Orientasi Beragama di Tengah Pandemi dan Tantangan Bagi Studi Agama

Sumber Gambar: https://www.i24news.tv

“Terlepas dari berbagai kritik terhadap teori Allport tentang kematangan beragama dan dua macam orientasi beragama ekstrinsik dan intrinsik, tampaknya menarik jika para pegiat Studi Agama-Agama melakukan riset untuk mencari jawaban tentang kematangan dan orientasi beragama selama pandemi. “

Dr. Ahmad Muttaqin

Konsep orientasi beragama secara ekstrinsik dan instrinsik pertama kali dikemukakan oleh Gordon William Allport (1897–1967). Allport dilahirkan di Indiana, alumni Harvard University, pernah menjadi ketua jurusan Psikologi di Harvard dan presiden American Psychological Association pada 1939. Sepanjang kariernya, Allport mengkaji persoalan-persoalan kepribadian dan sosial, telah menelurkan berbagai teori tentang prasangka, kecurigaan, komunal, serta mengembangkan beragam tes kepribadian.

Dalam psikologi agama, Allport terkenal dengan teori Mature and Immature Religion. Pandangan Allport terhadap agama lebih positif dibandingkan para psikolog agama semacam Sigmund Freud dan William James. Seolah ingin mengkritik pandangan para psikoanalis tentang agama yang cenderung melihat agama secara negatif, dalam kata pengantar bukunya, The Individual and His Religion (1950), Allport menyatakan: “…I am seeking to trace the full course of religious development in the normally mature and productive personality. I am dealing with the psychology, not with the psychopathology of religion.” (hlm. viii). Dalam catatan Malony (1971), ada tiga kontribusi besar Allport dalam kajian psikologi agama: (1) perkembangan psikologi keagamaan pada individu; (2) pendefinisian kedewasaan beragama; dan (3) pengukuran dimensi keagamaan.

Di dalam The Individual and His Religion, Allport menguraikan perbedaan antara mature religion dan immature religion. Secara sederhana, keberagamaan yang matang/dewasa (mature religiosity) diantaranya dicirikan oleh sikap terbuka dan dinamis. Sedangkan keberagamaan yang “mentah”/tidak dewasa (immature religiosity) adalah keberagamaan yang kekanak-kanakan, salah satunya dicirikan oleh sikap mementingkan diri sendiri.

Dari kajian kematangan beragama ini Allport bersama koleganya, J. Michael Ross, pada tahun 1967 mengembangkan teori orientasi beragama yang diklasifikasikan menjadi intrinsik (I) dan ekstrinsik (E), melalui alat ukur tes skala orientasi keberagamaan. Penelitian Allport dan Ross ini dilakukan dalam rangka merespon temuan berbagai riset pada masa itu yang umumnya, secara simplistis, menyimpulkan ada korelasi positif antara agama dan prasangka rasial.

Allport dan koleganya mencoba mengklarifikasi bahwa yang berkorelasi positif dengan prasangka adalah mereka yang memiliki orientasi ekstrinsik dalam beragama, atau orang yang beragama secara instrumental dan utilitarian. Cara beragama semacam ini menjadikan agama hanya sebagai sarana untuk memenuhi tujuan tertentu, baik personal maupun sosial. Dalam kalimat Allport (1959), keberagamaan ekstrinsik:


“Religion is not the master-motive in the life. It plays an instrumental role only. It serves and rationalizes assorted forms of self-interest. In such a life, the full creed and teaching of religion are not adopted. The person does not serve his religion; it is sub-ordinated to serve him. The master-motive is always self-interest.”

Orientasi beragama ekstrinsik ditemukan pada orang yang menggunakan agama untuk memenuhi kebutuhan personal seperti memeroleh rasa aman, kenyamanan, dan perasaan “marem”, juga kebutuhan sosial seperti mendapatkan teman, dukungan masyarakat, status sosial, dll. Orientasi beragama semacam ini, menurut Allport, adalah bentuk dari beragama yang belum matang (immature religiosity).

Penelitian Allport dan Ross mengkonfirmasi bahwa orang dengan orientasi beragama intrinsik cenderung tidak memiliki sikap prasangka rasial. Orang yang memiliki orientasi beragama intrinsik (orientasi nilai, substantif) menjadikan agama sebagai jalan dan orientasi hidup. Orientasi beragama intrinsik merupakan bentuk beragama yang tulus, dihayati, tanpa pamrih dan matang (mature religiosity). Allport menjelaskan keberagamaan intrinsik: “…floods the whole life with motivation and meaning. It is no longer limited to single segments of self-interest. And only in such a widened religious sentiment does the teaching of brotherhood take root.”

Dalam risetnya, Alport menemukan empat macam kombinasi orientasi beragama: (1) Pure Intrinsic [intrinsik murni]; (2) Indiscriminately proreligious [pro-agama tanpa pandang bulu], (3) Nonreligious atau Indiscriminately antireligious [non-religius atau anti agama tanpa pandang bulu]; dan (4) Pure extrinsic [ekstrinsik murni]. Temuan Alport dan Ross menunjukkan bahwa kelompok (2) dan (4) memiliki prasangka rasial. Menariknya, yang paling tingggi prasangka rasialnya adalah kelompok 2. Kelompok 2 ini mengaku dalam beragama mereka menemukan dua hal sekaligus, seperti makna hidup (I) dan pengakuan sosial (E). Bila ukuran religiousitas itu dilihat dari frekuensi kehadiran di rumah ibadah (dalam penelitian Allport frekuensi kedatangan ke gereja), maka diperoleh data dalam bentuk kurva gunung yang menunjukkan bahwa prasangka rasial dimiliki oleh jamaah tipe “hit-and-miss” attenders (kadang datang kadang tidak, dalam istilah Jawa dhat-nyeng). Sedangkan jamaah yang konsisten selalu rajin datang ke rumah ibadah dan yang tidak pernah hadir sama sekali prasangka rasianya rendah. 

Lebih lanjut, Allport menjelaskan secara ringkas perbedaan orientasi beragama ekstrinsik dan intrinsik dalam uraian berikut:


Immature religion, whether in adult or child, is largely concerned with magical thinking, self-justification, and creature comfort. Thus it betrays its sustaining motives still to be the drives and desires of the body. By contrast, mature religion is less of a servant, and more of a master, in the economy of life. No longer goaded and steered exclusively by impulse, fears, and wishes, it tends rather to control and direct these motives toward a goal that is no longer determined by mere self-interest (1950, p. 63).

Dalam tradisi Sufi, keberagaamaan intrinsik, tulus, autentik dan tanpa pamrih tercermin dalam ungkapan Robiah Al-Adawiyah: “Wahai Tuhanku, jika aku menyembah-Mu karena takut kepada neraka-Mu, maka bakarlah aku dengannya. Jika aku menyembah-Mu karena mengharapkan surga-Mu, maka keluarkanlah aku darinya. Tetapi sekiranya aku menyembah-Mu semata-mata karena cintaku kepada-Mu, maka janganlah Engkau menutup keindahan wajah-Mu yang abadi dari pandanganku.”

***

Pada Ramadan hari ke-5 yang lalu, saya memeroleh pesan dari salah satu pengurus takmir musala perumahan yang meneruskan usulan dari salah satu jamaah yang bunyinya: “Bapak…, kalau (di Musala Perumahan) diadakan tarawih (berjamaah) dengan mengikuti prosedural kesehatan boleh enggak ya…?” Di atas pesan tersebut ada gambar hasil tracking yang menunjukkan bahwa perumahan kami berada di wilayah zona hijau.

Terhadap pertanyaan tersebut, saya jawab: “Maaf Bapak, saya kira masih beresiko, apalagi tren pasien Covid-19 masih naik dan sudah ada transmisi lokal di provinsi kita. Jadi, kita ikuti himbauan pemerintah, MUI dan alim ulama dari ormas-ormas Islam saja. Untuk sementara beribadah di rumah dulu. Desa/kelurahan kita mungkin berada di zona hijau, namun kita tidak bisa memastikan mobilitas warga selalu berada di zona hijau.”

Di beberapa grup WA yang saya ikuti, ada yang mengeluhkan bahwa ibadah Ramadan tahun ini terasa kurang marem sebab masjid tempat biasanya berjamaah ditutup. Pada grup WA yang lain ada yang dengan bangganya memamerkan kegiatan Ramadan 1441 H di masjid tempat ia tinggal masih normal seperti biasa mulai dari salatlima waktu, buka puasa, kajian, hingga tarawih, sambil menyebut bahwa mati dan sakit itu takdir Tuhan. Menariknya, mereka yang sering memamerkan tempat ibadahnya masih berjalan normal di masa pandemik ini juga gemar mengirimkan berita-berita tentang Covid-19 dari perspektif teori konspirasi.

***

Tulisan ini tidak akan mengulas masih aktifnya peribadatan di rumah ibadah sebagai bentuk perlawanan narasi mainstream tentang bahaya wabah Covid-19, namun mencoba mencermati masih tingginya hasrat beribadah bersama-sama (berjamaah) di tempat ibadah dari kacamata kematangan dan orientasi beragama versi Allport di atas.

Terlepas dari berbagai kritik terhadap teori Allport tentang kematangan beragama dan dua macam orientasi beragama ekstrinsik dan intrinsik, tampaknya menarik jika para pegiat Studi Agama-Agama saat ini melakukan riset untuk mencari jawaban tentang, misalnya, apakah yang saat ini masih kuat hasrat beribadahnya secara komunal cenderung memiliki orientasi beragama yang ekstrinsik (merasa lebih marem ibadahnya, menginginkan suasana gayeng, bangga bila jamaahnya banyak dan semarak dengan showoff di rumah ibadah)? Apakah umat beragama yang bisa menerima seruan untuk beribadah di rumah di tengah Pandemi Covid-19 ini adalah meraka yang orientasi beragamanya instrinsik? Apakah bisa dikatakan mereka yang menerima dengan ikhlas seruan tinggal dan beribadah di rumah di masa pandemik ini lebih matang keberagamaannya dibandingkan dengan mereka yang masih kuat hasrat beribadah jamaah di rumah ibadah?

Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas tidak bisa diperoleh hanya dengan asumsi dan dugaan. Diperlukan riset yang serius. Semoga ada pegiat Studi Agama-Agama yang tertarik melakukannya di waktu yang tepat saat ini.