belajar sampai bisa makan dengan rapi atau anak tak kunjung tidur karena memang belum mengantuk. Namun ini bisa menjadi salah ketika kondisi ibu sedang stres, jenuh dan lelah, anak-anak menjadi nampak salah sehingga memicu rasa marah.

Tak dimungkiri, anak-anak dekat dengan ibu di segala kondisi, baik saat ibu dalam kondisi senang ataupun garang. Kondisi mereka yang lemah dan masih sangat polos sering menjadi tempat pelampiasan meskipun berujung penyesalan. Belum lagi ketika ibu merasa pasangannya kurang bisa mengerti dan enggan berbagi, lagi-lagi anak yang menanggung kegundahan ibu. Bukankah tak ada yang berharap demikian?

Tugas berat ibu sebenarnya adalah mengatur kondisi diri dan mengasuh ‘bayi paling besar’ (bapaknya anak-anak) dengan super sabar. Ketika bersama suami kita sudah bisa saling mengerti, insyaallah keluhan soal berbagi tak akan ada lagi.

Menjaga Kewarasan

Pekerjaan rumah memang tidak ada habisnya, apalagi saat usia anak masih aktif-aktifnya; lagi senang-senangnya lari-larian, main dan makan berantakan, sering tantrum, bertanya ini-itu, dll. Seorang ibu butuh energi lebih untuk tetap menjaga kewarasan, untuk itu me-time sangat diperlukan. Dalam “Me-time, jangan dilewatkan (kompas.com 18-3-2009) dijelaskan bahwa me-time adalah waktu untuk diri sendiri tanpa kehadiran orang lain, sehingga kita bisa beraktivitas sendirian (atau bahkan tidak melakukan apa-apa).

Jenis aktivitasnya bisa sangat beragam, tergantung mana yang membuat seseorang merasa nyaman ataupun senang. Mengingat aktivitas ibu yang super padat, mencari waktu untuk me-time rasanya terlihat tidak mungkin. Bahkan kalaupun mungkin, akan muncul rasa bersalah dalam proses me-time.

Me-time tidak selalu harus dilakukan dengan pergi ke luar, jalan-jalan dan meninggalkan anak-anak dan suami selama beberapa hari atau jam. Me-time tidak melulu dengan belanja-belanja di mall, atau melakukan treatment di salon. Kita bisa melakukan me-time dengan lebih sederhana namun tujuannya terlaksana. Misalnya: bagi saya berlama-lama mandi sore saat anak-anak menikmati bermain bersama ayahnya adalah me-time, apalagi bisa dengan tenang membersihkan lantai dan tembok di kamar mandi tanpa teriakan dan gangguan.

Nampak sederhana tapi saat keluar dari kamar mandi pikiran sudah lebih ringan dan tidak meninggalkan rasa bersalah kepada siapapun. Ibu senang, suami dan anak-anak pun senang karena bisa menikmati waktu bermain bersama sambil meningkatkan bounding. Kita bisa memilih me-time yang tidak menyisakan rasa bersalah setelahnya, bersalah karena dompet terkuras misalnya, atau bersalah karena meninggalkan suami dan anak terlalu lama. Jadi, mari menjaga kewarasan untuk menciptakan suasana yang bahagia agar suami dan anak-anak juga merasa bahagia karena diasuh dengan bahagia.[MFR]