Kisruh di Amerika dan Respons Diaspora Indonesia

Kematian Flyod memobilisasi masyarakat yang sudah muak dengan isu diskriminasi rasial yang telah lama menghantui Negeri Paman Sam, terutama sejak era kepemimpinan Donald Trump.

——Maufur

Demo besar-besaran di Amerika yang kadang disertai dengan aksi penjarahan dan pengrusakan sejumlah fasilitas publik terjadi hampir merata di seluruh negara bagian Amerika. Pemicunya adalah kebrutalan polisi yang makin parah dalam beberapa tahun terakhir ini. Advokasi terhadap isu ini bukan hal yang baru, tetapi emosi publik meledak saat menonton video pembunuhan tragis seorang pemuda kulit hitam, George Flyod, di tangan seorang polisi bernama Derek Chauvin; Flyod meregang nyawa dengan kepala ditindih kaki Derek saat dia diduga melakukan tindakan kriminal (penggunaan uang palsu senilai 20 dollar).

Tak pelak, tagar #WeCan’tBreathe berseliweran di media sosial sebagai bentuk keprihatinan. Alih-alih menenangkan, Presiden Donald Trump memberi komentar yang seolah-olah menyiram bensin pada nyala api yang siap berkobar. Dalam salah satu komentar di akun medsos-nya, Presiden dari Partai Republik ini memanggil para demonstran dengan sebutan ‘thugs’ ‘perusuh’ atau ‘kriminal’; dia juga mengancam akan menurunkan lebih banyak personel keamanan dengan izin tembak di tempat bagi perusuh.

Betul saja, tak berselang lama protes pun membesar dan meluas, terutama dari komunitas kulit hitam. Amuk masa tak terhadang; bentrok polisi dan para demonstran tak terhindarkan. Slogan #BlackLiveMatters kembali berkumandang sebagai bentuk protes terhadap kekerasan dan diskriminasi yang dialami oleh sejumlah warga kulit hitam. Kematian Flyod memobilisasi masyarakat yang sudah muak dengan isu diskriminasi rasial yang telah lama menghantui Negeri Paman Sam, terutama sejak era kepemimpinan Donald Trump.

Saya ingin menyoal bagaimana diaspora Indonesia menyikapi situasi yang demikian. Secara umum, berdasarkan riset kecil-kecilan di sosial media dan diskusi dengan beberapa teman yang tinggal di Amerika, respons diaspora Indonesia terbelah. Hanya saja, saya berfokus pada beberapa respons nyinyir yang menggelitik akal sehat. Argumen dalam tulisan ini berangkat dari dua contoh respons yang saya jaga anonimitasnya di bawah ini. Saya paham betul bahwa kedua kasus ini tidak mewakili suara diaspora Indonesia di sana. Dengan mengulas kedua kasus ini, saya ingin menawarkan refleksi kritis tentang rasisme terselubung (covert racism) yang sering tidak kita sadari.

Tepat di bawah sebuah tautan berita dari FoxNews tentang 50 ATM yang dibakar, seorang diaspora Indonesia mengutuk kejadian itu dan menganggap sebagai kegilaan nirnalar. Dia menyayangkan—dan tentu juga saya sendiri—pembakaran itu. Tapi komentar berikutnya membikin hati ini miris: dia mengatakan bahwa huru-hara itu seharusnya tak terjadi andai setiap orang sadar bahwa hidup mati ada dalam genggaman Tuhan. Bayangan saya bahwa selama ini orang Indonesia yang tinggal di Amerika itu open-minded—jika bukan karena pendidikan, minimal karena tempaan pengalaman tinggal di negara multikultual—jadi ambyar seketika.

Pandangan fatalistik seperti itu seolah hendak mengatakan bahwa Flyod tewas semata-mata takdir Tuhan, maka terimalah dengan lapang dada! Entah apa yang merasuki si pemilik komentar itu. Dia menutup mata bahwa kematian Floyd adalah tidak wajar bahkan bisa digolongkan sebagai pembunuhan—pelakunya pun kini dalam penyelidikan. Dia juga tidak menunjukkan rasa empati terhadap nilai-nilai perjuangan melawan white supremacy yang tengah mewabah sejak era Trump. Bukankah perjuangan mereka itu juga berarti pembelaan terhadap hak-hak kaum minoritas, termasuk orang Indonesia, yang tinggal di sana?

Komentar serupa dijumpai dalam status Facebook dari seorang diaspora Indonesia. Status ini agak panjang dan diawali dengan kalimat klisé soal kebebasan berekspresi dan berpendapat di Amerika Serikat. Tapi seperti komentar pertama, status ini menunjukkan pembelaan terhadap kepolisian. Si penulis menyebut demonstrasi damai telah disusupi para kriminal sehingga berujung kerusuhan, penjarahan, perampokan, bahkan pembunuhan. Dia ingin menunjukkan situasi di sana sudah benar-benar gawat, lawless, anarkis dan penuh teror, seolah-olah akan menjadi akhir dari bangsa besar bernama Amerika.  Sembari memberi puja-puji terhadap kinerja dan kebaikan mayoritas aparat kepolisian di sana, dia menyoal soal desakan ‘defund the police’ yang disuarakan para demonstran. Status ini ditutup dengan menyitir ayat Alquran yang berbunyi: “Janganlah berbuat kerusakan di bumi,” sebuah kutipan yang indah sekali.

Bagi saya pribadi, status di atas adalah bentuk kegagalan melihat sebuah peristiwa dari perspektif yang lebih luas, malah terkesan menyalahkan pihak korban (blaming the victim).  Jika ditelisik, situasi kisruh yang terjadi saat ini di Amerika Serikat tidak bisa dilepaskan dari diskriminasi rasial yang kerap dialami oleh kelompok minoritas, terutama kulit hitam. Lebih jauh lagi, Achmad Munjid (Kompas, 7/06/2020), mengatakan bahwa ketimpangan ekonomi, konstelasi politik yang kian memanas, dan juga kebijakan Trump yang prorasial tertentu adalah biang keladi di balik peristiwa kisruh ini.

Dilansir dari https://www.washingtonpost (4/06/2020) tingkat kesenjangan ekonomi antara kaum kulit putih dan kulit hitam saat ini berada pada titik terendah seperti pada tahun 1968. Selain itu, masih dari laman yang sama, pandemi COVID-19 menjadi pukulan berat terutama bagi kaum kulit hitam di Amerika Serikat. Jadi, banyak faktor di balik peristiwa ini, bahkan bersifat sistemik karena menyangkut kebijakan pemerintah. Melihatnya hanya dari perspektif kericuhan dan penjarahan terlalu menyederhanakan persoalan.

Semua orang juga tidak memungkiri banyak sekali petugas kepolisian di Amerika yang bekerja secara baik dan profesional. Bahkan beberapa gambar beredar di media sosial bagaimana petugas kepolisian bergandengan tangan dan berpelukan dengan para demonstran. Saya pribadi pernah merasakan keramahan dan kebaikan aparat polisi dalam beberapa kunjungan ke sana. Meski demikian, bukan berarti kita harus menutup mata atas rapor merah aparat kepolisian baik sebagai individu maupun kelembagaan. Dalam pandangan saya, kedua diaspora Indonesia di atas memerlihatkan sikap acuh tak acuh—atau, memang tidak tahu—terhadap fakta tingginya angka kekerasan yang dilakukan oleh aparat kepolisian.

Laporan Tucker Higgins (CNBC, 4/06/2020) menyebutkan bahwa selama tahun 2019 rata-rata tiga orang per hari tewas akibat kekerasan yang dilakukan kepolisian. Di tahun yang sama, ada sekitar 1000 kasus pembunuhan yang melibatkan petugas kepolisian dan dari angka itu korban terbanyak (24%) berasal dari kaum kulit hitam. Dilaporkan juga bahwa dari total kasus kematian akibat kekerasan berlebihan oleh aparat kepolisian antara 2013-2019, 99% pelaku tidak dikenai sanksi pidana karena  alasan kekebalan yang memenuhi syarat (qualified immunity).  Maka dengan melihat data ini, kita bisa tunjuk jari siapa sebenarnya yang menjadi korban .

Narasi-narasi sumir dari segelintir orang diaspora Indonesia dalam menyikapi kasus Floyd di atas tidak mewakili kecenderungan diaspora Indonesia secara keseluruhan. Beberapa kawan Indonesia yang saat ini berada di sana memiliki sudut pandang berbeda. Sikap mereka menunjukkan empati dan tidak menghakimi, sambil tetap menyuarakan penolakan terhadap segala bentuk diskriminasi rasial dan kekerasan. Saya yakin masih ada banyak lagi orang diaspora Indonesia yang punya sikap sama seperti mereka, baik yang disuarakan maupun hanya disimpan dalam hati karena pelbagai alasan. Wallahu’alam.

Hidup ‘Selow’ dengan Filosofi Tao

“Setiap orang adalah jenius, tapi jika kamu menilai seekor ikan dari kemampuannya memanjat pohon, maka seumur hidupnya dia akan memercayai kalau dia bodoh”

——Albert Einstein

Pernahkah Anda mendengar ungkapan, “Setiap orang adalah jenius, tapi jika kamu menilai seekor ikan dari kemampuannya memanjat pohon, maka seumur hidupnya dia akan memercayai kalau dia bodoh”? Konon kalimat ini keluar dari mulut seorang fisikawan besar Albert Einstein; tapi tak soal dari mana ungkapan itu berasal. Jika Anda pernah, apa yang pertama kali terbesit di benak Anda?

Kita bisa saja menjadi manusia yang bernasib sama dengan ikan tersebut. Kita menjadi seekor ‘ikan’ yang terlanjur masuk ke dalam kubang penilaian orang lain; kita dibilang tidak punya bakat, tidak terampil, dan bodoh. Penilaian semacam itu tentunya  sangat menyakitkan dan membuat hidup kita tertekan.

Sebaliknya, kita juga bisa menjadi si ‘penilai’ yang secara angkuh mendaku sebagai penguasa atas segala hal. Kita merasa berhak menjatuhkan siapapun dan merusak apapun atas dalih memenuhi keinginan yang sayangnya tidak akan pernah merasa terpuaskan tersebut.

Lalu, bagaimana mengatasi tekanan dan keinginan berlebih sehingga hidup kita bisa damai dan bahagia? Filosofi Tao bisa jadi sebuah jawaban. Filosofi ini mengajarkan kita untuk bisa lepas dari “keruwetan” yang tampak semakin hari semakin berat.

Sebelum itu, mari kita lihat sejenak pengertian filosofi Tao sebagai pondasi pengetahuan untuk mengurai masalah pelik di atas. Taoisme merupakan kepercayaan tua asal Cina. Ia diperkiran telah ada sejak abad ke-6 SM. Tokohnya yang terkenal adalah Lao Zi/Lao Tzu (Pitoyo, 2006). Lao Tzu diyakini juga sebagai pengarang kitab masyhur rujukan penganut Taoisme: Tao Te Ching.

Tao/Dao sendiri berarti “jalan” ; suatu cara untuk bertindak. Konfusius memakai istilah Tao untuk mengacu pada cara bertindak yang benar dalam sekup moral, sosial, dan politik (Creel, 1989). Tao juga bisa diartikan sebagai jalan yang tidak kaku dan luwes; memberi kesempatan kepada manusia untuk mengubahnya sesuai dengan situasi dan kondisi masing-masing (Lasio, 1983). Pengertian di atas memberi arti secara eksplisit bahwa Tao bekerja dalam koridor filsafat etika. Di kalangan filsuf kontemporer, Tao terbagi ke dalam dua macam; Tao sebagai agama (Tao Chiao) dan Tao sebagai filsafat (Tao Chia).

Untuk memahami Taoisme sebagai filsafat etika, perlu merunut pengertian Tao dari sisi metafisika. Tao adalah sumber yang unik dari segala sesuatu; ia polos, tak berkehendak, murni, tanpa tujuan, “spontanitas” (Tzu Jan), dan impersonal (Pitoyo, 2006). Singkatnya, Tao adalah apa yang kita kenal dengan Yang Mutlak ‘Supreme Being’.  Di Jawa, istilah ini mungkin bisa disepadankan dengan ungkapan “Tan Kena Kinaya Ngapa” “Yang Tak Dapat Direka-reka dengan Pikiran” atau “Sang Hyang Suwung” “Yang Tak Terkatakan”.

Tao sebagai prinsip dasar realitas memberi ‘percikan’ kepada seluruh realitas yang ada. Percikan dari Tao disebut juga sebagai “Te”, artinya “daya” atau “kebajikan” (Fung Yu-Lan, 1990). Te terdapat dalam segala benda sebagai kepanjangan “diri” Tao. Dalam buku Chung Tzu Bab II dijelaskan bahwa Te ini pula yang kemudian menempatkan manusia setara dengan belut, ikan, monyet, dan burung (Creel, 1989).

Kebajikan dalam Te tidak diartikan sebagai lawan dari keburukan. Ia lebih tepat dimaknai “sederhana”, “kepolosan”, “kemurnian”, “kewajaran”, dan “kealamian”. Te adalah sintesis dari paradoks alam (Jawa: Rwabinedha) yang kemudian disimbolkan dengan Ying dan Yang. Ia adalah sesuatu yang menangkal segala “keruwetan” yang disebabkan oleh hal-hal yang saling kontradiktif dan berlebihan. Asumsi ini didasarkan pada esensi manusia yang merupakan bagian dari Tao. Te ibarat “rem” yang menghendaki manusia bertindak wajar, alamiah, polos, dan sederhana sesuai watak dari Tao.

Bagi Taoisme, segala hal yang direkayasa itu palsu. Tao sebagai filsafat etika bersumber dari sesuatu yang bersifat metafisik. Ia menegasikan klaim bahwa manusia adalah subjek dari alam semesta yang bisa dengan pongah mengeksploitasi alam dan berperilaku superior atas manusia yang lain.

Secara praksis, Taoisme menawarkan konsep  “wu wei” sebagai solusi atas segala tekanan dan keinginan berlebih manusia. Istilah ini dapat diterjemahkan sebagai “tanpa bertindak”, “jangan berbuat apapun”, “tidak berbuat”, dan “jangan mencampuri” (Pitoyo, 2006). Namun agaknya pengertian ini tidak bisa dimaknai sebagai seruan bersikap pasif saja. Wu wei sebenarnya adalah anjuran untuk bersikap sewajarnya, sesuai dengan kodrat, alamiah, dan tidak mengejar pemuasan keinginan (baca: woles). Konsekuensi dari kewajaran melakukan sesuatu adalah tiada melakukan “agresi” terhadap apapun (Yosef, 1993). Segala sesuatu dibiarkan berlangsung apa adanya tanpa perlu disiasati, dicampuri,  atau dibuat-buat. Sederhananya, wu wei juga dapat diartikan sebagai “bertindak dengan tanpa tindakan”.

Kebijaksanaan wu wei sering diidentikan dengan air. Air adalah unsur terlemah sekaligus terkuat. Maksudnya, kelemahan dapat mengalahkan kekerasan, dan kelembutan dapat mengalahkan kekakuan (Tao Te Ching, Bab 78). Di India, filosofi ini mirip dengan konsep Ahimsa-nya Mahatma Gandhi.

Fahruddin Faiz menjelaskan dalam serial “Ngaji Filsafat” bahwa Taoisme mengajarkan tujuh prinsip: simplicity ‘kesederhanaan’; sensitivity ‘kepekaan’; flexibility ‘kelenturan’; independence ‘kemerdekaan’; focused ‘berpikir jelas’; cultivated ‘matang’; dan joyous ‘gembira’. Penganut Taoisme meyakini ketujuh prinsip ini mampu mendatangkan kehidupan yang bahagian dan alamiah.

Bila Taoisme diilustrasikan sebagai seni bela diri, ia mungkin serupa dengan Aikido asal Jepang. Dalam Aikido, orang bergerak mengikuti gerakan musuh dan sama sekali tidak melakukan perlawanan sedikit pun. Cara mengalahkan musuh bukanlah menyerangnya dengan kekerasan, melainkan secara pasif dan luwes menggunakan kekuatan musuh tersebut  untuk menjatuhkannya di saat yang tepat (Reza, 2010). Silakan temukan Tao Anda!

Pesan Multikulturalisme dari “Upin & Ipin”

Dalam konteks Indonesia, banyak ragam suku, ras, agama, bahasa, dan budaya adalah dua belah mata pisau yang dapat diartikan sebagai sebuah kekayaan dan ancaman sekaligus. Kondisi yang demikian membuat multikulturalisme menjadi penting untuk dipahami dan dihayati oleh seluruh masyarakat Indonesia

Muhamad Fauzi Zakaria

Pandemi yang tak kunjung usai telah menyebabkan ruang gerak semakin terbatas; konsekuensinya pikiran semakin membuncah karena waswas. Saat bosan melanda, masyarakat cenderung beralih pada hobi-hobi yang menyenangkan untuk sekadar mengusir rasa bosan mereka. Baca buku, memasak, mendengarkan musik, menonton film, atau mengikuti wibinar yang sedang menjamur sedikit contoh dari aktivitas pengusir kejemuan.

Saat saya diterpa perasaan bosan, saya biasa mengusirnya dengan menonton animasi di televisi. The Powerpuff Girl, Steven Universe, The Amazing World of Gumball, Ben 10, We Bare Bears, dan Advanture Time adalah beberapa judul animasi yang acap kali saya tonton. Semua judul animasi tersebut  diproduksi oleh Warner Bross asal Amerika Serikat. Walaupun menonton animasi identik dengan tontonan anak-anak, tetapi saya tetap bisa menikmati alur cerita dan sering kali saya dibuatnya tertawa.

Tayangan animasi hasil garapan Amerika dan Jepang ternyata tidak membuat lesu animasi asal negara tetangga, Malaysia; serial Upin & Ipin tidak pernah sepi peminat, termasuk juga di Indonesia. Terbukti sejak pertama kali tayang di Indonesia tahun 2007, serial kartun ini tetap mendapatkan tempat khusus di hati pemirsanya.

Sesekali saya melihat tayangan Upin & Ipin yang disiarkan oleh MNCTV. Lalu saya berfikir “apa yang membuat serial ini begitu spesial sehingga ia tetap eksis di tengah ganasnya persaingan pertelevisian di Indonesia?” Pertanyaan patut diajukan karena animasi asal Malaysia lainnya seperti BoBoBoy dan Pada Zaman Dahulu malah pamornya meredup.

Dalam beberapa artikel dan beberapa jurnal ilmiah, saya menemukan fakta menarik bahwa serial Upin & Ipin mendapatkan apresiasi yang baik di tengah masyarakat. Animasi besutan Les’ Copaque ini dianggap tidak hanya tayangan bergenre komedi saja, melainkan juga berisi edukasi terkait pentingnya pendidikan multikulturalisme. Pendidikan multikulturalisme yang disampaikan dalam Upin & Ipin disajikan dengan apik dan sederhana sehingga mudah diterima oleh masyarakat umum, terlebih anak-anak.

Tokoh-tokoh yang ditampilkan seperti Upin, Ipin, Ijat, Ismail, Mei Mei, Jarjit Singh, Fizi, Ehsan, Rajoo, Devi, Uncle Muthu, Koh Ah Tong, Atuk Dalang, Opah, Kak Ros, Cikgu Yasmin, hingga Susanti berhasil memberikan gambaran hampir utuh tentang keberagaman yang ada di Kampung Durian Runtuh. Hingga hari ini, Upin & Ipin telah diproduksi dalam tiga belas musim dan telah berhasil menyabet banyak penghargaan; salah satunya adalah menjadi Duta Besar Nasional UNICEF Malaysia pada tahun 2013.

Pesan-pesan tentang pentingnya laku hidup yang selaras dengan multikulturalisme dalam Upin & Ipin dapat dilihat dari penyajian alur cerita dan tokoh yang digambarkan memiliki latar belakang suku, ras, agama, serta budaya yang berbeda. Upin dan Ipin yang seorang melayu beragama Islam; Mei Mei seorang anak keturunan Tionghoa yang beragama konghuchu; Jarjit Singh seorang anak keturunan India dan beragama Budha; Susanti seorang murid pindahan asal Indonesia; dan Devi anak dari Uncle Muthu penjual ABCD keturunan India beragama Hindu. Inilah bukti bahwa perbedaan yang menghampar di Kampung Durian Runtuh bukanlah halangan untuk tetap hidup harmonis.

Dalam konteks Indonesia, banyak ragam suku, ras, agama, bahasa, dan budaya adalah dua belah mata pisau yang dapat diartikan sebagai sebuah kekayaan dan ancaman sekaligus. Kondisi yang demikian membuat multikulturalisme menjadi penting untuk dipahami dan dihayati oleh seluruh masyarakat Indonesia; kesadaran akan realitas yang beragam ini bisa meredam terjadinya konflik yang mengatasnamakan identitas, terlebih pada era post truth seperti sekarang ini. Perbedaan pendapat sedikit saja dapat menjadi penyulut konflik besar yang berkepanjangan.

Multikulturalisme hadir sebagai bentuk keyakinan bahwa setiap warga negara memiliki kedudukan yang sama. Daud Aris (2011) menyebutkan bahwa multikulturalisme menjamin warga negara untuk mempertahankan jati diri ‘identity’, memiliki kebanggaan terhadap nenek moyang ‘ancestry’, dan mempunyai rasa memiliki ‘sense of belonging’. Konsep multikulturalisme juga merupakan gerakan alternatif terhadap kebijakan asimilasi yang memaksa perbedaan-perbedaan yang ada untuk melebur menjadi satu budaya tunggal yang sesuai dengan narasi budaya mayoritas (Asworth et. al., 2007).

Michael Foucault (1978) menyebutkan bahwa sebuah wacana ‘discourse’ merupakan bentuk praktik sosial yang dilakukan secara verbal (tutur kata) maupun nonverbal (teks). Dari pengertian yang dikemukakan Foucault di atas, dapat dipahami bahwa setiap wacana pasti mengandung maksud dan kepentingan terpendam ‘ideology’. Serial ini memang kental sekali dengan dominasi kultur Melayu; tentunya ini tidak bisa dilepaskan dari kepentingan untuk mendefinisikan identitas ke-Melayu-an yang sejati dari sudut pandang si produser atau pihak terkait. Dalam konteks audiens di Malaysia, serial ini bisa dibaca sebagai upaya ‘mendisiplinkan’ mereka bagaimana seharusnya orang Melayu itu. Tapi ini bukan fokus tulisan saya di sini.

Wacana dalam Upin & Ipin kemudian tidak hanya ditafsirkan sebagai tayangan animasi komedi semata, melainkan juga membawa maksud tentang nilai-nilai keberagaman yang kental. Pesan-pesan tentang nilai pendidikan multikulturalisme dapat dijumpai di beberapa episode, antara lain adalah “Esok Hari Raya,” “Gong Xi Fa Chai,” dan “Deepavali”. Setiap episode tersebut mengandung nilai toleransi, demokrasi, tolong menolong, pluralisme, keadilan, kesetaraan, humanisme, dan mendahulukan dialog (Heri dan Yeni, 2019). Ipin & Upin bisa jadi tayangan edukasi bagi anak-anak maupun orang dewasa. “Betul, betul, betul!” [MFR]