Traveling Manusia-Manusia

Traveling bukanlah hal sepele; tidak hanya soal perjalanan dari satu tempat ke tempat lainnya. Traveling adalah soal kehidupan dan penghidupan, soal keimanan dan proses meneguhkan keimanan dengan pengetahuan.

—– Hijroatul Maghfiroh

Ketika koronavirus memukul mundur umat manusia ke dalam kotak berbatas bernama rumah, barulah manusia sadar betapa sekadar ke luar rumah, apalagi traveling —melakukan perjalanan ke tempat baru—adalah salah satu aktivitas yang sangat berharga, menggairahkan dan penuh makna.

Untuk menguak kerinduan traveling, netizen rame-rame membuat gerakan memposting foto-foto kenangan ketika melakukan perjalanan. Saya yakin gerakan tersebut tidak hanya kerinduan mereka untuk mendatangi tempat baru, tapi lebih dari itu ia merupakan kerinduan akan sejarah dirinya.

Hampir bisa dipastikan sebagian besar dari kita pernah melakukan perjalanan, traveling. Sejarah umat manusia memang tidak bisa dipisahkan dari traveling. Lihatlah masa awal manusia pada zaman praaksara; mereka hidup berpindah-pindah, ‘traveling’, mengikuti sumber makanan atau yang kita kenal dengan nomaden. Bahkan awal peradaban manusia yang lazim diketahui berada di Mesopotamia, konon manusianya pun masih hidup seminomaden.

Seiring dengan gerak maju peradaban manusia, berkembang pula pengetahuan. Biasanya dalam perkuliahan filsafat dasar, kita akan disuguhi tentang sejarah peradaban pengetahuan Yunani kuno. Di sana terpancang tonggak awal pergeseran pola pikir manusia yang sebelumnya mitosentris menjadi rasional, dan kelahiran ilmu pengetahuan melalui filsafat. Salah satu tokoh filsafat awal di era ini adalah Thales yang konon mengobrak-abrik cara berfikir masyarakat Yunani yang masih ‘menyembah’ mitologi. Nah, konon Thales, yang juga seorang saudagar, sangat gemar melakukan traveling; dia bahkan pernah melakukan lawatan ke Mesir, salah satu kota peradaban kuno yang letaknya tentu tidak dekat dari Yunani.

Tidak hanya para filsuf yang melakukan traveling, para nabi dan pembawa risalah keagamaan-pun tidak bisa dipisahkan dari pengembaraan, ‘traveling’. Baik perjalanan mendapatkan wahyu maupun menyebarkan ajaran kebaikan yang mereka imani.

Sebut saja Hindu. Agama yang tercatat dalam sejarah sebagai salah satu agama tertua di dunia ini juga merekam banyak pembawa risalah melalui traveling. Agama ‘politeis’ (memuja banyak dewa) ini tidak memiliki tokoh sentral seperti agama-agama yang sering kita kenal. Tapi justru dalam serpihan rekaman sejarah, agama ini tersebar luas melintasi batas-batas benua, tentu melalui perjalanan para pembawa ajarannya. Tidak hanya itu, ajaran Hindu—yang meyakini banyak Dewa dan tempat suci—mendorong pengikutnya akrab dengan tradisi ziarah, ‘traveling’, ke tempat-tempat yang diyakini penuh berkah dari para Dewa-Dewi.

Begitu juga agama yang dianggap dekat dengan Hindu, yaitu Buddha. Kelahiran agama ini justru karena ‘pelanggaran’ sang pendiri, Siddharta Gautama, melakukan perjalanan ke luar istana. Dalam perjalanan tersebut beliau menemui empat keadaaan manusia: orang sakit, orang tua, orang mati, dan pertapa. Perjalanan ke luar istana pertama itulah yang mengilhami Sang Buddha melakukan pengembaraan lebih jauh, ‘traveling’, meninggalkan jabatan, harta dan keluarganya. Berbeda dengan Buddha, Konfusius bukanlah ‘pencipta’ agama yang dikenal di Indonesia sebagai Konghucu. Dia ‘hanyalah’ penyempurna tatanan nilai-nilai bijak bestari sebagai penuntun kehidupan. Dia menyebarkan ajaran etikanya dengan melakukan pengembaraan, ‘traveling’. Konon dia berjalan kaki  hingga puluhan tahun menyampaikan tuntunan nilai kebajikan dalam hidup.

Traveling tidak hanya dijumpai dalam tradisi agama-agama ‘bumi’. Agama-agama ‘langit’ pun sangat bergantung pada pengembaraan para pembawa risalah dalam menyampaikan ajaran ketauhidan. Untuk memudahkan dan menyingkat pembahasan, kita akan melihat bagaimana ‘traveling’ ini menjadi bagian tak terpisahkan dari para Nabi Ulul Azmi—para nabi yang diberi keteguhan hati—dalam  menemukan keesaan Tuhan.

Nabi Nuh alaihi salam dan sedikit pengikutnya diselamatkan Allah SWT dari banjir dahsyat dengan ‘traveling’ menggunakan perahu besar. Kita semua pasti akrab dengan banyak kisah pencarian Tuhan oleh Nabi Ibrahim alaihi salam. Setelah menghancurkan berhala, mencari jejak ilahi pada alam semesta, Ibrahim diusir oleh ayahnya yang menurut banyak kisah tidak mengimani ajarannya hingga akhir hayat. Ibrahim pun melakukan perjalanan jauh bersama istri setianya, Sarah.

Berbeda dengan Ibrahim, Nabi Musa alaihi salam justru melakukan perjalanan sejak masih bayi. Dia diselamatkan oleh Ibunya dari rencana pembunuhan si penguasa lalim, Firaun. Musa pertama kali melakukan ‘traveling’ menyusuri sungai Nil hingga akhirnya diselamatkan oleh perempuan mulia lainnya yang tak lain istri Firaun sendiri.

Musa dewasa kemudian meninggalkan kota dan keluarganya, melakukan perjalanan ke Madyan—konon sekarang antara Syiria dan Saudi Arabia—yang berjarak 1000 km dari Mesir tempat Musa tinggal saat itu. Di sana ia berguru kepada Nabi Syuaib, dan akhirnya menikahi putri gurunya tersebut. Setelah lama menetap di Madyan, Musa kembali ke Mesir, dan konon dalam perjalanan kembali itulah Musa menerima wahyu pertama di Gunung Sinai.

Perjalanan Nabi Isa lebih heroik lagi. Bahkan sejak dalam kandungan perempuan mulia, Maryam, Isa alaihi salam melakukan perjalanan untuk pengasingan dari tanah kelahirannya. Di perbukitan Bethlehem, Palistina, Nabi Isa kemudian dilahirkan. Tidak seperti nabi ulul azmi lainnya yang melakukan perjalanan ketika menyebarkan risalah kenabian, Nabi Isa, menurut banyak versi, hingga saat ini masih ‘dalam perjalanan ketuhanan’ dan kelak akan kembali  ke bumi.

Seperti laiknya nabi-nabi terdahulu, Sang Khatamul Anbiyâ juga banyak dikisahkan melakukan perjalanan. Jauh sebelum menerima kenabian, Nabi Muhammad alaihi salam menjadi ‘reseller’ saudagar perempuan mulia nan kaya, Khadijah. Beliau menjajakan barang-barang yang diambilnya dari Khadijah ke luar kota. Tetapi penanda paling kentara dari traveling Kanjeng Nabi adalah ‘hijrah’; berpindahnya nabi dan pengikutnya dari Mekah menuju Yastrib atau Madinah yang berjarak sekitar 450 km menggunakan unta yang konon memakan waktu sekitar 10 – 15 hari. Konon rute hijrah Nabi tidak lazim dilakukan orang yang melakukan perjalanan dari Mekah ke Madinah.

Tidak hanya rute yang berbeda, dari pelajaran tarikh Nabi yang disampaikan sejak di ibtidaiyah pun kita tahu bagaimana strategi menegangkan Nabi dan para Sahabat menghalau kebencian suku Quraisy yang menentang ajaran Nabi.

Budaya ‘traveling’ dalam agama-agama memang tidak bisa dipisahkan dari budaya ‘ekspansi’; kerja sama, penaklukan dan pengetahuan. Demikian pula dalam Islam. Ketika Nabi dan para pengikutnya berhijrah ke Madinah—kota beragam suku, agama, dan strata ekonomi—maka di situ terjadi saling berkunjung dan saling mengenal satu sama lain. Masa penaklukan ditandai dengan berkuasanya Sahabat Umar bin Khatab yang mampu menguasai jazirah Arab, Palestina, Syiria, dan sebagian wilayah Persia, dan Mesir. Kemudian diteruskan oleh penggantinya Utsman bin Affan hingga era Umayah dan Abbasiyah.

Sebenarnya budaya traveling yang paling saya sukai adalah di era pengetahuan, yang secara ringkas saya tandai di era imam mazhab. Dari empat imam mazhab, hanya Imam Malik-lah yang konon tidak pernah traveling ke luar Madinah (kecuali berhaji). Imam Abu Hanifah misalnya, sebagai keluarga saudagar kaya, beliau banyak melakukan perjalanan, tidak hanya perjalanan bisnis tapi juga keilmuan. Tercatat dalam salah satu kisah, beliau memiliki 4000 guru yang tentu didapatkan dari seringnya melakukan ‘traveling’.

Yang paling termasyhur dalam melakukan traveling pengembaraan pengetahuan adalah Imam Syafii. Lahir di wilayah Asqolan (konon dekat Gaza), beliau kemudian belajar di Mekah, berguru pada Imam Malik di Madinah, kemudian ke Yaman, menetap lama di Irak, hingga kemudian berpindah ke Mesir sampai akhir hayatnya. Berbeda dengan Imam Syafii, Imam Hanbali meninggal di kota kelahirannya Baghdad. Tetapi beliau bukan tidak pernah melakukan perjalanan. Pertemuan beliau dengan Imam Syafii yang menjadi salah satu gurunya, justru ketika Imam Ahmad bin Hanbal melakukan perjalanan ke kota-kota di luar Baghdad, seperti Mekah, Madinah, Suriah, dan Yaman.

Dari kisah perjalanan ‘traveling’ di atas, maka traveling bukanlah hal sepele; tidak hanya soal perjalanan dari satu tempat ke tempat lainnya. Traveling adalah soal kehidupan dan penghidupan, soal keimanan dan proses meneguhkan keimanan dengan pengetahuan. Pada masa awal penyebaran ajaran keagamaan, mereka–para pembawa risalah—melakukan ‘traveling’ karena pencarian dan mempertahankan ‘identitas’ keimanan. Maka, selayaknya perjalanan traveling yang kita lalui saat ini pun harus memberikan dampak bagi keimanan kita; traveling bisa jadi adalah jalan ruhani menuju yang hakiki.

Traveling tidak hanya sekedar memindahkan tubuh, tapi juga jiwa dan kesadaran menikmati dan mengenali tempat baru. Bagaimana sensitivitas sosial Siddharta terbangun ketika dia melakukan perjalanan ke luar istana. Ajaran-ajaran Konfusius pun selalu berkembang mengikuti refleksinya atas temuan-temuan di perjalanan ketika menyampaikan ajarannya. Kita harus belajar dari Nabi Nuh, bahwa traveling adalah tentang menyelamatkan, memberi kebahagiaan kepada siapa saja terutama kepada orang yang telah mempercayai kita. Ketika melakukan traveling bersama orang terdekat, hendaklah Anda selalu memberi rasa nyaman kepadanya.

Traveling juga media menemukan jati diri; bagaimana Ibrahim dan Musa harus ke luar dari keluarganya sampai kemudian dia menemukan siapa Tuhan yang ia yakini harus disembah dan diperjuangkan. Belajar dari perjalanan Nabi Isa dan Muhammad, traveling adalah juga tentang menyelematkan diri dari kepungan orang-orang jahat dan tidak bertanggung jawab. Nabi Muhammad menemukan ‘hidup baru’ yang lebih baik untuk dirinya dan pengikutnya setelah melakukan hijrah, ‘traveling’. Begitupun traveling yang dilakukan oleh para sahabat, tabi’in, dan ulama/imam mazhab. Perjalanan bukan tanpa tujuan, melainkan memenuhi rasa keingintahuan mereka terhadap luasnya pengetahuan.

Maka, lakukanlah perjalanan, penuhilah rasa keingintahuan kalian. Perhatikan hal-hal baru di setiap perjalanan yang kalian temui. Bukalah hati dan fikiran kalian untuk menerima hal-hal baru tersebut. Berikan waktu sejenak untuk merenungi dan berefleksi atas apa yang kalian temui dalam perjalanan. Niscaya traveling kalian bukanlah hal yang tiada faedah. Selamat mencoba.[MFR]

Ramadan dan Pencarian Kedirian Kita Yang Belum Usai

Ahmad Subakir*

Photo source: https://islam.nu.or.id/post/read/79988

Ramadan sebagai bulan yang sangat diagungkan oleh umat Islam di belahan bumi ini telah menjadi bagian sarana belajar dan pembelaran bagi individu ataupun komunitas. Secara kodrati, manusia terlahir dari tidak tahu, ingin tahu, dan kemudian menjadi tahu. Karena dengan “tahu” itulah manusia akan mempunyai daya kreasi yang bisa saja luar biasa, yang bila diamalkan akan menjadi faktor terpenting dalam mewujudkan being dan apa-apa yang mungkin mewujud. Karena itulah Allah Swt. menuntun Nabi Muhammad Saw. dengan firman pertama yang menandai kerasulannya dengan menurunkan QS. al-‘Alaq: 1-5: “Allah-lah yang mengajarkan manuasia terhadap apa saja yang sebelumnya ia tidak tahu.”

Bertolak dari “tahu” ini pula Allah Swt. mengajari manusia untuk memegang peran terpenting di antara sekian makhluk yang lain, termasuk malaikat sekalipun. Di atas kerangka ini pula Allah Swt. mentahbiskan ciptaan yang disebut manusia ini sebagi khalifah fil ardh (pengelola kehidupan di dunia) sesuai dengan proyeksi yang diskenariokan oleh Sang Pencipta manusia

Informasi mengenai prosesi rancangan ini jelas termaktub dalam nash Allah Swt. yang disampaikan kepada malaikat saat mana manusia pertama ini belum diciptakan. Saat itu Allah Swt. menyampaikan rancangan ini (iradah penciptaan manusia dengan segala kemungkinan yang akan terlahir dari segenap amaliah kemanusiannya) kepada malaikat dan meminta pandangannya. Semua ini tergambar jelas dalam firman Allah Swt. dalam QS. al-Baqarah: 30.

Sebagai makhluk yang dimintakan pendapat oleh Allah Swt. maka saat itu juga digambarkan dalam ayat tersebut bahwa malaikat “ragu” akan kemampuan manusia untuk mengemban amanah besar ini. Malaikat mencoba memproyeksikan potensi negatif manusia yang digambarkannya sebagai pembuat kerusakan, penebar permusuhan yang pada gilirannya akan mengarah pada pertumpahan darah di antara sesamanya.

Malaikat membandingkan proyeksi sisi negatif manusia dengan kepolosan sifat malaikat itu sendiri yang menggambarkan diri sebagai sosok yang senantiasa bertasbih dan mengagungkan dan mensucikan Allah Swt. Akan tetapi, diakhir ayat itu Allah Swt. mengajari kita semua sekaligus menjawab atas keraguan malaikat kepada makhluk yang bernama manusia itu dengan firman-Nya yang secara lugas teksnya berbunyi: inni a’lamu maa laa ta’lamun.

Pembacaan sederhana atas dua ayat yang telah dipaparkan di atas menuntun kita untuk senantiasa menkreasikan diri kita dan kehidupan personal dan kolektif kita untuk senantiasa menjadi orang yang oleh Allah Swt. disebut “tahu”.

Ayat pertama yang mentahbiskan Muhammad Saw. menjadi Rasul terakhir, Allah Swt. mengajari Nabi dan Kita melalui firman-Nya ‘allamal insana maa lam ya’lam“. Yang Maha Mengajari manusia atas apa saja yang tidak manusia ketahui sebelumnya. Ayat kedua bercerita tentang munculnya informasi suasana manusia pertama akan diciptakan. Allah Swt. mengakhiri rangkaian pembicaraan dengan malaikat tentang gagasan penciptaan manusia ini, yang justru dipandang oleh malaikat sebagai sumber kemadaratan. Allah Swt. memungkasi pembicaraan ini dalam firman-Nya yang tegas: inni a’lamu maa laa ta’lamun.

Dua kejadian penting dalam perjalanan panjang hidup dan kehidupan manusia mulai dari sebelum penciptaannya–hingga bagaimana prosesi menjadi kreator pengelolaan dan pemakmuran alam ini–selalu ditumpukan pada proses penambahan pengetahuan manusia dengan segala proses belajar dan pembelajaran dalam segala bentuk media. Dalam perjalanan itu, Allah Swt. senantiasa memberikan jalan terbaik yang harus ditemukan dengan pengetahuan yang senantiasa disediakan-Nya.

Jalan pengetahuan ini terbentang dalam syari’at yang Allah Swt. turunkan sebagai teks kitab suci ataupun berupa sunnatullah yang menyusun fitrah penciptaan makhluk selain manusia. Kebiasaan yang terjadi pada fitrah makhluk yang tidak bernyawa biasanya disebut sebagai sunnatullah yang bersifat tetap, sementara kebiasaan yang terjadi pada makhluk bernyawa selain manusia itu ada yang menyebutnya sebagai gharizah, naluri nafsu dan keinginan.

Syari’at Allah Swt. mengajari kita untuk mendapatkan “tahu” dengan makna yang lebih mendalam. Dengannya kita bisa mengontrol seluruh wujud produksi gerakan anggota tubuh baik yang berupa kreasi dari nalar, akal dan nafsu. Gaya yang berwujud perilaku berupa amal atau perbuatan yang dikriteriakan shalih dan muslih bisa mengantarkan pada posisi kelayakan kita menjadi khalifah sebagaimana harapan Allah Swt. sebelum mencipta manusia yang sekaligus sebagai jawaban bagi keraguan malaikat tentang eksistensi manusia.

Saat ini, kita sedang menjalani Ramadan sebagai syari’at Allah Swt dalam suasana penuh tantangan dan ragam kejadian sosial yang menghiasi kehidupan sosial kita. Kita wajib meyakini bahwa Ramadan adalah media pembelajar yang terbaik untuk merengkuh status shalih dan muslih yang keseluruhan aktifitasnya terpancar dalam diri kita semua

Persoalannya adalah bagaimana kita bisa sampai pada kepastian bahwa Ramadan benar-benar mengantarkan kita pada status shalih dan muslih?. di sinilah sebenarnya proses belajar dan pembelajaran yang secara terus-menerus harus kita temukan dalam sisi kedirian kehidupan kita. Itu pula mengapa sejak awal Allah Swt. mengatakan kepada malaikat: “Aku lebih tahu dari apa yang kamu tidak ketahui.” Sifat tahu ini-lah yang sedari awal awal menjadi misteri di hadapan malaikat. Allah Swt. dengan tegas mengatakan bahwa pengetahuan ini belum dimiliki oleh malaikat. Pendek kata, Allah kita mengajari kita untuk menemukan tahu yang dimaksudkan Allah Swt. tersebut hingga kita bisa menjadi khalifah sebagaimana firman-Nya kepada malaikat. Semoga kita tertuntun menapaki jalan panjang dan terjal ini. Amin.

*Ahmad Subakir adalah Wakil Rektor I IAIN Kediri