Bincang Santai tentang Yahudi di Indonesia

Yahudi, Kristen, dan Islam adalah tiga agama besar di dunia yang memiliki garis geneologis yang sama, yaitu Nabi Ibrahim. Makanya, ketika agama ini seringkali disebut sebagai agama Ibrahimik. Ketiga agama besar ini memiliki landasan teologis yang sama, yaitu monoteisme sekalipun memiliki kekhasan pada aspek penerapan. Sekalipun bersaudara, sejarah mencatat bahwa hubungan ketiga agama ini penuh dengan dinamika, mulai dari dialog hingga konflik. Bahkan, sejumlah konflik yang melibatkan tiga agama ini berujung pada hilangnya ribuan nyawa manusia baik karena klaim kebenaran masing-masing ataupun karena faktor eksternal semisal politik.

Di Indonesia, hubungan Yahudi dan Islam juga mengalami pasang surut. Sekalipun Yahudi di Indonesia termasuk minoritas dan dianut oleh sejumlah kecil orang Indonesia, isu Yahudi kerap menyeruak dalam setiap kontestasi yang melibatkan agama. Istilah-istilah seperti ‘konspirasi Yahudi’ dan ‘Yahudi Musuh Islam’, misalnya, kerap menghiasi wacana di Indonesia baik di dunia nyata maupun dunia maya. Selain isu-isu teologis, konflik Palestina-Israel juga seolah-seolah semakin melanggengkan narasi besar bahwa orang Yahudi dan Muslim itu sulit akur dan selalu saling curiga. Tidak heran jika di Indonesia jarang sekali dialog atau kerjasama lintas agama yang melibatkan dua agama ini.

Acara stadium generale ini dilaksanakan dengan tajuk “Yahudi di Indonesia”, dengan pembicara Rabbi Yakuv Baruch, berlangsung pada Selasa (15/12/2020) secara daring melalui Google Meeting.

Acara ini dihadiri oleh sekitar 100 peserta yang berasal dari civitas akademika IAIN Kediri maupun luar dan masyarakat umum.

Rabbi Yakuv Baruch memulai presentasi dengan memaparkan sejarah kedatangan Yahudi di Indonesia, sebelum, selama, pascakemerdekaan RI. Setelah itu, dia menjelaskan pengetahuan umum tentang Yahudi, mulai dari doktrin keagamaan hingga ritual, khususnya di Indonesia.

Sesi tanya-jawab berlangsung intens antara peserta dan nara sumber. Isu-isu tentang Israel, hubungan Yahudi dengan Islam dan Kristen mengemuka. Antusiasme peserta membuat acara ini berlangsung lebih lama dari yang dijadwalkan karena banyak pertanyaan yang muncul. Acara serupa dianjurkan untuk dilakukan di masa-masa yang akan datang.

Kuliah Tamu: Semesta Simbol Yoga

Perhatian orang pada yoga tidak terlepas dari maraknya gaya hidup beragama di tanah air ini. Sebagian orang menganggap itu karena adanya peningkatan kesadaran orang yang beragama pada hal-hal yang subtil. Pada orang-orang tersebut, agama tidak melulu dipahami hanya sebatas simbol dan teks, tetapi lebih kepada hakikat atau esensi, yaitu sifat kerendahan hati pada sesuatu yang transenden, atau kepasrahan kepada kebenaran mutlak.

Dalam dunia saat ini, Yoga tidak hanya menjadi media untuk menumbuhkan spiritualitas tapi juga sarat dengan kepentingan ekonomi. Suburnya pusat-pusat meditasi dimanfaatkan oleh sebagian kalangan untuk mengeruk keuntungan dengan melakukan komodifakasi terhadap simbol-simbol Yoga yang bertebaran di media sosial maupun iklan-iklan. Kuliah tamu ini dimaksudkan untuk mengenalkan mahasiswa terhadap simbol-simbol utama dalam Yoga dan bagaimana ia beririsan dengan kepentingan ekonomi.

Acara kuliah tamu ini dilaksanakan dengan tajuk Semesta Simbol dalam Yoga: Spiritualitas dan Konsumerisme” dengan pembicara Yuddhi Widdyantoro dan berlangsung secara online pada Senin (07/12/2020).

Yudhi Widyantoro menjelaskan simbol-simbol utama dalam Yoga melalui slide presentasi. Simbol-simbol Yoga dilihat dari perspektif teori analisis wacana Roland Barthens. Setelah itu, nara sumber memaparkan bentuk-bentuk komodifikasi simbol Yoga oleh sejumlah pusat meditasi Yoga di perkotaan. Acara ini dihadiri oleh peserta yang berasal dari civitas akademika IAIN Kediri dan umum, terutama mahasiswa.