Kembalinya Tradisi Padasan di Tengah Pandemi

Misla Khusnikma *

Sumber gambar: https://jogja.suara.com

Salah satu anjuran World Health Organization (WHO) agar terhindar dari virus Corona adalah rajin cuci tangan dan menjaga kebersihan diri. WHO juga menyarankan mandi dan mengganti pakaian setelah dari luar rumah sebelum berinteraksi dengan keluarga. Tujuannya adalah agar virus atau bakteri yang menempel di tubuh dan pakaian tidak ikut terbawa masuk sehingga meminimalisir penyebaran koronavirus kepada anggota keluarga. Di musim pandemi ini, banyak warga meletakkan tempat cuci tangan di depan ruangan sebagai upaya antisipatif mencegah penyebaran virus.

Berkaitan dengan menjaga kebersihan setelah dari luar rumah, sebenarnya Indonesia memiliki kearifan lokal yang sudah ada sejak lama. Kearifan lokal itu berasal dari budaya Jawa, yaitu tradisi padasan. Padasan ini artinya gentong atau tempayan berisi air yang terbuat dari tanah liat. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) daring, padasan artinya tempayan yang diberi lubang pancoran (tempat air wudhu). Dahulu, orang Jawa biasanya menaruh padasan di depan rumah, tepat di luar pagar sebelum masuk ke pekarangan rumah. Fungsi utamanya adalah untuk membersihkan diri seperti mencuci tangan, kaki, dan membasuh muka.

Banyak daerah di Indonesia masih menggunakan padasan untuk cuci tangan, ditempatkan di depan rumah, seperti di salah satu rumah warga di Desa Karanganyar Kec. Wates Kab. Kediri.  ‘’Saya menggunakan padasan sudah sejak lama sebelum ribut-ribut soal koronavirus. Padasan ini berisi air untuk cuci tangan keluarga saya. Mencuci tangan sebelum masuk rumah adalah kewajiban karena kita tidak tahu bahwa di luar sana kita bertemu dengan hal-hal “positif” atau “negative”. Apalagi, kami warga Jawa masih mempercayai sawanan (sejenis kesurupan), yang konon jika ada bayi di dalam rumah dan orang yang masuk rumah tidak mencuci tangan dan langsung menyentuh bayi, maka bayi itu sering kali akan sawanen,” kata Suhardini, salah satu warga (Kamis, 16/04/2020).

Para orang tua di Jawa sudah biasa menganjurkan siapa pun yang hendak masuk ke rumah agar mencuci tangan dan kaki terlebih dulu. Walhasil, banyak warga sekarang menghidupkan lagi tradisi padasan setelah munculnya wabah koronavirus. Hanya saja, padasan sekarang diganti dengan barang yang terbuat dari plastik dan hanya beberapa saja yang tetap menggunakan padasan yang terbuat dari tanah liat.  Padahal, dari sisi kepercataan Jawa penggunaan padasan dari tanah liat punya kearifan tersendiri. ‘’Sebenarnya perbedaan air yang keluar dari padasan yang terbuat dari tanah liat dan dari plastik itu beda. Air yang keluar dari padasan tanah liat pasti lebih terasa dingin dan segar seperti air yang keluar dari sumbernya, karena tanah liat mampu menjaga kesegaran air’’ kata Siti Dawidah (Jum’at, 17/04/2020).

Menurut Tjahjono et.al, kearifan lokal adalah suatu sistem nilai dan norma yang disusun, dianut, dipahami dan diaplikasikan oleh masyarakat lokal berdasarkan pemahaman dan pengalaman mereka dalam berinteraksi dengan lingkungan. Kearifan lokal berupa tradisi padasan yang saat ini kembali dihidupkan di Desa Karanganyar, tidak hanya bernilai spiritual, tapi juga punya kegunaan medis di tengah merebaknya koronavirus.

Apalagi, karena handsanitizer saat ini susah dicari, banyak warga sekarang meniru Suhardini dengan meletakkan tempat mencuci tangan di depan rumah mereka. Menariknya, Suhardini sendiri adalah seorang Bidan Desa yang sangat memerhatikan kesehatan warga lain. Suhardini adalah contoh nyata bagaimana kearifan lokal dan pengetahuan ilmiah bisa saling menunjang satu sama lain.

Nilai-Nilai Luhur di Balik Padasan

Dahulu, hampir semua masyarakat di pedesaan menyediakan padasan di depan rumah mereka. Biasanya wadah dari tanah liat ini diletakan di dekat jalan. Wujudnya bisa berupa gentong atau tempayan yang diberi lubang, terkadang ada juga pemilik rumah yang melengkapi padasan-nya dengan gayung dari batok kelapa atau biasa disebut siwur dalam bahasa Jawa.Tujuan menaruh padasan di pinggir jalan adalah agar siapa pun yang membutuhkan air bisa mengambilnya sesuai keperluan. Semua pejalan kaki dan orang-orang yang lewat bisa memanfaatkan air di dalam padasan.

Di musim penghujan, air padasan bisa digunakan untuk bagian kaki lain yang terkena cipratan air kotor. Sementara saat musim kemarau, padasan bisa digunakan untuk membasuh muka orang-orang yang lewat. Setidaknya dengan adanya padasan, orang bisa menyegarkan muka mereka di saat cuaca sedang panas. Bahkan, ketika air di desanya masih benar-benar bersih dan aman diminum, orang-orang bisa langsung minum air yang ada di dalam padasan untuk melepas dahaga mereka. ““Sebelum subuh saya selalu mengisi air di padasan tersebut, karena pada saat siang sampai malam ada tamu yang datang, dan agar saat siang hari air di dalamnya tidak cepat habis karena digunakan untuk tamu yang datang dan mencuci tangan,” ujar Suhardini.

Ketika siang hari, saat masuk waktu salat zuhur, ia kembali memeriksa air di padasan miliknya. “Biasanya kalau pagi, suka ada yang pakai. Petani-petani yang mau ke sawah atau menjelang siang pulang ke rumah, suka bersih-bersih dulu di situ. Makanya siang biasanya dicek masih ada atau enggak,” tambah Suhardini.

Banyak nilai-nilai luhur yang terkandung dalam tradisi menyediakan padasan, seperti keikhlasan dan kerelaan berbagi. Dengan keikhlasan, pemilik padasan rutin mengisinya supaya siapa pun yang membutuhkan air bersih, bisa mendapatkannya tanpa peduli kenal atau tidak dengan orang tersebut. Di sisi lain, orang yang memanfatkan padasan, baik kenal atau tidak dengan pemiliknya, juga cukup tahu diri untuk tidak berlebihan menggunakan air. Mereka sadar, bukan hanya mereka yang akan memanfaatkan air di padasan itu, masih ada orang lain yang mungkin membutuhkannya. Walaupun tidak ada aturan tegas yang melarang atau membatasi penggunaan air dalam padasan itu.

Kearifan lokal adalah identitas atau kepribadian budaya sebuah bangsa. Dengan kearifan lokal, suatu bangsa bisa mampu menyerap, atau bahkan mengolah kebudayaan. Sebagai generasi yang mungkin tidak mengenal padasan, kita bisa menerapkan nilai-nilai luhur warisan budaya Jawa itu, yakni saling berbagi dengan ikhlas kepada siapa saja yang membutuhkan. Selain itu, dengan menyediakan padasan di depan rumahkita juga dapat lebih rajin mencuci tangan sesuai dengan anjuran WHO agar terhindar koronavirus. [MFR]

*Mahasiswa SAA-2017. Tulisan adalah bagian dari tugas matakuliah “Agama dan Kearifan Lokal”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *