Serat Jamus Kalimosodho Melawan Stratifikasi Sosial Jawa

Sunan Kalijaga, dalam layang kalimosodho-nya,menjelaskan bahwa orang bisa mengubah kastanya bukan berdasarkan “trah” atau garis keturunan, melainkan dari sikap dan perilaku yang ditunjukkan.

—– Indra Latief Syaepu

Tulisan ini diilhamioleh strategi dakwah Walisanga untuk kaum Sudra. Semula, Walisanga memokuskan strategi dakwahnya pada kalangan Kedaton saja. Seperti tertulis dalam sejarah, para wali diberi sebuah tanah tersendiri oleh Raja Majapahit sebelum diruntuhkan oleh kaum oposisi, terutama dari Keling yang sebagian pasukanya sudah berhasil menyusup ke kota Majapahit yang berpusat di Desa Jinggan. Sebelum pemberontakan yang mengakibatkan Majapahit runtuh, para wali sudah mulai menempati tanah pemberian dari raja Majapahit tersebut yang berada di Gelagahwangi. Pada masa Majapahit dan Ampel Denta, para Wali mengarahkan sasaran utama strategi dakwah mereka kepada para petinggi Kedaton atau kalangan kasta Kesatria.

Strategi dakwah yang dipakai para Wali ini bisa ditilik dari teori kekuasaan (penguasa), di mana kekuasaan mempunyai power untuk memengaruhi rakyat di bawahnya, seperti kata M. Foucault dalam karyanya, Power and Knowledge. Alasan kenapa saya lebih tertarik pada Foucault daripada teori kekuasaan Weber atau Marx adalah karena Wali di sini bukan penguasa pada saat itu. Mereka adalah para saudagar yang kemudian melakukan strategi dakwah pertama kali di lingkungan Kedaton dengan harapan bahwa seluruh rakyat akan mengikuti Raja-nya sebagai panutan seperti yang tertera dalam ajaran agama sebelumnya. Ajaran agama terdahulu menyatakan bahwa seorang Raja, Adipati dan Kesatria merupakan titisan dari dewa yang wajib diikuti dan disembah oleh kawula (rakyat).

Para Wali berhasil menjalin atau membentuk suatu relasi atau jaringan yang sangat kuat dengan penguasa-penguasa setempat pada waktu itu sebagai langkah pertama dakwah Islam. Kemudian, setelah Islam mulai menguasai pesisir pantai utara Jawa, strategi dakwah selanjutnya adalah menjalin ukhuwah islamiyah di kalangan muslim dengan tujuan memperkuat jaringan islam yang sudah terbentuk.  Pada akhirnya, para Wali tersebut diberi tanah untuk ditempati oleh mereka dan ditempat itulah dibentuk kerajaan pertama Islam di pulau Jawa (Jawa loh ya, bukan Nusantara!). Setelah puas dengan strategi dakwah pertamanya, yaitu menjalin relasi yang kuat dengan penguasa setempat, para Wali menerapkan strategi kedua yang tercipta setelah mereka melakukan observasi dan investigasi di lapangan. Mereka terjun langsung di kalangan masyarakat atau kaum Sudra yang masih banyak terikat dengan adat budaya agama sebelumnya, terutama soal kasta sosial atau stratifikasi sosial. Kemudian, Walisanga mengubah strategi dakwah mereka yang sebelumnya menyasar kaum Sudra.

Diawali dari gagasan Sunan Kalijaga (Dalang Bengkok) yang merumuskan Serat Jamus Kalimoshodho sebagai topik pagelaran pewayangan yang bisa dinikmati oleh seluruh rakyat pada waktu itu. Dalam pendalangan yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga, diceritakan bahwa Serat Jamus Kalimosodho bisa menjadi genggaman seluruh manusia untuk memeroleh kewibawaan dunia dan di akhirat tanpa membedakan kasta. Kepiawaian Sunan Kalijaga dalam mengolah kata berhasil memengaruhi banyak masyarakat setempat. Beliau mengatakan bahwa layang kalimosodho adalah jimat keberuntungan yang wajib diagem ‘digenggam’, diimani dan diyakini. Ajaran dari jimat kalimosodho ini wajib diwujudkan atau diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Jika jimat kalimosodho ini diwujudkan dalam kehidupan bermasyarakat, maka akan tercipta tatanan masyarakat gemah ripah loh jinawi.

Gebrakan para Wali ini tentu saja membuat sebagian orang yang berkasta tinggi kebakaran jenggot, karena dinilai meracuni rakyat untuk memberontak pada pamong atau raja setempat. Selain itu, banyak juga yang mengatakan bahwa ajaran yang diwejangkan oleh Sunan Kalijaga telah merusak baker-pakem kisah pewayangan yang telah ada dan tertulis dalam Kitab Mahabarata. Dalam Kitab Mahabarata, tidak ada kisah yang menceritakan kaum Sudra bisa naik ke kasta Kesatria maupun Brahmana (tidak ada seorang kawula menjadi seorang gusti!). Namun sekali lagi, Sunan Kalijaga berhasil mematahkan argumen tersebut dengan santun dan santuy. Beliau menegaskan bahwa ajarannya adalah untuk meluruskan ajaran yang telah dibengkokkan oleh sebagian orang untuk kepentingan pribadi (dalam hal ini, politik dan kekuasaan).

Sunan Kalijaga, dalam layang kalimosodhonya, menjelaskan bahwa orang bisa mengubah kastanya bukan berdasarkan “trah” atau garis keturunan, melainkan dari sikap dan perilaku yang ditunjukkan. Jikalau ada seorang bangsawan yang memiliki “trah kasta Brahmana” tapi sikap dan prilakunya buruk, maka sejatinya dia bukan berkasta Brahmana, melainkan lebih hina dari Sudra, begitupula sebaliknya. Seperti yang diketahui dalam tulisan-tulisan yang sudah banyak tersebar, baik dalam bentuk buku, artikel maupun blog internet, yang dimaksud layang kalimosodho itu tak lain adalah kalimat syahadat dan untuk memeroleh jimat Jamus kalimosodho tersebut berarti orang tersebut haruslah masuk Islam.

Selain secara langsung ajaran jimat layang kalimosodho menghapus kasta sosial yang ada, di situ juga tersirat ajaran demokratis, hak dan kewajiban manusia. Nilai demokrasi bisa dilihat ketika Sunan Kalijaga berusaha menghapus kasta sosial yang ada. Setiap manusia berhak memperoleh kesempatan untuk menduduki kursi kekuasaan jika dirinya sudah dinilai mampu dan perilakunya mencermikan ajaran kalimosodho tersebut. Jika seorang pemimpin mampu melaksanakan tugas dan kewajibanya dalam mensejahterakan rakyatnya, maka secara otomatis pemimpin tersebut akan dicintai oleh rakyatnya.

Yang perlu digarisbawahi di sini adalah ketika Sunan Kalijaga melakukan gebrakan dengan Serat Jamus Kalimosodho yang tidak tertulis dalam ajaran sebelumnya. Beliau hanya meluruskan dari ajaran tersebut atau tidak menyalahkan ajaran agama tersebut. Manusia bisa berkasta rendah maupun tinggi dilihat dari perilakunya. Hal ini Sunan Kalijaga pelajari ketika beliau hendak masuk Islam, sementara beliau sendiri merupakan keturunan berkasta tinggi (adipati Tuban) yang masih keturunan dari Ranggalawe. Beliau dinilai telah melakukan suatu perbuatan yang memalukan kasta dan derajatnya dengan cara menjadi seorang maling, begal dan ahli judi. Meskipun diniatkan untuk menolong rakyat, cara yang dilakukannya dianggap salah sehingga dinilai telah merendahkan kastanya lebih buruk daripada kasta Sudra [MFR].

Perlukah Kita Berkonflik

Konflik membuat kita semakin matang dalam proses pendewasaan sehingga keputusan yang diambil untuk menyelesaikan masalah lebih bijak.

—Indra Latief Syaepu

Kita tentu sering mendengar istilah konflik yang sering diidentikan dengan permusuhan, debat karena beda pendapat, dan juga persaingan. Meskipun persaingan bukan salah satu jenis konflik, tetapi ia bisa memicu konflik apabila terjadi pelanggaran terhadap peraturan yang telah disepakati. Dalam realitas, konflik tidak bisa dihindari. Di mana-mana konflik pasti dijumpai, entah dalam skala kecil maupun besar. Kehidupan manusia seolah-olah tidak bisa lepas dari konflik dan ia bagian dari kebutuhan manusia untuk berinteraksi dan berevolusi (conflict is human needs).

Jika ada pertanyaan perlukah kita berkonflik, maka dalam paradigma masyarakat umum konflik sama sekali tidak ada manfaatnya. Ya, konflik memang berkonotasi negatif, seakan-akan ia tiada faedah. Bagi seseorang yang tidak menguasai teori atau resolusi konflik tidak gampang untuk menjawab pertanyaan semacam itu, begitu sebaliknya. Membaca buku, artikel, jurnal dan sebagainya adalah modal awal untuk bisa memahami watak sejati konflik. Tidak dipungkiri juga bahwa konflik merupakan warisan tradisi manusia; mulai dari kisah putra Nabi Adam dan Siti Hawa (konflik saudara sekandung atau antarindividu) hingga masa kekhalifahan yang melibatkan komunitas (konflik komunal).

Sebetulnya, tidak selamanya konflik mengarah pada ihwal yang destruktif (merusak), tetapi ia bisa juga konstruktif (bermanfaat). Buku-buku banyak mengulas dampak buruk konflik dan jarang sekali menyinggungnya dalam nuansa yang positif. Ini bisa dimaklumi karena biasanya konflik hanya dilihat dari sudut pandang yang sederhana: konflik pasti akan membawa kehancuran atau kerusakan, maka sebisa mungkin harus dihindari. Namun dalam pandangan baru, konflik menjadi suatu kebutuhan manusia. Fakta bahwa konflik ternyata tidak bisa dihindari maka mau tidak mau ia harus diarahkan ke arah yang membangun. Dalam bahasa resolusi konflik, jenis konflik seperti ini dinamakan dengan konflik-fungsional (konstruktif dan membangun), sebagai lawan dari konflik-disfungsional (destruktif atau menghancurkan).

Berikut adalah satu contoh konflik fungsional. Sebut saja konflik terjadi antara kelompok A vs kelompok B. Dalam kondisi konflik seperti ini, biasanya tumbuh rasa solidaritas di antara masing-masing kelompok, menguatkan kekompakan di masing-masing kubu. Tapi ini berlaku jika konflik melibatkan beberapa individu. Lantas, jika konflik terjadi antarindividu maka bagaimana cara mengambil hikmah atau sisi positifnya? Saya yakin pasti selalu ada sisi positif yang bisa diambil, akan tetapi perlu penguasaan diri yang cukup atau dalam bahasa teorinya “managemen konflik”. Namun saya tidak akan menjelaskan secara detail karena pembahasannya bisa panjang sekali. Saya hanya akan menarik garis besarnya saja.

Untuk mempermudah dan terlihat islami, saya akan mengutip QS. Al-Baqarah: 216 “diwajibkan atas kamu berperang, padahal perang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu dan boleh pula kamu menyukai sesuatu padahal itu buruk bagimu. Allah lebih mengetahui sedangkan kamu tidak”. Secara tidak langsung ayat ini hendak mengatakan bahwa Allah SWT tidak pernah menciptakan keburukan atau kesia-siaan karena selalu ada nilai positif (hikmah) di baliknya. Konflik adalah sesuatu yang kebanyakan orang ingin hindari, namun kenapa Allah SWT membiarkan konflik meskipun itu buruk? Jawabannya karena pasti ada hikmah yang bisa dipetik oleh manusia.

Untuk mengetahui hikmah di balik hal ihwal yang negatif, Allah SWT menganugerahi manusia dengan akal supaya bisa mereka pergunakan untuk belajar dan merenungkan segala ciptaan. Artinya, tabir misteri yang terkandung bisa disingkap dengan cara kontemplasi-edukasi yang melibat akal sebagai sumber ilmu pengetahuan kedua setelah wahyu. Proses pembelajaran, penelitian, riset dan pengembangan temuan-temuan di lapangan bisa menjadi pembuka tabir tersebut. Pendayagunaan akal merupakan bagian dari sunnatullah yang wajib bagi manusia sebagai khalifah. Setiap manusia pasti memiliki potensi, dan potensi tersebut wajib digunakan untuk kemaslahatan. Pendayagunaan akal secara maksimal akan menguak takdir baik dan takdir buruk yang telah Allah SWT ciptakan. COVID-19, misalnya, awal mula dianggap sebagai takdir buruk (wabah), tetapi lama-kelamaan pandemi ini membuat sebagian orang mampu mengambil hikmah darinya. Begitu juga dengan konflik: awalnya wajib dihindari tetapi ternyata kemudian diperlukan (konflik-fungsional).

Konflik mendorong kita setidaknya memperluas wawasan (worldview). Pertama, ia menyadarkan kita bahwa permasalahan harus segera dipecahkan, dicarikan solusi bukan dihindari. Kedua, konflik mendorong kita melakukan perubahan dalam diri kita dan melakukan sesuatu yang baru. Ketiga, konflik membuat kita semakin matang dalam proses pendewasaan sehingga keputusan yang diambil untuk menyelesaikan masalah lebih bijak. Keempat, konflik bisa menjadi alat ukur kemampuan kita dalam menghadapi sesuatu sekaligus alat intropeksi dan evaluasi diri. [MFR]