Bengawan Sore

“Bengawan Sore” merupakan kumpulan sembilan belas cerpen yang berisi beberapa hal. Pada garis besarnya terdapat lima arus utama dalam kumpulan cerpen ini di mana muatan nilai agama, kemanusiaan, pendampingan masyarakat, kritik sejarah dan nasionalisme membaur menjadi satu.

—- Irmawan Jauhari (penulis)

“Bengawan Sore” merupakan kumpulan sembilan belas cerpen yang berisi beberapa hal. Pada garis besarnya terdapat lima arus utama dalam kumpulan cerpen ini di mana muatan nilai agama, kemanusiaan, pendampingan masyarakat, kritik sejarah dan nasionalisme membaur menjadi satu. Sebagai antologi cerpen, buku ini juga tidak lepas dari kisah canda tawa maupun tangis haru mahasiswa dan santri, mengingat penulis ingin memberikan kesegaran suasana serta tidak terjebak pada konsep yang kaku. Bisa jadi juga pembaca akan menemukan beberapa kisah dengan tema yang mungkin absurd serta susah dicerna karena tidak jelas sama sekali arahnya.

Nilai yang pertama adalah agama, yang merupakan pondasi paling utama dalam melakukan segala kegiatan manusia di dunia. Dengan memiliki pondasi yang kuat seseorang akan mampu mengatasi problematika yang dihadapi. Penulis juga mencoba mengajak pembaca memahami bahwa agama tidak sekedar bermakna kesalehan ritual, namun juga terdapat dalam upaya-upaya memahami orang lain demi perubahan yang berarti.

Nilai yang kedua adalah kemanusiaan, artinya keberpihakan kepada manusia dan nilai kemanusiaan. Kemanusiaan merupakan Bahasa universal yang terdapat dalam semua agama dan hukum moral. Pemahaman yang cukup baik mengenai manusia dan kemanusiaan akan membawa pembaca menemukan korelasi sebab akibat dalam beberapa cerpen yang disajikan. Dengan kemanusiaan pula seseorang akan mampu menemukan keseimbangan dalam realitas sosial.

Nilai ketiga adalah pendampingan, yang merupakan refleksi penulis dalam menghidangkan beberapa catatan kecil mengenai pendampingan yang pernah dilakukan beberapa waktu lalu. Dengan menggunakan fiksi diharapkan bahwa ide-ide pendampingan bisa dibaca khalayak luas dan tidak menjadi beban khususnya para akademisi yang memiliki tanggung jawab. Hal ini mengingat salah satu pilar Tridarma adalah pengabdian yang bisa diterjemahkan dalam bentuk pendampingan masyarakat. Penulis sengaja menggunakan mahasiswa dalam ruang lingkup KKN maupun PPL karena jika dikelola dengan baik oleh para akademisi dan kampus, dua ruang tersebut bisa menjadi pintu masuk strategis dalam merancang pemberdayaan berkelanjutan.

Nilai keempat adalah kritik sejarah, di mana penulis melakukan penafsiran atas apa yang sudah terjadi di masa lalu. Kritik sejarah yang dilakukan penulis mencoba menyajikan sejarah dari sisi dikotomi sejarah itu sendiri. Tidak dapat dipungkiri dalam beberapa sumber yang ada, khususnya rujukan dari babad terdapat ketidaksamaan versi yang dibuat. Terkait kritik sejarah, penulis pernah berdiskusi dengan beberapa tokoh yang salah satunya adalah Bapak Qomarul Huda (Dosen SAA IAIN Kediri) yang memberikan banyak saran dan pertimbangan serta contoh.

Nilai kelima adalah nasionalisme, yang merupakan bentuk semangat kita terhadap bangsa dan Negara. Cerpen beraroma nasionalisme diperlukan agar terdapat transfer pengetahuan mengenai bagaimana memosisikan nasionalisme dalam berbagai aspek kehidupan. Lebih-lebih lagi, dewasa ini konsep dan konteks nasionalisme perlu diberikan penjelasan yang lebih kompleks mengingat generasi yang mengalami era globalisasi bisa saja terancam kedaulatan ekonomi dan budayanya. Maka, memahami nasionalisme di era globalisasi perlu pemahaman yang tuntas atas konsep awal, dinamika yang berkembang dan berjalan di Indonesia, serta tantangan yang ada dalam realita sekarang ini. Terutama lagi saat ini masyarakat didorong untuk menjadi konsumen dengan beragam pilihan kemudahan berbelanja daring.

“Bengawan Sore” sebagai sebuah kumpulan cerpen tidak luput dari proses panjang penulisan, refleksi dan diskusi dengan beberapa tokoh mengingat penulis ingin menyajikan cerpen dengan lebih menarik serta tidak lepas dari basis akademik penulis sendiri. Bengawan Sore ditulis mulai tahun 2014 sampai 2020. Tepatnya Agustus kemarin, salah satu cerpennya dengan judul “Merdeka” tuntas dikerjakan.

Meski proses kelahiran buku ini tergolong lama, namun bagi penulis masih terdapat banyak kelemahan yang muncul. Dan kami berharap terjadi dialektika dari pembaca agar memberikan koreksi serta pembenahan agar kedepan tercipta karya baru yang lebih segar dan kreatif. Insyallah perpustakaan IAIN Kediri akan mendapat donasi “Bengawan Sore” dari penulis. Semoga menambah koleksi, dan bisa bermanfaat buat siapapun yang membacanya.

Hampir lupa, “Bengawan Sore” bisa didapatkan di bukalapak, Tokopedia, Shoope, atau guepedia.com.[MFR]

Realitas Mitos dan Literasi dalam Bingkai PKM

Dalam ranah akademik, potret Canggu dengan segala potensinya sangat menarik untuk dijadikan kajian kolaboratif dan multidisipliner. Semoga tulisan ini mengundang rasa penasaran sehingga pada akhirnya kita bisa berkolaborasi dalam PKM sampai terwujudnya pilar Tri Dharma dalam bentuk pengabdian yang benar-benar kuat dan kokoh.

—- Moh. Irmawan Jauhari

Tanggal 30 Juni 2020, kami melakukan diskusi dengan para pemuda Desa Canggu lingkungan Pandan Kidul yang tergabung dalam Kelompok Pemuda Gapuro Ijo. Mereka berkeinginan berpartisipasi dalam kegiatan seri webinar yang diselenggarakan oleh KEMENDES mulai 1 Juli 2020. Webinar tersebut mengambil konsepcall for papers yang berorientasi sebagai rujukan penyusunan RPJMDES bagi desa-desa se-Indonesia. Kami kemudian melihat bahwa ada sebuah progres yang cukup luar biasa dari para pemuda Canggu.

Geertz pernah memotret Mojokuto (nama sebuah desa di Pare, bisa jadi ini terletak di sebelah timur Canggu) yang menghasilkan klasifikasi masyarakat Jawa menjadi santri, abangan dan priyayi. Agak jauh ke tenggara dari Canggu, terdapat desa Keling. Sebagaimana diketahui sejarah, Majapahit adalah kerajaan semi otonom dengan adipati-adipati kecil di bawahnya. Ketika pemerintahan Brawijaya V melemah dan akhirnya mengundurkan diri dari keramaian, adipati Kediri pernah menjadi raja sementara dan Keling sebagai ibukotanya. Pendapat kami ini terkesan spekulatif mengingat penelitian purbakala dan fase sejarah lokal mengenai masa akhir Majapahit kurang tuntas dikarenakan kisruh tersebut membawa babak baru Demak. Di Canggu, salah satu dusunnya bernama Surowono memiliki candi dan sungai bawah. Kami hanya berusaha menebak bila pada masa lalu, sungai bawah itu bisa jadi adalah jalur rahasia istana di Keling apabila terdapat keadaan yang membahayakan.

Sebelum diskusi, kami mendapatkan gambaran bahwa mereka dalam tiga tahun terakhir melakukan kegiatan pembersihan lingkungan, yang dalam hal ini adalah salah satu sumber mata air di Canggu. Dan kini manfaat dari kegiatan tersebuat meningkatnya debit air dari sumber mata air tersebut. Sumber mata air yang mereka rawat pada mulanya penuh tumpukan sampah. Beruntung ada sosok yang bernama Moh. Zaenal Arifin (biasa disebut sebagai Mbah Sumber dan pemilik akun you tube Mbah Sumber) karena fokus dan perhatiannya terhadap sumber mata air di Canggu sangat besar.

Dalam khazanah SAA, mitos bukan hal aneh yang karena sering disebut dan dibahas dalam makalah-makalah. Jika berbasis pengalaman kami ketika melakukan perjalanan dan bertemu dengan sebuah sumber mata air, kami menjumpai nuansa mitos masyarakat setempat yang masih sangat lekat. Pernah dalam sebuah penelitian di lereng Lawu utara, kami mendapatkan mitos mengenai sebuah sumber mata air dekat sungai yang katanya dihuni oleh makhluk gaib. Masyarakat sekitar tidak ada yang berani mengganggu ekosistem sumber tersebut. Ketika kami berada di Sumber Brantas (Kota Batu), terdapat mitos sepasang kakek nenek penghuni sumber dengan harimau putih. Sumber mata air, telaga, sungai, gunung, laut, dan tempat-tempat yang dipenuhi mitos, hadir dengan khazanahnya sendiri. Sepertinya terkesan mengedepankan takhayul, namun jika dipahami dengan baik, akan memberikan sebuah pemahaman bagi kita semua.

Mitos bisa diterima dan bisa dibuktikan sepanjang yang mencoba membongkar mitos mengerti serta belajar bagaimana alur mitos terjadi. Akan sangat naif kalau berbicara mitos tapi melihat dan mengukurnya menggunakan pendekatan empiris. Yang lebih menarik kemudian adalah pesan moral yang ingin dibawa oleh mitos. Kehadiran sosok penunggu sumber yang dianggap memiliki kekuatan adikodrati serta bisa menganggu orang apabila merusak ekosistem sumber, sebenarnya jika diterjemahkan dalam sains, apabila hubungan antar komponen biotik dan abiotik dalam ekosistem tidak imbang, tentu berdampak pada kerusakan ekosistem tersebut.

Masyarakat dahulu tidak memerlukan penjelasan yang rasional dan sistematis mengapa mereka dilarang merusak ekosistem sumber mata air. Dengan hanya ditakuti akan sosok penungu sumber, mereka mengurungkan niat untuk berbuat buruk di kawasan sumber. Apalagi mengeksploitasi sumber demi kepentingan segelintir orang. Bedakan dengan perilaku orang sekarang yang mengabaikan mitos, tapi dia lupa bahwa antroposentrisme tidak berarti bahwa alam bisa dikeruk habis-habisan atas nama manusia.

Kita memang berharap bahwa mitos diletakkan dalam wilayahnya sendiri sebagai bagian dialektika manusia dengan alam semesta. Namun melakukan kontrawacana dengan menganggap mitos sebagai takhayul tanpa memperhatikan dampak bagi ekosistem (dalam hal ini sumber mata air) juga merupakan sebuah tindakan yang kurang patut dan tidak bisa diterima. Ketika mitos dalam masyarakat melemah dengan kuatnya rasionalitas, manusia mulai berani melakukan perbuatan-perbuatan yang pada dasarnya dilakukan secara sadar dan tindakan tersebut berpotensi mengakibatkan rusaknya ekosistem tempat tinggal mereka. Contoh nyatanya adalah, masyarakat sekitar sumber di Canggu beberapa waktu lalu sebenarnya sadar bahwa tindakan membuang sampah serta mengotori sumber akan berakibat tercemarnya sumber dan berkurangnya debit air. Akan tetapi mengapa mereka melakukan itu, atas nama keuntungan pribadi atau atas nama kepentingan yang lain? Satu kasus di Canggu bisa jadi contoh betapa dewasa ini masyarakat sudah melakukan tindakan-tindakan yang justru membahayakan ekosistem mereka sendiri. Seharusnya apa yang dilakukan Pemuda Gapuro Ijo mendapatkan apresiasi dan dukungan dari berbagai pihak. Mereka melakukannya dengan sadar tanpa ada ketakutan adanya makhluk-makhluk gaib dan berorientasi kepada perbaikan ekosistem sumber mata air.

Keresahan pemuda tersebut, di mana mereka ingin menuangkan ide dalam bentuk tulisan, membawa perjumpaan kami. Pada dasarnya, mereka sudah memiliki dokumentasi tersendiri dalam kegiatan kebersihan lingkungan yang bisa dilihat dalam channel Youtube Mbah Sumber. Namun untuk menuliskannya, perlu diasah beberapa bekal dan modal yang mereka miliki. Maka dalam kesempatan tersebut kami sekedar menyampaikan beberapa hal ringan bahwa tukang masak membutuhkan teori untuk masak. Jika sudah mahir, tentu teori itu tidak diperlukan lagi karena ia sudah menjadi sebuah kebiasaan dan sifatnya refleks. Demikian juga dengan menulis. Terkait keragaman teori yang muncul ketika mereka browsing dan baca buku terkait sub tema dalam acara webinar, saya sampaikan bahwa soto itu macamnya ada Soto Branggahan, Soto Lamongan, Soto Makasar, Soto Madura, Soto Yasinan, dan Soto Mantenan. Pilih yang pas dengan kebutuhan Pemuda Gapuro Ijo. Ketika mereka bingung lagi merangkai kata, saya sampaikan bahwa tulislah dahulu, nanti kita benahi sama-sama. Dan semua sepakat bahwa seminggu lagi ada tulisan dalam bentuk sederhana yang akan kita benahi sama-sama baik konten maupun teknisnya.

Realitas pemuda Canggu lingkungan Pandan Kidul sudah memiliki modal pengalaman untuk merubah keadaan di lokasi mereka. Akan tetapi bagaimana juga, diperlukan sinergi semua pihak agar kerja-kerja para pemuda bisa mengantarkan mereka semakin matang dalam berproses. Dalam ranah akademik, potret Canggu dengan segala potensinya sangat menarik untuk dijadikan kajian kolaboratif dan multidisipliner. Semoga tulisan ini mengundang rasa penasaran sehingga pada akhirnya kita bisa berkolaborasi dalam PKM sampai terwujudnya pilar Tri Dharma dalam bentuk pengabdian yang benar-benar kuat dan kokoh. Semoga.[MFR]

Tolstoy dan Cerita-Ceritanya

Saya sering mendorong mahasiswa untuk melakukan giat literasi demi meningkatkan kreatifitas serta memiliki nilai lebih. Tidak berhenti mendorong, saya juga memberi contoh bahwa sebagai dosen, saya terlebih dahulu harus membuktikan diri menulis baik ilmiah dalam bentuk artikel jurnal, buku, serta beberapa karya fiksi.

—— Moh. Irmawan Jauhari

Ada dua cerpen dalam kumpulan cerpen Leo Tolstoy yang akan saya coba sampaikan dan berikan analisis singkat. Pertama adalah Ziarah. Novel ini bercerita tentang dua orang bernama Efim Scheveloff dan Eliyah Bodroff yang memiliki niat beribadah ke Yerusalem. Keduanya terpisah di sebuah kampung kecil yang tengah dilanda masalah. Efim melanjutkan perjalanan dan sampai di Yerusalem, sedangkan Eliyah memilih melayani umat di kampung itu. Uang sakunya untuk ziarah digunakan untuk membantu masyarakat yang ada dan dia tidak pernah sampai ke Yerusalem.

Ketika keduanya pulang, Efim mencari Eliyah karena dia merasa di Yerusalem bertemu dengannya di sana selama tiga kali. Sedangkan Eliyah berusaha menyembunyikan kenyataan bahwa dia pernah menolong masyarakat yang membuatnya gagal ke Yerusalem. Efim memeroleh gambaran dari masyarakat yang ditemuinya bahwa mereka kini menjadi lebih baik karena pertolongan seorang musafir yang lewat. Efim pun mendapatkan pengalaman ruhani yang luar biasa dari cerita yang dia dengar dari masyarakat dan penglihatannya di tanah suci. Akan halnya Eliyah menemukan makna dari ziarahnya yang gagal ke Yerusalem; dia menjadi lebih merdeka secara jiwani.

Ziarah mencoba melakukan kritik pada masyarakat yang cenderung mati-matian dalam ibadah yang mahdlah ‘murni’ tapi melupakan yang ghayru mahdlah ‘umum; sosial’. Kesalehan ritual yang tidak didukung dan ditopang oleh kesalehan sosial. Betapa banyak umat beragama memahami bahwa dimensi peribadatan cenderung melalui kesalehan ritual. Pada dasarnya pendapat ini benar, akan tetapi perlu keseimbangan agar manusia tidak sekedar menjadi seorang ‘abdun ‘hamba’; dalam perspektif kesalehan spiritual, manusia juga mengemban mandat sebagai khalîfah ‘pengganti’. Keseimbangan konsep ini yang coba diungkap melalui cerpen Ziarah. Bisa saja, kegiatan-kegiatan dalam bentuk kesalehan sosial justru memberikan dan meninggalkan kesan yang lebih mendalam bagi seseorang.

Kedua adalah Tuhan Mahatahu tapi Dia Menunggu. Cerpen ini bercerita tentang seorang pengusaha bernama Aksenov yang memiliki kegemaran minum alkohol yang difitnah membunuh temannya sendiri. Meskipun dia merasa tidak melakukannya tapi semua bukti mengarah padanya. Dia pun menjalani hukuman selama berpuluh tahun sampai akhirnya si pelaku pembunuhan tersebut satu penjara dengannya. Aksenov memang memiliki dendam yang dalam pada pembunuh tersebut. Namun dengan kesadaran mendalam pada akhirnya dia bisa menerima apa yang sudah terjadi padanya dan berlapang dada atas semuanya. Ketika si pembunuh itu meminta maaf dan berterus terang kepada penjaga penjara, Aksenov terlebih dahulu meninggal di dalam selnya.

Cerpen ini seakan memberikan kisah tragis bagi orang beriman dengan ujian berat yang datang kepadanya. Akan tetapi bukankah dalam al-Qur’an dinyatakan bahwa manusia tidak dibiarkan sekedar mengaku beriman tanpa pernah diuji terlebih dahulu? Sebagaimana juga emas murni harus melalui beberapa ujian demi mengetahui kualitasnya?

Kedua cerpen tersebut saya kaitkan dengan beberapa pandangan teoritis seperti akidah, revolusi, teologi pembebasan, fikih sosial, hingga postkolonialisme. Buku-buku karangan Hassan Hanafi, Asghar Ali Engineer, Freire, Tan Malaka, dan tokoh semisal, adalah bacaan wajib mahasiswa untuk memompa pengetahuan mereka. Tanpa baca, mahasiswa akan kering dari pandangan teoritis. Tanpa memahami mereka, mahasiswa akan kering dengan kemampuan menganalisis sebuah peristiwa dengan berbasis teori yang dibacanya. Maka dari itu, membaca sangatlah penting. Selain itu, harus ada kepedulian dan keberpihakan kepada kemanusiaan dalam bentuk kesejahteraan sosial. Kepedulian sosial semacam ini sangat baik dan mendasar bila juga dilandasi oleh ajaran-ajaran agama. Sejarah telah membuktikan bahwa perubahan sosial yang sekadar berpijak pada ideologi rasio manusia semata hanya akan melahirkan nestapa; betapa kita kecewa bagaimana komunisme dan kapitalisme di penghujung abad ke-20 bermufakat dalam menggasak Dunia Ketiga. Padahal lepas PD II, kedua ideologi ciptaan manusia ini terlibat perang dingin dengan negara-negara satelit sebagai korbannya.

Saya sering mendorong mahasiswa untuk melakukan giat literasi demi meningkatkan kreatifitas serta memiliki nilai lebih. Tidak berhenti mendorong, saya juga memberi contoh bahwa sebagai dosen, saya terlebih dahulu harus membuktikan diri menulis baik ilmiah dalam bentuk artikel jurnal, buku, serta beberapa karya fiksi. Saya pun kerap mengajak mahasiswa untuk membuat antologi karya bersama, apapun bentuk tulisan mereka. Namun betapa tidak sedikit mahasiswa yang mengalami kemandegan ide dalam menulis. Ketika mereka bingung untuk menulis apa, dan bertanya bagaimana cara menulis yang baik, saya tegaskan terlebih dahulu untuk merasa butuh baca. Tanpa baca, apa yang akan ditulis? Ibaratnya ketika kita tidak punya beras untuk dimasak, apa yang akan diolah menjadi makanan?

Dalam beberapa kesempatan ketika menjadi fasilitator pelatihan tulis menulis, saya pernah bertanya kepada para peserta, lebih enak mana membaca buku teori dengan buku fiksi? Semua sepakat fiksi dengan berbagai genre. Saya bertanya lagi, lebih enak mana membaca buku dengan melihat film? Mereka juga menjawab lebih enak menonton film. Saya tegaskan bila fiksi dan novel sebenarnya berkaitan dengan buku teori. Tanpa pemahaman yang tuntas mengenai sebuah teori, seorang penulis tidak akan mampu membuat sebuah cerita yang baik. Dan tanpa analisis yang kuat berdasar teori, sebuah film tidak akan memiliki ruh yang kuat untuk menarik para penonton. Saya sebutkan sebuah film berjudul 3 Idiots yang banyak mengandung teori-teori pendidikan dan juga perlawanan terhadap kapitalisasi pendidikan.

Semua melongo dan seperti tidak percaya bahwa sebuah film disusun dari beberapa teori. Dan saya biarkan keterkejutan tersebut dengan menyebutkan beberapa film lain yang berasal dari produsen Indonesia. Oh iya, dalam cerpen Ziarah mungkin bisa menjadi refleksi religius ketika Kementerian Agama memutuskan untuk tidak mengirimkan jamaah haji tahun ini. Sedangkan Tuhan Mahatahu tapi Dia Menunggu, menurut saya, bisa menjadi sebuah alternatif jawaban ketika Prof. H. Fauzan Saleh, Ph.D bulan puasa kemarin mengirimkan tulisan yang cukup menarik dengan judul “Covid-19, Problem Teodisi, dan Sinar terang Iman”. Semoga saja.[MFR]

Perjalanan Musafir: Sebuah Novel

Perjalanan Musafir seperempatnya berbasis filasafat, seperempatnya tasawuf dan kejawen, seperempatnya racikan postkolonial dan humanisme, dan seperempatnya lagi adalah hasil penelitian beberapa pihak. Maka dari itu, wajar jika novel ini dihargai mahal.

—– Moh. Irmawan Jauhari

Saya pernah menjadi salah satu fasilitator dalam NaSReCD (National Seminar for Research Community Development) di STITNU Mojokerto akhir 2019 lalu. Di forum tersebut, saya memperkenalkan diri sebagai peneliti yang menggunakan hasil penelitiannya tidak semata dalam bentuk jurnal maupun buku ilmiah. Salah satu luaran dari beragam penelitian bisa dalam bentuk novel.

Tentu hal ini mengejutkan bagi para peserta, mengingat pemahaman yang lazim adalah penelitian ilmiah berorientasi pada karya-karya ilmiah seperti artikel dan buku. Kemudian saya meminta waktu sebentar bagi para peserta untuk melakukan penelusuran daring novel Perjalanan Musafir karya saya sendiri; saya meminta mereka mendialektikakan novel tersebut dengan slide yang telah dipersiapkan. Sebagai pemantik, saya mengarahkan para peserta untuk melihat sejenak paradigma kualitatif menurut Jhon W. Creswell (2014); meskipun dia memotret satu objek, dia bisa menghasilkan penelitian yang beragam. Di akhir seminar, ada pertanyaan yang menggelitik; mengapa harga novel saya lebih mahal dari buku-buku teori yang setebal batu bata?

Perjalanan Musafir adalah novel ketiga yang diterbitkan penerbit Graha Ilmu, Yogyakarta, 2019. Umumnya, masyarakat melihat novel sebagai fiksi dan jauh dari kebenaran empiris. Namun perlu dipahami, novel ini merupakan refleksi perjalanan cukup panjang penulis dalam rentang waktu antara 2004-2016. Penulisannya sendiri terjadi antara 2014-2018; mengalami beberapa kali revisi dan diskusi dengan beberapa rekan yang punya minat pada sastra.

Manusia dalam makna umum dan khusus adalah musafir; terus berjalan dan mencari pemuas atas sumber kegelisahannya. Dalam masa pencarian yang tiada berujung tersebut, terjadi banyak dialektika kehidupan yang mendewasakan manusia. Dialektika ini juga tidak jarang melahirkan manusia pecundang karena kalah dari persaingan dalam perspektif positivistik, ‘survival of the fittest (Veeger, 1997:24). Perjalanan hidup manusia juga adalah soal konflik. Secara teoritis, konflik adalah bentuk wajar -mulai tingkat yang paling sederhana sampai paling rumit—dalam kehidupan manusia  (Soekanto, 2013:131). Sayangnya, sebagian dari kita kurang memahami dialektika dan esensi dari konflik. Jika dipahami dengan baik, konflik tidak lain adalah gerak zaman yang membenturkan persoalan filosofis antara das solen ‘yang seharusnya’ dan das sein ‘yang senyatanya’. Jadi, konflik adalah dialektika kehidupan.

Ketika berinteraksi di dalam masyarakat, manusia mengalami benturan upayanya menerapkan pemahaman berdasar pengetahuan kognitifnya. Contoh sederhananya adalah konsep toleransi dan moderat yang begitu indah terdengar di ruang-ruang kelas prodi SAA. Di lapangan, kata moderat dan toleran harus bersinggungan dengan banyak hal, khususnya kepentingan. Belum lagi ketika manusia berbicara tentang konsep idealisme dalam agama dan sila kelima yang berbunyi keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Coba kita kentekstualisasikan, misalnya, dengan penerima Bansos Covid-19 di sekeliling kita saat ini.  

Hal-hal semacam itu menggugah kesadaran saya bahwa realitas sosial tidak sesederhana ungkapan Berger tentang tiga tahap pembentukan realitas sosial: eksternalisasi, internalisasi, objektivasi (2002). Pendidikan bukan sekadar model formal, informal, dan nonformal; pengetahuan juga tidak melulu dibangun berdasar perspektif rasionalisme maupun empirisme (Ahmad Baso, 2017). Karena merasa belum puas atas kesenjangan antara teks dan konteks, saya mengambil jalan lain untuk memahami realitas sosial sebagai lokus interaksi manusia. Beragam dialektika dalam kehidupan masyarakat pada akhirnya mendorong saya berani untuk merefleksikan, menginterpretasi, dan memberi ciri khas pada Perjalanan Musafir.

Bukan secara kebetulan, saya mengampu mata kuliah metode penelitian, dan juga penelitian kualitatif. Teknik pengumpulan dan sumberdata dalam penelitian kualitatif sangat berperan penting dalam penelitian yang saya lakukan (dengan dibantu sejumlah mahasiswa). Saya menggunakan data-data yang diperoleh untuk kemudian dipakai dalam menulis fiksi, meskipun sebagian tetap saya pakai untuk kepentingan akademik. Beberapa bahan dalam Perjalanan Musafir diolah, disaring, dan dipadatkan dengan menggunakan teknik kualitatif. Semua bahan ini lalu dirajut dengan disiplin pengetahuan lain agar lebih berwarna dan punya unsur kebaharuan dalam memahami problem manusia dan kemanusiaan atau hidup dan kehidupan.

Perjalanan Musafir dibagi ke dalam tiga bagian. Bagian Pertama adalah “Dewa Ruci”, diambil dari saripati kisah pewayangan yang mengisahkan perjalanan Bima dalam menemukan ilmu hakikat kehidupan dalam inti samudera. Cerita “Dewa Ruci” dalam konteks Bima hampir sama dengan pandangan tasawuf al-Ghazâlî bahwa ilmu makrifat adalah intan berharga yang terletak di samudera. Kekhasan “Dewa Ruci” dalam novel saya dijumpai sebelum sampai pada Dewa Ruci; ada sebuah pulau bernama Pulau Perbatasan yang tak lain adalah pantulan dari kenyataan; sebuah jembatan untuk masuk ke dalam dimensi lain. Di Pulau Perbatasan, terdapat sosok misterius wanita penguasa dermaga yang merupakan simbol dari keragu-raguan serta godaan dalam melakukan perjalanan.

Bagian Kedua, “Pada Mulanya”, menceritakan awal mula sang musafir memutuskan untuk melakukan perjalanan. Dalam bagian ini, ungkapan Rudolf Otto –yang cukup familiar di telinga para mahasiswa SAA—mysterium tremendum et fascinans ‘Tuhan adalah misteri yang menggentarkan sekaligus memesona’ menemukan pijakannya. Konsep ketundukan dan kepasrahan seorang murid tarekat (sufi dan tasawuf) juga ditemukan di bagian ini.   

Bagian Ketiga, “Pada Akhirnya”, merupakan sintesis dari semua eksplorasi dalam Bagian Pertama dan Bagian Kedua mengenai manusia-kemanusiaan, dan hidup-kehidupan. Prinsip adaptasi dan pemahaman kritis-transformatif bisa dilihat dalam dialog ketika seorang murid berdiskusi dengan guru mengenai sebuah konsep pemahaman universal yang diterjemahkan ke dalam lokalitas maupun kesesuaian dengan pribadi yang bersangkutan. Mahasiswa Tarbiyah mengenal konsep ini dengan pembelajaran yang berorientasi pada murid ‘studentcentered approach’. Pendidikan dan pembelajaran adalah arus internalisasi pengetahuan dua-arah, dan murid bukan tabung kosong atau kertas putih tanpa bekal apapun. Keluarga dan lingkungan adalah penegak ruang afektif dan psikomotorik dari seseorang, dan lembaga pendidikan adalah pemoles dan penguat ranah kognitif mereka.

Perjalanan Musafir seperempatnya berbasis filasafat, seperempatnya tasawuf dan kejawen, seperempatnya racikan postkolonial dan humanisme, dan seperempatnya lagi adalah hasil penelitian beberapa pihak. Maka dari itu, wajar jika novel ini dihargai mahal. Naskah kedua, Percakapan Para Musafir di Sebuah Kedai, insya Allah akan tuntas dalam waktu dekat. Mohon doa dari Anda sekalian.[MFR]

Dr. Irmawan Jauhari [Alumni-SAA2008]: Sosok Akademisi-cum-Novelis

Dr. Moh. Irmawan Jauhari adalah alumni Jurusan Ushuluddin Prodi Perbandingan Agama (sekarang SAA) IAIN Kediri yang wisuda pada tahun 2008. Paska lulus, ia banting stir (tidak linier) melanjutkan studi S2 pada bidang Manajemen Pendidikan Islam di IAIN Tulungagung dan diwisuda pada tahun 2011. Dr. Irmawan gemar ngalap berkah pada beberapa tokoh yang tersebar di beberapa daerah, ziarah, serta kontemplasi pada tempat-tempat yang memiliki basis sejarah dan mitos yang kuat.

Ia juga aktif dalam pemberdayaan pemuda dan masyarakat. Selama menjadi mahasiswa di IAIN Kediri dan IAIN Tulungagung, ia terlibat dalam kegiatan pemberdayaan pemuda desa di tempat kelahiran-nya dalam wadah karang taruna. Kisruh politik desa mengakibatkan segala bangunan dan organisasi yang pernah dibangunnya runtuh. Tapi kondisi ini tidak menghalangi dirinya untuk terus berkiprah di dunia akademik maupun sosial kemasyarakatan.

Pada tahun 2014, ia mengabdi sebagai dosen tetap pada STAI-Ma’arif, Kendal Ngawi. Ia melakukan pendampingan pada mahasiswa dalam bentuk penguatan literasi dan diskusi serta pemberdayaan masyarakat dalam bentuk KKN Tematik yang berkelanjutan pada tahun 2016.

Pada tahun 2016, ia berhasil memeroleh beasiswa doktoral dari Kementerian Agama dengan konsentrasi PAI Multikultural di UNISMA Malang. Ia meraih gelar doktoral pada akhir tahun 2019 dan diwisuda dengan predikat cumlaude pada bulan Februari 2020.

Pada tahun 2016, Dr. Irmawan membangun jejaring mahasiswa Sastra Jawa Timur untuk diarahkan menjadi buku, akan tetapi ide ini hanya sampai pada diskusi naskah. Ia juga tergabung dalam FKDP Kopertais 4 yang merupakan wadah dosen PTKIS yang fokus pada penelitian dan pemberdayaan. Pada beberapa kesempatan, ia menjadi fasilitator di sejumlah forum. Disela fokus pada studinya, ia kerap mengajak mahasiswa melakukan perjalanan ke beberapa tempat untuk berbagai kepentingan, antara lain penelitian sejarah yang akan digunakan untuk menulis buku.

Setelah menikah pada tahun 2018, ia lebih banyak menghabiskan waktu di rumah sambil menyelesaikan disertasi dan menyusun naskah. Beberapa karya yang terbit antara lain: Diskursus Filsafat Pendidikan Islam dan Barat (kontributor dan editor naskah, Mitra Karya, 2018); Pancasila, TransNasionalisme dan Kedaulatan Negara (kontributor naskah, LKiS, 2018); Tanah Pejuang (Novel, DivaPress, tunggu cetak); Pada Sebuah Episode (Novel, Mitra Karya, 2019); Perjalanan Musafir (Graha Ilmu, 2019); dan beberapa artikel dan opini yang bisa dilacak dalam pencarian daring.

Dr. Irmawan saat ini tengah menuntaskan beberapa naskah fiksi, melakukan kegiatan literasi pada mahasiswa yang diorientasikan menjadi sebuah buku, dan sesekali menjadi pengajar pada beberapa PTKIS. Untuk koresponden, ia bisa dihubungi melalui email: irmawanj@gmail.com. (MFR)