Fatalisme Agama dan Takdir Tuhan


Fatalisme di tengah pandemi bisa berakibat fatal terhadap kelangsungan hidup manusia dan ini sangat bertentangan dengan ajaran Islam.

Pro dan kontra terjadi di kalangan masyarakat, baik awam maupun tokoh agama, dalam menyikapi pandemi Covid-19. Dalam artikel terdahulu di laman ini, mahasiswa SAA menyoroti masih banyak dikalangan masyarakat bawah yang menganut prinsip fatalisme (jabariyyah). Sedangkan di sisi lain banyak ulama cenderung mentaati anjuran pemerintah dan ilmuwan untuk mencegah penularan virus dengan cara sosial distancing. Beredarnya lirik lagu “Corona ditakuti Allah dijauhi” adalah salah satu bukti perbedaan ekspresi dalam menyikapi kada ‘qadha’ dan kadar ‘qadar’ selama pandemi Covid-19.

Berbeda dari tulisan sebelumnya, penulis di sini akan mengulas kada dan kadar lebih dari sisi teologis dalam kaitannya dengan takdir dan kebebasan manusia. Sebelum melanjutkan, penulis akan flashback sedikit terkait turunya Islam dan Alquran. Secara sosial historis, Islam dan Alquran diturankan oleh Allah Swt. secara berangsur-angsur ‘tajrîd sesuai dengan kondisi kehidupan yang dihadapi Nabi dan umatnya pada waktu itu. Ini berarti bahwa Alquran yang diturunkan oleh Allah Swt. merupakan cermin “kreatif-progesif” antara kehendak ilahi dan realitas duniawi. Kondisi ini menegaskan bahwa Islam haruslah berkembang, beradaptasi, dan menyesuaikan diri dengan zaman, peradaban, dan kondisi sosial masyarakat setempat tanpa harus menghilangakan nilai-nilai subtantifnya.

Di Era Milenial 2020, umat beragama khususnya Islam sedang diuji dengan kemunculan thaûn ‘wabah’ Covid-19. Perdebatan kemudian muncul di kalangan ulama, umara, dan Muslim awam tentang bagaimana menyikapi wabah ini dalam kaitan dengan ketetapan kada dan kadar dari Allah Swt.

Pada masa klasik, keyakinan terhadap kada dan kadar menjadi pendorong keberanian dan kesabaran dalam menghadapi segala bentuk ujian dan musibah. Maka dari itu, perdebatan mengenai Tuhan, sifat Tuhan, surga, neraka menjadi mengemuka dengan sangat sengit. Kada dan kadar juga menjadi salah satu bahan diskusi yang panjang, yang mengerucut pada dua kelompok utama: qadariyyah versus jabariyyah.

Pengaruh jabariyah ‘fatalisme’ meyebar sangat cepat sekali terutama pada masa Dinasti Abbasiyah yang kebetulan didominasi oleh kaum sufi (tasawuf) yang lebih condong pada faham ini. Mereka bersikukuh bahawa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini adalah kehendak Allah Swt. Konsekuensi dari faham ini juga menular pada aspek agama yang lain, yaitu sejauh mana manusia bisa melakukan ijtihad. Walhasil, kondisi Islam pada waktu itu bisa dibilang ‘jumud’ karena fatwa yang mengatakan bahwa ijtihad telah ditutup. Akibatnya, banyak orang beralih pada dunia tasawuf. Ciri khas dari seorang sufi adalah kepasrahan karena semuanya sudah kehendak Allah Swt.

Kita semua setuju bahwa Covid-19 ini adalah takdir dari Allah Swt. Tetapi takdir ini adalah jenis takdir yang bisa diubah oleh manusia melalui ikhtiar. Allah Swt. tidak akan merubah nasib manusia kecuali manusia tersebut mau merubahnya. Fatalisme di tengah pandemi bisa berakibat fatal terhadap kelangsungan hidup manusia dan ini sangat bertentangan dengan ajaran Islam.

Ironisnya, paham fatalisme ini sampai sekarang masih berkembang pesata, tak terkecuali di kalangan kaum milenial. Padahal manusia adalah mahluk Allah Swt. yang diberi akal untuk berpikir dan kebebasan untuk memilih dalam bertindak. Manusia diberi tiga keistimewaan oleh Allah Swt.:  akal, kemauan dan daya; tiga unsur inilah yang membedakan manusia dari mahluk lainnya. Namun perlu ditegaskan bahwa, kata Muhammad Abduh, kebebasan berpikir dan berbuat tidaklah absolut tapi terbatas. Artinya, manusia boleh melakukan perbuatan dengan daya dan kemampuan (ikhtiar) yang ada tetapi keputusan tetap berada pada takdir kadar Allah Swt. Dengan demikian, sosial distancing, ibadah atau bekerja di rumah merupakan ikhtiar untuk lepas dari takdir buruk (memutus rantai Covid-19) dan mencari takdir yang lebih baik.

Umat Islam harus mau berpikir secara filsofis dan ilmiah bahwa Islam, sains, dan ilmu kesehatan tidaklah bertentangan. Egoisme dalam beragama harus dihindari karena Islam sama sekali tidak menentang aktivitas rasional atau saintifik. Perkataan ibn Sina, misalnya, bahwa ‘Allah Swt. tidak menurunkan penyakit melainkan dengan obatnya,’ harus dipahami dalam konteks ini; obat sebuah penyakit harus ditemukan melalui pendekatan ilmiah.

Langkah-langkah ilmiah dalam menghadapi pandemi ini juga sudah sesuai dengan kaidah fikih ‘al-muhâfadat ’alâ qadîmi al-shâlih wa al-akhd  bi al-jadîd al-ashlah ‘memelihara tradisi lama sembari menyesuaikan dengan tradisi baru yang lebih baik’. Sosial distancing merupakan tradisi baru di era milenial yang perlu diambil di masa pandemi. Keputusan pemerintah untuk melakukan sosial distancing merupakan sebuah ijtihad kolektif antara umara, ulama, dan ilmuwan untuk mewujudkan kemaslahatan umat, bukan menjauhkan umat dari Tuhan.

Ibadah komunal (jamaah di masjid) memang merupakan kemaslahatan untuk umat Islam. Tetapi di tengah pandemi kemaslahatan ini ternyata dapat menimbulkan kemudaratan karena bisa memicu penularan yang lebih masif. Sesuai dengan kaidah fikih “jika ada beberapa kemaslahatan bertabrakan, maka maslahat yang lebih besar harus di dahulukan,” maka larangan salat jamaah di masjid bisa dibenarkan secara doktrin keagamaan. Ibadah dan bekerja di rumah, jaga jarak fisik, dan larangan mudik juga adalah keputusan yang paling tepat. Setiap kebijakan biasanya akan menimbulkan permasalahan baru, seperti problem ekonomi. Maka di sinilah agama mewajibkan kita mau mengulurkan tangan untuk saling berbagi dan bertolong-tolongan. [MFR]