Pesan Kemanusiaan Dalam Jerat Kamuflase Berbalut Agama

Sumber Gambar: https://nalarpolitik.com/

Bukan pesan kemanusiaan kamuflase berbalut agama yang dikehendaki dari inti ajaran agama. Agama yang dilabuhkan seharusnya memunculkan kebaikan yang pada gilirannya melakukan dialektika dengan zaman yang terus berkembang.

Muhammad Solikhudin

Sejatinya, agama hadir sebagai dasar teologis bagi terwujudnya pencerahan kemanusiaan melalui muatan misi-misi kemanusiaan. Praktiknya, agama justru hadir dalam bentuk simbolik, khususnya melalui ritual-ritual suci yang dilakukan berkali-kali. Berdasar derajat ketaatan pada ritual serta kesalehan simbolik, seseorang kerap didapuk sebagai agamawan karena dianggap telah mengamalkan ajaran agamanya secara baik dan paripurna. Sejauh ini, begitulah manusia pada umumnya menilai kualitas keberagamaan seseorang.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan fenomena keberagamaan itu, namun eksoterisme itu harusnya diimbangi dengan dimensi esoterisme. Dua hal ini tidak dapat dipisahkan. Esoterisme diumpamakan seperti hati manusia, sedangkan eksoterisme merupakan badan manusia. Eksoterisme terwujud dalam ritual-ritual suci (berbentuk) yang dimiliki setiap agama. Esoterisme merupakan pancaran dari yang tidak berbentuk yang posisinya di atas eksoterik yang berfungsi mendamaikan keragaman dalam keberagamaan, memuncukan toleransi yang dikembangkan melalui jalur dialog, seperti konsepsi agama cinta Muhammad Fethullah Gulen. Atau, dapat juga dengan menggunakan konsepsi agama kasih sayang yang berupaya mengkorelasikan hati, nalar dan pengalaman dan mengharmoniskan beberapa entitas yang berbeda serta mengutamakan jalur ajakan serta persuasif.

Sayangnya, ada yang abai dengan aspek esoterik agama. Seringkali, manusia terbuai dengan ritual, dan pada saat yang sama berkubang dalam kejahatan moral. Problem ini biasanya dikaitkan dengan kehendak bebas. J.L Mackie, seperti dikutip oleh Fauzan Saleh dalam Problem Kejahatan dan Kemahakuasaan Tuhan, mengatakan bahwa munculnya kejahatan tidak dapat dirujukkan kepada Tuhan, namun karena adanya kebebasan dalam diri manusia, karena Tuhan telah memberinya kebebasan kehendak.

Oleh karena itu, bukan pesan kemanusiaan kamuflase berbalut agama yang dikehendaki dari inti ajaran agama. Agama yang dilabuhkan seharusnya memunculkan kebaikan yang pada gilirannya melakukan dialektika dengan zaman yang terus berkembang. Kejahatan (pesan kemanusiaan kamuflase berbalut agama) yang dimaksud di sini adalah kejahatan, seperti kekejaman, kesewenang-wenangan, keserakahan, kebiadaban dan lain sebagainya. Kejahatan ini menimbulkan penderitaan kepada orang lain.

Baca juga:   Perjumpaan Lora Madura dengan Romo Yesuit

Berbeda halnya dengan pengorbanan, meskipun sekilas yang tampak adalah rasa sakit, kemalangan, kesedihan dan lain-lain. Di balik pengorbanan ini justru terdapat kebaikan-kebaikan yang melahirkan kebahagiaan. Pengorbanan ini berkorelasi dengan rasa simpati, belas kasihan, kepahlawanan dan kesediaan untuk berjuang. Sementara itu, kejahatan hanya dapat dirujukkan pada diri manusia yang berperilaku destruktif dan banal tentang ajaran agama. Manusia yang harus mempertanggungjawabkannya di hadapan Tuhan.

Untuk mengupayakan kebajikan, seyogyanya manusia dapat meniru gerakan kultural-revolusioner di Iran; melalui aliansi komponen kaum muda tertindas, intelektual kritis dan borjuis salihin menjadi penting untuk diriilkan. Ketiga komponen tersebut harus selalu bergotong-royong menaklukkan ketidakadilan sosial dan jangan sampai terkotori oleh kepentingan-kepentingan politik jangka pendek-pragmatis yang justru berpotensi bagi masuknya repolitisasi agama (Setowara dan Soimin, 2013: 29).

Oleh karena itu, tiga komponen itu tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Ketiga komponen itu seharusnya membangun lingkaran mata rantai gerakan pembebasan yang sinergis. Kaum muda tertindas yang memiliki semangat yang dahsyat untuk melawan kemapanan, harus didayagunakan dengan diajak berdiskusi mengatasi problem ketertindasan.

Unsur kedua, yaitu kaum intelektual kritis sebagai garda depan perubahan sosial, juga harus mampu menghadirkan wacana populis yang memiliki keperpihakan terhadap kaum pinggiran. Banyaknya elite intelektual yang dimiliki bangsa ini harus digunakan untuk melakukan resistensi terhadap ideologi kaum penindas. Yang paling urgen adalah elite intelektual harus lepas dari kepentingan-kepentingan politis dan cengkraman hegemoni kekuasaan yang acapkali merusak kerja-kerja intelektual kritis yang bebas kepentingan (Setowara dan Soimin, 2013: 29-30).

Pada saat yang sama, dukungan moral maupun materi dari kaum borjuis saleh, juga sangat dibutuhkan. Para politisi, kaum pedagang dan kalangan pebisnis yang memiliki kemapanan ekonomi, harus rela menyisihkan sebagian hartanya untuk disalurkan kepada kaum mustadh’afin.

Ketiga komponen itu harus terus berjalin kelindan untuk mengatasi ekplositasi kemanusiaan dalam ruang kultural maupun kultural. Apabila tidak dilakukan, maka agama akan dianggap kehilangan vitalitas dalam menjawab problem keumatan (Setowara dan Soimin, 2013: 30). Tentunya hal ini tidak boleh terjadi, karena sejatinya agama mempunyai kandungan kesadaran spiritual yang begitu kaya. Tugas utama manusia menangkap kesadaran spiritual, yakni pesan mulia agama yang dibumikan yang menyadarkan manusia untuk melampaui lingkaran lingkaran refleksi dan pencerahan, artinya di samping manusia terus belajar dan melakukan kritik diri dan pada saat yang sama kritik itu dijadikan sebagai alat mendasar untuk membangun optimisme dan melakukan kebajikan yang berorientasi pada pencerahan peradaban. Inilah pola moral-spiritual agama yang diharapkan menjadi cermin dalam kegiatan hidup.

Baca juga:   Lebaran ‘Nyepi’

Sekali lagi, bukan pesan kemanusiaan kamuflase berbalut agama yang diharapkan, karena hal ini memunculkan carut-marut yang berkepanjangan. Yang dibutuhkan adalah pencerahan agama. Pencerahan agama merupakan pencerahan dalam segala aspek, yakni aspek kepribadian intelektual, ekonomi, politik, sosial dan yang paling urgen adalah pencerahan peradaban yang dilabuhkan dalam setiap sendi kehidupan publik. Motivasi utama dari pencerahan ini adalah membangun kembali keadabaan, sehingga agama dikembalikan pada jalur yang semestinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *