Profil Alumni: Berproses di SAA adalah Pilihan Sadarku

Nurul Qolbi Kurniawati (alumni 2018 dan saat ini Mahasiswa S2 Studi Agama Konsentrasi Resolusi Konflik di Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)

Ditempa empat tahun di prodi Studi Agama-Agama (SAA) IAIN Kediri mengantarkan saya pada pemahaman bahwa hal terpenting dalam semangat manusia beragama yaitu sikap humanis, cara pikir inklusif, dan tidak konservatif. Proses ini juga membawaku untuk melanjutkan studi di program Magister Studi Agama Konsentrasi Resolusi Konflik, Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Berproses di bidang Studi Agama (Religious Studies) merupakan pilihan sadar dalam hidupku. Selama proses itu, aku menemukan banyak privilege yang tidak semua bidang keilmuan lain miliki. Bagaimana tidak, dalam setiap proses studi selalu dihadapkan dengan berbagai macam fenomena sosial agama di masyarakat. Setiap fenomena bisa didekati dan digali pengetahuan yang ada di dalamnya dengan menggunakan berbagai perspektif keilmuan yang kompleks. Maka hemat saya, berproses dalam studi agama-agama menjadikan tiap-tiap individu sebagai makhluk sosial akan memiliki keilmuan yang komprehensif untuk diaplikasikan dalam hidup bersosial agama masyarakat.

Ditempa empat tahun di prodi Studi Agama-Agama (SAA) IAIN Kediri mengantarkan saya pada pemahaman bahwa hal terpenting dalam semangat manusia beragama yaitu sikap humanis, cara pikir inklusif, dan tidak konservatif. Proses ini juga membawaku untuk melanjutkan studi di program Magister Studi Agama Konsentrasi Resolusi Konflik, Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Berawal dari kegelisahan terhadap kondisi umat beragama Indonesia yang semakin menunjukkan indikasi pola keberagamaan yang eksklusif dan tidak terbuka atas keberagaman, aku begitu meyakini bahwa sangat dibutuhkan kehadiran generasi mahasiswa studi agama di tengah-tengah masyarakat. Kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan di prodi SAA, baik itu dalam bentuk kelas formal maupun kegiatan-kegiatan di luar kampus, memungkinkan terciptanya pertemuan-pertemuan dengan mereka yang lintas iman. Mahasiswa bukan hanya dibekali pemahaman tapi, terpenting juga, pengalaman lintas iman.

Di tengah maraknya intoleransi dan sikap ekstrimis dalam beragama, mahasiswa studi agama-agama mampu mengedepankan inklusifitas dan keberagaman yang ada. Inklusifitas beragama tidak dipahami sebagai sebuah pemahaman bahwa semua agama itu sama, namun sebagai konsep keberagaman yang terbuka dan menerima fakta sosial bahwa ada banyak manusia dengan pilihan agama yang berbeda. Pemahaman inklusif dalam semangat beragama harus dimiliki tiap-tiap manusia beragama, khususnya di negara kita yang notabene sebagai negara yang majemuk dalam agama dan budaya. Inklusifitas dalam semangat beragama bagiku juga menjadi problem-solving atas pola beragama yang eksklusif dan ekstrimis yang berpotensi ke arah terorisme.

Aku begitu optimis terhadap masa depan Studi Agama-Agama (SAA) dalam menjawab segala tantangan dalam kemajemukan beragama dan berbudaya di Indonesia.

#AkuBanggaSAA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *