Ritual Korbani dan Pengambinghitaman: Tradisi Suroan di Kediri

Nadila Ika Arifianti (SAA-2016)

Tulisan ini bagian dari tugas mata kuliah “Agama dan Kearifan Lokal”. Isi tulisan adalah sepenuhnya tanggung jawab penulis.

Tradisi adalah adat kebiasaan turun-temurun dari nenek moyang yang masih dijalankan masyarakat hingga sekarang ini dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat tersebut dalam suatu kebudayaan tertentu. Kunci dari sebuah tradisi adalah adanya informasi yang diteruskan dari generasi ke generasi baik tertulis, atau sering kali berupa lisan, karena tanpa adanya hal ini, suatu tradisi dapat dilupakan atau bahkan sampai punah.

Indonesia merupakan negara yang masih kaya akan tradisi yang dilestarikan. Terlebih dalam masyarakat Jawa, pada setiap tindak-tanduk nya penuh akan pemaknaan-pemaknaan tersendiri yang dijunjung tinggi oleh para pendahulu-pendahulunya, meskipun seiring perkembangan zaman tradisi-tradisi yang ada mulai terjadi sedikit demi sedikit pergeseran tanpa mengurangi hakikat yang dimaksudkan.

Mulai dari manusia lahir hingga mati terdapat banyak tradisi yang dilakukan masyarakat Jawa, antara lain: tingkeban, grebeg, suroan, upacara sekaten, kenduren, ruwatan, upacara tedhak sinten, upacara kematian, upacara pernikahan, dan masih banyak lagi yang tentunya memiliki pemaknaan-pemaknaan masing-masing.

Suroan merupakan salah satu tradisi di Jawa yang masih dilestarikan hingga sekarang. Suro merupakan urutan pertama dalam sistem penanggalan kalender Jawa, jumlah hari pada bulan ini adalah 30 hari. Bulan suro seringkali dianggap sebagai bulan yang penuh musibah, bencana, penuh sial, bulan keramat, sehingga sangat disakralkan.

Banyak ritual-ritual yang tidak bisa ditinggalkan oleh masyarakat yang meyakininya pada bulan suro ini, selain untuk menghindari kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan terjadi (tolak balak), juga untuk bentuk syukur atas nikmat yang dikaruniakan Tuhan Yang Maha Esa dan pemanjatan-pemanjatan do’a ataupun harapan-harapan diawal tahun(Jawa).

Dalam hal ini, setiap daerah mempunyai pemaknaan-pemaknaan dan pelaksanaan ritual yang berbeda-beda. Termasuk salah satu daerah di Kediri, tepatnya Desa Kandangan, Kecamatan Kandangan. Kandangan merupakan salah satu daerah yang terletak di bagian ujung timur Kediri, yang menjadi pembatas Kediri dengan Malang, juga Kediri dengan Jombang.

Seperti halnya di daerah-daerah lain. Di Desa Kandangan terdapat tradisi yang cukup unik tentang suroan, yakni penyembelihan boneka yang dilakukan tepat diperempatan jalan yang menghubungkan kearah Kediri-Jombang ataupun Kediri-Malang dan juga di Jalan Veteran, Kacangan, Kandangan.

Konon katanya, tradisi ini bermula ketika nenek moyang terdahulu hendak Babat Kandangan, yang masih berupa alas atau hutan yang luas melawan bangsa-bangsa bukan manusia (tak kasat mata), dengan cara melakukan negosiasi agar Kandangan tidak diganggu oleh bangsa-bangsa tak kasat mata tersebut. Dan kemudian bangsa-bangsa tak kasat mata itu meminta dua bayi untuk dikorbankan setiap tahunnya, yaitu bayi laki-laki dan perempuan. Bayi-bayi tersebut kemudian di sembelih dan dikuburkan di tempat yang berbeda, untuk bayi laki-laki dikuburkan di pertigaan Jalan Veteran, Kacangan, Kandangan dan untuk bayi perempuan dikuburkan di perempatan utama Kandangan yang menghubungkan Malang-Kediri-Jombang.

Dalam tradisi ini bayi diambil dari rakyat yang kondisi ekonominya menengah kebawah dan memiliki banyak anak. Hal ini bertujuan untuk meringankan beban orang tuanya daripada memiliki anak banyak tetapi tidak bisa memenuhi kebutuhannya maka alangkah lebih baiknya disumbangkan untuk disembelih pada acara suroan untuk kepentingan dan keselamatan bersama ataupun mengambil dengan paksa bayi-bayi yang ada. Jadi zaman dahulu, ritual suroan selain dianggap sebagai tolak balak kehidupan satu tahun kedepan, juga merupakan duka karena harus ada salah satu keluarga yang kehilangan anggota keluarganya.

Kemudian seiring berkembangnya zaman, tradisi ini tidak mungkin dilakukan dengan mengorbankan bayi yang sesungguhnya. Pun demikian, alih-alih ditinggalkan, tradisi ini mengalami transformasi dan penyesuaian tanpa kehilangan makna substantifnya. Para pendahulu memutar otak untuk memikirkan jalan keluarnya juga melakukan negosiasi kembali dan mendapatkan hasil  penyembelihan yang dilakukan bukan menyembelih bayi melainkan menjadi penyembelihan boneka yang sangat menyerupai bayi, dan ketika boneka ini disembelih bisa mengeluarkan darah, suara tangisan, serta memiliki organ-organ tubuh lengkap yang dimanipulasi dan kemudian tetap dikuburkan di tempat yang sama, yaitu perempatan utama Kandangan dan pertigaan Jalan Veteran, apabila tempat penguburan boneka bayi ini diaspal, maka dilakukan penggalian guna tetap terlaksananya ritual ini. Oleh sebab itu, pembuatan boneka juga tidak dilakukan sembarang orang, dan dari dulu hanya satu orang secara turun temurun.

Tradisi ini diyakini bisa menghindari kemungkinan-kemungkinan buruk yang terjadi kepada masyarakat Kandangan, sehingga masyarakat Kandangan masih melestarikannya hingga sekarang. Dahulu, pernah satu kali tradisi ini tidak dilakukan sebab adanya larangan dari Pak Camat Kandangan terkait tradisi ini, yang dirasa mengganggu lalu lintas karena lokasi nya yang berada di perempatan-perempatan jalan, kemudian selang beberapa saat Pak Camat ini meninggal dunia, dan oleh masyarakat sekitar dikaitkan dengan tidak dilaksanakannya tradisi suroan ini. Juga pada tahun 2017, dalam pelaksanaan ritual terdapat sajen yang kurang yaitu satu kembang kanthil yang mengakibatkan salah satu peserta kesurupan. Sehingga pada tahun-tahun berikutnya tradisi ini tidak pernah ditinggalkan dan menjaga bagian-bagian yang menjadi inti ritual.

Suroan di Kandangan ini dilaksanakan pada saat kelahiran Kandangan, yaitu Jum’at Pahing pada bulan Suro, jika dalam satu bulan  Suro tidak terdapat Jumat Pahing, maka ritual dilaksanakan pada Jumat Pahing bulan depannya. Ritual dilaksanakan pada pukul 9 pagi keatas, kemudian malamnya diisi dengan pertunjukan wayang kulit.  Adapun pihak-pihak yang terlibat adalah masyarakat Kandangan sendiri beserta pengurus-pengurus desanya.

Suroan di Kandangan ini dilakukan oleh berbagai kalangan masyarakat Kandangan, baik beragama Islam, Kristen, Hindu maupun agama lain. Dan pada malam hari sebelum pelaksanaan ritual penyembelihan boneka bayi, dilaksanakan Selametan sesuai kepercayaannya masing-masing, dalam Islam biasa disebut tahlilan, dalam Kristen biasa disebut bestonan dan dalam Hindu disebut selametan.

Tradisi ini bertujuan agar “bangsa-bangsa” yang merasa memiliki Kandangan tidak melakukan “protes” yang mungkin membahayakan Kandangan beserta isinya, juga guna persembahan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala nikmat yang dianugerahkan, dan mengingatkan terhadap roh-roh leluhur para nenek moyang yang telah berjasa dalam perjuangannya mendirikan Kandangan.

Dalam budaya manapun, ritual kurbani biasanya dikaitkan dengan dua hal: pertama, ia menggambarkan kekerasan manusia yang disalurkan terhadap objek lain sebagai bentuk penebusan terhadap kesalahan yang telah mereka lakukan. Inilah apa yang diistilahkan oleh Rene Girarrd sebagai pengambinghitaman (scapegoating). Kedua, ritual kurbani juga merupakan upaya preventif masyarakat atas kemungkinan terjadinya suatu kemalangan. Ia dilakukan sebagai bentuk negosiasi dengan kekuatan yang sakral (the sacred) yang mereka anggap berkuasa atas baik buruk nasib mereka. Meminjam istilah Mircea Eliade, ritual kurbani melibatkan proses kratofani (crathopany) ketika masyarakat menganggap adanya kekuatan menakutkan apabila ritual itu ditinggalkan atau tidak diindahkan. Makanya, tidak heran masyarakat akan selalu mencari cara untuk melestarikan ritual tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *