Ummi, Imanku Dipatok Ular!

Bagi orang tua yang selama ini merasa sulit untuk mengajari anak-anaknya hapalan-hapalan surat pendek dan sebagainya itu, pasti merasa sangat terbantu. Dengan permainan Ular Tangga Anak Saleh ini si anak merasa bermain dan bukan sedang belajar, dan sang ibu juga senang, karena apa yang harapkan agar anak-anaknya bisa menghapal menjadi kenyataan.

—–Hajime Yudistira

Akhir-akhir ini ramai warganet membahas permainan ular tangga yang dimodifikasi menjadi Ular Tangga Anak Saleh sebagai metode untuk anak menghapal surat-surat pendek, doa-doa pendek dan hadis. Ada sebagian warganet yang mengatakan bahwa hal tersebut adalah hal yang baik dan kreatif, karena metode permainan ini membuat anak-anak senang bisa belajar sambil bermain. Akan tetapi, tidak sedikit pula warganet yang kontra dan mengatakan hal tersebut sangat tidak kreatif, karena bukan membuat metode baru, tapi meniru atau menjiplak permainan yang sudah ada.

Sebenarnya tidak ada masalah dengan permainan ular tangga, karena permainan itu bersifat umum. Permainan ini menjadi masalah dan banyak dibahas karena oleh sebagian warganet dikatakan menjiplak. Permainan ini memang hasil modifikasi sebagai metode yang dipakai agar anak lebih mudah menghapal dalam konteks pengajaran dalam agama Islam. Menjadi masalah, karena yang menanggapi hal tersebut bukan dari kalangan muslim dengan mengatakan permainan itu menjiplak, meniru, plagiat atau apalah sebutannya. Inti masalah sebenarnya adalah pendapat tersebut ke-bablas-an, atau off side dalam istilah sepak bola.

Saya jadi berpikir, kalau dikatakan menjiplak, berarti tentu ada pemilik karyanya. Karena kalau tidak ada pemiliknya tentu tidak bisa dikatakan menjiplak. Lagipula sesuatu itu bisa dikatakan menjiplak kalau diakui sebagai karyanya. Ini kan hanya memodifikasi permainan menjadi metode pembelajaran yang membantu banyak pihak.

Saya jadi penasaran, permainan ular tangga yang waktu kecil juga sering saya mainkan ini sebenarnya siapa yang menciptakan? Saya berusaha mencari sumber-sumber informasi dan hasilnya saya tidak bisa menemukan sebuah nama sebagai orang yang menciptakan permainan ini. Hasil yang saya temukan hanya mengatakan bahwa permainan ular tangga ini sudah dimainkan di India sejak abad ke-2 SM (dilansir dari brilio.net).

Permainan ini dikenal dengan sebutan Mokshapat, Moksha Patamu, Vaikuntapaali, atau Paramapada Sopanam yang memiliki makna “mendalam”. Sebenarnya, permainan ini mengajarkan tentang karma dan pentingnya melakukan perbuatan baik di atas perbuatan jahat. Tangga mewakili kebaikan dalam ajaran Hindu, seperti kemurahan hati, iman dan kerendahan hati. Sedangkan ular mewakili sifat-sifat buruk manusia, seperti nafsu, amarah, dan perbuatan-perbuatan tidak baik lainnya.

Permainan ular tangga yang dulu ada di India berupa papan yang menyimpan simbol-simbol keTuhanan seperti dewa dan malaikat. Selain itu, juga muncul simbol tanaman, hewan dan juga manusia. Pesan dari permainan ini adalah untuk mencapai nirwana atau surga, perlu melakukan perbuatan baik setahap demi setahap. Selama melakukan perbuatan baik, maka akan bertemu dengan ular-ular yang menggambarkan godaan untuk berbuat tidak baik yang akan mengantarkan kepada tingkatan kehidupan yang lebih rendah, bahkan kematian. Setiap kotak dalam papan permainan tersebut yang mewakili kehidupan dapat hancur karena hal-hal kecil sekalipun.

Permainan dari India ini dibawa ke Inggris sekitar akhir abad ke-18 dan diubah sesuai nilai-nilai Victoria saat itu. Dari Inggrislah permainan ini menyebar ke seluruh dunia dengan segala modifikasi sesuai kebutuhan yang membuatnya. Demikian pula yang terjadi di Indonesia, permainan ini dibuat sesuai dengan apa yang diinginkan oleh yang memodifikasinya. Demikian kiranya sejarah singkat dari permainan ular tangga tersebut.

Bagi orang tua yang selama ini merasa sulit untuk mengajari anak-anaknya hapalan-hapalan surat pendek dan sebagainya itu, pasti merasa sangat terbantu. Dengan permainan Ular Tangga Anak Saleh ini si anak merasa bermain dan bukan sedang belajar, dan sang ibu juga senang, karena apa yang harapkan agar anak-anaknya bisa menghapal menjadi kenyataan. Dalam Islam memang surat-surat pendek dan doa sehari-hari wajib dihapalkan untuk dipergunakan dalam salat dan beraktifitas sehari-hari.

Bagi si anak juga merupakan hal yang menyenangkan bisa menghapal sambil bermain. Saya pun berpendapat bahwa hal ini sangat baik, dalam arti ada sebuah metode untuk membantu anak dalam urusan menghapal ini. Apakah ini menjiplak? Saya tidak melihat ada yang salah dari hal ini. Memodifikasi sebuah permainan yang notabene juga tidak ada patennya untuk membuat hal baik dan berguna bagi orang lain. Kalau kita menjadi penjiplak karya orang lain yang memiliki paten, dan diakui sebagai karyanya, mungkin itu bisa dikatakan sebagai plagiator.

Bagaimana kalau saya membuat atau memodifikasi permainan, sebutlah misalnya permainan gasing –mainan terbuat dari kayu yang diberi pasak bagian bawahnya dan diputar dengan media tali—yang saya modifikasi dengan tujuan baik tertentu. Lalu hasil modifikasinya diikuti banyak orang karena dianggap berguna, apakah itu hal yang buruk atau saya dianggap penjiplak atau plagiat? Memangnya permainan gasing ada yang punya? Sudah tidak mungkin juga untuk melacaknya untuk mengetahui siapa penciptanya.

Lagi pula tidak ada relevansinya juga mengritik seperti itu, lihat sisi baiknya bahwa metode permainan Ular Tangga Anak Saleh yang “menjiplak” tersebut memberikan manfaat bagi banyak orang. Banyak orang tua terbantu, karena sekarang pelajaran menghapal bagi anaknya menjadi mudah dan menyenangkan.

Berpendapat itu boleh, tapi kalau dalam konteks keagamaan di ranah publik, berhati-hatilah dan jangan salah “masuk kamar” orang. Mari kita jaga keutuhan toleransi keberagamaan kita, salah satunya dengan apa yang disampaikan tadi, yaitu jangan ke-bablas-an dalam berpendapat yang bukan di ranahnya. Salam damai selalu…[MFR]

Traveling Manusia-Manusia

Traveling bukanlah hal sepele; tidak hanya soal perjalanan dari satu tempat ke tempat lainnya. Traveling adalah soal kehidupan dan penghidupan, soal keimanan dan proses meneguhkan keimanan dengan pengetahuan.

—– Hijroatul Maghfiroh

Ketika koronavirus memukul mundur umat manusia ke dalam kotak berbatas bernama rumah, barulah manusia sadar betapa sekadar ke luar rumah, apalagi traveling —melakukan perjalanan ke tempat baru—adalah salah satu aktivitas yang sangat berharga, menggairahkan dan penuh makna.

Untuk menguak kerinduan traveling, netizen rame-rame membuat gerakan memposting foto-foto kenangan ketika melakukan perjalanan. Saya yakin gerakan tersebut tidak hanya kerinduan mereka untuk mendatangi tempat baru, tapi lebih dari itu ia merupakan kerinduan akan sejarah dirinya.

Hampir bisa dipastikan sebagian besar dari kita pernah melakukan perjalanan, traveling. Sejarah umat manusia memang tidak bisa dipisahkan dari traveling. Lihatlah masa awal manusia pada zaman praaksara; mereka hidup berpindah-pindah, ‘traveling’, mengikuti sumber makanan atau yang kita kenal dengan nomaden. Bahkan awal peradaban manusia yang lazim diketahui berada di Mesopotamia, konon manusianya pun masih hidup seminomaden.

Seiring dengan gerak maju peradaban manusia, berkembang pula pengetahuan. Biasanya dalam perkuliahan filsafat dasar, kita akan disuguhi tentang sejarah peradaban pengetahuan Yunani kuno. Di sana terpancang tonggak awal pergeseran pola pikir manusia yang sebelumnya mitosentris menjadi rasional, dan kelahiran ilmu pengetahuan melalui filsafat. Salah satu tokoh filsafat awal di era ini adalah Thales yang konon mengobrak-abrik cara berfikir masyarakat Yunani yang masih ‘menyembah’ mitologi. Nah, konon Thales, yang juga seorang saudagar, sangat gemar melakukan traveling; dia bahkan pernah melakukan lawatan ke Mesir, salah satu kota peradaban kuno yang letaknya tentu tidak dekat dari Yunani.

Tidak hanya para filsuf yang melakukan traveling, para nabi dan pembawa risalah keagamaan-pun tidak bisa dipisahkan dari pengembaraan, ‘traveling’. Baik perjalanan mendapatkan wahyu maupun menyebarkan ajaran kebaikan yang mereka imani.

Sebut saja Hindu. Agama yang tercatat dalam sejarah sebagai salah satu agama tertua di dunia ini juga merekam banyak pembawa risalah melalui traveling. Agama ‘politeis’ (memuja banyak dewa) ini tidak memiliki tokoh sentral seperti agama-agama yang sering kita kenal. Tapi justru dalam serpihan rekaman sejarah, agama ini tersebar luas melintasi batas-batas benua, tentu melalui perjalanan para pembawa ajarannya. Tidak hanya itu, ajaran Hindu—yang meyakini banyak Dewa dan tempat suci—mendorong pengikutnya akrab dengan tradisi ziarah, ‘traveling’, ke tempat-tempat yang diyakini penuh berkah dari para Dewa-Dewi.

Begitu juga agama yang dianggap dekat dengan Hindu, yaitu Buddha. Kelahiran agama ini justru karena ‘pelanggaran’ sang pendiri, Siddharta Gautama, melakukan perjalanan ke luar istana. Dalam perjalanan tersebut beliau menemui empat keadaaan manusia: orang sakit, orang tua, orang mati, dan pertapa. Perjalanan ke luar istana pertama itulah yang mengilhami Sang Buddha melakukan pengembaraan lebih jauh, ‘traveling’, meninggalkan jabatan, harta dan keluarganya. Berbeda dengan Buddha, Konfusius bukanlah ‘pencipta’ agama yang dikenal di Indonesia sebagai Konghucu. Dia ‘hanyalah’ penyempurna tatanan nilai-nilai bijak bestari sebagai penuntun kehidupan. Dia menyebarkan ajaran etikanya dengan melakukan pengembaraan, ‘traveling’. Konon dia berjalan kaki  hingga puluhan tahun menyampaikan tuntunan nilai kebajikan dalam hidup.

Traveling tidak hanya dijumpai dalam tradisi agama-agama ‘bumi’. Agama-agama ‘langit’ pun sangat bergantung pada pengembaraan para pembawa risalah dalam menyampaikan ajaran ketauhidan. Untuk memudahkan dan menyingkat pembahasan, kita akan melihat bagaimana ‘traveling’ ini menjadi bagian tak terpisahkan dari para Nabi Ulul Azmi—para nabi yang diberi keteguhan hati—dalam  menemukan keesaan Tuhan.

Nabi Nuh alaihi salam dan sedikit pengikutnya diselamatkan Allah SWT dari banjir dahsyat dengan ‘traveling’ menggunakan perahu besar. Kita semua pasti akrab dengan banyak kisah pencarian Tuhan oleh Nabi Ibrahim alaihi salam. Setelah menghancurkan berhala, mencari jejak ilahi pada alam semesta, Ibrahim diusir oleh ayahnya yang menurut banyak kisah tidak mengimani ajarannya hingga akhir hayat. Ibrahim pun melakukan perjalanan jauh bersama istri setianya, Sarah.

Berbeda dengan Ibrahim, Nabi Musa alaihi salam justru melakukan perjalanan sejak masih bayi. Dia diselamatkan oleh Ibunya dari rencana pembunuhan si penguasa lalim, Firaun. Musa pertama kali melakukan ‘traveling’ menyusuri sungai Nil hingga akhirnya diselamatkan oleh perempuan mulia lainnya yang tak lain istri Firaun sendiri.

Musa dewasa kemudian meninggalkan kota dan keluarganya, melakukan perjalanan ke Madyan—konon sekarang antara Syiria dan Saudi Arabia—yang berjarak 1000 km dari Mesir tempat Musa tinggal saat itu. Di sana ia berguru kepada Nabi Syuaib, dan akhirnya menikahi putri gurunya tersebut. Setelah lama menetap di Madyan, Musa kembali ke Mesir, dan konon dalam perjalanan kembali itulah Musa menerima wahyu pertama di Gunung Sinai.

Perjalanan Nabi Isa lebih heroik lagi. Bahkan sejak dalam kandungan perempuan mulia, Maryam, Isa alaihi salam melakukan perjalanan untuk pengasingan dari tanah kelahirannya. Di perbukitan Bethlehem, Palistina, Nabi Isa kemudian dilahirkan. Tidak seperti nabi ulul azmi lainnya yang melakukan perjalanan ketika menyebarkan risalah kenabian, Nabi Isa, menurut banyak versi, hingga saat ini masih ‘dalam perjalanan ketuhanan’ dan kelak akan kembali  ke bumi.

Seperti laiknya nabi-nabi terdahulu, Sang Khatamul Anbiyâ juga banyak dikisahkan melakukan perjalanan. Jauh sebelum menerima kenabian, Nabi Muhammad alaihi salam menjadi ‘reseller’ saudagar perempuan mulia nan kaya, Khadijah. Beliau menjajakan barang-barang yang diambilnya dari Khadijah ke luar kota. Tetapi penanda paling kentara dari traveling Kanjeng Nabi adalah ‘hijrah’; berpindahnya nabi dan pengikutnya dari Mekah menuju Yastrib atau Madinah yang berjarak sekitar 450 km menggunakan unta yang konon memakan waktu sekitar 10 – 15 hari. Konon rute hijrah Nabi tidak lazim dilakukan orang yang melakukan perjalanan dari Mekah ke Madinah.

Tidak hanya rute yang berbeda, dari pelajaran tarikh Nabi yang disampaikan sejak di ibtidaiyah pun kita tahu bagaimana strategi menegangkan Nabi dan para Sahabat menghalau kebencian suku Quraisy yang menentang ajaran Nabi.

Budaya ‘traveling’ dalam agama-agama memang tidak bisa dipisahkan dari budaya ‘ekspansi’; kerja sama, penaklukan dan pengetahuan. Demikian pula dalam Islam. Ketika Nabi dan para pengikutnya berhijrah ke Madinah—kota beragam suku, agama, dan strata ekonomi—maka di situ terjadi saling berkunjung dan saling mengenal satu sama lain. Masa penaklukan ditandai dengan berkuasanya Sahabat Umar bin Khatab yang mampu menguasai jazirah Arab, Palestina, Syiria, dan sebagian wilayah Persia, dan Mesir. Kemudian diteruskan oleh penggantinya Utsman bin Affan hingga era Umayah dan Abbasiyah.

Sebenarnya budaya traveling yang paling saya sukai adalah di era pengetahuan, yang secara ringkas saya tandai di era imam mazhab. Dari empat imam mazhab, hanya Imam Malik-lah yang konon tidak pernah traveling ke luar Madinah (kecuali berhaji). Imam Abu Hanifah misalnya, sebagai keluarga saudagar kaya, beliau banyak melakukan perjalanan, tidak hanya perjalanan bisnis tapi juga keilmuan. Tercatat dalam salah satu kisah, beliau memiliki 4000 guru yang tentu didapatkan dari seringnya melakukan ‘traveling’.

Yang paling termasyhur dalam melakukan traveling pengembaraan pengetahuan adalah Imam Syafii. Lahir di wilayah Asqolan (konon dekat Gaza), beliau kemudian belajar di Mekah, berguru pada Imam Malik di Madinah, kemudian ke Yaman, menetap lama di Irak, hingga kemudian berpindah ke Mesir sampai akhir hayatnya. Berbeda dengan Imam Syafii, Imam Hanbali meninggal di kota kelahirannya Baghdad. Tetapi beliau bukan tidak pernah melakukan perjalanan. Pertemuan beliau dengan Imam Syafii yang menjadi salah satu gurunya, justru ketika Imam Ahmad bin Hanbal melakukan perjalanan ke kota-kota di luar Baghdad, seperti Mekah, Madinah, Suriah, dan Yaman.

Dari kisah perjalanan ‘traveling’ di atas, maka traveling bukanlah hal sepele; tidak hanya soal perjalanan dari satu tempat ke tempat lainnya. Traveling adalah soal kehidupan dan penghidupan, soal keimanan dan proses meneguhkan keimanan dengan pengetahuan. Pada masa awal penyebaran ajaran keagamaan, mereka–para pembawa risalah—melakukan ‘traveling’ karena pencarian dan mempertahankan ‘identitas’ keimanan. Maka, selayaknya perjalanan traveling yang kita lalui saat ini pun harus memberikan dampak bagi keimanan kita; traveling bisa jadi adalah jalan ruhani menuju yang hakiki.

Traveling tidak hanya sekedar memindahkan tubuh, tapi juga jiwa dan kesadaran menikmati dan mengenali tempat baru. Bagaimana sensitivitas sosial Siddharta terbangun ketika dia melakukan perjalanan ke luar istana. Ajaran-ajaran Konfusius pun selalu berkembang mengikuti refleksinya atas temuan-temuan di perjalanan ketika menyampaikan ajarannya. Kita harus belajar dari Nabi Nuh, bahwa traveling adalah tentang menyelamatkan, memberi kebahagiaan kepada siapa saja terutama kepada orang yang telah mempercayai kita. Ketika melakukan traveling bersama orang terdekat, hendaklah Anda selalu memberi rasa nyaman kepadanya.

Traveling juga media menemukan jati diri; bagaimana Ibrahim dan Musa harus ke luar dari keluarganya sampai kemudian dia menemukan siapa Tuhan yang ia yakini harus disembah dan diperjuangkan. Belajar dari perjalanan Nabi Isa dan Muhammad, traveling adalah juga tentang menyelematkan diri dari kepungan orang-orang jahat dan tidak bertanggung jawab. Nabi Muhammad menemukan ‘hidup baru’ yang lebih baik untuk dirinya dan pengikutnya setelah melakukan hijrah, ‘traveling’. Begitupun traveling yang dilakukan oleh para sahabat, tabi’in, dan ulama/imam mazhab. Perjalanan bukan tanpa tujuan, melainkan memenuhi rasa keingintahuan mereka terhadap luasnya pengetahuan.

Maka, lakukanlah perjalanan, penuhilah rasa keingintahuan kalian. Perhatikan hal-hal baru di setiap perjalanan yang kalian temui. Bukalah hati dan fikiran kalian untuk menerima hal-hal baru tersebut. Berikan waktu sejenak untuk merenungi dan berefleksi atas apa yang kalian temui dalam perjalanan. Niscaya traveling kalian bukanlah hal yang tiada faedah. Selamat mencoba.[MFR]

Pandemi dan Fajar Iman-Nalar

Allah SWT membekali manusia dengan akal supaya bisa berpikir. Maka menyikapi pandemi ini, iman harus disertai dengan nalar akal sebagai bentuk ikhtiarnya.

Indra Latief Syaepu

Benturan agama dan sains, yang kembali menyeruak di masa pandemi, sebetulnya pernah terjadi pada masa Abbasiyah, ketika paham okasionalisme berbenturan dengan kausalitas.  Al-Ghazâlî berhasil menyatukan dua faham ini dengan cara menarik jalan tengah, sebagaimana terungkap dalam sejarah filsafat Islam. Jika kita menerapkan pandangan Al-Ghazâlî tersebut ke dalam situasi pandemi sekarang, masyarakat bisa mengambil sisi positifnya. Menjaga kesehatan dan kebersihan bukan hanya sebagian dari iman, tetapi wujud awal peradaban.

Memang saat ini, Covid-19 memaksa semua orang untuk memperbaharui cara hidup, bahkan dalam cara yang ekstrim. Secara tidak langsung, problem ini memberi kita pelajaran. Kehidupan zaman yang serba modern dengan teknologi maju mengharuskan kita meninjau ulang pemahaman kita terhadap ajaran agama di tengah pandemi: kejumudankah yang terjadi atau sebaliknya?

Sains ialah satu tanda bahwa pemikiran manusia telah mengalami perubahan. Pada dasarnya perkembangan sains bertujuan untuk memperbaiki kualitas hidup manusia. Akan tetapi sains—dan  juga agama—ternyata sama-sama punya kelemahan. Dalam beberapa teori filsafat muncul ragam pernyataan mengenai hubungan sains dan agama: A) tidak bertentangan; B) saling bertentangan; C) bertentangan tapi bisa hidup berdampingan; D) saling mendukung. Jika kita mengamati fenomena sosial yang terjadi di masyarakat selama pandemi, teorema ini terwakili dalam cara pandang masyarakat, sesuai dengan ideologi mereka.

Kelompok fatalistik secara tidak langsung beranggapan bahwa kebenaran sains tak bisa dipercaya, bahwa keputusan pemerintah, melalui intruksi Badan Kesehatan Dunia—dinilai bertentangan dengan ajaran agama. Bagi mereka, Covid-19 merupakan ujian untuk meningkatkan keimanan dengan cara meramaikan masjid dengan salah berjamaah, pengajian, dan majlis taklim lainnya, bukan malah dibatasi atau ditutup. Bisa dibilang, kelompok seperti ini mewakili idiologi filsafat atau pola pikir okasionalisme, yaitu faham yang meyakini bahwa Tuhan, bukan makhluk, adalah sebab di balik sebuah kejadian (Yuana, 2010: 158).

Kubu lain menganggap ‘sains bertentangan, tapi bisa berdampingan’. Contoh kasusnya adalah saat kebenaran sains tidak terbantahkan dan kita masih memegang teguh keimanan, maka kita menerima kedua kebenaran keduanya (sains dan agama). Kelompok ini bisa dikatakan golongan Ghazâlian: tidak terlalu rasional tapi juga tidak terlalu fatalistik. Kelompok terakhir adalah mereka yang terlalu percaya pada sains tanpa memerhatikan agama; mereka bisa dikategorikan sebagai masyarakat sekular atau postivistik.

Hampir seluruh agama, terutama Islam, memerintahkan umatnya untuk selalu menjaga kebersihan dan kesehatan. Selama pandemi Covid-19, umat Islam setidaknya bisa mengambil dua hikmah terkait seruan ibadah di rumah. Pertama, penutupan tempat ibadah seharusnya bukan menjadi penghalang umat Islam untuk beribadah dan meningkatkan keimanan. Justru dengan beribadah di rumah, secara tidak langsung kita telah menjadikan rumah kita seperti rumah Allah. Tentunya umat Islam sudah akrab sekali dengan istilah bayjannatî ‘rumahku, surgaku’. Maka kita yakin bahwa situasi pandemi bisa jadi ajang untuk membentengi rumah dari gangguan jin dan syetan. Bacaan al-Qur’an di rumah akan menjadikan rumah sejuk, harum dan dapat mengusir mahluk ghaib yang membawa anasir-anasir negatif terhadap keluarga. Inilah mengapa muslim diperintahkan untuk selalu menghiasi rumah dengan salat. ‘Jadikanlah bagian dari salat kalian di rumah kalian, jangan jadikan rumah kalian seperti kuburan’ (HR Bukhari, No. 432; HR Muslim, No 1817). Maka dalam konteks pandemi, makhluk gaib ini bisa juga dipahami virus tak kasat yang membawa petaka bagi manusia (Covid-19).   

Kedua, beribadah di rumah paling tidak akan mengurangi risiko penularan Covid-19. Secara tidak langsung kita sedang melaksanakan perintah agama untuk memelihara kesehatan badan. Islam sangat menganjurkan umatnya untuk selalu menjaga kesehatan badan guna meningkatkan imunitas. Dalam keadaan tertentu, Islam juga memberi kelonggaran, keringanan (toleransi), termasuk beribadah di rumah dan tidak rapatnya barisan salat selama pandemi dan Kenormalan Baru. Seperti sudah maklum, kita sedang memasuki masa Kenormalan Baru New normal; pemerintah telah membuka beberapa tempat, tak terkecuali masjid, yang semula ditutup tapi dengan syarat menerapkan aturan dan protokol kesehatan yang baru. Tidak dirapatkannya shaf salat bukan berarti fadilah berjamaah akan hilang (baca fikih), terlebih dalam situasi pandemi seperti ini, tentunya ada toleransi.

Seperti dikatakan di awal, ada beberapa ulama atau filsuf pada masa Abbasiyah yang mengadopsi sudut pandang peripatetik yang mengedepankan kemampuan akal dalam penalaran. Hasil nyata dari filsafat ini adalah ilmu pengetahuan yang bersifat empiris (sains). Para filsuf dulu beranggapan bahwa dengan ilmu pengetahuan, kehidupan manusia akan lebih baik. Maka dari itu penulis tegaskan, iman saja tidak cukup untuk menghadapi pandemi ini, tetapi penalaran akal juga diperlukan karena pada dasarnya, Islam juga memuliakan akal.

Tidak dimungkiri bahwa ketika akal mampu memproduksi sains, maka ia bak menjadi duri dalam daging bagi agama dan kepercayaan yang sudah lama mapan. Oleh karena itu, manusia perlu untuk selalu mengambil hikmah positif dalam menyikapi pandemi. Akal dan keimanan harus diimbangi untuk memperbaiki kualitas hidup yang lebih baik. Di era digitalisasi ini, ilmu pengetahuan dan teknologi ialah sarana untuk memenuhi kebutuhan dan mengatasi permasalahan yang ada. Seperti ditegaskan dalam al-Qur’an, Allah SWT membekali manusia dengan akal supaya bisa berpikir. Maka menyikapi pandemi ini, iman harus disertai dengan nalar akal sebagai bentuk ikhtiarnya. [MFR]

Perjumpaan Lora Madura dengan Romo Yesuit

Aku bukan nasionalis, bukan katolik, bukan sosialis. Aku bukan buddha, bukan protestan, bukan westernis. Aku bukan komunis. Aku bukan humanis. Aku adalah semuanya. Mudah-mudahan inilah yang disebut muslim.

Ahmad Wahib (Catatan Harian, 9 Oktober 1969)

Bulan Juli tahun 1982, untuk pertama kalinya saya meninggalkan pulau Flores menuju ke Yogyakarta. Saya masih ingat sangat baik bahwa setelah satu minggu berada di Yogyakarta, saya dan kawan-kawan berkunjung ke toko buku Gramedia di Jalan Solo. Saya ingat sangat baik, saat itu saya membeli tiga buku. Pertama, Burung-Burung Manyar karya Romo Mangun. Kedua, Tanah Gersang karya Mochtar Lubis. Ketiga, Pergolakan Pemikiran Islam karya Ahmad Wahib.

Dari ketiga buku ini, saya sangat tertarik dengan buku ketiga. Mungkin karena dalam judulnya ada kata “Pergolakan”, yang rasanya cocok dengan gelora usia muda saya saat itu. Maka saya memutuskan untuk membaca buku itu terlebih dahulu sampai habis.

Buku itu adalah kumpulan catatan harian Ahmad Wahib. Siapa orang ini? Setelah membaca buku itu akhirnya saya tahu bahwa dia (saat itu) adalah mahasiswa yang berasal dari Sampang, Madura. Dia adalah seorang lora –panggilan bagi seorang anak kiai di Madura. Pasti dia juga seorang Muslim yang taat, karena dia berasal dari keluarga muslim dan berasal dari masyarakat muslim. Pada awal tahun 70an, dia pindah ke Yogyakarta dan kuliah di Fisipol UGM. Tetapi dia tinggal di Asrama Realino. Itu adalah asrama mahasiswa yang dibina oleh romo-romo Yesuit. Asrama itu ada di kawasan Mrican, dekat kompleks kampus Sanata Dharma.

Kumpulan catatan harian ini diterbitkan menjadi buku dan diberi judul Pergolakan Pemikiran Islam. Tetapi dalam aspek manakah pemikiran itu mengandung pergolakan? Mungkin ada banyak aspek dalam buku itu yang dapat dikategorikan sebagai “pergolakan”. Tetapi pada kesempatan ini saya hanya mau menunjuk satu hal yang saya anggap sangat penting.

Pada saat itu, sebagai orang yang baru pertama kali keluar dari pulau Flores, praktis saya belum pernah bertemu secara langsung dengan orang yang beragama Islam. Saya juga hampir tidak tahu banyak tentang agama Islam dan juga ajaran dan praksis moralnya. Tetapi dengan membaca buku ini saya merasa mulai mengenal sedikit demi sedikit tentang beberapa segi dari ajaran teologis dan etis agama Islam itu.

Penulis catatan harian itu mencatat hal-hal yang bagi saya sangat menarik berikut ini. Dia juga mengatakan bahwa dirinya adalah anak seorang Kiai besar di Madura. Di tengah keluarganya yang muslim saleh dan taat, dia akhirnya menginternalisasi sebuah ajaran keselamatan, bahwa yang kelak bisa masuk surga hanyalah orang Islam. Orang-orang lain di luar Islam tidak akan bisa masuk surga. Selama dia berada di Madura, dia menerima begitu saja ajaran itu sebagai benar. Dia tidak menggugatnya. Itu adalah sebuah kebenaran teologis yang memang sudah sepantasnya demikian.

Tetapi saat dia berada di Yogyakarta dan tinggal di asrama Katolik (asrama Realino yang dipimpin romo-romo Yesuit tadi), dia mulai mengalami sebuah perubahan besar. Untuk pertama kalinya dia mulai “mempertanyakan” ajaran keselamatan di atas tadi. Bagaimana hal itu bisa sampai terjadi dalam diri anak muda itu?

Hal itu terjadi lewat sebuah perjumpaan, yang selalu mempunyai dampak transformatif dan metamorphosis dalam diri mereka yang terlibat di dalam peristiwa perjumpaan itu. Saat tinggal di asrama Realino, dia berkenalan, dan secara sangat nyata melihat dan mengalami bahwa romo yang menjadi pemimpin asrama itu adalah orang yang sangat baik, sangat saleh dan pintar. Dia orang yang berasal dari Eropa.

Pemuda Madura ini merasa sangat kagum pada romo tersebut. Sedemikian kagumnya, sampai dia tiba pada suatu refleksi teologis bahwa dia tidak akan bisa menerima kalau romo ini kelak harus masuk neraka hanya karena dia tidak beragama Islam. Sebab menurut ajaran tradisional yang dia terima dan amini selama ini, hanya orang Islam saja yang bisa masuk surga. Orang lain di luar itu, tidak bisa masuk surga.

Tetapi setelah melihat kebaikan dan kesalehan hidup bapa asrama ini, pemuda Madura tadi mulai protes. Kemapanan ajaran teologis yang selama ini dia terima di Madura dan sebagai orang Madura, sekarang mulai goncang, mulai mengalami pergolakan dari dalam. Pengalaman perjumpaannya yang sangat nyata dengan lian yang beragama lain, mulai menggoncang struktur dasar ajaran agamanya tentang keselamatan.

Dia sampai mengatakan kalau di Madura dia menerima ajaran bahwa hanya orang Islam saja yang masuk surga; tapi sekarang -setelah melihat dan menyaksikan dan mengalami sendiri secara langsung kebaikan dan kesalehan romo ini—dia merasa tidak bisa menerima jika ternyata romo yang baik dan saleh itu harus masuk neraka.

Bagi saya catatan ini adalah perkara mencintai sesama. Selama sosok sesama itu abstrak, tidak kongkret, mungkin mudah bagi kita untuk mengadilinya dengan kriteria etis ajaran agama kita. Tetapi ketika kita berhadapan langsung dengan sosok sesama yang sangat nyata, maka menurut Levinas, wajah sesama itu pasti menantang kita secara etis untuk berbuat baik, bahkan untuk bertanggung jawab atas keselamatan orang itu.

Kita tidak bisa bersikap apatis dan berpura-pura tidak tahu akan ada dan kehadiran sesama. Memang dalam agama Yudeo-Kristiani, hal mencintai sesama itu adalah sebuah perintah imperatif kategoris, kalau meminjam bahasa filsafat moral filsuf Jerman, Immanuel Kant. Kita tidak bisa dan tidak boleh menghindar daripadanya. Kita harus menerima dan menjalankannya. Perintah mencintai sesama itu harus diperintahkan. Sedangkan hal mengasihi diri sendiri itu diandaikan saja sebab hal itu dengan sendirinya sudah ada dan terjadi. Itu sebabnya, perintah cinta sesama dibandingkan dengan kewajiban etis untuk mengasihi diri sendiri. Sebagaimana halnya orang mengasihi dirinya sendiri, begitulah juga dia harus mengasihi sesamanya. Kasih kepada diri sendiri menjadi model bagi kasih akan sesama.

Kembali kepada buku Ahmad Wahib tadi. Dalam peristiwa perjumpaan dia yang sangat nyata dengan romo Yesuit yang sangat baik itu, dia akhirnya dipanggil untuk juga mencintai romo itu walau berbeda agama. Dia dipanggil atau lebih tepat disadarkan untuk memperluas cakrawala cakupan cintanya, untuk mulai melampaui batas-batas agamanya juga dalam hal “kaveling” keselamatan surga. “Kaveling” keselamatan surga hampir tidak dapat diterima sebagai sesuatu yang eksklusif, tanpa praksis yang nyata akan cinta kepada sesama biarpun sesama itu berbeda. Menurut saya, itulah “pergolakan pemikiran” yang dialami oleh seorang pemikir muda Islam pada waktu itu, Ahmad Wahib.

Setelah membaca buku itu saya merasa seperti sudah berkenalan dengan sebuah cakrawala pemikiran etis dan teologis yang mempunyai konsekuensi tertentu dalam konteks relasi dan pergaulan dengan sesama. Kemapanan penghayatan ajaran lama (tradisional) mengalami pergolakan setelah berjumpa dengan sosok manusia yang sangat nyata, yang dengannya kita terlibat bergaul dan berinteraksi dalam hidup sehari-hari. [MFR]

Covid-19, Problem Teodisi, dan Sinar Terang Iman

Sumber Gambar: FB I Love Sufism

“Jika Tuhan Maha Baik, dari manakah datangnya kejahatan–si deus bonus, unde malum.”

Plotinus (204-270 SM)

Plotinus (204-270 SM), dalam sebuah statemennya, pernah mengatakan, “Jika Tuhan Maha Baik, dari manakah datangnya kejahatan – si deus bonus, unde malum.” Dialah tokoh yang berupaya memadukan ajaran Plato dan Aristoteles dan melahirkan aliran baru dalam filsafat Neo-Platonisme. Dia sangat yakin bahwa Tuhan itu Maha Baik. Namun, suatu pertanyaan yang sangat mengganjal baginya ialah mengapa di dunia ini terlalu banyak terjadi kejahatan, baik yang berasal dari alam (natural evil) maupun kejahatan yang bersumber dari perilaku manusia, moral evil. Kejahatan, secara umum didefinisikan sebagai sesuatu yang menimbulkan kerugian dan penderitaan. Maka, setiap saat kita akan dihadapkan pada bermacam-macam kejahatan. Kembali pada pertanyaan Plotinus di atas, jika Tuhan Maha Baik, dari manakah datangnya kejahatan? Apakah Tuhan yang Maha Baik menciptakan kejahatan? Atau, pertanyaan lebih mendasar lagi, mengapa kejahatan harus ada dalam kehidupan ini jika memang Tuhan itu ada.

Namun, tokoh filsafat Yunani sebelum Plotinus, Epicurus (341-270 SM) sudah lebih dahulu mengemukakan pendapatnya tentang adanya kejahatan ini. Filsuf ini menegaskan bahwa Tuhan bisa saja menghilangkan kejahatan ini, namun Dia tidak mampu; atau sebetulnya Dia mampu tetapi tidak menghendakinya. Maka, jika Dia mampu dan berkehendak, mengapa kejahatan dibiarkan terus terjadi. Jika Tuhan adalah Maha Kuasa dan kekuasaan-Nya tiada terbatas, maka akan disimpulkan bahwa Tuhan tidak benar-benar Maha Baik. Begitulah kesimpulan Epicurus dari perenungannya tentang realitas kejahatan dan keharusan meyakini adanya Tuhan yang Maha Baik.

Itulah sebagian wacana yang berkembang di era Yunani Kuno tentang problem kejahatan ini dan kaitannya dengan keberadaan Tuhan. Maka, kaum ateis pun menjadikan problem kejahatan ini sebagai salah satu alasan untuk menolak keyakinan akan adanya Tuhan, arguments against the belief in God’s existence. Orang bisa menilai sendiri bahwa sejak era itu spekulasi tentang problem kejahatan sudah begitu kompleks. Maka, orang tidak perlu terlalu heran jika hari-hari ini, ketika seluruh dunia dilanda pandemi Covid-19 yang sangat mencekam, spekulasi tentang Tuhan muncul lagi dengan begitu ramainya. Wacana terkait dengan itu berkembang bisa sangat liar dan ekstrim, dengan menyebutkan Tuhan kalah oleh pandemi Covid-19. Namun, pemahaman seperti ini hanya muncul dari pemikiran orang yang tidak bertuhan, atau hanya dikemukakan oleh kelompok agnostik. Orang yang beriman tentu akan menolak semua pemikiran tersebut.

Islam, seperti halnya agama-agama monoteis yang lain, menganggap adanya kejahatan di dunia ini sebagai suatu problem yang amat rumit untuk diatasi, sehingga memunculkan pelbagai perdebatan yang tiada habisnya sepanjang masa. Problem itu menjadi lebih kompleks ketika dikaitkan dengan keyakinan bahwa Tuhan adalah dzat yang Maha Baik dan Maha Adil. Seorang ahli kalam di masa klasik, al-Qâdî ‘Abd al-Jabbâr al-Hamadhanî (w. 1025), menjelaskan bahwa kajian tentang adanya kejahatan ini tidak bisa lepas dari wacana teologis terkait dengan kemaha-adilan Tuhan. Oleh karenanya, pembahasan mengenai hal ini harus menggunakan frame pendekatan theodicy. Istilah ini memang baru muncul pada awal abad ke-18, seperti dirumuskan oleh Gottfried Leibniz, seorang filsuf Jerman. Pada dasarnya, dengan istilah ini dirumuskan bahwa adanya kejahatan di dunia ini tidak akan mengurangi makna kemaha-adilan dan kemahabaikan Tuhan. Selanjutnya, menurut Richard Swinburne, hampir seluruh orang beragama memerlukan teodisi, untuk memberikan penjelasan yang rasional tentang adanya kejahatan di dunia ini dengan meyakini kemaha-baikan Tuhan. Lebih jelas lagi, Max Weber menegaskan bahwa teodisi adalah persoalan sosial, sehingga kajiannya tidak bisa lepas dari “problem pemaknaan (problem of meaning)”. Ketika kehidupan umat manusia berkembang semakin kompleks dan rasional maka berkembanglah kebutuhan untuk bisa menjelaskan (baca: memberi makna) mengapa orang baik bisa mengalami penderitaan, sementara orang jahat tampak hidup sejahtera. Menurut Weber, inilah arti penting dari peran agama dalam meneguhkan adanya tatanan dunia yang tertib bagi kehidupan di dalamnya.

Untuk itu, harus ada penjelasan tentang dua tujuan teodisi, yaitu untuk menjelaskan mengapa orang baik malah banyak menderita; nasibnya menjadi kurang beruntung; sementara orang-orang jahat malah tampak makmur dan sejahtera hidupnya. Weber merumuskannya dalam dua istilah kunci, yaitu theodicy of suffering dan theodicy of good fortune. Orang baik memang tidak selalu baik dan beruntung nasibnya. Mengapa? Weber menjelaskan bahwa dengan teodisi maka persoalan itu dapat diatasi ketika orang baik itu mampu mengangkat dirinya (transcend) di atas realitas penderitaan itu dengan menemukan makna keteguhan keyakinan akan adanya Tuhan yang Maha Baik; bahwa penderitaan yang dialaminya bukan suatu hal yang sia-sia, tanpa tujuan.

Hal serupa sebetulnya sudah disampaikan oleh Immanuel Kant (w. 1804) yang menyebutkan bahwa memang dunia ini tidak bisa menyelesaikan semua persoalan yang dihadapi umat manusia. Pasti ada masa di balik kehidupan duniawi ini di mana manusia akan memeroleh keadilannya. Dunia ini tidak mampu memberi penyelesaian atas semua problem yang dialami umat manusia. Maka, di sana pasti ada Tuhan yang Maha Kuasa, yang akan memberi keadilan atas semua tindakan manusia. Secara tegas hal itu ia rumuskan dalam konsep moral argument untuk mendukung keyakinan akan adanya Tuhan. 

Sementara itu, dalam uraiannya tentang theodicy of good fortune, Weber menegaskan bahwa pada dasarnya setiap orang dituntut untuk bisa memberikan penegasan atau justifikasi bagaimana suatu kesuksesan atau keberuntungan dia peroleh dalam hidupnya. Orang tidak akan merasa puas jika suatu prestasi dia peroleh tanpa suatu proses yang bisa dipertanggung-jawabkan. Jika suatu prestasi atau keberuntungan dia peroleh dengan cara yang curang, misalnya, maka dia pantas untuk menyesal dan menyadari bahwa prestasi dan keberuntungannya adalah suatu hal yang sia-sia dan tidak memiliki makna dalam hidupnya. Ini juga tidak bisa dipisahkan dari pandangan Weber tentang the sociology of meaning yang menjadi salah satu ajaran pokoknya.  Sejalan dengan pandangan di atas, sosiolog Peter L. Berger menegaskan bahwa agama merupakan upaya yang dilakukan manusia untuk membangun tatanan dunia (world order) yang memungkinkan umat manusia bisa menjalani kehidupan dengan lebih baik. Pada hakikatnya, manusia tidak bisa menerima adanya kehidupan di dunia yang tanpa makna (meaningless). Maka, teodisi memberikan landasan atas pemahaman bahwa kosmos tetap memiliki makna dan tatanan yang harus dijaga, meskipun terdapat kenyataan yang sebaliknya. Teodisi mengarahkan manusia untuk mampu mentransendesikan dirinya dengan meneguhkan keyakinan akan adanya Tuhan yang Maha Baik. 

Wabah Covid-19 masih terus menggejala, tanpa diketahui secara pasti kapan akan berlalu. Penderitaan, baik secara fisik, bahkan kematian, serta dampak ekonominya sudah sangat luar biasa dirasakan oleh hampir seluruh umat manusia di muka bumi. Solusi atas semua problem itu pun belum tampak nyata hingga saat ini. Apakah manusia akan menyalahkan Tuhan? Hanya iman yang akan memberikan keselamatan dalam arti sebenarnya. 

Dalam kondisi seburuk apapun, menurut ajaran Nabi Muhammad Saw., ketika seseorang masih punya iman, dia akan memeroleh keselamatan, mungkin bukan untuk saat ini. Alasannya, eksistensi manusia tidak akan berakhir hanya dengan kematian belaka. Setelah kematian itu masih ada pertanggung-jawaban atas apa yang ia lakukan di dunia ini. Perbuatan baik akan mendapatkan balasan kebaikan, jahat akan mendatangkan penderitaan yang lebih abadi. Penderitaan yang dialami manusia dalam hidupnya, sejauh didasari keyakinan bahwa Tuhan itu Maha Baik, dia akan mendapatkan kompensasi atas keyakinannya itu. Tuhan Yang Maha Baik tidak akan membiarkan makhluk manusia ciptaan-Nya musnah sia-sia.[MFR]