Pesan Damai dari Drakor


Sikap terbaik yang dapat kita lakukan adalah meyakini bahwa kita semua adalah makhluk ciptaan Tuhan. Kita setara dalam penciptaan, meski berbeda dalam rupa penampilan

Drama korea –biasa disingkat menjadi drakor—menjadi perbincangan menarik akhir-akhir ini. Di tengah situasi pandemi, drakor menjadi salah satu teman melepas penat. Terlebih bagi para jomlo yang hidup di perantauan, tak dapat pulang ke kampung halaman.

Terlepas dari situasi tersebut, mengapa drakor begitu digandrungi? Meleburkan batas usia, sekat gender bahkan tradisi keagamaan. Seolah-olah ada semboyan baru, kita memang berbeda tapi drakor menyatukan semuanya.

Tentu fenomena drakor ini tidak dapat dilihat sebagai sebuah gerakan yang baru muncul. Sebab, jika kita melihat lebih jauh ke belakang, sejak awal 2000-an telah lahir gelombang hallyu melalui drakor “Winter Sonata,” “Full House” dan “Boys Over Flower”. Lantas, apa saja hal menarik yang membuat banyak orang “tersihir” dengan tayangannya?

Pertama, drakor menghadirkan realita sosial. Alih-alih membuat drakor bak kehidupan surgawi yang penuh kebaikan, justru drakor lahir sebagai potret masyarakat Korea yang suram. Bahkan para penggiat film di Korea tidak segan-segan menampilkan “bobrok”-nya pemerintahan Korea.

Ini bisa dilihat dari drakor yang bertema pemerintahan dan kejaksaan. Salah satu drakor yang recommended untuk ini adalah “City Hunter” yang diperankan oleh Lee Min Ho –yang di Indonesia terkenal dengan bintang iklan “Luwak White Coffe”.Dalam drakor tersebut, Lee Min Ho berperan sebagai tokoh utama menjadi “Pemberantas Korupsi” yang bekerja dengan penuh strategi dalam sepi.

Selain isu pemerintahan, isu pendidikan yang penuh dengan bullying juga banyak disoroti. Misalnya drakor “The Heirs” –yang juga diperankan oleh Lee Min Ho—mengangkat tema kenakalan remaja, percintaan anak SMA dan sejumlah problem yang dihadapi oleh kawula muda. Karena isu yang dihadirkan ini, membuat para penikmat drakor dapat memahami alurnya dengan mudah atau bahkan dapat menghubungkannya dengan pengalaman pribadi yang pernah dilalui.

Drakor lain yang saat ini sedang diminati misalnya adalah “The World of the Married Couple”. Bahkan di Indonesia –meski belum ada penelitian resmi tentang ini—drama ini banyak dibincangkan di media sosial. Memang tak heran, sebab drakor ini mengangkat isu keluarga, KDRT, perceraian dan perselingkuhan. Satu pembahasan yang juga relevan untuk konteks Indonesia.

Kedua, drakor juga menjadi ajang bagi penonton untuk belajar terkait isu yang diangkat. Sebab, rata-rata naskah drama yang ditulis itu berdasarkan riset secara serius. Ketika tema drakor seputar kedokteran, maka sang penulis adegan dituntut dapat menjadi seorang dokter yang mengetahui seluk-beluk kehidupan tenaga kesehatan.

Baca juga:   Tadabur Bencana lewat Lirik Ebiet G. Ade

Banyak drakor yang mengangkat isu ini, misalnya “Romantic Doctor,” “Hospital Playlist,” “Doctor Stranger,” dll. Menonton drakor seputar kedokteran akan memanjakan mata kita dengan adegan operasi, penanganan pasien di rumah sakit dan tindakan medis lainnya. Karenanya sambil menonton, kita diajak untuk menjadi dokter –yang mengobati perasaan rindu menahan pilu, hehe.

Selain kedokteran, ada banyak tema yang diangkat oleh drakor seperti pemerintahan, psikologi, pendidikan, bisnis, kerajaan, bahkan sci-fiction seperti fenomena robot dalam kehidupan manusia atau perjalanan waktu. Menarik, bukan?

Ketiga, jumlah episode drakor yang tidak terlalu banyak dan juga tidak terlampau sedikit. Rata-rata jumlah episode drakor adalah 16-20 dengan durasi per episode sekitar satu jam. Hal ini penting untuk diperhatikan.

Sebab, jika jumlahnya terlalu banyak, maka akan ada banyak konflik yang muncul, atau justru konfliknya datar sehingga membosankan. Sedangkan jika terlampau sedikit, akan membuat penonton tidak begitu hanyut dalam drakor yang ditonton.

Selain itu, dengan kapasitas 16-20 episode, membuat drakor benar-benar fokus pada satu permasalahan. Biasanya lima episode awal itu menjelaskan konteks, latar kejadian, penguatan tokoh, dan pengenalan intrik-intrik kepentingan. Kemudian lima episode berikutnya masuk pada konflik, hingga klimaks dan penyelesaiannya di beberapa episode akhir. Dengan alur yang jelas seperti ini, penonton tidak di-PHP-kan—dengan bertanya-tanya ending yang seperti apa—dan dapat mengikuti episode demi episode dengan hati yang tenang.

Itu beberapa poin yang membuat drakor begitu dinikmati. Bagi kalian penikmat atau pengamat drakor, adakah poin lainnya yang belum disebutkan? Jika ada, mari berdinamika bersama melalui tulisan.

Meski demikian, tentu drakor juga tidak lepas dari banyak kritikan, terutama dari kelompok haters drakor. Salah satunya adalah “anggapan” bahwa drakor dapat membuat kita lupa waktu karena kecanduan. Yap, tidak dapat dipungkiri memang drakor mempunyai efek kecanduan, candu dalam syahdu menanti rindu yang kian pilu, karena tokoh utama yang selalu ditunggu.

Hanya saja, efek kecanduan ini bukan salah pihak drakor yang sudah berusaha mengemas filmnya seapik mungkin. Kecanduan ini datang karena sang penikmat yang tidak dapat mengatur waktu dengan tepat. Sama seperti kecanduan gadget, game online, focus ghibah discussion, dll. Maka yang harus diubah adalah pola pikir dan pola hidup kita dalam menikmati ragam kenikmatan duniawi tersebut.

Baca juga:   Hitam Putih Manusia Super

Tentu tidak salah menikmati fasilitas keduniaan yang Tuhan berikan, selama hal ini tidak melenakan kita dari kehidupan akhirat yang sudah dijanjikan –duh gusti, maafkan penulis yang tiba-tiba berubah profesi dari penikmat drama menjadi tokoh agama.

Selain itu, para kritikus drakor juga menganggap bahwa drakor dapat membuat ke-halu-an yang berkepanjangan. Ini akan berpengaruh pada skala kriteria calon pasangan ideal para penikmat oppa dan nuna. Misalnya mencari pasangan yang putih, tinggi dan langsing seperti Mas Hyun Bin atau Mbak Suzy.

Pengaruh lainnya adalah pada tolok ukur badan ideal yaitu seperti para aktor terkenal. Sehingga lahirlah obsesi untuk diet, pemutihan kulit –bukan putih yang lainnya—hingga puncaknya melakukan operasi plastik –bagi penikmat drakor dari kalangan borjuis.

Memang dalam hal ini, kita –para penikmat drakor—perlu “mengkritik” industri perfilman Korea yang banyak menjual “tubuh” para aktor drakor. Hal ini sepertinya juga mulai disadari oleh pegiat film di Korea. Bahkan salah satu drakor terbaru ada yang mengkritik dan mencoba keluar dari perangkap tubuh tersebut yaitu Itaewon Class. Dalam salah satu adegan diceritakan bagaimana sosok Kim Tony; seorang berkulit hitam yang berjuang untuk bisa hidup di Korea.

Hanya saja, kriteria tubuh dan pasangan ideal tersebut muncul karena kita belum bisa mengenal diri kita sepenuhnya. Hal ini dapat dimaklumi, karena kebanyakan dari penggemar drakor adalah generasi muda yang masih labil dalam proses mencari jati diri. Di sinilah pentingnya nilai pertama yang dihidupi dalam Young Interfaith Peacemaker Community (YIPC) yaitu berdamai dengan diri sendiri.

Kita sebagai manusia harus melihat diri dengan tepat dan seimbang. Maksudnya adalah melihat diri ini tidak lebih tinggi dari orang lain, karena akan menjadi sombong. Atau sebaliknya, melihat orang lain lebih tinggi dari pribadi, sehingga yang ada kita menjadi minder dan tidak percaya diri.

Sikap terbaik yang dapat kita lakukan adalah meyakini bahwa kita semua adalah makhluk ciptaan Tuhan. Kita setara dalam penciptaan, meski berbeda dalam rupa penampilan. Sehingga etnis Korea tidak lebih baik dari ras Indonesia. Kulit orang Korea sama saja dengan kulit masyarakat Indonesia, hanya beda warna. Maka tidak perlu lagi memaksakan diri untuk serupa dengan orang Korea setelah menonton drakor—itu memalukan.

Cukup jadikan drakor sebagai pelajaran bagaimana menjalani percintaan dan persahabatan dalam kehidupan. Tetapi pada praktiknya, silakan ciptakan sendiri drama kehidupan Anda. Tentukan siapa sosok yang layak Anda cinta, mengarungi hidup bersama, hingga maut memisahkan semua dan berjumpa dalam surga-Nya. Wallahu a’lam bish showwab.[MFR]

One thought on “Pesan Damai dari Drakor”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *