Santri Yoga, Ngaji Yoga Sutra

Segala ihwal di dalam pesantren adalah ‘teks’ berharga yang harus dipelajari dengan penuh kesabaran dan tanpa keluhan.  Jadi seperti yoga, “ngaji” dalam tradisi santri adalah perihal mencari sesuatu yang berharga di balik kedukaan maupun kebahagiaan.  

—- Yudhi Widdyantoro

Saya akan membahas tentang complaining, mengeluh. Kenapa seseorang bisa mengeluh dapat diulik dari sumber keluhan yang berasal dari dalam diri, yaitu pikiran. Masalah pikiran dalam kajian yoga di Indonesia jarang sekali dibicarakan. Pembahasan paling sering adalah soal olah fisik, asana. Kalau kita ikuti sejarah perkembangan yoga, jauh sebelum postur-postur yang tidak jarang aneh dan terkesan akrobatis itu dikenal –dan dikatakan mempunyai manfaat yang banyak, sistem pengajaran yoga bermula dari pembahasan tentang pikiran, olah batin—dikenal dengan Raja Yoga. Bahkan arti kata yoga sendiri, seperti dalam Yoga Sutra of Patanjali, adalah cessation from the movement of the mind, seni menghentikan pikiran yang bergerak, selain istilah yang sudah menjadi basi: union. Union of our mind, body, and soul. Seperti juga arti dari Nirvana atau Nibbana, yang artinya padamnya pikiran, padamnya keinginan atau keadaan tanpa diri, tanpa ego. Dengan padamnya keinginan kita akan masuk dalam keadaan svatantriya, kebebasan yang dinamis dan tidak terikat. Kebahagiaan yang tertinggi.

Mengeluh dan melenguh-nya sapi memang seperti sebelas dua belas. Mirip-mirip. Sapi melenguh karena bereaksi terhadap sesuatu, biasanya karena ketidak-nyamanan yang dia rasakan, dari keenakan yang tiba-tiba terusik. Begitu juga kita manusia. Manusia mengeluh karena dihampiri rasa ketidaknyamanan.

Sepertinya sudah menjadi kebiasaan di banyak tradisi, adat atau budaya untuk mengeluh. Bukan hanya adat dan budaya, di setiap tingkat sosial, di komunal pun pernah mendengar keluhan orang lain, atau diri sendiri yang mengeluhkan sesuatu. Kalau disadari, mengeluh adalah indikasi dari menculnya ketidakpuasan, yang berarti, bersamaan dengan itu, hilangnya rasa kebahagiaan. 

Coba perhatikan pikiran kita sehubungan dengan fenomena yang terjadi dalam seminggu ini dengan adanya demo penolakan UU Omnibus Law, atau sedikit ditarik lebih jauh ke belakang sejak wabah korona merebak. Coba perhatikan irama keseharian kita beryoga. Begitu kita keluar rumah dan di jalan, dihadapkan pada kemacetan, kita akan mengeluh. Keluhan itu akan termanifestasikan dengan terciptanya orkestra bunyi klakson dari mobil dan motor. Sesuatu yang lumrah karena kemacetan di Jakarta sudah luar biasa. Sampai di gedung yang kita tuju, studio yoga, fitness center yang ada di dalam mal, kita susah mendapatkan parkir, kita mengeluh. Normal. Masuk ke studio, ke kamar ganti, sampai masuk ke ruangan, mungkin sekali bertemu dengan orang-orang yang tidak kita harapkan, atau banyak hal-hal yang tidak kita inginkan lainnya, biasanya kita akan mengeluh. Mengeluhkan pada studio yang mungkin kurang mewah dibanding rumah kita yang lebih mentereng, karyawan studio yang tidak seperti pembantu di rumah kita yang siap diperintah. Sekali lagi wajar-wajar saja. Di kelas yang kita ikuti, walaupun kelas itu adalah kelas favorit kita, baik style maupun gurunya, pasti tidak seluruh waktu latihan itu kita senang terus. Perhatikan dan sadari rasa-rasa itu semua detik demi detik. 

Mungkin ada postur-postur yang dinstruksikan guru untuk dilakukan, namun karena bakan postur favorit dan tidak sering kita lakukan, kita akan mengeluh. Ada keengganan untuk melakukannya. Jika instruktur meminta agar postur dilakukan dengan menahan lebih lama dari biasanya, di pikiran kita timbul berbagai keluhan. Jika posturnya kurang menantang, di dalam hati kita menuntut agar si instruktur untuk memberi postur-postur yang dapat memuaskan “dahaga asana”-nya. Memang bagi sebagian orang, baru merasa beryoga dengan “benar dan sesungguhnya” bila dapat melakukan postur aneh yang menuntut kelenturan yang tinggi, atau kekuatan yang super, seperti badan dilipat-lipat seperti karet, atau dapat melakukan headstand 10 menit lebih, dan sebagainya, dan seterusnya. Di dalam Yoga Sutra Patanjali, penjelasan tentang asana hanya satu kalimat, dan hanya itu :”stiram sukkham asanam”, lakukanlah postur dengan mantab dan nyaman. Tapi publikasi di media, di buku dan majalah, dvd dan tivi, telah menghipnotis jutaan pengikut yoga dengan tampilan postur yang super susah, sehingga timbil keinginan untuk menirunya.

Ketika timbul pikiran untuk meminta lebih, sesunguhnya ini adalah cermin dari sikap kita yang jauh dari sabar. Ada pemberontakan dalam diri kita. Kalau saja kita tidak dapat mentoleransi peristiwa yang ada di hadapan kita, keadaan yang kita sedang alami saat ini, kita akan terikat terus pada lingkaran keinginan. Diperlukan sedikit sikap sabar, karena kesabaran, tidak mengeluh, akan membawa rasa ringan dalam diri kita. “Patience means staying in a state of balance regardless of what is happening, staying easy, relaxed and alert”, kata Joseph Goldstein dalam buku mungilnya “Settling Back Into The Moment”.

Keinginan untuk menjadi super, termasuk merasa seolah berpengetahuan banyak, bisa membawa kita terperangkap pada keinginan yang tak berkesudahan. Bersikaplah sederhana. Mengutip salah satu filsafat hidup Tao yang sejalan dengan filsafat hidup yoga “satya”, contentment, di mana pengertian ‘tidak mengeluh’ terangkum di sini: “Kebaikan tertinggi seperti air yang memelihara benda seperti tanpa berusaha. Ia puas dengan tempat-tempat rendah yang dihina orang. Dalam berumah, tinggallah di dekat tanah. Dalam berpikir, tetap sederhana. Dalam bertikai, adil, dan murah hatilah. Dalam memerintah, jangan berusaha mengendalikan. Dalam bekerja, kerjakan apa yang engkau nikmati. Dalam kehidupan keluarga, jadilah sekarang yang sepenuhnya. Bila engkau puas menjadi dirimu saja dan tidak membandingkan dan tidak bersaing, setiap orang akan menghargaimu”.

Perihal ‘tidak mengeluh’, barangkali kita perlu belajar dari teman saya yang pernah ‘mondok’ di sejumlah pesantren. Baginya, mondok di pesantren bukan soal pintar ilmu agama, tapi lebih sebagai menempa atau melatih diri (riyadah). “Saya ingat betul, di awal mondok dulu orang tua pernah bilang: ‘Aku memondokkan kamu bukan supaya kamu pintar, tapi agar kamu bisa riyadah di sana!’” tuturnya. Maka segala keterbatasan atau ketidakpuasan di pondok pesantren tidak ia hadapi dengan keluhan. Tidur berdesakan di kamar sempit, bangun sepertiga malam sambil menahan ngantuk, atau makan ala kadarnya dihadapi dengan riang gembira. Maka tak jarang kita mendengar kredo di kalangan santri: “Semakin ‘menderita’ di pondok, semakin bagus buat masa depan santri”.  


Istilah “ngaji” dalam dunia pesantren berasal dari kata “aji”. Sesuatu yang dimuliakan, sakral, terhormat, mahal, atau “jimat”, semacam benda pusaka. Yoga Sutra Patanjali dalam dunia yoga adalah referensi utama, seperti kitab suci, dengan sutra bisa dipadankan dengan ayat. Proses pembuatannya mungkin seperti membuat undang-undang, karenanya “sakral”. Praktisi yoga yang non-sanskrit speaking hanya bisa mendekatinya, menginterpretasi teks-teks dari berbagai disiplin, semacam studi intertekstual, tidak bisa menambahkan atau mengurangi. Tapi bagi teman saya yang santri itu, “ngaji” bukan melulu soal mendalami teks-teks keagamaan. Segala ihwal di dalam pesantren adalah ‘teks’ berharga yang harus dipelajari dengan penuh kesabaran dan tanpa keluhan.  Jadi seperti yoga, “ngaji” dalam tradisi santri adalah perihal mencari sesuatu yang berharga di balik kedukaan maupun kebahagiaan.   

Selamat Hari Santri Nasional!