Serat Jamus Kalimosodho Melawan Stratifikasi Sosial Jawa

Sunan Kalijaga, dalam layang kalimosodho-nya,menjelaskan bahwa orang bisa mengubah kastanya bukan berdasarkan “trah” atau garis keturunan, melainkan dari sikap dan perilaku yang ditunjukkan.

—– Indra Latief Syaepu

Tulisan ini diilhamioleh strategi dakwah Walisanga untuk kaum Sudra. Semula, Walisanga memokuskan strategi dakwahnya pada kalangan Kedaton saja. Seperti tertulis dalam sejarah, para wali diberi sebuah tanah tersendiri oleh Raja Majapahit sebelum diruntuhkan oleh kaum oposisi, terutama dari Keling yang sebagian pasukanya sudah berhasil menyusup ke kota Majapahit yang berpusat di Desa Jinggan. Sebelum pemberontakan yang mengakibatkan Majapahit runtuh, para wali sudah mulai menempati tanah pemberian dari raja Majapahit tersebut yang berada di Gelagahwangi. Pada masa Majapahit dan Ampel Denta, para Wali mengarahkan sasaran utama strategi dakwah mereka kepada para petinggi Kedaton atau kalangan kasta Kesatria.

Strategi dakwah yang dipakai para Wali ini bisa ditilik dari teori kekuasaan (penguasa), di mana kekuasaan mempunyai power untuk memengaruhi rakyat di bawahnya, seperti kata M. Foucault dalam karyanya, Power and Knowledge. Alasan kenapa saya lebih tertarik pada Foucault daripada teori kekuasaan Weber atau Marx adalah karena Wali di sini bukan penguasa pada saat itu. Mereka adalah para saudagar yang kemudian melakukan strategi dakwah pertama kali di lingkungan Kedaton dengan harapan bahwa seluruh rakyat akan mengikuti Raja-nya sebagai panutan seperti yang tertera dalam ajaran agama sebelumnya. Ajaran agama terdahulu menyatakan bahwa seorang Raja, Adipati dan Kesatria merupakan titisan dari dewa yang wajib diikuti dan disembah oleh kawula (rakyat).

Para Wali berhasil menjalin atau membentuk suatu relasi atau jaringan yang sangat kuat dengan penguasa-penguasa setempat pada waktu itu sebagai langkah pertama dakwah Islam. Kemudian, setelah Islam mulai menguasai pesisir pantai utara Jawa, strategi dakwah selanjutnya adalah menjalin ukhuwah islamiyah di kalangan muslim dengan tujuan memperkuat jaringan islam yang sudah terbentuk.  Pada akhirnya, para Wali tersebut diberi tanah untuk ditempati oleh mereka dan ditempat itulah dibentuk kerajaan pertama Islam di pulau Jawa (Jawa loh ya, bukan Nusantara!). Setelah puas dengan strategi dakwah pertamanya, yaitu menjalin relasi yang kuat dengan penguasa setempat, para Wali menerapkan strategi kedua yang tercipta setelah mereka melakukan observasi dan investigasi di lapangan. Mereka terjun langsung di kalangan masyarakat atau kaum Sudra yang masih banyak terikat dengan adat budaya agama sebelumnya, terutama soal kasta sosial atau stratifikasi sosial. Kemudian, Walisanga mengubah strategi dakwah mereka yang sebelumnya menyasar kaum Sudra.

Diawali dari gagasan Sunan Kalijaga (Dalang Bengkok) yang merumuskan Serat Jamus Kalimoshodho sebagai topik pagelaran pewayangan yang bisa dinikmati oleh seluruh rakyat pada waktu itu. Dalam pendalangan yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga, diceritakan bahwa Serat Jamus Kalimosodho bisa menjadi genggaman seluruh manusia untuk memeroleh kewibawaan dunia dan di akhirat tanpa membedakan kasta. Kepiawaian Sunan Kalijaga dalam mengolah kata berhasil memengaruhi banyak masyarakat setempat. Beliau mengatakan bahwa layang kalimosodho adalah jimat keberuntungan yang wajib diagem ‘digenggam’, diimani dan diyakini. Ajaran dari jimat kalimosodho ini wajib diwujudkan atau diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Jika jimat kalimosodho ini diwujudkan dalam kehidupan bermasyarakat, maka akan tercipta tatanan masyarakat gemah ripah loh jinawi.

Gebrakan para Wali ini tentu saja membuat sebagian orang yang berkasta tinggi kebakaran jenggot, karena dinilai meracuni rakyat untuk memberontak pada pamong atau raja setempat. Selain itu, banyak juga yang mengatakan bahwa ajaran yang diwejangkan oleh Sunan Kalijaga telah merusak baker-pakem kisah pewayangan yang telah ada dan tertulis dalam Kitab Mahabarata. Dalam Kitab Mahabarata, tidak ada kisah yang menceritakan kaum Sudra bisa naik ke kasta Kesatria maupun Brahmana (tidak ada seorang kawula menjadi seorang gusti!). Namun sekali lagi, Sunan Kalijaga berhasil mematahkan argumen tersebut dengan santun dan santuy. Beliau menegaskan bahwa ajarannya adalah untuk meluruskan ajaran yang telah dibengkokkan oleh sebagian orang untuk kepentingan pribadi (dalam hal ini, politik dan kekuasaan).

Sunan Kalijaga, dalam layang kalimosodhonya, menjelaskan bahwa orang bisa mengubah kastanya bukan berdasarkan “trah” atau garis keturunan, melainkan dari sikap dan perilaku yang ditunjukkan. Jikalau ada seorang bangsawan yang memiliki “trah kasta Brahmana” tapi sikap dan prilakunya buruk, maka sejatinya dia bukan berkasta Brahmana, melainkan lebih hina dari Sudra, begitupula sebaliknya. Seperti yang diketahui dalam tulisan-tulisan yang sudah banyak tersebar, baik dalam bentuk buku, artikel maupun blog internet, yang dimaksud layang kalimosodho itu tak lain adalah kalimat syahadat dan untuk memeroleh jimat Jamus kalimosodho tersebut berarti orang tersebut haruslah masuk Islam.

Selain secara langsung ajaran jimat layang kalimosodho menghapus kasta sosial yang ada, di situ juga tersirat ajaran demokratis, hak dan kewajiban manusia. Nilai demokrasi bisa dilihat ketika Sunan Kalijaga berusaha menghapus kasta sosial yang ada. Setiap manusia berhak memperoleh kesempatan untuk menduduki kursi kekuasaan jika dirinya sudah dinilai mampu dan perilakunya mencermikan ajaran kalimosodho tersebut. Jika seorang pemimpin mampu melaksanakan tugas dan kewajibanya dalam mensejahterakan rakyatnya, maka secara otomatis pemimpin tersebut akan dicintai oleh rakyatnya.

Yang perlu digarisbawahi di sini adalah ketika Sunan Kalijaga melakukan gebrakan dengan Serat Jamus Kalimosodho yang tidak tertulis dalam ajaran sebelumnya. Beliau hanya meluruskan dari ajaran tersebut atau tidak menyalahkan ajaran agama tersebut. Manusia bisa berkasta rendah maupun tinggi dilihat dari perilakunya. Hal ini Sunan Kalijaga pelajari ketika beliau hendak masuk Islam, sementara beliau sendiri merupakan keturunan berkasta tinggi (adipati Tuban) yang masih keturunan dari Ranggalawe. Beliau dinilai telah melakukan suatu perbuatan yang memalukan kasta dan derajatnya dengan cara menjadi seorang maling, begal dan ahli judi. Meskipun diniatkan untuk menolong rakyat, cara yang dilakukannya dianggap salah sehingga dinilai telah merendahkan kastanya lebih buruk daripada kasta Sudra [MFR].

Transformasi Berkat

Jamuan makan yang diberikan oleh orang yang punya hajat sudah dianggap sebagai penghormatan yang baik. Namun dengan diberikan tambahan buah tangan inilah yang disebut dengan berkat karena bertambah kebaikan dari orang yang punya hajat (slametan).

—– Abdur Rohman

Kata berkat  sebenarnya berasal dari bahasa Arab barokah  yang memiliki arti ‘semakin bertambah kebaikannya’. Kata ini kemudian memiliki arti secara khusus bagi orang Jawa, yaitu penghormatan yang lebih. Biasanya orang yang sedang diundang slametan  sudah diberi jamuan pada saat mereka hadir di rumah orang yang punya hajat. Namun penghormatannya tidak sampai disitu, pada saat pulang, mereka masih dibawakan buah tangan yang disebut dengan berkat.

Perlu diketahui bahwa tidak semua upacara slametan  diberi jamuan makan di rumah yang sedang punya hajat. Namun yang dapat dipastikan adalah mereka akan dibawakan oleh-oleh saat pulang. Jamuan makan yang diberikan oleh orang yang punya hajat ini sudah dianggap sebagai penghormatan yang baik. Namun dengan diberikan tambahan buah tangan inilah yang disebut dengan berkat karena bertambah kebaikan dari orang yang punya hajat (slametan).

Dari waktu kewaktu penulis mengamati ada beberapa modifikasi dan trasnsformasi berkat. Misalnya, pada saat penulis masih usia kanak-kanak, penulis masih menjumpai berkat  dengan nasi jagung (ampog). Namun lama kelamaan nasi jagung ini menghilang dan digantikan dengan nasi campuran, yaitu campuran antara nasi jagung dengan nasi beras. Campuran ini menyebabkan warna dari berkat  yang dijadikan slametan  menarik. Sebab, warnanya kuning-putih.

Nasi kuning-putih inipun lambat laun menghilang juga dan digantikan dengan yang sama dengan berkat  sekarang yaitu nasi beras. Perubahan ini dalam pendangan penulis sangat beralasan. Sebab, orang-orang Jawa pada masa lalu belum banyak mengalami kemajuan dari segi ekonomi, mereka umumnya masih mengandalkan hasil pertanian. Jadi wajar apabila berkat  yang mereka gunakan untuk slametan  juga dihemat.

Dalam pandangan penulis berkat mengalami transformasi dari waktu kewaktu. Mulai dari berkat nasi jagung, campuran jagung, beras, aneka sembako mentah dan sangat mungkin dikemudian hari akan digantikan dengan ‘amplop’.

Transformasi berkat  dari waktu kewaktu ini bukan tanpa alasan. Orang Jawa merubah berkat  dari jagung ke beras karena alasan ekonomi. Mereka sudah mampu beli beras meskipun orang biasa. Kemudian berganti – meskipun hanya sebagaian – kepada bahan makanan pokok yang masih mentah seperti minyak goreng, gula, mie instan yang masih mentah, beras dan sebagainya. Hal ini dilakukan oleh orang Jawa karena beberapa pertimbangan.

Pertama, orang Jawa pada zaman dulu ketika mengadakan slametan  menyajikan makanan yang levelnya di atas makanan sehari-hari. Misalnya, orang dulu makan sehari-hari dengan nasi ketela  (thiwul) dengan lauk pauk seadanya, bisa sambal atau ikan asin. Namun pada saat mereka slametan,  mereka menghidangkan menu dalam berkat  berupa nasi jagung  yang levelnya lebih tinggi daripada nasi thiwul. Oleh sebab itu, menu ini adalah menu unggulan pada masa itu dan sangat wajar apabila dinanti-nanti oleh keluarga yang ada di rumah. Sebab, mereka akan membawa menu makanan yang ‘lebih enak’ dibandingkan menu makanan umumnya yang dikonsumsi.

Kedua, makanan sehari-hari dengan menu yang ada dalam berkat  levelnya sudah sama. Artinya, menu makanan sehari-hari dengan apa yang ada dalam berkat tersebut tidak berbeda. Jika sehari-hari orang sudah makan nasi dengan lauk yang bervariasi, di dalam berkat juga demikian. Tiada perbedaan jauh antara  berkat  dengan menu sehari-hari; inilah yang menyebabkan berkat sudah tidak lagi istimewa seperti dulu. Akibatnya, tidak sedikit dari berkat  tersebut yang tidak dikonsumsi.

Ketiga, jatah makan setiap keluarga sudah diperkirakan oleh orang yang masak. Dalam satu keluarga, misalnya dalam waktu sehari semalam menghabiskan beras sebanyak 0,5 kg. maka sebanyak itulah pada pagi harinya keluarga tersebut masak nasi. Begitu pula dengan sayur dan lauknya. Jadi, jika ada berkat  yang datang belakangan, maka dapat dipastikan ada yang kalah salah satu. Tidak mungkin semuanya dihabiskan. Jika yang dimakan adalah berkat-nya, maka nasi yang sudah dimasak tersebut nganggur. Jika yang dimakan adalah nasinya, maka berkat  yang datang belakangan tersebut juga akan nganggur.  

Keempat, menghindari mubazir. Banyak orang modern yang berfikir tentang hal ini. Misalnya, pada saat orang-orang Jawa mengadakan slametan  bersama seperti menjelang puasa – istilahnya megengan – atau pada saat malam-malam ganjil tanggal 20 ke atas pada bulan Ramadhan – istilahnya maleman –  tidak sedikit berkat yang nganggur. Andaikata dalam lingkungan kenduri itu berjumlah 30 rumah, maka hampir dapat dipastikan akan kembali dengan jumlah yang sama. Oleh sebab itu, tidak mungkin semua berkat dengan jumlah yang sedemikian banyak bisa dihabiskan dalam waktu sehari. Untuk meminimalisasi jumlah berkat yang tidak termakan, para penduduk kemudian memiliki inisiatif untuk mengganti dengan sembako.

Biasanya, sembako yang dijadikan untuk oleh-oleh adalah gula, mie instan, minyak goreng kemasan dan terkadang ada roti tambahan. Pemilihan sembako ini tentu saja melalui berbagai pertimbangan yang matang. Sebab, bagi orang Jawa modern, yang penting dalam slametan  bukan terletak pada uborampe  yang dihadirkan. Namun do’a yang dipanjatkan kepada Tuhan.

Kelima,  mempertimbangkan manfaat. Seperti analisa di atas, jika jumlah berkat  begitu banyak dalam waktu sehari, maka dapat dipastikan tidak habis dimakan. Oleh sebab itu pemilihan sembako sebagai ganti berkat  adalah pilihan yang bijak. Jika dipertimbangkan dari aspek manfaatnya, sembako jauh lebih awet dibandingkan dengan makanan matang. Sewaktu-waktu orang tersebut membutuhkan, maka dengan mudah ia bisa memanfaatkan sembako tersebut untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Selain itu, penggunaan sembako sebagai ganti berkat juga menghemat tenaga. Jika seseorang membuat  berkat  dengan jumlah yang cukup banyak – membuat 30 misalnya – maka ia membutuhkan waktu yang panjang dan tenaga yang banyak. Sejak sehari atau dua hari sebelumnya ia pasti sudah bersiap-siap untuk membeli bahan mentah dan kemudian dimasak sehari penuh untuk mempersiapkan berkat  tersebut siap disajikan pada saat kenduri. Dengan adanya sembako ini, dapat dipastikan bahwa orang-orang yang sibuk bekerja, mereka tidak disibukkan dengan memasak ataupun mempersiapkan aneka macam keperluan lainnya. Mereka cukup membeli bahan mentah dan kemudian dimasukkan dalam satu wadah plastik untuk dibungkus sesuai dengan jumlah undangan yang ada.

Keenam,  diganti dengan amplop. Panulis memprediksi bahwa dikemudian hari, berkat  yang awalnya adalah berupa makanan siap saji, lalu digantikan dengan sembako, peralihan ini lama-kelamaan akan menjadi ‘amplop’. Mengingat mobilitas orang-orang modern yang semakin padat, pekerjaan semakin dipermudah dengan adanya berbagai macam alat ataupun tenaga lain untuk menggantikan tenaga manusia, maka sangat mungkin dikemudian hari akan berganti dengan ‘amplop’.

Hal ini penulis perkirakan karena orang-orang modern semakin sibuk. Dengan digantikan amplop, mereka tidak akan terganggu sama sekali kerjaannya. Selain itu, orang yang diundang diperkirakan akan lebih kompak untuk menghadiri undangan. Sebab, uang dalam pandangan orang kampung ataupun kota, jauh lebih berharga dibandingkan dengan berkat. Bisa jadi, jika dalam satu hari ada 3 undangan, sementara 1 undangan ada amplopnya 20.000, maka sangat mungkin akan timbul pertanyaan ‘Jika setiap hari kayak gini, di lock down setahun pun juga gak masalah.’[MFR]

Makna Rumah Joglo bagi Milenial

Meski banyak orang menganggapnya sebagai mitos—terutama milenial—nilai-nilai kearifan ini bisa memberi pelajaran hidup bagi kita semua bagaimana berhubungan dengan sesama manusia dan juga kekuatan adikodrati di luar manusia (Tuhan).

—– Qoni Nella Syahida

Budaya Jawa kaya sekali dengan nilai-nilai etika dan estetika. Bangunan tradisional atau rumah adat adalah salah satu wujud budaya yang bersifat konkret. Setiap bagian atau ruang dalam rumah adat sarat dengan nilai dan norma yang berlaku pada masyarakat pemilik kebudayaan tersebut. Rumah adat Jawa biasa dikenal dengan rumah joglo, yang mewakili pengetahuan lokal budaya Jawa. Nilai kearifan lokal yang terkandung dalam rumah tradisional Jawa ini memiliki perpaduan indah antara budaya dan seni yang terintegrasi dengan kehidupan masyarakatnya.

Umumnya rumah joglo berbahan dasar kayu jati. Namun seiring perkembangan zaman, banyak rumah joglo yang dindingnya sekarang disusun dari batu bata dan semen. Saya tertarik membahas ini karena kebetulan di daerah saya, tepatnya Desa Mojoroto, Kecamatan Mojoroto, terdapat rumah joglo yang masih sangat baru, sekitar 2 atau 3 bulan yang lalu. Bagi orang Jawa yang sudah sepuh pasti mengetahui makna rumah joglo ini dari, tapi apakah demikian juga bagi generasi milenial? Ini pertanyaan yang menarik buat saya. Segala nilai tradisional itu mungkin sudah mengalami pergeseran makna bagi generasi milenial yang hanya melihat dari sisi estetikanya saja.

Di era milenial ini, dengan teknologi yang semakin canggih, kaum remaja—atau istilah kerennya generasi milenial—hampir semua pandai mengutak-atik teknologi. Pasti ada perasaan gengsi dong ya jika mereka sampai gaptek atau gagap teknologi. Karena sekarang apa-apa menggunakan teknologi, seperti sekarang jika kita ingin beli sesuatu, kita tinggal pakai teknologi tanpa harus bersusah payah keluar rumah. Namun dengan segala kecanggihan teknologi ini kita tidak boleh melupakan adat istidat dan budaya kita. Teknologi ini bisa berdampak pada kehidupan sosial: jarang berbaur dengan tetangga atau teman sebaya. Bisa jadi mereka juga telah melupakan segala macam budaya dan tradisi yang ada.

Ketika saya mencari informasi mengenai pemilik rumah joglo tersebut, saya bertanya kepada seorang milenial yang tinggal dekat dengan rumah tersebut. Saya bertanya kira-kira siapa pemilik rumah itu dan pemuda ini malah menjawab dan menebak kalau saya hanya ingin numpang foto saja—duh, gusti! Itulah salah satu bukti bahwa milenial sekarang ini banyak yang melihat berbagai tradisi dan budaya yang ada bukan karena makna atau nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, tapi estetikanya saja. Ketika ada ritual ataupun tradisi yang sedang berlangsung di masyarakat, banyak milenial yang turut hadir memeriahkan. Tapi banyak dari mereka ini hanya sekadar hunting atau berburu foto untuk dijadikan story ataupun di-upload di sosmed mereka; mungkin agar terlihat mencintai dan melestarikan budaya meski tidak paham maknanya. Namun tentu saja tidak semua milenial seperti itu, apalagi mereka yang kuliah di SAA, he-he-he.  

Beberapa pertanyaan yang saya lontarkan kepada beberapa milenial yang tinggal di sekitar di antaranya mengapa pemilik rumah itu memilih desain joglo daripada rumah modern? Kira-kira pemilik rumah itu orang yang masih kental dengan budaya jawanya atau hanya melihat dari estetikanya saja? Beberapa dari mereka menjawab Yo kan apik to mbak, wi kan yo wis jarang enek seng mbangun omah ngunuwi, kan berarti wonge melestarikan budaya. Koyoke bakal seng nduwe omah dokter mbak, wong berpendidikan paling yo ngerti maknane joglo, tapi lek aku gak patek ngerti, hehe” (Ya, kan itu bagus mbak. Kan sudah jarang ada yang membangun rumah seperti itu, berarti orang tersebut telah melestarikan budaya. Sepertinya yang punya rumah ini seorang dokter, orang yang berpendidikan jadi mungkin tahu makna dari rumah joglo, tapi kalau saya tidak terlalu paham, hehe”).

Padahal rumah joglo itu sarat dengan makna dan kita bisa mengambil pelajaran darinya. Rumah tradisional Jawa mempunyai filosofi dan tujuan yang diwujudkan melalui simbol-simbol atau lambang. Simbol-simbol tersebut antara lain terwakili dalam konstruksi bangunan rumah. Simbol-simbol tersebut merupakan petunjuk para leluhur bagi generasi selanjutnya. Bangunan atau rumah tradisional joglo tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal tetapi juga wujud pengharapan akan kebahagiaan dan kesejahteraan bagi penghuninya. Joglo sebenarnya hanya merupakan salah satu bentuk rumah tradisional Jawa, tetapi ia mewakili tipe rumah Jawa yang paling lengkap susunannya sehingga nilai kearifan yang terkandung dalam rumah ini pun bisa mewakili kearifan Jawa.

Rumah joglo umumnya dibuat dari kayu jati; konon inilah jenis kayu terbaik di dunia. Bagi orang Jawa, kayu jati tidak hanya punya nilai sosial-ekonomis karena harganya yang mahal dan status sosial yang bisa didapat. Konon penggunaan kayu jati dilatari oleh mitos ‘nyai jati sari kaki jati sari’ yang berkembang di zaman Walisongo. Kayu jati mewakili keinginan orang Jawa akan sesuatu yang terbaik atau sejati (Zamroni, 2014).

Beralih pada sisi atap, rumah joglo berbentuk tajug, atap piramidal mirip gunung. Istilah joglo juga berasal dari sini. Joglo berasal dari dua kata: ‘tajug’ dan ‘loro’ artinya ‘gabungan dua tajug’. Bentuk atap yang menyerupai gunung menegaskan kepercayaan bagi orang Jawa bahwa gunung ialah simbol segala hal yang suci atau sakral karena dianggap tempat bersemayam para dewa. Kerangka rumah joglo ditopang oleh empat tiang utama yang disebut Soko Guru. Jumlah ini melambangkan kekuatan dari empat penjuru mata angin. Secara spiritual ini, manusia diyakini berada di tengah pertemuan keempat arah mata angin tersebut. Tempat ini konon mengandung getaran magis tingkat tinggi. Titik potong ini  disebut juga sebagai Pancer atau Manunggaling Kiblat Papat, atau bersatunya empat kiblat yang menyusun kehidupan di muka bumi: tanah, air, api, dan angin.  

Rumah joglo biasanya terdiri dari beberapa ruang utama: ruang pertemuan (pendapa); ruang tengah (pringgitan); ruang belakang atau ruang keluarga (dalem). Pendapa terletak di depan dan dibuat tanpa dinding, mewakili karakter orang Jawa yang ramah dan terbuka. Ruangan untuk menerima tamu ini biasanya tidak diberi meja ataupun kursi, hanya tikar yang digelar agar tetamu dan tuan rumah bisa berbicara lebih akrab dan dalam semangat kesetaraan.   

Pringgitan menyimbolkan kedirian orang Jawa sebagai bayang-bayang Dewi Sri atau Dewi padi ini yang dianggap sumber segala kehidupan, kesuburan dan kebahagiaan. Terletak antara pendapa dan dalem, pringgitan biasanya dipakai sebagai tempat untuk menggelar pertunjukan wayang yang berkaitan dengan upacara ruwatan adat. Dalem adalah bagian yang digunakan sebagai tempat keluarga, terdiri dari beberapa kamar yang disebut senthong. Senthong ini biasanya berjumlah tiga bilik saja. Bilik pertama untuk para lelaki, bilik kedua sengaja dikosongkan, dan bilik ketiga untuk para perempuan. Bilik kosong ini diisi dengan ranjang lengkap dengan segala perlengkapannya. Bilik kosong ini disebut juga krobongan dan dikhususkan untuk menyimpan pusaka. Inilah bagian rumah yang dianggap paling suci.

Tentu saja banyak nilai lain yang terkandung dalam rumah joglo. Meski banyak orang menganggapnya sebagai mitos—terutama milenial—nilai-nilai kearifan ini bisa memberi pelajaran hidup bagi kita semua bagaimana berhubungan dengan sesama manusia dan juga kekuatan adikodrati di luar manusia (Tuhan). [MFR]

Menghidupi Tradisi, Menyemai Toleransi

NU maupun Katolik, memang terkenal dengan sifat kontekstualnya. Dalam pendekatan kemasyarakatan, mereka sama-sama berprinsip di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung. Tradisi  Jawa—semisal ritual-ritual pernikahan, kelahiran dan kematian—adalah sebentuk kearifan lokal yang mampu mengatasi sekat-sekat perbedaan, baik perbedaan sosial maupun agama.

“Klepu, Desa Terpencil di Ponorogo 40 Tahun Lebih di Kuasai Salibis,” judul sebuah narasi ketika saya searching di internet tentang desa Klepu (www.suara-islam.com 27/01/2015). Atau narasi lainnya yang masih mengobarkan semangat yang sama: sentimen antar agama. Seperti alasan pendirian Gedung Pembinaan dan Pelatihan Mualaf, di mana sumber dananya berasal dari Kedubes Saudi Arabia, di samping untuk memujudkan kemandirian ekonomi juga untuk “mengokohkan akidah” (www.republika.com 02/06/2016).

Dalam narasi-narasi itu Klepu selalu digambarkan sebagai sebuah daerah “rawan akidah,” sudah bertahun-tahun desa ini “terjadi upaya pendangkalan akidah,” atau adanya misi “Katolik-Kristenisasi.” Logika yang berusaha dikembangkan di sini adalah bahwa kemiskinan dan keterpencilan sebangun dengan dangkalnya akidah.

Saya teringat Snouck Hurgronje, dalam alur berpikir Foucault dan Edward Said, narasi-narasinya tentang Indonesia pra-kolonialisme menyebabkan bekunya atau bahkan matinya orang Indonesia secara diskursif, yang pada gilirannya juga matinya mereka secara politis. Narasi-narasi “perendahan” yang terbangun semacam ini kemudian menjadi pembenaran mereka untuk memperadabkan atau, dalam kata kasarnya, menjajah.

Apa yang menimpa Klepu pada aras diskursif di atas tak jauh beda dengan apa yang menimpa orang Indonesia di waktu lampau, hanya saja yang menjadi pihak “pemberadab” di sini bukanlah Belanda. Tapi, kalangan Islam puritan, kalangan Islam yang notabene anti-kearifan lokal, kalangan Islam yang berasal dari luar wilayah Klepu—atau paling tidak, kalangan yang mencoba mengembangkan varian Islam yang sama sekali tak memiliki akar historis di Klepu.

Berjarak sekitar 30 km dari pusat kota Ponorogo, desa Klepu sebenarnya adalah wilayah yang dikaruniai potensi alam yang elok. Pegunungan, hamparan sawah dan kali berbatu merupakan pemandangan yang lumrah menghiasi jalanan menuju Klepu. “Terus saja, mas. Susuri jalan kecil setelah jembatan,” jawab ramah sejoli petani yang tengah menjemur jagung hasil panenannya di tepi jalan, ketika saya tanya letak Gua Maria Fatima.

Mayoritas masyarakat Klepu berprofesi sebagai petani. Keramahan dan kerukunan memang cukup terasa di sini, tanpa dibuat-buat—sebentuk sikap sosial yang masih jamak saya temui di desa-desa pegunungan.

Seperti sejoli petani yang jelas muslim di atas, di mana sang isteri berkerudung, dengan ramahnya mereka menunjukkan jalan berkelok dan menanjak menuju Gua Maria Fatima, salah satu tempat peziarahan umat Katolik terbesar kedua di Jawa Timur. “Pinarak, mas,” ucap lelaki itu sembari menepuk pundak saya ketika saya berpamitan untuk melanjutkan perjalanan.

Tak lebih dari 100 meter dari posisi gua di ketinggian bukit terdapat sebuah masjid beratap susun tiga. Adhem dan hening, begitulah suasana Gua Maria Fatima. Selain gua, di tempat ini juga terdapat sendang atau mata air yang kini sedang direnovasi. Sendang ini bernama Sendang Waluyajatiningsih di mana airnya terkenal higienis, langsung dapat diminum di tempat.

Di sekitar sendang ada tiga tanaman langka yang dilestarikan masyarakat Klepu: tanaman jambe, andong, dan puring. “Dahulu, pada tahun 1986, seorang bocah berusia 5 tahun dikabarkan hilang tenggelam di sendang,” cerita Bonari, seorang keamanan di Gua Marima Fatima.

Tak disangka, bocah itu ternyata masih hidup. Justru dengan gamblangnya dia bercerita telah ditolong oleh sesosok ibu berpakaian serba putih. Umat Katolik setempat pun kemudian bersepakat untuk membangun tempat untuk berziarah dan berdoa, membangun sebuah gua. “Selain tenang dan damai, dulu tempat ini memang dikenal angker,” tambah Bonari.

Di depan gua terdapat halaman yang cukup luas, dengan dihiasai 14 lukisan bertekstur berbahan dasar semen. Lukisan-lukisan itu mengisahkan perjalanan Yesus, dari mulai “Yesus Jatuh Untuk Pertama Kali” hingga “Yesus Dimakamkan.” Menurut Bonari, karya-karya rupa ini menggambarkan sejarah Paskah, kisah sengsaranya Yesus.

Bagi Bonari sendiri, dan mayoritas masyarakat Klepu, hidup saling berdampingan antar umat beragama bukanlah hal yang aneh. Toleransi antar umat beragama di desa ini sudah berlangsung sedemikian lama. Sejak 1983, kerukunan masyarakat Klepu sudah terkenal secara nasional. Ada beberapa faktor yang menyebabkan kenapa perbedaan agama dan toleransi terajut dengan baik. Menurut Bonari, hal itu disebabkan oleh adanya perbedaan agama dalam satu keluarga. Seumpama sang suami Islam, sang isteri adalah Katolik. Fenomena ini masih banyak dijumpai di Klepu. Lagi pula, “Katolik itu, kan, mirip NU, mas,” tambah pria berperawakan gagah ini.

Seperti yang saya duga, baik NU maupun Katolik, memang terkenal dengan sifat kontekstualnya. Dalam pendekatan kemasyarakatan, mereka sama-sama berprinsip di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung. Tradisi  Jawa—semisal ritual-ritual pernikahan, kelahiran dan kematian—adalah sebentuk kearifan lokal yang mampu mengatasi sekat-sekat perbedaan, baik perbedaan sosial maupun agama.

Taruhlah slametan atau genduren, tradisi-tradisi ini khas Jawa, bukan tradisi yang melulu milik Islam (NU) maupun Katolik. Tradisi-tradisi yang merupakan warisan leluhur ini selain memiliki fungsi sosial juga memiliki fungsi simbolik-spiritual. Ritual slametan beserta ubarampe-nya, secara simbolik mengandung pesan-pesan kemanusiaan yang sesungguhnya bersifat universal, di mana baik dalam sistem agama Islam maupun Katolik dapat menemukan titik kesepahamannya. Masing-masing seolah lebur dalam kultur dan kosa-kata kosa-kata Jawa tanpa perlu berpikir, adakah tradisi ini menyalahi agama yang dianutnya.

Selayaknya desa-desa pegunungan, kearifan-kearifan lokal di atas memang masih kuat mengakar. Dan justru kearifan semacam itulah yang membuat kohesi sosial di Desa Klepu terbangun dengan begitu kokohnya.

Desa Klepu sendiri terdiri dari 4 Dusun. Berdasarkan keterangan Bonari, sekitar separuh orang Klepu beragaman Katolik dan separuhnya lagi Islam. Selain Gereja Katolik Sakramen Mahakudus, Sendang Waluyajatiningsih dan Gua Maria Fatima, di desa ini juga saya jumpai adanya beberapa masjid. Dua di antaranya adalah Masjid berarsitektur Jawa yang tak lebih dari 1 km dari Gua Maria Fatima, Masjid al-Hidayah.

Tak berbeda dengan Bonari, Harwan, seorang muslim yang hidup di lingkungan NU, juga mengatakan bahwa selama ini tak pernah ada ketegangan ataupun gesekan antar umat beragama di Klepu. Ketika saya singgung tentang maraknya hoax atau pun isu-isu yang bernuansa sentimen SARA belakangan ini, desa Klepu luput dari perpecahan dan tetap kondusif serta terjaga kohesi sosialnya. “Kuncinya adalah komunikasi dan saling menghormati,” kata pria yang tinggal di samping masjid Jogorogo ini.

Biasanya, dewan gereja dan takmir masjid di Klepu saling bertemu dan berkoordinasi, tak pernah memutus komunikasi. Dan masing-masing komunitas beragama di Klepu juga tetap menjalankan aktifitas keagamaannya masing-masing. Seperti aktifitas ibu-ibu yang beragama Islam, mereka rutin mengadakan tahlilan dan yasinan. “Ketika rapat PKK, masing-masing komunitas agama melebur,” jelas seorang perempuan berkerudung yang tinggal tak jauh dari Gua Maria Fatima.

Untuk kegiatan atau urusan-urusan desa, semisal rembug desa ataupun rembug RT, masyarakat Klepu berbicara sebagai warga desa Klepu, bukan sebagai orang Katolik atau orang Islam. Kesadaran sebagai warga desa inilah yang saya kira juga salah satu faktor kenapa toleransi antar umat beragama di Klepu tumbuh dengan sedemikian kuatnya. Tak usah jauh-jauh mengulik Rosaldo Rhenato soal cultural citizenship ataupun public reason-nya John Rawls, masyarakat Klepu telah mempraktikan kesadaran sebagai warga desa ini sejak lama.

Ketika di ruang sosial, masyarakat Klepu sudah sadar dengan sendirinya bahwa pertama-tama mereka adalah warga Desa Klepu, bukan warga Katolik maupun warga muslim. Kesadaran diri sebagai warga Desa Klepu seperti ini pada gilirannya akan mempertemukan mereka. Sehingga sikap-sikap reflektif akan kebersamaan tumbuh dengan sendirinya. “Gesekan itu untuk apa?” tanya Harwan seolah mewakili sikap reflektif mayoritas warga Klepu.

Saya pun terkadang takjub, bagaimana masyarakat Klepu sudah sedemikian majunya dalam soal toleransi yang secara kultural bersumber dari kearifan lokal dan secara sosial-politik tumbuh dari kesadaran tentang citizenship, padahal jarang atau bahkan tak pernah ada aktifis-aktifis lintas agama terjun ke desa Klepu untuk memberdayakan masyarakatnya?

Kearifan-kearifan lokal dan kesadaran sebagai warga desa Klepu tersebut pada akhirnya akan menempatkan manusia pertama-tama bukan sebagai sesama umat, namun sebagai sesama bangsa, sesama warga desa Klepu. Begitulah keberagaman dalam persatuan warga desa Klepu yang teranyam bahkan sampai sepekuburan.[MFR]