Pudarnya Mitos Alumni SAA Tidak Bisa Jadi Guru PNS

Seperti biasa, rekruitmen CPNS yang digelas oleh pemerintan tahun ini menarik animo masyarakat, khususnya lulusan Perguruan Tinggi, untuk berebut tempat dalam formasi yang disediakan. Anggapan bahwa bekerja di sektor formal seperti PNS bisa memberi kepastian dan perbaikan nasib dan bisa mengatrol ‘status sosial’ tampaknya masih kuat mengakar di benak masyarakat Indonesia. Tidak heran, lowongan CPNS selalu dinanti dan diburu.

Pertanyaan klasik yang selalu mengemuka ketika calon mahasiswa mau menentukan pilihan prodi adalah ‘setelah lulus bisa jadi PNS, gak?” Prodi yang dianggap punya peluang besar bisa mengantarkan lulusannya sebagai PNS biasanya lebih diminati. Ambil contoh saja fakultas kependidikan atau keguruan (Tarbiyah). Peminat fakultas ini selalu membludak karena anggapan almuninya bisa jadi guru, khususnya PNS. Formasi guru dalam setiap rekruitmen CPNS bisa dipastikan selalu tersedia dan mensyaratkan lulusan pendidikan tertentu. Walhasil, fenomena ini linear dengan menjamurnya alumni pendidikan di tengah masyarakat sementara formasi guru yang tersedia melalui rekruitmen CPNS tetap saja sangat terbatas.

Kebijakan terbaru tentang rekruitmen CPNS formasi guru tampaknya juga mengharuskan alumni pendidikan berkompetisi dengan alumni non-pendidikan. Melalui Putusan MK  NOMOR 95/PUU-X/2012 dijelaskan bahwa profesi guru tidak hanya dikhususkan kepada mereka tamatan LPTK (lembaga Pendidikan Tenaga kependidikan). Dengan demikian, profesi guru juga terbuka bagi tamatan non-kependidikan. Putusan ini juga dianggap strategis karena profesi guru tidak melulu soal kemampuan mengajar tapi juga penguasaan materi terhadap subjek tertentu yang tentu saja sangat terkait prodi non-kependidikan.

Dari pantauan sekilas terhadap formasi CPNS 2019 yang beredar, formasi guru juga terbuka bagi alumni non-kependidikan, termasuk alumni Prodi Studi Agama-Agama (SAA), yang dulunya bernama Perbandingan Agama. Contohnya, Edaran No. 7986/SJ/B.II.2/KP.00.2/11/2019 tentang Pelaksanaan Seleksi CPNS Kementerian Agama Republik Indonesia Tahun Anggaran 2019 kualifikasi pendidikan S1 Perbandingan Agama bisa mendaftar formasi Guru Agama Islam dan Guru Akidah Akhlak, selain juga formasi Penyuluh Agama.

Tentu saja ini kabar gembira bagi para alumni perbandingan agama atau SAA karena semakin terbukanya karir untuk berkiprah di sektor formal (CPNS). Di sisi lain, perkembangan ini juga menjadi tantangan bagi pengelola Prodi SAA dan Fakultas Ushuluddin untuk menyiapkan alumni yang benar-benar kompeten dalam bidang yang digeluti, termasuk juga kompetensi sebagai seorang pendidik (guru). Beberapa cara yang bisa ditempuh di antaranya adalah menawarkan opsi kepada mahasiswa untuk melakukan praktikum lapangan di institusi-institusi pendidikan.  Selain itu, perlu juga dijalin kerjasama dengan LPTK semisal Tarbiyah untuk memfasilitasi mahasiswa yang memiliki minat kompetensi sebagai guru atau pendidik. Bentuk kegiatan yang bisa ditempuh, misalnya, pelatihan kependidikan dengan melibatkan sumber daya dari fakultas Tarbiyah atau mengundang mahasiswa Tarbiyah untuk melaksanakan Praktik Lapangan di Fakultas Ushuluddin, begitu pula sebaliknya. Wallahu’alam.

Link CPNS 2019 bisa diakses di:
https://sscn.bkn.go.id/

One thought on “Pudarnya Mitos Alumni SAA Tidak Bisa Jadi Guru PNS”

Leave a Reply to AHMAD AMIN Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *