Demonstrasi dan Benturan Peradaban

Keunikan demonstrasi atau demo bukan hanya jumlah masa yang hadir, namun juga bagaimana masa demo mengekspresikan pesan mereka.

—– Adam Amrullah

Bagi seorang mahasiswa-cum-aktivis, kemapanan dan keadilan adalah satu paket hadiah yang perlu diperjuangkan baik dengan atau tanpa organisasi lain yang mendukung. Sebagai agent of change yang kerap mengusung narasi ‘toward a better civilization’, berjuta aksi dilakukan, mulai dari orasi hingga penyegelan gedung pemerintahan. Namun, saya tidak akan membahas itu dalam esai kali ini. Perhatian saya tertuju pada ragam media yang dipakai oleh para demonstran dalam menyampaikan pesan mereka. Salah satunya adalah meme di media sosial yang mengiringi setiap demonstrasi. Dikemas dengan nuansa lucu dan satir, meme ini mengusung beragam tema, mulai dari Nabi Isa, menara Eifel, hingga fesyen tertentu.   

Keunikan demonstrasi atau demo bukan hanya jumlah masa yang hadir, namun juga bagaimana masa demo mengekspresikan pesan mereka. Salah satu contoh adalah meme berbunyi “Turunkan Nabi Isa”. Secara teologis, kita paham apa yang akan terjadi jika Nabi Isa As. turun ke dunia untuk kedua kalinya: terjadinya Armageddon bagi umat kristiani dan ‘malhamah al-kubro’ atau ‘perang akhir zaman’ bagi kaum muslim, sebuah tanda the end of the day bagi agama samawi yang gamblang tertulis dalam kitab suci.

Namun, selain kengerian peperangan epik antara Nabi Isa As. Vs. Dajjal Laknatullah yang digambarkan dalam kitab-kitab suci, kita juga menemukan sebuah peradaban besar di mana orang membantu orang lain yang sedang dalam kesusahan. Inilah peradaban akhir atau puncak dari peradaban bagi para pemeluk agama samawi yang menjadikan Nabi Muhammad SAW dan Nabi Isa As. sebagai tokoh sentral dalam kisah menuju akhir zaman. Barangkali itulah pesan yang ingin disampaikan para demonstran: problem di negeri ini sudah sedemikian akut sehingga perlu campur tangan Imam Mahdi untuk menegakkan kembali tatanan yang beradab.

Sisi lain yang menarik perhatian saya adalah demo terhadap Presiden Prancis, Emmanuel Macron, karena pernyataannya yang dianggap menyinggung umat Islam. Perancis merupakan negara republik semi-presidensial di Eropa Barat. Negara ini merupakan kerajaan sebelum meletus Revolusi Perancis pada akhir abad ke-19 yang ditandai dengan kekalahan Prancis atas Rusia pada 1871. Revolusi ini jauh hari telah diprediksi oleh filsuf dan bapak ideologi pada masa itu, Karl Marx dan Friedrich Engels. Mereka mengusung sebuah ideologi yang diberi nama komunisme dengan bertumpu pada teori materialisme dialektika.

Bagi kedua filsuf ini, komunisme bisa membawa masyarakat menuju sebuah peradaban yang egaliter, keadilan dan hak yang sama bagi semua tanpa penindasan dan diskriminasi. Hingga kini, komunisme telah berjalan hampir dua abad sejak pertama kali dicetuskan pada pertengahan abad ke-19. Ideologi ini berhasil memicu gelombang pengetahuan dan aksi baru dalam kancah internasional, baik secara akademis maupun budaya. Dengan mengikuti alur pemikiran Charles Darwin tentang evolusi makhluk hidup, ideologi ini tidak memberi ruang bagi agama bahkan menganggapnya sebagai candu.

Komunisme sebagai sebuah gerakan bermula saat perang antara Rusia dan Prancis yang menghasilkan Rusia sebagai pemenang pada sekitar 1870an. Prancis yang kalah langsung dihantam gelombang pemberontakan komunis pertama dalam sejarah–yang sekarang kita kenal dengan Revolusi Prancis dengan moto “Liberte, Egalite, Fraternite”. Leninisme menyusul kemudian di Rusia dalam Revolusi Bolshevik pada awal abad ke-19. Di Cina, Mao Zedong atau Mao Tse-Tung mendirikan Republik Rakyat Cina pada 1940an. Setelah itu Kuba menyusul di bawah kepemimpinan Fidel Castro bersama tokoh utamanya Che Guevara. Menurut Fatih Kocaman, seorang sosiolog berkebangsaan Turki, dalam sejarah perjalanannya, kelompok komunis paling bertanggungjawab atas meninggalnya 250.000.000 (dua ratus lima puluh juta) jiwa manusia di abad ke-20 di seluruh dunia.

Berbeda dengan komunisme, agama samawi menggambarkan hidup-mati manusia akan kembali kepada Tuhan. Menurut Fahrudin Faiz, tiga agama samawi (Yahudi, Kristen, Islam) memiliki titik keunikan masing-masing: Yahudi sebagai pemegang peradaban, Kristen sebagai jumlah jamaat paling banyak dan Islam sebagai agama paling populer karena kerap memenuhi pemberitaan di media massa. Kita juga dapat temukan dalam ketiganya memiliki potongan kisah the end of the day yang sama yang mempertegas kefanaan dunia dan batas yang sakral dan profan.

Perjalanan komunisme belum genap dua abad dalam sejarah dan lahir secara alamiah dengan memadukan pemikiran Karl Marx, Friedrich Engels dan teori evolusi Charles Darwin. Ia mengadopsi pandangan bahwa dunia itu kekal abadi; kehancuran dunia bukan akhir dari kehidupan manusia tapi batu loncatan untuk menjadi superhuman yang dapat beradaptasi dengan kondisi ekstrim yang baru. Selanjutnya, manusia akan memimpin peradaban baru yang lebih kuat. Sebaliknya, masyarakat teologis memandang hidup sebagai sebuah proses dan daur untuk membersihkan diri dari satu titik ke titik yang lain hingga sampai pada titik akhir. Bagi mereka, setiap orang memiliki jalan lurus dan akhir yang berbeda.[MFR]