‘Seni’ yang Menghilang dalam Integralisme Islam-Sains

Padahal pada zaman dahulu banyak sekali cendekiawan muslim yang selain pandai ilmu agama dan sains juga menguasai seni di zamannya. Abu Bakar Ar-Razi, misalnya, selain menguasai ilmu kedokteran dan ilmu-ilmu ushul, juga mengajarkan kepada muridnya seni musik sebagai salah satu terapi kesehatan mental. Lalu yang menjadi pertanyaan selanjutnya, kapan PTKI akan menyadari kehilangan ini?

—- Mubaidi Sulaeman

Polemik seputar agama dan sains mengemuka di meda sosial, melahirkan umpan balik tulisan yang mencerahkan. Perbantahan terjadi sengit antara Gunawan Moehammad (GM) di pihak agama dan A.S. Laksana (Sulak) di pihak sains dan juga beberapa . Dalam tanggapannya, GM memberi feedback dan bantahan atas argumentasi Sulak. Gunawan merespons tuduhan Sulak yang dianggapnya telah salah memahami poin dari tulisannya. GM beranggapan bahwa Sulak salah dalam menafsirkan atas diksi yang dipilihnya, seperti kutipan atas Whitehead dan beberapa tokoh lain yang menjadi dalil GM dalam mengebiri peran sains di masa yang akan mendatang.

Namun ada catatan menarik bagi saya. GM dengan ragu-ragu mengatakan bahwa ‘ada entitas yang hilang’ dari perdebatan antara agama dan sains sebagai satu-satunya ‘cara pandang’ manusia di masa yang akan datang. ‘Seni’ adalah entitas yang hilang itu. GM bukan bermaksud mengecilkan peran sains di masa yang akan datang dan mengunggulkan agama, tetapi kontribusi keduanya akan terasa hambar sebagai ‘cara pandang’ manusia di masa mendatang apabila menganggap agama akan tergusur oleh sains sebagai ‘cara pandang’ manusia dalam melihat persoalan kehidupan ini. Selain itu dengan ragu-ragu GM menyebutkan bahwa tanpa unsur ‘seni’ sebagai pendukungnya, akan ada ‘lobang’ yang memisahkan agama dan sains di masa yang akan datang. Jika boleh menambahkan, unsur spiritualitas ialah juga unsur integrasi yang tidak boleh diabaikan.

Baca juga:   Batas Fanatisme dan Kebebasan Berekspresi

Dari tulisan GM tersebut saya teringat penelitian saya pada 2012—2013. Penelitian ini merupakan skripsi di STAIN (sekarang IAIN) Kediri yang menggunakan pendekatan “fenomenologi Edmund Huserl” link http://etheses.iainkediri.ac.id/575/–  berjudul “Integrasi Antara Agama, Filsafat dan Seni Dalam Ajaran Tari Tradisional di Lembaga Seni dan Budaya Lung Ayu Kabupaten Jombang”. Penelitian ini menghasilkan kesimpulan bahwa  sinergi agama, seni dan filsafat (Jawa) bukan hanya menghasilkan sebuah pembelajaran seni semata, tetapi juga akan memperkaya ‘cara pandang’ dalam menghadapi pluralitas kehidupan modern—ajaran agama, cara merasakan ‘rasa’ ala seni dan corak berpikir filsafat Jawa—yang terhegemoni oleh grand narratives formalisme ajaran agama (Islam), yang cenderung meng-haram-kan seni terutama seni Jawa yang dianggap penuh dengan unsur kesyirikan, dan filsafat Barat yang melahirkan sains dan teknologi modern.

Dalam penelitian tersebut, saya menggunakan paradigma “idealita muslim modern” yang digagas oleh Armahedi Mazhar dalam bukunya yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Revolusi Integralisme Islam. Secara sederhana, ‘integralisme Islam’ adalah sebuah pendekatan yang mengikutsertakan semua ‘kebenaran’ dari beragam disiplin keilmuan. Paradigma integralisme memegang teguh prinsip menghormati dan kerja sama pelbagai cabang ilmu pengetahuan—baik sains, teknologi, seni, maupun budaya—menjadi wawasan kemenyeluruhan dalam memandang sesuatu. Integralisme melihat semua sesuatu sebagai keterpaduan yang tidak bisa dipecah atau dipisahkan dari realitas kehidupan manusia modern. Ilmu pengetahuan atau sains dalam pengertian modern adalah pengembangan dari filsafat alam yang merupakan bagian dari khazanah keilmuan Yunani.

Namun filsafat Yunani terlalu deduktif karena mendasarkan pada pemikiran spekulatif. Karena itu perlu dilengkapi oleh pengamatan empiris sebagaimana yang telah diperintahkan dalam Al-Qur’an. Menurut Mahzar, sains dan agama tidak bertentangan. Hal ini bisa ditinjau dari catatan sejarah peradaban umat Islam di mana banyak ilmuwan-ilmuwan muslim yang mampu mengembangkan sains dengan sangat pesat. Di tangan para ilmuwan muslim, sains memeroleh karakternya yang rasional dan obyektif selama gelombang pertama peradaban Islam. Akan tetapi rasionalitas sains tidak boleh terlepas dari rasionalitas religius. Teologi, filsafat, dan sains merupakan kesatuan yang integral, kata Armahedi mahzar.  

Baca juga:   Pandemi dan Fajar Iman-Nalar

Dalam membicarakan integralisme Islam, setidaknya ada tiga prinsip mendasar yangmenjadi obat bagi  patologi sains khas postmodernisme. Prinsip tersebut antara lain adalah kesatupaduan realitas, hierarki realitas dan Tuhan sebagai sumber kebenaran. Ketiga prinsip ini, menurut Mahzar, menjadi solusi bagi kerancuan corak berpikir postmodernisme yang memiliki kecenderungan dekonstruktif dan relativis-radikal. Pandangan Mahzar tentang agama dan sains dilihat dari perspektif Al-Qur’an dan Hadist yang menjadi sumber spiritualitas muslim sebagai sumber ilmu pengetahuan yang utama bisa memberi keseimbangan antara agama, sains dan spiritualitas, khususnya bagi masyarakat muslim modern.

Bila kita menengok realitas pendidikan PTKI hari ini, kita akan menjumpai ‘ironi’ yang juga menjadi keresahan masyarakat muslim pada umumnya dalam mengimplementasian integralisme Islam dan sains: ketiadaan jurusan yang khusus mengkaji seni meskipun di PTKI sudah banyak berdiri fakultas Adab, Dakwah, Syariah, Ushuludin bahkan Sains dan Teknologi dalam upaya mewujudkan integralisme Islam dan sains. Unsur seni bagi Mazhar adalah sesuatu yang penting dalam menjembatani keduanya. Bahkan di universitas-universitas umum, jurusan seni diintegrasikan dalam satu rumpun sains, contohnya Institut Teknologi Bandung yang memiliki fakultas seni rupa dan design. Bisakah kita bayangkan bahwa para sarjana muslim yang ahli agama dan teknologi tetapi miskin ‘kreativitas’, ‘estetika’, dan ‘imajinasi’ dalam setiap karyanya.

Padahal pada zaman dahulu banyak sekali cendekiawan muslim yang selain pandai ilmu agama dan sains juga menguasai seni di zamannya. Abu Bakar Ar-Razi—terlepas dari pendapatnya tentang kenabian yang kontroversial—selain menguasai ilmu kedokteran dan ilmu-ilmu ushul, juga mengajarkan kepada muridnya seni musik sebagai salah satu terapi kesehatan mental. Lalu yang menjadi pertanyaan selanjutnya, kapan PTKI akan menyadari kehilangan ini? [MFR]   

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *