Sayur Podomoro: Amunisi Orang Jawa Tangkal Pagebluk

Fitrohana Nur’Isma Zubaeda*

Photo Source: https://lestariweb.com/Indonesia/SayurPodomoro.php

Saat ini, Indonesia tengah menghadapi bencana non-alam yang disebabkan adanya koronavirus (Covid-19). Untuk mengatasi persebaran virus ini, langkah-langkah medis-ilmiah terus digaungkan dan disosialisasikan oleh pemerintah. Di antaranya adalah kewajiban pemakaian masker ketika berkendara atau di tempat umum, penyemprotan desinfektan di tempat-tempat umum dan rumah, penggunaan handsanitizer atau mencuci tangan dengan sabun, melakukan physical distancing (renggang fisik). Bahkan, saat ini pemerintah menerapkan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) di Provinsi DKI Jakarta. Kebijakan ini ditempuh karena jumlah kasus terkonfirmasi positif Covid-19 di Provinsi DKI Jakarta sudah mencapai 3.112, artinya menyumbang sekitar ± 46 % dari jumlah kasus terkonfirmasi positif Covid-19 di Indonesia, yaitu 6.760 per tanggal 20 April 2020 (dilansir dari website resmi https://corona.jakarta.go.id).

Bila pemerintah wajib menempuh cara-cara ilmiah dan terukur dalam melawan koronavirus, tidak selalu demikian dengan masyarakat. Masyarakat Jawa, misalnya, memahami segala melalui jejaring makna simbolis yang menyulam setiap aspek kehidupan mereka. Bagi masyarakat Jawa, dunia ini terlalu rumit untuk direduksi pada semata-mata pendekatan ilmiah. Maka adalah maklum jika pendekatan non-medis dalam menghadapi pagebluk ini juga lazim di kalangan masyarakat Jawa. Mereka meyakini benda atau barang tertentu sebagai penolak wabah bukan karena sudah ada bukti medis, tapi karena itu adalah bagian dari alam pikir masyarakat Jawa.

Fenomena ini bisa kita saksikan, misalnya, di Kota Kediri, khususnya Dsn. Bence. Seperti warga di tempat lain, warga di sana saling membantu dengan cara berbagi masker secara gratis dan membagikan sembako kepada tetangga yang usahanya terdampak Covid-19 imbas dari kebijakan stay at home. Tetapi ada sesuatu yang menarik dilakukan oleh warga di Bence, yaitu memasak “Sayur Podomoro” kemudian dibagikan kepada para tetangga mereka.

Kata “Podomoro” sendiri memiliki arti “datang semua”. Nama “Podomoro” diambil dari banyaknya sayur dan bumbu saat memasak Sayur Podomoro. Masyarakat Jawa memaknai Sayur Podomoro sebagai upaya mereka meminta keberkahan kepada Tuhan agar semua kebaikan berbondong-bondong mendatangi mereka. Hal tersebut terwujud dari banyaknya jenis sayuran yang terdapat dalam Sayur Podomoro di mana setiap sayur mewakili atau memiliki arti yang berbeda dari setiap harapan masyarakat. Pada zaman dulu, Sayur Podomoro sering dimasak pada saat warga memiliki hajatan besar denga harapan agar acara hajatan mereka berjalan lancar dan terhindar dari bala.

Baca juga:   Menyapa Arwah dengan Sandingan

Namun, saat ini Sayur Podomoro dimasak dengan tujuan agar terhindar dari Covid-19. Dari sini terjadi perubahan suatu pemaknaan suatu budaya oleh masyarakat karena adanya perubahan situasi dan kondisi. Apabila kita pakai analisis Geertz, realitas ini menunjukkan bahwa Sayur Podomoro, bagi masyarakat Jawa, bukan sekadar makanan yang mengandung gizi tertentu, tapi ia juga simbol pengharapan akan hadirnya kebaikan dari Sang Maha Kuasa.

Bagi masyarakat Jawa, Sayur Podomoro setiap bahan dalam Sayur Podomoro memiliki makna tersendiri. Menurut tradisi lisan yang saya peroleh dari nenek dan orang tua saya, makna setiap bahan dari Sayur Podomoro sebagai berikut:

Godhong salam tegese ngge salam, Assalamualaikum,” artinya daun salam sebagai bentuk ucapan salam yaitu Assalamualaikum; “Godhong jeruk tegese ben nglumpuk” artinya daun jeruk supaya bisa berkumpul dengan orang sholeh dan baik; “Godhong eso, tegese pasrah marang sing Kuoso,” artinya daun eso artinya sebagai manusia kita harus pasrah pada Sang Pencipta (Allah); “Kulit mlinjo arane Tangkil, tegese ben tangkil-tangkilan,” artinya agar kita bisa berkumpul dan bersatu.  

Kacang dowo tegese ben umure dowo lan lek mikir dowo,” artinya kacang panjang agar kita diberi umur yang panjang dan berpikir panjang (matang) sebelum bertindak. “Kates tegese ben ethes,” artinya Pepaya agar kita sekeluarga lincah dan selalu diberi kesehatan oleh Allah. “Gambas tegese ben bebas,” artinya gambas agar kita terbebas dari segala masalah. “Waluh tegese ben atine iso luluh,” artinya labu agar hati kita luluh, rendah hati dan bisa mengambil hikmah dari masalah yang ada. “Kluwih tegese ben luwih-luwih,” artinya kluwih agar kita diberikan rejeki yang lebih oleh Allah.

Baca juga:   Aroma Toleransi di Seporsi Nasi Lawar

Tewel tegese ben ora rewel,” artinya buah nangka muda tidak cengeng, tegar dalam menghadapi masalah. “Blonceng tegese ben oleh blonjo kenceng,” artinya labu air agar mendapat uang untuk belanja yang lancar. “Tempe lan tahu tegese ben regu,” artinya beregu, kumpul bersalam keluarga. “Telo rambat tegese ben rejekine iso mrambat,” ketela rambat artinya agar bisa mendapat rejeki yang datangnya tidak disangka-sangka. “Telo kaspe tegese rame ing gawe, karepe sepi ing pamrih,” artinya ketela pohon agar ikhlas berbagi dengan orang lain dan tidak mengaharapkan imbalan.

Brambang Bawang tegese ben gak grambyang angen-angene,” artinya bawang merah dan putih agar memiliki keyakinan yang kuat pada Allah. “Lombok tegese kalem marang si embok,” artinya cabai agar kita sopan dan patuh pada ibu. “Uyah tegese rejekine gembrayah,” artinya garam agar mendatangkan rejeki yang banyak. “Tumbar tegese ben tumbuh sabar,” artinya ketumbar agar kita bisa lebih sabar. “Merico tegese ben gak meri marang konco” artinya merica agar kita tidak iri dengan apa yang dimiliki teman. “Pete tegese ben gak sepet,” artinya petai agar hidup ini tidak hanya mengalami kepahitan. “Santen kelopo tegese sopo sing kangelan iso nompo” artinya santan kelapa orang yang mau bersusah-susah pasti akan mendapat kesenangan atau kebahagiaan.

Terlepas benar tidaknya bahwa Sayur Podomoro dapat menolak bala atau malapetaka, namun ketika warga memasak Sayur Podomoro tersebut merupakan bentuk usaha dan harapan mereka dalam melawan Covid-19 melalui kearifan lokal yang mereka miliki dan dalam prosesnya disertai do’a pada Tuhan agar mereka dapat terhindar dari wabah virus yang terjadi saat ini. Mungkin kepercayaan ini di luar nalar ilmiah, masuk sains semu (pseudosains), atau dianggap hanya cerita dari mulut ke mulut. Akan tetapi, bagi orang Jawa, Sayur Podomoro tidak hanya membuat fisik sehat tapi ia juga simbolisasi ikhtiar spiritual melawan serangan koronavirus dan optimisme bahwa, dengan bantuan Sang Kuasa, pagebluk ini pasti akan berakhir.  

Fitrohana Nur’Isma Zubaeda adalah mahasiswa SAA-2017. Tulisan ini adalah bagian dari tugas matakuliah “Agama dan Kearifan Lokal”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *