Pesan Damai dari Kelenteng Tjo Hwie Kiong Kota Kediri

Pada hari Jumat tanggal 24 Januari 2020 pukul 21.00 WIB, Mahasiswa Studi Agama-Agama (SAA) Institut Agama Islam Negeri Kediri mengadakan Direct Research di Kelenteng Tjo Hwie Kiong Kota Kediri. Acara tersebut merupakan kegiatan rutinan Dewan Eksekutif Mahasiswa Studi Agama-Agama dalam memperingati Hari Besar umat beragama yang kini Agama Konghucu  sebagai tuan rumahnya. Acara ini merupakan perayaan malam Imlek ke 2571 Kongzili. Tak hanya Mahasiswa SAA yang hadir melainkan juga terdapat beberapa prodi dan Mahasiswa Tribakti Kediri. Begitu juga, Paguyuban Lintas Umat Beragama Kediri dan masyarakat sekitar berbagai kalangan turut antusias dalam perayaan ini. Acara yang diadakan oleh Kelenteng Tjoe Hwie Kiong ini memang terbuka untuk umum. Semua lapisan masyarakat tanpa terkecuali dapat turut serta memeriahkan. Sesi pamungkas diisi dengan atraksi barongsai di halaman Kelenteng untuk menghibur pengunjung.

Kelenteng Tjoe Hwie Kiong berdiri sejak tahun 1817. Artinya, tempat ibadah ini sekarang telah berusia sekitar 203 tahun. Dalam Kelenteng ini dijumpai tulisan Tri Dharma, mewakili Taoisme, Buddhisme, dan Konghucu. Namun, di Kelenteng ini nuansa Konghucu sepertinya lebih mendominasi. Secara keseluruhan, struktur bangunan Kelenteng ini memiliki 17 altar Dewa-Dewa. Dewa yang paling dipuja yaitu Dewi Ma’co yang dianggap sebagai Dewi-nya para pelaut karena dalam sejarahnya telah membantu para pelaut dalam menjalankan pekerjaanya.

Sebelum perayaan tiba, umat Konghucu melakukan ritual sesembahan di dalam Kelenteng. Menurut Pak Prayit, selaku pengurus Kelenteng, peserta ibadat adalah mayoritas umat Konghucu yang berusia di atas 60 tahun, sisanya adalah para muda-mudi, termasuk Pak Prayit sendiri. Ketika prosesi ritual berlangsung, hanya umat Konghucu saja yang boleh memasuki ruang Kelenteng. Setelah selesai, semua pengunjung boleh masuk dengan catatan harus melepas alas kaki, bersikap sopan, dan tidak boleh membawa peralatan untuk memotret.

Menurut Pak Prayit, Imlek dibedakan menjadi dua. Pertama adalah Imlek sebagai tradisi budaya, dan kedua Imlek sebagai tradisi keagamaan. Imlek sebagai tradisi budaya telah diamalkan sejak ribuan tahun lalu. Namun, tata caranya tidak terlalu mirip dengan Imlek masa kini. Imlek sebagai tradisi keagamaan lebih mendekati Imlek saat ini. Imlek model ini dimulai saat Dinasti Han memerintah sekitar 551 SM. Pada saat itu, Imlek menjadi tradisi yang dihelat ketika mereka memasuki musim semi, iklim yang sangat cocok bagi masyarakat Tiongkok untuk bercocok tanam. Musim ini juga bisa disebut awal mula (tahun) masyarakat Tiongkok melaksanakan aktivitas mereka sebagai petani seiring peralihan musim dingin ke musim semi. Jika tahun 2020 dan 551 SM dijumlahkan maka kita punya yang namanya 2571 Kongzili. Kongzili adalah tokoh terkemuka atau nabi pada saat itu menurut kepercayaan Konghucu.

Tahun Imlek ke 2571 di Kelenteng Tjoe Hwie Kiong kali ini mengambil tema Menjalankan Kebajikan untuk Menjaga Keharmonisan. Dalam diskusi bersama Pak Prayit, semangat dari tema ini diharapkan bisa menular kepada semua umat Konghucu serta umat agama lain: berperilaku baik di dalam kehidupan sehari-hari guna menjaga keharmonisan antar manusia yang telah terjalin sekian lama; sebaliknya, perilaku buruk bisa merusak keharmonisan antar umat agama. Terlebih lagi di era teknologi saat ini. Dengan medsos, siapa saja bisa berekspresi tanpa terbatasi oleh sekat geografis. Di sinilah, setiap orang perlu bijak dalam mengungkapkan pendapat di dunia maya sehingga tidak menimbulkan kegaduhan, percekcokan, ataupun konflik. Hoaks, ujaran kebencian (hate speech), provokasi harus dihindari supaya kedamaian dan ketentraman tetap terpelihara. Wallahu’alam! (Bagus)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *