Ramadan dan Pencarian Kedirian Kita Yang Belum Usai

Ahmad Subakir*

Photo source: https://islam.nu.or.id/post/read/79988

Ramadan sebagai bulan yang sangat diagungkan oleh umat Islam di belahan bumi ini telah menjadi bagian sarana belajar dan pembelaran bagi individu ataupun komunitas. Secara kodrati, manusia terlahir dari tidak tahu, ingin tahu, dan kemudian menjadi tahu. Karena dengan “tahu” itulah manusia akan mempunyai daya kreasi yang bisa saja luar biasa, yang bila diamalkan akan menjadi faktor terpenting dalam mewujudkan being dan apa-apa yang mungkin mewujud. Karena itulah Allah Swt. menuntun Nabi Muhammad Saw. dengan firman pertama yang menandai kerasulannya dengan menurunkan QS. al-‘Alaq: 1-5: “Allah-lah yang mengajarkan manuasia terhadap apa saja yang sebelumnya ia tidak tahu.”

Bertolak dari “tahu” ini pula Allah Swt. mengajari manusia untuk memegang peran terpenting di antara sekian makhluk yang lain, termasuk malaikat sekalipun. Di atas kerangka ini pula Allah Swt. mentahbiskan ciptaan yang disebut manusia ini sebagi khalifah fil ardh (pengelola kehidupan di dunia) sesuai dengan proyeksi yang diskenariokan oleh Sang Pencipta manusia

Informasi mengenai prosesi rancangan ini jelas termaktub dalam nash Allah Swt. yang disampaikan kepada malaikat saat mana manusia pertama ini belum diciptakan. Saat itu Allah Swt. menyampaikan rancangan ini (iradah penciptaan manusia dengan segala kemungkinan yang akan terlahir dari segenap amaliah kemanusiannya) kepada malaikat dan meminta pandangannya. Semua ini tergambar jelas dalam firman Allah Swt. dalam QS. al-Baqarah: 30.

Sebagai makhluk yang dimintakan pendapat oleh Allah Swt. maka saat itu juga digambarkan dalam ayat tersebut bahwa malaikat “ragu” akan kemampuan manusia untuk mengemban amanah besar ini. Malaikat mencoba memproyeksikan potensi negatif manusia yang digambarkannya sebagai pembuat kerusakan, penebar permusuhan yang pada gilirannya akan mengarah pada pertumpahan darah di antara sesamanya.

Malaikat membandingkan proyeksi sisi negatif manusia dengan kepolosan sifat malaikat itu sendiri yang menggambarkan diri sebagai sosok yang senantiasa bertasbih dan mengagungkan dan mensucikan Allah Swt. Akan tetapi, diakhir ayat itu Allah Swt. mengajari kita semua sekaligus menjawab atas keraguan malaikat kepada makhluk yang bernama manusia itu dengan firman-Nya yang secara lugas teksnya berbunyi: inni a’lamu maa laa ta’lamun.

Pembacaan sederhana atas dua ayat yang telah dipaparkan di atas menuntun kita untuk senantiasa menkreasikan diri kita dan kehidupan personal dan kolektif kita untuk senantiasa menjadi orang yang oleh Allah Swt. disebut “tahu”.

Baca juga:   Cerita Ramadan dari Negeri Para Mullah

Ayat pertama yang mentahbiskan Muhammad Saw. menjadi Rasul terakhir, Allah Swt. mengajari Nabi dan Kita melalui firman-Nya ‘allamal insana maa lam ya’lam“. Yang Maha Mengajari manusia atas apa saja yang tidak manusia ketahui sebelumnya. Ayat kedua bercerita tentang munculnya informasi suasana manusia pertama akan diciptakan. Allah Swt. mengakhiri rangkaian pembicaraan dengan malaikat tentang gagasan penciptaan manusia ini, yang justru dipandang oleh malaikat sebagai sumber kemadaratan. Allah Swt. memungkasi pembicaraan ini dalam firman-Nya yang tegas: inni a’lamu maa laa ta’lamun.

Dua kejadian penting dalam perjalanan panjang hidup dan kehidupan manusia mulai dari sebelum penciptaannya–hingga bagaimana prosesi menjadi kreator pengelolaan dan pemakmuran alam ini–selalu ditumpukan pada proses penambahan pengetahuan manusia dengan segala proses belajar dan pembelajaran dalam segala bentuk media. Dalam perjalanan itu, Allah Swt. senantiasa memberikan jalan terbaik yang harus ditemukan dengan pengetahuan yang senantiasa disediakan-Nya.

Jalan pengetahuan ini terbentang dalam syari’at yang Allah Swt. turunkan sebagai teks kitab suci ataupun berupa sunnatullah yang menyusun fitrah penciptaan makhluk selain manusia. Kebiasaan yang terjadi pada fitrah makhluk yang tidak bernyawa biasanya disebut sebagai sunnatullah yang bersifat tetap, sementara kebiasaan yang terjadi pada makhluk bernyawa selain manusia itu ada yang menyebutnya sebagai gharizah, naluri nafsu dan keinginan.

Syari’at Allah Swt. mengajari kita untuk mendapatkan “tahu” dengan makna yang lebih mendalam. Dengannya kita bisa mengontrol seluruh wujud produksi gerakan anggota tubuh baik yang berupa kreasi dari nalar, akal dan nafsu. Gaya yang berwujud perilaku berupa amal atau perbuatan yang dikriteriakan shalih dan muslih bisa mengantarkan pada posisi kelayakan kita menjadi khalifah sebagaimana harapan Allah Swt. sebelum mencipta manusia yang sekaligus sebagai jawaban bagi keraguan malaikat tentang eksistensi manusia.

Baca juga:   Traveling Manusia-Manusia

Saat ini, kita sedang menjalani Ramadan sebagai syari’at Allah Swt dalam suasana penuh tantangan dan ragam kejadian sosial yang menghiasi kehidupan sosial kita. Kita wajib meyakini bahwa Ramadan adalah media pembelajar yang terbaik untuk merengkuh status shalih dan muslih yang keseluruhan aktifitasnya terpancar dalam diri kita semua

Persoalannya adalah bagaimana kita bisa sampai pada kepastian bahwa Ramadan benar-benar mengantarkan kita pada status shalih dan muslih?. di sinilah sebenarnya proses belajar dan pembelajaran yang secara terus-menerus harus kita temukan dalam sisi kedirian kehidupan kita. Itu pula mengapa sejak awal Allah Swt. mengatakan kepada malaikat: “Aku lebih tahu dari apa yang kamu tidak ketahui.” Sifat tahu ini-lah yang sedari awal awal menjadi misteri di hadapan malaikat. Allah Swt. dengan tegas mengatakan bahwa pengetahuan ini belum dimiliki oleh malaikat. Pendek kata, Allah kita mengajari kita untuk menemukan tahu yang dimaksudkan Allah Swt. tersebut hingga kita bisa menjadi khalifah sebagaimana firman-Nya kepada malaikat. Semoga kita tertuntun menapaki jalan panjang dan terjal ini. Amin.

*Ahmad Subakir adalah Wakil Rektor I IAIN Kediri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *