Realitas Mitos dan Literasi dalam Bingkai PKM

Dalam ranah akademik, potret Canggu dengan segala potensinya sangat menarik untuk dijadikan kajian kolaboratif dan multidisipliner. Semoga tulisan ini mengundang rasa penasaran sehingga pada akhirnya kita bisa berkolaborasi dalam PKM sampai terwujudnya pilar Tri Dharma dalam bentuk pengabdian yang benar-benar kuat dan kokoh.

—- Moh. Irmawan Jauhari

Tanggal 30 Juni 2020, kami melakukan diskusi dengan para pemuda Desa Canggu lingkungan Pandan Kidul yang tergabung dalam Kelompok Pemuda Gapuro Ijo. Mereka berkeinginan berpartisipasi dalam kegiatan seri webinar yang diselenggarakan oleh KEMENDES mulai 1 Juli 2020. Webinar tersebut mengambil konsepcall for papers yang berorientasi sebagai rujukan penyusunan RPJMDES bagi desa-desa se-Indonesia. Kami kemudian melihat bahwa ada sebuah progres yang cukup luar biasa dari para pemuda Canggu.

Geertz pernah memotret Mojokuto (nama sebuah desa di Pare, bisa jadi ini terletak di sebelah timur Canggu) yang menghasilkan klasifikasi masyarakat Jawa menjadi santri, abangan dan priyayi. Agak jauh ke tenggara dari Canggu, terdapat desa Keling. Sebagaimana diketahui sejarah, Majapahit adalah kerajaan semi otonom dengan adipati-adipati kecil di bawahnya. Ketika pemerintahan Brawijaya V melemah dan akhirnya mengundurkan diri dari keramaian, adipati Kediri pernah menjadi raja sementara dan Keling sebagai ibukotanya. Pendapat kami ini terkesan spekulatif mengingat penelitian purbakala dan fase sejarah lokal mengenai masa akhir Majapahit kurang tuntas dikarenakan kisruh tersebut membawa babak baru Demak. Di Canggu, salah satu dusunnya bernama Surowono memiliki candi dan sungai bawah. Kami hanya berusaha menebak bila pada masa lalu, sungai bawah itu bisa jadi adalah jalur rahasia istana di Keling apabila terdapat keadaan yang membahayakan.

Sebelum diskusi, kami mendapatkan gambaran bahwa mereka dalam tiga tahun terakhir melakukan kegiatan pembersihan lingkungan, yang dalam hal ini adalah salah satu sumber mata air di Canggu. Dan kini manfaat dari kegiatan tersebuat meningkatnya debit air dari sumber mata air tersebut. Sumber mata air yang mereka rawat pada mulanya penuh tumpukan sampah. Beruntung ada sosok yang bernama Moh. Zaenal Arifin (biasa disebut sebagai Mbah Sumber dan pemilik akun you tube Mbah Sumber) karena fokus dan perhatiannya terhadap sumber mata air di Canggu sangat besar.

Dalam khazanah SAA, mitos bukan hal aneh yang karena sering disebut dan dibahas dalam makalah-makalah. Jika berbasis pengalaman kami ketika melakukan perjalanan dan bertemu dengan sebuah sumber mata air, kami menjumpai nuansa mitos masyarakat setempat yang masih sangat lekat. Pernah dalam sebuah penelitian di lereng Lawu utara, kami mendapatkan mitos mengenai sebuah sumber mata air dekat sungai yang katanya dihuni oleh makhluk gaib. Masyarakat sekitar tidak ada yang berani mengganggu ekosistem sumber tersebut. Ketika kami berada di Sumber Brantas (Kota Batu), terdapat mitos sepasang kakek nenek penghuni sumber dengan harimau putih. Sumber mata air, telaga, sungai, gunung, laut, dan tempat-tempat yang dipenuhi mitos, hadir dengan khazanahnya sendiri. Sepertinya terkesan mengedepankan takhayul, namun jika dipahami dengan baik, akan memberikan sebuah pemahaman bagi kita semua.

Mitos bisa diterima dan bisa dibuktikan sepanjang yang mencoba membongkar mitos mengerti serta belajar bagaimana alur mitos terjadi. Akan sangat naif kalau berbicara mitos tapi melihat dan mengukurnya menggunakan pendekatan empiris. Yang lebih menarik kemudian adalah pesan moral yang ingin dibawa oleh mitos. Kehadiran sosok penunggu sumber yang dianggap memiliki kekuatan adikodrati serta bisa menganggu orang apabila merusak ekosistem sumber, sebenarnya jika diterjemahkan dalam sains, apabila hubungan antar komponen biotik dan abiotik dalam ekosistem tidak imbang, tentu berdampak pada kerusakan ekosistem tersebut.

Masyarakat dahulu tidak memerlukan penjelasan yang rasional dan sistematis mengapa mereka dilarang merusak ekosistem sumber mata air. Dengan hanya ditakuti akan sosok penungu sumber, mereka mengurungkan niat untuk berbuat buruk di kawasan sumber. Apalagi mengeksploitasi sumber demi kepentingan segelintir orang. Bedakan dengan perilaku orang sekarang yang mengabaikan mitos, tapi dia lupa bahwa antroposentrisme tidak berarti bahwa alam bisa dikeruk habis-habisan atas nama manusia.

Kita memang berharap bahwa mitos diletakkan dalam wilayahnya sendiri sebagai bagian dialektika manusia dengan alam semesta. Namun melakukan kontrawacana dengan menganggap mitos sebagai takhayul tanpa memperhatikan dampak bagi ekosistem (dalam hal ini sumber mata air) juga merupakan sebuah tindakan yang kurang patut dan tidak bisa diterima. Ketika mitos dalam masyarakat melemah dengan kuatnya rasionalitas, manusia mulai berani melakukan perbuatan-perbuatan yang pada dasarnya dilakukan secara sadar dan tindakan tersebut berpotensi mengakibatkan rusaknya ekosistem tempat tinggal mereka. Contoh nyatanya adalah, masyarakat sekitar sumber di Canggu beberapa waktu lalu sebenarnya sadar bahwa tindakan membuang sampah serta mengotori sumber akan berakibat tercemarnya sumber dan berkurangnya debit air. Akan tetapi mengapa mereka melakukan itu, atas nama keuntungan pribadi atau atas nama kepentingan yang lain? Satu kasus di Canggu bisa jadi contoh betapa dewasa ini masyarakat sudah melakukan tindakan-tindakan yang justru membahayakan ekosistem mereka sendiri. Seharusnya apa yang dilakukan Pemuda Gapuro Ijo mendapatkan apresiasi dan dukungan dari berbagai pihak. Mereka melakukannya dengan sadar tanpa ada ketakutan adanya makhluk-makhluk gaib dan berorientasi kepada perbaikan ekosistem sumber mata air.

Keresahan pemuda tersebut, di mana mereka ingin menuangkan ide dalam bentuk tulisan, membawa perjumpaan kami. Pada dasarnya, mereka sudah memiliki dokumentasi tersendiri dalam kegiatan kebersihan lingkungan yang bisa dilihat dalam channel Youtube Mbah Sumber. Namun untuk menuliskannya, perlu diasah beberapa bekal dan modal yang mereka miliki. Maka dalam kesempatan tersebut kami sekedar menyampaikan beberapa hal ringan bahwa tukang masak membutuhkan teori untuk masak. Jika sudah mahir, tentu teori itu tidak diperlukan lagi karena ia sudah menjadi sebuah kebiasaan dan sifatnya refleks. Demikian juga dengan menulis. Terkait keragaman teori yang muncul ketika mereka browsing dan baca buku terkait sub tema dalam acara webinar, saya sampaikan bahwa soto itu macamnya ada Soto Branggahan, Soto Lamongan, Soto Makasar, Soto Madura, Soto Yasinan, dan Soto Mantenan. Pilih yang pas dengan kebutuhan Pemuda Gapuro Ijo. Ketika mereka bingung lagi merangkai kata, saya sampaikan bahwa tulislah dahulu, nanti kita benahi sama-sama. Dan semua sepakat bahwa seminggu lagi ada tulisan dalam bentuk sederhana yang akan kita benahi sama-sama baik konten maupun teknisnya.

Realitas pemuda Canggu lingkungan Pandan Kidul sudah memiliki modal pengalaman untuk merubah keadaan di lokasi mereka. Akan tetapi bagaimana juga, diperlukan sinergi semua pihak agar kerja-kerja para pemuda bisa mengantarkan mereka semakin matang dalam berproses. Dalam ranah akademik, potret Canggu dengan segala potensinya sangat menarik untuk dijadikan kajian kolaboratif dan multidisipliner. Semoga tulisan ini mengundang rasa penasaran sehingga pada akhirnya kita bisa berkolaborasi dalam PKM sampai terwujudnya pilar Tri Dharma dalam bentuk pengabdian yang benar-benar kuat dan kokoh. Semoga.[MFR]

Menggagas #SedekahTulisan di Kampus

Maufur*

Photo Source: https://techno.okezone.com/read/2016

Setiap Muslim, atau penganut agama manapun, sudah pasti akrab dengan terma sedekah, terutama di bulan suci Ramadan seperti sekarang ini. Sedekah diartikan sebagai pemberian suatu kebaikan kepada orang lain tanpa menuntut imbalan apa-apa. Jika kita merelakan milik kita kepada orang lain dan itu baik, tanpa berharap apapun sebagai imbalan, maka kita sudah bersedekah.

Entah mengapa di kalangan Muslim Indonesia, istilah sedekah identik dengan pemberian barang atau materiil terhadap orang yang tidak mampu atau sedang dalam kesulitan ekonomi (fakir miskin). Anjuran bersedekah biasanya berkaitan dengan sumbangan materi tertentu, bisa berupa uang atau barang, untuk kepentingan tertentu (pembangunan masjid, pendidikan, kegiatan sosial-keagamaan, dan sebagainya). Derma berupa “jasa”, “gagasan”, atau “bantuan non-materiil” jarang sekali disebut sedekah.

Tak heran jika definisi sedekah dalam KBBI sebagai berikut: “pemberian sesuatu kepada fakir miskin atau yang berhak menerimanya, di luar kewajiban zakat dan zakat fitrah sesuai dengan kemampuan pemberi; derma; 2 selamatan; kenduri: — arwah; — kubur; 3 makanan (bunga-bunga dan sebagainya) yang disajikan kepada orang halus (roh penunggu dan sebagainya).

Kita bisa melihat benang merah dari semua pengertian itu: derma atau pemberian materi tertentu. Barangkali karena itu kita merasa belum bersedekah jika belum memberi sumbangan barang tertentu kepada seseorang atau lembaga. Apakah yang demikian ini salah, tentu saja tidak. Semakin orang merasa belum bersedekah dan ingin terus bersedekah, itu hal yang sangat baik. Bukankah ada pepatah: “Sedekah, lalu lupakan…!” Hanya saja, menurut hemat penulis, saking semangatnya kita “sedekah harta” kita lupa bahwa sedekah non-harta juga sangat penting bahkan perlu dalam situasi tertentu. Jika sedekah bisa berupa harta dan non-harta, maka sebenarnya tidak ada alasan atau kondisi apapun yang menghalangi orang untuk bisa bersedekah.

Kampus adalah lembaga pendidikan dan pusat pengembangan ilmu pengetahuan. Kampus berisi orang-orang yang secara intelektual rata-rata di atas orang awam. Ada mahasiswa, master, doktor, bahkan profesor. Dunia membaca dan menulis adalah hidangan sehari-hari, malah jadi kewajiban profesional. Kampus adalah tempat slogan perubahan dikumandangkan dan disuarakan ke luar tembok-tembok kampus.

Sejarah membuktikan bahwa tulisan bisa mengubah arah peradaban: Peradaban Yunani terkenal karena karya para filsuf Yunani; Peradaban Islam memasuki “Zaman Keemasan” karena aktivitas riset, menulis, dan translasi di Baitul al-Hikmah; Peradaban Eropa juga memasuki pintu gerbang sains melalui mahakarya ilmuwan seperti Galileo atau Einstein. Tulisan juga bisa memenangi peperangan. Napoleon Bonaparte pernah bilang, “Aku lebih takut pada sebuah pena ketimbang seratus meriam.”

Tulis-menulis adalah kerja utama para intelektual kampus. Orang bisa sepintar atau seulung apapun dalam berorasi, tanpa menulis orang itu akan sirna ditelan sejarah; “Menulis adalah bekerja untuk keabadian,” begitu ungkapan begawan Pramoedya A. Toer yang kerap kita dengar dari para mulut aktivis. Maka, hilangnya tradisi tulis-menulis di kampus berarti juga redupnya semangat perubahan. Kampus adalah tempat gagasan bertemu dan berkontestasi melalui tulisan; Kampus bukan tempat surga-neraka didengungkan setiap hari tanpa tiada henti. Kampus adalah tempat orang berpikir dan tenggelam dalam kerja intelektual.

#SedekahTulisan adalah salah satu ikhtiar untuk membangun tradisi tulis-menulis di kampus tercinta. Terma “sedekah” dipilih karena tulisan adalah kerja religius seperti halnya sedekah. Bersedekah tulisan berarti kita menyumbangkan pikiran, waktu, dan energi demi pengetahuan dan perubahan. Kerja seperti ini sama bernilainya dengan mendermakan sebagian harta kita. Jika agama mengajari kita untuk bersedekah setiap waktu, maka demikian pula dengan menulis. Layaknya sedekah, tidak perlu ditanya apa sebuah tulisan akan dibaca orang ataukah akan mengubah keadaan. Kerja menulis adalah amanah yang disematkan oleh Tuhan kepada insan kampus sebagai komunitas intelektual. Jadi, “Sudahkah Anda Bersedekah (Menulis), Hari ini?” Wallahu’alam.

*Maufur adalah Dosen sekaligus Sekprodi Studi Agama-Agama (SAA) IAIN Kediri