Hitam Putih Manusia Super

Nietzsche berkata lewat Pak Tua, “Jangan percaya pada mereka yang berbicara melebihi kehidupan di dunia ini, sebagaimana penceramah agama. Tetaplah setia pada hidup di dunia ini. Mereka yang berbicara seperti itu, hanyalah terpenjara oleh janji-janji para nabi”. “Kalian umat manusia harus menentukan sendiri hidupmu, meskipun itu sakit”.

—- “The Turin Horse”

Di Turin, filsuf besar Nietzsche menjadi gila. Melihat seorang petani tua memecuti kuda, Nietzsche berlari melindungi kuda tersebut dengan memeluk leher si kuda dengan penuh kasih sayang. Nietzsche begitu sedih. Sejak saat itu dia melakukan topo bisu, tidak mau bicara. Semua orang mengira Nietzsche menjadi gila. Sepuluh tahun kemudian, tepatnya tahun 1900 Nietzsche meninggal dunia. Di nisannya, di kota kelahirannya di Jerman tertulis, “Tuhan sudah mati. Nietzsche membunuhnya. Nietzsche juga mati. Di sini dikuburkan”.

Begitu cerita episode akhir hidup filsuf besar dan penting asal Jerman ini yang terkenal dengan kredonya, “Tuhan sudah mati”. Selain kredonya itu, Nietzsche dikenal dengan karya “Dan Berkata Zaratustra” dan pemikiran tentang Uebermens, “Manusia Super”.

Film “The Turin Horse” karya Bella Tarr, sutradara asal Hongaria ini, bukanlah film biopik, seperti “Bohemian Rhapsody”  yang merekam sejarah kehidupan Nietzsche, melainkan sisi hidup kuda Turin yang menyebabkan si filsuf kita itu menjadi gila dan hubungannya dengan tuan pemilik, petani tua dan miskin dan perempuan pendamping hidupnya.

Yang menarik sekali dari film ini, sutradara memproyeksikan filsafat dan seluruh pemikiran Nietzsche pada petania tua dan miskin itu, serta kudanya, sesuatu yang membuat Nietzsche menuju akhir hidupnya tamat. Sekilas wajah dan penampilan petani tua dan miskin itu seperti aslinya Nietzsche, tapi bukan.

Bagaimana si petani tua menjalani keseharian hidup,  hubungannya dengan benda sekitar: kentang, perempuan pendamping, alam, sumur-sember air, orang lain atau gypsy adalah refleksi filsafat dan buah-buah pemikiran pokok Nietzsche, yaitu soal “kebutuhan untuk percaya”, serta kesadaran akan kebertubuhan dan perlunya merayakan hidup.

Dengan memproyeksikan pemikiran pada obyek, benda—dalam hal ini, pak tua dan kuda, sesuatu yang berarti dalam hidup Nietzsche—sutradara yang juga menulis skripnya, memberi ruang untuk menganalisa filsafat Nietzsche dan sekaligus mempersilakan untuk mengkritisi pemikiran Nietzsche sendiri. Inilah jeniusnya Tarr, penonton seperti sedang mengikuti kuliah filsafat.

Film dalam format hitam-putih ini dibuka dengan sosok kuda. Hampir sepuluh menit kamera menyorot kuda dan lelaki tua yang naik di atas kereta yang ditarik kuda tersebut. Hanya itu. Hampir tanpa musik pengiring, hanya suara angin yang gemuruh di musim gugur.

Sampai di rumah tunggal di kota sunyi. Pak tua memasukkan kuda ke kandang. Kamera berganti mengarah ke perempuan mengambil air di sumur timba, bolak-balik. Scene seperti ini akan banyak sekali kita jumpai, seolah ingin menyampaikan pemikiran Nietzsche soal menyintai hadup atau nasib seutuhnya, “amor fati”; bahwa menjalani hidup ini, sekalipun menderita, meskipun mengandung kepedihan dan kekecewaan, harus tetap diterima. Penderitaan adalah bagian dari yang indah dan sejatinya keseluruhan hidup.

Diperlihatkan juga pak tua yang mengalami sakit. Memang Nietzsche bereksperimen dengan tubuh yang mengalami. Lewat pengamatan pada tubuh yang mengalami segala rasa, termasuk sakit, dia membangun filsafatnya. Tubuh adalah ekspresi demokrasi. Dari sini Nietzsche membuat simpulan betapa bernilainya kehidupan. Sakit adalah sesuatu yang niscaya, tak dapat dielakkan. Dalam kesakitan akan ada pemaknaan baru. Karenanya, sakit atau apapun rasa yang timbul dari tubuh tidak perlu ditolak, malah perlu dikembangkan sikap menerima, memeluk. Seperti dalam meditasi ala Sumarah-Laura Romano di Borobudur Writers and Cultural Festival yang baru saja lewat.

Bagi Nietzsche, tubuh dengan segala kontradiksinya punya kearifan. Karena lewat tubuh yang merasa dan mengalami dan menghasilkan naluri itu bukanlah sesuatu yang rendah dan nista, penuh najis, tapi tubuh sebagai kekuatan hidup dan sumber kehendak. Dari sinilah istilah “Uebermens” lahir.

Kehidupan keseharian Pak Tua dan perempuan pendampingnya yang terlihat monoton, dari ruang dalam rumah, mengambil air, berulang adalah gambaran filsafat Nietzsche yang merupakan antitesa dari Plato dan agama. Nietzsche atau Bella Tarr, lewat Pak Tua mau mengatakan bahwa hidup di dunia ini sesungguhnya sangat menggairahkan, karenanya tidak diperlukan lagi akhirat. Ini jelas terlihat dalam scene ketika rombongan gypsy datang, mengajak ikut dan memberi kitab suci, dan oleh Pak Tua rombongan itu diusir. Nietzsche berkata lewat Pak Tua, “Jangan percaya pada mereka yang berbicara melebihi kehidupan di dunia ini, sebagaimana penceramah agama. Tetaplah setia pada hidup di dunia ini. Mereka yang berbicara seperti itu, hanyalah terpenjara oleh janji-janji para nabi”. “Kalian umat manusia harus menentukan sendiri hidupmu, meskipun itu sakit”.

Diperlihatkan pada suatu scene, setelah rombongan gypsy pergi dan sumur air sat, kering tidak ada lagi air, Pak Tua dan perempuan pendamping pindah, mencari tempat baru. Mereka boyongan, menaiki bukit. Tapi kita juga diperlihatkan, kemudian, mereka berdua kembali lagi. Adegan ini seperti mitologi Yunani, “The Myth Of Sisyphus”, Sisyphus yang mendorong batu ke bukit. Setiap mendekat puncak, batu itu akan menggelinding turun lagi, begitu seterusnya… Hidup di dunia ini sangat menggairahkan. Akhirat tidak diperlukan! Itulah tesisnya. Bagi sebagian orang, itulah atesime Nietzsche.

Pada lima belas sampai sepuluh menit sebelum film berakhir, dan Pak Tua sakit. Masih tanpa bicara, si perempuan menyuguhkan kentang rebus lagi, dan lagi. Saling berpandangan dalam diam. Sekali-sekali wajahnya berpaling ke luar, sebelum layar gelap, hanya suara benda bergeser. Dan baru film selesai. Namun, hidup masih tetap mengalir tak tepermanai, tetap penuh misteri. Nietzsche mau mengatakan, dengan Tuhan, segala berhala dan apapun yang diberhalakan mati, dan manusia menentukan sendiri, maka tidak ada kebenaran yang tunggal. Siapa saja bisa menentukan kebenaran. Dan kebenaran itu bisa di mana saja. Dan Tarr pun, seperti Nietzsche, dia mau bilang ke penonton, “Anda penonton punya kebenaran sendiri. Bebas menafsirkan film saya ini”.

Akan tetapi, sebagi sutradara, Tarr tidak otoriter memaksakan interpretasinya atas pemikiran Nietzsche dalam film ini sebagai final utuh, dan merasa paling benar. Dia memberi ruang juga pada kita penonton untuk mengkiritik pemikiran Nietzsche dan juga interpretasinya pada Nietzsche lewat karya filmnya ini. Kita bisa menikmati dialog atas dialog karena Tarr menyediakan ruang untuk itu lewat kamera yang intens menangkap setiap gestur, olah tubuh pemain dan dari sudut-sudut yang menyokong untuk menghasilkan gambar-gambar yang menawan dan kaya akan pemaknaan, termasuk angin keras dan segala kekuatan alam yang bisa dimaknai sisi spiritualitas Nietzshe. Jadi, apakah Nietzshe ateis? Nah, ini buah perenungan lain kali.

Selain interpretasi posmodernis ala Tarr pada pemikiran Nietzsche, film ini tiba tepat pada saat di Eropa, Amerika, atau dunia umumnya, “sayap kanan” dan populis memenangi pemilihan dan gairah keagamaan menguat dengan bermodalkan simbol-simbol ketuhanan dan bersinergi dengan kekuasaan politik. Tuhan yang diperalat untuk kekuasaan.

Selebihnya, silakan menonton saja.[MFR]

Pesan Damai dari Drakor


Sikap terbaik yang dapat kita lakukan adalah meyakini bahwa kita semua adalah makhluk ciptaan Tuhan. Kita setara dalam penciptaan, meski berbeda dalam rupa penampilan

Drama korea –biasa disingkat menjadi drakor—menjadi perbincangan menarik akhir-akhir ini. Di tengah situasi pandemi, drakor menjadi salah satu teman melepas penat. Terlebih bagi para jomlo yang hidup di perantauan, tak dapat pulang ke kampung halaman.

Terlepas dari situasi tersebut, mengapa drakor begitu digandrungi? Meleburkan batas usia, sekat gender bahkan tradisi keagamaan. Seolah-olah ada semboyan baru, kita memang berbeda tapi drakor menyatukan semuanya.

Tentu fenomena drakor ini tidak dapat dilihat sebagai sebuah gerakan yang baru muncul. Sebab, jika kita melihat lebih jauh ke belakang, sejak awal 2000-an telah lahir gelombang hallyu melalui drakor “Winter Sonata,” “Full House” dan “Boys Over Flower”. Lantas, apa saja hal menarik yang membuat banyak orang “tersihir” dengan tayangannya?

Pertama, drakor menghadirkan realita sosial. Alih-alih membuat drakor bak kehidupan surgawi yang penuh kebaikan, justru drakor lahir sebagai potret masyarakat Korea yang suram. Bahkan para penggiat film di Korea tidak segan-segan menampilkan “bobrok”-nya pemerintahan Korea.

Ini bisa dilihat dari drakor yang bertema pemerintahan dan kejaksaan. Salah satu drakor yang recommended untuk ini adalah “City Hunter” yang diperankan oleh Lee Min Ho –yang di Indonesia terkenal dengan bintang iklan “Luwak White Coffe”.Dalam drakor tersebut, Lee Min Ho berperan sebagai tokoh utama menjadi “Pemberantas Korupsi” yang bekerja dengan penuh strategi dalam sepi.

Selain isu pemerintahan, isu pendidikan yang penuh dengan bullying juga banyak disoroti. Misalnya drakor “The Heirs” –yang juga diperankan oleh Lee Min Ho—mengangkat tema kenakalan remaja, percintaan anak SMA dan sejumlah problem yang dihadapi oleh kawula muda. Karena isu yang dihadirkan ini, membuat para penikmat drakor dapat memahami alurnya dengan mudah atau bahkan dapat menghubungkannya dengan pengalaman pribadi yang pernah dilalui.

Drakor lain yang saat ini sedang diminati misalnya adalah “The World of the Married Couple”. Bahkan di Indonesia –meski belum ada penelitian resmi tentang ini—drama ini banyak dibincangkan di media sosial. Memang tak heran, sebab drakor ini mengangkat isu keluarga, KDRT, perceraian dan perselingkuhan. Satu pembahasan yang juga relevan untuk konteks Indonesia.

Kedua, drakor juga menjadi ajang bagi penonton untuk belajar terkait isu yang diangkat. Sebab, rata-rata naskah drama yang ditulis itu berdasarkan riset secara serius. Ketika tema drakor seputar kedokteran, maka sang penulis adegan dituntut dapat menjadi seorang dokter yang mengetahui seluk-beluk kehidupan tenaga kesehatan.

Banyak drakor yang mengangkat isu ini, misalnya “Romantic Doctor,” “Hospital Playlist,” “Doctor Stranger,” dll. Menonton drakor seputar kedokteran akan memanjakan mata kita dengan adegan operasi, penanganan pasien di rumah sakit dan tindakan medis lainnya. Karenanya sambil menonton, kita diajak untuk menjadi dokter –yang mengobati perasaan rindu menahan pilu, hehe.

Selain kedokteran, ada banyak tema yang diangkat oleh drakor seperti pemerintahan, psikologi, pendidikan, bisnis, kerajaan, bahkan sci-fiction seperti fenomena robot dalam kehidupan manusia atau perjalanan waktu. Menarik, bukan?

Ketiga, jumlah episode drakor yang tidak terlalu banyak dan juga tidak terlampau sedikit. Rata-rata jumlah episode drakor adalah 16-20 dengan durasi per episode sekitar satu jam. Hal ini penting untuk diperhatikan.

Sebab, jika jumlahnya terlalu banyak, maka akan ada banyak konflik yang muncul, atau justru konfliknya datar sehingga membosankan. Sedangkan jika terlampau sedikit, akan membuat penonton tidak begitu hanyut dalam drakor yang ditonton.

Selain itu, dengan kapasitas 16-20 episode, membuat drakor benar-benar fokus pada satu permasalahan. Biasanya lima episode awal itu menjelaskan konteks, latar kejadian, penguatan tokoh, dan pengenalan intrik-intrik kepentingan. Kemudian lima episode berikutnya masuk pada konflik, hingga klimaks dan penyelesaiannya di beberapa episode akhir. Dengan alur yang jelas seperti ini, penonton tidak di-PHP-kan—dengan bertanya-tanya ending yang seperti apa—dan dapat mengikuti episode demi episode dengan hati yang tenang.

Itu beberapa poin yang membuat drakor begitu dinikmati. Bagi kalian penikmat atau pengamat drakor, adakah poin lainnya yang belum disebutkan? Jika ada, mari berdinamika bersama melalui tulisan.

Meski demikian, tentu drakor juga tidak lepas dari banyak kritikan, terutama dari kelompok haters drakor. Salah satunya adalah “anggapan” bahwa drakor dapat membuat kita lupa waktu karena kecanduan. Yap, tidak dapat dipungkiri memang drakor mempunyai efek kecanduan, candu dalam syahdu menanti rindu yang kian pilu, karena tokoh utama yang selalu ditunggu.

Hanya saja, efek kecanduan ini bukan salah pihak drakor yang sudah berusaha mengemas filmnya seapik mungkin. Kecanduan ini datang karena sang penikmat yang tidak dapat mengatur waktu dengan tepat. Sama seperti kecanduan gadget, game online, focus ghibah discussion, dll. Maka yang harus diubah adalah pola pikir dan pola hidup kita dalam menikmati ragam kenikmatan duniawi tersebut.

Tentu tidak salah menikmati fasilitas keduniaan yang Tuhan berikan, selama hal ini tidak melenakan kita dari kehidupan akhirat yang sudah dijanjikan –duh gusti, maafkan penulis yang tiba-tiba berubah profesi dari penikmat drama menjadi tokoh agama.

Selain itu, para kritikus drakor juga menganggap bahwa drakor dapat membuat ke-halu-an yang berkepanjangan. Ini akan berpengaruh pada skala kriteria calon pasangan ideal para penikmat oppa dan nuna. Misalnya mencari pasangan yang putih, tinggi dan langsing seperti Mas Hyun Bin atau Mbak Suzy.

Pengaruh lainnya adalah pada tolok ukur badan ideal yaitu seperti para aktor terkenal. Sehingga lahirlah obsesi untuk diet, pemutihan kulit –bukan putih yang lainnya—hingga puncaknya melakukan operasi plastik –bagi penikmat drakor dari kalangan borjuis.

Memang dalam hal ini, kita –para penikmat drakor—perlu “mengkritik” industri perfilman Korea yang banyak menjual “tubuh” para aktor drakor. Hal ini sepertinya juga mulai disadari oleh pegiat film di Korea. Bahkan salah satu drakor terbaru ada yang mengkritik dan mencoba keluar dari perangkap tubuh tersebut yaitu Itaewon Class. Dalam salah satu adegan diceritakan bagaimana sosok Kim Tony; seorang berkulit hitam yang berjuang untuk bisa hidup di Korea.

Hanya saja, kriteria tubuh dan pasangan ideal tersebut muncul karena kita belum bisa mengenal diri kita sepenuhnya. Hal ini dapat dimaklumi, karena kebanyakan dari penggemar drakor adalah generasi muda yang masih labil dalam proses mencari jati diri. Di sinilah pentingnya nilai pertama yang dihidupi dalam Young Interfaith Peacemaker Community (YIPC) yaitu berdamai dengan diri sendiri.

Kita sebagai manusia harus melihat diri dengan tepat dan seimbang. Maksudnya adalah melihat diri ini tidak lebih tinggi dari orang lain, karena akan menjadi sombong. Atau sebaliknya, melihat orang lain lebih tinggi dari pribadi, sehingga yang ada kita menjadi minder dan tidak percaya diri.

Sikap terbaik yang dapat kita lakukan adalah meyakini bahwa kita semua adalah makhluk ciptaan Tuhan. Kita setara dalam penciptaan, meski berbeda dalam rupa penampilan. Sehingga etnis Korea tidak lebih baik dari ras Indonesia. Kulit orang Korea sama saja dengan kulit masyarakat Indonesia, hanya beda warna. Maka tidak perlu lagi memaksakan diri untuk serupa dengan orang Korea setelah menonton drakor—itu memalukan.

Cukup jadikan drakor sebagai pelajaran bagaimana menjalani percintaan dan persahabatan dalam kehidupan. Tetapi pada praktiknya, silakan ciptakan sendiri drama kehidupan Anda. Tentukan siapa sosok yang layak Anda cinta, mengarungi hidup bersama, hingga maut memisahkan semua dan berjumpa dalam surga-Nya. Wallahu a’lam bish showwab.[MFR]