Laskar Pengung

Tak dulu tak sekarang, karakteristik radikalisme memang menunjukkan cacat logika yang akut

—Heru Harjo Utomo

Dalam khazanah budaya Jawa, orang radikal cukup disebut sebagai “pengung.” Setidaknya, hal itu terekam dalam Serat Wedhatama yang mengawali kupasan sufistiknya dengan pemblejetan karakteristik radikalisme yang saat serat itu ditulis sudah mewabah di Jawa. Secara harfiah, “pengung” bermakna “goblok.” Orang dikategorikan sebagai “goblok” adalah ketika otaknya memang tak pernah dipakai. Jadi, radikalisme, dalam hal ini, memang identik dengan satwa yang bertindak semata karena menuruti insting (Ma-Hyang: Melibatkan yang Silam Pada yang Mendatang, Heru Harjo Hutomo, CV. Kekata Group, Surakarta, 2020).

Tak dulu tak sekarang, karakteristik radikalisme memang menunjukkan cacat logika yang akut (Agama Sipil dan Sesat Pikir “NKRI Bersyariah”, Heru Harjo Hutomo, https://geotimes.id). Yang terkini, “laskar pengung” tersebut kembali memamerkan kegoblokan akutnya dengan tudung isu Palestina yang menurut mereka dapat diselesaikan dengan jihad dan khilafah. Siapa pun pasti terkekeh dan barangkali cukup berucap sinis seperti Kyai Semar ke Bathari Durga dan para bajingannya, “Wis wani wirang?”

Sebagaimana yang kita tahu, khilafah adalah sebuah sistem pemerintahan yang menolak nasionalisme dan demokrasi. Sedangkan permasalahan mendasar Palestina adalah keinginan untuk mutlak diakui sebagai sebuah negara dan bangsa dengan batas-batasnya yang jelas. Karena itu, jelas isu-isu seperti ini memang permainan dari “laskar pengung” yang di Indonesia memang sudah berunjuk gigi dalam hal kegoblokan sejak 2014 (Politik Penyingkapan, Heru Harjo Hutomo, https://alif.id).

Sebagaimana pula yang sudah banyak terjadi sejak 2014, “laskar pengung” semacam ini hanya akan menjelma opera sabun belaka. Mau bertingkah seperti apapun, mulai dari isu-isu yang berbingkai agama maupun politik praktis, pilkada dan pilpres, hasilnya tetap tak berubah karena struktur dan pola pergerakannya juga tak berubah: kegoblokan yang akut. Kita tak pernah tahu keseharian orang-orang seperti itu kecuali di media-media sosial. Di balik kesalehannya yang berapi-api, kehidupan mereka sebenarnya sangat bertolak-belakang (Hikayat Binatang Beragama, Heru Harjo Hutomo, https://jalandamai.net). Ketika tak punya kawan atau tetangga, apa yang biasanya dilakukan orang untuk mengisi kesepiannya? Omong-besar yang tak masuk akal alias umuk dan mencari musuh.

Si pengung nora nglegewa
Sang sayarda denira cacariwis
Ngandhar-andhar angendhukur
Kandhane nora kaprah
Saya elok alangka longkanipun
Si wasis waskitha ngalah
Ngalingi marang si pinging

[Si goblok yang tak sadar
Semakin berkobar dalam berkoar
Sungguh liar kesasar
Segala ujarnya ambyar
Semakin menonjol ketololannya
Si pintar yang jeli mengalah
Menutupi kegoblokan si goblok]

Gerakan-gerakan radikal yang massif dalam hal umuk dan bikin kekisruhan sejak 2014 semacam ini sebenarnya sudah kandheg di Indonesia. Ibarat bajingan yang sudah dalam posisi terdodong, mereka tinggal menanti kesungguhan komitmen kita pada kebhinekaan, Pancasila, dan UUD 1945, dibiarkan bermasturbasi ria membikin kekisruhan atau dieksekusi. Demi kehidupan produktif para anak-cucu di masa mendatang, rasanya opsi terakhir memang sudah semestinya ditempuh. [MFR]

Jambang Ideologis: Menyingkap Fenomena Urbanisasi Radikalisme di Indonesia

stuttering cold and damp
steal the warm wind tired friend
times are gone for honest men
and sometimes far too long for snakes
in my shoes a walking sleep
and my youth I pray to keep
heaven sent hell away
no one sings like you anymore

—“Black Hole Sun” (Soudgarden)

Dua lelaki muda tengah berjalan santai menikmati aroma pegunungan. Sesekali mereka terlihat tertawa, entah bicara apa. Tapi ada yang lebih menggelitik saya: jenggot yang menghiasi dagu dan t-shirt yang bertuliskan, alamak, ungkapan-ungkapan yang barangkali mereka pun malas untuk menggalinya lebih dalam.

Bagaimana lelaki semuda itu bisa dengan pede-nya membiarkan dagunya berewokan? Untuk ukuran saya pada masa seusia itu jelas tak normal. Barangkali, mereka menggunakan ramuan khusus. Dan, astaga, ketika saya mantengin facebook tiba-tiba nongol sebuah iklan untuk merangsang pertumbuhan jenggot. Celakanya, t-shirt yang bertuliskan ungkapan-ungkapan yang terkadang mengutip hadis, mahfudhat, dan ungkapan-ungkapan yang secara logis jelas tak nyambung dan terkesan merendahkan menyembul pula sebagai sponsor di Facebook (“Kaos Islami Ahad”). Belum lagi sepotong iklan “Kaos Bersurban 3D” di mana seorang pemuda “gaul” berewokan selera emak-emak nongol dengan berkalung surban—seperti citra laskar mujahidin kontemporer.  

Tahukah mereka bahwa banyak ungkapan yang dipampangkan di berbagai t-shirt itu sebentuk kampanye Islam ala wahabi salafi dan wahabi jihadi? Ketika saya ulik satu persatu iklan di berbagai t-shrit itu ada yang secara gamblang terbaca: “Leave The Beard Just grow it”(sembari ditampilkan sebuah siluet putih menyerupai kepala tanpa wajah, hanya rambut dan jenggot yang menjuntai), “MY PROPHET’S SUNNAH (dengan siluet jenggot pula di bawahnya).” Atau pun yang terang menyajikan “teologi maut” ala ISIS: “Hijrah Adalah Meninggalkan Segala Yang Dilarang Agama,” “Hijrah Tanpa Nanti Sebab Mati Tanpa Tapi,” juga “Barrakallahu Syam Negeri Akhir Zaman/ Syiria, Palestina, Yordania & Lebanon.”

Sedemikian terlambatkah kita untuk menyikapi radikalisme keagamaan di kalangan generasi milenial? Ketika saya menulis “Hikayat Kebohongan I” pada 2017 (https://islami.co), saya hanya menyambangi beberapa muda-mudi dan berdiskusi bebas dengan mereka, dan memang saat itu saya simpulkan bahwa radikalisme Islam telah ngepop. Tapi yang saya tak habis pikir adalah secepat itu gerakan mereka dikooptasi oleh kapitalisme. Maka pada titik ini dapat digarisbawahi bahwa radikalisme keagamaan tak hanya berlangsung di kampus-kampus, perumahan-perumahan kelas menengah, tapi juga sudah merambah “dunia gaul” khas kalangan milenial: ngepub, fashion, mall, café, atau bahkan mapala (mahasiswa pecinta alam). Untuk popularisasi salafi wahabi dan salafi jihadi di dunia perempuan telah saya analisis dalam “Mabuk Bentuk: Antara Komodifikasi dan Radikalisasi Jilbab” (http://jalandamai.org). Logikanya sebenarnya sama pada titik ini, hanya yang membedakan adalah corak fashionnya, antara lelaki dan perempuan.

Bagaimana mereka mendapatkan radikalisasi paham keagamaan seperti itu seandainya di sekolah, kampus, dan perumahan-perumahan kelas menengah tak lagi selonggar dahulu? Mereka berkerumun, belajar sendiri, pusing sendiri. Ada yang memicunya dengan menghujani “lontaran-lontaran verbal” untuk kemudian merembug dan mencarinya bersama-sama. Latar belakang pendidikan keagamaan mereka pun umumnya minim. Mayoritas mereka tak tahu apa itu varian atau tipologi dalam Islam. Mereka memandang bahwa Islam itu hanya satu, tanpa renik, tanpa varian di dalamnya. Tanyailah mereka satu persatu, apa perbedaan NU, Muhammadiyah, sufisme, FPI, IM, HTI, misalnya. Mereka pasti bungkam.

Saya tak anti jenggot, tentu saja, apalagi produk-produk t-shirt yang berhiaskan tulisan-tulisan nyleneh. Tapi, yang tak habis saya pikir, kenapa mesti menggunakan alasan-alasan keagamaan di baliknya? Logikanya, apakah seandainya tak berewokan menandakan ketakpatuhan pada nabi?

Saya pribadi jemu sesungguhnya dengan perdebatan-perdebatan yang tak pakai akal sehat semacam ini. Kita menghadapi sebuah generasi yang nalar kritisnya sudah dibunuh terlebih dahulu, malas bertanya cepat menghakimi, generasi yang secara physically “gaul,” tapi secara nalar dan wawasan jumud. Kini mereka telah bertransformasi menjadi gerakan counter culture yang sebenarnya alasannya tetaplah klasik: dunia yang mereka pandang kian hari kian bobrok.

Persebarannya pun saya kira tak seperti di masa lalu, di zaman para senior-seniornya, tapi sudah serupa gerakan-gerakan counter culture: worldview, pola interaksi, fashion, dan bahkan musik yang khas. Halaqah di masa lalu kini sudah mereka transformasikan menjadi semacam gigs. Dan ingat, gerakan-gerakan counter culture berupaya “menguasai” ruang publik dengan menciptakan trendsetting, maka mereka pada dasarnya berkiblat atau mendudukkan figur-figur tertentu sebagai trendsetter untuk melangsungkan eksistensi dan agenda mereka. Persis gerakan grunge yang membutuhkan figur Kurt Cobain, Chriss Cornell, ataupun Eddie Vedder. Di tangan generasi ini sikap anti-kultus ternyata hanyalah gincu. Generasi inilah yang secara serius menggoreng figur-figur semacam Felix Siauw ataupun Hanan Attaki yang memenuhi standar mereka supaya tetap eksis. Bagaimana pun mereka tetap membutuhkan figur-figur tertentu untuk diikuti, mulai dari cara pandang hingga fashion. Terlalu jauh untuk menyimpulkan bahwa tauladan mereka adalah nabi. Sebab, untuk mengembalikan cara berpikir mereka, kombinasi jenggot, t-shirt dengan berhiaskan kutipan-kutipan hadis, dan ngepub, adalah sebentuk bid’ah. Dan celakanya, tak seperti cara berpikir nahdhliyyin, tak ada bid’ah hasanah dalam otak mereka. Dengan demikian, untuk membunuh seekor ular orang mesti menghancurkan kepalanya terlebih dahulu daripada ekornya—sebelum terlanjur “tua”. []

Eklektisisme Kiai Sadrach

Pada akhirnya “Kebenaran” itu laiknya mentari dan manusia hanya dapat menangkap bayangannya pada lautan, telaga, sungai atau bahkan pada nyala di sepasang matanya sendiri.

Heru Harjo Hutomo

Di Jawa tampaknya agama tak pernah hadir sebagai sebuah ganjalan untuk mencari sebuah “kebenaran.” Mulai dari Ronggawarsita yang selain mesantren dan berguru pada Kanjeng Kiai Kasan Besari juga berguru pada para penganut kapitayan (penghayat kepercayaan—red) dan spiritualis Hindu (Ajar); R.P. Natarata yang selalu mempertanyakan dan berpolemik dengan kepercayaan-kepercayaan lainnya—sampai dia menemukan jawaban atas pengarahan Sayyid Oidrus di Betawi dan seorang kiai khos di Surabaya—; dan Kiai Sadrach yang selain mesantren di Tebuireng juga pernah berkontak dengan Kiai Ibrahim Tunggul Wulung yang akhirnya membabarkan apa yang disebut sebagai Kristen Jawa di Karangjoso, Purworejo. Semuanya ini seperti membuktikan tesis M.C. Ricklefs bahwa di Jawa agama pada dasarnya hadir lebih sebagai spiritualitas. Sejarawan yang baru saja meninggal dunia itu menamakan fenomena ini sebagai “mistik sintesis” (Polarizing Society: Islamic and Other Visions [C. 1830-1930], 2007).

Dengan segala divergensi sosok Kiai Sadrach itu, dalam kacamata saya, dia seperti seorang pemimpin sebuah tarekat. Sebagian tradisi protestan, sejauh yang saya tahu, melarang adanya ikonoklasme, tapi Kiai Sadrach justru menaruh cakra manggilingan bumi (lit. roda yang terus berputar—red) dan pasopati (senjata andalan Arjuna—red) di pucuk mustaka gerejanya yang berarsitektural laiknya sebuah masjid. Senjata cakra adalah senjata khas para titising Wisnu dan pasopati adalah lambang jumbuh-nya (keselarasan—red) Arjuna dengan Bathara Guru. Dahulu kala dalam jagat pewayangan terdapat dua lakon wayang yang dikategorikan kasepuhan: Dewa Ruci dan Ciptaning. Dan di masa lalu dua lakon wayang kasepuhan ini dipilih oleh dua gagrak (model—red) besaryang secara politik-kebudayaan merujuk ke keraton tertentu: Dewa Ruci dipilih Surakarta dan Ciptaning dipilih Ngayoyakarta—meskipun di hari ini keduanya tak lagi menjadi perdebatan.

Dalam sejarah Islam sendiri ada banyak sosok divergen dengan segala variannya, al-Hallaj yang konon terpengaruh ajaran Hindu dengan konsep hulul-nya yang dalam catatan Massignon kerap tak berbusana laiknya ulama Islam (Al-Hallaj Sang Sufi Syahid, 2001). Dia pun memiliki beberapa murid di India dan disebut sebagai “Pir” oleh masyarakat setempat yang setara dengan istilah mursyid dalam tarekat. Adapula, di nusantara, seorang Ronggawarsita yang tak hanya pernah terkenal sebagai seorang santri, tapi juga seorang yang salah satu karyanya, Wirid Hidayat Jati, menjadi kitab sakral para anak murid Ki Ageng Djoyopoernomo di Temuguruh (Perang Jawa Sebagai Tonggak Historis Islam Nusantara, Heru Harjo Hutomo, https://jurnalfaktual.id).

Apalagi di masa kolonial Belanda, tak lazim para penduduk memiliki secarik kartu identitas yang memuat pula kolom agama di dalamnya sebagaimana sekarang, di mana divergensi pada akhirnya adalah suatu hal yang lumrah. Dalam salah satu catatannya, Abdurrahman Wahid pernah mengetengahkan tilikannya atas karakteristik orang-orang nusantara di masa silam dan menyebutnya sebagai sebentuk “eklektisisme yang produktif” (Islam Kosmopolitan: Nilai-Nilai Indonesia & Transformasi Kebudayaan, 2007).

Kiai Sadrach, tak pelak lagi, adalah salah satu sosok yang saya kira juga eklektik. Dia hadir sebagai seorang pengembara spiritual, dari seorang santri di Tegalsari dan Tebuireng hingga menjadi seorang penginjil yang secara kultural menata para pengikutnya laiknya masyarakat pedesaan: gereja yang berbentuk seperti masjid, sarung dan kualitas diri sebagaimana lazimnya orang yang dianggap sebagai sesepuh di pedesaan Jawa. Tentu dari kalangan Kristen sendiri divergensi ini bukan tanpa masalah mengingat puritanisme yang kuat dalam tradisi Protestan.     

Ruang ambang yang dipijak oleh Sadrach dan para pengikutnya memang terlihat tak mudah untuk dihidupi. Di satu sisi, mereka adalah orang Jawa yang lekat dengan kejawaannya. Di sisi lain, mereka adalah penganut Protestan yang waktu itu identik dengan kolonialisme Belanda. Sementara dari sudut pandang keyakinan, mereka adalah pemeluk iman kristiani, tapi ekspresi kehidupan keseharian mereka seperti halnya masyarakat muslim pedesaan Jawa pada umumnya: bentuk arsitektural dan penyebutan gereja sebagai “mesjid” serta sarungan sebagai bentuk busana keseharian—meskipun mereka tak mempraktikkan tradisi ruwahan dan ziarah kubur laiknya masyarakat pedesaan Jawa.

Terkadang, saya berpikir, bahwa pada akhirnya “Kebenaran” itu laiknya mentari dan manusia hanya dapat menangkap bayangannya pada lautan, telaga, sungai atau bahkan pada nyala di sepasang matanya sendiri.

Disclaimer: Tulisan ini pernah terbit dengan judul “Kyai Sadrach dan Divergensi” di portal https://jurnalfaktual.id. Diterbitkan ulang di laman ini seizin penulis.  

Menghidupi Tradisi, Menyemai Toleransi

NU maupun Katolik, memang terkenal dengan sifat kontekstualnya. Dalam pendekatan kemasyarakatan, mereka sama-sama berprinsip di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung. Tradisi  Jawa—semisal ritual-ritual pernikahan, kelahiran dan kematian—adalah sebentuk kearifan lokal yang mampu mengatasi sekat-sekat perbedaan, baik perbedaan sosial maupun agama.

“Klepu, Desa Terpencil di Ponorogo 40 Tahun Lebih di Kuasai Salibis,” judul sebuah narasi ketika saya searching di internet tentang desa Klepu (www.suara-islam.com 27/01/2015). Atau narasi lainnya yang masih mengobarkan semangat yang sama: sentimen antar agama. Seperti alasan pendirian Gedung Pembinaan dan Pelatihan Mualaf, di mana sumber dananya berasal dari Kedubes Saudi Arabia, di samping untuk memujudkan kemandirian ekonomi juga untuk “mengokohkan akidah” (www.republika.com 02/06/2016).

Dalam narasi-narasi itu Klepu selalu digambarkan sebagai sebuah daerah “rawan akidah,” sudah bertahun-tahun desa ini “terjadi upaya pendangkalan akidah,” atau adanya misi “Katolik-Kristenisasi.” Logika yang berusaha dikembangkan di sini adalah bahwa kemiskinan dan keterpencilan sebangun dengan dangkalnya akidah.

Saya teringat Snouck Hurgronje, dalam alur berpikir Foucault dan Edward Said, narasi-narasinya tentang Indonesia pra-kolonialisme menyebabkan bekunya atau bahkan matinya orang Indonesia secara diskursif, yang pada gilirannya juga matinya mereka secara politis. Narasi-narasi “perendahan” yang terbangun semacam ini kemudian menjadi pembenaran mereka untuk memperadabkan atau, dalam kata kasarnya, menjajah.

Apa yang menimpa Klepu pada aras diskursif di atas tak jauh beda dengan apa yang menimpa orang Indonesia di waktu lampau, hanya saja yang menjadi pihak “pemberadab” di sini bukanlah Belanda. Tapi, kalangan Islam puritan, kalangan Islam yang notabene anti-kearifan lokal, kalangan Islam yang berasal dari luar wilayah Klepu—atau paling tidak, kalangan yang mencoba mengembangkan varian Islam yang sama sekali tak memiliki akar historis di Klepu.

Berjarak sekitar 30 km dari pusat kota Ponorogo, desa Klepu sebenarnya adalah wilayah yang dikaruniai potensi alam yang elok. Pegunungan, hamparan sawah dan kali berbatu merupakan pemandangan yang lumrah menghiasi jalanan menuju Klepu. “Terus saja, mas. Susuri jalan kecil setelah jembatan,” jawab ramah sejoli petani yang tengah menjemur jagung hasil panenannya di tepi jalan, ketika saya tanya letak Gua Maria Fatima.

Mayoritas masyarakat Klepu berprofesi sebagai petani. Keramahan dan kerukunan memang cukup terasa di sini, tanpa dibuat-buat—sebentuk sikap sosial yang masih jamak saya temui di desa-desa pegunungan.

Seperti sejoli petani yang jelas muslim di atas, di mana sang isteri berkerudung, dengan ramahnya mereka menunjukkan jalan berkelok dan menanjak menuju Gua Maria Fatima, salah satu tempat peziarahan umat Katolik terbesar kedua di Jawa Timur. “Pinarak, mas,” ucap lelaki itu sembari menepuk pundak saya ketika saya berpamitan untuk melanjutkan perjalanan.

Tak lebih dari 100 meter dari posisi gua di ketinggian bukit terdapat sebuah masjid beratap susun tiga. Adhem dan hening, begitulah suasana Gua Maria Fatima. Selain gua, di tempat ini juga terdapat sendang atau mata air yang kini sedang direnovasi. Sendang ini bernama Sendang Waluyajatiningsih di mana airnya terkenal higienis, langsung dapat diminum di tempat.

Di sekitar sendang ada tiga tanaman langka yang dilestarikan masyarakat Klepu: tanaman jambe, andong, dan puring. “Dahulu, pada tahun 1986, seorang bocah berusia 5 tahun dikabarkan hilang tenggelam di sendang,” cerita Bonari, seorang keamanan di Gua Marima Fatima.

Tak disangka, bocah itu ternyata masih hidup. Justru dengan gamblangnya dia bercerita telah ditolong oleh sesosok ibu berpakaian serba putih. Umat Katolik setempat pun kemudian bersepakat untuk membangun tempat untuk berziarah dan berdoa, membangun sebuah gua. “Selain tenang dan damai, dulu tempat ini memang dikenal angker,” tambah Bonari.

Di depan gua terdapat halaman yang cukup luas, dengan dihiasai 14 lukisan bertekstur berbahan dasar semen. Lukisan-lukisan itu mengisahkan perjalanan Yesus, dari mulai “Yesus Jatuh Untuk Pertama Kali” hingga “Yesus Dimakamkan.” Menurut Bonari, karya-karya rupa ini menggambarkan sejarah Paskah, kisah sengsaranya Yesus.

Bagi Bonari sendiri, dan mayoritas masyarakat Klepu, hidup saling berdampingan antar umat beragama bukanlah hal yang aneh. Toleransi antar umat beragama di desa ini sudah berlangsung sedemikian lama. Sejak 1983, kerukunan masyarakat Klepu sudah terkenal secara nasional. Ada beberapa faktor yang menyebabkan kenapa perbedaan agama dan toleransi terajut dengan baik. Menurut Bonari, hal itu disebabkan oleh adanya perbedaan agama dalam satu keluarga. Seumpama sang suami Islam, sang isteri adalah Katolik. Fenomena ini masih banyak dijumpai di Klepu. Lagi pula, “Katolik itu, kan, mirip NU, mas,” tambah pria berperawakan gagah ini.

Seperti yang saya duga, baik NU maupun Katolik, memang terkenal dengan sifat kontekstualnya. Dalam pendekatan kemasyarakatan, mereka sama-sama berprinsip di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung. Tradisi  Jawa—semisal ritual-ritual pernikahan, kelahiran dan kematian—adalah sebentuk kearifan lokal yang mampu mengatasi sekat-sekat perbedaan, baik perbedaan sosial maupun agama.

Taruhlah slametan atau genduren, tradisi-tradisi ini khas Jawa, bukan tradisi yang melulu milik Islam (NU) maupun Katolik. Tradisi-tradisi yang merupakan warisan leluhur ini selain memiliki fungsi sosial juga memiliki fungsi simbolik-spiritual. Ritual slametan beserta ubarampe-nya, secara simbolik mengandung pesan-pesan kemanusiaan yang sesungguhnya bersifat universal, di mana baik dalam sistem agama Islam maupun Katolik dapat menemukan titik kesepahamannya. Masing-masing seolah lebur dalam kultur dan kosa-kata kosa-kata Jawa tanpa perlu berpikir, adakah tradisi ini menyalahi agama yang dianutnya.

Selayaknya desa-desa pegunungan, kearifan-kearifan lokal di atas memang masih kuat mengakar. Dan justru kearifan semacam itulah yang membuat kohesi sosial di Desa Klepu terbangun dengan begitu kokohnya.

Desa Klepu sendiri terdiri dari 4 Dusun. Berdasarkan keterangan Bonari, sekitar separuh orang Klepu beragaman Katolik dan separuhnya lagi Islam. Selain Gereja Katolik Sakramen Mahakudus, Sendang Waluyajatiningsih dan Gua Maria Fatima, di desa ini juga saya jumpai adanya beberapa masjid. Dua di antaranya adalah Masjid berarsitektur Jawa yang tak lebih dari 1 km dari Gua Maria Fatima, Masjid al-Hidayah.

Tak berbeda dengan Bonari, Harwan, seorang muslim yang hidup di lingkungan NU, juga mengatakan bahwa selama ini tak pernah ada ketegangan ataupun gesekan antar umat beragama di Klepu. Ketika saya singgung tentang maraknya hoax atau pun isu-isu yang bernuansa sentimen SARA belakangan ini, desa Klepu luput dari perpecahan dan tetap kondusif serta terjaga kohesi sosialnya. “Kuncinya adalah komunikasi dan saling menghormati,” kata pria yang tinggal di samping masjid Jogorogo ini.

Biasanya, dewan gereja dan takmir masjid di Klepu saling bertemu dan berkoordinasi, tak pernah memutus komunikasi. Dan masing-masing komunitas beragama di Klepu juga tetap menjalankan aktifitas keagamaannya masing-masing. Seperti aktifitas ibu-ibu yang beragama Islam, mereka rutin mengadakan tahlilan dan yasinan. “Ketika rapat PKK, masing-masing komunitas agama melebur,” jelas seorang perempuan berkerudung yang tinggal tak jauh dari Gua Maria Fatima.

Untuk kegiatan atau urusan-urusan desa, semisal rembug desa ataupun rembug RT, masyarakat Klepu berbicara sebagai warga desa Klepu, bukan sebagai orang Katolik atau orang Islam. Kesadaran sebagai warga desa inilah yang saya kira juga salah satu faktor kenapa toleransi antar umat beragama di Klepu tumbuh dengan sedemikian kuatnya. Tak usah jauh-jauh mengulik Rosaldo Rhenato soal cultural citizenship ataupun public reason-nya John Rawls, masyarakat Klepu telah mempraktikan kesadaran sebagai warga desa ini sejak lama.

Ketika di ruang sosial, masyarakat Klepu sudah sadar dengan sendirinya bahwa pertama-tama mereka adalah warga Desa Klepu, bukan warga Katolik maupun warga muslim. Kesadaran diri sebagai warga Desa Klepu seperti ini pada gilirannya akan mempertemukan mereka. Sehingga sikap-sikap reflektif akan kebersamaan tumbuh dengan sendirinya. “Gesekan itu untuk apa?” tanya Harwan seolah mewakili sikap reflektif mayoritas warga Klepu.

Saya pun terkadang takjub, bagaimana masyarakat Klepu sudah sedemikian majunya dalam soal toleransi yang secara kultural bersumber dari kearifan lokal dan secara sosial-politik tumbuh dari kesadaran tentang citizenship, padahal jarang atau bahkan tak pernah ada aktifis-aktifis lintas agama terjun ke desa Klepu untuk memberdayakan masyarakatnya?

Kearifan-kearifan lokal dan kesadaran sebagai warga desa Klepu tersebut pada akhirnya akan menempatkan manusia pertama-tama bukan sebagai sesama umat, namun sebagai sesama bangsa, sesama warga desa Klepu. Begitulah keberagaman dalam persatuan warga desa Klepu yang teranyam bahkan sampai sepekuburan.[MFR]