Batas Fanatisme dan Kebebasan Berekspresi

Kebebasan berekspresi tidaklah menjamin suatu negeri mencapai keadilan dan kedamaian. Tetapi tanpa kebebasan berekspresi suatu negeri tidak akan mencapai keduanya.

—- Albert Camus

Fanatisme dalam Bahasa Inggris disebut fanaticism. Ia bukan sekadar antusiasme dan seyakin-yakinnya bahwa perspektif suatu kaum atau golongan adalah perspektif yang paling sentral dan benar di antara perspektif-perspektif yang lain, yang dianggapnya setengah benar atau justru bertentangan dengan kebenaran yang diyakininya. Fanatisme menganggap bahwa perspektif yang lain di luar kaumnya atau golongannya adalah perspektif tiruan yang sangat buruk dari perspektif yang mereka anggap paling benar.

Fanatisme, bukan hanya menjangkiti orang-orang yang menganut ajaran agama tertentu saja, tetapi ia bisa saja menjangkiti orang yang paling sekuler sekalipun. Hal ini karena fanatisme berakar dari ruang-ruang keyakinan yang mengkristal dan menjadi “nalar-realitas” kehidupan seseorang dari perspektif-perspektif yang ia terima dari lingkungan ia tinggal.

Jika seseorang hidup di lingkungan Islam, misalnya, ia berpotensi bersikap “fanatik” terhadap ajaran agama Islam dibandingkan ajaran agama lain. Begitu pula, jika ia hidup di lingkungan yang sekuler dan mengagungkan “kebebasan berekspresi”, ia akan berpotensi fanatik terhadap sekularisme dan ajaran “kebebasan berekspresi” dibanding ideologi yang lain.

Fanatisme memang sangat sulit untuk dihindari karena tidak ada satu pun manusia di dunia ini “yang tidak memiliki keyakinan” yang benar-benar ia pegang teguh. Entah itu keyakinan agama, ideologi, budaya, hukum dan lain sebagainya. Keyakinan-keyakinan tersebut berpotensi untuk menjadikan seseorang menjadi seorang fanatik.

Jika demikian maka fanatisme pada esensinya hampir mirip dengan “keimanan seseorang pada Tuhan” dan tidak bisa dihindari dan ditolak oleh manusia. Pertanyaannya kemudian apa yang salah dengan fanatisme terhadap suatu keyakinan? Fanatisme memang tidak salah, yang salah ialah ketika fanatisme ini berubah menjadi “fanatisme buta”. Ia merupakan keinginan untuk menghabisi atau meniadakan perspektif lain , bahkan cenderung membencinya dengan cara-cara represif yang disertai pembelaan membabi-buta terhadap perspektif yang diyakininya.

Orang yang fanatik terhadap sesuatu memang cenderung represif, baik kepada orang lain yang berbeda, atau bahkan kepada dirinya sendiri. Dengan demikian, fanatisme terlihat sangat berlawanan dengan “kebebasan berekspresi”. Hal ini karena fanatisme menginginkan penyeragaman perspektif dan kemanunggalan keyakinan. Sedangkan “kebebasan berekspresi” menginginkan keterbukaan perspektif dan kemajemukan gagasan yang melahirkan keyakinan yang beragam.

Meski demikian, bukan berarti kebebasan berekspresi tidak memiliki batasan dalam memanifestasikan ekspresi keyakinannya. Kebebasan berekspresi juga memiliki batasan yang harus ia pegang secara prinsipil, yaitu tidak mengganggu kebebasan yang lain di ruang publik dan privat, atau dalam bahasa Putu Wijaya, kebebasan berekspresi harus memiliki “tepo-sliro”. Apabila kebebasan berekspresi tidak mengindahkan prinsip tersebut maka “kebebasan berekspresi” akan membabi buta dan akan merusak ketertiban serta menciderai kemerdekaan orang lain.

Contohnya, di Indonesia laki-laki dan perempuan meskipun berstatus suami dan istri tidak bisa berciuman di ruang publik karena hal tersebut dapat mengganggu orang lain. Tetapi hal tersebut dapat dilakukan oleh laki-laki dan perempuan tersebut di rumahnya, bahkan bukan hanya berciuman, bersenggama pun tidak dilarang, asalkan dengan cara yang patut dan sewajarnya.

Untuk menghindari kebebasan berekspresi yang melewati batas, Hannah Arendt memberi gambaran terjadinya dialog “two in one” di ruang batin dan “yang liyan” di ruang publik. Hal inilah yang menjadikan seseorang ketika mengekspresikan kebebasannya tidak melanggar atau menciderai kebebasan orang lain.

Kasus yang terjadi di Perancis beberapa hari yang lalu, melibatkan seorang guru sejarah yang “dianggap” mengajarkan “kebebasan berekspresi” oleh Presiden Macron dengan menampilkan kartun yang “dianggap” sebagai sosok Nabi Muhammad. Walhasil, “kebebasan berekspresi” ini menghasilkan sikap represif dari seseorang pemuda dari Chechnya yang fanatik terhadap ajaran Islam.

Menurut saya, keduanya melakukan dua tindakan yang telah melewati batas prinsip “kebebasan bersekpresi” dan “fanatisme” terhadap ajaran agama. Guru sejarah yang dibunuh oleh pemuda tersebut juga tidak dapat dibenarkan tindakannya dengan menciderai kemerdekaan ekspresi keagamaan umat Islam di ruang publik dan ruang privat.

Di ruang publik, jelas secara objektif ajaran agama Islam melarang gambar seseorang atau  apapun yang dinisbatkan kepada Nabi Muhammad, sebagai manifestasi kebebasan berekspresi. Tindakan guru sejarah tersebut jelas melanggar norma “tepo-sliro” sebagai batasan kebebasan berekspresi. Selain itu, dalam koridor kebebasan berekspresi di ruang privat oknum guru tersebut tidak sepatutnya mencampuri urusan agama orang lain di luar keyakinan agama yang ia yakini. Jikalau hal tersebut dianggap sebagai bentuk kritik terhadap umat Islam, tentunya ada batasan norma-norma agama yang harus dipatuhi.

Meskipun demikian, fanatisme buta yang dilakukan oleh pemuda Chechnya yang membunuh guru tersebut juga tidak dapat dibenarkan, baik secara syar’i maupun yudiris. Memang hal tersebut melukai perasaan umat Islam dan diri pemuda tersebut, yang tak rela Nabi Muhammad yang dicintai oleh umatnya dihina, tetapi atas nama apapun, Islam tidak pernah membenarkan tindakan yang bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan karena Islam hakikatnya adalah rahmatan lil ‘alamin.

Seperti dikatakan oleh Putu Wijaya, fanatisme yang garang bukan lagi fanatisme tetapi telah anarkisme, dan tidak ada tempat bagi anarkisme dalam ajaran Islam.

Memang dunia kini telah berubah, di mana fanatisme agama bukanlah suatu kebanggaan lagi, karena ia telah dikebiri oleh slogan “kebebasan berekspresi”. Fanatisme sudah bukan lagi ancaman bagi keadilan dan kedamaian, karena ia perlahan-lahan telah menjadi anarkhisme dan mulai ditinggalkan oleh pengikutnya.

Anehnya, sekarang atas nama “kebebasan berekspresi” fanatisme agama pun terkadang menjadi sesuatu yang “kabur” maknanya untuk dapat dibenarkan dan dipersalahkan. Meski demikian Albert Calmus pernah berkata, “Kebebasan berekspresi tidaklah menjamin suatu negeri mencapai keadilan dan kedamaian. Tetapi tanpa kebebasan berekspresi suatu negeri tidak akan mencapai keduanya”.[MFR]

Merayakan Idulfitri Tanpa Spasi

Aturan sederhana tentang penulisan “Idulfitri” ini nyatanya kerap diabaikan, salah satu sebabnya adalah faktor kebiasaan. Kebanyakan orang Indonesia menulis kata “Idulfitri” menggunakan spasi.

Khoirul Anam

Pucuk Ramadan tahun ini sudah mulai terlihat batang hidungnya. Hanya dalam hitungan hari saja, umat Islam di seluruh dunia akan segera merayakan hari yang dinanti-nanti; yang meski untuk kali ini, hari tersebut harus dirayakan secara berbeda; semua karena korona. Hari yang dimaksud adalah hari raya atau Idulfitri.

Secara bahasa, “Idulfitri” adalah satu kata. Ia tidak ditulis terpisah dengan spasi; menjadi “Idul fitri”, tidak pula ditulis dengan tambahan huruf “h”; menjadi “Idhulfitri” atau “Idhul fitri”. Dilihat dari asal katanya, “Idulfitri” adalah lema yang merupakan serapan dari bahasa Arab “id” dan “alfitri” yang berarti “kembali” dan “suci”. Abdul Gaffar Ruskhan dalam Bahasa Arab dalam Bahasa Indonesia (2007) menyebut “id” sebagai subjek dengan tanda harakat u (damah), itu sebabnya “id” harus ditulis menyambung dengan “fitri” sebagai penanda makrifah: al-fitri.

Karenanya, ketika kata “Idulfitri” diserap ke dalam bahasa Indonesia, “Idul” menjadi unsur terikat yang harus melekat dengan kata sesudahnya, fitri. Maka jadilah “Idulfitri”. Ketentuan yang sama berlaku pula untuk kata “Iduladha” yang harus ditulis tanpa spasi, bukan “Idul adha”.

Aturan sederhana tentang penulisan “Idulfitri” ini nyatanya kerap diabaikan, salah satu sebabnya adalah faktor kebiasaan. Kebanyakan orang Indonesia menulis kata “Idulfitri” menggunakan spasi. Hal ini kemungkinan besar disandarkan pada model pengucapan; yang membutuhkan jeda di antara “Idul” dan “fitri”, sehingga muncul kecenderungan untuk menunjukkan jeda tersebut melalui penggunaan spasi.

Aturan soal penulisan kata yang terdiri dari dua unsur kata sebenarnya memang cenderung menyetujui untuk menggunakan spasi, terlebih jika kedua unsur kata tersebut masing-masing memiliki arti tersendiri, contoh: “terima kasih”, “kerja sama”, “ibu kota”, dll. Kata-kata tersebut ditulis secara terpisah lantaran masing-masing unsur katanya memiliki arti tersendiri; membuat keduanya mampu berdiri sendiri dalam kalimat.

Kata “terima kasih” misalnya, “terima” dan “kasih” memiliki arti masing-masing yang membuat keduanya sanggup berdiri di kalimat utuh, contoh: “Aku terima kasihmu meski tidak tubuhmu” atau “Dia kasih aku harapan”.

Lalu, apa yang membedakan kata gabungan ini dengan “Idulfitri”? kenapa ia harus ditulis terpisah? Sebabnya jelas, “id” termasuk ke dalam unsur terikat yang harus melekat pada kata sesudahnya. Karenanya, meskipun “id” dan “fitri” memiliki maknanya masing-masing, keduanya tak ditulis secara terpisah.

Kebiasaan lain yang tak tepat secara tata bahasa terkait penggunaan kata “Idulfitri” adalah kecenderungan untuk menggunakannya secara menumpuk dengan kata “hari raya”, misalnya mengucapkan, “selamat hari raya Idulfitri, ya!”

“Idulfitri” sudah mengandung makna hari raya atau hari besar keagamaan, karenanya tak perlu lagi menggunakan kata “hari raya”, cukup ucapkan, “Selamat Idulfitri, jangan lupa lunasi utangmu, ya.”

Mengucapkan “selamat hari raya Idulfitri” sama halnya dengan bilang “hari Senin” atau “bulan Januari”. Tanpa menggunakan kata “hari” sekalipun, kita sudah paham bahwa “Senin” adalah nama hari, begitu pula dengan kata “bulan” sebelum kata “Januari”.

Baiklah, selamat merayakan Idulfitri, teman-teman. Semoga Tuhan yang Mahabaik memberkati kita semua.

Salam #PatroliTataBahasa.

Sabyan dan Jerat Fanatisme Arab

Sumber Foto: https://akurat.co/hiburan

Ada banyak orang Islam yang percaya bahwa agama ini identik dengan Arab, sehingga segala hal yang ada bau-bau Arabnya pasti dikira Islami, termasuk lagu patah hati tadi. Kejengkelan si penyanyi di lagu itu dianggap sebagai sesuatu yang Islami sebab ia disampaikan dengan bahasa Arab, bahasa yang diyakini digunakan pula oleh para nabi.

Belum lama ini publik digemparkan dengan ramai pemberitaan soal grup gambus Sabyan yang disebut melakukan blunder besar lantaran membawakan lagu yang tak bertema religi ketika tampil di sebuah acara Ramadan di salah satu stasiun televisi nasional. Alih-alih mendendangkan lagu bertema Ramadan atau sejenisnya, grup yang digawangi oleh Nisa dan beberapa temannya yang tak terlalu terkenal itu memilih menyenandungkan lagu patah hati berjudul “Ya Tabtab” milik Nancy Ajram, penyanyi pop Arab asal Lebanon.

Tak ada yang salah sebenarnya dari pilihan lagu ini, sebab hingga acara selesai pun, tak tampak teguran atau protes dari orang-orang yang ada di lokasi syuting. Bahkan ustaz yang duduk tak jauh dari lokasi tampak manggut-manggut menikmati alunan lagu yang sedang dinyanyikan. Terlebih, meski bertemakan patah hati, lagu ini berbahasa Arab, sehingga tampak seolah Islami. Okelah, tak ada masalah.

Teguran –atau lebih tepat disebut sentilan— baru muncul beberapa saat kemudian di jagat Twitter. Saya melihat sentilan ini pertama kali dari akun milik Iman Brotoseno di @imanbr. “Nisa Sabyan menyanyikan lagu Ya Tabtab dalam acara Syair Ramadhan. Apakah lagu berbahasa Arab pasti berkaitan dengan Islam?” tulisnya. “Itu lagu penyanyi Lebanon, Nancy Ajram, seorang Arab Kristen. Lagu tentang perempuan yang ngambek dan kesal sama pacarnya,” lanjut dia menjelaskan.

Seketika, warga di negeri twitter berkicau ramai membahas insiden ini; ada yang menyalahkan Sabyan lantaran tak cermat memilih lagu, namun ada pula yang mendukung kelompok gambus ini sebab yakin mereka tak melakukan kesalahan. Memangnya kenapa kalau Sabyan membawakan lagu bertema patah hati di acara religi? Bukankah patah hati juga memiliki dimensi religi sebab ia justru sangat bisa mendekatkan kita pada Sang ilahi? Lagipula, lagunya menggunakan bahasa Arab, kok! Sirik amat.

Nah, ini masalahnya. Ada banyak orang Islam yang percaya bahwa agama ini identik dengan Arab, sehingga segala hal yang ada bau-bau Arabnya pasti dikira Islami, termasuk lagu patah hati tadi. Kejengkelan si penyanyi di lagu itu dianggap sebagai sesuatu yang Islami sebab ia disampaikan dengan bahasa Arab, bahasa yang diyakini digunakan pula oleh para nabi.

Ganti Wadah

Perdebatan soal kaitan antara Islam dan Arab sesungguhnya adalah hal yang sudah sangat membosankan. Tema ini diulang berkali-kali seolah tak akan pernah tahu kapan semua ini akan berhenti. Yang kita tahu, perdebatan terkait tema ini melahirkan retakan besar di tubuh umat Islam Indonesia, dan barangkali di banyak negara lainnya. Sebagian kelompok percaya bahwa Islam harus dijalankan secara kaffah atau menyeluruh. Artinya, tak boleh setengah-setengah; hanya mengambil ajarannya tapi meninggalkan budaya yang membentuk ajaran tersebut; Arab.

Kelompok ini cenderung menempatkan bokongnya pada sudut tekstual. Mereka melekatkan keimanan hanya pada teks-teks agama berupa Alquran dan hadis yang diyakini telah berisi panduan lengkap dalam menjalani hidup; mulai bangun tidur hingga nanti tidur lagi. Kelompok ini cenderung anti terhadap penafsiran teks agama sebab teks-teks tersebut bersifat ta’abudi; harus ditaati begitu saja.

Kecintaan kelompok ini terhadap teks-teks agama yang kebetulan berbahasa Arab tentu berimplikasi pada kecenderungan untuk mencintai pula segala hal yang berbau Arab. Karenanya tak heran, kelompok pemuja Arab ini menolak keras segala hal yang tak berbau Arab, salah satunya adalah konsep Islam Nusantara. “Apa-apaan ini, Islam kok Nusantara segala. Tak ada dasarnya itu!” begitu kira-kira reaksi mereka tiap kali mendengar upaya pribumisasi Islam.

Di sisi lain, ada pula kelompok yang percaya bahwa Islam tak sekaku yang dibayangkan kelompok pertama. Bagi kelompok ini, Islam tak sama dengan Arab; mereka bahkan cenderung menolak segala bentuk Arabisasi Islam. Bahwa Islam berasal dari Arab, iya; tetapi ini tak serta merta berarti bahwa Islam harus Arab. Sebabnya, Islam tak hanya dihidupi oleh orang-orang Arab, tetapi juga orang-orang dari berbagai latar belakang; yang tentunya memiliki tantangannya masing-masing.

Memaksakan untuk menampilkan Islam dengan wajah Arab justru akan mematikan agama paling bontot di urutan agama Abrahamik ini. Itu sebabnya, kelompok kedua menawarkan untuk melakukan pribumisasi Islam. Yakni upaya untuk membumikan ajaran Islam agar sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Karenanya, pribumisasi Islam tak berarti mengubah ajaran inti dari Islam, tetapi melakukan kontekstualisasi atas ajaran-ajaran tersebut agar relevan dengan perkembangan zaman. Sebab agama harus ada gunanya, jika tidak, maka ia akan dilupakan, laiknya mantan yang tak layak bahkan untuk sekadar dikenang.

Salah satu tokoh yang paling getol menyuarakan pentingnya membumikan ajaran Islam dan menolak Arabisasi Islam adalah Gus Dur. Dalam pandangan beliau, Arabisasi menyimpan potensi bahaya yang tak main-main, yakni tercerabutnya masyarakat dari budayanya sendiri. Lagi pula, Arabisasi belum tentu cocok dengan kebutuhan masyarakat. Masyarakat butuh tuntunan agama yang tak menghapus akar-akar budaya dan sosial yang membentuk jari diri mereka. Yakni agama yang menghargai lokalitas tiap pemeluknya tanpa mengubah sedikit pun esensi dari agama itu sendiri.

Sampai sini kita tahu, Islam tak sama dengan Arab. Jika Islam adalah isi, maka Arab adalah wadahnya. Isi dapat berpindah wadah tanpa mengalami perubahan pada sisi substansi; ia tetaplah isi namun barangkali berbeda rupa sebab menyesuaikan dengan wadahnya.

Salah Sendiri

Kembali ke kontroversi terkait pilihan lagu yang dibawakan Sabyan, marilah kita anggap insiden ini sebagai pengingat agar kita tak terlalu gila Arab. Arab masa kini tak beda jauh dengan Indonesia, dihuni oleh masyarakat yang sangat beragam; yang tentu tak semuanya beragama Islam. Orang Arab juga tak melulu menghabiskan waktu untuk beribadah demi mempersiapkan bekal untuk kehidupan setelah mati, sebab ada pula yang merutuki nasib lantaran patah hati, seperti yang dilakukan oleh Nancy Ajram tadi.

Kita tak perlu ambil pusing soal Sabyan yang tak menyanyikan lagu religi di acara TV itu, bisa jadi, mereka memang benar-benar melakukan blunder dengan menyanyikan “Ya Tabtab Mak Tratab” sebab mereka juga tak tahu maksud lagu itu; yang penting berbahasa Arab, dah! Tetapi mungkin juga, Sabyan sengaja ngerjain kita yang sudah kadung gandrung pada segala hal yang bernuansa Arab. Seperti menyindir kecenderungan sebagian dari kita yang cekak dalam beragama.

Entahlah. Saya cuma heran, kenapa di Sabyan yang terkenal hanya vokalisnya saja?