Pak Shobir dalam Ingatan Saya

Berdiskusi dengan Pak Shobir menawarkan cara pandang lain dan menyadarkan saya untuk berimbang dalam menelaah secara kritis baik wacana keislaman maupun Barat.

—– Mubaidi Sulaiman

Pada 15 Februari 2021, tepat pukul 06.04 ada sebuah pesan masuk di WAG Alumni Perbandingan Agama (sekarang SAA–red.) STAIN Kediri angkatan saya. Pagi itu lebih cerah dibanding beberapa pagi sebelumnya. Tiba-tiba hari berubah kelabu gegara pesan tersebut. Seorang teman alumni memberikan kabar duka bahwa sekitar pukul 04.30 WIB, Bapak Drs. KH. Muhammad Shobiri Muslim, M.Ag telah meninggal dunia.

Pertemuan awal saya dengan beliau terjadi sewaktu saya menempuh S-1 di Prodi Perbandingan Agama pada 2009-2013. Beliau selalu tampil rapi, lengkap dengan setelan jas berangkat ke kampus untuk mengampu sejumlah mata kuliah, seperti Kristologi, Orientalisme, Oksidentalisme, dan Perkembangan Teologi Kristen Modern.

Ada kejadian lucu saat itu.  Di STAIN Kediri, khususnya di Prodi Perbandingan Agama, terdapat mata kuliah tentang agama lain dan biasanya diberikan oleh kalangan penganut agama tersebut. Ada Pak Totok, seorang Penyuluh Agama Buddha, yang mengajar mata kuliah Buddhisme, dan juga Pak Yuliana, seorang Pananditha, mengajar Hinduisme. Kami sempat mengira Pak Shobir seorang pastor yang hendak mengajar kami. Alasannya, beliau berpakaian rapi layaknya seorang pastur dan gaya bicara beliau bak seorang pastur yang berkhotbah. Apalagi, beliau sangat fasih dan hafal melantunkan ayat-ayat yang terdapat dalam injil beserta hapal nomor surat dan urutan ayat-ayatnya. Kami pun kaget dan tertawa saat beliau bernama Muhammad Shobiri Muslim dan mengaku berdakwah di beberapa masjid milik Pemerintah Kota Kediri.

Saya memang cukup dekat dengan beliau meski tidak tahu banyak tentang kehidupan pribadi beliau. Sampai saat ini saja, saya tidak tahu nama istri dan anak-anak beliau, meskipun hampir setiap bulan saya sempatkan untuk menemui beliau untuk “mencuri” ilmu yang tak sempat beliau sampaikan di kelas. Kebetulan juga rumah beliau yang berada di Dusun Grogol Kelurahan Singonegaran berada satu arah dengan perjalanan saya dari kampus menuju ke Pondok Salafiyah Bandar Kidul tempat saya bermukim bersama dengan teman-teman mahasiswa PA penerima beasiswa Kemenag waktu itu.

Mungkin beliau bukan satu-satunya dosen yang dekat dengan mahasiswanya. Tetapi pintu rumah beliau selalu terbuka bagi mahasiswa yang ingin berkunjung dan berdiskusi. Hal ini mungkin sangat jarang kita temui pada dosen-dosen muda saat ini, termasuk saya. Di sela-sela kesibukan beliau berdakwah dan mengajar di beberapa kampus, beliau selalu menyempatkan waktu untuk membuka ruang diskusi di rumah beliau dengan kami para mahasiswanya.

Saya memang bukan satu-satunya mahasiswa yang dekat dengan beliau, bahkan bisa dikatakan ada yang lebih dekat secara personal dengan beliau. Akan tetapi, saya bangga pernah menjadi mahasiswa beliau dan memiliki keterikatan secara emosional dengan beliau. Beliau juga yang mendorong saya dan beberapa orang teman untuk melajutkan studi S-2.

Beliau dikenal sebagai salah satu dosen yang selalu rapi dengan setelan jas saat mengajar, penyabar dan bersahaja, dan pergi meninggalkan kenangan yang mungkin sulit untuk dilupakan sebagai gambaran ideal seorang dosen sekaligus ulama. Beliau begitu dekat dengan para mahasiswanya; tak jarang beliau mengundang mahasiswa untuk berdiskusi di rumahnya. Koleksi buku di rumah beliau membuat saya iri, dan suasananya pun bahkan jauh lebih nyaman dibandingkan di perpustakaan kampus pada waktu itu.

Di dinding rumah beliau tersusun rapi berbagai macam buku yang saya tak tahu pasti berapa jumlahnya karena saking banyaknya. Satu ruangan tak cukup menampung koleksi buku yang beliau punya. Saya ingat ada dua ruang seukuran ruang tamu (bentuknya seperti rumah joglo kuno), berdinding penuh rak dan lemari buku. Satu ruang paling belakang biasanya dibuat untuk ruang pribadi beliau dan keluarga untuk bersantai dan membaca buku. Satu ruang lagi diperuntukkan untuk tempat diskusi dengan kami para mahasiswanya. Ruang diskusi itu pun dikelilingi buku-buku yang jumlahnya mengagumkan. Beliau yang saya kenal memang “gila buku”. Jika ada buku terbaru terkait ilmu perbandingan agama ataupun Kristologi, beliau selalu memberi tahu kami. Bahkan, beliau di kelas maupun di rumah sering menyarankan kami untuk membaca-baca buku ini dan itu.

Istri beliau pun juga gila buku. Sering kali saat datang ke rumah beliau, saya selalu disambut oleh istri beliau dengan menenteng sebuah buku di tangan. Tak jarang ketika saya bertamu ke rumah beliau, saya harus menunggu beliau beberapa saat di ruang diskusi yang penuh dengan buku karena jadwal beliau yang sangat padat dalam satu minggu. Beliau tidak hanya mengajar di STAIN Kediri saja waktu itu, tapi juga di beberapa kampus di luar kota. Belum lagi, beliau menjadi ketua FKUB Kabupaten Kediri dan Ketua MUI pada waktu itu. Pun demikian, beliau selalu menyediakan waktu untuk bertemu pada hari Sabtu sore sekitar pukul 15.00 sampai pukul 17.00.

Beliau dikenal sebagai sosok dosen senior yang teguh dengan prinsip. Pemikiran beliau khas kebanyakan alumni Pondok Modern Gontor yang dikenal getol membela pemikiran Islam vis-a-vis Barat yang begitu melekat dalam orientalisme periode awal. Ketika berdiskusi dengan beliau terkait orientalisme maupun tentang Kristologi, kita seolah juga sedang bertukar pikiran dengan KH. Zamarkasy Dhofier, Ahmad Deedat, Zakir Naik dan Adian Husaini. Beliau menawarkan lawan tanding bagi wacana liberalisme Islam yang tengah menggeliat di lingkungan kampus kala itu.

Pada waktu itu, saya memang lebih suka membaca buku-buku “kiri” dan karya-karya orientalis yang dengan mudah bisa saya dapatkan di perpustakaan kampus maupun saya beli sendiri. Saat itu bisa dikatakan saya dan beberapa teman tergila-gila atau gandrung dengan buku-buku karya pemikir Barat terkemuka, seperti Karl Marx, Theodor Adorno, Nietzche, Ludwigh Feuerbach, Jurgen Habermas, Montgomerry Watt, H.A.R Gibbs, Snouck Horgronje, Marshal Hudson, Mark Jurgen Mayer,  Charles Kuzman dan lain sebagainya. Berdiskusi dengan Pak Shobir menawarkan cara pandang lain dan menyadarkan saya untuk berimbang dalam menelaah secara kritis baik wacana keislaman maupun Barat yang saya tekuni.

Menjelang lulus S-1 di STAIN Kediri, intensitas saya untuk bertemu beliau menjadi sangat berkurang. Saya seperti hilang kontak dengan beliau karena sempat beberapa kali nomor HP beliau berganti. Kesibukan menulis skripsi dan menyiapkan studi S-2 pada waktu itu membuat saya jarang bertemu dengan beliau. Kalaupun bertemu, itu hanya terjadi ketika Hari Raya Idul Fitri dan untuk tujuan silaturahim. Tentu saja, situasi dan perbincangan sangat berbeda.  

Karena kesibukan kerja dan penyelesaian S-2 di Surabaya, saya sudah hampir tidak pernah lagi mengunjungi beliau di rumah. Saat ingin sowan ke rumah beliau tahun lalu, pandemi datang dan saya pun mengurungkan niat saya.  Beberapa waktu lalu, saya masih sempat menanyakan kabar beliau meskipun lewat teman-teman yang masih sempat bertemu dengan beliau. Terakhir menjenguk beliau adalah saat beliau pulang dari opname di rumah sakit.

Saya sempat juga saya mencuri-curi dengar tentang kondisi beliau dari para jamahnya yang aktif mengikuti kajian rutin beliau di beberapa masjid. Sebuah penyesalan bagi saya belum sempat bertemu beliau untuk sekadar berterima kasih dan menyambung silaturahim sebelum akhirnya beliau kembali ke Sang Khalik. Saya dan teman-teman kini hanya bisa mendoakan beliau serta mengamalkan ilmu yang beliau ajarkan.

Terima kasih Bapak Shobir. Bapak adalah teladan bagi kami; “orang tua” yang akan selalu kami rindukan. Semoga kelak kita bisa berkumpul kembali. Aamiin.[MFR]

“Sugeng Tindak Mas…”

Obituari Buat Alm. Drs. H.M. Nur Akhlis, M.Pd.

Aku mengenalmu sudah sejak tahun 90an….
Engkau tampan sejak dulu….juga sangat sopan…akhlaq yang tercermin dari tutur sikapmu…Mengaji, berorganisasi dan belajar dengan motivasi tinggi menjadi keseharianmu…
Meski tampan sampean tidak sombong….meski pinter bahasa asing tidak merasa inggil….

Kita bertemu saat sampean dan istri mengajariku bahasa Inggris, Meski kemampuanku kanak-kanak, kau memperlakukanku  seolah aku pintar…

Tiba-tiba kita dipertemukan di IAIN Kediri…..
Kampus yang membesarkanku dan juga sampeyan….
Kala bersama di Lembaga Bahasa…..saat sampeyan jadi ketuanya  ..

Sampeyan terpaksa beli rokok….hanya untuk membuat kami-kami perokok tidak segan….Kini saat aku harus di Lembaga Bahasa…..kesopananmu terasa sulit  ditiru….Jika harus mengingatkan…kekhilafan…sampeyan pura-pura bertanya…..

Saat saat begini…
Saya kangen senyum canda dan terbahak sampeyan yang tak lekang oleh waktu…. Tentu ..para mahasiswa akan mengingat sampeyan…kebaikan di kelas dan diluar itu…Kata mereka….sampeyan tak pernah marah…..
Tugas yang terlambat pun sampeyan terima…dengan biasa
Mungkin aku tak mampu melakukannya….atau belum..

Mas Akhlis….
Segenap kolega di kampus terkejut mendengar kepergianmu….
Sampeyan memang sibuk….di rumah punya kursusan, pengurus masjid agung, sekretaris yayasan, pembimbing umroh….dan apalagii. ..saya ndak tahu….Hampir semua kegiatan sampeyan di luar berasa sosial….tak mendapat bayaran….

Kami maklum jika  kita jadi jarang bersua….
Akhir-akhir ini…sampeyan sempat mengeluhkan sakit….yang “ndak diroso”….Tapi sakit itu pula yang membuat sampeyan ke kampus hanya untuk ngajar seperlunya….

Tapi Selasa lalu….setelah lama tak bersua….
Sampeyan pergi selamanya ….setelah pulang dari kegiatan Diklat Haji  di Surabaya….

Tugas yang seharusnya sampeyan emban di musim haji…tahun ini…
Sampeyan memang orang baik Mas….tidak heran Gusti Allah lebih cepat memanggilmu….

Di saat  genting seperti ini….
Saya pengin datang menghormatmu untuk terakhir kali … ingin mensholatimu se khusu’  mungkin, membisikkan tahmid, tasbih, tahlil di dekat jasadmu…. mengantarmu pulang ke pemakaman….
Maaf kan yo Mas…semua orang melarang….semuanya mencegah…
.

Maaf yo Mas Akhlis……
Aku hanya berdòa untukmu dari rumah……
Aku yakin tinggal kemuliaan yang sampeyan dapatkan di hadapan-Nya…Aamiiin…Sugeng tindak mas……!

Kediri, 26 Maret 2020