Corona dan Hantu Ta’un dalam Imajinasi Kultural Madura

Konon, hantu ta’un menghampiri rumah-rumah; mengetuk pintu dan memanggil-manggil nama korbannya di malam buta. Orang-orang tua menasehati agar jangan sekali-kali menyahuti panggilan itu jika besoknya tak mau mati.

—- Achmad Bahrur Rozi

Saya tidak tahu persis kapan kisah ta’un ini bermula, sehingga sangat menakutkan bagi orang Madura. Yang jelas sejak berhembus isu tentang ta’un masyarakat di desa saya mulai resah. Sejak pengumuman kematian melalui toa di masjid-masjid semakin sering, ibu-ibu di desa saya mulai sibuk membuat ketupat dan serabi sejumlah anggota keluarganya.

Konon, ta’un menghampiri rumah mengetuk pintu dan memanggil-manggil nama korbannya di malam buta. Orang-orang tua menasehati agar jangan sekali-kali menyahuti panggilan itu jika besoknya tak mau mati. Begitu konon cara kerja ta’un. Ini cerita yang berkembang di kampung dan desa saya. Mungkin saja di daerah lain ceritanya berbeda.

Ta’un (tha’un) sesungguhnya bahasa agama. Setidak-tidaknya termenologi tersebut telah diabadikan oleh Al-Hafiz Ibnu Hajar al-Asqalani dala kitab Badzlul Maun Fi Fadhlil Thaun. Kitab ini membahas tentang wabah penyakit, termasuk wabah ta’un di dalamnya.

Pembahasan Ibnu Hajar perihal wabah dan ta’un sesungguhnya dalam konteks yang sangat saintifik. Dia mendasarkan analisisnya pada pendapat para ulama ahli bahasa maupun kedokteran, semisal al-Khalil (pengarang kitab An-Nihayah), Abu Bakar Ibnu al-Arabi, Abul Walid al-Baji, al-Mutawalli, al-Ghazali, dan Ibnu Sina.

Menurutnya, ta’un itu lebih khusus ketimbang wabah. Ta’un adalah pandemi karena bisa menimpa dan menulari begitu banyak orang. Tak pandang jenis kelamin, usia, kebangsaan, atau agama dalam suatu wilayah atau bahkan meluas ke banyak wilayah. Sementara wabah merujuk pada penyakit menular itu sendiri. Intinya, setiap ta’un adalah wabah, tapi tidak sebaliknya.

Tetapi ta’un yang berkembang dalam imajinasi kultural orang Madura memiliki narasi yang, khas, unik, dan bernuansa magis. Dalam imajinasi saya, berdasarkan cerita-cerita orang tua yang diwariskan turun-temurun, ta’un tak ubahnya seperti mahluk pencabut nyawa yang bergentayangan di malam hari. Si korban lalu mati pagi harinya tanpa sebab dan penjelasan apapun, kecuali dimangsa ta’un itu sendiri.

Betapa melekatnya kisah ta’un versi lokal ini dalam benak dan imajinasi orang Madura; mereka bahkan tidak percaya jika angka kematian yang meningkat tidak wajar akhir-kahir ini adalah akibat tertular Cobid-19. Mereka hanya percaya ta’un, lebih-lebih ketika kabar tentang ta’un itu disampaikan oleh ulama dan kiai berpengaruh.

Ini menjadi satu indikasi bahwa dalam masyarakat Madura kesenjangan antara bahasa agama dan bahasa sains masih sangat tinggi; tidak hanya di kalangan awam tetapi juga berlaku di kalangan elit, kaum kiai dan agamawan. Kegagalan menerjemahkan bahasa agama ke dalam bahasa sains sedikit banyak berdampak pada kegagalan upaya pembatasan yang diprogramkan pemerintah sejak pandemi Covid-19 yang melanda negeri ini.

Meskipun tidak menafikan faktor lain seperti ketidaksukaan terhadap penguasa/pemerintah, luka politik yang begitu mendalam pascapilpres yang lalu bisa juga berperan. Residu politik pilpres tersebut mengemuka dalam bentuk perdebatan panas antara kelompok pendukung kebijakan pemerintah dan kelompok anti-Covid di media sosial dan WAG.

Yang jelas, hingga detik ini masyarakat terbelah; mereka yang mendukung dan mau mematuhi prokes dan mereka yang menolak dengan penuh kecurigaan plus tuduhan-tuduhan yang bernuansa konspiratif. Kesulitan pemerintah, khususnya di Madura, untuk meyakinkan masyarakat, bukan tidak mungkin karena keberadaan kelompok yang kedua ini tidak sedikit atau bahkan mungkin lebih banyak dari kelompok pertama.

Ironisnya, kebijakan PPKM Darurat Jawa-Bali oleh masyarakat Madura lebih dimaknai sebagai agenda pembatasan akses ekonomi dan pemiskinan daripada ikhtiyar membatasi penularan virus Covid-19. Padahal tidak sedikit kiai dan ulama yang menjadi panutan mereka yang menjadi korban keganasan covid.

Tingginya intensitas kiai-kiai di Madura dalam berinteraksi dengan masyarakat luas memungkinkan kiai dan pimpinan pondok pesantren menjadi mangsa empuk Covid-19. Sayangnya, kiai-kiai di Madura sampai detik ini belum satu suara, beberapa bahkan ada yang menjadi kompor dan provokator agar masyarakat anti virus corona.

Masyarakat menjadi bingung karena kiai dan ulama sebagai tokoh panutan dan sangat dihormati satu sama lain tidak memiliki kesepahaman. Saya yakin, haqqul yakin, masyarakat Madura akan manut andai saja para kiai dan ulama bersinergi dengan pemerintah menggunakan bahasa yang sama tentang bahaya penularan virus corona ini sehingga persoalan penanganan wabah covid 19 tidak berlarut-larut seperti yang kita lihat saat ini.

Bahasa agama sebagai domain kiai dan ulama seharusnya bergandeng tangan dengan bahasa sain yang menjadi domain pemerintah. Tetapi jalan ke arah itu nampaknya masih jauh panggang dari api. Sekarang tidak hanya kiai dan ulama yang gagal dalam proses kontekstualisasi bahasa agama dalam konteks kekinian, sebaliknya justru pemerintah malah offside, terjebak dalam pola permainan bahasa agama.

Seolah hendak mengambil peran kiai dan ulama, pemerintah terjebak ke dalam penggunaan bahasa agama melalui edaran-edaran yang intinya menghimbau masyarakat dalam situasi gawat darurat ini untuk menyelenggarakan solawat tibbil qulub, solawat burdah dan doa lainnya secara berjamaah.

Memang tidak ada yang salah. Sekali lagi, instruksi untuk berdoa dan membaca solawat adalah hal yang baik, sangat baik. Tetapi, apakah tidak sebaiknya pemerintah fokus terhadap edukasi dan penanganan dampak penularan virus corona?

Sementara itu, pemerintah terus menjalin komunikasi dengan tokoh masyarakat, ulama, dan kiai terkait pandemi ini. Serahkan fungsi himbauan-himbauan religius itu kepada ulama dan kiai. Tetapi sebelum itu perlu kesamaan persepsi bahwa ta’un yang dimaksud itu adalah virus corona itu sendiri; masing-masing dengan bahasa yang berbeda tetapi tetap bersinergi.

Mari kita berdoa dan mematuhi protokol kesehatan. Semoga dengan demikian badai corona segera berlalu, amin! [MFR]

Menakar Potensi Media untuk Agama di Masa Corona


Di antara potensi ancaman media bagi agama adalah penyebaran berita bohong (hoax), info sampah, pengaburan realitas, kemunculan para “pseudo-ulama”atau “ulama-ulama karbitan” yang hanya bermodal kepiawaiannya bermedia walau tanpa akar keilmuan yang jelas, hingga hilangnya kontrol terhadap simbol-simbol keagamaan.

Fazlul Rahman

Semenjak makin merebaknya Covid-19 di Indonesia, yang diikuti dengan pelbagai kebijakan pembatasan, kondisi keagamaan masyarakat Muslim Indonesia menunjukkan fenomena “new normal”; banyak Muslim dari pelbagai kalangan semakin intens berinteraksi dengan media untuk kepentingan kegiatan dan urusan keagamaan mereka. Terlepas dari faktor pembatasan yang ada, atau memang latah, menarik untuk mempertanyakan bagaimana media berkontribusi terhadap agama (secara umum), dan bagaimana kemudian masyarakat Muslim Indonesia menyikapi potensi media terhadap agama tersebut.

Interaksi Media dan Masyarakat Muslim

Hubungan masyarakat Muslim dengan media sejatinya bukanlah fenomena baru. Di masa-masa awal kemunculan media di belahan penjuru dunia, masyarakat Muslim menunjukkan sikap hati-hati, bahkan terkesan resistan. Hal ini terlihat dari fakta sejarah yang menunjukkan bahwa mesin cetak baru diperkenalkan di Kekaisaran Turki Usmani pada abad ke-19 oleh Ibrahim Muteferrika; artinya, 500 tahun setelah Guttenberg memperkenalkan mesin cetak dan 400 tahun setelah diperkenalkan pertama kali di kalangan Umat Kristen. Salah satu penyebabnya adalah adanya penolakan dari kalangan pemuka agama. Jika diteliti lebih lanjut, penulis melihat setidaknya terdapat tiga hal yang mendasari sikap pemuka agama; kultural, theological iconophobia, dan kepercayaan terhadap sakralitas bahasa Arab.

Berbeda dengan penyambutannya di masyarakat Arab, Muslim Indonesia menyongsong kehadiran media dengan tangan lebih terbuka. Penggunaan media-media kesenian oleh para Wali Songo pada masa-masa awal dakwah Islam di Indonesia menguatkan hal tersebut. Adopsi “media populer” selanjutnya di kalangan masyarakat Muslim dapat dilacak dari awal kemunculan kaset-kaset ceramah semisal Dai Sejuta Umat (alm.) KH. Zainuddun MZ, dll. Berlanjut dengan kemunculan radio-radio yang bernafaskan Islam yang kemudian semakin mendorong kehadiran koran-koran, buku-buku, majalah-majalah, tv, hingga terakhir media sosial.

Fenomena interaksi media dan masyarakat keagamaan ini telah banyak menyita perhatian para sarjana dan riset-riset tentang hal tersebut telah banyak dipublikasikan, di antaranya karya George N. Atiyah yang berbicara tentang buku di Dunia Islam, Charles Hirschkind yang membahas tentang kaset-kaset ceramah di masyarkat Muslim, Gary Bunt yang meneliti tentang pengaruh Internet terhadap pola keberagamaan masyarakt Muslim dan konsepsi mereka tentang “ummah”, dan lain-lain.

Kontribusi dan Ancaman Media bagi Agama

Interaksi dan hubungan baik agama dan media sejatinya didasarkan pada adanya hubungan resiprokal yang saling menguntungkan antar keduanya. Salah satu potensi nyata yang dimiliki media untuk agama adalah kemampuan menyebarkan pesan keagamaan yang signifikan. Selain itu, dalam konteks media Internet, Dawson pada awal tahun 2000-an menunjukkan bahwa Internet dapat menguatkan kesadaran keagamaan, membangun komunitas-komunitas keagamaan baru, dan bahkan memfasilitasi kegiatan-kegiatan ritual keagamaan di dunia virtual.

Potensi-potensi tersebut di sisi lain tidak lepas dari berbagai ancaman yang muncul, di antaranya: penyebaran berita-berita bohong (hoax), info-info sampah, pengaburan realitas, kemunculan para “pseudo-ulama”atau “ulama-ulama karbitan” yang muncul karena kepiawaiannya bermedia walau tanpa akar keilmuan yang jelas, hingga hilangnya kontrol terhadap simbol-simbol keagamaan.

Melihat potensi dan ancaman media di atas, pertanyaan yang muncul kemudian adalah bagaimana kita sebagai bagian masyarakat keagamaan menakar hal tersebut? Menurut KBBI, ‘menakar’ berarti mengukur kadar untuk kemudian membatasi jumlahnya; dalam konteks bermedia pada masa Corona ini berarti berusaha mengukur potensi-potensi yang dimiliki media bagi agama untuk kemudian kita maksimalkan, dan mengukur ancaman-ancaman yang ada untuk kita minimalisasi. Untuk menganalisa ini, penulis meminjam metode analisa SWOT.

Analisis SWOT Potensi Media Internet untuk Agama di Masa Corona

Sebagaimana analisa SWOT pada umumnya, ada dua faktor yang harus dilihat dalam menakar potensi media untuk agama di masa Corona ini, yaitu internal dan eksternal. Internal di sini berarti kekuatan (S) dan kelemahan (W) yang ada pada internal produk media untuk agama. Dan eksternal berarti kondisi eksternal di luar media, yaitu peluang-peluang (O) dan ancaman-ancaman (T) yang berada di sekitar kita. Untuk analisis ini, penulis mengkhususkan pada media Internet yang banyak digunakan pada masa Corona ini.

Di bagian terdahulu, penulis telah menunjukkan beberapa poin penting potensi yang dimiliki media dan ancamannya terhadap agama. Untuk kelemahan media, setidaknya penulis melihat beberapa hal yang menjadi kelemahan internal: pertama, bahwa media pada dasarnya adalah alat yang sangat bergantung pada kualitas teknis. Jika ia didukung oleh perangkat yang baik secara teknis maka hasilnya pun akan lebih maksimal, namun jika sebaliknya, maka media menjadi tidak berguna. Contoh sederhana adalah kebutuhan media terhadap daya listrik. Media sebaik apapun jika tidak didukung ketersediaan daya listrik maka menjadi barang yang tidak dapat digunakan.

Kelemahan selanjutnya adalah bahwa data-data yang tersimpan dalam media sifatnya temporer dan mudah sekali overload. Kita tahu betapa informasi-informasi mengalami bahkan dituntut untuk terus diperbaharui atau ‘di-update’. Informasi-informasi yang awalnya viral bisa saja kemudian tenggelam tertimbun oleh info-info yang lebih menarik yang datang belakangan. Selain masalah teknis tersebut, kelemahan sumber daya masyarakat juga menjadi satu kelemahan internal yang tidak dapat dipungkiri dalam hal ini.  Kelemahan internal lainnya adalah bahwa media merupakan barang yang netral. Ia bersifat value-free. Baik dan buruknya sangat bergantung bagaimana pengguna (user) memanfaatkannya.

Di sisi lain, dari aspek eksternal, penulis melihat ada beberapa peluang yang jelas berada di hadapan kita pada masa Corona ini; pertama, momentum Ramadan dalam pembatasan. Kebijakan pembatasan di pelbagai wilayah di Indonesia ini merupakan momentum penting bagi media untuk dapat berperan secara maksimal dalam melayani kebutuhan-kebutuhan masyarakat, termasuk kebutuhan keagamaaan mereka. Hal ini ditambah dengan momentum Ramadan di mana umat Islam dianjurkan untuk mengisi waktu mereka dengan kegiatan-kegiatan keagamaan. Peluang lainnya adalah bahwa para pemuka agama saat ini sebagian besar sadar akan potensi media yang akhirnya merestui dan turut menggunakan media untuk kegiatan keagamaan. Hal ini menjadi potensi penting mengingat bahwa dahulu masyarakat Muslim sempat “terhalang” oleh restu ini.

Peluang lain yang tak kalah penting adalah keterjangkauan biaya. Kita tahu, saat ini biaya akses Internet sudah jauh lebih terjangkau dibandingkan dengan masa-masa awal kemunculannya. Pilihan paket-paket kuota bersahabat bisa kita sesuaikan dengan kebutuhan dan keadaan kantong kita. Potensi terakhir yang dapat penulis lihat adalah fenomena eksistensi media yang berada di mana-mana (media is ubiquitous). Sebagaimana argumen Mark Deuze bahwa saat ini kita tidak hanya hidup dengan media (living with media), tetapi juga hidup di dalam kehidupan bermedia (living in media life), maka media menjadi hal yang bisa kita temukan di mana-mana bahkan telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan kita termasuk kehidupan beragama kita.

The AXE Effect untuk Masa Depan Hubungan Media dan Agama

Untuk dapat menakar secara tepat, langkah selanjutnya dari analisa SWOT ini adalah dengan mengkaji empat poin penting, yaitu: pertama, bagaimana (S) dapat memanfaatkan (O) yang ada? Kedua, bagaimana memanfaatkan (S) agar dapat mengatasi (T)? Ketiga, bagaimana mengatasi (W) yang kita miliki untuk bisa mendapatkan (O)? Keempat, bagaimana meminimalisasi (W) untuk mencegah (T) dari luar?

Penulis dalam hal ini menyerahkan langkah terakhir ini kepada subjektifitas pembaca, karena penulis yakin setiap orang atau kelompok mempunyai situasi dan kondisi yang berbeda dalam menjawab dan menganalisa poin-poin tersebut di atas.  Sebagai gantinya, penulis ingin menutup tulisan ini dengan jargon yang dimunculkan oleh salah satu produk perawatan tubuh, AXE: Kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah Anda”.

Jargon tersebut bagi penulis sangat relevan untuk dapat menjawab bagaimana masa depan hubungan media dan agama. Kesan pertama Internet bagi kita umat beragama, pada masa-masa “new normal” ini, begitu menggoda. Banyak dari kita yang terpincut dengan fitur-fitur dan potensi-potensi yang bisa kita manfaatkan untuk agama dan untuk keagamaan kita. Lantas, bagaimana ke depan? Apakah hubungan mesra ini akan terus berlangsung setelah masa Corona? Jawabannya: “Selanjutnya, terserah Anda!” [MFR]