Bengawan Sore

“Bengawan Sore” merupakan kumpulan sembilan belas cerpen yang berisi beberapa hal. Pada garis besarnya terdapat lima arus utama dalam kumpulan cerpen ini di mana muatan nilai agama, kemanusiaan, pendampingan masyarakat, kritik sejarah dan nasionalisme membaur menjadi satu.

—- Irmawan Jauhari (penulis)

“Bengawan Sore” merupakan kumpulan sembilan belas cerpen yang berisi beberapa hal. Pada garis besarnya terdapat lima arus utama dalam kumpulan cerpen ini di mana muatan nilai agama, kemanusiaan, pendampingan masyarakat, kritik sejarah dan nasionalisme membaur menjadi satu. Sebagai antologi cerpen, buku ini juga tidak lepas dari kisah canda tawa maupun tangis haru mahasiswa dan santri, mengingat penulis ingin memberikan kesegaran suasana serta tidak terjebak pada konsep yang kaku. Bisa jadi juga pembaca akan menemukan beberapa kisah dengan tema yang mungkin absurd serta susah dicerna karena tidak jelas sama sekali arahnya.

Nilai yang pertama adalah agama, yang merupakan pondasi paling utama dalam melakukan segala kegiatan manusia di dunia. Dengan memiliki pondasi yang kuat seseorang akan mampu mengatasi problematika yang dihadapi. Penulis juga mencoba mengajak pembaca memahami bahwa agama tidak sekedar bermakna kesalehan ritual, namun juga terdapat dalam upaya-upaya memahami orang lain demi perubahan yang berarti.

Nilai yang kedua adalah kemanusiaan, artinya keberpihakan kepada manusia dan nilai kemanusiaan. Kemanusiaan merupakan Bahasa universal yang terdapat dalam semua agama dan hukum moral. Pemahaman yang cukup baik mengenai manusia dan kemanusiaan akan membawa pembaca menemukan korelasi sebab akibat dalam beberapa cerpen yang disajikan. Dengan kemanusiaan pula seseorang akan mampu menemukan keseimbangan dalam realitas sosial.

Nilai ketiga adalah pendampingan, yang merupakan refleksi penulis dalam menghidangkan beberapa catatan kecil mengenai pendampingan yang pernah dilakukan beberapa waktu lalu. Dengan menggunakan fiksi diharapkan bahwa ide-ide pendampingan bisa dibaca khalayak luas dan tidak menjadi beban khususnya para akademisi yang memiliki tanggung jawab. Hal ini mengingat salah satu pilar Tridarma adalah pengabdian yang bisa diterjemahkan dalam bentuk pendampingan masyarakat. Penulis sengaja menggunakan mahasiswa dalam ruang lingkup KKN maupun PPL karena jika dikelola dengan baik oleh para akademisi dan kampus, dua ruang tersebut bisa menjadi pintu masuk strategis dalam merancang pemberdayaan berkelanjutan.

Nilai keempat adalah kritik sejarah, di mana penulis melakukan penafsiran atas apa yang sudah terjadi di masa lalu. Kritik sejarah yang dilakukan penulis mencoba menyajikan sejarah dari sisi dikotomi sejarah itu sendiri. Tidak dapat dipungkiri dalam beberapa sumber yang ada, khususnya rujukan dari babad terdapat ketidaksamaan versi yang dibuat. Terkait kritik sejarah, penulis pernah berdiskusi dengan beberapa tokoh yang salah satunya adalah Bapak Qomarul Huda (Dosen SAA IAIN Kediri) yang memberikan banyak saran dan pertimbangan serta contoh.

Nilai kelima adalah nasionalisme, yang merupakan bentuk semangat kita terhadap bangsa dan Negara. Cerpen beraroma nasionalisme diperlukan agar terdapat transfer pengetahuan mengenai bagaimana memosisikan nasionalisme dalam berbagai aspek kehidupan. Lebih-lebih lagi, dewasa ini konsep dan konteks nasionalisme perlu diberikan penjelasan yang lebih kompleks mengingat generasi yang mengalami era globalisasi bisa saja terancam kedaulatan ekonomi dan budayanya. Maka, memahami nasionalisme di era globalisasi perlu pemahaman yang tuntas atas konsep awal, dinamika yang berkembang dan berjalan di Indonesia, serta tantangan yang ada dalam realita sekarang ini. Terutama lagi saat ini masyarakat didorong untuk menjadi konsumen dengan beragam pilihan kemudahan berbelanja daring.

“Bengawan Sore” sebagai sebuah kumpulan cerpen tidak luput dari proses panjang penulisan, refleksi dan diskusi dengan beberapa tokoh mengingat penulis ingin menyajikan cerpen dengan lebih menarik serta tidak lepas dari basis akademik penulis sendiri. Bengawan Sore ditulis mulai tahun 2014 sampai 2020. Tepatnya Agustus kemarin, salah satu cerpennya dengan judul “Merdeka” tuntas dikerjakan.

Meski proses kelahiran buku ini tergolong lama, namun bagi penulis masih terdapat banyak kelemahan yang muncul. Dan kami berharap terjadi dialektika dari pembaca agar memberikan koreksi serta pembenahan agar kedepan tercipta karya baru yang lebih segar dan kreatif. Insyallah perpustakaan IAIN Kediri akan mendapat donasi “Bengawan Sore” dari penulis. Semoga menambah koleksi, dan bisa bermanfaat buat siapapun yang membacanya.

Hampir lupa, “Bengawan Sore” bisa didapatkan di bukalapak, Tokopedia, Shoope, atau guepedia.com.[MFR]

Tolstoy dan Cerita-Ceritanya

Saya sering mendorong mahasiswa untuk melakukan giat literasi demi meningkatkan kreatifitas serta memiliki nilai lebih. Tidak berhenti mendorong, saya juga memberi contoh bahwa sebagai dosen, saya terlebih dahulu harus membuktikan diri menulis baik ilmiah dalam bentuk artikel jurnal, buku, serta beberapa karya fiksi.

—— Moh. Irmawan Jauhari

Ada dua cerpen dalam kumpulan cerpen Leo Tolstoy yang akan saya coba sampaikan dan berikan analisis singkat. Pertama adalah Ziarah. Novel ini bercerita tentang dua orang bernama Efim Scheveloff dan Eliyah Bodroff yang memiliki niat beribadah ke Yerusalem. Keduanya terpisah di sebuah kampung kecil yang tengah dilanda masalah. Efim melanjutkan perjalanan dan sampai di Yerusalem, sedangkan Eliyah memilih melayani umat di kampung itu. Uang sakunya untuk ziarah digunakan untuk membantu masyarakat yang ada dan dia tidak pernah sampai ke Yerusalem.

Ketika keduanya pulang, Efim mencari Eliyah karena dia merasa di Yerusalem bertemu dengannya di sana selama tiga kali. Sedangkan Eliyah berusaha menyembunyikan kenyataan bahwa dia pernah menolong masyarakat yang membuatnya gagal ke Yerusalem. Efim memeroleh gambaran dari masyarakat yang ditemuinya bahwa mereka kini menjadi lebih baik karena pertolongan seorang musafir yang lewat. Efim pun mendapatkan pengalaman ruhani yang luar biasa dari cerita yang dia dengar dari masyarakat dan penglihatannya di tanah suci. Akan halnya Eliyah menemukan makna dari ziarahnya yang gagal ke Yerusalem; dia menjadi lebih merdeka secara jiwani.

Ziarah mencoba melakukan kritik pada masyarakat yang cenderung mati-matian dalam ibadah yang mahdlah ‘murni’ tapi melupakan yang ghayru mahdlah ‘umum; sosial’. Kesalehan ritual yang tidak didukung dan ditopang oleh kesalehan sosial. Betapa banyak umat beragama memahami bahwa dimensi peribadatan cenderung melalui kesalehan ritual. Pada dasarnya pendapat ini benar, akan tetapi perlu keseimbangan agar manusia tidak sekedar menjadi seorang ‘abdun ‘hamba’; dalam perspektif kesalehan spiritual, manusia juga mengemban mandat sebagai khalîfah ‘pengganti’. Keseimbangan konsep ini yang coba diungkap melalui cerpen Ziarah. Bisa saja, kegiatan-kegiatan dalam bentuk kesalehan sosial justru memberikan dan meninggalkan kesan yang lebih mendalam bagi seseorang.

Kedua adalah Tuhan Mahatahu tapi Dia Menunggu. Cerpen ini bercerita tentang seorang pengusaha bernama Aksenov yang memiliki kegemaran minum alkohol yang difitnah membunuh temannya sendiri. Meskipun dia merasa tidak melakukannya tapi semua bukti mengarah padanya. Dia pun menjalani hukuman selama berpuluh tahun sampai akhirnya si pelaku pembunuhan tersebut satu penjara dengannya. Aksenov memang memiliki dendam yang dalam pada pembunuh tersebut. Namun dengan kesadaran mendalam pada akhirnya dia bisa menerima apa yang sudah terjadi padanya dan berlapang dada atas semuanya. Ketika si pembunuh itu meminta maaf dan berterus terang kepada penjaga penjara, Aksenov terlebih dahulu meninggal di dalam selnya.

Cerpen ini seakan memberikan kisah tragis bagi orang beriman dengan ujian berat yang datang kepadanya. Akan tetapi bukankah dalam al-Qur’an dinyatakan bahwa manusia tidak dibiarkan sekedar mengaku beriman tanpa pernah diuji terlebih dahulu? Sebagaimana juga emas murni harus melalui beberapa ujian demi mengetahui kualitasnya?

Kedua cerpen tersebut saya kaitkan dengan beberapa pandangan teoritis seperti akidah, revolusi, teologi pembebasan, fikih sosial, hingga postkolonialisme. Buku-buku karangan Hassan Hanafi, Asghar Ali Engineer, Freire, Tan Malaka, dan tokoh semisal, adalah bacaan wajib mahasiswa untuk memompa pengetahuan mereka. Tanpa baca, mahasiswa akan kering dari pandangan teoritis. Tanpa memahami mereka, mahasiswa akan kering dengan kemampuan menganalisis sebuah peristiwa dengan berbasis teori yang dibacanya. Maka dari itu, membaca sangatlah penting. Selain itu, harus ada kepedulian dan keberpihakan kepada kemanusiaan dalam bentuk kesejahteraan sosial. Kepedulian sosial semacam ini sangat baik dan mendasar bila juga dilandasi oleh ajaran-ajaran agama. Sejarah telah membuktikan bahwa perubahan sosial yang sekadar berpijak pada ideologi rasio manusia semata hanya akan melahirkan nestapa; betapa kita kecewa bagaimana komunisme dan kapitalisme di penghujung abad ke-20 bermufakat dalam menggasak Dunia Ketiga. Padahal lepas PD II, kedua ideologi ciptaan manusia ini terlibat perang dingin dengan negara-negara satelit sebagai korbannya.

Saya sering mendorong mahasiswa untuk melakukan giat literasi demi meningkatkan kreatifitas serta memiliki nilai lebih. Tidak berhenti mendorong, saya juga memberi contoh bahwa sebagai dosen, saya terlebih dahulu harus membuktikan diri menulis baik ilmiah dalam bentuk artikel jurnal, buku, serta beberapa karya fiksi. Saya pun kerap mengajak mahasiswa untuk membuat antologi karya bersama, apapun bentuk tulisan mereka. Namun betapa tidak sedikit mahasiswa yang mengalami kemandegan ide dalam menulis. Ketika mereka bingung untuk menulis apa, dan bertanya bagaimana cara menulis yang baik, saya tegaskan terlebih dahulu untuk merasa butuh baca. Tanpa baca, apa yang akan ditulis? Ibaratnya ketika kita tidak punya beras untuk dimasak, apa yang akan diolah menjadi makanan?

Dalam beberapa kesempatan ketika menjadi fasilitator pelatihan tulis menulis, saya pernah bertanya kepada para peserta, lebih enak mana membaca buku teori dengan buku fiksi? Semua sepakat fiksi dengan berbagai genre. Saya bertanya lagi, lebih enak mana membaca buku dengan melihat film? Mereka juga menjawab lebih enak menonton film. Saya tegaskan bila fiksi dan novel sebenarnya berkaitan dengan buku teori. Tanpa pemahaman yang tuntas mengenai sebuah teori, seorang penulis tidak akan mampu membuat sebuah cerita yang baik. Dan tanpa analisis yang kuat berdasar teori, sebuah film tidak akan memiliki ruh yang kuat untuk menarik para penonton. Saya sebutkan sebuah film berjudul 3 Idiots yang banyak mengandung teori-teori pendidikan dan juga perlawanan terhadap kapitalisasi pendidikan.

Semua melongo dan seperti tidak percaya bahwa sebuah film disusun dari beberapa teori. Dan saya biarkan keterkejutan tersebut dengan menyebutkan beberapa film lain yang berasal dari produsen Indonesia. Oh iya, dalam cerpen Ziarah mungkin bisa menjadi refleksi religius ketika Kementerian Agama memutuskan untuk tidak mengirimkan jamaah haji tahun ini. Sedangkan Tuhan Mahatahu tapi Dia Menunggu, menurut saya, bisa menjadi sebuah alternatif jawaban ketika Prof. H. Fauzan Saleh, Ph.D bulan puasa kemarin mengirimkan tulisan yang cukup menarik dengan judul “Covid-19, Problem Teodisi, dan Sinar terang Iman”. Semoga saja.[MFR]