Pandemi dan Resiliensi Kearifan Lokal

Muhamad Fauzi Zakaria (Mahasiswa Prodi SAA IAIN Kediri)

Indonesia, negara yang masyhur dengan ribuan tradisi, saat ini sedang dihantam pandemi Covid-19. Beberapa tradisi yang rutin dilaksakan juga terdampak atau tidak bisa digelar. Lihat saja, misalnya, tradisi pawai ogoh-ogoh yang terdapat dalam rangkaian tradisi tawur agung  kesanga yang mestinya digelar sebelum perayaan Nyepi terpaksa dibatalkan. Berbagai tradisi lain mengalami nasib serupa, seperti tradisi kenduri, isra’ mi’raj, tradisi pernikahan, dan tradisi-tradisi yang berpotensi mengundang keramaian massa. Pandemi yang menyerang Indonesia selama hampir dua bulan terakhir ini juga membuat aktivitas lain terpaksa terhenti, terutama karena himbauan untuk melaksanakan segala kegiatan belajar, bekerja, dan beribadah di rumah (work from home).

Emile Durkheim di dalam konsep insteraksi sosial menyebutkan bahwa individu tidak akan pernah bisa terpisah dari masyarakat. Teori Durkheim mengenai interaksi sosial diperkuat oleh fakta bahwa tradisi keagamaan  yang biasa dilakukan masyarakat cenderung memiliki sifat sakral dan berjalan selama turun temurun. Bagi Durkheim, Yang Sakral adalah segala segala sesuatu Yang Tinggi, Berkuasa, Tak Tersentuh, dan bersifat transenden. Kesakralan dalam sebuah tradisi keagamaan pada akhirnya dipahami oleh masyarakat sebagai aktifitas yang mengikat dan tetap harus dilaksankan.

Tradisi keagamaan adalah cara bagaimana masyarakat berkomunikasi dengan Yang Sakral. Ia mengisi ruangpada diri manusia yang akan selalu haus pada sebuah kekuatan tertinggi dan immaterial sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan di dunia. Tanpa kekuatan ini, manusia akan lemah, tanpa arah, dan selalu berada dalam ketidakpastian. Sebagaimana kata Clifford Geertz, tradisi memberi ethos bagi manusia untuk bisa bertahan dan menjalani kehidupan di naungan kekuatan spiritual tersebut. Dengan demikian, manusia akan selalu mencari cara dan strategi untuk mempertahankan tradisi keagamaan mereka.

Inilah yang terjadi pada tradisi keagamaan di tengah pandemi Covid-19 ini. Sekalipun ada pembatasan di sana-sini, masyarakat tidak kemudian meninggalkan sepenuhnya tradisi keagamaan yang penuh makna bagi kehidupan mereka. Sebaliknya, mereka mencari cara lain atau strategi lain melangsungkan tradisi mereka dengan tetap mengikuti anjuran pemerintah.

Ketiadaan tradisi penyambutan Bulan Suci Ramadan secara meriah, misalnya, tidak menjadi penghalang bagi sebagian masyarakat  untuk pasrah dan sekadar berdiam diri di rumah. Beberapa kelompok masyarakat di Jawa memilih berikhtiyar dengan membuat jenang sengkolo yang diyakini mampu mengusir wabah Covid-19. Mereka membagikan makanan ini kepada para tetangga dengan harapan agar virus Covid-19 lekas lenyap dari ibu pertiwi dan masyrakat bisa melaksakan ibadah puasa dan salat terawih di masjid seperti tahun-tahun sebelumnya.

Sebagain lain memilih tetap menjalankan tradisi keagamaan dengan memanfaatkan teknologi video conference , seperti dilakukan oleh keluarga aktris dan penyanyi Bunga Citra Lestari dalam memeringati 40 hari wafatnya Asraf Sinclair. Di kesempatan lain, Gus Ulil Absar Abdala, menantu Gus Mus (KH. Mstofa Bisri), tetap menjadi imam tahlil atas meninggalnya sahabat beliau, seorang aktivis senior,  alrmarhum AE Priyono. PWNU Jawa Timur bersama pemerintah daerah juga melaksankan doa bersama 19 ulama sepuh seluruh Jawa Timur untuk menangkal wabah pandemi Covid-19  yang diikuti jamaah secara daring dari rumah masing-masing. 19 Ulama melantunkan doa-doa dari pondok pesantren masing-masing dan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawangsa juga memberi sambutan dari Kantor PWNU Jawa Timur.

Teknologi berperan sebagai media yang dapat dimanfaatkan untuk tetap  menjalin interaksi dengan masyarakat, terlebih dalam melanggengkan tradisi keagamaan di masa pandemi Covid-19, walaupun bentuk tradisi dijalankan tidak secara penuh atau bahkan mengalami penyesuaian. Kesadaran akan adanya bentuk tradisi  yang “tak tertolong”  dan “tertolong” seolah mutlak diperlukan sebagai upaya penyelamatan bersama agar manfaat tradisi sebagai bentuk jati diri  dan kekuatan solidaritas kolektif masyarakat tidak tereduksi.

Berlangsungnya beberapa tradisi keagamaan yang bertransformasi dalam bentuk daring  membuktikan bahwa tradisi keagamaan tetap menjadi salah satu opsi utama masyarakat dalam menjalankan interaksi sosial yang mampu meningkatkan solidaritas antar individu, walaupun sedang menghadapi cobaan bencana global pandemi Covid-19 [MFR].

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *