Laskar Pengung

Tak dulu tak sekarang, karakteristik radikalisme memang menunjukkan cacat logika yang akut

—Heru Harjo Utomo

Dalam khazanah budaya Jawa, orang radikal cukup disebut sebagai “pengung.” Setidaknya, hal itu terekam dalam Serat Wedhatama yang mengawali kupasan sufistiknya dengan pemblejetan karakteristik radikalisme yang saat serat itu ditulis sudah mewabah di Jawa. Secara harfiah, “pengung” bermakna “goblok.” Orang dikategorikan sebagai “goblok” adalah ketika otaknya memang tak pernah dipakai. Jadi, radikalisme, dalam hal ini, memang identik dengan satwa yang bertindak semata karena menuruti insting (Ma-Hyang: Melibatkan yang Silam Pada yang Mendatang, Heru Harjo Hutomo, CV. Kekata Group, Surakarta, 2020).

Tak dulu tak sekarang, karakteristik radikalisme memang menunjukkan cacat logika yang akut (Agama Sipil dan Sesat Pikir “NKRI Bersyariah”, Heru Harjo Hutomo, https://geotimes.id). Yang terkini, “laskar pengung” tersebut kembali memamerkan kegoblokan akutnya dengan tudung isu Palestina yang menurut mereka dapat diselesaikan dengan jihad dan khilafah. Siapa pun pasti terkekeh dan barangkali cukup berucap sinis seperti Kyai Semar ke Bathari Durga dan para bajingannya, “Wis wani wirang?”

Sebagaimana yang kita tahu, khilafah adalah sebuah sistem pemerintahan yang menolak nasionalisme dan demokrasi. Sedangkan permasalahan mendasar Palestina adalah keinginan untuk mutlak diakui sebagai sebuah negara dan bangsa dengan batas-batasnya yang jelas. Karena itu, jelas isu-isu seperti ini memang permainan dari “laskar pengung” yang di Indonesia memang sudah berunjuk gigi dalam hal kegoblokan sejak 2014 (Politik Penyingkapan, Heru Harjo Hutomo, https://alif.id).

Sebagaimana pula yang sudah banyak terjadi sejak 2014, “laskar pengung” semacam ini hanya akan menjelma opera sabun belaka. Mau bertingkah seperti apapun, mulai dari isu-isu yang berbingkai agama maupun politik praktis, pilkada dan pilpres, hasilnya tetap tak berubah karena struktur dan pola pergerakannya juga tak berubah: kegoblokan yang akut. Kita tak pernah tahu keseharian orang-orang seperti itu kecuali di media-media sosial. Di balik kesalehannya yang berapi-api, kehidupan mereka sebenarnya sangat bertolak-belakang (Hikayat Binatang Beragama, Heru Harjo Hutomo, https://jalandamai.net). Ketika tak punya kawan atau tetangga, apa yang biasanya dilakukan orang untuk mengisi kesepiannya? Omong-besar yang tak masuk akal alias umuk dan mencari musuh.

Si pengung nora nglegewa
Sang sayarda denira cacariwis
Ngandhar-andhar angendhukur
Kandhane nora kaprah
Saya elok alangka longkanipun
Si wasis waskitha ngalah
Ngalingi marang si pinging

[Si goblok yang tak sadar
Semakin berkobar dalam berkoar
Sungguh liar kesasar
Segala ujarnya ambyar
Semakin menonjol ketololannya
Si pintar yang jeli mengalah
Menutupi kegoblokan si goblok]

Gerakan-gerakan radikal yang massif dalam hal umuk dan bikin kekisruhan sejak 2014 semacam ini sebenarnya sudah kandheg di Indonesia. Ibarat bajingan yang sudah dalam posisi terdodong, mereka tinggal menanti kesungguhan komitmen kita pada kebhinekaan, Pancasila, dan UUD 1945, dibiarkan bermasturbasi ria membikin kekisruhan atau dieksekusi. Demi kehidupan produktif para anak-cucu di masa mendatang, rasanya opsi terakhir memang sudah semestinya ditempuh. [MFR]

Dosen SAA IAIN Kediri Mengikuti Rakor Penguatan Moderasi Beragama di Jawa Timur

Surabaya; Rapat Kordinasi Pemeliharaan Kerukunan Umat Beragama dan Penguatan Moderasi Beragama yang diselenggarakan oleh Deputi Bidang Kordinasi Peningkatan Kualitas Pendidikan dan Moderasi Beragama Kemenko PMK bekerjasama dengan FKUB Jawa Timur dilaksanakan di Mercure Hotel Surabaya pada 14 April 2021 dengan tetap melaksanakan protokol kesehatan yang ketat.

Hadir dalam acara tersebut peserta dari berbagai elemen tokoh agama dan masyarakat, serta pegiat kerukunan beragama di Jawa Timur, seperti Pengurus FKUB Jawa Timur, Wanita Lintas Iman, FORKUGAMA Jawa Timur, dan Ketua Majelis Tinggi Agama agama di Jawa Timur.

Hadir narasumber pada kegiatan tersebut Asisten Deputi Moderasi Beragama Kemenko PMK Bapak Thomas Ardian Siregar, Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama Kementerian Agama Republik Indonesia Bapak Dr. H. Nifasri, M.Pd, dan Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama Provinsi Jawa Timur Bapak Hamid Syarif.

Dalam kesempatan tersebut Asdep Moderasi Beragama Bapak Thomas Ardian Siregar menyampaikan bahwa Moderasi Beragama bermuara pada kehidupan beragama yang harmonis dan toleran.

“Ada 3 hal yang kita harus perkuat dalam moderasi beragama ini, pertama penguatan wacana yakni penguatan dialektika Moderasi Beragama di ruang publik sehingga moderasi beragama dapat dipahami secaa seimbanh, kedua penguatan regulasi, yakni penguatan pada konsep moderasi beragama yang adil dan non diskriminatif, ketiga penguatan layanan publik yakni tercapainya kepuasan publik terhdap layanan keagamaan oleh pemerintah” ungkap Thomas Ardian Siregar.

Peserta kegiatan sangat antusias mendengarkan apa yang disampaikan oleh narasumber kegiatan, Thoriqul Huda, Ketua Forkugama Jawa Timur menyampaikan bahwa “kita mendapat banyak informasi penting dalam kegiatan ini, terutama berkaitan dengan moderasi beragama, kita mendorong agar moderasi beragama ini juga dapat dipahami dengan mudah oleh pemuda milenial, agar dapat terimplementasikan dalam kegiatan sehari-hari” ujar Thoriq yang juga Dosen SAA IAIN Kediri. [Adm]

Jambang Ideologis: Menyingkap Fenomena Urbanisasi Radikalisme di Indonesia

stuttering cold and damp
steal the warm wind tired friend
times are gone for honest men
and sometimes far too long for snakes
in my shoes a walking sleep
and my youth I pray to keep
heaven sent hell away
no one sings like you anymore

—“Black Hole Sun” (Soudgarden)

Dua lelaki muda tengah berjalan santai menikmati aroma pegunungan. Sesekali mereka terlihat tertawa, entah bicara apa. Tapi ada yang lebih menggelitik saya: jenggot yang menghiasi dagu dan t-shirt yang bertuliskan, alamak, ungkapan-ungkapan yang barangkali mereka pun malas untuk menggalinya lebih dalam.

Bagaimana lelaki semuda itu bisa dengan pede-nya membiarkan dagunya berewokan? Untuk ukuran saya pada masa seusia itu jelas tak normal. Barangkali, mereka menggunakan ramuan khusus. Dan, astaga, ketika saya mantengin facebook tiba-tiba nongol sebuah iklan untuk merangsang pertumbuhan jenggot. Celakanya, t-shirt yang bertuliskan ungkapan-ungkapan yang terkadang mengutip hadis, mahfudhat, dan ungkapan-ungkapan yang secara logis jelas tak nyambung dan terkesan merendahkan menyembul pula sebagai sponsor di Facebook (“Kaos Islami Ahad”). Belum lagi sepotong iklan “Kaos Bersurban 3D” di mana seorang pemuda “gaul” berewokan selera emak-emak nongol dengan berkalung surban—seperti citra laskar mujahidin kontemporer.  

Tahukah mereka bahwa banyak ungkapan yang dipampangkan di berbagai t-shirt itu sebentuk kampanye Islam ala wahabi salafi dan wahabi jihadi? Ketika saya ulik satu persatu iklan di berbagai t-shrit itu ada yang secara gamblang terbaca: “Leave The Beard Just grow it”(sembari ditampilkan sebuah siluet putih menyerupai kepala tanpa wajah, hanya rambut dan jenggot yang menjuntai), “MY PROPHET’S SUNNAH (dengan siluet jenggot pula di bawahnya).” Atau pun yang terang menyajikan “teologi maut” ala ISIS: “Hijrah Adalah Meninggalkan Segala Yang Dilarang Agama,” “Hijrah Tanpa Nanti Sebab Mati Tanpa Tapi,” juga “Barrakallahu Syam Negeri Akhir Zaman/ Syiria, Palestina, Yordania & Lebanon.”

Sedemikian terlambatkah kita untuk menyikapi radikalisme keagamaan di kalangan generasi milenial? Ketika saya menulis “Hikayat Kebohongan I” pada 2017 (https://islami.co), saya hanya menyambangi beberapa muda-mudi dan berdiskusi bebas dengan mereka, dan memang saat itu saya simpulkan bahwa radikalisme Islam telah ngepop. Tapi yang saya tak habis pikir adalah secepat itu gerakan mereka dikooptasi oleh kapitalisme. Maka pada titik ini dapat digarisbawahi bahwa radikalisme keagamaan tak hanya berlangsung di kampus-kampus, perumahan-perumahan kelas menengah, tapi juga sudah merambah “dunia gaul” khas kalangan milenial: ngepub, fashion, mall, café, atau bahkan mapala (mahasiswa pecinta alam). Untuk popularisasi salafi wahabi dan salafi jihadi di dunia perempuan telah saya analisis dalam “Mabuk Bentuk: Antara Komodifikasi dan Radikalisasi Jilbab” (http://jalandamai.org). Logikanya sebenarnya sama pada titik ini, hanya yang membedakan adalah corak fashionnya, antara lelaki dan perempuan.

Bagaimana mereka mendapatkan radikalisasi paham keagamaan seperti itu seandainya di sekolah, kampus, dan perumahan-perumahan kelas menengah tak lagi selonggar dahulu? Mereka berkerumun, belajar sendiri, pusing sendiri. Ada yang memicunya dengan menghujani “lontaran-lontaran verbal” untuk kemudian merembug dan mencarinya bersama-sama. Latar belakang pendidikan keagamaan mereka pun umumnya minim. Mayoritas mereka tak tahu apa itu varian atau tipologi dalam Islam. Mereka memandang bahwa Islam itu hanya satu, tanpa renik, tanpa varian di dalamnya. Tanyailah mereka satu persatu, apa perbedaan NU, Muhammadiyah, sufisme, FPI, IM, HTI, misalnya. Mereka pasti bungkam.

Saya tak anti jenggot, tentu saja, apalagi produk-produk t-shirt yang berhiaskan tulisan-tulisan nyleneh. Tapi, yang tak habis saya pikir, kenapa mesti menggunakan alasan-alasan keagamaan di baliknya? Logikanya, apakah seandainya tak berewokan menandakan ketakpatuhan pada nabi?

Saya pribadi jemu sesungguhnya dengan perdebatan-perdebatan yang tak pakai akal sehat semacam ini. Kita menghadapi sebuah generasi yang nalar kritisnya sudah dibunuh terlebih dahulu, malas bertanya cepat menghakimi, generasi yang secara physically “gaul,” tapi secara nalar dan wawasan jumud. Kini mereka telah bertransformasi menjadi gerakan counter culture yang sebenarnya alasannya tetaplah klasik: dunia yang mereka pandang kian hari kian bobrok.

Persebarannya pun saya kira tak seperti di masa lalu, di zaman para senior-seniornya, tapi sudah serupa gerakan-gerakan counter culture: worldview, pola interaksi, fashion, dan bahkan musik yang khas. Halaqah di masa lalu kini sudah mereka transformasikan menjadi semacam gigs. Dan ingat, gerakan-gerakan counter culture berupaya “menguasai” ruang publik dengan menciptakan trendsetting, maka mereka pada dasarnya berkiblat atau mendudukkan figur-figur tertentu sebagai trendsetter untuk melangsungkan eksistensi dan agenda mereka. Persis gerakan grunge yang membutuhkan figur Kurt Cobain, Chriss Cornell, ataupun Eddie Vedder. Di tangan generasi ini sikap anti-kultus ternyata hanyalah gincu. Generasi inilah yang secara serius menggoreng figur-figur semacam Felix Siauw ataupun Hanan Attaki yang memenuhi standar mereka supaya tetap eksis. Bagaimana pun mereka tetap membutuhkan figur-figur tertentu untuk diikuti, mulai dari cara pandang hingga fashion. Terlalu jauh untuk menyimpulkan bahwa tauladan mereka adalah nabi. Sebab, untuk mengembalikan cara berpikir mereka, kombinasi jenggot, t-shirt dengan berhiaskan kutipan-kutipan hadis, dan ngepub, adalah sebentuk bid’ah. Dan celakanya, tak seperti cara berpikir nahdhliyyin, tak ada bid’ah hasanah dalam otak mereka. Dengan demikian, untuk membunuh seekor ular orang mesti menghancurkan kepalanya terlebih dahulu daripada ekornya—sebelum terlanjur “tua”. []

Cewek Bercadar Tidak Sangar

Dari obrolan di banyak perjumpaan saya dengan perempuan-perempuan bercadar di Poso, saya tak merasa diintimidasi apalagi dihantui kecemasan bahwa saya akan disakiti. Mereka asyik dan sangat friendly.

—Khoirul Anam

Bagi sebagian orang, cadar yang dikenakan perempuan muslim masih dianggap sebagai ancaman. Saking mengancamnya, tak sedikit negara di Eropa yang melarang penggunaan cadar di tempat-tempat umum. Prancis, Belgia, Belanda, Swiss, Nigeria hingga Norwegia sudah beramai-ramai mengeluarkan larangan penggunaan cadar. Bahkan di Indonesia, Menteri Agama Fachrul Razi sempat mempersoalkan penggunaan cadar di kalangan pegawai negeri. Kain gelap yang menutup sebagian muka itu dianggap sebagai alarm bahaya.

Bagi Nevi (bukan nama sebenarnya), ketakutan terhadap cadar yang dikenakan perempuan merupakan sikap yang berlebihan. Sebabnya, ia mengaku satu-satunya alasan ia mengenakan cadar adalah perintah agama; tak ada niat untuk menakut-nakuti orang lain.

“Ini kan perintah syariat,” kata dia dalam sebuah obrolan ringan di kantor Pesantren Islam Amanah Putri, Tanah Runtuh, Poso belum lama ini.

Nevi hanyalah satu dari ratusan santri perempuan lain di Amanah yang mengenakan cadar. Baginya, cadar (niqab) adalah pelindung terbaiknya dari maksiat. Karenanya ia mengaku nyaman dengan niqabnya dan tak berniat untuk menanggalkannya.

“Ada beberapa pendapat sebenarnya di Islam tentang cara berpakaian muslimah, tetapi saya memilih mengenakan niqab karena merasa nyaman,” kata Nevi menjelaskan alasannya.

Pimpinan Yayasan Wakaf Amanatul Ummah yang membawahi pesantren Islam Amanah, Haji Muhammad Adnan Arsal mengaku tak pernah mewajibkan penggunaan cadar bagi santri dan ustazah di pesantrennya, ia bahkan melarang pengurus dan santri pesantren memaksakan penggunaan cadar, namun jika dengan mengenakan cadar mereka merasa aman dan nyaman, pihaknya tentu tak akan melarang.

“Saya tidak pernah mewajibkan itu, bahkan saya larang kalau ada yang memaksakan santri untuk pakai cadar, tapi kalau mereka merasa nyaman, merasa lebih cantik, dan aman dari melakukan maksiat, ya silakan,” jelas dia.

Nevi mulai mengenakan cadar sejak kelas dua SMP atas kemauannya sendiri. Ia mengaku sudah lama memerhatikan muslimah-muslimah lain yang mengenakan cadar di lingkungannya, ia tertarik dan akhirnya memutuskan untuk ikut mengenakan kain penutup yang hanya menyisakan mata itu.

“Sebenarnya ya panas, tapi karena sudah terbiasa, jadi ya biasa saja,” kata dia saat ditanya bagaimana rasanya mengenakan niqab, model pakaian yang menjulur dari atas kepala hingga pangkal kaki.

Hal senada juga disampaikan Sari, perempuan yang mengajar di pesantren Amanah ini merasa niqab adalah pelindung dirinya yang paling lengkap. Pakaian ini disebutnya tak hanya mampu menutupi aurat, tetapi juga melindunginya dari melakukan maksiat.

Ia dan rekan-rekannya di pesantren mengaku tak pernah ambil pusing terkait tuduhan yang menyebut perempuan bercadar cenderung tertutup, tidak friendly atau bahkan radikal, “Cuekin saja,” katanya sambil tertawa.

Sari, Nevi, Intan, Ana, Fitri, Lia, Lala, Susan dan banyak lagi perempuan di Poso merasa cadar tak pernah membatasi mereka dalam bergaul. Mereka mengaku tetap terbuka dan mudah berteman dengan siapa saja. Sementara soal radikalisme dan terorisme, mereka sepakat menolak paham-paham yang mengajarkan kekerasan.

Di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah ada ratusan perempuan muslim yang mengenakan cadar sebagai pakaian keseharian mereka. Warga pun tampak sudah mulai terbiasa dengan model pakaian yang sebenarnya baru mulai marak dikenakan usai konflik komunal antara massa Kristen dan muslim sejak 1998 lalu.

Beberapa pengurus di Pesantren Islam Amanah menyebut cadar tak pernah menjadi penghalang bagi para santri untuk berprestasi. Santri-santri Amanah bahkan beberapa kali sampai di level-level tertinggi Musabaqah Qiraatil Kutub (MQK) yang mengantar mereka hingga ke banyak daerah untuk bertanding, seperti Batam, Jepara, dll.

Bukan Simbol Poligami

Pandangan miring lainmya yang kerap dialamatkan ke perempuan bercadar adalah poligami, yakni bahwa perempuan yang mengenakan cadar gampang ditinggal nikah lagi. Tentang ini, Sari bereaksi keras. “Semua perempuan sebenarnya sama, nggak mau diduakan. Berat,” kata dia.

Meski begitu, Sari mengaku bahwa poligami adalah bagian dari syariat agama. “Jadi, kalau suami mau nikah lagi, Anda dipoligami, mau nggak?”

“Nggak mau!”

Obrolan dengan perempuan-perempuan bercadar ini berjalan lancar, mereka tak tampak kaku apalagi menghindar. Beberapa pengajar pria yang turut dalam obrolan itu menyebut cadar bukan penghalang, artinya para perempuan ini tetap bisa berinteraksi seperti biasa. Cadar lebih berfungsi sebagai pembatas, ia membatasi pergaulan laki-laki dan perempuan yang bukan mahram agar tak sampai pada level yang bukan-bukan.

Dari obrolan di banyak perjumpaan saya dengan perempuan-perempuan bercadar di Poso, saya tak merasa diintimidasi apalagi dihantui kecemasan bahwa saya akan disakiti. Mereka asyik dan sangat friendly.

Jadi, siapa yang bilang perempuan bercadar sangar? mainmu kurang jauh!