Ngidung Keslametan dan Kabegjan

Ana kidung rumeksa ing wengi. Teguh hayu luputa ing lara. Luputa bilahi kabeh. Jim setan datan purun. Paneluhan tan ana wani. Miwah panggawe ala. Gunaning wong luput. Geni atemahan tirta. Maling adoh tan wani perak mring mawi. Guna duduk pan sirna”

“Allahumma sholli ‘ala sayyidina muhammadin. Thibbil qulubi wa dawaiha. Wa ‘afiyati-l-abdaani wa syifaaiha. Wa nuuril abshoori wadliyaaiha. Wa ‘alaa alihi wa shohbihi wa salim”

Awal 2020, dunia digegerkan dengan virus Corona (Covid-19). Virus dengan cepat mewabah ke sejumlah negara di dunia. Menurut data John Hopkins Corona Virus Resource Center, (per 7 November 2020) virus tersebut sudah menjangkau 190 Negara — tidak terkecuali Indonesia. Sejak awal Maret 2020, pemerintah Indonesia mengumumkan bahwa Indonesia darurat wabah virus Corona. Mulai saat itu, jagad maya dan medsos gonjang-ganjing banjir informasi Covid-19, baik informasi yang sahih, semi-sahih, maupun hoaks. Pemerintah pun memutuskan beberapa kebijakan: social distancing, physical distanching, kantor-kantor dihimbau work from home, hinggasiswa dan mahasiswa belajar dari rumah saja melalui media daring.

Informasi banyu-mili melalui medsos, seperti apa sifat virus Corona, bagaimana penularannya, juga bagaimana ketika terpapar virus tersebut. Bahkan informasi jumlah positif Covid-19, jumlah yang mati, pun jumlah yang sembuh, selalu di-update setiap hari oleh pemerintah. Kewaspadaan, kecemasan, bahkan ketakutan pun turut menyebar. Percepatan penyebaran kondisi psikologis tersebut sepertinya tidak mau kalah, bahkan melebihi percepatan virus Corona itu sendiri. Wabah virus Corona-19 ini oleh orang Jawa disebut dengan istilah pagebluk mayangkara, pandemi penyakit.

Dalam situasi pagebluk seperti ini, penulis teringat dengan wejangan para sepuh, termasuk pesan yang penulis dapatkan dari Simbah Kakung (Mantingan), “No (Narno). Ben ora ketaman lara, maca o japa mantra. Insyaallah, Gusti Allah bakal mayungi”. Makasejak manusia dan dunia geger wabah Covid-19, penulis hampir setiap hari melantunkan kidung sarirahayu, atau yang oleh masyarakat dikenal dengan nama Kidung Rumeksa Ing Wengi.

Di Jawa, kidung, atau tembang, atau nyanyian yang berisi sastra adalah seni. Setiap kidung memiliki fungsinya masing-masing. Kidung Sarira Hayu, sesuai dengan isinya memiliki fungsi penangkal segala macam penyakit, musibah, dan mara bahaya. Para leluhur Jawa, memanfaatkan mantra—baik yang ditembangkan maupun yang diucapkan biasa—sebagai proteksi diri. Terlihat bahwa dalam pelangitan doa pun, para leluhur Jawa menggunakan seni.

Doa atau mantra adalah seni, wujudnya adalah sastra (bahasa). Seni, itu rasa. Sedangkan manusia itu ber-rasa. Rasa itu adalah Diri yang menangkap apa-apa yang masuk kepadanya, baik itu raga (rasa raga: panas, dingin, sakit), pikir (rasa pikir: keinginan, berpikir mengenai sesuatu), maupun hati (rasa manah: susah, senang, sumpek). Maka,  Diri adalah rasa Aku, yang merasakan rasa raga, rasa pikir, dan rasa manah. Jadi karena manusia itu rasa dan seni adalah rasa, sejak jaman dulu, manusia itu sudah nyeni (mencipta seni). Hal ini sesuai dengan apa yang ditulis oleh Michel Lorblanchet (2007) dalam jurnal The Origin of Art, bahwa manusia pada dasarnya adalah seniman dan sejarah seni dimulai dengan manusia—manusia adalah homo aestheticus.

Seni, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1995) diartikan sebagai yang halus, lembut, enak didengar, juga create (mencipta) karya yang lembut. Dalam Oxford English Dictionary, Art (seni) diartikan sebagai penggunaan imajinasi untuk mengekspresikan ide-ide atau perasaan-perasaan. Dari pengertian-pengertian tersebut, bisa dipahami istilah artistik, estetik, pun etika. Sesuatu yang menifestasi jiwa (ide atau perasaan), maka disebut sebagai artistik, memiliki sifat estetik (indah, lembut, halus), dan muaranya adalah mewujud perilaku yang estetik (etika).

Mencipta (create) dengan demikian adalah akar seni. Bagaimana manusia dengan bahan-bahan yang dimiliki, yaitu ide dan perasaan (jiwa)—di Jawa disebut dengan cipta, rasa, karsadiolah untuk mencipta seni apapun wujudnya (bahasa, visual, gerak, musik). Dengan demikian, seni adalah salah satu sarana penting untuk mencipta dan mengembangkan kreativitas. Seni adalah sarana membangun kekuatan batiniah atau kejiwaan manusia.

Lalu, apa hubungan seni dengan psikologi? Seni sebagai karya olah jiwa yang mengalir ke muara perilaku (etika), sedangkan psikologi adalah ilmu perilaku sebagai manifestasi jiwa. Seni memberikan pengertian atas pikiran (ide-ide) dan apa-apa yang dirasakan oleh manusia. Maka, bagi psikologi, seni adalah sarana yang efisien untuk merawat psikologis baik pada anak-anak, remaja, maupun orang dewasa. Seni dapat menjelaskan sisi pikiran (ide) atau perasaan pada tataran individu dan kelompok masyarakat tertentu — lebih jauh, seni secara tidak sadar menunjukkan kepribadian individu, pun kepribadian suatu masyarakat. Dengan demikian, antara seni dan psikologi memiliki misi yang sama yaitu untuk menjelaskan secara obyektif pertumbuhan, perkembangan dan kesempurnaan jiwa seseorang atau masyarakat (Nader dan Moosa, 2012).

Apa yang perlu dilakukan?

Membuka kran kreativitas adalah kebutuhan pengembangan kekuatan jiwa, optimalisasi cipta, rasa, karsa dan karya. Psikologi, sejak tahun 1950, masih kesulitan mendefinisikan kreativitas. Salah satu sebab adalah karena pada tahun itu psikologi di Amerika masih didominasi aliran behavioristik, yakni oleh eksperimen psikolog Harvard B.F. Skinner yang notabene dilakukan kepada merpati dan tikus. Pada waktu itu semua orang menyadari bahwa kreativitas sulit dijelaskan oleh behavioris. Namun sebuah gerakan baru muncul, yaitu psikologi humanistik yang dimotori oleh Abraham Maslow dan Carl Rogers, yang mulai memiliki konsentrasi kajian terhadap pentingnya pengalaman puncak, motivasi batin, aktualisasi diri, dan kreativitas. Bagi kedua tokoh psikologi humanis tersebut, kreativitas adalah salah satu sifat kemanusiaan yang paling positif dan mampu meneguhkan kehidupan (Sawyer, 2006).

Kreativitas menurut Carl Rogers (2012) adalah kebutuhan sosial yang mendesak untuk melahirkan perilaku-perilaku kreatif pada individu. Maka, Rogers dalam bukunya On Becoming a Person mengritik serius tentang budaya yang memiliki kecenderungan tidak dengan baik mengembangkan kreativitas. Dua kritikan di antaranya adalah soal pendidikan yang cenderung menghasilkan pengikut, stereotip, bukan pemikir inovatif, kreatif, dan penuh kebebasan. Dan dalam kehidupan keluarga, terjadi situasi yang sama. Mulai dari pakaian, makanan yang dimakan, buku yang dibaca, dan gagasan yang dimiliki, terdapat kecenderungan mengikuti, mematuhi dan stereotip. Sedangkan untuk menjadi pribadi yang kreatif akan  dianggap berbeda dan “berbahaya”.

Kemana kreativitas seni menuju?

Seni sebagai pendaya-optimalan cipta, rasa, karsa, dan karya (kreatif) yang bersifat indah, lembut dan halus adalah intisari kebudayaan. Sebagaimana yang diartikan oleh Ki Hadjar Dewantara (1994), kebudayaan adalah segala apa yang berhubungan dengan “budaya”, sedangkan budaya berasal dari perkataan “budi” yang dimaksudkan sebagai budi yang telah masak atau matang. Kebudayaan adalah buah budi manusia. Masak atau matangnya budi (cipta, rasa, karsa dan karya) akan menunjukkan kebudayaan seseorang atau suatu masyarakat. Maka, seni bahkan kesenian yang ada menjelaskan kebudayaannya. Kebudayaan dengan demikian adalah erat dengan konteks seperti apa cipta, rasa, karsa, dan karya yang dimiliki oleh individu maupun suatu masyarakat.

Lahirnya seni, bahasa Jawa-nya ora isa ucul dari kebudayaan masyarakat setempat yang dicipta oleh individu-individu yang ada di dalamnya. Maka karya seni, selain ekspresi yang menjelaskan kebudayaan, juga untuk menjawab permasalahan-permasalahan masyarakat tertentu. Penulis mengambil contoh berbagai serat di Jawa, juga mantra dan doa dalam agama-agama, adalah karya seni yang menjelaskan kondisi-situasi dan menyelesaikan permasalahan masyarakat. Contoh terkini, karya Iwan Fals dengan lagu “Bongkar” yang memiliki kekuatan perlawanan terhadap praktik korupsi, serta lagu “Pancasila Rumah Kita”-nya Franky Sahilatua yang dirilis untuk menguatkan kembali kepada seluruh warga Negara Indonesia bahwa Pancasila adalah rumah untuk kita semua dan selamanya. Karya seni sebagai kebudayaan seharusnya dapat memberikan dampak kebudayaan. Sehingga misi besar kebudayaan dapat dicapai bersama, yaitu keselamatan dan kebahagiaan.

Dalam situasi masyarakat dunia, pun Indonesia yang saat ini dalam kecemasan dan ketakutan, karya seni dari masing-masing kebudayaan seharusnya dapat dijadikan sebagai jampi (obat) kejiwaan. Sehingga masyarakat dapat menghadapi pagebluk virus Corona dengan situasi yang tenang dan tatag (tabah). Pada akhirnya, karya seni seperti “Kidung Rumeksa Ing Wengi” dan “Sholawat Thibbi-l-Qulub” perlu dibaca dan dilantunkan kembali sebagai penguat jiwa, hingga individu-individu di dalam masyarakat merasakan selamat (keslametan) dan kebahagiaan (kabegjan). [MFR]

Serat Jamus Kalimosodho Melawan Stratifikasi Sosial Jawa

Sunan Kalijaga, dalam layang kalimosodho-nya,menjelaskan bahwa orang bisa mengubah kastanya bukan berdasarkan “trah” atau garis keturunan, melainkan dari sikap dan perilaku yang ditunjukkan.

—– Indra Latief Syaepu

Tulisan ini diilhamioleh strategi dakwah Walisanga untuk kaum Sudra. Semula, Walisanga memokuskan strategi dakwahnya pada kalangan Kedaton saja. Seperti tertulis dalam sejarah, para wali diberi sebuah tanah tersendiri oleh Raja Majapahit sebelum diruntuhkan oleh kaum oposisi, terutama dari Keling yang sebagian pasukanya sudah berhasil menyusup ke kota Majapahit yang berpusat di Desa Jinggan. Sebelum pemberontakan yang mengakibatkan Majapahit runtuh, para wali sudah mulai menempati tanah pemberian dari raja Majapahit tersebut yang berada di Gelagahwangi. Pada masa Majapahit dan Ampel Denta, para Wali mengarahkan sasaran utama strategi dakwah mereka kepada para petinggi Kedaton atau kalangan kasta Kesatria.

Strategi dakwah yang dipakai para Wali ini bisa ditilik dari teori kekuasaan (penguasa), di mana kekuasaan mempunyai power untuk memengaruhi rakyat di bawahnya, seperti kata M. Foucault dalam karyanya, Power and Knowledge. Alasan kenapa saya lebih tertarik pada Foucault daripada teori kekuasaan Weber atau Marx adalah karena Wali di sini bukan penguasa pada saat itu. Mereka adalah para saudagar yang kemudian melakukan strategi dakwah pertama kali di lingkungan Kedaton dengan harapan bahwa seluruh rakyat akan mengikuti Raja-nya sebagai panutan seperti yang tertera dalam ajaran agama sebelumnya. Ajaran agama terdahulu menyatakan bahwa seorang Raja, Adipati dan Kesatria merupakan titisan dari dewa yang wajib diikuti dan disembah oleh kawula (rakyat).

Para Wali berhasil menjalin atau membentuk suatu relasi atau jaringan yang sangat kuat dengan penguasa-penguasa setempat pada waktu itu sebagai langkah pertama dakwah Islam. Kemudian, setelah Islam mulai menguasai pesisir pantai utara Jawa, strategi dakwah selanjutnya adalah menjalin ukhuwah islamiyah di kalangan muslim dengan tujuan memperkuat jaringan islam yang sudah terbentuk.  Pada akhirnya, para Wali tersebut diberi tanah untuk ditempati oleh mereka dan ditempat itulah dibentuk kerajaan pertama Islam di pulau Jawa (Jawa loh ya, bukan Nusantara!). Setelah puas dengan strategi dakwah pertamanya, yaitu menjalin relasi yang kuat dengan penguasa setempat, para Wali menerapkan strategi kedua yang tercipta setelah mereka melakukan observasi dan investigasi di lapangan. Mereka terjun langsung di kalangan masyarakat atau kaum Sudra yang masih banyak terikat dengan adat budaya agama sebelumnya, terutama soal kasta sosial atau stratifikasi sosial. Kemudian, Walisanga mengubah strategi dakwah mereka yang sebelumnya menyasar kaum Sudra.

Diawali dari gagasan Sunan Kalijaga (Dalang Bengkok) yang merumuskan Serat Jamus Kalimoshodho sebagai topik pagelaran pewayangan yang bisa dinikmati oleh seluruh rakyat pada waktu itu. Dalam pendalangan yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga, diceritakan bahwa Serat Jamus Kalimosodho bisa menjadi genggaman seluruh manusia untuk memeroleh kewibawaan dunia dan di akhirat tanpa membedakan kasta. Kepiawaian Sunan Kalijaga dalam mengolah kata berhasil memengaruhi banyak masyarakat setempat. Beliau mengatakan bahwa layang kalimosodho adalah jimat keberuntungan yang wajib diagem ‘digenggam’, diimani dan diyakini. Ajaran dari jimat kalimosodho ini wajib diwujudkan atau diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Jika jimat kalimosodho ini diwujudkan dalam kehidupan bermasyarakat, maka akan tercipta tatanan masyarakat gemah ripah loh jinawi.

Gebrakan para Wali ini tentu saja membuat sebagian orang yang berkasta tinggi kebakaran jenggot, karena dinilai meracuni rakyat untuk memberontak pada pamong atau raja setempat. Selain itu, banyak juga yang mengatakan bahwa ajaran yang diwejangkan oleh Sunan Kalijaga telah merusak baker-pakem kisah pewayangan yang telah ada dan tertulis dalam Kitab Mahabarata. Dalam Kitab Mahabarata, tidak ada kisah yang menceritakan kaum Sudra bisa naik ke kasta Kesatria maupun Brahmana (tidak ada seorang kawula menjadi seorang gusti!). Namun sekali lagi, Sunan Kalijaga berhasil mematahkan argumen tersebut dengan santun dan santuy. Beliau menegaskan bahwa ajarannya adalah untuk meluruskan ajaran yang telah dibengkokkan oleh sebagian orang untuk kepentingan pribadi (dalam hal ini, politik dan kekuasaan).

Sunan Kalijaga, dalam layang kalimosodhonya, menjelaskan bahwa orang bisa mengubah kastanya bukan berdasarkan “trah” atau garis keturunan, melainkan dari sikap dan perilaku yang ditunjukkan. Jikalau ada seorang bangsawan yang memiliki “trah kasta Brahmana” tapi sikap dan prilakunya buruk, maka sejatinya dia bukan berkasta Brahmana, melainkan lebih hina dari Sudra, begitupula sebaliknya. Seperti yang diketahui dalam tulisan-tulisan yang sudah banyak tersebar, baik dalam bentuk buku, artikel maupun blog internet, yang dimaksud layang kalimosodho itu tak lain adalah kalimat syahadat dan untuk memeroleh jimat Jamus kalimosodho tersebut berarti orang tersebut haruslah masuk Islam.

Selain secara langsung ajaran jimat layang kalimosodho menghapus kasta sosial yang ada, di situ juga tersirat ajaran demokratis, hak dan kewajiban manusia. Nilai demokrasi bisa dilihat ketika Sunan Kalijaga berusaha menghapus kasta sosial yang ada. Setiap manusia berhak memperoleh kesempatan untuk menduduki kursi kekuasaan jika dirinya sudah dinilai mampu dan perilakunya mencermikan ajaran kalimosodho tersebut. Jika seorang pemimpin mampu melaksanakan tugas dan kewajibanya dalam mensejahterakan rakyatnya, maka secara otomatis pemimpin tersebut akan dicintai oleh rakyatnya.

Yang perlu digarisbawahi di sini adalah ketika Sunan Kalijaga melakukan gebrakan dengan Serat Jamus Kalimosodho yang tidak tertulis dalam ajaran sebelumnya. Beliau hanya meluruskan dari ajaran tersebut atau tidak menyalahkan ajaran agama tersebut. Manusia bisa berkasta rendah maupun tinggi dilihat dari perilakunya. Hal ini Sunan Kalijaga pelajari ketika beliau hendak masuk Islam, sementara beliau sendiri merupakan keturunan berkasta tinggi (adipati Tuban) yang masih keturunan dari Ranggalawe. Beliau dinilai telah melakukan suatu perbuatan yang memalukan kasta dan derajatnya dengan cara menjadi seorang maling, begal dan ahli judi. Meskipun diniatkan untuk menolong rakyat, cara yang dilakukannya dianggap salah sehingga dinilai telah merendahkan kastanya lebih buruk daripada kasta Sudra [MFR].

Menyapa Arwah dengan Sandingan

Arus modernisasi dan digitalisasi menjadikan budaya lokal sedikit banyak mengalami kelunturan atau bahkan menuju kepunahan.

—Abdur Rohman

Kata  sandingan  mungkin masih asing didengar oleh masyarakat Jawa, apalagi Indonesia. Padahal sandingan  adalah salah satu ritual masyarakat Jawa yang turun-temurun. Sandingan  adalah ritual Jawa yang dilakukan pada malam Jumat dan hari-hari tertentu dengan menyajikan beberapa  uborampe di kamar tengah yang dipersembahkan kepada para leluhur. Sayangnya, budaya ini sudah sulit ditemui. Arus modernisasi dan digitalisasi menjadikan budaya lokal sedikit banyak mengalami kelunturan atau bahkan menuju kepunahan.

Tulisan singkat akan akan mengulas budaya yang hampir punah ini. Penulis adalah penduduk asli kecamatan Mojo kabupaten Kediri yang mencoba menelusuri budaya tersebut. Sejauh yang penulis amati, di kecamatan Mojo hanya terdapat dua orang yang masih melestarikan budaya tersebut, yaitu di Desa Jugo dan Maesan.

Untuk masalah waktu, tradisi ini dibagi menjadi dua. Pertama, setiap, malam Jumat seperti dilakukan oleh Markonah (nama samara), seorang warga Desa Jugo Kecamatan Mojo Kabupaten Kediri. Karena tradisi ini dilakukan rutin setiap malam Jumat, maka uborampe  yang dijadikan sandingan juga sederhana. Biasanya meliputi hal-hal yang disukai oleh almarhum keluarga sewaktu masih hidup, yaitu rokok dan kopi. Uborampe  tersebut diletakkan di kamar tengah sejak sore hari hingga pagi dengan penerangan dari lampu tradisional, ublik. Setelah pagi hari rokok dan kopi tersebut baru boleh dikonsumsi oleh keluarga yang masih hidup.

Kedua, setiap menjelang Idulfitri dan bulan Ramadan. Romelah (nama samaran), seorang warga Desa Maesan Mojo Kediri, melaksanakan upacara sandingan pada dua momentum, yaitu pada saat megengan  dan  maleman. Megengan adalah upacara kenduri menjelang bulan Ramadan. Umumnya kenduri bertujuan untuk mendoakan para leluhur yang telah meninggal dengan mengundang para kerabat di wilayahnya masing-masing. Sedangkan maleman adalah tradisi kenduri menjelang datangnya Idulfitri.

Tradisi sandingan yang dilakukan hanya dua kali dalam satu tahun ini tentu berbeda dengan pelaksanaannya setiap malam Jumat. Perbedaan yang mencolok berada pada banyaknya uborampe  yang digunakan. Warga desa Maesan ini menggunakan uborampe yang cukup banyak, yaitu nasi putih, lauk-pauk, jenang, rokok, kopi, air putih, ublik, marang  dan lain sebagainya.

Nasi putih yang digunakan untuk sandingan ini diletakkan di dalam suatu wadah yang disebut dengan marang.  Marang  adalah wadah nasi yang umumnya dipakai untuk kenduri dan terbuat dari dari plastik. Jumlah marang  yang diisi nasi putih ini disesuaikan dengan jumlah leluhur yang telah meninggal di rumah tersebut. Kebetulan di rumah Romelah tersebut jumlahnya ada tujuh. Jadi, jumlah marang  yang digunakan juga ada tujuh. Sementara untuk bentuknya, nasi putih yang ada di dalam marang  tersebut dibentuk menggunung atau bagian tenganya sedikit lancip dan diberi entong  (alat mengambil nasi) di sampingnya. Sedangkan jumlah tujuh ini juga menjadi barometer jumlah  uborampe yang lain. Kesan yang ditimbulkan dari persediaan nasi putih beserta enthong di marang ini adalah mirip dengan fungsi orang yang akan makan, yaitu tersedia makanan pokok sekaligus peralatan yang digunakan untuk mengambil nasi tersebut.

Adanya nasi putih kurang lengkap tanpa ada lauk-pauk yang menemani. Lauk-pauk yang ada di dalam acara ini adalah srondeng (parutan kelapa yang sangrai dengan diberi campuran gula), sambal goreng (biasanya terbuat dari kentang goreng yang dibumbui dengan rasa pedas), daging ayam atau daging sapi yang sudah diiris berdasarkan ukuran yang telah ditentukan. Semua lauk-pauk tersebut diletakkan di dalam piring yang disandingkan dengan nasi putih tersebut. Disamping lauk-pauk tersebut masih masih ada jenang, yaitu nasi putih yang diletakkan di dalam lepek (piring mini) sedangkan bagian tengahnya diberi nasi merah (campuran antara nasi dengan gula merah) sedikit. Kesan warna yang ditimbulkan oleh jenang ini adalah warna putih dengan sedikit merah atau coklat tua pada bagian tengahnya.

Selain lauk-pauk di atas, masih ada lagi tambahan yang lain, yaitu ungkusan jeroan yang jumlahnya ada dua.  Ungkusan  adalah bahan-bahan makanan yang di bungkus dengan daun pisang dan dikunci dengan lidi. Bentuk  ungkusan  ini pipih pada bagian atas dan sedikit melebar pada bagian bawahnya agar bisa ‘duduk’ dan tidak tumpah saat disajikan. Bahan-bahan yang dijadikan isi dari  ungkusan  biasanya adalah daging dan sayur-sayuran. Namun dalam konteks ini yang digunakan adalah jeroan ayam. Orang umum mungkin lebih familiar menyebutnya dengan istilah bothok.  Ungkusan  tersebut di taruh salam satu wadah lepek  dan didekatkan dengan  uborampe  yang lain.

Uborampe  selanjutnya adalah rokok. Definisi rokok yang digunakan dalam Sandingan adalah rokok tradisional, yaitu rokok yang masih belum dibungkus. Artinya rokok tersebut masih terpisah antara bahan satu dengan bahan yang lain. Bahan rokok yang terpisah tersebut adalah mbako  (tembakao), cengkeh, dan sek.  Sek  adalah lembaran kertas putih tipis yang berbentuk segi empat dengan ukuran kurang lebih selebar kartu ATM. Kertas ini digunakan untuk nglinting  (menggulung) tembakau dan cengkah sebagai bahan utama rokok racikan tersebut. Uborampe  ini merupakan ilustrasi sebuah tradisi kaum laki-laki Jawa kuno yang merokok dengan cara tradisinonal tersebut. Semua bahan-bahan rokok tersebut dijadikan dalam satu wadah yang dapat menampung bahan tersebut, yaitu piring. Kesan yang ditimbulkan dalam uborampe  ini adalah sebagai ilustrasi orang yang ingin bersantai dan bersenda gurau dengan keluarga yang lain sambil ditemani rokok kesayangan almarhum, linting.

Uborampe  selanjutnya yang wajib ada adalah kopi dan air putih. Kopi yang disediakan untuk sandingan di dalam hal ini adalah kopi tradisional yang belum dicampur susu. Biasanya yang digunakan adalah kopi hitam dengan campuran gula, tanpa susu atau campuran yang lainnya. Jumlah kopi tersebut disesuaikan dengan jumlah leluhur laki-laki yang telah meninggal. Di dalam keluagra Romlah desa Maesan ini jumlahnya leluhurnya ada tujuh dengan rincian lima laki-laki dan dua perempuan. Untuk kopi disediakan sebanyak lima gelas yang disesuaikan dengan jumlah leluhur laki-laki. Sementara untuk leluhur perempuan disediakan air putih, yaitu dua gelas berdasarkan jumlah leluhur tersebut. Ilustrasi sederhana dari uborampe ini adalah sebagai menu wajib hidangan yaitu tersedianya air minum yang digunakan sebelum atau sesudah makan. 

Selain uborampe  di atas, masih ada lagi yang wajib ada dalam sandingan dan kenduri yang lain dalam peringatan slametan  untuk mengenang dan mendoakan leluhur. Uborampe  wajib tersebut adalah apem. Kata apem  konon diambil dari bahawa Arab ‘afwun  yang memiliki arti ‘ampunan’. Nilai filosofis nama apem  tersebut dapat bermakna harapan dan doa yang dipanjatkan oleh keluarga agar para leluhur mendapatkan ampunan dari Yang Maha Kuasa. Jumlah  apem  di dalam hal ini disesuaikan dengan jumlah leluhur yang ada, tanpa membeda-bedakan antara laki-laki dan perempuan. Dalam keluarga ini jumlah apem  yang disediakan ada tujuh dengan ditaruh pada satu piring dan didekatkan dengan  uborampe  yang lain.

Salah satu tradisi Jawa kuno yang sekarang sudah jarang dilakukan atau bahkan punah adalah  nginang. Nginang  adalah proses perawatan gigi dengan bahan-bahan tradisional seperti  enjet (gamping/kapur basah), daun sirih, gambir, tembakau dan buah pinang. Bahan-bahan tersebut jika akan dibuat nginang  ditaruh di dalam satu wadah yang berbentuk mirip dengan lesung (tumbukan padi tradisional) yang berukuran mini. Alat ini digunakan untuk numbuk  (menghancurkan) bahan-bahan hingga halus, lalu dicampur dengan tembakau sehingga tembakau tersebut basah dan berwarna kemerah-merahan. Tembakau yang sudah bercampur aneka rempah tersebut dimasukkan ke dalam sela-sela gigi sehingga warna gigi bisa berubah menjadi kemerah-merahan. Dalam sandingan ini sebagian bahan-bahan nginang  tersebut juga disajikan, seperti  enjet, gambir dan suruh (daun sirih).

Uborampe  tambahan yang lain dalam acara ini adalah ublik.  Ublik  adalah lampu tradisional Jawa yang terbuat dari kaleng bekas atau botol kaca bekas yang diberi sumbu dan di dalamnya ada bahan bakar minyak tanah. Ublik  tersebut ditaruh di  senthong tengah  (kamar tengah) dan dinyalakan sebelum acara kenduri. Jika kenduri dilakukan jam 17.00, maka  ublik  tersebut sudah dinyalakan jam 16.30 atau bahkan sebelumnya dan dimatikan pada pagi hari keesokan harinya. Fungsi ublik adalah untuk menerangi kamar tengah yang digunakan untuk menaruh aneka bahan makanan tersebut. Kamar tengah dalam pandangan orang Jawa menempati posisi yang istimewa. Jika ada tamu orang terhormat dalam suatu acara, biasanya duduknya disediakan di depan kamar tengah. Begitu juga dengan upacara sandingan ini, seluruh menu tersebut diletakkan di kamar tengah sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur.

Seluruh uborampe  tersebut menggambarkan sisi spiritual Jawa yang meyakini bahwa pada malam Jumat atau pada hari-hari tertentu para leluhur akan pulang untuk menjenguk keluarganya yang masih hidup. Oleh sebab itu, sebisa mungkin keluarga yang masih hidup juga harus menyediakan aneka makanan dan minuman sesuai dengan kesukaan leluhur sewaktu masih hidup di dunia. Mereka seoalah-olah seperti reuni dengan aneka macam makanan favorit. Lampu tidak diperkenankan menggunakan listrik, tetapi ublik  adalah untuk mengenang masa lalu orang yang sudah meninggal. Bahan-bahan nginang  yang telah ditinggalkan juga dihadirkan kembali sebagai bentuk penghormatan. Aneka makanan favorit, rokok tradisional dan minuman kesukaan dihadirkan dalam rangka penghormatan kepada leluhur agar damai dan bahagia di alam sana.[MFR]

Sayur Podomoro: Amunisi Orang Jawa Tangkal Pagebluk

Fitrohana Nur’Isma Zubaeda*

Photo Source: https://lestariweb.com/Indonesia/SayurPodomoro.php

Saat ini, Indonesia tengah menghadapi bencana non-alam yang disebabkan adanya koronavirus (Covid-19). Untuk mengatasi persebaran virus ini, langkah-langkah medis-ilmiah terus digaungkan dan disosialisasikan oleh pemerintah. Di antaranya adalah kewajiban pemakaian masker ketika berkendara atau di tempat umum, penyemprotan desinfektan di tempat-tempat umum dan rumah, penggunaan handsanitizer atau mencuci tangan dengan sabun, melakukan physical distancing (renggang fisik). Bahkan, saat ini pemerintah menerapkan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) di Provinsi DKI Jakarta. Kebijakan ini ditempuh karena jumlah kasus terkonfirmasi positif Covid-19 di Provinsi DKI Jakarta sudah mencapai 3.112, artinya menyumbang sekitar ± 46 % dari jumlah kasus terkonfirmasi positif Covid-19 di Indonesia, yaitu 6.760 per tanggal 20 April 2020 (dilansir dari website resmi https://corona.jakarta.go.id).

Bila pemerintah wajib menempuh cara-cara ilmiah dan terukur dalam melawan koronavirus, tidak selalu demikian dengan masyarakat. Masyarakat Jawa, misalnya, memahami segala melalui jejaring makna simbolis yang menyulam setiap aspek kehidupan mereka. Bagi masyarakat Jawa, dunia ini terlalu rumit untuk direduksi pada semata-mata pendekatan ilmiah. Maka adalah maklum jika pendekatan non-medis dalam menghadapi pagebluk ini juga lazim di kalangan masyarakat Jawa. Mereka meyakini benda atau barang tertentu sebagai penolak wabah bukan karena sudah ada bukti medis, tapi karena itu adalah bagian dari alam pikir masyarakat Jawa.

Fenomena ini bisa kita saksikan, misalnya, di Kota Kediri, khususnya Dsn. Bence. Seperti warga di tempat lain, warga di sana saling membantu dengan cara berbagi masker secara gratis dan membagikan sembako kepada tetangga yang usahanya terdampak Covid-19 imbas dari kebijakan stay at home. Tetapi ada sesuatu yang menarik dilakukan oleh warga di Bence, yaitu memasak “Sayur Podomoro” kemudian dibagikan kepada para tetangga mereka.

Kata “Podomoro” sendiri memiliki arti “datang semua”. Nama “Podomoro” diambil dari banyaknya sayur dan bumbu saat memasak Sayur Podomoro. Masyarakat Jawa memaknai Sayur Podomoro sebagai upaya mereka meminta keberkahan kepada Tuhan agar semua kebaikan berbondong-bondong mendatangi mereka. Hal tersebut terwujud dari banyaknya jenis sayuran yang terdapat dalam Sayur Podomoro di mana setiap sayur mewakili atau memiliki arti yang berbeda dari setiap harapan masyarakat. Pada zaman dulu, Sayur Podomoro sering dimasak pada saat warga memiliki hajatan besar denga harapan agar acara hajatan mereka berjalan lancar dan terhindar dari bala.

Namun, saat ini Sayur Podomoro dimasak dengan tujuan agar terhindar dari Covid-19. Dari sini terjadi perubahan suatu pemaknaan suatu budaya oleh masyarakat karena adanya perubahan situasi dan kondisi. Apabila kita pakai analisis Geertz, realitas ini menunjukkan bahwa Sayur Podomoro, bagi masyarakat Jawa, bukan sekadar makanan yang mengandung gizi tertentu, tapi ia juga simbol pengharapan akan hadirnya kebaikan dari Sang Maha Kuasa.

Bagi masyarakat Jawa, Sayur Podomoro setiap bahan dalam Sayur Podomoro memiliki makna tersendiri. Menurut tradisi lisan yang saya peroleh dari nenek dan orang tua saya, makna setiap bahan dari Sayur Podomoro sebagai berikut:

Godhong salam tegese ngge salam, Assalamualaikum,” artinya daun salam sebagai bentuk ucapan salam yaitu Assalamualaikum; “Godhong jeruk tegese ben nglumpuk” artinya daun jeruk supaya bisa berkumpul dengan orang sholeh dan baik; “Godhong eso, tegese pasrah marang sing Kuoso,” artinya daun eso artinya sebagai manusia kita harus pasrah pada Sang Pencipta (Allah); “Kulit mlinjo arane Tangkil, tegese ben tangkil-tangkilan,” artinya agar kita bisa berkumpul dan bersatu.  

Kacang dowo tegese ben umure dowo lan lek mikir dowo,” artinya kacang panjang agar kita diberi umur yang panjang dan berpikir panjang (matang) sebelum bertindak. “Kates tegese ben ethes,” artinya Pepaya agar kita sekeluarga lincah dan selalu diberi kesehatan oleh Allah. “Gambas tegese ben bebas,” artinya gambas agar kita terbebas dari segala masalah. “Waluh tegese ben atine iso luluh,” artinya labu agar hati kita luluh, rendah hati dan bisa mengambil hikmah dari masalah yang ada. “Kluwih tegese ben luwih-luwih,” artinya kluwih agar kita diberikan rejeki yang lebih oleh Allah.

Tewel tegese ben ora rewel,” artinya buah nangka muda tidak cengeng, tegar dalam menghadapi masalah. “Blonceng tegese ben oleh blonjo kenceng,” artinya labu air agar mendapat uang untuk belanja yang lancar. “Tempe lan tahu tegese ben regu,” artinya beregu, kumpul bersalam keluarga. “Telo rambat tegese ben rejekine iso mrambat,” ketela rambat artinya agar bisa mendapat rejeki yang datangnya tidak disangka-sangka. “Telo kaspe tegese rame ing gawe, karepe sepi ing pamrih,” artinya ketela pohon agar ikhlas berbagi dengan orang lain dan tidak mengaharapkan imbalan.

Brambang Bawang tegese ben gak grambyang angen-angene,” artinya bawang merah dan putih agar memiliki keyakinan yang kuat pada Allah. “Lombok tegese kalem marang si embok,” artinya cabai agar kita sopan dan patuh pada ibu. “Uyah tegese rejekine gembrayah,” artinya garam agar mendatangkan rejeki yang banyak. “Tumbar tegese ben tumbuh sabar,” artinya ketumbar agar kita bisa lebih sabar. “Merico tegese ben gak meri marang konco” artinya merica agar kita tidak iri dengan apa yang dimiliki teman. “Pete tegese ben gak sepet,” artinya petai agar hidup ini tidak hanya mengalami kepahitan. “Santen kelopo tegese sopo sing kangelan iso nompo” artinya santan kelapa orang yang mau bersusah-susah pasti akan mendapat kesenangan atau kebahagiaan.

Terlepas benar tidaknya bahwa Sayur Podomoro dapat menolak bala atau malapetaka, namun ketika warga memasak Sayur Podomoro tersebut merupakan bentuk usaha dan harapan mereka dalam melawan Covid-19 melalui kearifan lokal yang mereka miliki dan dalam prosesnya disertai do’a pada Tuhan agar mereka dapat terhindar dari wabah virus yang terjadi saat ini. Mungkin kepercayaan ini di luar nalar ilmiah, masuk sains semu (pseudosains), atau dianggap hanya cerita dari mulut ke mulut. Akan tetapi, bagi orang Jawa, Sayur Podomoro tidak hanya membuat fisik sehat tapi ia juga simbolisasi ikhtiar spiritual melawan serangan koronavirus dan optimisme bahwa, dengan bantuan Sang Kuasa, pagebluk ini pasti akan berakhir.  

Fitrohana Nur’Isma Zubaeda adalah mahasiswa SAA-2017. Tulisan ini adalah bagian dari tugas matakuliah “Agama dan Kearifan Lokal”