Alang-Alang di Ladang Kita

Benih yang unggul berkembang menjadi tananam yang sehat dan produktif jika ditanam di lahan yang subur dan terus dipelihara. Jika tidak, maka benih itu akan dikalahkan oleh alang- alang yang menguasai lahan pertanian kita

—- Prof. Fauzan Saleh

Seorang pengamat dari Australia mengisahkan pengalamannya ketika dia sedang mampir di warung kopi bersama seorang temannya. Untuk membeli dua cangkir kopi dan sepotong kue di warung itu, dia harus membayar Rp6000. Namun yang mengherankan si pengamat adalah bagaimana si tukang warung harus mengambil kalkulator untuk menghitung jumlah harga dari si pembeli itu: 2000+2000= 4000; 4000+2000=6000. Setelah si pembeli memberikan uang pecahan Rp10,000, si tukang warung kembali memainkan kalkulatornya untuk menghitung 10,000 – 6000 =4000. Tidak jelas mengapa si pengamat bule itu heran. Bisa jadi dia menganggap si tukang warung latah, sok modern bisa menggunakan kalkulator. Yang menarik ialah suatu kenyataan bahwa hanya untuk hitungan amat sederhana  itu  saja,  warga  masyarakat  tersebut  tidak  mau  (atau tidak  mampu) menggunakan kecerdasan dasarnya.

Itulah mengapa posisi remaja Indonesia (usia 15 tahun) hanya berada pada urutan ke-64 dari 65 negara yang disurvei oleh OECD (Organization for Economic Cooperation and Development, ‘Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi’) dalam International Program for Student Assessment (IPSA). Sungguh suatu kenyataan yang amat memprihatinkan. Penilaian IPSA itu ditujukan untuk mengetahui kemampuan anak-anak  remaja  dari  negara-negara  yang  tergabung dalam OECD dalam bidang sains, matematika dan kecakapan membaca. Indonesia hanya unggul di atas Peru yang menempati urutan terbawah, 65.

Pertanyaan klasik yang belum pernah terjawab secara tuntas: apa yang salah dengan pendidikan kita? Penulis pun tidak ingin berpretensi mampu menjawab pertanyaan itu. Namun ada beberapa kenyataan yang dapat kita amati bersama dari pengalaman sehari-hari kita. Penilaian para pengamat pendidikan juga sudah sering dimunculkan di  media  untuk  memberikan analisis  tentang kenyataan tersebut. Salah satu uraian dikemukakan oleh pengamat bule Australia yang menuliskan artikelnya di Inside Indonesia, edisi Oktober-Desember 2013.

Problem pendidikan memang tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu terkait dengan lingkungan sosial budaya maupun geografis sekitarnya. Menurut alm. Prof. Muhaimin, pakar pendidikan Islam dari UIN Maliki Malang,  penyelenggaraan pendidikan pada hakikatnya tidak beda dengan menyemai suatu benih. Mula-mula tentu kita harus berusaha untuk mendapatkan benih yang unggul. Namun benih unggul itu tidak akan berarti banyak jika lahan pertanian yang kita gunakan untuk menyemai benih itu tidak dipersiapkan dengan baik.  Benih yang unggul berkembang menjadi tananam yang sehat dan produktif jika ditanam di lahan yang subur dan terus dipelihara. Jika tidak, maka benih itu akan dikalahkan oleh alang- alang yang menguasai lahan pertanian kita.

Kenyataan seperti itulah yang dapat kita lihat di lingkungan kita. Bagaimana guru dan lingkungan sekolah berusaha sekuat tenaga memberikan pendidikan yang sebaik-baiknya, tetapi begitu keluar dari lingkungan sekolah anak-anak sudah  harus berhadapan dengan kenyataan yang amat kontras dengan yang diajarkan di sekolah. Itu pun jika sekolah (dan guru-gurunya) sendiri memiliki komitmen cukup tinggi untuk memelihara lingkungan sekolahnya dengan baik.

Faktor krusial yang menarik perhatian pengamat asing yang disebut di atas, antara  lain  adalah  kenyataan  bahwa  sekolah  tidak  pernah  bisa  menjalankan otonomi akademiknya. Sekolah terlalu banyak diintervensi oleh kepentingan birokrasi. Bahkan dalam beberapa kasus tidak jarang sekolah dan guru-gurunya diperalat untuk kepentingan politik penguasa. Tidak heran jika kemudian menjadi guru-pendidik identik dengan menjadi birokrat yang harus tunduk dan patuh pada hierarki kekuasaan di atasnya. Sistem kebijakan politik di negeri kita masih menganut “madzhab” seperti itu. Dan jelas, itu amat merugikan dunia pendidikan kita.

Alang-alang atau ilalang adalah rumput liar yang sering tumbuh di sawah, ladang, pekarangan, lapangan atau halaman kosong yang tidak terawat. Ia bisa tumbuh di mana saja. Apalagi jika diberi kesempatan. Alang-alang adalah sejenis rumput berdaun tajam yang kerap menjadi gulma di lahan pertanian. Dalam bahasa ilmiahnya ia dikenal  dengan  nama  imperata  cylindrica.  Sebagai  gulma  dan bersifat invasif kehadiran ilalang tentu tidak diinginkan karena sangat mengganggu pertumbuhan tanaman produksi dan akan  mengurangi hasil tanaman yang kita budidayakan.

Meski disebutkan memiliki banyak manfaat, terutama pada bagian akarnya, tanaman ini akan mengalahkan bibit unggul yang kita semaikan dengan segala harapan. Alang-alang tanpa ditanam pun akan dengan cepat tumbuh dan menjadi predator bagi tanaman lain. Bibit unggul yang kita tanam akan dengan mudah dikalahkan oleh kehadiran alang-alang yang tumbuh tanpa kita kehendaki. Prof. Muhaimin dalam suatu kesempatan memberikan kuliah umum di  Pascasarjana IAIN (waktu  itu STAIN)  Kediri,  beberapa  tahun  yang  lalu.  Beliau mengambil  i’tibar dari rumput ilalang untuk menggambarkan kompleksitas dunia pendidikan yang tengah kita bangun. Ibaratnya, jika kita ingin menanam padi maka sering sekali rumput- rumput liar ikut tumbuh sebagai gulma dan sangat mengganggu pertumbuhan padi yang kita tanam. Sebaliknya, ketika kita menanam rumput hampir bisa dipastikan tidak akan ada padi yang ikut tumbuh bersamanya.

Jika kita refleksikan dengan perkembangan saat ini, kondisinya akan tampak lebih parah. Wabah Covid-19 telah memorak-porandakan dunia pendidikan pada semua jenjang, mulai dari PAUD sampai perguruan tinggi. Tentu bukan hanya dunia pendidikan saja yang terdampak oleh pandemi Covid-19 ini. Namun dunia pendidikan yang jadi tanggung jawab kita telah menunjukkan berbagai fenomena yang sangat memprihatinkan. Jika di atas Prof. Muhaimin mengkhawatirkan sia-sianya upaya gigih para pendidik dalam membangun kecerdasan peserta didik di  sekolah ketika  dihadapkan pada  realitas  pahit  di  tengah  masyarakat,  maka pandemi Covid-19 telah membuat semua gambaran itu ambyar dengan sendirinya. Sekarang ini bukan lagi bibit unggul yang pasti terdesak oleh rumput ilalang di alam bebas, tapi tempat penyemaian bibit unggul itu sendiri sekarang sudah tidak berfungsi dengan baik. 

Pembelajaran jarak jauh yang mengandalkan teknologi informasi berbasis jaringan internet tidak mungkin bisa menggantikan peran guru-pendidik yang harus ikut mengawasi perkembangan perilaku siswa dan berupaya menanamkan nilai-nilai budi pekerti luhur dengan keteladan perilaku para guru yang hadir di lembaga pendidikan. Maka tidak terlalu salah jika kita ikut-ikutan latah meneriakkan “dunia pendidikan terserah!” dalam kondisi pandemi Covid-19 saat ini.

Dengan merebaknya wabah Covid-19 yang belum diketahui kapan akan berlalu, orang baru menyadari ternyata menjadi guru itu tidak mudah. Menyuruh anak belajar itu juga sangat sulit, padahal yang menyuruh orang tua si anak itu sendiri. Di dalam beberapa video dan meme yang berseliweran di dunia maya, sering kita temukan sindiran yang lucu-lucu dan menggelitik perhatian kita. Ada seorang ibu-ibu yang bertindak sangat emosional dengan memukuli atau mencubit anaknya sendiri karena si anak tidak mau disuruh belajar. Anaknya tambah rewel, menangis dan memberontak karena dia lebih suka bermain daripada disuruh mengerjakan tugas dari gurunya.

Ada  lagi  gambar  lucu  menunjukkan tahapan ketika  seorang anak  harus mengerjakan tugas-tugas dari gurunya di rumah. Anak dengan seragam Pramuka tingkat SD itu sudah siap dengan buku pelajaran di ruang belajar yang nyaman di rumahnya. HP sebagai sarana penunjang belajar juga sudah siap di atas meja. Pada 2 menit pertama dia tampak serius membaca buku pelajarannya. Pada 5 menit berikutnya dia sudah mulai menyandarkan kepala pada tangan kirinya.  Tanda- tanda bosan sudah mulai tampak dari bahasa tubuhnya. Selanjutnya, memasuki menit ke-10, dia sudah mengangkat kakinya di atas meja. Pada menit ke-12, badannya sudah disandarkan pada sandaran kursi. Merasa semakin nyaman dengan posisi seperti itu, pada menit ke-15 kepalanya sudah direbahkan pada sandaran kursi, dan pada menit ke-20 dia sudah membujurkan tubuhnya di atas kursi sofa yang empuk. Mata pun telah terpejam dengan sempurna, pulas dalam tidurnya.

Belajar di rumah secara mandiri, meski ditopang oleh fasilitas yang cukup, belum tentu efektif sebagaimana ketika siswa belajar di sekolah, di bawah asuhan dan bimbingan para guru dan pendidik, serta lingkungan sekolah yang didesain untuk belajar dengan baik. Gesekan dengan sesama teman sebaya juga menjadi faktor sangat menentukan dalam proses pembelajaran. Pandemi Covid-19 telah membuat kita tidak mampu memberikan pilihan-pilihan yang baik untuk proses belajar-mengajar bagi anak-didik kita. Ini bukan sekedar persoalan ilalang yang tumbuh liar mengalahkan tanaman padi di sawah kita, tetapi, gara-gara Covid-19, sawah kita tidak bisa ditanami padi lagi. Sungguh memprihatinkan.[MFR]

Mas Menteri, Main ke Kampung, Yuk!

Pak Mendikbud, bukan pamer, ya, tapi organisasi seperti NU/Muhammadiyah berada di akar rumput, di tengah-tengah masyarakat. Mereka mendengarkan langsung tangisan anak-anak yang ingin mondok atau sekolah, dan mereka langsung memberikan solusinya.

—-Hijroatul Maghfiroh

Kira-kira, Pak Mendikbud pernah mengimajinasikan enggak ya situasi yang terjadi di tempatku sore ini? Sebuah kampung kecil yang berdesakan dengan aroma bawang goreng dan telur asin di kawasan pesisir Jawa Tengah.

Seorang anak laki-laki menangis kencang, teriak bak kesurupan. Iya, memang semua orang menganggap dia kesurupan, “bukan ‘hawanya’ sendiri..,” begitu seloroh banyak orang.

Sambil membawa batu di genggaman tangannya, dia teriak mencari bapak-ibunya. Ibunya yang seorang difabel segera berlindung mencari tempat persembunyian ke dalam rumah salah satu saudaraku. Bapak tirinya, yang juga tetanggaku, lari tunggang langgang ke masjid, berlindung dari keberingasan si anak.

Semua laki-laki dewasa di sekitar rumah berusaha membantu menenangkan anak laki-laki ini. Tetangga jauh yang konon bisa mengeluarkan makhluk gaib dari tubuh seseorang pun didatangkan. Tapi semua sia-sia, si anak semakin menjadi-jadi; dia tambah meronta, memaksa masuk ke dalam rumah yang diyakininya digunakan sang ibu untuk bersembunyi.

Setelah melalui perundingan dan pengendalian yang sengit, akhirnya si anak bisa lebih tenang dan mau menunggu orang tuanya di rumah nenek tirinya yang tidak jauh dari rumahku.

Kami, emak-emak—geng belakang; bulik dan sepupu—meneruskan ‘gosipan’. Membahas lebih lanjut kira-kira apa jalan keluar untuk ‘penyakit’ si anak yang dulu terkenal penurut dan pendiam itu. Kami mencari alternatif solusi, termasuk mencari alternatif pengobatan, karena konon orang tuanya yang tinggal di desa tetangga sudah berulang kali ke kiai yang dipercaya bisa mengusir para jin. Mereka meyakini bahwa anaknya kerasukan jin, bahkan lebih spesifik, jin kiriman bapak kandungnya yang sudah puluhan tahun meninggalkannya.

Hal pertama yang kami lakukan setelah situasi mulai aman adalah mengirim bulikku untuk mengupdate situasi si anak di rumah neneknya yang hanya berjarak tiga rumah dari rumah kami.

Update dari bulik yang adalah bendahara Muslimat NU desa sangat menyesakkan dada; dia sampai tak kuasa menahan haru ketika bercerita. “Setelah aku tanya baik-baik, ternyata anak itu pingin mondok, teman-teman seangkatannya sudah berangkat mondok. Dia bahkan sangat bersedia kalau diberangkatkan mondok lusa, dan bisa menyiapkan segala keperluannya sendiri, termasuk ijazah kelulusan SD-nya…”.

Tebakan kami, anak ini sudah tertekan dan stress ketika sekolah diliburkan. Dia tak bisa ikut belajar online. Orang tuanya yang bekerja serabutan tidak memiliki HP memadai.

Kondisi ekonomi orang tuanya yang sangat memprihatinkan tentu juga sangat memengaruhi kondisi mental mereka dalam berkomunikasi dengan anak. Pada situasi seperti itu, emosi anak menjadi sangat tak terkendali, ‘kesurupan’, kondisi di luar kendalinya.

Akhirnya, insya Allah kami memutuskan untuk mengirim anak tersebut ke pondok pesantren yang dia inginkan. Kami akan bareng-bareng iuran untuk membantunya mengirim ke pondok. Kami juga akan menggunakan bantuan dari uang kas jamiyah Muslimat NU. Kata bulikku, “tadi aku langsung makteg, sedih banget, ingat dulu waktu masih kecil ditinggal teman sepermainan mondok, sementara aku tidak bisa mondok. Perasaan sedihnya masih terasa sampai sekarang…”

Pak Mendikbud, bukan pamer, ya, tapi organisasi seperti NU/Muhammadiyah berada di akar rumput, di tengah-tengah masyarakat. Mereka mendengarkan langsung tangisan anak-anak yang ingin mondok atau sekolah, dan mereka langsung memberikan solusinya.

Muslimat NU di desaku sudah mampu mendirikan TK Muslimat NU, termasuk memberikan beasiswa kepada yatim/piatu/kurang mampu di sekolah-sekolah dasar dari sejak belum ada program BOS. Tidak hanya itu, bahkan emak menambahkan uang saku yang saat itu dititipkan kepadaku untuk diberikan ke anak-anak yang membutuhkan (sudah sering aku ceritakan kisah ini di FB).

Begitu saja, sih, Mas Menteri. [MFR]

Sekolah dan Telur Ceplok

Buat saya, ibarat telur, jika sebuah telur dipecahkan oleh kekuatan dari dalam, maka lahirlah kehidupan baru. Begitulah fitrah kehidupan tercipta. Pendidikan pun harus membangkitkan fitrah anak; berproses sendiri, muncul kesadaran sendiri, mengenal diri mereka sendiri dan berjuang untuk menyelesaikan masalah dan meraih masa depan dengan usaha sendiri.

—- Emmy Kuswandari

Musim sekolah sudah dimulai. Orang tua mulai jungkir balik menyiapkan berbagai platform pembelajaran daring yang dilakukan oleh sekolah. Bagi kita yang akrab dengan pertemuan-pertemuan di dunia maya, tentu tak masalah. Klik sana sini lalu anak pun akan terhubung dengan ruang belajarnya. Bagaimana dengan orang tua yang gagap teknologi? Ya, sudah pasti nunak-nunuk dan pening. Belum lagi jaringan internet yang kembang kempis seperti dompet di tanggal tua.

Belajar daring ini sebetulnya menjawab kegalauan saya. Saya akan ada di baris pertama kelompok orang tua yang menolak kalau sekolah memutuskan belajar dilakukan secara fisik; anak dan guru harus datang ke sekolah. Pandemi belum usai. Orang yang terpapar Covid-19 makin menggila jumlahnya. Pernah mencapai 2.687 lonjakan positif dalam satu hari. Mengunci pintu rumah dan tak memberikan izin untuk aktivitas di luar kepada anak mungkin terdengar kejam, tetapi tak ada pilihan lain. Sudah lima bulan anak saya tinggal di rumah saja; belajar, olah raga dan terhubung daring dengan teman-temannya.

Saya tak rela melepas anak memasuki gerbang sekolah barunya untuk saat ini. Meski buat anak-anak remaja, ini kebahagiaan untuk jumpa dengan teman-teman barunya. Mereka sudah menunggu lama untuk bisa kenalan dan siapa tahu, musim cinta bisa mulai disemi saat ajaran baru ini. Saya tahu, itu mimpi mereka, anak-anak yang sebentar lagi memasuki angka keramat; 17 tahun.

Beruntung, sekolah memutuskan menggunakan pembelajaran jarak jauh. Bahkan bonusnya, pembelajaran daring ini dilakukan penuh satu semester ini. Jadi baru tahun depan, anak-anak ini akan jumpa teman sekolahnya secara nyata.

Saya mungkin tak direpotkan dengan urusan teknis mengenalkan platform belajar, jaringan internet atau sosial media. Anak saya sudah remaja, dia melakukan lebih baik dari saya. Jadi tugas saya cukup menyiapkan kuota internet yang memadai.

Saya termasuk orang tua yang woles untuk urusan belajar. Cukup pusing sekali saja; untuk mendapatkan sekolah yang menyenangkan untuk anak dan biarkan dia menikmati dunia barunya. Lingkungan yang menyenangkan ini penting. Dan kami melakukan survei bersama sebelum menjatuhkan pilihan. Tak perlu sekolah yang terkenal atau dengan fasilitas mewah. Anak saya bahkan gembira waktu datang ke sekolah sederhana di tengah sawah, lengkap dengan pematang dan saluran irigasinya. Jauh dari kesan mewah. Atau sekolah yang jauh dari riuh orang lalu lalang sekalipun di Parung sana. Selebihnya, saya membiarkan ia berproses sendiri.

Namun ada yang menarik di grup orang tua sebelum sekolah mulai. Sekali buka chat, sudah ada ribuan atau bahkan ratusan chat yang belum terbaca. Orang tua mengkhawatirkan ini dan itu. Apakah anaknya sudah bertemu dengan kelompoknya, apakah sudah membuat video perkenalan, anaknya masuk kelompok apa. Atau pertanyaan-pertanyaan yang sebetulnya sudah ada penjelasannya di pengumuman. Seheboh itu mereka. Bahkan orang tua ini masih membuat grup baru perwilayah anak-anak tinggal. Nah, yang ketika anak-anak dibagi dalam kelompok-kelompok kecil, orang tua pun ingin membuat grup baru lagi untuk dapat info terkini, di kelompok kecil tersebut.  Khawatir anak-anak tidak bisa mengikuti masa orientasi dengan baik, ragu anaknya bisa menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan, ingin membantu agar anaknya tak kesulitan merampungkan pekerjaannya.

Untung kami hanya berkumpul di WAG besar saja, tak memecah menjadi lebih kecil lagi. Bisa-bisa tak kerja hanya memenuhi keinginan menyediakan apa saja yang anak-anak butuhkan. Usia 15-16 tahun buat saya sudah remaja. Mereka punya dunia dan cara sendiri untuk menyelesaikan masalah yang ditemuinya.

“Buka pintu kamar anak pun tak boleh. Mereka tidak ingin kita tahu apa yang mereka lakukan. Malah disuruh masak saja,” ujar seorang ibu di grup.

Ternyata tak mudah menjadi orang tua dengan anak yang bergerak remaja. Mereka bukan lagi kanak-kanak yang perlu disiapkan segala sesuatunya. Rasa memiliki yang sangat besar membuat kita sebagai orang tua tak ingin anak-anak gagal atau kecewa. Anak-anak berubah, dan kadang kita tidak. Masih menganggap anak-anak ini kecil dan harus terus kita arahkan.

Buat saya, ibarat telur, jika sebuah telur dipecahkan oleh kekuatan dari dalam, maka lahirlah kehidupan baru. Begitulah fitrah kehidupan tercipta. Pendidikan pun harus membangkitkan fitrah anak; berproses sendiri, muncul kesadaran sendiri, mengenal diri mereka sendiri dan berjuang untuk menyelesaikan masalah dan meraih masa depan dengan usaha sendiri.

Saya belajar menahan diri untuk tidak bergegas menolong anak, membantu menyelesaikan tugas atau apapun yang anak perlukan hanya untuk memenuhi khawatir saya. Menahan diri dan diam itu tak mudah, tapi saya mencoba belajar. Menunggu proses itu lelah, tapi saya harus sabar. Sabar menanti dari telur lalu akan muncul kehidupan baru dalam diri anak saya. kalau mau instan, cukup pecahkan saja telurnya. Ceplok dan bumbuin, pasti enak. Tapi bukan itu tujuannya. Biarkan gairah belajarnya bangkit dan mudah-mudahan anak akan menjadi pembelajar seumur hidup. [MFR]

Covid-19 dan Pergeseran Nilai Pendidikan


“Saya ada bikin sekolah itu tempat buwat cari ngilmu, bukan tempat buwat cari ijazah!”

K.H. Dewantara

Koronavirus atau covid-19 telah menghadirkan pandemi di seluruh dunia. Ia tidak hanya membawa dampak negatif, tapi juga pergeseran dalam banyak aspek kehidupan sosial; mulai dari ranah privat hingga formal; dari level rakyat jelata hingga para raja. Efek dari virus ini terasa pada banyak lapisan tanpa pandang strata.

Koronavirus mampu mengubah tatanan maintreams seketika. Setiap orang yang terkena atau terpapar virus ini diperlakukan sama; harus mengikuti protokol kesehatan. Yang sakit harus dikarantina dan dijauhkan dari kerumunan massa, bahkan sanak saudara. Seluruh masyarakat dunia saat  ini terbelenggu kekawatiran akan dampak virus ini.

Bagi insan pendidikan, aktivitas pembelajaran menjadi sektor yang sejak awal terdampak. Tanpa argumen rasional, ilmiah, apalagi faktual, semua pihak tunduk dan patuh mengikuti prosedur protokol kesehatan, khususnya peraturan ‘tinggal di rumah’ ‘stay at home’. Lembaga pendidikan dari tingkat PAUD, TK, SD, SLTP, SLTA bahkan Perguruan Tinggi, semua tak punya pilihan kecuali mengubah sistem pembelajaran ke model daring ‘online’ demi harapan terhindar dari ancaman covid-19 atau memutus mata rantai penyebarannya.

Disadari atau tidak, perubahan metode pembelajaran dari tatap muka ke jarak jauh atau daring telah menggeser  nilai-nilai yang ada dalam proses pendidikan; dari proses menjadi pengajaran. Ada nilai-nilai yang hilang dalam proses pembelajaran daring ini. Di antaranya adalah pudarnya nilai-nilai karakter yang seyogianya ditanamkan oleh pendidik kepada peserta didik.

Tidak seperti pembelajaran tatap muka, model kelas daring tidak mampu mengakomodasi transfer nilai yang hanya bisa disampaikan melalui tutur kata, perilaku, gaya berkomunikasi, bahkan karakter pendidik kepada seluruh peserta didiknya. Padahal, figuritas dan personalitas seorang pendidik sangatlah penting dalam membentuk karakter peserta didik. Secara filosofis, pendidikan adalah proses transfer nilai-nilai ini, bukan semata-mata pengetahuan atau kompetensi akademik yang diwakili dalam gelar ijazah maupun deretan angka pada transkrip nilai. Ijazah beserta dokumen pelengkapnya bukan tujuan utama dari pendidikan.

Tujuan pendidikan adalah proses penemuan jati diri anak didik melalui laku atau yang masyhur disebut ‘ngelmu’ dalam tradisi Jawa. Di zaman modern, lembaga pendidikan berperan sebagai wadah ‘ngelmu’ ini, bukan sekadar pabrik ijazah. Makanya, tidak heran bila K.H. Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional, pernah berkata, “Saya ada bikin sekolah itu tempat buwat cari ngilmu, bukan tempat buwat cari ijazah!” Pendidikan itu hakikatnya adalah transfer pengetahuan atau ilmu pengetahuan dan nilai dalam seluruh aspek kehidupan; sementara pengajaran / mengajar hanya mentransfer pengetahuan dan ilmu pengetahuan saja.  

Bagaimanapun juga, hidup adalah pilihan soal skala prioritas. Inilah realitas yang harus dihadapi oleh dunia pendidikan saat ini. Dalam kondisi pandemi covid-19 ini, pilihan atau prioritas utamanya adalah bagaimana kita berupaya secara maksimal dan seefektif mungkin agar terhindar dari virus tersebut. Usaha yang paling bisa dilakukan oleh siapa saja adalah menghindari kerumunan massa apalagi dalam sekala besar karena penyebaran virus tersebut melalui manusia.

Pemberlakuan physical distancing dan social distancing adalah prioritas utama yang harus dilakukan. Para karyawan dan pegawai termasuk seluruh ASN harus tunduk pada aturan ini. Semua instansi dan institusi memberlakukan work from home, tak terkecuali proses perkuliahan/pembelajaran menggunakan media online sebagai upaya antisipatif terhindar dari pandemi covid-19. Semoga pandemi covid-19 segera berakhir dan untuk yang terakhir kali.