Mengasuh Bersama Ayah

Tugas yang hanya bisa diemban oleh ibu seorang diri hanyalah melahirkan, sementara pengasuhan harus dilakukan bersama pasangan. Lebih berimbang dan memiliki dampak yang lebih signifikan.

——Nurul Intani

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, mengasuh adalah menjaga, merawat dan mendidik anak. Karenanya, mengasuh tak sama dengan membesarkan anak. Mengasuh dapat diartikan menemani anak bertumbuh dan berkembang; tak hanya anak yang dituntut untuk bertumbuh dan berkembang, tetapi juga orangtua.

Norma yang berlaku di sebagian besar masyarakat kita masih memandang tugas pengasuhan secara timpang, di mana hanya ibu yang dibebani dengan tugas ini, sementara ayah tak memiliki banyak ‘kepentingan’ untuk urusan pengasuhan. Ayah dipandang lebih wajib untuk mencari nafkah dan memimpin keluarga. Hal ini tentu berpengaruh pada sedikitnya peran ayah dalam proses pengasuhan.

Padahal mengasuh adalah tugas orangtua; ayah dan ibu. Anak yang dibesarkan dalam pola pengasuhan timpang cenderung tidak dapat berkembang secara maksimal. Ada banyak penelitian soal ini, terutama yang memberikan titik tekan khusus pada ketidakhadiran ayah dalam pengasuhan. Pada 2014, Sara McLanahan bersama tim melakukan penelitian dengan tema “The Causal Effects of Father Absence”. Hasilnya cukup mencengangkan, ketidakhadiran ayah dalam proses pengasuhan berimbas negatif terhadap perkembangan anak.

Anak-anak yang tumbuh tanpa sosok ayah disebut tak memiliki kemampuan sosial-emosional yang baik. Hal ini berimbas langsung pada kesehatan mental, kepercayaan diri, pencapaian di bidang pendidikan, pembentukan karakter, kesulitan dalam membangun hubungan keluarga dan akhirnya, kendala dalam menentukan karir atau mendapat pekerjaan saat dewasa kelak.

Tujuh tahun sebelumnya, tepatnya pada 2007, University of Guelph di Kanada sudah melakukan penelitian dengan tema besar “The Effects of Father Involvement: An Updated Research Summary of the Evidence”. Hasil dari penelitian ini menegaskan bahwa keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak memainkan peran yang sangat signifikan terhadap perkembangan anak, baik secara sosial, emosi, fisik maupun kognitif.

Penelitian itu juga memaparkan bahwa anak yang turut diasuh oleh ayahnya sejak dini memiliki kemampuan kognitif lebih baik ketika memasuki usia enam bulan hingga satu tahun. Selain itu, mereka juga memiliki nilai IQ yang lebih tinggi ketika menginjak usia tiga tahun serta berkembang menjadi anak dan individu yang mampu memecahkan permasalahan dengan lebih baik.

Karenanya, keterlibatan ayah dalam proses pengasuhan anak seharusnya bukan lagi menjadi pilihan, melainkan kewajiban. Ayah tentu tak harus hadir 24 jam sehari dalam kehidupan sang anak –terutama karena ayah harus pula bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga— tetapi peran aktif ayah dalam menemani tumbuh kembang anak tak boleh lagi dipandang sebelah mata. 

Berikan Kepercayaan pada Ayah

Umumnya, banyak ibu yang berharap agar pasangannya terlibat dalam pengasuhan anak, meski tak sedikit dari mereka yang enggan memberikan kekuasaan penuh pada pola pengasuhan yang diterapkan ayah. Muncul banyak kekhawatiran atau bahkan ketakutan terhadap pola asuh yang diterapkan ayah. Hal ini lantaran ayah lebih memberi kebebasan terhadap anak.

Saat anak bermain lompat-lompatan misalnya, ayah akan cenderung membiarkan anak untuk bereksplorasi, termasuk untuk menerima resiko; jatuh atau pakaian menjadi kotor. Maka tak jarang, anak yang bermain bersama ayah cenderung lebih mudah mengalami luka fisik atau pulang dengan pakaian yang tak lagi bersih.

Hal inilah yang mendorong banyak ibu untuk tak memberikan kepercayaan terhadap ayah untuk ikut mengasuh anak, padahal justru dengan pola asuh yang berbeda ini, anak menjadi lebih mandiri dan berani mencoba hal-hal baru.

Menurut psikolog Rini Hildayani MSi, ada beragam manfaat positif yang dapat dipetik ketika anak dekat dengan ayahnya. Berikut manfaat kedekatan ayah dengan anak beserta penjelasan singkatnya masing-masing:

1. Menjadi Pribadi yang Baik

Kedekatan ayah dan anak dapat membangun kelekatan emosi di antara keduanya. Anak lelaki akan meniru peran ayah dalam menjalin hubungan dengan lawan jenis dan cara mengasuh anak-anak mereka kelak. Pada anak perempuan, kedekatan dengan ayah menjadi referensi dalam mencari sosok pendamping di masa depan. Kedekatan ayah dan anak juga membuat anak tumbuh lebih mandiri, berani, tangkas, dan luwes.

2. Mengembangkan Soft-skill Anak

Kedekatan ayah juga berperan besar dalam aspek kognisi, motorik, dan keterampilan bersosialisasi. Dari aspek kognisi, ayah dapat melatih daya nalar, daya ingat, wawasan, daya tangkap, dan kemampuan memecahkan persoalan. Ayah berperan dalam melatih cara berteman yang baik dan beradaptasi. Ayah juga dapat melatih anak untuk mematangkan emosinya.

3. Meningkatkan Hubungan Emosional

Anak yang dekat dengan ayahnya akan belajar untuk menghargai dirinya dan orang lain dari bentuk perhatian ayah kepada anaknya. Usahakan ayah selalu menciptakan waktu khusus untuk anak-anaknya.

4. Peran Ayah Penting untuk Masa Depan Anak

Dengan memberikan yang terbaik bagi anak-anak, waktu yang cukup dan berkualitas, kelak anak pun akan memberikan hal yang sama bagi ayah di kemudian hari.

Karenanya, para ibu seharusnya tak perlu terlalu khawatir terhadap pola asuh anak. Sama seperti ibu, ayah juga pasti menyayangi anak-anak mereka, meski kerapkali ditunjukkan dengan cara yang berbeda. Luangkan lebih banyak waktu untuk berdiskusi tentang pola asuh terbaik untuk anak bersama ayah lalu beri ayah kepercayaan dan dorongan untuk turut menemani anak bertumbuh dan berkembang.

Berbagi Peran

Berbagi waktu untuk terlibat dalam mengasuh anak tidak selalu berarti meluangkan separuh waktu bersama anak, untuk ayah yang sangat sibuk hal tersebut tentu bukan perkara mudah. Ayah bisa saja melakukan hal-hal sepele yang sebenarnya bisa membantu meningkatkan kedekatan dengan anak. Misalnya dengan meminta ayah untuk mengganti popok, membacakan buku sebelum tidur, sesekali memandikan, makan bersama dan melakukan aktivitas-aktivitas kecil yang tidak terlalu menyita banyak waktu.

Hal-hal kecil yang dilakukan berulang-ulang akan memiliki dampak yang lebih signifikan dibandingkan dengan hal-hal besar yang dilakukan jarang-jarang. Anak pun akan tahu bahwa ayah mereka selalu hadir. Dengan begitu, ikatan antara ayah dan anak akan semakin kuat dengan sendirinya. Selain itu, berbagi peran juga menjadi sarana komunikasi yang baik antara orangtua.

Pembagian peran antara ayah dan ibu di tiap keluarga tentu berbeda-beda, tak semua keluarga memiliki ayah yang bisa pulang setiap hari, tuntutan pekerjaan setiap ayah tentu tak ada yang sama.

Karenanya bisa jadi, anak akan tetap menghabiskan lebih banyak waktu dengan ibu. Dalam kondisi seperti ini, maka ayah harus diberi waktu-waktu tertentu untuk lebih dekat dengan anak.

Saat ayah tak lagi sibuk kerja, pastikan ia menghabiskan lebih banyak waktu dengan anak. Pastikan pula anak mengerti soal kondisi ini, sehingga anak tak merasa dinomorduakan. Hal ini berlaku pula untuk ayah dan ibu yang sudah tak lagi hidup bersama (bercerai); sisihkan waktu-waktu tertentu yang disepakati untuk tetap mengambil peran dalam pengasuhan anak. anak-anak harus tahu dan merasakan bahwa dalam kondisi apapun, mereka tetap disayangi dan diutamakan.

Tugas yang hanya bisa diemban oleh ibu seorang diri hanyalah melahirkan, sementara pengasuhan harus dilakukan bersama pasangan. Lebih berimbang dan memiliki dampak yang lebih signifikan.[MFR]