Social Distancing dan Cermin Kemanusiaan

Fathimatuz Zahra*

Covid-19 telah meluluh-lantakkan seluruh sistem perencanaan kehidupan umat manusia. Tak peduli mereka tinggal di negara maju maupun negara berkembang, atau apapun ras, keyakinan, bahkan tingkat perekonomian mereka. Pelbagai langkah nyata diambil untuk mencegah laju virus ini. Beragam analisa dimunculkan dari segala sisi yang terkait dengan virus, mulai dari filsafat, sains, hingga agama.

Perpecahan agama dan sains juga berkontribusi terhadap hilangnya kemanusiaan kita. Abad Pertengahan adalah masa-masa terpisahnya filsafat, sains dan agama. Dampaknya semakin terasa beberapa tahun terakhir. Filsafat yang semakin terpinggirkan, agama dan ilmu pengetahuan yang masih memiliki batas-batas kebenaran yang berbeda. Filsafat adalah induknya segala ilmu pengetahuan (the queen of science); menurut Aristoteles, metafisika sebagai intinya filsafat adalah pemersatu agama dan sains.

Pandemi Covid-19 seolah-olah mempertemukan kembali pelbagai sisi kemanusiaan, upaya, maupun agama dan sains. Seluruh perbedaan diluruhkan dalam kewajiban social-distancing (jaga-jarak fisik pada kehidupan sosial). Dalam masyarakat dengan budaya individualistik maupun komunal, solusi ini dianggap paling mujarab karena tak ada pilihan lain.

Beberapa tahun terakhir, realitas mempertontonkan sisi lain dari wajah kemanusiaan kita. Standar kemanusiaan tampak semakin kehilangan unsur manusiawi-nya. Bencana yang seharusnya menyatukan umat manusia, yang terjadi malah sebaliknya. Beberapa peristiwa yang mengoyak rasa kemanusiaan terjadi di tengah banyaknya orang yang menderita.  Bantuan tidak tepat sasaran atau malah dipakai untuk kepentingan pribadi; pemakaman ditolak karena takut menulari; atau para pejuang medis yang harusnya diagungkan, malah ditakuti dan dipersekusi.  Belum lagi, maraknya kriminalitas akhir-akhir ini membuat kemanusiaan kita semakin terlucuti.

Wabilkhusus di tahun-tahun politik, kita semua seperti kehilangan kemanusiaan. “Julukan hewan” meluncur dengan mudah dari mulut atau jemari orang, bahkan  kepada mereka yang seharusnya dihormati. Negeri kita tanpa disadari menanggalkan sifat manusiawi dengan melabelkan nama-nama hewan pada partisan kelompok lain. Maka pelan tapi pasti, kita akrab dengan nama-nama kampret, cebong, kadal, dan domba. Bukan lagi nama-nama sesama anak bangsa ini. Betul, kemanusiaan kita sedang berada di titik nadir.

Baca juga:   Koronavirus dari Lensa Batin Penghayat

Pada segi lain, hilangnya kemanusiaan tersebut juga imbas perpecahan agama dan sains. Perpecahan semenjak Abad Pertengahan ini memicu pertentangan antara filsafat, agama dan sains. Dalam ranah keagamaan, lepasnya kemanusiaan kita tercermin dalam, misalnya, penggunaan istilah “sumbu pendek” bagi para penganut konservatisme beragama. Disadari atau tidak, perpecahan tersebut tetap terbawa hingga masa kini. Pada tataran agama, perbedaan ideologis organisasi keagamaan diidentikkan dengan simbol-simbol keagamaan. Misalkan, penggunaan cadar dan terorisme, ataupun penggunaan gamis bagi perempuan yang dikaitkan dengan radikalisme keagamaan.

Benturan agama dan sains dalam penanganan Covid-19 ini tampak dalam cara sebagian pemuka agama merespons. Ketika sains memerintahkan jaga-jarak sosial, sebagian mereka bersikukuh melakukan ibadah komunal karena dianggap dari solusi penanganan wabah ini. Sekalipun ada juga yang menempuh jalan tengah, misalnya ibadah komunal boleh dilakukan di wilayah-wilayah yang tidak masuk zona merah.

Covid-19 ini termasuk satu dari banyak bencana teknologi (Anthony Oliver Smith, 2001). Dari kacamata pendekatan pragmatis-transendental ala Habermas, penanganan bencana ini juga harus melibatkan pertanyaan kemanusiaan karena ia terlahir dari ulah manusia, disebarluaskan antar sesama manusia, dan tak ada kendali diri ketika infeksi terjadi. Makanya, jaga-jarak sosialsebagai solusi utama dalam penanganan Covid-19 patut juga memeroleh refleksi dari sisi kemanusiaan.

Jaga-jarak sosial merupakan sarana membelenggu hawa nafsu manusia, yang selama ini tanpa disadari menjauhkan kita dari sisi kemanusiaan. Dengan cara ini, kita mengembalikan kepekaan sosial dengan dimulai dari lingkup keluarga, sebagai titik pertama dalam sebuah masyarakat. Maka, inilah saat yang tepat bagi kita untuk merefleksikan keberagamaan, kehidupan keluarga dan sosial, dan juga berbagai profesi kita.

Jaga-jarak sosial juga bisa dipahami sebagai bentuk nyata integrasi antara sains dan agama, yang ujungnya nanti adalah tumbuh-kembangnya kesadaran akan kemanusiaan. Dari sisi sains, ia adalah solusi satu-satunya dalam penanganan wabah ini. Dari sisi agama, ia juga punya preseden di masa lalu, seperti dicontohkan oleh pemuda Uzair (QS. At-Taubah), Ashabul Kahfi, dan Nabi Muhammad Saw. sendiri. Dalam satu kalimat singkat, hikmah dari wabah Covid-19 ini adalah panggilan Tuhan terhadap kita untuk bersih secara fisik dan jiwa sehingga kemanusiaan kita bisa terlahir kembali sesuai harapan Tuhan akan penciptaan kita semua. [MFR]  

Baca juga:   Membincang Teologi Bencana Dengan Mas Basar

Fathimatuz Zahra adalah dosen di PTAI Pati dan juga seorang penulis buku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *