Selamat Jalan Syekh Ali Jaber

“Saya menyaksikan sendiri bagaimana konflik di Timur Tengah disebabkan oleh mereka yang tidak mau menerima perbedaan. Jika di suatu bangsa sudah tidak aman, pasti akan lama mengembalikan keamanan itu,”

—– Syekh Ali Jaber

Berita wafatnya Ali Saleh Mohammed Ali Jaber atau yang lebih dikenal dengan Syekh Ali Jaber cukup mengagetkan saya pagi ini. Ulama muda berusia 44 tahun yang juga seorang hafiz Alquran dan sering diminta menjadi juri pada acara-acara lomba pembacaan Alquran berpulang begitu cepat. Beliau adalah orang dari Madinah, Saudi Arabia yang sudah berkewarganegaraan Indonesia dan mendedikasikan dirinya untuk umat muslim di Indonesia. Beliau adalah seorang dari sedikit ulama yang cukup menyejukkan umat. Indonesia kehilangan seorang ulama yang saya rasa bisa merekatkan kebinekaan yang sudah terkoyak selama ini.

Pluralitas, kemajemukan atau kebinekaan adalah keniscayaan bagi bangsa Indonesia. Perbedaan di  Indonesia ini cukup lengkap, mulai dari suku, agama, ras hingga antargolongan (SARA). Suku yang ada di Indonesia juga sangat beragam, mulai dari Batak, Jawa, Madura, Sumatera, Dayak, Bugis, Nusa Tenggara, Maluku, Papua, dll. Agama juga seperti itu; ada enam agama yang saat ini diakui oleh pemerintah. Agama mayoritas memang Islam, tapi pemeluk Kristen Protestan, Katolik, Hindu, Buddha dan Konghucu juga tidak sedikit.

Kemajemukan lain juga terlihat dalam keragaman lain, yaitu mulai dari masyarakat yang berpendidikan tinggi, hingga masyarakat yang tidak pernah merasakan pendidikan, mulai dari masyarakat yang sering bepergian ke luar negeri, hingga masyarakat yang hidupnya nomaden, dari hutan ke hutan, mulai dari masyarakat berkulit putih Dayak, hingga masyarakat berkulit hitam Papua, dsb.

Begitulah kemajemukan yang ada di negara ini, sungguh lengkap dan memang bukan perkara mudah untuk bisa diikat dalam suatu negeri. Meski bangsa memiliki semboyan Bineka Tunggal Ika sejak lama, tetapi belakangan ini mulai terkoyak akibat ulah kelompok tertentu yang dengan sengaja ingin merusaknya dan mengganti ideologi negara dengan ideologi berdasarkan agama tertentu, ditambah lagi belakangan ini berkembang “politik identitas” yang memaksakan kesamaan (keseragaman) sikap antikemajemukan/intoleran.

Sumanto al Qurtubi, seorang cendekiawan muslim Indonesia pernah mengatakan bahwa bibit-bibit intoleran itu dibawa oleh kaum islamis. Harap dicatat kaum islamis ini berbeda dengan umat Islam secara umum. Kaum islamis ini adalah para praktisi (baik individu maupun kelompok) islamisme yang oleh Bassam Tibi, professor ahli Islam di Universityof Gottingen, Jerman, dalam  Islamism and Islam didefinisikan sebagai a political ideology based on a reinvented version of Islamic law”.

Dengan kata lain, dasar, basis atau fondasi yang digunakan oleh kelompok islamis untuk membangun “islamisme” atau “ideologi Islam politik” ini bukanlah hukum Islam atau syariat Islam itu sendiri, melainkan sebuah pemahaman kembali, tafsir ulang atau rekonstruksi atas sejumlah diktum dalam hukum Islam atau syariat tadi yang disesuaikan dengan konteks dan kebutuhan politik di mana kaum islamis itu berada. Itulah sebabnya kenapa visi, platform, agenda dan tujuan berbagai kelompok islamis di berbagai negara itu berlainan antara satu dan lainnya.

Meskipun berlainan, kaum Islamis ini memiliki ciri-ciri umum, yaitu mempropagandakan sekaligus memaksakan (pemahaman) keislaman versi mereka agar dipraktikkan di pemerintahan maupun masyarakat. Sebagian lagi gigih ingin mengganti sistem politik-pemerintahan yang ada dengan sistem politik-pemerintahan yang mereka idealkan dan imajinasikan, baik dalam bentuk khilafah atau “Negara Islam” dan lainnya. 

Ciri mendasar lain dari kaum islamis adalah tidak mau kompromi dengan pluralitas karena keragaman dianggap dapat menghambat cita-cita mewujudkan ideologi Islam politik yang mereka usung. Keberagaman dipandang menghalangi tujuan membumikan “Syariat Islam” yang orisinal menurut versi mereka. Kebinekaan dianggap sebagai momok yang bisa merintangi tujuan menegakkan “Islam kafah” (tentu saja menurut versi mereka).

Bagi kaum islamis ini, masyarakat harus dibuat singular alias homogen untuk memuluskan jalan bagi tegaknya Islam yang sesuai dengan amanat, mandat Alquran dan Sunah Nabi (lagi, tentu saja Alquran dan Sunah Nabi menurut versi dan tafsir mereka). Dengan demikian, bagi kelompok islamis, singularis (bukan pluralis) adalah kunci utama bagi suksesnya merealisasikan jenis keislaman yang mereka dambakan dan idealkan.

Oleh karena itu, karena wataknya yang antipluralis, di mana pun kelompok ini bercokol, mereka akan selalu mengampanyekan jenis, pemahaman, dan praktik keislaman yang seragam dan sama dengan bentuk, tafsir dan praktik keislaman yang mereka lakukan.

Jelas sekali gerakan ini sangat berbahaya bagi keutuhan negara Indonesia ini yang dulu dengan darah diperjuangkan oleh para pendiri bangsa ini. Kita perlu tokoh-tokoh, baik tokoh pemerintah, tokoh agama, tokoh masyarakat dan tokoh-tokoh lainnya untuk bisa menjadi perekat dan pemersatu bangsa ini. Semoga terus bermunculan tokoh-tokoh pemersatu bangsa agar bisa menjaga dan merawat bangsa yang sedang terkoyak ini. Peran masyarakat atau penduduknya juga tentu diperlukan guna mewujudkan cita-cita luhur tersebut. Salah satu yang saya rasa sanggup menjadi tokoh pemersatu adalah Syekh Ali Jaber.

Syekh Ali Jaber sering menyampaikan dalam ceramah-ceramahnya agar Indonesia tidak menjadi seperti beberapa negara Islam mengalami konflik berkepanjangan. Menurutnya, konflik yang terjadi di Suriah, Yaman, Iraq, Mesir dan negara Timur Tengah lainnya pada awalnya disebabkan oleh perbedaan politik. Negara di Timur Tengah sulit menerima perbedaan hingga pada suatu hari konflik pecah dan sampai sekarang tidak kunjung ada perdamaian.

Pernah saya mendengar pada suatu ketika, beliau berkata, “Saya menyaksikan sendiri bagaimana konflik di Timur Tengah disebabkan oleh mereka yang tidak mau menerima perbedaan. Jika di suatu bangsa sudah tidak aman, pasti akan lama mengembalikan keamanan itu,” kata Ali Jaber.

Oleh karenanya, dia berpesan agar segenap masyarakat Indonesia untuk selalu menjaga keamanan negara. Dia memuji kehidupan di Indonesia yang beragam baik dari segi suku, bahasa dan agama namun tetap bisa menghormati sehingga tidak ada konflik. Dia mencontohkan Afghanistan yang hanya mempunyai tujuh suku namun sampai sekarang masih dilanda konflik.

“Saya salut dengan Indonesia karena bisa menghormati perbedaan. Saya juga kemarin lihat banyak orang ramai mencoblos calon kepala Daerah namun tetap dalam kondisi aman. Mudah-mudahan yang seperti ini tetap dijaga,” pesannya.

Dalam ceramahnya, Syekh Ali Jaber selalu menyampaikan dengan santun dan mengayomi, beliau berusaha merangkul semua pihak agar tidak fokus kepada perbedaan yang ada, tetapi kepada persamaan yang bisa merekatkan. Tidak banyak ulama seperti ini di Indonesia, karena kebanyakan ulama yang sering muncul justru merasa apa yang diketahuinya adalah hal yang benar dan sering kali menyalahkan pendapat yang berbeda dengannya.

Ulama-ulama seperti itu justru berbahaya bagi negara Indonesia yang sangat majemuk ini. Mungkin mereka tidak paham bahwa di Indonesia hidup enam agama, 187 kelompok penghayat kepercayaan, 1331 suku, 652 bahasa daerah dan ada lebih dari 400.000 organisasi kemasyarakatan. Dengan kemajemukan seperti itu, kita memerlukan tokoh-tokoh agama yang tentunya bisa mengayomi dan merekatkan semua kemajemukan tadi.

Selamat jalan Syekh Ali Jaber, Indonesia sangat berduka dan merasa sangat kehilangan seorang tokoh agama yang secara ilmu mumpuni dan bisa mengayomi dan merekatkan bangsa [MFR].

Ramah Gender Bersama TikTok

Ruang gerak antara perempuan dan laki-laki tidak terbatas hanya pada persoalan jenis kelamin. Mereka dapat mengeksplorasi apapun dalam diri mereka sesuai dengan kehendak yang mereka miliki selama tidak merenggut atau melukai hak-hak orang lain.

—- Datin Rafiliah

Dengan globalisasi, kemajuan teknologi menjadi sesuatu yang tidak bisa dihindari. Kehidupan manusia pada abad ke-20 semakin dipermudah dengan berbagai kecanggihan teknologi. Hampir setiap elemen masyarakat dapat mengakses informasi dari berbagai belahan dunia. Seiring dengan berkembangnya teknologi internet, media sosial menjadi salah satu yang memiliki andil besar dalam memberikan kemudahan bagi manusia untuk berkomunikasi dan bersosialisasi.  Pola komunikasi yang terjadi pun tidak hanya pada komunikasi dalam lingkup yang kecil, namun juga pada level yang lebih tinggi. Dengan media sosial,  masyarakat dapat berpartisipasi, berbagi, serta menuangkan segala ekspresi dalam bentuk tekstual juga nontekstual.

Zaman yang semakin maju menuntut semua pihak di segala sektor untuk terus up-to-date tentang segala hal. TikTok menjadi salah satu parameter di dalamnya.  Aplikasi yang dirilis di Tiongkok pada 2016 kini telah merebak ke seluruh penjuru dunia dan menghiasi layar kaca setiap smartphone. Bahkan, di tengah himbauan stay at home selama pandemi corona, TikTok menjadi pilihan hiburan  untuk menghabiskan waktu di rumah. TikTok sebagai jaringan sosial dan  platform video pendek yang sebelumnya banyak digunakan di kalangan remaja, kini telah banyak digunakan oleh orang dewasa. Keindahan-keindahan visual yang ditonjolkan menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat.

Pengguna TikTok biasanya memposting video pendek yang berdurasi kurang lebih 60 detik, bahkan seringkali hanya 15 detik. Pengguna sering memamerkan keterampilan menari diiringi musik juga  pembuatan video yang dilengkapi dengan fitur-fitur menarik. Namun, di tengah merebaknya virus TikTok, muncul pula berbagai ragam streotipe yang menghiasi stigma masyarakat, terutama kepada para lelaki pengguna TikTok. Stereotip mengarah pada label yang kurang baik atau negatif sehingga laki-laki mendapat “cap” yang tidak menyenangkan, dari mulai “alay”, “jijik”, bahkan “banci”. Joget viral yang dihadirkan TikTok bahkan tak sedikit menimbulkan keresahan di antara teman dekat sesama laki-laki.

Berbagai respons mencuat di kalangan masyarakat, memberikan kesan bahwa TikTok diperuntukkan bagi kaum hawa. Stereotip atau pelabelan negatif melalui ciri maupun sifat personal yang melekat pada jenis kelamin tertentu tentu saja menyulitkan, merugikan, membatasi, hingga memiskinkan golongan itu sendiri. Teman penulis sendiri mengisahkan bagaimana dia merasa kurang nyaman karena mendapat perlakuan buruk dari sesama temannya, hanya karena dia kerap kali mengunggah video yang disertai efek dan musik melalui aplikasi TikTok.

Titik persoalan terletak ketika laki-laki dengan lemah gemulai menirukan berbagai macam gerakan “joget” yang ditawarkan oleh aplikasi tersebut. Fenomena demikian merupakan hasil dari paradigma masyarakat yang memandang aplikasi TikTok hanya tepat digunakan oleh perempuan sebagai salah satu alat untuk membentuk identitas diri.  Identifikasi TikTok dengan dunia perempuan menjelma sebagai pola pikir yang dikonsumsi masyarakat , sampai-sampai jika ada pria yang mengunggah video “joget” TikTok kerap dianggap pria feminin.

Joget atau tarian hingga kini terlanjur mendapat stigma feminin. Senada dengan Irma Setya Ningsih dalam www.mitrakuliah.com, gerakan feminin pada tarian hanya boleh dilakukan oleh perempuan, sedangkan gerak maskulin hanya boleh dilakukan oleh kaum lelaki. Kaum lelaki yang menari dengan gerak feminin dipandang tidak pantas, bahkan tidak jarang sebutan banci dialamatkan pada pelakunya. Padahal, seni tari bersifat universal yang nyatanya bisa dilakukan semua orang, meskipun tidak semua orang bisa menari. Sebagaimana tidak semua perempuan bisa bergerak dengan feminin, tidak semua lelaki juga bisa melakukan gerak maskulin. Bahkan, tidak semua penari laki-laki ‘berperilaku banci’ pada kehidupan sehari-hari.

Pelabelan ini mirip dengan stigma warna pink yang diberikan terhadap laki-laki. Melansir dari tulisan Sammy Mantolas di tirto.id, tak jarang laki-laki yang berpakaian pink dianggap kemayu. Bahkan, banyak orang menganggapnya aneh karena ada cap bahwa pink adalah warna perempuan. Maka sejak bayi, semua sudah dikapling-kapling. Untuk bayi perempuan, kamar, baju, pernak-pernik, atau kadonya berwarna pink. Untuk bayi laki-laki, dipilih biru, atau warna lain yang lebih maskulin selain pink. Hingga dewasa, pemikiran bahwa pink adalah warna wanita pun melekat kuat. Tapi ada kalangan yang berani menabrak persepsi umum ini. Mereka percaya diri melakukan aktivitas yang dianggap maskulin dengan mengenakan pernak-pernik berwarna pink.

Walau dengan ragam motif, kaum lelaki pengguna TikTok dan penyuka warna pink bisa jadi hanya ingin mengekspresikan kebebasan untuk berkarya secara totalitas serta menyalurkan potensi yang mereka miliki. Sebagaimana tuduhan masyarakat selama ini, perilaku mereka tidak harus dimaknai sebagai pelanggaran terhadap kodrat mereka sebagai laki-laki. Mengutip Mohammad Farirudin dalam sebuah jurnal, stigma semacam itu bisa digolongkan sebagai bentuk ketidakadilan gender, yakni ketidakadilan atau diskriminasi yang bersumber pada keyakinan gender. Ketidakadilan gender terjadi di mana-mana dan terkait dengan banyak faktor, mulai dari kebutuhan ekonomi, budaya, dan lain lain.

Sejatinya, persoalan gender sudah ada sejak jaman nenek moyang kita. Ia adalah masalah lama yang sulit untuk diselesaikan tanpa ada kesadaran dari berbagai pihak yang terkait. Oleh sebab itu, bentuk-bentuk pemikiran bias yang masih dilanggengkan di masyarakat perlu disegarkan dan dirombak. Setiap individu punya hak dalam mendefinisikan diri, termasuk bagaimana ia menciptakan dunianya untuk bisa berkarya dan berekspresi tanpa menerima stereotip negatif  yang berdampak pada mental. Lebih-lebih lagi, perlu kita tanamkan pula bahwa ruang gerak antara perempuan dan laki-laki tidak terbatas hanya pada persoalan jenis kelamin. Mereka dapat mengeksplorasi apapun dalam diri mereka sesuai dengan kehendak yang mereka miliki selama tidak merenggut atau melukai hak-hak orang lain.[MFR]

Menakar Potensi Media untuk Agama di Masa Corona


Di antara potensi ancaman media bagi agama adalah penyebaran berita bohong (hoax), info sampah, pengaburan realitas, kemunculan para “pseudo-ulama”atau “ulama-ulama karbitan” yang hanya bermodal kepiawaiannya bermedia walau tanpa akar keilmuan yang jelas, hingga hilangnya kontrol terhadap simbol-simbol keagamaan.

Fazlul Rahman

Semenjak makin merebaknya Covid-19 di Indonesia, yang diikuti dengan pelbagai kebijakan pembatasan, kondisi keagamaan masyarakat Muslim Indonesia menunjukkan fenomena “new normal”; banyak Muslim dari pelbagai kalangan semakin intens berinteraksi dengan media untuk kepentingan kegiatan dan urusan keagamaan mereka. Terlepas dari faktor pembatasan yang ada, atau memang latah, menarik untuk mempertanyakan bagaimana media berkontribusi terhadap agama (secara umum), dan bagaimana kemudian masyarakat Muslim Indonesia menyikapi potensi media terhadap agama tersebut.

Interaksi Media dan Masyarakat Muslim

Hubungan masyarakat Muslim dengan media sejatinya bukanlah fenomena baru. Di masa-masa awal kemunculan media di belahan penjuru dunia, masyarakat Muslim menunjukkan sikap hati-hati, bahkan terkesan resistan. Hal ini terlihat dari fakta sejarah yang menunjukkan bahwa mesin cetak baru diperkenalkan di Kekaisaran Turki Usmani pada abad ke-19 oleh Ibrahim Muteferrika; artinya, 500 tahun setelah Guttenberg memperkenalkan mesin cetak dan 400 tahun setelah diperkenalkan pertama kali di kalangan Umat Kristen. Salah satu penyebabnya adalah adanya penolakan dari kalangan pemuka agama. Jika diteliti lebih lanjut, penulis melihat setidaknya terdapat tiga hal yang mendasari sikap pemuka agama; kultural, theological iconophobia, dan kepercayaan terhadap sakralitas bahasa Arab.

Berbeda dengan penyambutannya di masyarakat Arab, Muslim Indonesia menyongsong kehadiran media dengan tangan lebih terbuka. Penggunaan media-media kesenian oleh para Wali Songo pada masa-masa awal dakwah Islam di Indonesia menguatkan hal tersebut. Adopsi “media populer” selanjutnya di kalangan masyarakat Muslim dapat dilacak dari awal kemunculan kaset-kaset ceramah semisal Dai Sejuta Umat (alm.) KH. Zainuddun MZ, dll. Berlanjut dengan kemunculan radio-radio yang bernafaskan Islam yang kemudian semakin mendorong kehadiran koran-koran, buku-buku, majalah-majalah, tv, hingga terakhir media sosial.

Fenomena interaksi media dan masyarakat keagamaan ini telah banyak menyita perhatian para sarjana dan riset-riset tentang hal tersebut telah banyak dipublikasikan, di antaranya karya George N. Atiyah yang berbicara tentang buku di Dunia Islam, Charles Hirschkind yang membahas tentang kaset-kaset ceramah di masyarkat Muslim, Gary Bunt yang meneliti tentang pengaruh Internet terhadap pola keberagamaan masyarakt Muslim dan konsepsi mereka tentang “ummah”, dan lain-lain.

Kontribusi dan Ancaman Media bagi Agama

Interaksi dan hubungan baik agama dan media sejatinya didasarkan pada adanya hubungan resiprokal yang saling menguntungkan antar keduanya. Salah satu potensi nyata yang dimiliki media untuk agama adalah kemampuan menyebarkan pesan keagamaan yang signifikan. Selain itu, dalam konteks media Internet, Dawson pada awal tahun 2000-an menunjukkan bahwa Internet dapat menguatkan kesadaran keagamaan, membangun komunitas-komunitas keagamaan baru, dan bahkan memfasilitasi kegiatan-kegiatan ritual keagamaan di dunia virtual.

Potensi-potensi tersebut di sisi lain tidak lepas dari berbagai ancaman yang muncul, di antaranya: penyebaran berita-berita bohong (hoax), info-info sampah, pengaburan realitas, kemunculan para “pseudo-ulama”atau “ulama-ulama karbitan” yang muncul karena kepiawaiannya bermedia walau tanpa akar keilmuan yang jelas, hingga hilangnya kontrol terhadap simbol-simbol keagamaan.

Melihat potensi dan ancaman media di atas, pertanyaan yang muncul kemudian adalah bagaimana kita sebagai bagian masyarakat keagamaan menakar hal tersebut? Menurut KBBI, ‘menakar’ berarti mengukur kadar untuk kemudian membatasi jumlahnya; dalam konteks bermedia pada masa Corona ini berarti berusaha mengukur potensi-potensi yang dimiliki media bagi agama untuk kemudian kita maksimalkan, dan mengukur ancaman-ancaman yang ada untuk kita minimalisasi. Untuk menganalisa ini, penulis meminjam metode analisa SWOT.

Analisis SWOT Potensi Media Internet untuk Agama di Masa Corona

Sebagaimana analisa SWOT pada umumnya, ada dua faktor yang harus dilihat dalam menakar potensi media untuk agama di masa Corona ini, yaitu internal dan eksternal. Internal di sini berarti kekuatan (S) dan kelemahan (W) yang ada pada internal produk media untuk agama. Dan eksternal berarti kondisi eksternal di luar media, yaitu peluang-peluang (O) dan ancaman-ancaman (T) yang berada di sekitar kita. Untuk analisis ini, penulis mengkhususkan pada media Internet yang banyak digunakan pada masa Corona ini.

Di bagian terdahulu, penulis telah menunjukkan beberapa poin penting potensi yang dimiliki media dan ancamannya terhadap agama. Untuk kelemahan media, setidaknya penulis melihat beberapa hal yang menjadi kelemahan internal: pertama, bahwa media pada dasarnya adalah alat yang sangat bergantung pada kualitas teknis. Jika ia didukung oleh perangkat yang baik secara teknis maka hasilnya pun akan lebih maksimal, namun jika sebaliknya, maka media menjadi tidak berguna. Contoh sederhana adalah kebutuhan media terhadap daya listrik. Media sebaik apapun jika tidak didukung ketersediaan daya listrik maka menjadi barang yang tidak dapat digunakan.

Kelemahan selanjutnya adalah bahwa data-data yang tersimpan dalam media sifatnya temporer dan mudah sekali overload. Kita tahu betapa informasi-informasi mengalami bahkan dituntut untuk terus diperbaharui atau ‘di-update’. Informasi-informasi yang awalnya viral bisa saja kemudian tenggelam tertimbun oleh info-info yang lebih menarik yang datang belakangan. Selain masalah teknis tersebut, kelemahan sumber daya masyarakat juga menjadi satu kelemahan internal yang tidak dapat dipungkiri dalam hal ini.  Kelemahan internal lainnya adalah bahwa media merupakan barang yang netral. Ia bersifat value-free. Baik dan buruknya sangat bergantung bagaimana pengguna (user) memanfaatkannya.

Di sisi lain, dari aspek eksternal, penulis melihat ada beberapa peluang yang jelas berada di hadapan kita pada masa Corona ini; pertama, momentum Ramadan dalam pembatasan. Kebijakan pembatasan di pelbagai wilayah di Indonesia ini merupakan momentum penting bagi media untuk dapat berperan secara maksimal dalam melayani kebutuhan-kebutuhan masyarakat, termasuk kebutuhan keagamaaan mereka. Hal ini ditambah dengan momentum Ramadan di mana umat Islam dianjurkan untuk mengisi waktu mereka dengan kegiatan-kegiatan keagamaan. Peluang lainnya adalah bahwa para pemuka agama saat ini sebagian besar sadar akan potensi media yang akhirnya merestui dan turut menggunakan media untuk kegiatan keagamaan. Hal ini menjadi potensi penting mengingat bahwa dahulu masyarakat Muslim sempat “terhalang” oleh restu ini.

Peluang lain yang tak kalah penting adalah keterjangkauan biaya. Kita tahu, saat ini biaya akses Internet sudah jauh lebih terjangkau dibandingkan dengan masa-masa awal kemunculannya. Pilihan paket-paket kuota bersahabat bisa kita sesuaikan dengan kebutuhan dan keadaan kantong kita. Potensi terakhir yang dapat penulis lihat adalah fenomena eksistensi media yang berada di mana-mana (media is ubiquitous). Sebagaimana argumen Mark Deuze bahwa saat ini kita tidak hanya hidup dengan media (living with media), tetapi juga hidup di dalam kehidupan bermedia (living in media life), maka media menjadi hal yang bisa kita temukan di mana-mana bahkan telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan kita termasuk kehidupan beragama kita.

The AXE Effect untuk Masa Depan Hubungan Media dan Agama

Untuk dapat menakar secara tepat, langkah selanjutnya dari analisa SWOT ini adalah dengan mengkaji empat poin penting, yaitu: pertama, bagaimana (S) dapat memanfaatkan (O) yang ada? Kedua, bagaimana memanfaatkan (S) agar dapat mengatasi (T)? Ketiga, bagaimana mengatasi (W) yang kita miliki untuk bisa mendapatkan (O)? Keempat, bagaimana meminimalisasi (W) untuk mencegah (T) dari luar?

Penulis dalam hal ini menyerahkan langkah terakhir ini kepada subjektifitas pembaca, karena penulis yakin setiap orang atau kelompok mempunyai situasi dan kondisi yang berbeda dalam menjawab dan menganalisa poin-poin tersebut di atas.  Sebagai gantinya, penulis ingin menutup tulisan ini dengan jargon yang dimunculkan oleh salah satu produk perawatan tubuh, AXE: Kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah Anda”.

Jargon tersebut bagi penulis sangat relevan untuk dapat menjawab bagaimana masa depan hubungan media dan agama. Kesan pertama Internet bagi kita umat beragama, pada masa-masa “new normal” ini, begitu menggoda. Banyak dari kita yang terpincut dengan fitur-fitur dan potensi-potensi yang bisa kita manfaatkan untuk agama dan untuk keagamaan kita. Lantas, bagaimana ke depan? Apakah hubungan mesra ini akan terus berlangsung setelah masa Corona? Jawabannya: “Selanjutnya, terserah Anda!” [MFR]