Kesaksian Sahabat

Ditopang kualitas keagamaan, akademik, dan penampilan sederhana, Pak Shobir barang kali adalah sosok religius, ilmiah, dan toleran sebagaimana dicita-citakan oleh IAIN Kediri saat ini.

—- Dr. Sardjuningsih, M.Ag.

Kepergian Pak Shobir untuk selama-lamanya menyisakan kesedihan yang mendalam tidak hanya buat keluarga, tapi juga rekan maupun mahasiswa beliau. Berikut adalah kesaksian Dr. Sardjuningsih, sahabat sewaktu mahasiswa sekaligus kolega beliau di IAIN Kediri.  

Sejak awal menjadi mahasiswa Ushuluddin IAIN Sunan Ampel Surabaya  pada 1979, Pak Shobir sudah  menunjukkan  kualitas yang luar biasa, melebihi  kompetensi seangkatannya.  Awal menjadi mahasiswa, beliau sudah  diangkat menjadi dosen honorer di Laboratorium Bahasa  IAIN untuk mengajar bahasa Arab. Kemampuan bahasa asing beliau  (Arab dan Inggris ) memang mengagumkan. Semua tahu beliau adalah santri dari Pondok Modern Gontor.  Sebagai mahasiswa baru, beliau sudah dibebaskan atau tidak dibebani untuk mengikuti mata kuliah wajib bahasa Arab dan Inggris.  Sebagai informasi, semua mahasiswa wajib lulus kuliah bahasa asing di IAIN, mulai dari tingkat elementary hingga  intermediate. Kewajiban ini harus dipenuhi oleh mahasiswa untuk mencapai gelar Sarjana Muda.

Keterampilan Pak Shobir sewaktu menjadi mahasiswa dituangkan dalam Buletin Mingguan Mahasiswa Ushuluddin bernama Empirisma (kebetulan saja sama dengan nama Jurnal Prodi SAA ) yang kehadirannya selalu ditunggu -tunggu mahasiswa setiap minggu ke-2 dan ke-4. Beliau aktif mencari penulis yang mau mem-publish tulisannya. Beliau membeli mesin ketik dari uang sendiri untuk kepentingan organisasi intrakampus dan menyalin tulisan tangan dari si penulis.  Saat itu, fakultas tidak menyediakan mesin ketik khusus bagi organisasi intrakampus karena dampak larangan politik masuk kampus yang dikenal dengan Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK). Saat itu, kegiatan kemahasiswaan banyak yang diamputasi.  Zaman itu juga belum banyak mahasiswa yang mampu membeli mesin ketik sehingga karya ilmiah seperti Risalah maupun skripsi selalu diketikkan kepada seorang juru ketik.  

Kualitas akademik Pak Shobir  juga luar biasa. Beliau lulus Sarjana Muda (BA)  dan Sarjana Lengkap (Drs.) paling  cepat. Beliau mendapat beasiswa karena nilai akademiknya di atas rata-rata. Semua dosen di Fakultas Ushuluddin  mengakui  kelebihan yang beliau miliki, sehingga dosen pun segan pada beliau.  Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada para dosen saya yang lain di Ushuluddin, bisa dibilang kecerdasan beliau melebihi rata-rata dosen beliau . Secara pemikiran, beliau berprinsip bahwa kebenaran agama berada di atas kebenaran ilmu pengetahuan karena bagi beliau manusia tidak akan pernah bisa menemukan kebenaran hakiki. 

Di samping dalam bidang bahasa dan akademik, Pak Shobir juga  memimiliki leadership yang sangat bagus.  Kemampuan orasi beliau memukau dan selalu mampu membuat terpana audiens. Sebagai aktifis organisasi intra dan ekstrakampus, beliau sangat disegani.  Tak heran, berkat kemampuan kepemimpinannya, beliau didaulat untuk mengetuai sejumlah organisasi di Kabupaten dan  Kota Madya Kediri, dan membuat beliau sangat dikenal oleh masyarakat hingga akhir hayat. 

Sebagai seorang pemimpin, beliau adalah sosok yang sangat mengayomi, sabar, ikhlas, rendah hati, dan amanah.  Beliau juga pandai merangkul  kelompok yang berbeda, sehingga beliau berterima di semua kalangan. Beliau juga sangat baik dalam menjaga lisannya. Selama  menjadi temannya, saya belum pernah mendengar ada orang yang  tersakiti  dengan kata–kata maupun tindakan beliau. Beliau sangat menghargai orang lain tanpa memandang usia.  Kami menghormati beliau  bukan hanya sebagai senior, tetapi juga sebagai  seorang intelektual, ulama, kiai, ustaz, dan dosen yang patut diteladani.

Selama berkuliah di Surabaya, beliau tinggal di PP. Darul Arqam, sebuah pondok kecil di belakang kampus, yang sering kebanjiran. Beliau  menjadi pengurus sekaligus ustaz di  pondok tersebut.  Bisa dibilang  adalah sosok berkharisma di lingkungannya.   Beliau menjadi panutan teman-teman beliau baik di pondok maupun di kampus. Dalam setiap riset kelompok, beliau biasanya diminta untuk menentukan lokasi, merumuskan topik,  dan selalu menjadi tumpuan dalam merumuskan hasil riset. Teman-teman beliau banyak sekali   karena beliau pribadi yang sangat ramah, terbuka, dan senang bersilaturahim.

Sejak mahasiswa, beliau sudah hobi membaca dan  mengoleksi buku–buku agama, terutama tentang Perbandingan Agama  dan Filsafat. Beliau mengidolakan seorang dosen filsafat, Drs. Lantip, insya Allah sampai sekarang masih sugeng. Beliau tidak hanya mengagumi pemikiran dosen beliau tersebut, tetapi juga keserhanaan hidup dan kerendahan hatinya. Mungkin inilah salah satu yang turut membentuk pribadi Pak Shobir.  Koleksi buku beliau sering menjadi jujukan teman-teman mahasiswa tatkala membutuhkan buku  untuk referensi  untuk menulis.

Ditopang kualitas keagamaan, akademik, dan penampilan sederhana, Pak Shobir barang kali adalah sosok religius, ilmiah, dan toleran sebagaimana dicita-citakan oleh IAIN Kediri saat ini.

Allaahummaghfirlahu warhamhu waafihi wa’fuanhu. Syurga Allah buatmu guru!

“Sugeng Tindak Mas…”

Obituari Buat Alm. Drs. H.M. Nur Akhlis, M.Pd.

Aku mengenalmu sudah sejak tahun 90an….
Engkau tampan sejak dulu….juga sangat sopan…akhlaq yang tercermin dari tutur sikapmu…Mengaji, berorganisasi dan belajar dengan motivasi tinggi menjadi keseharianmu…
Meski tampan sampean tidak sombong….meski pinter bahasa asing tidak merasa inggil….

Kita bertemu saat sampean dan istri mengajariku bahasa Inggris, Meski kemampuanku kanak-kanak, kau memperlakukanku  seolah aku pintar…

Tiba-tiba kita dipertemukan di IAIN Kediri…..
Kampus yang membesarkanku dan juga sampeyan….
Kala bersama di Lembaga Bahasa…..saat sampeyan jadi ketuanya  ..

Sampeyan terpaksa beli rokok….hanya untuk membuat kami-kami perokok tidak segan….Kini saat aku harus di Lembaga Bahasa…..kesopananmu terasa sulit  ditiru….Jika harus mengingatkan…kekhilafan…sampeyan pura-pura bertanya…..

Saat saat begini…
Saya kangen senyum canda dan terbahak sampeyan yang tak lekang oleh waktu…. Tentu ..para mahasiswa akan mengingat sampeyan…kebaikan di kelas dan diluar itu…Kata mereka….sampeyan tak pernah marah…..
Tugas yang terlambat pun sampeyan terima…dengan biasa
Mungkin aku tak mampu melakukannya….atau belum..

Mas Akhlis….
Segenap kolega di kampus terkejut mendengar kepergianmu….
Sampeyan memang sibuk….di rumah punya kursusan, pengurus masjid agung, sekretaris yayasan, pembimbing umroh….dan apalagii. ..saya ndak tahu….Hampir semua kegiatan sampeyan di luar berasa sosial….tak mendapat bayaran….

Kami maklum jika  kita jadi jarang bersua….
Akhir-akhir ini…sampeyan sempat mengeluhkan sakit….yang “ndak diroso”….Tapi sakit itu pula yang membuat sampeyan ke kampus hanya untuk ngajar seperlunya….

Tapi Selasa lalu….setelah lama tak bersua….
Sampeyan pergi selamanya ….setelah pulang dari kegiatan Diklat Haji  di Surabaya….

Tugas yang seharusnya sampeyan emban di musim haji…tahun ini…
Sampeyan memang orang baik Mas….tidak heran Gusti Allah lebih cepat memanggilmu….

Di saat  genting seperti ini….
Saya pengin datang menghormatmu untuk terakhir kali … ingin mensholatimu se khusu’  mungkin, membisikkan tahmid, tasbih, tahlil di dekat jasadmu…. mengantarmu pulang ke pemakaman….
Maaf kan yo Mas…semua orang melarang….semuanya mencegah…
.

Maaf yo Mas Akhlis……
Aku hanya berdòa untukmu dari rumah……
Aku yakin tinggal kemuliaan yang sampeyan dapatkan di hadapan-Nya…Aamiiin…Sugeng tindak mas……!

Kediri, 26 Maret 2020