Bukan Imam Pilihan

Kini, Idul hanya bisa berharap agar sang ibu mengerti, anak-anaknya sudah cukup dewasa untuk memilih jalan hidup mereka sendiri, serta untuk menjunjung nilai-nilai dalam kehidupan keluarga mereka masing-masing. Tak apa jika Idul tak jadi Imam pilihan, Tuhan tahu, Idul tak seburuk tuduhan ibu.

——Idul (suami Fitri)

Pagi itu, tepatnya 24 Mei 2020, adalah lebaran 1 Syawal 1441 H. Idul, pria paruh baya, sudah siap sejak pagi; sejak selepas subuh ia sudah bergilir mengumandangkan takbir. Dia dan keluarga kecilnya juga sudah tampak bersiap berangkat menunaikan ibadah salat Idulfitri di lapangan perumahan tempat mereka tinggal. Salat ini diikuti tak lebih dari 20 orang saja, dengan tetap menjaga jarak.

Warga di komplek sini tidak berani ke masjid untuk salat dalam jamaah yang lebih besar, mereka memilih ikuti anjuran pemerintah untuk salat di komplek rumah saja, tentu karena korona.

Selepas salat, seperti biasa, tradisi di keluarga kecil Idul adalah makan ketupat dan opor ayam beserta teman-temannya, dilanjutkan dengan bermaaf-maafan dalam keluarga kecil yang sudah dia bina selama 25 tahun. Bagian dari tradisi itu adalah ritual istri mencium tangan suami, disusul dengan empat anaknya yang melakukan hal sama; meminta maaf kepada orang tua, juga sebaliknya.

Perayaan tahun ini agak berbeda, korona memaksa keluarga kecil ini merayakan lebaran dengan cara yang sedikit garing; harus silaturahmi secara daring. Tak ada kunjungan ke rumah-rumah sanak saudara dan tetangga; semuanya dilakukan di sebalik layar kaca.

Usai makan dan bermaaf-maafan, Idul merasa letih. Dia lihat istrinya juga sudah mendahului berbaring di kasur. Malam hari sebelumnya dia memang kurang tidur karena menyiapkan hidangan lebaran buat Idul dan anak-anak. Perlahan Idul pun naik ke tempat tidur dan merebahkan badan di samping istrinya.

“Kamu nggak telpon ibu? Telpon, gih,” kata Idul sambil memejamkan mata.

Sekilas dia dengar jawab “Iya, ntar” dari istrinya. Dari nada suaranya, terdengar getar keengganan, seperti tak mau walau kata yang terucap adalah “iya”. Namun Idul tak pikir panjang, kantuk sudah keburu menyerang.

Hari pun berlalu. Idul masih tak tahu apakah istrinya sudah menelpon ibunya atau belum. Yang ia tahu, beberapa hari kemudian, sepulang kerja, Idul diberondong cerita dari istrinya yang marah besar terhadap ibu. Idul duduk di sebelah perempuan yang telah menemaninya puluhan tahun itu sambil berusaha menjadi pendengar yang baik. Ternyata istri Idul baru saja “berkelahi” dengan ibunya melalui WA.

Ceritanya cukup panjang, dan cerita ini bukan dimulai dari istrinya yang ternyata tidak menelpon ibu di saat Idulfitri, tapi jauh sebelumnya. Istri Idul menilai sang ibu terlalu mencampuri urusan rumah tangganya. Sang Ibu bahkan menilai Idul, selaku imam di keluarganya, tidak cukup pantas mendampingi anaknya.

Ternyata Idul menjadi salah satu topik pertengkaran mereka.

Ya Tuhan…. ternyata begitu cara sang ibu mertua menilai Idul. Sang ibu mencerca Idul dari banyak sudut, mulai dari pekerjaannya yang dinilai tidak cukup layak, sampai anggapan bahwa dia dan keluarganya tidak cukup memiliki adab terhadap orang tua. Idul dan keluarganya yang bertumbuh selama 25 tahun ini memang sepakat untuk lebih mengedepankan logika dan rasionalitas dalam bersikap terhadap apapun, mungkin ini yang dinilai sang ibu sebagai sikap kurang beradab.

Seperti contohnya, banyak orang yang sepakat dengan pernyataan “surga berada di telapak kaki ibu”. Idul bukannya menolak pernyataan itu, dia hanya ingin menekankan ibu seperti apa dulu yang di telapak kakinya ada surga. Tentu tidak semuanya. Kalau pernyataan itu diterima mentah-mentah, itu merendahkan intelektualitas. Tidak masuk akal dan sangat tidak rasional kalau di setiap telapak kaki ibu terdapat surga.

Orang tua tidak selalu benar; usia tua tidak sama dengan selalu benar. Orang tua bisa saja salah, karena salah bisa terjadi kepada siapa saja. Fakta ini yang kadang sulit diterima kebanyakan orang tua. Mereka berpikir orang tua selalu benar dan harus selalu dituruti kata-katanya. Bukan begitu cara Idul membangun rumah tangga. Idul tak mendidik keempat anaknya dengan nilai-nilai tersebut.

Meski pedih dan sakit hati, Idul memilih diam daripada harus berseteru dengan mertua. Apakah sakit hati? Sebagai manusia yang dikaruniai perasaan, tentu Idul tersinggung, teringat kembali kejadian-kejadian terdahulu, di saat fitnah-fitnah keji juga pernah dialamatkan kepada menantunya itu, yang kebetulan dulu pernah menolong dan membiayai seorang pelacur yang melahirkan anak tanpa pasangannya karena sama sekali tidak memiliki biaya untuk bersalin.

Saat itu dia dan istri membantu benar-benar didasarkan pada rasa kemanusiaan saja, tidak lebih. Mungkin saat itu istrinya bercerita kepada ibunya. Lalu beliau mengatakan kepada anaknya bahwa sangat mungkin suaminya punya “saham” terhadap pelacur itu, makanya mau membantu persalinannya. Wow, bisa dibayangkan betapa tersinggungnya Idul dengan tuduhan itu. Sangat menyakitkan dan merendahkan harga diri. Toh, Idul tetap diam, biarlah Tuhan yang tahu.

Kalau saat ini belahan jiwanya memilih jalan untuk tetap berseteru dengan ibunya dalam rangka memberi pembelajaran terhadap orang yang berpendapat “orang tua selalu benar”, itu adalah pilihannya, Idul tidak akan melarang ataupun mendukung. Karena dalam kasus ini, lagi-lagi, Idul memilih untuk kembali diam.

Mungkin ini juga bisa menjadi pembelajaran bagi yang membaca tulisan ini, bahwa suami istri sangat boleh berbeda pilihan dalam menyikapi suatu hal. Intinya jangan memaksakan pendapat satu dengan lainnya. Kalau memang berbeda, ya berjalanlah bersama dalam perbedaan. Kuncinya saling menghargai dan bertoleransi. Ini mungkin salah satu sebab usia perkawinan bisa mencapai 25 tahun atau bahkan lebih, di samping cinta kasih tentunya.

Kini, Idul hanya bisa berharap agar sang ibu mengerti, anak-anaknya sudah cukup dewasa untuk memilih jalan hidup mereka sendiri, serta untuk menjunjung nilai-nilai dalam kehidupan keluarga mereka masing-masing. Tak apa jika Idul tak jadi Imam pilihan, Tuhan tahu, Idul tak seburuk tuduhan ibu.[MFR]

Lagu Aisyah dan Priska yang Katolik

Kalau narasi-narasi tentang Islam hanya disampaikan melalui artikel-artikel atau khotbah di masjid-masjid, maka itu tidak akan sampai ke generasi milenial muslim yang mungkin tidak menjangkau media tersebut. Apalagi generasi milenial yang non-muslim, hampir bisa dipastikan tidak akan sampai.

Habib Jafar

Sering sekali kita mendengar ungkapan, “Dalam Hukum Islam, Musik itu Haram”. Para ulama dan ustaz juga sering kita dengar membawakan topik ini dalam ceramah-ceramah mereka. Apa benar musik itu haram dalam kacamata Islam? Banyak sekali pendapat ulama mengenai hal ini; sebagian ulama mengatakan musik itu haram dan sebagian lagi mengatakan tidak apa-apa. Sampai hari ini urusan musik ini pun masih menjadi khilafiah di kalangan ulama. Masing-masing memiliki dalil untuk pendapatnya. Sebenarnya bukan topik mengenai halal atau haram yang ingin saya tuangkan dalam tulisan ini, karena sudah banyak sekali artikel yang membahas mengenai hal ini. Saya mau melihat dari perspektif yang lain.

Saya pernah menonton sebuah video di Youtube yang dirilis pada 17 April 2020 pada channel milik Habib Jafar, yaitu “Jeda Nulis”. Isinya adalah wawancara Habib Jafar dengan seorang non-muslim bernama Priska Baru Segu yang berasal dari Ende, Nusa Tenggara Timur. Dia adalah seorang stand up commedian atau lebih dikenal dengan istilah komika. Yang unik dari wawancara ini, ternyata Priska hapal lagu “Aisyah Istri Rasullullah”, lagu yang diciptakan oleh Razif bin Zainuddin, personil Projector Band dari negeri jiran Malaysia. Lagu ini begitu poluler, sehingga banyak sekali artis yang me-cover lagu tersebut.

Habib Jafar mengajukan pertanyaan, “Kenapa kamu tau-tau bisa hapal lagu Aisyah?” padahal Priska beragama Katolik. Dan Priska menjawab dengan mantap Insya Allah, hapal deh”. “Wow,…mantap,” demikian Habib Jafar mengomentari jawaban Priska yang menggunakan istilah ‘Insya Allah’ pada jawabannya.

Wawancara ini dilakukan Habib Jafar setelah sebelumnya beliau shooting bersama Priska ini dalam acara “Bincang Ramadan”, di mana Priska menjadi host dan Habib Jafar menjadi narasumbernya. Ini membuat Habib Jafar terkejut, karena menurut dia, belum pernah ada acara seperti itu, di mana host-nya adalah seorang non-muslim, ditambah lagi di saat break, Priska ini menyanyikan lagu “Aisyah Istri Rasulullah” dengan lancar. Ini yang membuat seorang Habib Jafar penasaran dan akhirnya membuat video wawancara tersebut.

Habib Jafar menjelaskan bahwa lagu tersebut dibuat pengarangnya karena mengikuti trend saat ini, yaitu keromantisan; banyak sekali kaum muda menggemari hal-hal yang romantis, seperti halnya drama Korea yang sangat digandrungi di tanah air karena penikmatnya dibawa naik turun emosinya. Pangsa pasar yang dituju memang kaum muda atau lebih dikenal dengan istilah milenial. Di Youtube sendiri lagu ini sangat booming dan pernah satu ketika 13 trending Youtube di Indonesia adalah tentang cover lagu ini seperti yang dinyanyikan oleh Nisa Sabyan, Sakir Daulay, Aya Ibrahim dan lain-lain.

Fakta tersebut jelas menunjukkan efektivitas terhadap sasaran yang akan dituju, yaitu kaum muda. Jangankan kaum muda muslim, bahkan yang non-muslim seperti Priska pun terpengaruh dengan tren lagu yang sempat viral tersebut. Dan saking kepo-nya, Priska ini browsing di Google untuk mencari tau segala sesuatu tentang sosok Sayyida Aisyah sebagai istri Rasulullah. Di sana Priska mengetahui bahwa istri Nabi ada 11 orang. Yang pertama adalah Sayyida Siti Khadijah dan yang kedua Sayyida Aisyah dan seterusnya.

Hal ini membuktian bahwa dakwah melalui lagu “Aisyah Istri Rasulullah” ini sangat efektif membuat seorang Priska yang notabene beragama Katolik mau mencari tahu informasi mengenai Nabi Muhammad SAW dan istri-istrinya. Terlepas apakah nantinya Priska ini mendapat hidayah atau tidak, minimal dia mendapatkan informasi yang benar mengenai Nabi Muhammad dan istri-istrinya, bagaimana karakter nabi, mengapa istri nabi sampai 11 orang dan lain sebagainya.

Pengakuan Priska dalam video itu menjelaskan bahwa dia baru tahu ternyata Nabi Muhammad SAW itu juga merupakan sosok yang romantis; beliau juga main lari-lari dan mencubit hidung istri juga seperti yang dijelaskan dalam lirik lagu tersebut. Sebelumnya, yang ada dalam pikiran Priska, Nabi Muhammad adalah pemimpin agama dengan sosok yang serius, seram, galak, suka berperang dan lain-lain.

Di video tersebut Habib Jafar juga menjelaskan kenapa media dia berdakwah salah satunya menggunakan media Youtube. Menurutnya, kalau narasi-narasi tentang Islam hanya disampaikan melalui artikel-artikel atau khotbah di masjid-masjid, maka itu tidak akan sampai ke generasi milenial muslim yang mungkin tidak menjangkau media tersebut. Apalagi generasi milenial yang non-muslim, hampir bisa dipastikan tidak akan sampai.

Jadi, umat muslim sudah seharusnya mengembangkan atau meluaskan jangkauan dakwah-dakwah Islam; dengan salah satunya adalah melalui musik/lagu dan menggunakan bahasa yang bisa dipahami generasi milenial. Caranya pun dengan menggunakan media-media saat ini, seperti sosial media yang memang saat ini hampir digunakan oleh semua kalangan.

Sudah bukan saatnya sekarang kita masih mempertentangkan apakah musik haram atau tidak, that’s so yesterday. Bagi kalangan yang masih mengatakan musik itu haram karena musik membuat orang lupa akan Tuhan, sebaiknya bisa bersikap lebih fleksibel. Kalau memang dikuatirkan musik akan menjauhkan kita dari Tuhan, maka marilah kita membuat musik atau lagu yang membuat kita ingat akan Tuhan, bukan malah mengharamkan musiknya. Sama halnya seperti pisau yang bisa dipakai untuk membunuh atau melukai orang lain, mari kita buat pisau itu berguna untuk hal positif, bukan jadi pisaunya yang diharamkan, tapi temukan cara agar pisau itu bermanfaat.

Seperti halnya Priska tadi, karena dia mendengar lagu “Aisyah Istri Rasulullah”, maka timbul keingintahuannya dan dia mencari serta membaca sumber-sumber lain. Dan hal tersebut akhirnya menghapus persangkaan Priska bahwa Nabi Muhammad SAW beristri banyak itu karena nafsu. Justru menurutnya, Nabi banyak menikahi janda-janda tua dengan tujuan menolong dan memuliakan, bukan karena nafsu.

Setelah menjelaskan kepada Habib Jafar, Priska mengaku jadi lebih mengenal sosok Nabi Muhammad SAW yang selama ini didengar bertolak belakang dengan apa yang dibacanya. Walaupun dia mengatakan, bahwa keimanan Katolik-nya belum tergoyang dengan membaca itu semua, minimal dia sudah mengetahui informasi mengenai Islam yang benar, itu yang terpenting. Karena memang dakwah itu seharusnya bertujuan memberikan informasi yang benar, bukan mengislamkan orang lain. Memberi hidayah itu bukan tugas dari pendakwah, itu adalah hak prerogatif Tuhan, demikian Habib Jafar menjelaskan.[MFR]