Memaknai Halalbihalal kala Pandemi

Besok pagi, kaum muslim di Indonesia dan di mana saja akan merayakan Idulfitri (lebaran) setelah menjalankan puasa selama satu bulan. Hari ini dijuluki juga sebagai ‘hari kemenangan’, melambangkan bentuk syukur atas kesempatan melaksanakan rukun Islam keempat, yaitu puasa di bulan Ramadan.

Idulfitri di Indonesia biasanya disambut dengan gegap gempita dan dirayakan dengan beragam tradisi. Sebagai negara yang majemuk, terutama budaya dan suku-nya, Indonesia menpertontonkan banyak ragam kebiasaan orang muslim memeringati hari suci ini. Tradisi yang tak pernah absen dalam perayaan Idulfitri adalah pawai obor keliling kampung sembari mengumandangkan takbir, lomba kirab mengalunkan kalimah-kalimah Allah, dan masih banyak lagi tradisi yang lain. Tradisi inilah yang membuat Idulfitri di Indonesia terasa lebih meriah dibanding di negara lain.

Puncak pergelaran tradisi menyambut Idulfitri di Indonesia terjadi pada 1 Syawal. Setelah salat Idulfitri, umat muslim biasanya melaksanakan halalbihalal, yaitu tradisi berkunjung (atau saling mengunjungi) antar kerabat, mulai orang tua, saudara, tetangga, dan handai taulan. Halalbihalal (atau istilahnya yang lebih keren, open house) adalah tradisi turun temurun dan hanya bisa dijumpai di Indonesia. Di negara lain, biasanya tidak ada kegiatan lain setelah salat selesai digelar. Beberapa kolega yang berada di negara lain mengatakan setelah salat Idulfitri di masjid atau di lapangan, mereka kembali ke rutinitas seperti biasa, tidak ada tradisi datang ke tetangga.

Bagi sebagian masyarakat di Indonesia, halalbihalal berarti sungkem kepada para leluhur; mereka akan mengunjungi makam leluhur yang sudah meninggal dan memanjatkan doa di sana. Jika leluhur mereka masih hidup, mereka akan berkumpul untuk saling bermaaf-maafan. Mereka keluar rumah dan berkeliling untuk meminta sekaligus memberi maaf kepada para tetangga, baik yang beda agama, suku, maupun budaya. Semua melebur menjadi satu.

Sekilas halalbihalal terlihat simple karena soal berkunjung-kunjungan. Tetapi ia sebenarnya mengandung makna yang penuh arti dan beragam. Salah satu maknanya adalah interaksi sosial. Setiap interaksi pasti melibatkan simbol, yakni segala nilai atau makna yang diberikan oleh si pemiliki ataupun si penikmat simbol. Jadi halal bihalal bukan sekadar Anda berkunjung dan dikunjungi, tapi ia adalah interaksi penuh makna antara Anda dengan orang lain.

Menurut Herbert Blumer, proses interaksi sosial adalah ketika masyarakat bertindak terhadap sesuatu atas dasar makna yang dimiliki. Dari mana makna ini berasal? Ya, dari interaksi antara Anda dengan orang lain dalam keseharian; ketika bertemu, bertetangga, cangkruan, pengajian, dan lain sebagainya. Makna halalbihalal bagi umat muslim telah terbentuk lama hasil dari proses internalisasi di dalam masyarakat. Maka tidak heran halalbihalal bisa menjadi ajang rekonsiliasi bagi pihak-pihak yang sedang bertikai dengan cara saling memaafkan.

Pendapat lain dikemukakan oleh Bernard Adeney-Risakotta dalam “Modernitas, Agama, dan Budaya Nenek Moyang” (2004). Halalbihalal merupakan tradisi yang ada di agama Islam dan memang sudah ada sejak zaman Kerajaan Mataram; nenek moyang kita sudah melakukan tradisi tersebut meski dengan istilah lain. Simbol-simbol modernitas juga terdapat dalam tradisi halalbihalal, yaitu dalam bentuk aksi kongkrit, bukan ide atau gagasan. Simbol modernitas tersebut dalam bentuk pasar (market) yang mengakomodasi kebutuhan bahkan memengaruhi bentuk halal bihalal.

Tetapi halalbihalal tahun 2020 M/1441 H nampaknya bakal berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Pandemi Covid-19 yang terjadi sekarang ini tidak bisa dipungkiri berpengaruh terhadap semua lini kehidupan, termasuk keberagamaan. Virus ini sudah “mengubah” wajah keberagamaan kaum muslim, apalagi pada bulan Ramadan dan Syawal tahun ini. Rutinitas tahunan selama bulan Ramadan untuk sementara waktu ditiadakan atau disesuaikan dengan protokol kesehatan selama pandemi; tarawih dianjurkan tidak lagi di musala atau masjid, tapi di rumah; jika terpaksa diadakan, pelaksanaannya harus dalam jaga jarak dan bermasker; tadarus juga dibatasi waktu, dan komprekan dihimbau ditiadakan. Agenda mudik tahunan untuk sementara dilarang; halalbihalal tidak dianjurkan.

Pun demikian, “anomali” yang terjadi di atas tidak menghilangkan esensi ibadah. Ritual keagamaan tetap semarak meski dalam balutan baru: kebanyakan berasa online!. Ini menegaskan bahwa keberagaman pasti akan menemukan caranya sendiri untuk bertahan di tengah situasi apapun karena, bagi banyak orang, ia adalah kebutuhan paling dasar manusia. Maka tidak heran ulama dan umara berpikir keras menemukan solusi terbaik dalam keberagamaan di masa pandemi ini. Cara terbaik adalah mengikuti anjuran pemerintah demi menghindari penularan virus. Ulama sekaliber Quraish Shihab sampai mengatakan bahwa pelanggaran terhadap ketentuan pemerintah yang tidak bertentangan dengan agama adalah suatu dosa.

Akhirnya, selamat menyambut dan menyongsong Idulfitri 1 Syawal 1441 H, Minal ‘Aidin wal Faizin; mari kita meraih kemenangan dalam ibadah perang lawan Covid-19. [MFR]