Tafsir Tabu Nikah Kulon-Wetan Brantas di Kediri

Muhammad Maftuh Ahnan (Mahasiswa SAA-2016)

Tulisan ini bagian dari tugas matakuliah “Agama dan Kearifan Lokal”. Isi tulisan adalah sepenuhnya tanggung jawab penulis.

Kediri merupakan kota tua dan terkenal sejak jaman kerajaan dahulu. Bahkan, dalam beberapa literatur, Kediri mendapat julukan sebagai “Kota wingit.” Dengan julukan tersebut, Kediri tentunya kaya dengan ragam kearifan lokal berikut maknanya masing-masing. Masyarakat Kediri pastinya memiliki respons dan tafsir yang berbeda-beda terhadap kearifan lokal tersebut. Tulisan ini adalah upaya untuk mengetahui respons dan tafsir masyarakat terhadap salah satu kearifan lokal di Kediri: Tabu Nikah Kulon-Wetan Brantas. Tulisan ini bukan hendak menghakimi mitos ini melalui penilaian benar atau salah, tapi meletakkannya dalam konteks realitas sosial yang menjadi bagian dari semesta simbol yang membentuk jejaring makna di kalangan masyarakat Kediri.

Tabu nikah Kulon-Wetan Brantas adalah kepercayaan lokal terkait dengan larangan pernikahan yang melibatkan (calon) pasangan yang berasal dari Barat (Kulon) Sungai dan Timur (Wetan) Sungai Brantas. Tradisi ini diyakini secara turun menurun dan terus terpelihara melalui tradisi lisan (oral) . Ada banyak versi mengenai mitos ini. Versi pertama menghubungkannya dengan kisah asmara antara Dewi Sekartaji dan Raden Panji Asmoro Bangun. Kisah cinta Dewi Sekartaji dan Raden Panji Asmoro Bangun yang tidak direstui sebab terpisah oleh dua kerajaan yang berselisih, yaitu Panjalu dan Jenggala.

Versi satunya mengaitkannya dengan letak geografis Sungai Brantas, di mana dulunya sungai ini masih sangat luas dan belum terhubung oleh jembatan dan mungkin banyak hewan buayanya, sehingga sangat berbahaya untuk dilalui, maka akhirnya terjadi larangan pernikahan antara orang yang tinggal di Barat dan Timur Brantas agar tidak terjadi korban. Jadi, berbeda dari versi pertama, versi kedua ini lebih menonjolkan alasan logis dan praktis terkait pantangan nikah di antara dua sisi Sungai Brantas.

Karena terpisah oleh Kali Brantas, akhirnya Dewi Kilisuci dan Raden Panji Asmoro Bangun melakukan penyamaran untuk saling bertemu dan melepas rindu. Sungai Brantas dahulunya merupakan pembatas Kerajaan Panjalu dan Jenggala akibat perebutan kekuasaan, sehingga terjadilah peperangan di antara keduanya. Inilah yang menjadi awal munculnya tradisi ini dan berlaku sampai saat ini. Sebagian masyarakat meyakini bahwa jika pernikahan masih dipaksakan, maka kelak keluarganya akan ditimpa berbagai musibah, terutama bagi pihak laki-laki (yang dari Timur Sungai). Akan tetapi, larangan ini biasanya dapat diselesaikan dengan ritual-ritual khusus (misalnya: penyembelihan Ayam Cemani dan melemparkannya ke sungai ketika rombongan pengantin melewati jembatan). Ritual ini dilaksanakan oleh sebagian besar orang-orang tua di Kediri dalam pengambilan keputusan untuk sebuah pernikahan, selain juga pencocokan tanggal (weton).

Lantas, bagaimana masyarakat memahami mitos ini? Masyarakat ternyata punya pemahaman yang beragam. Sebagian mereka memaknainya sebagai hal yang harus dijalankan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Ada pula yang tidak menghiraukan mitos tersebut. Bagi golongan pertama, mitos tersebut diyakini kebenarannya sehingga mereka mengamalkan ritual-ritual tertentu agar terhindar dari musibah yang akan menimpa rumah tangganya atau keluarga dari kedua belah pihak. Ritual yang dilakukan biasanya dengan pencocokan weton, kemudian pembuangan calon pengantin, kemudian lempar ayam atau bebek di Kali Brantas.

Pencocokan weton (ramalan dalam kalender Jawa) ditujukan untuk menentukan arah “pembuangan” calon setelah menikah, apakah di daerah Timur atau Barat, menurut siapa yang secara perhitungan dianggap bisa lebih kuat menanggung sengkala. “Pembuangan” calon pengantin ini biasanya dilakukan 7 hari sebelum hari pernikahan: salah satu pengantin harus tinggal di Barat atau Timur Sungai Brantas. Contohnya, jika perhitungan weton lebih kuat yang di Barat, maka 7 hari sebelum pernikahan, calon pengantin dari Timur Brantas harus tinggal di Barat Brantas. Kemudian setelah pembuangan, yaitu pada saat pernikahan, calon pengantin yang bersangkutan diharuskan membawa ayam atau bebek untuk dilepas di Sungai Brantas. Semua rangkaian tersebut dipercaya sebagai tolak sengkala atau tolak bala dari penunggu Sungai Brantas tersebut. Tapi bagi masyarakat yang tidak mempercayai mitos tersebut biasanya tidak melakukan ritual-tersebut, mungkin hanya melakukan perhitungan jawa biasa aja.

Masyarakat pada zaman sekarang semakin modern dan semakin maju. Maka pertanyaannya apakah tradisi tersebut seharusnya apakah masih perlu dipertahankan. Jika dilihat dari kaca mata modernitas, tradisi tersebut sudah harus ditinggalkan dan tidak perlu lagi dijalankan. Terlebih jika pegangannya adalah versi cerita kedua terkait dengan bahaya melintasi Sungai Brantas kala itu karena arusnya yang deras dan banyaknya hewan buaya yang sangat berbahaya. Apalagi, sekarang sudah banyak berdiri jembatan yang menghubungkan Barat dan Timur Kali Brantas.

Namun demikian, masyarakat yang mempertahankan kepercayaan ini tentu saja punya alasan sendiri. Bagaimanapun juga, masyarakat memiliki pengetahuan lokal (local genius) yang melahirkan nilai-nilai lokal yang tetap dipelihara secara turun menurun karena dianggap baik atau arif, sekalipun tidak senafas dengan semangat modernitas. Kearifan lokal yang bisa diambil dari kepercayaan ini adalah upaya penyelesaian atau membangun harmoni ketika terjadi konflik, sebagai kerajaan Dhaha bisa mempersatukan kerajaan Panjalu dan Jenggala yang berselisih pada waktu itu. Kisah Dewi Sekartaji dan Raden Panji Asmoro Bangun sendiri mengajarkan bahwa seberat apapun konflik yang terjadi, pasti ada cara untuk menyelesaikannya secara baik-baik.

2 thoughts on “Tafsir Tabu Nikah Kulon-Wetan Brantas di Kediri”

  1. Assalamu’alaikum, perkenalkan saya Meilina. Mahasiswa di salah satu universitas negeri di Solo yang bertempat tinggal di Kediri. Saat ini saya sedang melakukan penelitian mengenai mitos pernikahan barat dan timur sungai. Saya ingin bertanya buku apa saja yang digunakan sebagai referensi dalam menulis artikel ini? terimakasih

    1. Salam Mba Meilina,

      Terima kasih banyak sudah mampir ke laman prodi kami. Tulisan ini bagian dari tugas lapangan mahasiswa. Sumber data lebih banyak hasil wawancara dengan masyarakat, lebih ke tradisi lisan yang masih berkembang.

      Terima kasih. Semoga risetnya lancar

      Salam,
      AdminSAA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *