Membaca India dan Euforia Keagamaan

Pandangan egoisme keagamaan yang mengabaikan kesehatan dan terkait langsung dengan kemudaratan, pada akhirnya akan berpotensi memberikan dampak buruk kepada umat manusia.

—– Bethriq Kindy Arrazy

Seandainya sejak awal negara India mampu menahan diri dari kegiatan yang bersifat massal di tengah upaya vaksinasi penduduknya, barangkali krisis gelombang kedua pandemi Covid-19 di negara tersebut tidak akan berakhir nahas seperti yang terjadi pada dua pekan terakhir ini.

Pemilihan umum, demonstrasi politik, dan kegiatan keagamaan Kumbh Mela diduga sebagai faktor terbesar lonjakan kasus Covid-19 di India. Kegiatan massal keagamaan yang menjadi sorotan adalah Kumbh Mela. Pemerintah India tidak mampu membendung dengan melahirkan kebijakan larangan untuk meniadakan sementara waktu kegiatan tersebut karena kuatnya tekanan agamawan setempat.

Lemahnya kepemimpinan tersebut menyebabkan Kumbh Mela tidak terbendung lagi untuk diselenggarakan. Kita bisa melihat euforia keagamaan berlangsung secara bebas; protokol kesehatan nampak tidak berlaku di sana. Warga India yang berjumlah ratusan ribu bahkan mencapai jutaan terlihat bersuka cita menjalani setiap prosesi Kumbh Mela.

Tentang Kumbh Mela

Kumbh Mela, sebagaimana dikisahkan dalam mitologi Hindu, mencitrakan Dewa Wisnu sebagai penjaga alam semesta yang melakukan pertempuran dengan setan-setan di atas kendi berisi amrit. Dalam pertarungan tersebut Dewa Wisnu keluar sebagai pemenang dengan membawa candi tersebut terbang bersama makluk besar menyerupai burung garuda. Saat terbang itulah, empat tetes nektar jatuh ke empat kota kuno yakni Prayagraj, Nashik, Haridwar, dan Ujjain.

Kumbh Mela pada bagian kata Mela dalam bahasa Hindi memiliki arti adil. Di keempat kota kuno itulah kemudian tradisi Kumbh Mela diadakan secara bergilir sebagai manifestasi keadilan dalam penyelenggaraan. Selama 12 tahun, Kumbh Mela diadakan sebanyak empat kali. Artinya, dalam penyelenggaraan dilakukan sebanyak 3 tahun sekali di masing-masing keempat kota tersebut.

Secara ritus keagamaan, Kumbh Mela sesungguhnya memerintahkan umat Hindu di India untuk membasuh beberapa bagian tubuh hingga mandi di perairan suci tempat Sungai Gangga, Yamuna, dan Saraswati bertemu. Ini yang diyakini oleh sebagian besar umat Hindu di India dapat mencapai moksha atau penyelamatan dari siklus hidup dan mati.

Dalam sepanjang waktu terselenggaranya Kumbh Mela, terdapat tiga atau empat hari yang dianggap spesial seperti membawa keberuntungan dan membebaskan dosa masa lalu. Hari-hari yang dianggap spesial ini memiliki kesamaan dengan malam Lailatul Qodar, dalam keyakinan agama Islam yang turun pada 10 hari terakhir di bulan Ramadan pada tanggal-tanggal ganjil.

Pada 2019, Kumbh Mela turut dihadiri sebanyak 120 juta penduduk India. Ini yang menyebabkan tradisi Kumbh Mela termasuk salah satu tradisi ziarah terbesar di dunia. Berdasarkan keunikannya itulah, UNESCO pada 2017 memasukannya sebagai daftar Intangible Cultural Heritage of Humanity.

Jadi kemudian dapat dipahami betapa sakral dan pentingnya tradisi Kumbh Mela bagi warga India. Sekalipun sesungguhnya memaksakan kegiatan keagamaan yang bersifat massal di tengah kondisi pandemi Covid-19 juga tidak tepat untuk dilakukan, terlebih bila tanpa standar protokol kesehatan yang ketat. Hal inilah yang kemudian menyebabkan gelombang penyebaran Covid-19 di India semakin meluas dan memakan korban

Konteks Indonesia

India dikenal sebagai negara dengan penduduk beragama Hindu terbesar di dunia. Sama seperti Indonesia yang dikenal sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia. Kedua negara memiliki kesamaan sebagai negara dengan penduduk yang taat dengan agamanya masing-masing. Termasuk sekaligus mempercayai bahwa ajaran agama bisa menjadi solusi atas permasalahan di dunia, salah satunya pandemi Covid-19.

Berkaca pada hal tersebut, dalam beberapa hari terakhir ini kita juga dikejutkan dengan peristiwa pengusiran seorang jamaah oleh pengurus Masjid Al-Amanah di Medan Satria, Kota Bekasi, pada Selasa lalu, 3 Mei. Hal ini disebabkan karena jamaah tersebut salat dengan menggunakan masker. Meski kemudian pengusiran berlangsung secara keras dengan dalih adab dalam salat, sekaligus pembeda antara di masjid dan di pasar.

Tak hanya itu, kita juga perlu mengingat bahwa sejak kasus Covid-19 masuk di Indonesia pada Maret 2020 —sebagian agamawan kita juga menyerukan agar lebih takut Tuhan daripada virus bernama Covid-19. Akibatnya, kasus Covid-19 klaster masjid bermunculan pada pertengahan 2020. Ketakutan sebagai bentuk manifestasi keimanan kepada Tuhan, rasanya tidaklah tepat bila disandingkan dengan keberadaan Covid-19.

Di sinilah kemudian sebaiknya nalar keagamaan juga perlu membaca realitas sosial dalam kacamata keduniawian secara progresif dan komprehensif. Bahwa yang tengah terjadi saat ini, dunia sedang tidak dalam kondisi baik yakni tengah terjadi pandemi Covid-19. Wabah ini menyebar secara sporadis di hampir seluruh sudut dunia. Ajaran agama, termasuk Islam harus memberikan kesadaran pentingnya menjaga jiwa dan raga umatnya.

Di tempat lain seperti di Masjidil Haram, Mekkah, Arab Saudi, juga memberlakukan peraturan menggunakan masker saat salat berlangsung. Setahun lalu misalnya, banyak ulama ternama di kawasan Timur Tengah seperti Arab Saudi, Mesir, Kuwait, Uni Emirat Arab, Oman, Palestina, Lebanon, Yordania, yang memberikan fatwa tentang kelonggaran Salat Jumat digantikan Salat Zuhur dan Salat Idulfitri digantikan salat di tempat masing-masing.

Progresifitas nalar keagamaan di negara-negara Timur Tengah tersebut, tentu dilakukan berdasarkan pertimbangan yang mendalam berdasarkan aspek agama yang berkelindan dengan aspek sosial. Pandangan egoisme keagamaan yang mengabaikan kesehatan dan terkait langsung dengan kemudaratan, pada akhirnya akan berpotensi memberikan dampak buruk kepada umat manusia.

Kita bisa ambil contoh, sebagaimana kasus Covid-19 klaster Tarawih yang terjadi di Dusun Yudomulyo, Desa Ringintelo, Kecamatan Bangorejo, Kabupaten Banyuwangi. Setidaknya sebanyak 53 orang dinyatakan positif Covid-19. Dari jumlah tersebut sebanyak tujuh orang dirawat secara intensif di rumah sakit, enam orang dinyatakan meninggal dunia —sedangkan sisanya sebagai orang tanpa gejala dianjurkan untuk isolasi mandiri dengan pengawasan yang ketat. Artinya, situasi gejolak pandemi yang terjadi saat ini, terutama dalam kegiatan keagamaan perlu untuk memperhatikan aspek kesehatan dengan mematuhi protokol kesehatan yang ketat.

Dalam kurang dari seminggu ke depan umat muslim akan menyambut Idulfitri umat muslim, hari raya Idulfitri merupakan momen kemenangan spiritual setelah sebulan penuh umat muslim melawan hawa nafsu di bulan Ramadan. Dalam kesempatan tersebut juga akan berpeluang terjadinya euforia keagamaan yang berpotensi menciptakan kerumunan massal atau transmisi lokal melalui aktivitas mudik ke kampung halaman.

Saya termasuk yang mendukung kebijakan pemerintah terkait larangan mudik yang di sepanjang tanggal 6 Mei hingga 17 Mei mendatang. Pasalnya, Presiden Jokowi menyebutkan berdasarkan pengalaman mudik Idulfitri pada Mei 2020, secara akumulasi terdapat peningkatan kasus Covid-19 sebesar 93 persen.

Angka tersebut tidaklah kecil mengingat kenaikan nyaris menyentuh 100 persen. Kenaikan kasus Covid-19 tersebut dapat diketahui pada dua pekan setelah puncak libur panjang hari raya Idulfitri. Terlebih saat ini Covid-19 mengalami beragam mutasi yang tengah terjadi di Inggris, India, Brazil, dan Afrika Selatan.

Rasanya dengan pengalaman Idulfitri tahun lalu dan tsunami Covid-19 yang menerjang India bisa menjadi pelajaran dan pertimbangan kita bagaimana memaknai euforia keagamaan dalam hal ini Idulfitri di Indonesia. Tidak mudik bukan berarti akan mereduksi makna hari kemenangan kita. Setidaknya spirit bulan Ramadan, ihwal menahan diri dan menahan hawa nafsu tetap bertahan hidup dalam diri kita masing-masing. Selain menjaga diri, kita juga wajib menjaga keluarga kita di kampung halaman. Pilihan kembali kepada Anda. Dan, pilihan terbaik adalah berdasarkan perenungan yang mendalam.[MFR]

Deradikalisasi Yoga [2]

Perhatian orang pada yoga tidak terlepas dari maraknya gaya hidup beragama di tanah air ini. Pada orang-orang tersebut, agama tidak melulu dipahami hanya sebatas simbol dan teks, tetapi lebih kepada hakikat atau esensi, yaitu sifat kerendahan hati pada sesuatu yang transenden, atau kepasrahan kepada kebenaran mutlak.

—– Yudhi Widdyantoro

Walaupun sering dikatakan bahwa yoga sifatnya universal dan dapat diikuti semua orang, tentunya dalam kasus-kasus tertentu ada pula keterbatasannya, yang umumnya karena sakit, atau sesuai dengan siklus kehidupan, seperti perempuan yang sedang mengalami masa haid tidak dianjurkan melakukan postur-postur inversion, seperti headstand (salamba sirsasana: salamba =topangan, sirsa=kepala), handstand (adhomuka vrikasana: adhomuka = pandangan menghadap ke bawah, vrika = pohon), bahkan shoulderstand (salamba sarvangasana: sarva = serba, semua, menyeluruh).

Perlu ada komunikasi yang baik antara murid dan guru. Peserta atau murid yang datang berlatih seharusnya memberitahukan terlebih dahulu pada pelatih kalau ada sakit atau problem fisik yang sedang dialami. Asana yang dilatih sesungguhnya lebih untuk mendengarkan tubuh sendiri dan merasakan sensasi serta rasa yang timbul ketika sedang melakukan postur itu. Persis seperti meditasi. Pergunakanlah setiap melakukan postur itu sebagai cermin untuk melihat diri kita sendiri, seperti kutipan di atas, yoga is a mirror to look at ourselves from within.

Jika kita masih dalam tahap awal berlatih, sebaiknya perlu mendapat bimbingan instruktur yang telah belajar lebih dulu dan berpengalaman yang akan memberi pemahaman dalam melakukan postur agar mendapatkan manfaat yang lebih maksimal, selain agar terhindar dari risiko cedera. Karena yoga bukanlah olahraga kompetitif, dan semata-mata untuk pengembangan diri sendiri. Dalam melakukan postur-postur itu, janganlah memaksakan diri. Sesuaikan tingkatan yang yoga center tawarkan dengan kemampuan kita masing-masing. Di sini memang diperlukan juga sifat kesabaran.

Di dalam berlatih asanas, pergunakanlah saat itu untuk berlatih meningkatkan kesadaran akan keberadaan diri kita sendiri, mengembangkan pemahaman mind-body connection, akan hubungan tubuh dan pikiran, serta rasa yang saling berkaitan. Dalam suatu kesempatan Bhikkhu Sri Pannyavaro berkata, “Kalau kita ingin memahami kehidupan, maka diri kita sendiri inilah bahan pengamatan yang sangat baik. Tidak perlu mencari jauh-jauh. Bukankah diri kita adalah kehidupan yang utuh juga? Dan kita sendiri mengalami kehidupan ini.”

Di dalam melakukan asana, kalau kita perhatikan dan rasakan, tentunya ada satu bagian atau sisi dari tubuh kita yang tidak sama persis, baik kekuatan maupun juga kelenturannya. Tentunya kita harus memperhatikan sisi atau bagian tubuh yang masih ada kekurangannya tersebut. Kita akan menzalimi diri kita sendiri jika hanya focus untuk menguatkan atau membuat lentur satu sisi yang relatif sudah lebih baik. Justru malah kita harus memberi perhatian lebih ekstra pada sisi yang dirasa masih kurang agar mencapai keseimbangan. Jika kita sadari ini, dan kemudian kita berada pada postur itu untuk sekian waktu tertentu, merasakan semua fenomena dan sensasi yang timbul, baik yang datang lewat indra kita, ataupun pikiran dan rasa: sakit, tidak nyaman, ataupun kenyamanan sebagai akibat dari melakukan postur tersebut, sadari saja, kelak kita akan merasa seperti dalam bermeditasi.

Dalam bermeditasi, praktisi yoga akan dapat mengatasi waktu, baik waktu kronologis maupun waktu psikologis. Mengutip BKS Iyengar, guru besar Iyengar Yoga: “Our body is the bow and the asanas are the arrows to hit the target…liberation, Samadhi”. Tubuh kita adalah seperti busur dan latihan asana adalah anak-anak panah yang siap dilesatkan untuk mencapai sasaran kita, pembebasan dan penerangan batin. Terbebas dari pengaruh atau perbuatan masa lalu, baik yang buruk maupun yang menyenangkan, dan juga ketakutan akan masa depan yang belum datang. Kita sendiri adalah sang pemanah itu, pengendali atas diri kita sendiri. Lupakan perbedaan, fokus pada latihan. Sesungguhnya yoga adalah rahmatan lil alamin, karunia bagi alam semesta dengan segenap isinya. Sekarang, tantangan para praktisi yoga adalah menjawab pertanyaan, apakah yoga dapat menjadi sarana berlatih menjadi manusia bebas namun tetap dalam koridor demokrasi tanpa melupakan kodrat perbedaan dari setiap manusia. Seharusnya bisa. Meminjam istilah Gus Dur: Gitu aja kok repot….!

Apa yang sudah lewat, entah baik, entah buruk, entah menyangkut diri kita sebagai individu, entah diri kita sebagai anggota suatu kelompok (agama, suku, bangsa, dsb) semua itu bermanfaat untuk memberikan suatu identitas dan memelihara identitas itu bagi diri kita. Manusia biasanya membutuhkan suatu identitas, yang dengan itu ia mengenali dirinya, dan melihat dirinya di dalam masyarakat, di dalam sejarah. Manusia tidak sanggup melihat dirinya tanpa identitas, tanpa harga diri, tanpa sesuatu yang memberi makna pada eksistensinya.

Untuk hidup di masyarakat, mungkin semua itu ada artinya dan perlu. Namun, dilihat dari perspektif yang lebih luas dan lebih dalam, dari perspektif pencerahan dan pembebasan, semua itu tidak ada artinya, karena tidak kekal, alih-alih malah memperkuat aku/ego, sekalipun secara positif. Selama si aku memiliki identitas yang dipertahankannya, seberapapun “baik”-nya, selama itu ia tidak akan pernah bebas!

Perhatian orang pada yoga tidak terlepas dari maraknya gaya hidup beragama di tanah air ini. Sebagian orang menganggap itu karena adanya peningkatan kesadaran orang yang beragama pada hal-hal yang subtil. Pada orang-orang tersebut, agama tidak melulu dipahami hanya sebatas simbol dan teks, tetapi lebih kepada hakikat atau esensi, yaitu sifat kerendahan hati pada sesuatu yang transenden, atau kepasrahan kepada kebenaran mutlak.

Dalam bahasa Cak Nur, panggilan akrab Nurcholish Madjid, sebagai al-hanafiyyah al-samhah, mencari kebenaran yang lapang dan toleran serta jauh dari sifat fanatik dalam beragama. Mereka yang sepaham dengan cara berpikir Cak Nur agak alergi pada gejala fundamentalisme, karena mereka terbiasa beragama dengan cara inklusif. Kajian mereka lebih filosofis. Karenanya, perjumpaan atau dialog dengan agama lain bukan sesuatu yang tabu. Adanya semacam proses emanasi spiritualitas ini, menjadi awal pembawa berkah bagi perkembangan yoga. Orang-orang seperti ini akan dengan ringan melangkahkan kakinya “melompati pagar tabu agama” untuk mengunjungi aktivitas keagamaan atau kegiatan spiritualitas dari agama atau tradisi yang berbeda.

Yang hampir sama dengan derap perkembangan keagamaan, adalah sebuah gelombang kultural yang sangat konsern pada spiritualitas, yang biasa disebut New Age. Walaupun di barat New Age sudah marak di era 60-an hingga 70-an, seperti adanya kelompok yang lebih dikenal sebagai flower generation (generasi bunga) namun, entah bagaimana di Indonesia, pada era 90-an gelombang New Age ini mulai dirayakan lagi. Panggilan “pengembaraan ke Timur” seperti suara-suara yang didengungkan kembali. 

Hal lain yang menjadi vitamin perkembangan yoga adalah kebiasaan yang dibawa dari anak-anak Indonesia yang pernah belajar di luar negeri, khususnya Amerika Serikat. Anak-anak dari keluarga A+ atau kelompok paling atas dari menengah-atas yang ketika sekolah atau tinggal di Amerika sudah mengenal dan berlatih yoga, dan kemudian merasakan manfaatnya. Mereka meneruskan kebiasaan hidup itu sekembali ke tanah air. Selain mereka, tentunya banyak juga orang Indonesia, yang walaupun tidak ke Amerika, tapi cukup terbuka pada perkembangan gaya hidup mondial, turut menjadi amunisi ampuh bagi ledakan yoga di kota-kota besar Indonesia.

Di Amerika, yoga tentunya lebih dahulu berkembang dibanding dengan Indonesia. Gairah orang Amerika untuk beryoga sudah melampaui untuk sekadar kebutuhan exercise atau kesehatan fisik, tapi sudah menjadi lifestyle, gaya hidup. Selain yoga centers yang sudah menyebar hampir di seluruh pelosok negeri, kelengkapan pendukung latihan pun turut tumbuh menyertainya, seperti t-shirt, celana, matras yoga, atau props (benda-benda untuk membantu latihan fisik), program retreat, workshop, teacher training, bahkan asuransi untuk para praktisi diiklankan dengan marak di majalah, seperti Yoga Journal, Living Yoga yang diterbitkan di negeri Paman Sam ini. Asosiasi-asosiasi yoga dari berbagai tradisi: Iyengar Yoga, Ashtanga Yoga, dan sebagainya dibentuk di hampir setiap negara bagian (state).

Least but not last, keberadaanInternational Yoga Alliance (IYA) yang dikreasi oleh orang-orang Amerika. Hampir seperti Perserikatan Bangsa-bangsa, organisasi ini seolah ingin menjadi payung bagi seluruh aliran dan tradisi yoga yang ada di muka bumi. Mereka membuat standar dan ketentuan, seperti kurikulum dalam menyelenggarakan teacher training, pelatihan untuk menjadi pelatih yoga. Harus diakui, bahwa dalam membuat sistematika, mengemas dan kemudian “memasarkannya” orang Amerika sangat piawai, walaupun kita tahu, yoga berasal dari India, ribuan kilometer di seberang benua Amerika. [MFR]

Deradikalisasi Yoga [1]

Pesan yang dibawa yoga sangat universal; tidak membedakan agama, jender, ras, golongan, usia, status sosial, atau label-label lainnya. Semua dapat berlatih yoga. Semua punya hak yang sama untuk mengambil manfaat dari yoga.

—– Yudhi Widdyantoro

Kasus kekerasan dan sikap intoleransi di masyarakat semakin sering terjadi. Kasus-kasus tersebut, dan juga kemudian tindak kriminal yang dilakukan oleh suatu kelompok pengikut agama, serta keinginan mengubah dasar negara pada agama tertentu nampaknya menjadi salah satu lembaran nyata dari kisah perjalanan bangsa Indonesia. Gambaran itu menjadi kontradiktif dengan keinginan para elite politik yang sering menekankan perlunya jati diri bangsa. Pemandangan di dalam negeri yang seperti ini terjadi juga di luar negeri secara global, yaitu gejala radikalisasi dan fundamentalisme agama.  

Di hampir semua agama dan sistem kepercayaan selalu ada gerakan purbanisasi. Suatu arah pergerakan dari para pengikutnya yang selalu mengacu pada masa awal dan daerah dari agama dan sistem kepercayaan itu bermula. Figur sentral rasul, sebagai pembawa wahyu bersama tatanan masyarakat yang dibangun akan menjadi rujukan utama, baik itu ajaran ideologis atau juga etika dan budayanya, termasuk cara berpakaian, etiket dan tatakrama kehidupan dalam keseharian, dan juga cara-cara dakwah untuk memperluas pengaruhnya, harus diikuti secara persis.

Seiring dengan perjalanan waktu, di dalam masyarakat yang berkembang dan menjadi multikultur, agama dan sistem kepercayaan akan selalu diterima dengan cara beragam. Ada semacam perebutan makna pada keyakinan yang mereka anut, walau berasal dari satu sumber yang sama. 

Situasi ini bisa diumpamakan seperti saat kita memasuki hutan di gunung. Di dalam hutan tumbuh beragam pepohonan. Kita akan menjumpai pohon-pohon besar menjulang bagai raksasa dengan batang yang kokoh; pohon-pohon tanaman lunak yang menghasilkan buah-buahan yang dapat dimakan; ada pula tanaman merambat, tumbuhan beledu, sampai jamur dan lumut; tidak ketinggalan pula hewan, burung dan unggas. Semua mahluk yang hidup ini bertahan dan tetap eksis karena adanya salingketergantungan antara satu dengan yang lain. Masing-masing mereka ada karena keberadaan yang lainnya. Mereka saling menghormati sesuai dengan bagian dan porsinya masing-masing. Lumut, benalu atau humus, rayap dan semut sekalipun, tetap saja ada manfaatnya bagi kelangsungan hidup keseluruhan ekosistem di hutan itu.

Sekarang perhatikan juga sebuah pohon. Suatu pohon yang tumbuh menjulang tentunya bermula dari akar di dalam tanah dan batang yang tegak dan kokoh. Pohon yang sehat akan menghasilkan bunga dan buah yang bermanfaat bagi mahluk lain. Semua itu bermunculan dari cabang dan ranting yang menyebar secara merata dari sebuah pohon. Di dalam khasanah yoga, akar dan batang pohon adalah fondasi filosofis Ashtanga Yoga dari Patanjali, yaitu yama dan niyama, suatu latihan disiplin diri dan pemahaman moral dalam hidup bermasyarakat, seperti: ahimsa = tidak melakukan tindak kekerasan; satya = kejujuran; asteya = tidak korupsi, menumpuk harta, atau mencuri apapun dari yang bukan haknya; brahmacharya = kontrol diri dari tindakan asusila; aparigraha = hidup sederhana sesuai kebutuhan.

Sedangkan batang pohon yang bentuknya beragam, ada yang lurus, lengkung, zig-zag, memanjang, bengkok, semua dinamakan cabang dari batang pohon. Itulah analogi asanas; postur yoga. Asana yang diajarkan guru-guru dari berbagai aliran itu tentunya sama, demikian juga nama-nama dari asana itu sama persis. Sekadar menyebut contoh dari asana dalam bahasa sanskrit: tadasana atau postur gunung, bhujangasana sebagai postur ular, salabasana berarti postur belalang dalam bahasa Indonesia, atau postur pohon adalah vrkasana jika disebut oleh guru yang menggunakan bahasa sanskrit.

Di dalam praktisi yoga, melakukan rangkaian postur-postur yoga bisa terlihat juga keragamannya pada style atau aliran, atau tradisi dalam Hatha Yoga. Sekadar menyebut aliran yang dikenal di Indonesia adalah: Classic Hatha Yoga, Yin Yoga, Yin-Yang Yoga, Sivananda Yoga, Iyengar Yoga, Hatha Iyengar, Ashtanga, Vinyasa Flow, Bikram atau Hot Yoga, Jivamukti, Anusara Yoga, Kundalini, Sri-Sri Yoga, Ananda Marga, Yogalates, Funky Yoga, dan lain sebagainya yang masih banyak sekali. Semua dalam kerangka Hatha Yoga, untuk sekadar membedakan dengan Raja Yoga, yang dalam masa awal perkembangan yoga, filsafat atau seni hidup ini, menekankan pengajarannya pada kontrol mental (mentally controle) dan nilai-nilai moral dengan prakteknya lewat meditasi dan sistem perkuliahan (talk).

Jika yoga center memberi pengajaran filosofi yoga, selain hanya asana, latihan gerak postur yoga, dan pranayama atau latihan pernafasan tentunya akan sama bahan yang diajarkan. Aliran dalam yoga ini seperti kulit buah pisang, sementara yoga itu sendiri adalah daging dari buah pisang yang kita makan. Ada orang yang lebih suka pisang ambon, atau pisang mas, sementara ada yang karena mengidap sakit tertentu dokter malah melarangnya, atau ada juga orang yang sangat suka makan pisang goreng ketika sedang panas kinyis-kinyis seperti selesai diangkat dari penggorengan, ada yang ketika makan lebih senang diiringi dengan musik, ada yang merasa tidak masalah kalau makan pasang sambil jalan atau lompat-lompat. Semua dikembalikan kepada masing-masing peserta yang seleranya beragam.

Yoga itu juga dapat dianalogikan sebagai spiritualitas dan aliran-aliran dalam yoga sebagai agama yang terorganisir (organized religion). Aliran yoga dan agama itu dicocok-cocokan. Adalah sesat pikir yang besar kalau seorang guru yoga, atau suatu aliran yoga yang mengklaim yoganya akan cocok untuk semua orang, dan karenanya sebagai yang paling baik, the best style. Hubungan antara praktisi yoga dengan style yang mereka ikuti persis seperti pengikut suatu agama. Ada yang mengikuti tradisi atau ritual agama dengan sangat ketat, tapi ada juga berpikir sangat progresif dan liberal, atau ada juga yang beragama dengan mengambil bentuk fundmental di satu sisi, dan sekular di sisi lainnya.

Terhadap perbedaan itu, alangkah baiknya kalau para praktisi bisa menerima dan terbuka terhadap keberagaman. Tidak perlu yoga center atau para instrukturnya menuntut sikap fanatik dan kataatan tanpa reserve pada anggotanya untuk hanya berlatih pada satu style, kemudian membuat perjanjian dengan studio lainnya secara ekslusif, untuk hanya berhubungan berdua, tidak diperkenankan lagi berhubungan dengan studio selain dengannya. Jika ini dipahami, sesungguhnya yoga dapat mengajarkan kita untuk lebih bersikap pluralis, bukan malah membangun benteng puritansi.

Pesan yang dibawa yoga sifatnya sangat universal, tidak membedakan agama, jender, ras, golongan, usia, status sosial, atau label-label lainnya. Semua dapat berlatih yoga. Semua punya hak yang sama untuk mengambil manfaat dari yoga. Sudah saatnya para praktisi yoga menderadikalisasi cara berhubungan dengan guru dan tradisinya dengan mengikuti salah satu pilar atau koridor dalam berlatih, yaitu vairagya, detachment, ketidakmelekatan.

Memang tidak dapat dipungkiri, dan hampir pasti bahwa dalam melakukan asana, setiap aliran yoga bisa sangat berbeda. Ada yang setiap postur dilakukan dengan harus menahan sekitar dua atau tiga menit atau bahkan lebih disertai dengan penjelasan untuk melakukannya dengan informasi yang banyak, ada yang perpindahan geraknya dari satu postur ke postur lainnya dalam satu rangkaian yang dilakukan dengan cepat dan melompat, ada yang mensyaratkan harus berlatih dalam suhu panas tertentu untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Semua sah-sah saja, tidak ada yang salah atau lebih benar. Masing-masing tentunya mempunyai alasan filosofis dibalik melakukan itu semua. Sekali lagi, semua masih melakukan postur yoga yang sama. Semua pilihan dikembalikan ke masing-masing peserta, praktisi yoga yang melakukannya. Namun perlu diingat, untuk orang yang baru akan memulai berlatih yoga, sebaiknya sebelum bergabung ke suatu yoga center carilah sebanyak mungkin informasi untuk menentukan kelas yang paling sesuai dengan minat, harapannya dan karakter atau kepribadian diri sendiri.

[Bersambung]

HRS dan Tantangan Negara Modern

Fenomena HRS adalah sebuah gejala khas Abad ke-21 di negara berkembang, di mana demokrasi melaju pesat tanpa diimbangi literasi politik warga.

—– Imam Malik Riduan

Lautan manusia memadati Bandara Soekarno Hatta pada 10 Nopember 2020. Mereka datang menyambut seseorang yang telah lama dinantikan; mereka berhak untuk itu. Pada saat yang sama, karena peristiwa itu pula, ribuan manusia lain kehilangan hak; berbagai perjalanan penting harus tertunda; bahkan, perkara fatal mungkin saja bisa terjadi karena itu. Pertanyaannya, kepada kelompok warga yang mana negara harus berpihak? Menertibkan massa yang sedang mengalami euforia, ataukah membiarkan ribuan manusia menggelar reuni di masa pandemi? Begitulah negara modern, ia akan selalu dihantui pekerjaan sulit dalam mendamaikan perseteruan antara fakta dan norma.

Kemacetan di jalan tol dan kelumpuhan di bandara akibat lautan massa itu, meminjam istilah Habermas, adalah patologi sosial yang tidak terantisipasi. Ia adalah gejala rusaknya ketertiban umum yang terjadi karena peristiwa sosial tertentu. Siapapun harus sangat berhati-hati dalam merespons kedatangan HRS dan segala peristiwa yang mengiringinya. Peristiwa ini serba luar biasa, terlepas dari penilaian baik atau buruk terhadapnya.

Menyambut keluarga, guru atau siapapun di bandara adalah hak setiap warga. Sebagai negara demokratis, Indonesia harus menjamin keamanan para penyambut HRS. Akan tetapi, sesuatu yang harus dimengerti bahwa penyambutan tamu di bandara dengan melibatkan ribuan orang yang mengacungkan poster-poster bernada kritis tentu bukan hal lazim. Inilah mengapa saya menyebut peristiwa ini sebagai tantangan negara modern. Jika disepakati bahwa hukum adalah panglima di negara modern, lalu hukum seperti apa yang bisa diterapkan untuk menertibkan peristiwa sosial yang membenturkan dua hak masyarakat sipil itu.

Peristiwa seperti inilah yang kiranya membuat pemerintah di banyak negara perlu merumuskan sebuah undang-undang baru yang mengatur peristiwa sosial yang cenderung patologis. Tren ini muncul di banyak negara. Terwindt  (2013) yang melakukan penelitian di Amerika, Chile dan Spanyol mencatat bahwa ternyata tidak hanya pemerintah, sebagian warga tampaknya juga menginginkan pemberlakuan undang-undang itu, apapun bunyinya, yang penting dapat menjamin haknya tidak dilanggar. Masyarakat tidak mau tahu soal benturan kepentingan di dalamnya; mereka hanya menginginkan negara aman, itu saja!.

Saya menduga kehadiran undang-undang Ormas atau kelonggaran definisi istilah-istilah krusial dalam undang-undang antiterorisme muncul karena patologi sosial ini. Karena ketidakmampuan negara mencari jalan keluar, maka dipakailah instrumen hukum dan keamanan. Tentu saja ini bukan situasi yang ideal dalam kehidupan berdemokrasi. Sayangnya, sistem demokrasi telah dipilih dan kita harus konsisten. Sementara itu sistem-sistem lain, termasuk pemerintahan berdasar agama, telah lama gagal dan tampak tidak lebih menjanjikan, setidaknya sampai tulisan ini dibuat.

HRS adalah tokoh yang unik. Ia dapat dibaca dari berbagai dimensi. Agama dan politik adalah salah satu sudut pandang yang kiranya dapat dijadikan pendekatan. Hal ini mengingat bahwa HRS mendapatkan dukungan publik melalui legitimasi agama pada satu sisi, dan pada sisi yang lain potensi itu yang menjadi magnet bagi HRS untuk dekat dengan kekuatan politik. Fenomena HRS adalah sebuah gejala khas Abad ke-21 di negara berkembang, di mana demokrasi melaju pesat tanpa diimbangi literasi politik warga. Realitas seperti ini yang tidak diantisipasi oleh para filsuf dan sosiolog klasik. Mereka mengira bahwa liberalisme benar-benar akan menggerus kekuatan agama.

Dugaan itu ternyata meleset, dunia sedang mengalami apa yang disebut sebagai postsecular;  sebuah situasi ketika agama datang merebut kembali ruang publik yang dikuasai oleh liberalisme. Dalam situasi seperti sekarang ini, fakta dan norma bertarung secara sengit. Singkatnya, norma mengatakan bahwa mengganggu ketertiban umum dan mengancam stabilitas adalah sebuah pelanggaran hukum. Sementara fakta berkata lain, tidak peduli kekuatan kapital mana yang memberikan stimulasi, jutaan orang datang menyambut HRS dan mereka tidak merasa bersalah telah mengakibatkan ribuan hak orang lain terampas.

Dalam situasi seperti ini semua pihak harus rela menelaah keyakinan masing-masing. Kaum sekularis tidak bisa menafikan agama untuk masuk ke ruang publik. Agama pernah begitu lama diyakini menjadi satu-satunya sumber kebenaran. Ratusan tahun lamanya, bahkan sampai saat ini jejaknya masih terlihat jelas; agama pernah menjadi sumber utama aturan di berbagai negara. Alam pikir ketika itu menganggap bahwa menjadikan agama sandaran konstitusi adalah logis. Siapapun yang menentang logika agama, senaif apapun itu menurut pandangan Abad ke-21, ia akan berhadapan dengan negara. Negara pernah menjadi pembela agama yang militan.

Demikian juga, kaum beragama tidak boleh semena-mena mengabaikan kesepakatan bersama atas nama membela kepentingan agama. Evolusi logika sosial dan pluralitas agama adalah fakta yang menuntut siapapun untuk lebih arif, tak terkecuali para pemuka agama. Pemerintah harus mendengar suara kelompok agama, seradikal apapun mereka, tetapi kaum beragama juga harus belajar mengemas gagasan mereka dengan bahasa yang lebih universal jika ingin ide mereka diterima. Radikalisme agama jangan sampai merembet menjadi radikalisme politik. Di sinilah ujian berat kaum beragama, seberapa jauh mereka dapat menjadi rahmat bagi dunia.

Selamat datang HRS, semoga kebahagiaan, petunjuk dan ampunan Allah SWT menyertai.[MFR]

Menakar Potensi Media untuk Agama di Masa Corona


Di antara potensi ancaman media bagi agama adalah penyebaran berita bohong (hoax), info sampah, pengaburan realitas, kemunculan para “pseudo-ulama”atau “ulama-ulama karbitan” yang hanya bermodal kepiawaiannya bermedia walau tanpa akar keilmuan yang jelas, hingga hilangnya kontrol terhadap simbol-simbol keagamaan.

Fazlul Rahman

Semenjak makin merebaknya Covid-19 di Indonesia, yang diikuti dengan pelbagai kebijakan pembatasan, kondisi keagamaan masyarakat Muslim Indonesia menunjukkan fenomena “new normal”; banyak Muslim dari pelbagai kalangan semakin intens berinteraksi dengan media untuk kepentingan kegiatan dan urusan keagamaan mereka. Terlepas dari faktor pembatasan yang ada, atau memang latah, menarik untuk mempertanyakan bagaimana media berkontribusi terhadap agama (secara umum), dan bagaimana kemudian masyarakat Muslim Indonesia menyikapi potensi media terhadap agama tersebut.

Interaksi Media dan Masyarakat Muslim

Hubungan masyarakat Muslim dengan media sejatinya bukanlah fenomena baru. Di masa-masa awal kemunculan media di belahan penjuru dunia, masyarakat Muslim menunjukkan sikap hati-hati, bahkan terkesan resistan. Hal ini terlihat dari fakta sejarah yang menunjukkan bahwa mesin cetak baru diperkenalkan di Kekaisaran Turki Usmani pada abad ke-19 oleh Ibrahim Muteferrika; artinya, 500 tahun setelah Guttenberg memperkenalkan mesin cetak dan 400 tahun setelah diperkenalkan pertama kali di kalangan Umat Kristen. Salah satu penyebabnya adalah adanya penolakan dari kalangan pemuka agama. Jika diteliti lebih lanjut, penulis melihat setidaknya terdapat tiga hal yang mendasari sikap pemuka agama; kultural, theological iconophobia, dan kepercayaan terhadap sakralitas bahasa Arab.

Berbeda dengan penyambutannya di masyarakat Arab, Muslim Indonesia menyongsong kehadiran media dengan tangan lebih terbuka. Penggunaan media-media kesenian oleh para Wali Songo pada masa-masa awal dakwah Islam di Indonesia menguatkan hal tersebut. Adopsi “media populer” selanjutnya di kalangan masyarakat Muslim dapat dilacak dari awal kemunculan kaset-kaset ceramah semisal Dai Sejuta Umat (alm.) KH. Zainuddun MZ, dll. Berlanjut dengan kemunculan radio-radio yang bernafaskan Islam yang kemudian semakin mendorong kehadiran koran-koran, buku-buku, majalah-majalah, tv, hingga terakhir media sosial.

Fenomena interaksi media dan masyarakat keagamaan ini telah banyak menyita perhatian para sarjana dan riset-riset tentang hal tersebut telah banyak dipublikasikan, di antaranya karya George N. Atiyah yang berbicara tentang buku di Dunia Islam, Charles Hirschkind yang membahas tentang kaset-kaset ceramah di masyarkat Muslim, Gary Bunt yang meneliti tentang pengaruh Internet terhadap pola keberagamaan masyarakt Muslim dan konsepsi mereka tentang “ummah”, dan lain-lain.

Kontribusi dan Ancaman Media bagi Agama

Interaksi dan hubungan baik agama dan media sejatinya didasarkan pada adanya hubungan resiprokal yang saling menguntungkan antar keduanya. Salah satu potensi nyata yang dimiliki media untuk agama adalah kemampuan menyebarkan pesan keagamaan yang signifikan. Selain itu, dalam konteks media Internet, Dawson pada awal tahun 2000-an menunjukkan bahwa Internet dapat menguatkan kesadaran keagamaan, membangun komunitas-komunitas keagamaan baru, dan bahkan memfasilitasi kegiatan-kegiatan ritual keagamaan di dunia virtual.

Potensi-potensi tersebut di sisi lain tidak lepas dari berbagai ancaman yang muncul, di antaranya: penyebaran berita-berita bohong (hoax), info-info sampah, pengaburan realitas, kemunculan para “pseudo-ulama”atau “ulama-ulama karbitan” yang muncul karena kepiawaiannya bermedia walau tanpa akar keilmuan yang jelas, hingga hilangnya kontrol terhadap simbol-simbol keagamaan.

Melihat potensi dan ancaman media di atas, pertanyaan yang muncul kemudian adalah bagaimana kita sebagai bagian masyarakat keagamaan menakar hal tersebut? Menurut KBBI, ‘menakar’ berarti mengukur kadar untuk kemudian membatasi jumlahnya; dalam konteks bermedia pada masa Corona ini berarti berusaha mengukur potensi-potensi yang dimiliki media bagi agama untuk kemudian kita maksimalkan, dan mengukur ancaman-ancaman yang ada untuk kita minimalisasi. Untuk menganalisa ini, penulis meminjam metode analisa SWOT.

Analisis SWOT Potensi Media Internet untuk Agama di Masa Corona

Sebagaimana analisa SWOT pada umumnya, ada dua faktor yang harus dilihat dalam menakar potensi media untuk agama di masa Corona ini, yaitu internal dan eksternal. Internal di sini berarti kekuatan (S) dan kelemahan (W) yang ada pada internal produk media untuk agama. Dan eksternal berarti kondisi eksternal di luar media, yaitu peluang-peluang (O) dan ancaman-ancaman (T) yang berada di sekitar kita. Untuk analisis ini, penulis mengkhususkan pada media Internet yang banyak digunakan pada masa Corona ini.

Di bagian terdahulu, penulis telah menunjukkan beberapa poin penting potensi yang dimiliki media dan ancamannya terhadap agama. Untuk kelemahan media, setidaknya penulis melihat beberapa hal yang menjadi kelemahan internal: pertama, bahwa media pada dasarnya adalah alat yang sangat bergantung pada kualitas teknis. Jika ia didukung oleh perangkat yang baik secara teknis maka hasilnya pun akan lebih maksimal, namun jika sebaliknya, maka media menjadi tidak berguna. Contoh sederhana adalah kebutuhan media terhadap daya listrik. Media sebaik apapun jika tidak didukung ketersediaan daya listrik maka menjadi barang yang tidak dapat digunakan.

Kelemahan selanjutnya adalah bahwa data-data yang tersimpan dalam media sifatnya temporer dan mudah sekali overload. Kita tahu betapa informasi-informasi mengalami bahkan dituntut untuk terus diperbaharui atau ‘di-update’. Informasi-informasi yang awalnya viral bisa saja kemudian tenggelam tertimbun oleh info-info yang lebih menarik yang datang belakangan. Selain masalah teknis tersebut, kelemahan sumber daya masyarakat juga menjadi satu kelemahan internal yang tidak dapat dipungkiri dalam hal ini.  Kelemahan internal lainnya adalah bahwa media merupakan barang yang netral. Ia bersifat value-free. Baik dan buruknya sangat bergantung bagaimana pengguna (user) memanfaatkannya.

Di sisi lain, dari aspek eksternal, penulis melihat ada beberapa peluang yang jelas berada di hadapan kita pada masa Corona ini; pertama, momentum Ramadan dalam pembatasan. Kebijakan pembatasan di pelbagai wilayah di Indonesia ini merupakan momentum penting bagi media untuk dapat berperan secara maksimal dalam melayani kebutuhan-kebutuhan masyarakat, termasuk kebutuhan keagamaaan mereka. Hal ini ditambah dengan momentum Ramadan di mana umat Islam dianjurkan untuk mengisi waktu mereka dengan kegiatan-kegiatan keagamaan. Peluang lainnya adalah bahwa para pemuka agama saat ini sebagian besar sadar akan potensi media yang akhirnya merestui dan turut menggunakan media untuk kegiatan keagamaan. Hal ini menjadi potensi penting mengingat bahwa dahulu masyarakat Muslim sempat “terhalang” oleh restu ini.

Peluang lain yang tak kalah penting adalah keterjangkauan biaya. Kita tahu, saat ini biaya akses Internet sudah jauh lebih terjangkau dibandingkan dengan masa-masa awal kemunculannya. Pilihan paket-paket kuota bersahabat bisa kita sesuaikan dengan kebutuhan dan keadaan kantong kita. Potensi terakhir yang dapat penulis lihat adalah fenomena eksistensi media yang berada di mana-mana (media is ubiquitous). Sebagaimana argumen Mark Deuze bahwa saat ini kita tidak hanya hidup dengan media (living with media), tetapi juga hidup di dalam kehidupan bermedia (living in media life), maka media menjadi hal yang bisa kita temukan di mana-mana bahkan telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan kita termasuk kehidupan beragama kita.

The AXE Effect untuk Masa Depan Hubungan Media dan Agama

Untuk dapat menakar secara tepat, langkah selanjutnya dari analisa SWOT ini adalah dengan mengkaji empat poin penting, yaitu: pertama, bagaimana (S) dapat memanfaatkan (O) yang ada? Kedua, bagaimana memanfaatkan (S) agar dapat mengatasi (T)? Ketiga, bagaimana mengatasi (W) yang kita miliki untuk bisa mendapatkan (O)? Keempat, bagaimana meminimalisasi (W) untuk mencegah (T) dari luar?

Penulis dalam hal ini menyerahkan langkah terakhir ini kepada subjektifitas pembaca, karena penulis yakin setiap orang atau kelompok mempunyai situasi dan kondisi yang berbeda dalam menjawab dan menganalisa poin-poin tersebut di atas.  Sebagai gantinya, penulis ingin menutup tulisan ini dengan jargon yang dimunculkan oleh salah satu produk perawatan tubuh, AXE: Kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah Anda”.

Jargon tersebut bagi penulis sangat relevan untuk dapat menjawab bagaimana masa depan hubungan media dan agama. Kesan pertama Internet bagi kita umat beragama, pada masa-masa “new normal” ini, begitu menggoda. Banyak dari kita yang terpincut dengan fitur-fitur dan potensi-potensi yang bisa kita manfaatkan untuk agama dan untuk keagamaan kita. Lantas, bagaimana ke depan? Apakah hubungan mesra ini akan terus berlangsung setelah masa Corona? Jawabannya: “Selanjutnya, terserah Anda!” [MFR]

Agama dan Solidaritas Melawan Covid-19

Ega Mahendra*

Sumber Gambar: https://www.kbc.co.ke


“….merebaknya pengajian daring juga menunjukkan bahwa komunitas keagamaan tidak selalu identik dengan label gaptek atau ketinggalan zaman. Kelompok yang selama ini diklaim tradisional, misalnya, ternyata tampil paling depan dalam memanfaatkan teknologi baru ini.”

Negeri kita tengah diusik dengan wabah virus yang penularannya terjadi dalam kurun waktu singkat, yaitu Koronavirus atau Covid-19. Virus ini telah mengganggu aktivitas kita, baik personal maupun sosial. Kerugian merambah pada semua aspek dari kehidupan negara, mulai dari pendidikan hingga ekonomi. Bahkan, diprediksi bangsa ini akan memasuki masa-masa sulit seiring anjloknya pertumbuhan ekonomi akibat hantaman koronavirus. 

Covid-19 ini bisa menular melalui interaksi antar manusia, misalnya kontak fisik dengan oranf positif corona, atau melalui benda-benda sekitar yang terpapar virus ini. Sekali virus ini masuk ke dalam tubuh, ia akan menyerang imunitas dan bisa berdampak mematikan apabila disertai sakit bawaan.  Maka dari itu, negara-negara di dunia melakukan langkah-langkah antisipatif untuk memutus mata rantai penyebaran virus, seperti lockdown, social and physical distancing, atau karantina wilayah.

Di sejumlah negara yang terpapar, Covid-19 sudah merenggut nyawa orang dalam jumlah yang tak sedikit. Melalui juru bicaranya Achmad Yurianto, ketua satgas pusat, pemerintah mengatakan bahwa di Indonesia pasien positif per 29 Maret 2020 sudah mencapai 1.285 orang. Pemerintah juga tanpa bosan memberi arahan agar masyarakat disiplin dalam melakukan jaga-jarak fisik, berdiam atau kerja di rumah, dan selalu menerapkan pola hidup sehat. Ada juga anjuran menggunakan masker, mencuci tangan menggunakan hand sanitizer atau sabun. Semua langkah ini adalah kunci dalam memutus mata rantai pandemi.  Untungya, masyarakat dari pelbagai lapisan bahu-membahu berpartisipasi dalam memerangi virus ini. Solidaritas sosial begitu tampak, sekalipun ada riak-riak yang mengganggu. 

Lalu, bagaimana peran agama terutama dalam membangun solidaritas sosial selama wabah Covid-19? Secara sederhana, seharusnya agama punya andil besar dalam menumbuhkan kebersamaan pada masyarakat Indonesia. Agama adalah aspek berharga bangsa ini; ia menjelma sebagai dasar negara, yakni Pancasila dalam sila pertama: “Ketuhanan Yang Maha Esa.” Sila pertama ini diikuti sila berikutnya yang menekankan kemanusiaan yang adil dan beradab. Wabah ini kali menjadi ujian bagaimana kita sebagai bangsa bisa menerjemahkan kedua sila luhur ini dalam kehidupan nyata.

“Solidaritas sosial di kalangan umat beragama tidak hanya terjadi di dunia nyata, tapi juga dunia maya.”

Menurut Durkheim, agama bisa menguatkan solidaritas sosial. Alasannya, orang beragama cenderung terikat pada kepercayaan yang sama, sentimen yang sama, ibadah yang sama, ritual bersama; semua ini adalah faktor penting yang mengukuhkan kesatuan dan solidaritas. Agama juga punya peran penting sebagai kontrol sosial. Parsons mengatakan bahwa agama adalah agen terpenting dalam sosialisasi dan kontrol sosial. Agama bisa mengatur, mengarahkan, dan melembagakan kehidupan sosial. Maka dari itu, peran agama dalam solidaritas sosial untuk menghentikan lajut koronavirus ini sangat diperlukan dan labudda.

Di lapangan, berbagai organisasi dan lembaga agama di negeri ini bekerja sama dalam perang lawan virus ini melalui beragam cara dan metode. Di tengah keterbatasan akibat kebijakan jaga-jarak fisik dan sosial, penggunaan media baru (new media) berbasis teknologi menjadi pilihan. Dalam hal tertentu, merebaknya pengajian daring juga menunjukkan bahwa komunitas keagamaan tidak selalu identik dengan label gaptek atau ketinggalan zaman. Kelompok yang selama ini diklaim tradisional, misalnya, ternyata tampil paling depan dalam memanfaatkan teknologi baru ini. Solidaritas sosial di kalangan umat beragama tidak hanya terjadi di dunia nyata, tapi juga dunia maya.

Seruan ibadah di rumah juga digemakan oleh banyak organisasi keagamaan. Tentu saja, langkah ini diambil dengan berat hati, terutama bagi Muslim yang tengah menjalankan ibadah Ramadan. Imbauan datang, misalnya, dari Majelis Ulama Indoneisa (MUI) yang meminta jamaah agar melaksanakan ibadah di rumah masing-masing sesuai Fatwa MUI, No 14, Tahun 2020 karena Covid-19 di Indonesia telah meluas dan darurat. Ajakan serupa juga datang dari organisasi agama lain, di antaranya  Persatuan Gereja Indonesia (PGI) DKI Jakarta, Keuksupan Agung Jakarta, dan juga Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi) DKI Jakarta.  Turut serta dalam barisan adalah Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) yang membatasi umat Hindu yang akan mengikuti prosesi Tawur Agung, dan juga mengimbau perayaan Nyepi tahun ini dilakukan dengan berdiam diri di rumah masing-masing ( https://tirto.id/).

Mengapa solidaritas sosial bisa sangat berguna bagi pencegahan Covid-19? Secara etimologi, solidaritas artinya adalah kesetiakawanan atau kekompakan; bahasa Arab-nya disebut tadhamun (ketetapan dalam hubungan) atau takaful (saling menyempurnakan atau melindungi). Dalam KBBI, solidaritas adalah sifat (perasaan) solider, sifat satu rasa (senasib), perasaan setia kawan pada suatu kelompok anggota wajib memilikinya. Sifat-sifat ini sangat diperlukan oleh masyarakat dalam membangun daya tahan sosial di tengah wabah. Sebagaimana ditekankan berulang-ulang oleh pemerintah, kunci keberhasilan perang lawan virus ini adalah masyarakat sendiri.

Durkheim mengemukakan hal senada.  Ia mengatakan bahwa solidaritas sosial ialah keadaan hubungan antar individu dan kelompok yang didasarkan perasaan moral dan kepercayaan yang dianut bersama dan diperkuat oleh pengamalan emosional bersama. Semangat semacam ini niscaya harus dimiliki masyarakat dalam situasi saat ini. Tanpa bergantung pada pemerintah, masyarakat saling bantu menjaga daerahnya masing-masing atau melakukan disenfektan swadaya. Sejumlah organisasi juga membuka donasi untuk meringankan beban negara, baik dalam bentuk barang dan uang maupun barang-barang lain yang diperlukan.  

Dari pemaparan diatas, kiranya terang benderang bahwa agama punya perang penting dalam mengukuhkan solidaritas sosial dalam upaya memutus mata rantai penyebaran virus ini. Jika solidaritas sosial ini bisa bersinergi dengan solidaritas yang digalang pemerintah, kita optimis bahwa kita pasti bisa dan kuat melawan wabah ini.

*Ega Mahendra adalah Mahasiswa SAA IAIN Pontianak

Megengan: Rajutan Tradisi, Agama, dan Kemanusiaan

Yuli Darwati*

Bagi kami warga desa di Kabupaten Blitar, tentu tidak asing dengan tradisi ini. Tradisi megengan dilakukan secara rutin setiap tahun, bertepatan dengan bulan Sya’ban. Tradisi megengan dilakukan dengan tujuan untuk mengirim doa  bagi leluhur, sekaligus menyambut datangnya bulan Ramadhan yang agung dan suci. Tradisi ini dilakukan dengan cara slametan . Begitu memasuki bulan Sya’ban, setiap rumah tangga akan melakukan slametan. Mereka membuat tumpeng dan mengundang kenduri para tetangga sekitar rumah sekitar 20-30 orang. Maka tidak mengherankan jika tiap hari kita akan banyak mendapatkan “Berkat” bahkan bisa bertumpah ruah jika  megengan dilakukan berbarengan dengan yang lain. Tradisi megengan diakhiri dengan ziarah ke makam para leluhur di akhir bulan Sya’ban.

Tradisi semacam telah mengakar bertahun-tahun dan sulit dilakukan perubahan. Beberapa tokoh masyarakat mencoba merubah tradisi ini, karena  beberapa warga mungkin keberatan dengan tradisi ini,disamping juga alasan kemubaziran, namun mereka tidak berhasil.   Sebagian kecil masyarakat kadang harus “ngoyo” untuk melakukan ini, misalnya dengan berhutang untuk melakukan slametan. Mereka tak mampu untuk tidak melakukannya karena itu adalah bentuk penghormatan terhadap leluhur, di samping juga malu terhadap tetangga. “Mereka ngundang, masak kita gak ngundang,” tutur mereka. Mereka bahagia ketika telah melaksanakannya. Bagi masyarakat santri ini merupakan sedekah menyambut kegembiraan datangnya Bulan Ramadhan. Dengan demikian megengan adalah sebuah keharusan.

Rupanya, tradisi ini  semakin menguat di tengah  Pandemi  global  covid-19 di tanah air,yang kebetulan terjadi di bulan Sya’ban dan sebentar lagi memasuki Bulan Ramadhan 1441 H. Di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu  sebagai efek dari pandemi covid-10 tidak menyurutkan warga untuk melakukan slametan. Hanya saja, tradisi ini mengalami metamorfosa atau mengalami perubahan bentuk tanpa mengurangi makna dan tujuan dari tradisi itu dilakukan.

Metamorfosa “Megengan “ di Tengah Pandemi Covid-19

Penyebaran virus covid-19 mengalami perkembangan yang cepat di Indonesia sejak tanggal 2 Maret 2020. Hingga kini penduduk Indonesia yang terinfeksi virus ini sudah lebih dari 7 ribu orang, dan menurut prediksi akan mencapai puncaknya di akhir Bulan Mei 2020. Presiden Joko Widodo  mengatakan bahwa pandemi ini akan berakhir pada akhir 2020 , jika PSBB sebagai kebijakan pemerintah ditaati oleh masyarakat. 

Dalam masa PSBB ini masyarakat diminta untuk di rumah saja, melakukan social distancing, menjauhi kerumunan, mengenakan masker ketika harus keluar rumah, sering mencuci tangan  dengn sabun dan sebagainya untuk memutus rantai penyebaran covid-19. Tentu saja, hal ini akan mengancam tradisi megengan yang sudah biasa dilakukan oleh masyarakat setiap bulan Sya’ban, karena pemerintah melarang orang untuk kumpul-kumpul, hajatan dan lain-lain. Namun demikian, ternyata tidak mengurangi semangat mereka melakukan megengan.Hanya saja tradisi dilakukan dengan menyesuaikan situasi dan kondisi saat ini.

Mereka tidak mengadakan kenduri atau tahlilan bersama, tetapi “berkat” diantar ke rumah-rumah. Sebagian warga masyarakat mengantar ”berkat” berupa nasi, lauk pauk,dan kue. Sebagian lain, mereka mengantar paket sembako ke rumah-rumah. Hal ini sangat berbeda dengan waktu-waktu sebelumnya. Pada waktu sebelumnya, ketika peserta mencoba mengedukasi masyarakat dengan memberikan sembako untuk mengurangi kemubaziran, mereka menolak, “yang namanya megengan itu ya kenduri, tahlilan, dan berkat nasi, apem, ketan kolak harus ada,” kata mereka. Sekarang  mereka memberikan sembako, beras, minyak,gula, mie, telor dsb. Mereka mengatakan, “kalau begini manfaatnya banyak, bisa untuk besok-besok, kasihan mereka yang kurang mampu.”

Sebagian warga menyadari saat ini adalah masa yang sulit, terutama bagi masyarakat kelas bawah. Bulan Sya’ban adalah momentum yang tepat untuk berbagi, menguatkan satu dengan yang lain. Mudah-mudahan semangat itu terus berlanjut sampai Ramadhan  bahkan kapan pun!  Aamiin YRA. Megengan bukanlah sekedar tradisi, tetapi juga juga aktualisasi hidup beragama bagi kemanusiaan. [MFR]

*Yuli Darwati adalah Dosen di Prodi Studi Agama-Agama (SAA), Fakultas Ushuluddin dan Dakwah IAIN Kediri